You are on page 1of 2

PEMBAHASAN

Distonia oromandibular (OMD) adalah distonia fokal yang ditandai dengan kontraksi
kuat pada wajah, rahang, dan/atau lidah yang menyebabkan kesulitan dalam membuka dan
menutup mulut dan sering mempengaruhi sistem pengunyahan dan cara berbicara.1 Gerakan
tersebut tidak disadari dan kadang menimbulkan nyeri, bisa mengenai satu otot, sekelompok
otot (misalnya otot lengan, tungkai atau leher) atau seluruh tubuh. Umumnya beberapa
penderita, gejala distonia muncul pada masa kanak-kanak (5-16 tahun), biasanya mengenai
kaki atau tangan. Beberapa penderita lainnya baru menunjukkan gejala pada akhir masa remaja
atau pada awal masa dewasa.
Beberapa pengklasifikasian distonia di antaranya dibagi berdasarkan distribusi
topografi, dan onset usia
Berdasarkan distribusi topografi bagian tubuh yang terkena:6

1. Distonia generalisata, mengenai sebagian besar atau seluruh tubuh.

2. Distonia fokal, terbatas pada bagian tubuh tertentu,sering saat usia 50-70 tahun. Dan
wanita tiga kali lipat lebih sering dibandingkan laki-laki.

3. Distonia multifokal, mengenai dua atau lebih bagian tubuh yang tidak berhubungan.
Satu atau kedua kaki, tangan dan kaki, atau wajah dan tangan.

4. Distonia segmental, mengenai dua atau lebih bagian tubuh yang berdekatan.
Contohnya mata, mulut, dan wajah bagian bawah.

5. Hemidistonia, melibatkan lengan dan tungkai pada sisi tubuh yang sama, seringkali
merupakan akibat dari stroke.

Berdasarkan onset:7

1. Early onset (≤30 tahun): Biasanya dimulai dari kaki atau lengan dan sering menjalar
ke anggota badan lainnya.

2. Late onset: biasanya dimulai dari leher (termasuk laring), otot-otot kranial atau satu
lengan. Cenderung tetap terlokalisasi dengan perkembangan terbatas untuk otot yang
berdekatan.
Beberapa pola distonia memiliki gejala yang khas:6

1. Distonia torsi, sebelumnya dikenal sebagai dystonia musculorum deformans atau


DMD. Merupakan distonia generalisata yang jarang terjadi dan bisa diturunkan,
biasanya berawal pada masa kanak-kanak dan bertambah buruk secara progresif.
Penderita bisa mengalami cacat yang serius dan harus duduk dalam kursi roda.

2. Tortikolis spasmodik atau tortikolis merupakan distonia fokal yang paling sering
ditemukan. Menyerang otot-otot di leher yang mengendalikan posisi kepala, sehingga
kepala berputar dan berpaling ke satu sisi. Selain itu, kepala bisa tertarik ke depan atau
ke belakang. Tortikolis bisa terjadi pada usia berapapun, meskipun sebagian besar
penderita pertama kali mengalami gejalanya pada usia pertengahan. Seringkali mulai
secara perlahan dan biasanya akan mencapai puncaknya. Sekitar 10-20% penderita
mengalami remisi (periode bebas gejala) spontan, tetapi tidak berlangsung lama.

3. Blefarospasme merupakan penutupan kelopak mata yang tidak disadari.


Gejala awalnya bisa berupa hilangnya pengendalian terhadap pengedipan mata. Pada
awalnya hanya menyerang satu mata, tetapi akhirnya kedua mata biasanya terkena.
Kejang menyebabkan kelopak mata menutup total sehingga terjadi kebutaan
fungsional, meskipun mata dan penglihatannya normal.

4. Distonia kranial merupakan distonia yang mengenai otot-otot kepala, wajah dan leher.

5. Distonia oromandibular menyerang otot-otot rahang, bibir dan lidah.


Rahang bisa terbuka atau tertutup secara tidak sadar dan penderita mengalami
kesulitan berbicara dan menelan.

6. Distonia spasmodik melibatkan otot tenggorokan yang mengendalikan proses


berbicara. Juga disebut distonia spastik atau distonia laringeal, yang menyebabkan
kesulitan dalam berbicara atau bernafas.

7. Sindroma Meige adalah gabungan dari blefarospasme dan distonia oromandibuler,


kadang-kadang dengan disfonia spasmodik.

8. Cramps writer merupakan distonia yang menyerang otot tangan dan kadang lengan
bawah bagian depan, hanya terjadi selama tangan digunakan untuk menulis. Distonia
yang sama juga disebut kram pemain piano dan kram musisi.