You are on page 1of 3

aktivitas.

Jadi, hasil akhir input eksitatorik kortikal ke neuron striatal pada awal direct
pathway yaitu peningkatan firing neuron-neuron VA/VL dan sebagai gantinya mengaktifkan
korteks motorik dan meningkatkan aktivitas motorik.

Penatalaksanaan
Sejumlah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan kejang otot dan
nyeri adalah sebagai berikut.6

1. Obat-obatan

Telah digunakan beberapa jenis obat yang membantu memperbaiki ketidakseimbangan


neurotransmitter. Obat yang diberikan merupakan sekumpulan obat yang mengurangi kadar
neurotransmitter asetilkolin, yaitu triheksilfenidil, benztropin, dan prosiklidin HCl. Obat yang
mengatur neurotransmitter GABA bisa digunakan bersama dengan obat diatas atau diberikan
tersendiri (pada penderita dengan gejala yang ringan), yaitu diazepam, lorazepam, klonazepam,
dan baklofen. Obat lainnya memberikan efek terhadap neurotransmiter dopamin. Obat yang
meningkatkan efek dopamin adalah levodopa/karbidopa dan bromokriptin. Obat yang
mengurangi efek dopamin adalah reserpin atau tetrabenazin. Untuk mengendalikan kekakuan
yang mirip kejang epilepsy terkadang diberikan diberikan obat anti kejang karbamazepin.13

2. Toksin Botulinum

Sebuah pengobatan yang baru-baru ini diperkenalkan ialah toksin botulinum yang juga
disebut Botox atau Xeomin.5 Sejumlah kecil toksin ini bisa disuntikkan kedalam otot yang
terkena untuk mengurangi distonia fokal. Pada awalnya racun ini digunakan untuk mengobati
blefarospasme. Racun menghentikan kejang otot dengan menghambat pelepasan
neurotransmitter asetilkolin. Efeknya bertahan selama beberapa bulan sebelum suntikan
ulangan dilakukan.6,13 Injeksi toksin botulinum perlu diulang setiap tiga bulan.5,13

Distonia oromandibular termasuk salah satu gangguan yang terbukti membaik dengan
pengobatan botox, dalam beberapa survey OMD jarang membaik dengan obat-obatan, Botox
biasanya disuntikkan pada daerah lokasi rahang yang terkena, disuntikan pada daerah otot
submental kompleks atau daerah otot pterygoid lateral. Pada beberapa kepustakaan dikatakan
pengobatan dengan botox dapat terjadi perbaikan dalam bidang mengunyah dan berbicara
sampai lebih dari 70%. Umumnya perbaikan dicatat setelah penderita dirawat dengan botox
dalam perawatan 5,5hari setelah dan berlangsung rata-rata 11,5 minggu. Penderita dystonia
dengan gangguan penutupan rahang dicatat lebih mengalami perbaikan daripada distonia
dengan pembukaan rahang. Beberapa kepustakaan meneliti efikasi dari botox dan penelitian
dicatat, angka kegagalan yang diberitakan beberapa kepustakaan kurang dari sepertiga pasien
dan dalam setiap sesi pengobatan terdapat sejumlah komplikasi sebesar 17%. Pengobatan dini
dengan Botox dapat mencegah gangguan distonia pada oromandibular khususnya komplikasi
oral lainnya, seperti dystonia gangguan pada sindrom sendi temporomandibular7,,12,13.

Botox dapat memberikan perbaikan yang cukup baik tidak hanya pada penderita dengan
dystonia primer (idiopatik) tetapi juga pada distonia Orolingual-mandibular dystonia tardive.
Gejala kejang menekan pada rahang atas dan bawah (clenching) maupun gejala menggertaknya
gigi atas dan bawah (bruxism) pada siang dan malam hari sering terjadi dan disebabkan olej
beberapa kekakuan pada proses gerakan mengunyah, hal ini juga dapat diperbaiki oleh
pengobatan Botox.12,13

Pembedahan dan Pengobatan lainnya

Selain pengobatan dengan medikamentosa dan Botox, jika pemberian terapi masih
tidak ada perbaikan atau terdapat keadaan kontra-indikasi pada terapi tersebut, maka dilakukan
pmbedahan. Distonia generalisata stadium lanjut telah berhasil diatasi dengan pembedahan
yang mengambil sebagian dari talamus.11 Resiko dari pembedahan ini adalah gangguan
berbicara, karena talamus terletak didekat struktur otak yang mengendalikan proses berbicara.
Pada distonia fokal (termasuk blefarospasme, disfonia spasmodik dan tortikolis) dilakukan
pembedahan untuk memotong atau mengangkat saraf dari otot yang terkena.11 Beberapa
penderita distonia spasmodik bisa menjalani pengobatan oleh ahli patologi berbicara-
berbahasa.

Deep Brain stimulation

Deep brain stimulation (DBS) adalah prosedur operasi di mana device elektroda tipis
dan terisolasi dimasukkan ke dalam otak. Elektroda ini kemudian dihubungkan oleh kawat di
bawah kulit ke baterai yang biasanya ditanamkan di dada atau di perut. Baterai beroperasi sama
dengan alat pacu yang mengantarkan elektrik stimulasi yang ditargetkan untuk menstimulasi
area tertentu penyebab distonia.

Arus listrik yang dikendalikan dengan hati-hati dan dikontrol melalui elektroda pada
kedua sisi otak dapat memiliki efek menguntungkan pada kontraksi otot yang tidak disengaja
yang disebabkan oleh distonia. Akibatnya, gejala distonia seperti gerakan abnormal,postur
dan/atau getaran distonik bisa mereda. Selain itu, DBS juga bisa mengurangi rasa sakit yang
disebabkan oleh distonia. Elektroda biasanya ditanamkan ke daerah yang dikenal sebagai
Globus Pallidus Interna (GPi) atau thalamus.

Stimulasi otak ini bekerja paling efektif untuk orang-orang yang memiliki bentuk
distonia (genetik) yang diwariskan atau dystonia idiopatik. Perawatan diberikan untuk mereka
yang memiliki distonia warisan atau idiopatik yang memiliki distonia distorsi, distonia distal
(serviks) distal atau serviks distal yang parah, bila ada pilihan pengobatan lain (seperti suntikan
toksin botulinum dan obat oral) yang gagal memberikan kelegaan yang memadai. Penting
untuk dipahami bahwa dalam beberapa penelitian DBS tidak cocok untuk penyakit distonia
yang didapat.

Deep Brain Stimulation menggunakan device elektroda yang menggunakan baterai.


Faktor ini menjadi suatu kelemahan karena baterai harus segera diganti untuk beberapa periode
tergantung penggunaan stimulasi dari alat tersebut. Perlu ada prosedur pembedahan untuk
mengganti setiap periode tertentu. Terapi fisik, pembidaian, penatalaksanaan stres dan
biofeedback juga bisa membantu penderita distonia jenis tertentu.11,12