You are on page 1of 16

TUGAS

MANAJEMEN MUTU

MENYUSUN RANCANGAN MUTU DAN MENYELESAIKAN PERMASALAHAN
PELAPORAN KINERJA PENEITIAN DOSEN STIKIM/ STIKOM

Disusun Oleh:
Agus Purnama
20160000084

PROGRAM PASCASARJANA
JURUSAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
2017

ia memberi pengertian bahwa “TQM. 3. BAB I MANAJEMEN MUTU A. established and reinforced by top executives. yang telah terbukti keberhasilannya dalam mempertahankan dan mengembangkan eksistensinya masing – masing dalam kondisi bisnis yang kompetitif. and manufacturing) that are thoroughly integrated throughout all activities of or a company. 2. A focus on employee involvement. khususnya di lingkungan berbagi badan usaha/perusahaan dan industri. Active leadership from executives to establish quality as a fundamental value to be incorporated into a company’s managemen philosophy. Manajemen Mutu Terpadu (TQM) Manajemen Mutu Terpadu sangat populer di lingkungan organisasi profit. persiapan (termasuk bahan dan alat). engineering. agar produknya sesuai dengan standar kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam pelaksanaan tugas pelayanan umum (public service) dan pembangunan masyarakat (community development). A corporate culture. Setiap pekerjaan dalam manajemen mutu terpadu harus dilakukan melalui tahapan perencanaan. include seven broad components : 1.g. that involves all employees in contributing to quality improvement. a philosophy and set of guiding principles that represent the foundation of a continuosly improving organization. agar terwujud kerja sebagai kegiatan memproduksi sesuai yang berkualitas. Menurut Hadari Nawari (2005:46) Manajemen Mutu Terpadu adalah manejemen fungsional dengan pendekatan yang secara terus menerus difokuskan pada peningkatan kualitas. untuk menghasilkan produk berupa barang atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. pelaksanaan teknis dengan metode kerja/cara kerja yang efektif dan efisien. 5. Quality concept (e. teamwork. A focus on the customer or user of a product or service. 4. ensuring the customer’s need an expectations are satisfied consistenly. 1 . statistical process control or computer assisted design. Kondisi seperti ini telah mendorong berbagai pihak untuk mempraktekannya di lingkungan organisasi non profit termasuk di lingkungan lembaga pendidikan. Menurut Cassio seperti yang dikutip oleh Hadari Nawawi (2005 : 127). yang harus diintegrasi pula dengan pentahapan pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen. and training at all levels in order to strengthen employee commitment to continous quality improvement. Konsepnya bertolak dari manajemen sebagai proses atau rangkaian kegiatan mengintegrasikan sumber daya yang dimiliki.

Demikian juga jumlah lulusan yang dapat diukur secara kuantitatif. Memiliki kesatuan yang terkendali 10. tetapi juga berkenaan dengan aspek kualitas yang menyangkut manfaat dan kemampuan memanfaatkannya. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan. jasa. sedang kualitasnya sulit untuk ditetapkan kualifikasinya. Fokus pada pelanggan. proses dan lingkungannya. khususnya pendidikan. manusia. B. 7. Sehubungan dengan itu di lingkungan organisasi bidang pendidikan yang bersifat non profit. Membutuhkan kerjasama tim 6. Memberikan kebebasan yang terkendali 9. Recognition of supliers as full partners in quality management process. An approach to problem solving that is base on continously gathering. Memiliki komitmen jangka panjang. Berdasarkan beberapa pengertian di atas. evaluating. merupakan bagian yang tidak mudah dalam pengimplementasian Manajemen Mutu Terpadu (TQM). 4. 6. Memiliki opsesi yang tinggi terhadap kualitas 3. Memperbaiki proses secara kesinambungan 7. 5. and acting on facts and data is a systematic manner. menurut Hadari Nawari (2005 : 47) ukuran produktivitas organisasi bidang pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut : 2 . penetapan kualitas produk dan kualitas proses untuk mewujudkannya. misalnya hanya dari jumlah lokal dan gedung sekolah atau laboratorium yang berhasil dibangun. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan 8. Pengertian lain dikemukakan oleh Santoso yang dikutip oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998) yang mengatakan bahwa “ TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorentasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi”. baik pelanggan internal maupun eksternal 2. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Manajemen Mutu Terpadu dalam Bidang Pendidikan Di lingkungan organisasi non profit. Kesulitan ini disebabkan oleh karena ukuran produktivitasnya tidak sekedar bersifat kuantitatif. Hadari Nawawi (2005 : 127) mengemukakan tentang karakteristik TQM sebagai berikut : 1. Di samping itu Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998) menyatakan pula bahwa “ Total Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk.

3 . Inventarisasi aset organisasi semakin sempurna. berarti kualitas di lingkungan organisasi profit ditentukan oleh pihak luar di luar organisasi yang disebut konsumen. 5. efisien dan produktif. yang selain berbeda – beda. Masih menurut Hadari Nawawi (2005 : 47). Kontrol berlangsung efektif terutama dari atasan langsung melalui pengawasan melekat. 3. berupa hasil yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. 2. Berkenaan dengan kualitas dalam pengimplementasian TQM. karena bersifat kualitatif yang hanya dapat diketahui setelah melewati tenggang waktu tertentu yang cukup lama.1. Cassio dalam bukunya Hadari Nawawi mengatakan : “Quality is the extent to which product and service conform to customer requirement”. jasa. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang. 7. bagi organisasi pendidikan. Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus meningkat. manusia. 2. seperti jumlah atau prosentase lulusan sekolah. mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Produktivitas Eksternal. adaptasi manajemen mutu terpadu dapat dikatakan sukses. Peningkatan ketrampilan dan keahlian bekerja terus dilaksanakan sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah. juga selalu berubah dan berkembang secara dinamis. Dilihat dari pengertian kualitas yang terakhir seperti tersebut di atas. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat 4. Produktivitas Internal. Senada dengan itu Goetsh dan Davis seperti yang dikutip oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1996) yang mengatakan : “kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan produk. terkendali dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab – sebabnya. where costumers can be internal as wellas external to the organization”. Wayne F. sebagai cara bekerja yang paling efektif. Di samping itu Cassio juga mengutip pengertian kualitas dari The Federal Quality Institute yang menyatakan “quality as meeting the customer’s requiremet the first time and every time. atau jumlah gedung dan lokal yang dibangun sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. sehingga mampu menghemat pembiayaan. sehingga kualitas produk dan pelayanan umum terus meningkat. jika menunjukkan gejala – gejala sebagai berikut : 1. proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”. 6. berupa hasil yang dapat diukur secara kuantitatif.

beberapa di antara sumber – sumber kualitas tersebut adalah sebagai berikut : 1. karena tergantung pada kondisi pucuk pimpinan (kepala sekolah). yang selalu menghadapi kemungkinan dipindahkan. Kualitas pelaksanaan tugas pokok sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh SDM. atau dapat memohon untuk dipindahkan. yang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. pemberdayaan SDM. Komitmen ini sangat penting karena berpengaruh langsung pada setiap pembuatan keputusan dan kebijakan. Keterlibatan semua Fungsi Semua fungsi dalam organisasi sebagai sumber kualitas. Menurut Hadari Nawawi (2005 : 138 – 141). Untuk itu semua fungsi harus dilibatkan secara maksimal. cukup/lengkap dan terjamin kekiniannya sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan tugas pokok organiasi. 5. realiasi TQM tidak boleh digantungkan pada individu kepala sekolah sebagai sumber kualitas. dan pelaksanaan kontrol. Manajemen Mutu Terpadu di lingkungan suatu organisasi non profit termasuk pendidikan tidak mungkin diwujudkan jika tidak didukung dengan tersedianya sumber – sumber untuk mewujudkan kualitas proses dan hasil yang akan dicapai. Disamping itu SDM juga merupakan potensi yang berkewajiban melaksanakan tugas pokok organisasi (sekolah) untuk mewujudkan eksistensinya. sehingga saling menunjang satu dengan yang lainnya. Sehubungan dengan itu. sama pentingnya satu dengan yang lainnnya. terdapat berbagai sumber kualitas yang dapat mendukung pengimplementasian TQM secara maksimal. Komitmen Pucuk Pimpinan (Kepala Sekolah) terhadap kualitas. sangat tergantung pada ketersediaan informasi dan data yang akurat. 4 . Dengan kata lain sumber kualitas ini harus ditransformasikan pada filsafat kualitas yang berkesinambungan dalam merealisasikan TQM. pemilihan dan pelaksanaan program dan proyek. Sistem Informasi Manajemen Sumber ini sangat penting karena usaha mengimplementasikan semua fungsi manajemen yang berkualitas. Filsafat Perbaikan Kualitas secara Berkesinambungan Sumber – sumber kualitas yang ada bersifat sangat mendasar. baik yang telah diwujudkan dalam prestasi kerja maupun yang masih bersifat potensial dan dapat dikembangkan. 2. karena sikap dan perilaku individu terhadap kualitas dapat berbeda. Tanpa komitmen ini tidak mungkin diciptakan dan dikembangkan pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen yang berorentasi pada kualitas produk dan pelayanan umum. Sumberdaya manusia yang potensial SDM di lingkungan sekolah sebagai aset bersifat kuantitatif dalam arti dapat dihitung jumlahnya. 4. Di lingkungan organisasi yang kondisinyan sehat. 3.

Nilai tambah ini secara kongkrit terlihat pada rasa puas dan berkurang atau hilangnya keluhan pihak yang dilayani (siswa). 4. Di dalam iklim kerja yang diwarnai kebersamaan akan terwujud kerjasama yang efektif melalui kerja di dalam tim kerja. 3. dimensi kualitas yang dimaksud adalah : 1. kreativitas. Kualitas Pelayanan dan Daya Tahan Hasil Pembangunan Dampak lain yang dapat diamati dari pendayagunaan sumber – sumber kualitas yang efektif dan efisien terlihat pada peningkatan kualitas dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada siswa. yang saling menghargai dan menghormati pendapat. Dimensi Kerja Organisasi Kinerja dalam arti unjuk perilaku dalam bekerja yang positif. 5 . mempertahankan dan mengembangkan eksistensi organisasi (sekolah). 5. Iklim Kerja Penggunaan sumber – sumber kualitas secara intensif akan menghasilkan iklim kerja yang kondusif di lingkungan organisasi. merupakan gambaran konkrit dari kemampuan mendayagunakan sumber – sumber kualitas. yang berdampak pada keberhasilan mewujudkan. inisiatif dan inovasi untuk selalu meningkatkan kualitas. 6. Semua sumber kualitas di lingkungan organisasi pendidikan dapat dilihat manifestasinya melalui dimensi – dimensi kualitas yang harus direalisasikan oleh pucuk pimpinan bekerja sama dengan warga sekolah yang ada dalam lingkungan tersebut. Menurut Hadari Nawawi (2005 : 141). Kesesuaian dengan Spesifikasi Pendayagunaan sumber – sumber kualitas secara efektif dan efisien bermanifestasi pada kemampuan personil untuk menyesuaikan proses pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya dengan karakteristik operasional dan standar hasilnya berdasarkan ukuran kualitas yang disepakati. 2. Persepsi Masyarakat Pendayagunaan sumber – sumber kualitas yang sukses di lingkungan organisasi pendidikan dapat diketahui dari persepsi masyarakat (brand image) dalam bentuk citra dan reputasi yang positip mengenai kualitas lulusan baik yang terserap oleh lembaga pendidikan yang lebih tinggi ataupun oleh dunia kerja. Nilai Tambah Pendayagunaan sumber – sumber kualitas secara efektif dan efisien akan memberikan nilai tambah atau keistimewaan tambahan sebagai pelengkap dalam melaksanakan tugas pokok dan hasil yang dicapai oleh organisasi.

C. Meskipun suatu histogram dibuat berdasarkan contoh data. Diagram Ishikawa biasa juga disebut sebagai diagram Tulang Ikan (Fish BoneChart) karena melihat bentuk dari anak panah yangmenyerupai tulang ikan. 3. Diagram Pareto Diagram pareto digunakan untuk menampilkan data dengan tujuan untuk mengetahuisuatu penyebab yang memberikan pengaruh yangpaling besar terhadap akibat. sehingga bukan suatu yang mustahil akhirnya kesimpulan/keputusan akan jauh dari yang diharapkan.mulai dari penyebab yang paling dekat dengan akibat (masalah). Analsis pareto mengisyaratkan masalah-masalah mana yang jika ditanggani dapat memberikan manfaat balik bagi perusahaan. Dalam Histogram. kesimpulan ataupun keputusan yang akurat. yaitu penyebab yang paling besar pengaruhnya terhadap akibat. sampai penyebab yang tidak dekatdengan akibat (masalah). Dengan demikian bisa segera dilakukan langkah perbaikan berdasarkan skala prioritas. 2. Tanpa mempunyai data membuat pengambilan kesimpulan/keputusan ataupun rencana tindakan hanya berdasarkan kira-kira saja. Metode (cara). Diagram Sebab Akibat (Fishbone Diagram /Ishikawa) Diagram ini digunakan untuk menggambarkan hubungan antara sebab dan akibat dari suatu kegiatan. Material. yang ditempatkan pada tulang ikan yang pertama. Histogram Histogram adalah bentuk dari grafik kolom yang memperlihatkan distribusi yang diperoleh bila mana data dalam bentuk angka telah terkumpul. Karena dari data yang didapat /dikumpulkan dapat mengambil suatu gambaran. Check Sheet atau Lembar Pengumpul Data Check Sheet adalah merupakan alat yang mutlak diperlukan bagi mereka yang melaksanakan penelitian dan pengendalian kualitas atau kuantitas barang ataupun jasa. Alat-alat mutu berdasarkan TQM Tujuh alat yang digunakan meliputi : 1. Dengan diagram Ishikawa kitadapat menjabarkan banyak sekali semua penyebab. namun tujuannya adalah untuk memberikan saran mengenai kemungkinan distribusi keseluruhan data (populasi) yang contoh datanya diambil. 4. Man (orang) dan Lingkungan. nilai dari peubah 6 . Untuk memudahkan dalam menginventarisasisemua penyebab yang berpengaruh terhadap akibat(masalah) dengan menggunakan diagram Ishikawa harus mempertimbangkan faktor 4M dan 1L yaitu : Mesin.

Peta kendali juga bisa dipergunakan untuk mengukur apakah proses (kegiatan produksi) dalam keadaan terkendali atau tidak. pemrosesan dan output sebuah sistem informasi akuntansi. berkesinambungan digambarkan pada sumbu horizontal yang dibagi dalam kelas atau sel yang mempunyai ukuran sama. Diagram tebar digunakan sebagai alat penguji hubungan antara sebab dan akibat. kemudian pemrosesan yang mencakup lebih dari satu tahap pengolahan data dan terakhir berupa bagan alir output. Peta Kendali (Control Chart) Merupakan grafik garis dengan pencantumanbatas maksimum dan minimum yang merupakan batas daerah pengendalian. Proses dikatakan dalam keadaan terkendali jika unit yang diukur berada dalam batas-batas kendali. Peta kendali hanya menunjukkan perubahan data dari waktu ke waktu. Bagan alir sistem ini dimulai dengan identifikasi input. Bagan Alir Sistem (System Flowcharts) Bagan alir sistem menggambarkan hubungan antar input. Histogram ini dipakai untuk menentukan masalah dengan melihat bentuk dan sifat dispersi dan nilai rata-rata. 5. 7. Biasanya ada satu kolom untuk tiap kelas dan tingginya kolom menggambarkan jumlah terjadinya nilai data dalam jarak yang digambarkan oleh kelas. 6. Diagram Tebar (Scatter Diagram) Menggambarkan hubungan antara dua data yang dipetakan dalam suatu diagram. Pada peta kendali bisa diketahui adanyapenyimpangan tetapi tidak terlihat penyebabpenyimpangan tersebut. 7 .

Pareto diagram. bagaimana. Check sheet. mengatasi memenuhi 5w + 1H mengapa penyebab ditanggulangi. dengan data Buat Pareto diagram 4 Rencana Membuat Buat rencana Matriks: apa perbaikan rencana guna perbaikan yang permasalahannya. Tujuan: 1. kebenaran kumpulan data Pareto diagram penyebab untuk uji sebab. 2. dimana. Mencoba menyusun rancangan mutu yang akan diterapkan dalam menyelesaikan permasalahan laporan kinerja penelitian dosen STIKIM/ STIKOM. Check sheet hasil antara kumpulkan data. permasalahan tema yang Buat pareto diagram Grafik histogram dibahas menentukan pokok masalah 2 Membahas Mencari Sumbang saran Fish bone penyebab penyebab dari untuk menganalisa diagram dari problem sebab akibat. B. uraian tindakan Gambarkan yang caranya/ dengan dilaksanakan uraian 6 Evaluasi hasil Mengkonfirmasi Buat check sheet. BAB II ANALISA KASUS A. kapan. Metode yang dipakai Langkah Alat yang No Tujuan Uraian Kegiatan Kegiatan Dipakai 1 Menentukan Untuk Buat check sheet. Buat yang sedang diagram tulang ikan dibahas 3 Menguji sebab Menguji Buat check sheet. siapa 5 Penanggulangan Melaksanakan Melakukan Penjelasan apa yang telah perbaikan sesuai dengan gambar/ direncanakan dengan rencana. pareto diagram sebelum dan Buat pareto sebelum sesudah langkah dan sesudah perbaikan perbaikan 7 Standarisasi Melakukan Membuat standar Kalimat perintah 8 . Chek sheet pokok menentukan kumpulan data. Mencari penyebab dari masalah kinerja penelitian dosen STIKIM/ STIKOM.

2. Membuat check sheet No Masalah Ya Tidak 1 Dana stimulus terlalu kecil √ 2 SDM belum semua mencapai √ kualifikasi 3 Belum paham pentingnya penelitian √ bagi karir dosen 4 Tidak semua dosen memiliki waktu √ yang cukup untuk melakukan penelitian 5 Terlalu banyak multitasking yang √ dikerjakan 6 Manajemen P3M yang belum sesuai √ 7 Kurangnya kerjasama antar lembaga √ STIKIM/ STIKOM 9 . Kurang pahamnya para civitas akademik di STIKIM/ STIKOM akan pentingnya pelaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pemecahan masalah waktu tunggu ini. Menentukan pokok permasalahan a. Dana stimulus penelitian yang masih dibawah standar sehingga para dosen tidak termotivasi untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. prosedur sesuai kerja/ flow proses/ cerminan L4 L5 Bakayoke (Anti salah) 8 Masalah berikut Merencanakan Membuat jadwal rencana kegiatan dan pilih pokok permasalahan selanjutnya Pemecahan masalah dengan menggunakan alat-alat mutu tersebut di P3M STIKIM/ STIKOM : 1. dilaksanakan dengan melakukan hal-hal sebagai berikut : 1.

asisten 12 orang 4 Tidak semua karyawa √ Aturan BPJS berubah-ubah 10 . Menguji Sebab No Masalah Ya Tidak Penyebab dan Akibat 1 Pasien menunggu lama √ Karyawan kurang. dengan pasien 1 apoteker untuk 50 pasien (seharusnya apt 14. resep manual 2 Tenaga apoteker kurang √ Perbandingan apoteker di rawat jalan 1 banding 50 pasien (kondisi 1 apoteker untuk 700 pasien) 3 Tenaga asisten apoteker √ Perbandingan apoteker dan asisten kurang adalah 1 banding 2. asisten 28). Membuat Fish Bone Enviroment Man Apoteker Ruang tunggu Kurang Kurang Luas Agak Asisten Kurang Bising Kursi Kurang Aturan BPJS Kurang tahu Kurang Nyaman Kurangnya kinerja penelitian SIM BPJS belum Komputer 3 briedging Loket Obat Obat fornas Kurang kosong Resep Manual Obat reguler kosong Etiket Manual SIM RS error Mesin antrian rusak Dokter Terlambat Metode Material 3. 2. asisten 28. Membahas Penyebab 1. kondisi apt 1. kondisi apt 1 orang.

Cito (Kronis perlu 1 buah lagi) 9 Obat fornas sering kosong √ Konfirmasi ke dokter memerlukan waktu 10 Obat reguler di luar fornas √ Konfirmasi ke dokter memerlukan sering kosong waktu 11 SIM BPJS belum briedging √ Pengetikan menjadi 3 kali. antri lebih banyak dari itu 17 Kursi tunggu tidak cukup √ Pasien banyak berdiri sehingga tidak sabar menunggu. dibagi kronis. resep manual Diajukan penambahan lama karyawan. farmasi tahu aturan pelayan pasien BPJS 5 Dokter meresepkan diluar √ Peresepan di luar fornas biasanya fornas melebihi plafond yang diperkenankan. dengan pasien 1 diajukan sesuai apoteker untuk 50 (seharusnya standar. untuk penagihan terpisah (kronis23hari) 12 SIM RS kerap error √ Memperlambat entry data 13 Etiket masih manual √ Memerlukan orang khusus untuk etiket 14 Peserapan masih manual √ Pembacaan resep untuk tulisan yang kurang jelas membutuhkan konfirmasi kepada dokter 15 Mesin antrian sering rusak √ Pasien sering menanyakan nomor antrian. kurang Non Kronis. menggangu kerja 16 Ruang tunggu tidak cukup √ Kapasitas ruang tunggu 100 orang. Cito (Kronis perlu 1 buah lagi) 8 Loket penyerahan resep √ Kondisi ada 3 buah. kurang Non Kronis. resep e- prescription 2 Tenaga apoteker Perbandingan apoteker di rawat jalan Apoteker diajukan kurang 1 banding 50 pasien (kondisi 1 sesuai standar. yaitu 1 apoteker untuk 700 pasien) banding 50 pasien untuk rawat jalan 3 Tenaga asisten Perbandingan apoteker dan asisten Asisten apoteker apoteker kurang adalah 1 banding 2. untuk system SIM RS. asisten 28. untuk SIM BPJS. sehingga memerlukan konfirmasi 6 Dokter terlambat datang di √ Resep menjadi menumpuk pada poli waktu tertentu 7 Loket penerimaan resep √ Kondisi ada 3 buah. Rencana perbaikan No Masalah Penyebab dan Akibat Rencana perbaikan 1 Pasien menunggu Karyawan kurang. yaitu 2 apoteker 14. dibagi kronis. kondisi banding 50 pasien 11 . emosi 4.

penagihan terpisah (kronis 23 hari) sehingga tidak perlu mengetik sampai 3kali 12 SIM RS kerap error Memperlambat entry data SIM RS agar lebih baik lagi 13 Etiket masih Memerlukan orang khusus untuk Etiket lewat komputer manual etiket 14 Peresepanmasih Pembacaan resep untuk tulisan yang Resep menjadi e- manual kurang jelas. asisten 12 orang 4 Tidak semua Aturan bpjs berubah-ubah Sosialisasi aturan BPJS karyawan farmasi kepada karyawan tahu aturan pelayanan pasien BPJS 5 Dokter meresepkan Peresepan di luar fornas biasanya Sosialisasi kepada di luar Fornas melebihi plafond yang diperkenakan. dokter untuk lebih taat sehingga memerlukan konfirmasi kepada fornas 6 Dokter terlambat Resep menjadi menumpuk pada Himbauan ketepatan datang di poli waktu tertentu waktu dokter untuk pelayanan 7 Loket penerimaan Kondisi ada 3 buah. Jalur antrian dipercepat cukup antri lebih banyak dari itu dengan hal-hal di atas 17 Kursi tunggu tidak Pasien banyak berdiri. Ditambah menjadi 4 resep kurang non kronis. sehingga lagi) pelayanan bisa lebih cepat 9 Obat fornas sering Konfirmasi ke dokter memerlukan Dicari alternatif lain kosong waktu untuk obat fornas 10 Obat reguler di luar Konfirmasi ke dokter memerlukan Pengadaan lebih fornas sering waktu ditingkatkan kosong keakuratannya 11 SIM BPJS belum Pengetikan menjadi tiga kali. untuk SIM BPJS. dibagi kronis. apoteker 1. Ditambah menjadi 4 resep kurang non kronis. dibagi kronis. cito (kronis perlu 1 buah loket. Penanggulangan No Masalah Rencana Penanggulangan 1 Pasien menunggu lama Diajukan penambahan karyawan kepada SDM 12 . membutuhkan prescription konfirmasi kepada dokter 15 Mesin antrian Pasien sering menanyakan nomor Perbaikan mesin sering rusak antrian. untuk Briedging system briedging system SIM RS. cito (kronis perlu 1 buah loket. asisten 28). sehingga lagi) pelayanan bisa lebih cepat 8 Loket penyerahan Kondisi ada 3 buah. sehingga tidak Jalur antrian dipercepat cukup sabar. menggangu kerja antrian 16 Ruang tunggu tidak Kapasitas ruang tunggu 100 orang. Kondisi untuk di rawat jalan apoteker 1 orang. emosi dengan hal-hal di atas 5. untuk untuk SIM BPJS.

agar pasien tidak menunggu lama ketika berobat 7 Loket penerimaan resep kurang Ditambah menjadi 4 loket. resep sebaiknya e-prescription agar tidak terjadi kesalahan pembacaan. sehingga menghindarkan terjadinya kesalahan 15 Mesin antrian sering rusak Perbaikan mesin antrian diajukan kepada bagian umum. diusulkan agar SIM RS lebih baik lagi 13 Etiket masih manual Etiket menggunakan komputer. dan pasien tidak perlu bertanya- tanya kepada petugas 16 Ruang tunggu tidak cukup Jalur antrian dipercepat dengan hal-hal di atas 17 Kursi tunggu tidak cukup Jalur antrian dipercepat dengan hal-hal di 13 . agar aturan-aturan baru BPJS BPJS dapat tersampaikan 5 Dokter meresepkan di luar Sosialisasi dari komite medik kepada dokter Fornas untuk lebih taat kepada fornas. yaitu 2 banding 50 pasien untuk di rawat jalan 4 Tidak semua karyawan farmasi Sosialisasi aturan BPJS kepada karyawan agar tahu aturan pelayanan pasien lebih dimaksimalkan. 8 Loket penyerahan resep Ditambah menjadi 4 loket. 2 Tenaga apoteker kurang Apoteker diajukan sesuai standar. SIM BPJS 23 hari. sehingga antrian dapat lebih tertib lagi. sering kosong hubungan dengan keuangan untuk kelancaran pembayaran agar pengadaan obat dapat lebih lancar. SIM RS 7 hari) 12 SIM RS kerap error Kepada pihak EDP RS. 10 Obat regular di luar fornas Perencanaan pengadaan lebih ditingkatkan. sehingga kurang pelayanan bisa lebih cepat. 11 SIM BPJS belum briedging Briedging system untuk SIM BPJS diajukan system kepada pihak BPJS. sehingga pelayanan bisa lebih cepat. karena salah pembacaan. 9 Obat fornas sering kosong Dicari alternatif lain untuk obat fornas kepada para principal obat. mengobati dengan lebih rasional dan efektif 6 Dokter terlambat datang di poli Himbauan Ketepatan waktu dari pihak SDM kepada dokter untuk pelayanan. sehingga tidak perlu mengetik sampai 3 kali (SIM RS non fornas. dengan ditambah orang yang mengerjakan juga. dengan perhitungan beban kerja. 14 Peresepan masih manual Resep menjadi e-prescription. yaitu 1 banding 50 pasien untuk di rawat jalan 3 Tenaga asisten apoteker kurang Asisten Apoteker diajukan sesuai standar. agar kesulitan untuk mengatasi tulisan dokter menjadi lebih minimal. dengan ditambah orang yang mengerjakan juga. agar tidak terjadi salah nama orang. agar mendapat harga obat sesuai e-catalogue.

Dengan karyawan sebanyak itu. Resep pasien rawat jalan BPJS sekitar 700 lembar perhari. Instalasi Farmasi RSUD Al Ihsan (tipe B) dengan kapasitas tempat tidur rumah sakit sebanyak 300. Evaluasi Hasil No Masalah Sebelum Perbaikan Setelah Perbaikan 1 Pasien menunggu lama Ya Tidak 2 Tenaga apoteker kurang Ya Tidak 3 Tenaga asisten apoteker kurang Ya Tidak 4 Tidak semua karyawan farmasi Ya Tidak tahu aturan pelayanan pasien BPJS 5 Dokter meresepkan di luar Ya Tidak Fornas 6 Dokter terlambat datang di poli Ya Tidak 7 Loket penerimaan resep kurang Ya Tidak 8 Loket penyerahan resep Ya Tidak kurang 9 Obat fornas sering kosong Ya Tidak 10 Obat regular di luar fornas Ya Tidak sering kosong 11 SIM BPJS belum briedging Ya Tidak system 12 SIM RS kerap error Ya Tidak 13 Etiket masih manual Ya Tidak 14 Peresepan masih manual Ya Tidak 15 Mesin antrian sering rusak Ya Tidak 16 Ruang tunggu tidak cukup Ya Tidak 17 Kursi tunggu tidak cukup Ya Tidak BAB III KESIMPULAN Permasalahan lamanya waktu tunggu Instalasi Farmasi RSUD Al Ihsan khusus untuk pasien BPJS adalah: 1. 14 . melayani resep sekitar 1100 lembar setiap harinya. atas 6. dilayani oleh 1 orang Apoteker dan 12 orang asisten apoteker. antrian pasien BPJS cukup lama.

60 menit untuk obat racikan). 15 . maka kajian ini dibuat. menyebabkan komplain pasien terhadap instalasi farmasi cukup tinggi. Dengan adanya manajemen mutu yang telah disusun dengan baik diharapkan terselesaikannya permasalahan lamanya waktu tunggu di Instalasi Farmasi RSUD Al Ihsan khusus untuk pasien BPJS. Karena hal itulah. melebihi standar pelayanan minimal (30 menit untuk obat jadi. Waktu tunggu yang lama (bisa mencapai 2 jam). untuk meningkatkan mutu pelayanan. dengan harapan dapat mengatasi masalah di instalasi farmasi. 2.