You are on page 1of 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Paparan sinar matahari secara berlebih merupakan mediator eksogen utama

terjadinya kerusakan pada kulit yang dapat mempercepat terjadinya penuaan dan

resiko terjadinya kanker pada kulit. Sinar UV pada dasarnya memiliki manfaat

dalam pembentukan vitamin D3 (Cholecalciferol) yang digunakan untuk

metabolisme pembentukan tulang dan sistem imun. Selain itu, radiasi sinar UV

juga dapat digunakan untuk terapi penyakit tbc, psoriasis, dan vitiligo (Cefali

dkk., 2016). Akan tetapi, paparan sinar UV secara terus-menerus justru dapat

memberikan efek buruk bagi kesehatan (Kockler dkk., 2012).

Sinar UV dibagi menjadi 3 daerah, yaitu: UV C(100-290 nm), UV B (290-

320 nm), dan UV A (320-400 nm) dimana sinar UV C dapat tersaring oleh lapisan

atmosfer dan tidak dapat sampai ke permukaan bumi, UV B dapat menetrasi

lapisan permukaan kulit yang paling atas, dapat menyebabkan terjadinya

kerusakan DNA dan terbakar surya, dan sinar UV A yang dapat menetrasi lapisan

kulit lebih dalam sampai lapisan dermis, dapat menyebabkan terjadinya penuaan,

pigmentasi, eritema, tanning, dan kerusakan DNA akibat adanya senyawa oksigen

reaktif atau ROS (Reactive Oxcygen Species). Efek buruk jika terpapar sinar UV

terlalu lama dapat menyebabkan terjadinya kanker kulit, terbakar surya, kerusakan

mata seperti katarak dan melanoma, penuaan kulit secara prematur, pigmentasi,

eritema, dan kerusakan sistem imun (Cefali dkk., 2016; Kockler dkk., 2012,

Kulkarni dkk., 2014).

1

2

Kulit manusia pada dasarnya memiliki mekanisme tersendiri untuk

melindungi dari bahaya sinar UV, yaitu dengan melakukan pembentukan butir-

butir pigmen (melanin) yang akan memantulkan kembali sinar UV. Jika kulit

terpapar sinar matahari, maka akan timbul dua tipe reaksi melanin, seperti

penambahan melanin secara cepat ke permukaan kulit dan pembentukan

tambahan melanin baru. Akan tetapi, apabila kulit terpapar sinar UV secara terus-

menerus dapat mengakibatkan hiperpigmentasi yang dapat memicu timbulnya

noda hitam pada kulit dan kerusakan kulit lainnya, seperti penuaan dini dan

kanker kulit (Trenggono dkk., 2007). Oleh karena itu, untuk menjaga kulit dari

efek buruk radiasi sinar UV, maka diperlukan perlindungan menggunakan tabir

surya (Balakhrishnan dan Narayanasmamy, 2011).

Tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang digunakan dengan maksud

memantulkan atau menyerap secara aktif cahaya matahari terutama pada daerah

dengan emisi gelombang ultraviolet dan inframerah, sehingga dapat mencegah

terjadinya gangguan kulit karena sinar UV (Draelos dan Thaman, 2006).

Berdasarkan kandungan zat aktifnya, sediaan tabir surya dibedakan menjadi 2

yaitu sunblock dan sunscreen. Sunblock merupakan sediaan tabir surya yang

mekanisme kerjanya secara fisik memantulkan sinar UV, sedangkan sunscreen

secara kimia menyerap sinar UV agar tidak menyerang sel kulit (Trenggono dkk.,

2007).

Senyawa yang memiliki aktivitas sebagai pelindung terhadap sinar

matahari sangat berguna dalam mengurangi efek buruk radiasi sinar UV pada

kulit. Namun, banyak zat aktif pengabsorpsi sinar UV yang dapat menyebabkan

3

terjadinya alergi dan iritasi pada kulit. Oleh karena itu, pengembangan formulasi

yang mengandung ekstrak tanaman sedang dikembangkan. Kosmetik dari

tumbuhan yang biasa digunakan untuk menghindari penuaan yaitu senyawa

antioksidan. Senyawa antioksidan dapat digunakan untuk meminimalisir aktivitas

radikal bebas dan melindungi kulit dari radiasi sinar UV karena adanya

kandungan polifenol dalam senyawa. Senyawa yang mengandung cincin aromatik

dapat mengabsorpsi sinar UV khususnya UV A dan UV B pada panjang

gelombang 200-400 nm (Cefali dkk., 2016; Kockler dkk., 2012; Mishra dkk.,

2011). Beberapa senyawa aktif antioksidan seperti flavonoid, tannin, antraquinon,

sinamat, kurkumin, dan lain-lain telah dilaporkan memiliki kemampuan sebagai

pelindung terhadap sinar UV (Singh dkk., 2009; Hogade, 2010; Rasheed dkk.,

2012).

Tabir surya masih sedikit yang menggunakan zat aktif dari senyawa aktif

bahan alam. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk membuat sediaan tabir

surya menggunakan senyawa aktif bahan alam yang diambil dari temu mangga

(Curcuma mangga Val.). Berdasarkan literatur, temu mangga mengandung

senyawa antioksidan, diantaranya kalkon, flavanon, flavon, dan kurkumin yang

memiliki gugus kromofor dan cincin aromatik (Lajis, 2007; Suryani, 2009;

Hartati, 2010). Gugus kromofor tersebut merupakan sistem aromatik terkonjugasi

yang memiliki kemampuan untuk menyerap sinar pada kisaran panjang

gelombang sinar UV baik pada UV A maupun UV B (Ismiyana dkk, 2015).

Menurut Sri Hartati dalam Majalah Farmasi Indonesia (2010) menyebutkan juga

bahwa senyawa aktif yang terdapat pada rimpang temu mangga dapat digunakan

1989..Agin. mudah dioleskan. peneliti akan melakukan penelitian uji aktivitas ekstrak etanol temu mangga dalam bentuk lotion w/o yang dapat diaplikasikan pada kulit manusia. 4 sebagai senyawa aktif dalam sediaan tabir surya. dan gliserin berfungsi sebagai humektan dan emollient yang dapat mempengaruhi stabilitas dari lotion (Rowe dkk. Formula sediaan lotion dipilih karena sediaan tersebut lebih sering dipakai untuk sediaan topikal tabir surya. setil alkohol. maka perlu dilakukan optimasi formula lotion w/o tabir surya dengan basis cera alba. dan meninggalkan lapisan tipis dari komponen pada permukaan kulit (Ansel. 2006. Rai dan Srinivas. Cera alba berfungsi untuk meningkatkan konsistensi lotion. atau larutan dengan atau tanpa obat yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal yang kecairannya memungkinkan pemakaian yang merata dan cepat pada permukaan kulit yang luas sehingga cepat kering. Dari pertimbangan dasar tersebut. mudah menyebar. 2006). setil alkohol berfungsi sebagai emulgator dan emollient yang dapat meningkatkan stabilitas lotion. 2008). Jone. sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan dasar dilakukannya penelitian untuk menguji optimasi formula ekstrak etanol temu mangga sebagai tabir surya. Salah . emulsi. Sediaan lotion agar dapat memenuhi kriteria perlindungan kulit dengan baik. 2007). Lotion tipe w/o memiliki beberapa keuntungan yaitu tidak mudah dicuci dengan air dan memiliki daya lekat yang lama sehingga substantivitas dan efektivitasnya jika digunakan menjadi lebih baik (P. dan gliserin. Optimasi variasi ketiga bahan tersebut pada jumlah tertentu diharapkan akan menghasilkan lotion dengan sifat fisik yang baik dan nyaman digunakan. Lotion dapat berupa suspensi.

1997). B. Apakah lotion w/o ekstrak etanol temu mangga yang optimum memiliki sifat fisik dan stabilitas fisik yang baik selama penyimpanan dalam kurun waktu satu bulan? 3. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang akan diselesaikan pada penelitian ini antara lain : 1. Mengetahui aktivitas tabir surya lotion w/o pada formula optimum secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis . Apakah formula optimum lotion w/o ekstrak etanol temu mangga memiliki aktivitas sebagai tabir surya? C. 2. Mengetahui konsentrasi ekstrak etanol temu mangga yang mampu menghasilkan nilai SPF sedang menurut Food and Drug Administration (FDA). Dengan metode ini dapat dilihat efek konsentrasi tiap-tiap komponen terhadap respon dan bagaimana interaksi dari masing-masing komponen tersebut terhadap respon yang diamati (Bolton. Mengetahui sifat fisik dan stabilitas fisik formula optimum lotion w/o pada penyimpanan dalam kurun waktu satu bulan. 5 satu metode optimasi untuk mendapatkan formula lotion w/o tabir surya yaitu dengan menggunakan metode Simplex Lattice Design. Apakah ekstrak etanol temu mangga mampu menghasilkan nilai SPF sedang menurut FDA? 2. 3.

sebab bahan alam memiliki toleransi yang baik pada kulit sehingga tidak menimbulkan alergi dan iritasi pada kulit. persen eritema (%Te). dan persen pigmentasi (%Tp) pada formula optimum secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Visible. Sampai saat ini. Keaslian Penelitian Sri Hartati (2010) dalam Majalah Farmasi Indonesia melaporkan bahwa senyawa yang terkandung dalam temu mangga (Curcuma mangga) pada kadar tertentu menunjukkan nilai SPF yang sesuai persyaratan dalam FDA.org) . E. Taksonomi dan morfologi temu mangga (Curcuma manga Val. 6 D. belum ada laporan penelitian tentang pembuatan kosmetik tabir surya sediaan lotion w/o menggunakan ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga) dan diuji nilai SPF. Tinjauan Pustaka 1.) Gambar 1. F. Pentingnya penelitian diusulkan Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan penggunaan bahan alam sebagai zat aktif utama dalam sediaan tabir surya yang lebih aman sebagai pengganti senyawa sintetis. Rimpang temu mangga (wikipedia.

mengandung saponin serta flavonoid.. dan terdapat warna ungu di bagian tangkai daun. 1993). Malaysia. 7 Temu mangga merupakan tanaman herbal yang termasuk ke dalam sistematika tumbuhan dan diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Zingiberaceae Famili : Zingiberaceae Genus : Curcuma Spesies : Curcuma mangga Val. Panjang akar sekitar 25 cm dan letaknya tidak beraturan (Gusmaini dkk. 2004). Rimpang dan daun Curcuma mangga Val. Temu mangga termasuk dalam tanaman tahunan yang berbentuk rimpang berbatang semu dan memiliki sejumlah anakan. dan Thailand. Rimpang temu mangga bercabang. (Gusmaini dkk. Sistem perakaran tanaman termasuk akar serabut. Akar melekat dan keluar dari rimpang induk. dan memiliki warna daging berwarna kuning lebih gelap dengan dilingkari warna putih. Daun temu mangga berbentuk elips-obling yang meruncing dibagian ujung daun.. dibagian luar berwarna kekuningan.. dengan panjang 15-95 cm dan lebar 5-23 cm. 2004) Temu mangga biasa ditemukan di Pulau Jawa. daunnya mengandung polifenol (Hutapea dkk. Kandungan . berwarna hijau.

epigalokatekin galat. Khasiat lainnya digunakan untuk mengatasi kanker. Hasil analisis kandungan kurkuminoid dalam temu mangga menggunakan metode HPLC didapatkan kandungan kurkuminoid sebanyak 0. flavanon. Hasil analisis HPLC terhadap kandungan senyawa fenolik dalam temu mangga terdiri dari asam galat. 1985 dan Maslarova.. pencahar (laksatif). demam. mengecilkan rahim setelah melahirkan. dan galokaterkin galat (Pujimulyani dkk. radang saluran nafas (bronchitis). Temu mangga berkhasiat sebagai penurun panas (antipiretik). 2007. dan masuk angin (Hariana. Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin aromatik A. sakit perut. penangkal racun (antitoksik). sesak nafas (asma). (E)-labda- 8(17). kurkumin. 2006).16-dial... 2007). 8 kimia lain yang ada pada rimpang meliputi kalkon. antiinflamasi. zerumin A. antioksidan. 2005. 2015).47 % (Bos dkk. β-sitosterol. (E)-15. satu cincin aromatik B. .12-dien-15. dan bisdemetoksikurkumin (Abas dkk. 2001). demetoksikurkumin.18-0. gatal-gatal pada vagina (pruritis). 2011).16-bisnorlabda8(17).. epigalokatekin. Flavonoid Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan pada tanaman. 2. menguatkan syahwat. Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa fenolik dengan struktur dasar C6 -C3 –C6 pada tumbuhan yang memegang peran sebagai fotoprotektan dan memiliki kontribusi pada warna tumbuhan (Madhavi dkk. katekin. 2013). epikatekin.11-dien-13-one.. menambah nafsu makan. mengurangi lemak perut. dan antimikroba (Hong dkk. Lajis. kembung. Malek dkk. flavon..

.. . 2015). Flavonoid telah dikenal sebagai antioksidan poten dengan aktivitasnya sebagai penangkap elektron. Gambar 2. Dengan demikian senyawa tersebut diharapkan dapat berfungsi sebagai pelindung kulit manusia dari radiasi sinar UV atau sebagai antioksidan alamiah (Kometani dkk. 9 dan cincin tengah berupa heterosiklik yang mengandung oksigen dan bentuk teroksidasi cincin dijadikan dasar pembagian flavonoid ke dalam sub-sub kelompoknya. 1988). Kemungkinan senyawa ini berfungsi melindungi daun dari efek radiasi cahaya UV dan dapat menekan fotoperoksidasi lipid oleh penangkapan anion superoksid yang dihasilkan selama proses peroksidasi dalam kloroplas. donasi atom hidrogen. 1994). Flavonoid memiliki potensi sebagai tabir surya karena adanya gugus kromofor yang umumnya memberikan warna kuning pada tanaman. atau melalui kemampuannya mengkelat dengan logam berada dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon (Markham. Gugus kromofor tersebut merupakan sistem aromatik terkonjugasi yang menyebabkan kemampuan untuk menyerap kuat pada kisaran panjang gelombang sinar UV baik pada UVA maupun UVB (Ismizana dkk. Struktur dasar flavonoid (Kar. 2007) Flavonoid dalam tanaman biasanya terdapat pada permukaan atau dalam sel epidermis daun hijau.

terdapat senyawa lain yang termasuk dalam anggota kurkuminoid. 2013). 10 Flavonoid adalah komponen senyawa alami yang paling banyak diteliti dengan fungsinya sebagai pelindung sinar matahari. agen imunomodulator. . Kurkumin termasuk dalam kelompok senyawa fenolik yang terdapat dalam tanaman family Zingiberaceae. Degradasi kurkumin tergantung pada pH dan berlangsung lebih cepat pada kondisi netral-basa (Sastry. dan dapat digunakan sebagai senyawa aktif dalam tabir surya. yaitu demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin.. Saewan dan Jimtaisong. Kurkumin merupakan kandungan utama dari kurkuminoid. Adanya cincin aromatik pada struktur flavonoid dapat memberikan kemampuan untuk mengabsorpsi radiasi sinar UV pada panjang gelompang 200-400 nm. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa senyawa rutin dan quersetin pada tumbuhan memiliki efek perlindungan terhadap radiasi sinar matahari dan dapat digunakan sebagai tabir surya (Cefali dkk.. Kurkumin Kurkumin merupakan salah satu produk senyawa metabolit sekunder dari tanaman Zingiberaceae. 2016. Flavonoid banyak ditemukan pada tanaman buah-buahan maupun sayuran. Selain kurkumin. khususnya kunyit dan temulawak. bersifat antioksidan.2009. Choquenet dkk. 3.1970). Kurkumin tidak larut dalam air tetapi larut dalam etanol atau dimetilsulfoksida (DMSO).

5 dan akan terdegradasi pada pH di atas 6. dan cahaya. heksana. Produk degradasi kurkumin dalam lingkungan alkali (pH 7-10) akan menghasilkan asam ferulat dan ferruloil metan. 1997). tidak stabil terhadap asam. antifungi. 2009) Kurkumin mempunyai kelarutan yang rendah. agak larut dalam benzene. Struktur kimia kurkumin (Dewick. Kurkuminoid dari Curcuma longa family Zingiberaceae telah dilaporkan memiliki fungsi klinik penting diantaranya sebagai antiinflamasi. tidak stabil dalam larutan. dan light petroleum.1 larutan berwarna merah jingga (Tonnesen dan Karlsen. . yaitu pada pH 1-7 berwarna kuning sedangkan pada pH 7. Kurkumin stabil pada pH di bawah 6.5. 11 Gambar 3. Kurkumin sukar larut dalam air. kloroform. tetapi kurkumin larut dalam alkohol.5 – 9. Degradasi kurkumin mengakibatkan terjadinya perubahan pada larutan. Hal ini disebabkan oleh adanya gugus metilen aktif. aseton. Kurkumin yang terdapat pada Curcuma longa akhir-akhir ini banyak diteliti untuk mengetahui semua nutrisi dan efek yang baik pada kurkumin. dan asam asetat glasial. dan eter.

2011). antioksidan. Pencerahan kulit dapat membantu menghambat terjadinya hiperpigmentasi atau penggelapan kulit (Singh dkk. . 12 antimikroba. 2009). Ekstraksi dalam penelitian bertujuan untuk menarik komponen kimia yang terdapat pada bahan alam. dan dapat melindungi kulit dari bahaya radikal bebas (Mishra dkk.. Menurut Depkes RI (2000). 2000). Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut. ekstraksi terdiri dari beberapa jenis salah satunya yaitu ekstraksi secara maserasi. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan tetrahidrokurkumin pada sediaan topikal sangat aman dan efektif untuk mencerahkan kulit.. Ekstraksi secara maserasi merupakan proses pengekstrakan simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar. 2000). Maserasi bertujuan untuk menarik zat-zat berkhasiat yang tahan pemanasan maupun yang tidak tahan pemanasan (Depkes RI. dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut (Depkes RI. termasuk biota laut. dan beberapa jenis ikan. Warna kuning pada senyawa kurkumin dapat menghambat terjadinya pigmentasi pada kulit. 4. antiproliferasi. Ekstraksi Ekstraksi merupakan suatu metode penyarian zat-zat aktif dari bagian tanaman obat. hewan. Telah banyak penelitian yang menyebutkan penggunaan kurkumin pada sediaan topikal yang memiliki keuntungan pada kulit.

Sebagai contoh cahaya UV dapat memacu pembentukan sejumlah senyawa reaktif atau radikal bebas pada kulit. Fenolik adalah senyawa yang memiliki ciri berupa cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksil (Harborne. 1995). Flavonoid mengandung polifenol hasil sintesis . 1990). Untuk itu senyawa fenolik khususnya flavonoid dapat digunakan untuk perlindungan terhadap sinar UV. 13 5. 1987).. khususnya flavonoid yang memiliki potensi sebagai fotoprotektan yang dapat mengabsoprsi sinar UV (Saewan dan Jimtaisong. (2002) senyawa fenolik dapat mengadsorpsi dan menetralkan radikal bebas. Senyawa fenolik sebagai fotoprotektor Fotoprotektor berfungsi menyerap atau menyebarkan sinar matahari sehingga intensitas sinar yang mampu mencapai kulit jauh lebih sedikit dari yang seharusnya (Wasitaatmadja. Senyawa dengan kemampuan antioksidan atau penangkap radikal bebas dapat berkompetisi dengan molekul target dan mengurangi atau mengacaukan efek merugikan (Shaath. Menurut Javanmardi dkk. 2013). meredamkan oksigen singlet dan triplet. Mekanisme fotoprotektan dalam melindungi kulit dari pengaruh sinar UV yaitu secara kompetitif bersaing dengan senyawa yang dapat dirusak oleh sinar matahari. 1997). Senyawa fenolik merupakan salah satu fotoprotektor alami. Senyawa polifenol merupakan senyawa paling baik untuk mencegah efek radiasi sinar UV pada kulit. Fenolik mempunyai aktivitas fotoprotektor karena adanya ikatan rangkap terkonjugasi yang bertanggung jawab dalam penyerapan sinar UV A dan UV B (Bartley dan Scolnik. dan mendekomposisi peroksida.

14 dari jalur metabolisme fenilpropanol dan memiliki manfaat dalam pengobatan (Cefali dkk. 6. penyarian. Ekstrak encer adalah sediaan yang memiliki konsistensi semacam madu dan dapat dituang. 1995). Ekstrak dikelompokan atas dasar sifatnya. Sistem pelarut yang digunakan dalam ekstraksi harus dipilih berdasarkan kemampuannya dalam melarutkan jumlah . 2016). dan pemekatan. Ekstrak cair. ekstrak yang dibuat sedemikian rupa sehingga 1 bagian simplisia sesuai dengan 2 bagian ekstrak cair. c. Proses ekstraksi didapat melalui tahap dari pembuatan serbuk. Ekstrak kental adalah sediaan yang dilihat dalam keadaan dingin dan tidak dapat dituang. sebaiknya memiliki kandungan lembab tidak lebih dari 5%. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang terisi diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Anonim. yaitu (Voight. 1995): a. Ekstrak Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. Ekstrak kering adalah sediaan yang memiliki konsistensi kering dan mudah dituang. pembasahan. Tingginya kandungan air menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat karena cemaran bakteri. Kandungan airnya berjumlah sampai 30%. b.. d.

Ukuran dan intensitas bercak dapat digunakan untuk memperkirakan kadar senyawa yang terkandung dalam sediaan (Anonim. Kromatografi lapis tipis merupakan teknik pemisahan zat secara cepat dengan menggunakan zat penyerap berupa serbuk halus yang dilapisi dianggap sebagai kolom kromatografi kolom terbuka. sedangkan pemisahannya didasarkan pada penyerapan. 1989). Kromatografi sendiri terbagi dalam berbagai macam metode. salah satunya yaitu kromatografi lapis tipis. atau penyerapan. Nilai Rf yang didapat diidentifikasi menggunakan 2 bercak yang memiliki nilai Rf kurang lebih sama. atau penukaran ion pada zat padat berpori. Zat yang diperoleh dapat digunakan untuk percobaan identifikasi atau penetapan kadar (Anonim. pembagian. 1989). 7. tergantung dari jenis zat penyerap dan cara pembuatan lapisan zat penyerap dan jenis pelarut. atau penggabungan. Parameter kualitatif dari kromatografi lapis tipis yaitu nilai Rf.Kromatografi lapis tipis Kromatografi merupakan cara pemisahan zat berkhasiat dan zat lain yang ada dalam sediaan. satu diantaranya diam (fase diam) dan yang lainnya bergerak (fase gerak). 2000). menggunakan cairan atau gas yang mengalir. Nilai Rf . Nilai Rf merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan besaran karakteristik dan reprodusibel. dengan jalan penyarian berfraksi. Teknik kromatografi umumnya membutuhkan zat terlarut yang terdistribusi diantara dua fase. 15 yang maksimum dari zat aktif dan seminimal mungkin bagi unsur yang tidak diinginkan (Depkes RI.

kulit juga merupakan organ pengontrol suhu tubuh. panas. sebaliknya senyawa yang tetap tertinggal pada titik awal mempunyai nilai Rf = 0 (J. 16 didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal. bahan kimia.. suatu senyawa yang bermigrasi dengan tepi muka pelarut mempunyai nilai Rf = 1. Kulit juga sangat kompleks. Selain pelindung. Luas kulit orang dewasa kira-kira sekitar 15% dari berat badan. Penampang melintang kulit (Burns dkk. 1981).Roth dan G.Blascke. seks. bervariasi pada keadaan iklim. elastis. Kulit Gambar 4. Dari definisi tersebut. dan juga tergantung pada lokasi tubuh (Djuanda dkk. 1999). Kulit merupakan pelindung atau barrier awal sistem imun tubuh terhadap benda asing dari luar. 2013) Kulit adalah organ tubuh paling luar yang membatasi dari lingkungan hidup manusia. seperti radiasi sinar UV. dan sensitif. yaitu dengan adanya proses berkeringat maupun . umur. 8.. serangan mikroba pathogen dan trauma mekanis. ras.

dan terus berganti. Pada lapisan ini . Stratum basal merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit dan diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan. mudah terkelupas. Epidermis Lapisan epidermis merupakan lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Keberadaan melanin pada sel kulit memberikan perlindungan pada kulit terhadap sinar UV dan juga radikal bebas. dan stratum basal. stratum spinosum. biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan serta tidak tampak pada kulit tipis. Kulit memiliki 3 lapisan seperti pada gambar 4. Stratum korneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit terluar yang terdiri dari sel keratinosit. Lapisan penyusun epidermis mengalami regenerasi setiap 4-6 minggu. b. e. stratum granulosum. Stratum spinosum atau lapisan malphigi terdiri dari berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril. 17 peningkatan dan penurunan aliran darah menuju area pembuluh darah dekat kulit (Standring. c. Pada lapisan ini terdapat sel langerhans. Lapisan ini terdiri dari stratum korneum. stratum lusidum. Stratum lusidum berupa garis translusen. d. Stratum granulosum terdiri dari 3-5 lapis sel poligonal gepeng dengan inti ditengah dan sitoplasma terdiri oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin. 2008). yaitu : 1. Granula ini mengandung protein kaya histidin. a.

sehingga tidak mudah robek. Lapisan ini terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. sehingga menimbulkan tanning kulit yang berfungsi sebagai fotoprotektif (Standring.. 2. Adanya sinar UV dapat membuat melanosit yang berisi melanin yang akan teraktivasi. sehingga menjadi melanosom. Melanosom akan bermigrasi ke keratinosit. 3. Fungsi kolagen tersebut adalah menambah elastisitas kulit. terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. yang berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah. b. 1999). dan folikel rambut (Djuanda dkk.. Subkutan/ Hipodermis Lapisan subkutis merupakan lapisan di bawah dermis.. Kolagen juga berperan sebagai pelumas dalam pergantian kulit (Burns dkk. 2008). Sebagian besar dermis terdiri dari kolagen yang memberikan 70-80% dari total berat kering dermis. Dermis Lapisan dermis merupakan lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. berisi kelenjar sebasea.1999). Pars retikulare adalah bagian tebal terdiri dari jaringan ikat padat. Sel-sel lemak . 2013). 18 terjadi aktivitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan (Djuanda dkk. Pars papilare yaitu bagian tipis mengandung jaringan ikat jarang. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni: a. kelenjar keringat.

UV A cenderung menekan fungsi kekebalan tubuh. dan UV A (320-400 nm). dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. dan menyebabkan terjadinya eritema.. Spektrum sinar UV dibagi menjadi 3. berfungsi sebagai cadangan makanan. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama bergantung pada lokasinya. yaitu UV C (200-290 nm). dan getah bening. Sinar UV merupakan sinar matahari yang memiliki komponen kecil dari spektrum elektromagnetik dan memiliki rentan radiasi yang sempit. 19 merupakan sel bulat. Sinar UV A tidak diabsorpsi oleh molekul DNA. mengakibatkan terjadinya penuaan dini pada kulit. berbeda dengan daerah di kelopak mata yang sangat sedikit jaringan lemaknya (Djuanda dkk. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3cm. Sinar UV A merupakan 90-95% dari sinar ultraviolet yang mampu mencapai permukaan bumi. UV B (290-320 nm). 1999). Sinar UV A memiliki panjang gelombang yang relatif panjang yaitu pada panjang gelombang 320-400 nm dan tidak terserap oleh lapisan ozon. Sinar UV A dapat menetrasi kulit lebih dalam dan terlibat dalam kerusakan kolagen terlibat dalam terjadinya tanning pada kulit. tetapi UV A dapat menyebabkan kerusakan kulit . yaitu pada panjang gelombang 200-400 nm. Sinar ultraviolet Paparan sinar matahari secara terus menerus dapat membahayakan dan mengakibatkan efek yang buruk pada kesehatan. pembuluh darah. 9. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi. Lapisan sel-sel lemak disebut penikulus adipose. dan elastisitas kulit karena sinar UV A dapat menetrasi komponen pada lapisan dermis yang terdapat dibawah epidermis. pigmentasi. besar.

Sinar UV B juga bertanggung jawab terhadap foto karsinogenik. Tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang digunakan dengan maksud memantulkan atau menyerap sinar UV sehingga dapat mengurangi jumlah radiasi UV yang berbahaya pada kulit (Draelos dan Thaman. 2006). Kulkarni dkk. Kockler dkk.. 2006. Sinar UV B sebagian dapat terabsorpsi oleh lapisan ozon sekitar 90% dan memiliki panjang gelombang menengah yaitu 290-320 nm. Tabir surya Menurut Barel dalam buku yang berjudul Handbook of Cosmetic Science and Technology (2009). 20 akibat adanya senyawa oksigen reaktif (Reactive Oxygen Species). eritema. Sinar UV C memiliki panjang gelombang terpendek di bawah 290 nm dan hampir semuanya diserap oleh lapisan ozon. pigmentasi. lapisan ozon mulai menipis dan mungkin sinar UV C dapat berkontribusi dalam terbakar surya dan penuaan kulit secara prematur (Matts. 2012. kanker kulit. Sinar UV B menetrasi pada permukaan kulit sampai bagian epidermis dan merupakan penyebab utama terjadinya terbakar surya dan tanning yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kulit. dan kerusakan sistem imun. Radiasi sinar matahari jika terpapar langsung oleh kulit dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan terbakar surya. dan terlibat dalam pembentukan katarak. 2014). 10. Tabir surya .. Sekarang ini. Sinar UV C walaupun tidak sampai ke permukaan bumi tetapi dapat menyebabkan kerusakan kulit yang lebih parah karena memiliki aktivitas sebagai mutagenik dan karsinogenik. radiasi sinar matahari pada kulit dikenal sebagai salah satu penyebab utama penyakit kulit. Sinar UV B tidak menembus kulit sejauh sinar UV A.

Mekanisme kerja tabir surya dibagi menjadi 2. Tabir surya awalnya dirancang untuk menyaring atau melindungi kulit dari sinar UV B. 2006). tahan terhadap air. Berlawanan dengan saran umum sediaan tabir surya yang harus diterapkan kembali setiap 2-3 jam. berkeringat. efektif melindungi sinar UV A dan UV B. dan membersihkan muka (Diffey. penelitian telah menunjukkan bahwa perlindungan terbaik tercapai dengan aplikasi 15-30 menit sebelum terpapar sinar matahari dan dilakukan penggunaan kembali jika diperlukan setelah melakukan kegiatan seperti berenang. stabil terhadap cahaya. 2001). toleran terhadap kulit. Tabir surya harus digunakan 20-30 menit sebelum terpapar sinar matahari sehingga produk memiliki kesempatan untuk kontak dan bereaksi dengan kulit. 21 dapat digunakan untuk melindungi kulit dari efek sinar matahari yang dapat menyebabkan eritema pada durasi pendek dan dapat menyebabkan penuaan dan kanker kulit pada durasi yang lama. Idealnya tabir surya harus memiliki nilai SPF yang tinggi. yaitu mengabsorpsi atau menyerap secara kimia dan menghambat atau menghalangi secara fisik. tidak toksik. sebab struktur tersebut memungkinkan molekul untuk menyerap sinar UV pada energi yang tinggi dan melepaskannya pada energi rendah sehingga dapat mencegah radiasi sinar UV yang dapat merusak kulit (Lowe. Namun tidak ada tabir surya yang benar-benar memiliki persyaratan lengkap. Umumya senyawa yang dapat digunakan sebagai tabir surya memiliki gugus aromatik yang terkonjugasi dengan gugus karbonil. dan ekonomis. Namun karena sekarang ini penetrasi sinar UV A ketika terkena kulit dapat menembus lebih dalam sampai lapisan dermis dan dapat . menyenangkan ketika digunakan.

2006). Karena kemampuannya untuk menyerap sinar UV menjadi luas dan kompleks maka perlu diperhitungkan bahwa zat aktif yang digunakan harus stabil oleh sinar UV ( Kockler dkk. Tabir surya dengan nilai SPF 15 mampu menyaring sinar UV B sekitar 93. Perlindungan yang diberikan terhadap sinar UV A dalam sediaan tabir surya kimia hanya sekitar 10% dari nilai sinar UV B (Kaidbey dan Gange. 22 menyebabkan terjadinya penuaan dan kerusakan DNA. Tabir surya alami Tabir surya dengan bahan aktif menggunakan senyawa sintesis dikhawatirkan dapat menimbulkan toksisitas pada kulit manusia sehingga orang dengan kulit sensitif harus lebih berhati-hati dalam memilih tabir surya.7% (Draelos dan Thaman. 2012). Tabir surya dengan spektrum luas dapat menghalangi penetrasi sinar UV A dan UV B. Beberapa zat yang memiliki spektrum luas tersebut yaitu zat yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. maka sekarang ini terjadi pergeseran ke arah tabir surya yang memiliki spektrum luas. dimana SPF 15 tergolong pada perlindungan sedang. Beberapa tahun terakhir ini telah banyak peneliti yang mengklaim bahwa kosmetik yang mengandung komponen dari senyawa herbal lebih cocok untuk . 1987). sebab kulit yang hipersensitif tidak dapat menggunakan tabir surya dari zat kimia. Nilai SPF hanya berlaku untuk perlindungan terhadap sinar UV B saja.3% dan untuk SPF dengan nilai 30 mampu menyaring sinar UV B sekitar 96. 11.. Kosmetik tabir surya agar mampu melindungi kulit terhadap radiasi sinar UV dengan baik. maka FDA merekomendasikan penetapan nilai SPF pada tabir surya minimal 15.

2007). Senyawa yang mengandung cincin aromatik dapat mengabsorpsi sinar UV khususnya UV A dan UV B pada panjang gelombang 200-400 nm. 12. minimum erytheme dose (MED) ditentukan pada masing-masing panelis .. karena senyawa tersebut dapat melindungi kerusakan kulit akibat sinar matahari. Secara khusus. lengkuas. lidah buaya. curcuma longa. Tabir surya alami lebih toleran terhadap kulit manusia dan tidak menimbulkan efek samping.. khususnya karotenoid dan flavonoid untuk sediaan tabir surya. 2003). Cefali dkk. karena bahan alam memiliki potensi kecil dalam menimbulkan iritasi dan lebih mudah cocok pada kulit. Rasheed dkk. Nilai SPF menggambarkan kemampuan produk tabir surya dalam melindungi kulit dari eritema (Stanfield. kunyit. Nilai SPF hanya khusus digunakan untuk melindungi radiasi sinar UV B dan tidak dapat digunakan untuk melindungi sinar UV A (Serpone dkk. 2011.2012.. Akhir-akhir ini banyak publikasi penelitian tentang manfaat tanaman yang memiliki kandungan senyawa antioksidan.. Sun Protecting Factor merupakan perbandingan antara dosis minimal yang diperlukan untuk menimbulkan eritema pada kulit yang diolesi oleh sediaan tabir surya dengan kulit yang tidak diolesi sediaan tabir surya. Beberapa contoh bahan alam yang dapat digunakan sebagai tabir surya antara lain. 23 kulit hiperalergi. 2016). dan cabai jawa (Mishra dkk. Sun Protecting Factor (SPF) Sediaan tabir surya dapat ditentukan efektivitasnya dengan menggunakan nilai SPF (Sun Protecting Factor) dari sediaan. mahkota dewa. Semakin tinggi nilai SPF maka semakin besar pula penghambatan terjadinya eritema akibat induksi sinar UV.

Meskipun uji in vitro memiliki kekurangan. Nilai MED akan bervariasi tergantung jenis kulit panelis. . 2006). Pengujian nilai SPF dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro. 2006). kemudian dilakukan evaluasi dan dicatat pada dosis terendah mulai nampak kemerahan pada kulit (Draelos dan Thaman. reproducible. 24 yang melakukan uji SPF. dan tidak melukai subjek manusia sehat. hasil dari uji in vitro juga dapat memberikan informasi pengganti nilai SPF secara in vivo (Draelos dan Thaman. yaitu lebih murah. Minimum Erythemal Dose (MED) didapat dari uji in vivo. Uji in vitro lebih mudah dan lebih hemat biaya. namun uji in vivo membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang lebih lama karena uji in vivo menggunakan subjek manusia atau hewan seperti kelinci atau tikus. Setelah kulit diolesi tabir surya dengan beberapa dosis. uji in vitro yang dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri memiliki beberapa keuntungan. Nilai MED dapat diperoleh dari dosis atau waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kemerahan pada kulit yang telah disinari menggunakan simulasi sinar UV. Setelah 16-24 jam kulit disinari menggunakan simulasi sinar UV. yaitu uji in vitro tidak dapat memberikan informasi secara kuantitatif terkait perlindungan tabir surya ketika diaplikasikan pada kulit. kemudian kulit disinari menggunakan simulasi sinar UV. Selain itu. Angka SPF menyatakan berapa kali daya tahan alami kulit seseorang dilipat gandakan sehingga dapat terlindung dari radiasi sinar matahari tanpa terkena luka bakar. Namun uji in vitro memiliki kekurangan.

Bagaimanapun untuk menjamin perlindungan yg cukup dan meminimalisir resiko kerusakan kulit. Substantivitas merupakan istilah yang berhubungan dengan . Substantivitas tabir surya Substantivitas berhubungan dengan kontak sediaan semipadat dengan kulit. misalnya jika kosmetik yang telah diaplikasikan pada kulit dicuci dengan sabun dan air atau jika digunakan segera setelah kulit dibersihkan (Abbe. Kulit sering dianggap sebagai faktor penting karena adanya emulsi sebum. Substantivitas sediaan dapat masuk ke dalam kulit dengan difusi melalui matriks polimer. Nilai SPF beserta keterangannya Nilai SPF Keterangan 2-12 perlindungan minimal 12-30 perlindungan sedang >30 perlindungan tinggi (United States Department of Health and Human Servis.. 1999) Food and Drug Administration menyarankan senyawa yang digunakan untuk sediaan tabir surya memiliki nilai SPF lebih dari 2. keringat. Substantivitas melibatkan mekanisme seperti adsorpsi. 2016). FDA merekomendasikan penetapan nilai SPF pada sunscreen minimal 15 (Cefali dkk. 13. pertukaran ion. Tabel I. 25 Food and Drug Administration membagi produk tabir surya berdasarkan nilai SPFnya menjadi 3. dan kondisi epidermal permukaan kulit yang akan berpengaruh pada sediaan dan akan memberikan substantivitas yang bervariasi. 1974). dan interaksi kimia. Substantivitas tidak hanya diliat dari produknya saja tetapi juga kulit dan sekresi keringat. Pembagian nilai SPF tersaji pada tabel I.

2007). air. Semakin tinggi substantivitas suatu sediaan.Agin. Kebanyakan lotion mengandung bahan serbuk halus yang tidak larut dalam media disperse dan disuspensikan dengan menggunakan zat pensuspensi . 2016). Lotion Lotion merupakan emulsi yang terbentuk dari dua cairan yang tidak saling campur. resistensi terhadap penghapusan atau inaktivasi oleh keringat. Variasi antara individu. mandi. 14. dan paparan dari luar dapat berpengaruh terhadap kinerja atau efektivitas dari tabir surya. atau faktor lain yang memiliki potensi untuk menghapus produk dari permukaan kulit. berenang. Substantivitas atau ketahanan sediaan terhadap penghapusan oleh air atau keringat bersama dengan daya tahan (daya lekat) atau resistensi terhadap penghapusan oleh pakaian selama beraktivitas merupakan aspek penting dari kinerja tabir surya untuk memberikan perlindungan pada kulit terhadap terbakar surya dan kerusakan kulit akibat efek ultraviolet. 2006. Efektivitas tabir surya tergantung pada nilai SPF dan substantivitas sediaan ketika diaplikasikan pada permukaan kulit. dan gesekan (Herrmann dkk. 26 kualitas tabir surya dan kemampuannya untuk bertahan setelah kulit terkena air dan keringat. Keefektifan sediaan topikal ditentukan oleh tingkat ikatan sifat fisik dan kimia sediaan pada permukaan kulit. sehingga sediaan tabir surya akan berkhasiat lebih lama untuk melindungi kulit dari sinar UV (P. maka daya lekat sediaan pada kulit akan semakin baik.. Rai dan Srinivas. daya lekat. Efektivitas produk tabir surya dapat berkurang akibat adanya keringat. substantivitas. gesekan.

Lotion digunakan pada kulit sebagai pelindung atau untuk obat karena sifat bahan-bahannya. bentuk sediaan lotion lebih disukai untuk pengobatan pada kondisi lokal karena bentuk larutannya lebih berair dan tidak memerlukan penambahan pengawet (Jone. Jone. 2014). Krim Krim merupakan sediaan semipadat yang terdiri dari zat terlarut atau tersuspensi dalam basis air yang mudah tercuci atau emollient. 1989. sedimentasi. mudah dioleskan. . Zat pengental disisi lain dapat menghambat reaksi secara sebagian antara zat yang terkandung dalam emulsi (Moravkova dan Filip. Baru-baru ini istilah untuk krim dibatasi pada tipe emulsi o/w karena produk tersebut mudah tercuci oleh air. 2008). Zat pengemulsi atau emulsifier memiliki dua sifat yang menguntungkan. 2008). Selain itu. mudah menyebar. Lotion dimaksudkan untuk pemakaian yang merata. maka dalam pembuatannya ditambahkan emulsifier dan pengental dalam jumlah tertentu. yaitu dapat menurunkan tegangan muka antara kedua cairan yang tidak saling campur dan stabilitas fase dispers terhadap medium dispers. Untuk mencegah ketidakstabilan dari emulsi tersebut. 15. segera kering setelah digunakan. flokulasi. 27 dan zat pendispersi. dan meninggalkan lapisan tipis dari komponen obat pada permukaan kulit (Ansel. dan inverse atau berubah tipe dari yang semula bertipe o/w menjadi w/o. cepat. peleburan. Lotion rentan terhadap ketidakstabilan seperti mudah terjadi creaming. Krim diklasifikasikan dalam 2 tipe yaitu tipe w/o dan o/w yang menggabungkan fase air dan fase minyak secara mekanik atau panas.

Krim lebih banyak dipilih oleh konsumen karena krim cocok atau sesuai untuk pasien yang memiliki kulit sensitif atau kulit kering yang mudah mengalami iritasi. Krim dan lotion memiliki sifat rheologi yang berbeda. dimana krim adalah sistem pseudoplastik dengan konsistensi yang lebih besar dibandingkan dengan lotion (Jone. 16. lotion memiliki daya serap yang lebih cepat. dan mudah diterima oleh konsumen. 2011). Perbedaan utama dari lotion dan krim yaitu terletak pada rasio penggunaan minyak dan cairan. 2008). sebab krim dapat memberikan efek berminyak ketika diaplikasikan pada kulit (Kumar dkk. Lotion dan krim memilliki fungsi yang sama yaitu untuk melembabkan dan menghaluskan kulit serta dapat memberikan rasa nyaman dan mudah dioleskan ketika digunakan (Jone. Dibandingkan dengan krim. Emulsi Emulsi merupakan sediaan cair terdispersi yang biasanya terdiri dari dua cairan yang tak bercampur satu sama lain dan salah satunya adalah air. 28 lebih nyaman.. Krim merupakan perpaduan antara minyak dan cairan dengan presentase minyak lebih banyak. Lotion dan krim sekilas nampak sangat mirip. Pasien yang memiliki kulit kering lebih nyaman menggunakan krim dibandingkan dengan gel. 2008). Biasanya krim terlihat lebih kental dan kandungan pelembab yang terdapat pada krim dapat bertahan lama daripada lotion. sedangkan lotion merupakan perpaduan minyak dan cairan namun lotion sangat ringan dan lebih encer karena mengandung cairan lebih banyak. Emulsi .

Simplex Lattice Design Simplex Lattice Design (SLD) merupakan suatu metode yang digunakan untuk menentukan optimasi formula pada berbagai perbedaan jumlah komposisi bahan (yang dinyatakan dalam beberapa bagian) dimana jumlah totalnya yaitu sama dengan satu bagian. Cara menentukan optimasi formula menggunakan metode Simplex Lattice Design dilakuan dengan menyiapkan beberapa formula yang mengandung kombinasi bahan yang divariasi secara berbeda. 29 yang dimaksudkan untuk penggunaan pada kulit dapat disebut linimen (liniment) (Voigt. tidak membekas pada pakaian. 1999). 1994). mudah dicuci. Proses emulsi memungkinkan bentuk lotion yang memiliki konsistensi mudah diaplikasikan pada kulit. 1997). warna. rupa. Emulsi o/w yaitu emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air. Hasil eksperimen yang . dan rasa yang baik (Anief. b. Profil respon dapat ditentukan melalui persamaan berdasarkan Simplex Lattice Design. Terdapat 2 macam tipe emulsi yaitu : a.Emulsi w/o yaitu emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak (Ansel. Emulsi w/o atau o/w dapat dipakai keduanya untuk pemakaian pada kulit dan membran mukosa manusia. 17. bau. 1989). Profil tersebut digunakan untuk memprediksi perbandingan komposisi campuran bahan yang memberikan repon optimum (Bolton.

mengoptimasi proses maupun produk. yaitu metode ini membutuhkan test point yang banyak jika banyak komponen yang divariasikan. Fungsi numerical optimization dalam software memungkinkan sifat-sifat terbaik dari berbagai respon untuk ditentukan secara bersama (Anonim. menganalisis data. Validitas dari model SLD dapat diuji dengan menambahkan test point. Software ini menyediakan berbagai pilihan desain dan fleksibilitas untuk menangani faktor kategori dan menggabungkannya dengan campuran atau variabel proses. . Software Design Expert® Software Design Expert® adalah perangkat lunak yang digunakan untuk mendesain suatu percobaan. dan menampilkan hasil analisis dalam bentuk grafik secara cepat. Software ini memberi plot tiga dimensi yang dapat diputar sehingga mudah menampilkan profil respon dari berbagai profil. 1997). 18. Namun terdapat beberapa kekurangan dari metode SLD. yaitu mudah digunakan dan efisien karena merupakan model yang mempermudah seseorang untuk memprediksi respon dengan variasi minimal. Metode SLD memiliki beberapa keuntungan. 30 dihasilkan digunakan untuk membuat persamaan polynomial (simplex) dimana persamaan ini dapat digunakan untuk memprediksi profil respon (Bolton. Plot dua dimensi yang diberikan dapat dieksplor untuk identifikasi koordinat campuran tersebut. 1997). Oleh karena itu studi polynomial dengan 4 komponen jarang dilakukan (Bolton. 2010).

ethal. tidak merupakan iritan primer dan bukan pemicu sensitif pada kulit (Rowe dkk. minyak adepsine. paroleine. pelarut. dan eter. dan hexadecyl alcohol. memberikan efek perlindungan lapisan seperti kain beludru pada kulit. Campuran sebagian setil alkohol dan stearil alkohol digunakan dalam sediaan farmasetik dan salep kulit. kemstrene. glycon G-100. dan trihydroxypropane glycerol. Mineral oil Minyak mineral merupakan campuran dari cairan hidrokarbon dari petroleum. 2006). palmityl alcohol. 1. Setil alkohol Formula dari setil alkohol adalah CH3(CH3)14CH2OH.tidak berbau dan tidak berasa. larut dalam alkohol. juga sediaan kosmetik berupa krim. Fungsi .2. Digunakan sebagai lubrikan (Rowe dkk. Diperoleh dari spermaceti.. kloroform.. pemanis. Larut dalam eter dan benzene. dan glymol. minyak parafin.3-propanetriol. emolien.optim. Sinonim dari minyak mineral yaitu petrolatum cair. gliserin digunakan sebagai antimikroba. parafin cair.. tidak larut dalam air. Tidak larut di dalam air atau alkohol. 31 19. Dalam sediaan kosmetik. Gliserin Gliserin memiliki nama lain croderol. setil alkohol berfungsi sebagai emollient. saxol. alboline. Berupa kristal putih dengan titik lebur 49° C. 2006).glycerine. Minyak tidak berwarna. b. E422. Dalam dunia farmasi. dan plasticizer. Aksi dermatologisnya adalah mudah diabsorbsi oleh kulit. ethol. humektan. pricerine. Morfologi bahan a. c. agen tonisitas.

Fungsi dan konsentrasi gliserin Kegunaan Konsentrasi Pengawet antimikroba <20 Emolien <30 Humektan <30 Formulasi salep mata 0. yaitu sebagai peningkat konsistensi pada krim dan salep. dengan mengurangi penguapan air selama pemakaian sehingga lotion lebih mudah digunakan dan pembentukan kerak dalam wadah pengemas dapat dihindari (Sweetman.8oC. 2016) Untuk sediaan topikal. 32 gliserin sebagai humektan adalah untuk mempertahankan tingkat kandungan air dalam produk. gliserin digunakan sebagai humektan dan emolien. Cera alba didapat dari hasil pemutihan cera kuning dan memiliki kegunaan yang sama dengan cera kuning. karbon disulfida. air. 2002). Cera alba Cera alba memiliki nama lain white beeswax.. Gliserin memiliki titik didih 290oC dan titik lebur 17. Cera alba larut dalam kloroform. eter. Gliserin larut dalam etanol 95%.0 Plasticizer untuk tablet Variable Pelarut sediaan parenteral <50 Pemanis <20 (Rowe dkk. dan bleached wax. Tabel II. dan stabilitas pada emulsi water in oil. Cera alba memiliki titik lebur pada suhu 61-65oC dan ketika dipanaskan pada suhu 150oC akan terjadi esterifikasi dengan penurunan nilai keasaman dan menaikan titik leburnya. methanol. . d.5 – 3. 2006). Gliserin bersifat higroskopis dan mudah terdekomposisi oleh panas (Rowe dkk. dan praktis tidak larut dalam kloroform. minyak. E901..

makanan. Propil paraben (0. solbrol P. dan Uniphen P-23. . 33 sedikit larut pada etanol 95%. 70%. 2006). walaupun lebih efektif untuk membunuh jamur dan kapang. 2006).02% w/v) digunakan secara bersamaan dengan metil paraben (0. propyl p-hydroxybenzoate.. gliserin. nipagin M. nipasol.. Metil paraben Metil paraben memiliki nama lain E218. Propil paraben Propil paraben memiliki nama lain E216. propagin. Metil paraben dapat digunakan secara sendiri atau dikombinasi menggunakan paraben yang lainnya atau agen antimikroba lainnya. dan 95%. 4-hydroxybenzoic acid metyl ester. Aktivitas antimikroba meningkat jika terikat pada alkil tetapi dapat menurun jika dalam larutan air. Propil paraben biasanya digunakan sebagai bahan pengawet antimikroba pada kosmetik. methyl p-hydroxybenzoate. 4-hydroxybenzoic acyd propyl ester. propyl parasep. eter. dan formulasi sediaan lain. Metil paraben biasanya digunakan sebagai bahan pengawet antimikroba pada kosmetik. dan Uniphen P-23. dan praktis tidak larut dalam air (Rowe dkk. Paraben efektif bekerja pada rentan pH yang luas dan memiliki aktivitas antimikroba spektrum luas. makanan.18% w/v) sebagai preservative. f. e. Propil paraben larut dalam etanol 50%. dan formulasi sediaan lain. mineral oil. dan air (Rowe dkk. propilengilkol. Propil paraben dapat digunakan secara sendiri atau dikombinasi menggunakan paraben yang lainya atau agen antimikroba lainya.

Akuades adalah pelarut yang digunakan pada sebagian besar preparat farmasi. propilen glikol. nilainya relatif lebih murah. characterization. Landasan Teori Berdasarkan penelitian terdahulu dalam jurnal Sri Hartati (2010) menyebutkan bahwa ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga) mengandung senyawa flavonoid dan kurkumin yang diduga memiliki aktivitas sebagai tabir surya.. Metil paraben biasanya digunakan bersamaan dengan propylparaben (0. sehingga untuk meningkatkan efektivitas antimikrobanya dikombinasi menggunakan paraben lain yang memiliki aktivitas secara sinergis. and in vitro evaluation of herbal sunscreen . g. 2004). Ekstrak etanol temu mangga pada rentan kadar 10 % sampai 17. mineral oil. Metil paraben memiliki aktivitas paling rendah dibanding paraben yang lain. gliserin.98. Akuades Akuades berupa cairan jernih tidak berwarna dan tidak berbau (Anonim. dan air (Rowe dkk.70%. 34 sehingga penggunaan paraben biasanya dikombinasi untuk meningkatkan efektivitasnya. G. Selain itu juga telah dilakukan penelitian dalam jurnal Arun Rasheed dkk. tidak toksik untuk penggunaan oral. Keuntungan akuades sebagai pelarut antara lain ketersediaannya yang melimpah. Metil paraben larut dalam etanol 95%. yang berjudul “Formulation. eter.5 % memiliki nilai SPF pada rentan 9.94 sampai 27. 50%. dan tidak mengiritasi untuk penggunaan eksternal (Winfield dan Richards. 1995)..02%) jika digunakan untuk pengawet pada formulasi sediaan parenteral. 2006).

gliserin. Penambahan setil alkohol dapat meningkatkan stabilitas..0. Dari hal tersebut peneliti memperkirakan bahwa sediaan lotion w/o ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga) mengandung senyawa yang dapat digunakan sebagai zat aktif sediaan tabir surya pada konsentrasi tertentu yang memenuhi syarat nilai SPF sedang sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh FDA. Cera alba digunakan untuk meningkatkan konsistensi sediaan lotion w/o.1 program mixture design. dan cera alba. dan konsistensi sediaan lotion. daya lekat. Sehingga tujuan . 2006). gliserin. 35 lotion” bahwa 5% ekstrak etanol 95% Curcuma longa memiliki nilai SPF 18. dan cera alba yang dapat menghasilkan formula optimum dengan sifat fisik yang baik (Bolton. dan daya sebar. Gliserin pada sediaan topikal digunakan sebagai humektan dan emollient dengan konsentrasi <30% (Rowe dkk. dan cera alba menggunakan metode Simplex Lattice Design dengan software Design Expert® versi 9. Dalam penelitian ini dilakukan optimasi lotion tipe w/o dengan memvariasikan komposisi setil alkohol. tekstur.4. 2006). Dari metode Simplex Lattice Design peneliti dapat mengetahui komposisi setil alkohol. Setil alkohol berfungsi sebagai emulgator lemah emulsi tipe w/o yang juga dapat berfungsi sebagai emollient pada rentan konsentrasi 2-5% (Rowe dkk. 1997). Parameter pada optimasi formula lotion w/o ini menggunakan sifat fisik lotion w/o yaitu viskositas. gliserin. Kombinasi yang dilakukan yaitu dengan memvariasikan proporsi setil alkohol. Ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga) dijadikan bahan aktif dalam lotion bertipe w/o..

. Komposisi setil alkohol. 36 memvariasikan ketiga bahan tersebut agar didapat formula lotion tabir surya yang acceptable ketika diaplikasikan pada kulit. Formula optimum lotion w/o ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga) memiliki aktvitas sebagai tabir surya yang dapat diaplikasikan pada kulit manusia untuk melindungi bahaya dari sinar UV. Ekstrak etanol temu mangga (Curcuma mangga) memiliki aktivitas sebagai tabir surya pada konsentrasi tertentu sesuai dengan persyaratan nilai SPF dalam FDA. Hipotesis 1. dan cera alba pada formula optimum menghasilkan sediaan tabir surya dengan sifat fisik dan stabilitas fisik yang baik selama penyimpanan dalam kurun waktu satu bulan. H. 3. gliserin. 2.