You are on page 1of 66

 Definisi

Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri
adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya
(Tarwoto dan Wartonah 2000).
Defisit Perawatan Diri adalah Suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan
kemampuan dalam melakukan/melewati aktivitas perawatan diri secara mandiri.

Sindrom kurang perawatan diri adalah keadaan dimana individu mengalami suatu kerusakan
fungsi motorik atau fungsi kognitif yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk melakukan
masing-masing dari kelima aktivitas perawatan diri (Carpenito,2000) yang meliputi :

1) Kurang perawatan diri : makan.

2) Kurang perawatan diri : mandi/higiene.

3) Kurang perawatan diri : berpakaian/berdan dan,

4) Kurang perawatan diri : instrumental.

Personal higiene atau kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan
dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Dampak fisik banyak gangguan
kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan
baik. Dampak psikososial yang berhubungan dengan gangguan kebutuhan rasa nyaman,
kebutuhan dicintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial
(Tarwoto,2003).

 Etiologi

Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000) penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut:

1. Kelelahan fisik
2. Penurunan kesadaran

Menurut Depkes (2002:20), penyebab kurang perawatan diri adalah:

1. Faktor predisposisi
1. Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan
inisiatif terganggu.
2. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.
3. Kemampuan realistis turun

Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan
ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.

1. Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya situasi
lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.

2.7 Faktor presipitasi

Yang merupakan faktor presipitasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi,
kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah / lemah yang dialami individu sehingga
menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.

Menurut Depkes (2000 : 59) faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah :

1. Body image

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri, misalnya dengan
adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.

1. Praktik sosial

Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri maka kemungkinan akan terjadi
perubahan pada personal hygiene.

1. Status sosial ekonomi

Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampoo, alat
mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.

1. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat
meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien diabetes mellitus ia harus menjaga
kebersihan kakinya.
2. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
3. Kebiasaan seseorang

Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti
penggunaan sabun, shampoo dan lain – lain.

1. Kondisi fisik atau psikis

Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk
melakukannya. Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene:

1) Dampak fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan
perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit,
gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada
kuku.

2) Dampak psikososial

Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah kebutuhan rasa nyaman,
kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi
sosial.

 Manifestasi Klinis

Menurut Depkes (2000:20) tanda dan gejala klien dengan deficit perawatan diri adalah:

1. Fisik

1. Badan bau, pakaian kotor
2. Rambut dan kulit kotor.
3. Kuku panjang dan kotor
4. Gigi kotor disertai mulut bau
5. Penampilan tidak rapi

2. Psikologis

1. Malas, tidak ada inisiatif
2. Menarik diri, isolasi diri
3. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina

3. Sosial

1. Interaksi kurang
2. Kegiatan kurang
3. Tidak mampu berperilaku sesuai norma
4. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB disembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak
mampu mandiri.

 Mekanisme Koping

1. Regresi

2. Buatkan jadwal kegiatan setiap hari 4. Bina hubungan saling percaya.Kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan merupakan cirri khas dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini. Membimbing dan menolong klien merawat diri. 1. 3. Ciptakan lingkungan yang mendukung 1.  Rentang Respon Kognitif Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri sendiri adalah: 1. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien. Kuatkan kemampuan klien merawat diri. 3. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri 2. 4. 1. 1. kamar mandi yang dekat dan tertutup. ASUHAN KEPERAWATAN  Pengkajian 1. Intelektualisasi Pengguna logika dan alasan berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya. Ajarkan ketrampilan secara bertahap 3. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya. Bantu klien merawat diri 2. Identitas klien Nama Jenis kelamin Umur . Bicarakan tentang pentingnya kebersihan. 5. Penyangkalan 2. Isolasi diri. menarik diri Disini isolasi diri adalah pemisahan unsure emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat sementara atau dalam jangka waktu yang lama. Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.

kulit berdaki. 8. RKD : apakah pernah sebelumnya mengalami deficit perawatan diri. Ketidakmampuan berapakaian/berhias ditandai dengan rambut acak-acakan. pakaian kotor dan tidak rapi. 4. Rambut kotor. Klien mengatakan jarang membersihkan alat kelaminnya setelah BAK atau BAB. Badan dan pakaian kotor dan bau 7. 4. Data subyektif 1. Kulit kusam dan kotor . Klien mengatakan ingin di suapi makan. Pasien merasa lemah 6. serta kuku panjang dan kotor.Alamat Status 2. dan berbau. atau tidak berdandan (wanita). 3.badan bau. Malas untuk beraktivitas 7. tidak bercukur (laki-laki). 3. Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai dengan ketidakmampuan mengambil makan sendiri 4.rambut kotor dan pemalas 2. 2. tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK 5. Data obyektif 1. 1. acak – acakan 6.Defisit perawatan diri dan Isolasi Sosial  Analisa Data Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah : 1. RKK : adakah keluarga mengalami deficit perawatan diri sebelumnya.dan apa-apa saja cara yang digunakan untuk mengatasi masalah ini. 3. Ketidakmampuan mandi/membersihkan diri ditandai dengan rambut kotor. gigi kotor. RKS :lelah. Keluhan utama Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri. Riwayat kesehatan 1. Klien mengatakan dirinya malas berdandan. Merasa tidak berdaya. Klien mengatakan dirinya malas mandi karena airnya dingin atau di RS tidak tersedia alat mandi. pakaian tidak sesuai. Ketidakmampuan BAB/BAK secara mandiri ditandai BAB/BAK tidak pada tempatnya. Mulut dan gigi bau. 2. 5.

Bersedia menceritakan perasaannya Intervensi : a. Mau berkenalan 3. . d. Menerima kehadiran perawat 5. Kriteria evaluasi Dalam berinteraksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat: 1. Berikan salam setiap berinteraksi.  Intervensi Keperawatan Diagnosa keperawatan: penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri. 3. Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien. Wajah cerah. Defisit perawatan diri. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri 2. Isolasi Sosial. Tujuan Umum Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri. Tujuan Khusus TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan. tersenyum 2. 9. Ada kontak mata 4. Kuku panjang dan tidak terawat  Diagnosa Keparawatan Menurut Depkes (2000: 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien defisit perawatan diri yaitu: 1. b. Perkenalkan nama. c.

6. g. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati. gunting kuku jika panjang. Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi dan sore. Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri seperti odol. sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur).e. 7. 2. Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti kebersihan diri. Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari. dan merapikan penampilan. TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri. Intervensi: 1. beri kesempatan klien untuk mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar. Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri. Kriteria evaluasi Klien berusaha untuk memelihara kebersihan diri seperti mandi pakai sabun dan disiram pakai air sampai bersih. Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda. 2. Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien. 4. 3. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik. Intervensi: 1. 5. f. Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut. Beri kesempatan untuk mandi. Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri.tanda bersih. Motivasi klien untuk mandi. 5. sikat gigi. Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri. seperti mandi dan kebersihan kamar mandi. pakaian ganti. handuk dan sandal. keramas dan menyisir rambut. 6. Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri. 4. Penuhi kebutuhan dasar klien. mengganti pakaian bersih sehari–hari. Buat kontrak interaksi yang jelas. TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat. mampu menyebutkan kembali kebersihan untuk kesehatan seperti mencegah penyakit dan klien dapat meningkatkan cara merawat diri. h. 3. Kriteria evaluasi Klien dapat menyebutkan kebersihan diri pada waktu 2 kali pertemuan. shampoo. .

TUK V : Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri. seperti mandi pagi dan sore. Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri. mengingatkan pada waktu mandi. Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di RS. dan keluarga membantu dan membimbing klien dalam menjaga kebersihan diri. Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan diri. dan lain-lain. Intervensi Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri. mandi. TUK VI : Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri. Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga kebersihan diri 7. 2. Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya: 8. Intervensi: 1. keluarga menyiapkan sarana untuk membantu klien dalam menjaga kebersihan diri. menyisir. Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga kebersihan diri klien. Intervensi: Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur. Kriteria evaluasi Setelah satu minggu klien dapat melakukan perawatan kebersihan diri secara rutin dan teratur tanpa anjuran. ganti baju setiap hari. 6. DAFTAR PUSTAKA .TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri. Kriteria evaluasi Klien selalu tampak bersih dan rapi. ganti baju dan pakai sandal. gosok gigi. penampilan bersih dan rapi. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap kemajuan yang telah dialami di RS. 3. keramas. Kriteria evaluasi: Keluarga selalu mengingatkan hal–hal yang berhubungan dengan kebersihan diri. ingatkan untuk mencuci rambut. 5. sikat gigi. 4.

Jakarta: Prima Perry. Santosa. 2005.tips/documents/askep-defisit-perawatan-diri-pada-lansia. Jakarta: http://dokumen. 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. 2005. Jakarta: EGC. 2006. Buku Saku keperawatan Jiwa edisi 5. Gail W. Proses keperawatan Jiwa. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. 2005-2006. Budi. Jakarta: EGC. Stuart.DAFTAR PUSTAKA http://lodging2010. Potter.com/konsep-dasar-sindrom-kurang-perawatan-diri/ jam 16:00 tanggal Keliat.html . Budi Anna.

Empati e. Tunjukkan sikap bersahabat. Keluarga dan masyarakat  Siapkan keluarga untuk menerima keadaan pasien  Siapkan fasilitas dalam berinteraksi dengan dimasyarakat  Perlu bantuan dalam merawat 24 jam dirumah. misalnya berolahraga  Saat agitasi : Tetap senyum. Pos-pos pelayanan kesehatan dirumah sakit . yang diprogramkan melalui : Puskesmas. Menggunakan kekuatan dan kemampuan dengan tepat. Didorong melakukan sesuatu yang tidak biasa dan tidak jelas  Beri penjelasan  Beri pilihan  Penyaluran energi : Perawatan mandiri.

Fortinash. C. Gw. N.L. Gangguan daya ingat  Mulai percakapan dengan menyebut nama anda dan panggil nama pasien  Hindarkan konfrontasi atas pernyataan pasien yang salah  Penataan barang pribadi jangan dirubah  Lakukan program orientasi Daftar Pustaka 1. (1991). and Sundeen S. Psychiatric nursing :a psycho therapeutic management approach. St.Louis : Mosby year book 2. seperti : Penyakit Alzheimer’s  Pada orang tua harus hati-hati.J (1995). L. Psychiatric nursing care plan. P.A. dan Holloday.H dan Bostrom. karena keadaan yang sensitive g. Louis : Mosby year book 3. CE (1991). Schueke. Wandering  Perilaku yang harus diperhatikan oleh pemberi perawatan h. Intervensi interpersonal  Psychotherapi  Life review therafi  Untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan individu dan kelompok dengan saling menceritakan riwayat hidup latihan dan terafi kognitif  Therapi relaksasi  Kelompok pendukung dan konseling j. St. Farmakologi  Tergantung penyebab gangguan.M. Keltner.f. Therapeutik Milieu  Stimulasi kognitif i. Perbandingan Delirium. Stuart. Depresi dan .

Psychiatric Nursing . Petunjuk Komunikasi dengan Pasien Demensia. Gw. Stuart.Demensia.J (1995).J (1987). (1992).S.louis : Mosby year book 4. Louis Mosby year Book 6.St. and Kneils. 7. Pendidikan Kesehtan Keluarga . Stuart. Gw. 2nd. 2015 Report Category: Documents Download: 1 Comment: 0 918 views . H.R . And Sundeen S. Wilson. Psychiatric Mental Health Nursing : Concept of Care .St.C (1993). St. And Sundeen S.Philadelphia. California : Addison of 31 Askep Defisit Perawatan Diri by rin03mi2u on Jul 10. M. Towsend. C. Davis Company. Louis Mosby Year book 5.

kerusakan kognisi atau perceptual. Kemampuan realitas turun Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri. berhias. 3. 2. (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut : 1. cemas. Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu. Kurang perawatan diri : Toileting Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004. d. Etiologi Menurut Tarwoto dan Wartonah. 2004). Kelelahan fisik 2. Perry (2005). . Faktor prediposisi a. b. Pengertian Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya. Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi. 79 ).Comments Description Download Askep Defisit Perawatan Diri Transcript ASKEP DEFISIT PERAWATAN DIRI DEFISIT PERAWATAN DIRI A. 4. Kurang perawatan diri : Makan Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan. Sponsored Link C. Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri. Menurut Poter. penyebab kurang perawatan diri adalah : 1. Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias. B. toileting) (Nurjannah. Faktor presipitasi Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi. klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya. Jenis–Jenis Perawatan Diri 1. Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah: 1. kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ). Penurunan kesadaran Menurut Dep Kes (2000: 20). 2. Body Image Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya. c. makan. Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. 2. Sosial Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.

pasta gigi. 1. alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya. gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit. shampo. 3. D. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. sikat gigi. Tanda dan Gejala Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah: a) Fisik Badan bau. gangguan membran mukosa mulut. Status Sosial Ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan. Rambut dan kulit kotor. maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. kebutuhan dicintai dan mencintai. Dampak psikososial Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman. kebutuhan harga diri. pakaian kotor. aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya. 5. 2. Kondisi fisik atau psikis Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya. sampo dan lain – lain. infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku. 4. Kuku panjang dan kotor Gigi kotor disertai mulut bau penampilan tidak rapi .Praktik Sosial Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri. Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene. 7. Dampak fisik Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. 6. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun.

isolasi diri. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat. Ada kontak mata d. b) Bicarakan tentang pentingnya kebersihan. g. toileting. TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri. Isolasi Sosial. Badan dan pakaian kotor dan bau c. h. Menarik diri. Merasa tak berdaya. g. a) Bantu klien merawat diri b) Ajarkan ketrampilan secara bertahap c) Buatkan jadwal kegiatan setiap hari 3. Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien. Bersedia menceritakan perasaannya Intervensi a. acak – acakan b. f. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien. Tujuan Khusus TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi dan sore. Regresi b. G. Isolasi diri. b. kamar mandi yang dekat dan tertutup. menarik diri d. Mekanisme Koping a. H. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri 2. Kegiatan kurang Tidak mampu berperilaku sesuai norma. c) Kuatkan kemampuan klien merawat diri. Pohon Masalah Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri Isolasi sosial Defisit perawatan diri : mandi. d. 2. berhias. d. d. Kriteria evaluasi Klien dapat menyebutkan kebersihan diri pada waktu 2 kali pertemuan. Rentang Respon Kognitif Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri sendiri adalah : 1. Buat kontrak interaksi yang jelas. b. c. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya. Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri. rendah diri dan merasa hina. Membimbing dan menolong klien merawat diri. tersenyum b. Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda. Tujuan Umum Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri.b) Psikologis Malas. c. Merasa tidak berdaya. gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri. 3. sikat gigi . Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri. Pasien merasa lemah b. b. 2. e. Mau berkenalan c. Kuku panjang dan tidak terawat E. Kriteria evaluasi Dalam berinteraksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat: a. Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah : 1. Defisit perawatan diri. e. Penuhi kebutuhan dasar klien. Diagnosa Keperawatan Menurut Depkes (2000: 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien defisit perawatan diri sesuai dengan bagan 1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri a) Bina hubungan saling percaya. Kulit kusam dan kotor e.tanda bersih. Data obyektif a. Malas untuk beraktivitas c. Wajah cerah. f. I. Rambut kotor. Ciptakan lingkungan yang mendukung a.1 yaitu: 1. Penyangkalan c. Intelektualisasi F. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik. Fokus Intervensi Diagnosa keperawatan: penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri. Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti kebersihan diri. Berikan salam setiap berinteraksi. Mulut dan gigi bau. Intervensi a. makan. Data subyektif a. c) Sosial Interaksi kurang. Menerima kehadiran perawat e. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi. Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi. nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan. Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien. c. tidak ada inisiatif. mampu menyebutkan kembali kebersihan untuk kesehatan seperti mencegah penyakit dan klien dapat meningkatkan cara merawat diri. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati. Perkenalkan nama. Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri.

beri kesempatan klien untuk mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar. shampoo. Motivasi klien untuk mandi. b. Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri. menyisir. c. TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat. Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri. seperti mandi dan kebersihan kamar mandi. Intervensi a. Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga kebersihan diri klien. seperti mandi pagi dan sore.minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur). penampilan bersih dan rapi. d. dan keluarga membantu dan membimbing klien dalam menjaga kebersihan diri. Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri seperti odol. keramas dan menyisir rambut. TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri. e. Intervensi a. Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di RS. pakaian ganti. gosok gigi. mengganti pakaian bersih sehari–hari. Kriteria evaluasi Klien berusaha untuk memelihara kebersihan diri seperti mandi pakai sabun dan disiram pakai air sampai bersih. Beri kesempatan untuk mandi. ganti baju setiap hari. Intervensi Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri. Intervensi Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur. f. gunting kuku jika panjang. f. sikat gigi. TUK V : Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri. ingatkan untuk mencuci rambut. d. handuk dan sandal. keluarga menyiapkan sarana untuk membantu klien dalam menjaga kebersihan diri. Kriteria evaluasi Klien selalu tampak bersih dan rapi. b. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap kemajuan yang telah dialami di RS. Kriteria evaluasi Keluarga selalu mengingatkan hal–hal yang berhubungan dengan kebersihan diri. . Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari. Kriteria evaluasi Setelah satu minggu klien dapat melakukan perawatan kebersihan diri secara rutin dan teratur tanpa anjuran. Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan diri. e. dan merapikan penampilan. Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut. TUK VI : Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri. ganti baju dan pakai sandal. c. Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga kebersihan diri.

sikat gigi. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Depkes. Tarwoto dan Wartonah. 2002. Jakarta : EGC Nurjanah. Stuart. Jakarta: EGC. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3.A. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Kebutuhan Dasar Manusia. 2006. EGC 1. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Perawatan Psikiatri edisi 3. Marry C. Intansari S. Jakarta : CV Sagung Seto Stuart. 2006. 2005. Lynda Juall.Kep. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC Keliat. KAJIAN TEORI . Kep. Jakarta : EGC Keliat. Kaplan Sadoch. Jakarta.g. Buku Saku Keperawatan Jiwa. dan lain-lain. B. mandi. 2005 . 1998. Edisi 8. 2005 – 2006. Jakarta : EGC. Potter. keramas. 2001. Yogyakarta : Momedia Perry. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. 1998. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Townsend. Sinopsis Psikiatri. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. 2000.A. Sudden. Jakarta : Prima Medika. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya: mengingatkan pada waktu mandi. Jakarta. M 2004. 1998. 2001. Jakarta : EGC Santosa. Standar Pedoman Perawatan jiwa. Jakarta : EGC Rasmun S. 2000. Proses Keperawatan Jiwa. B. I. GW. Budi. Edisi 5. Edisi 7.

A. karena merasa tidak mampu mengembangkan koping yang bermanfaat sudah tidak berguna lagi. Respon maladaptif antara lain : 1. sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya setempat. Kehilangan. 1. Pengertian Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. tidak mampu mengembangkan koping yang baru serta yakin tidak ada yang membantu. apatis. ragu-ragu . Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat 1991 : 4).1. keputusasaan. Ketidakberdayaan. Menurut Beck (1994) dalam Keliat (1991 hal 3) mengemukakan rentang harapan – putus harapan merupakan rentang adaptif – maladaptif. Respon adaptif • Harapan • Yakin • Percaya • Inspirasi • Tetap hati • Putus harapan • Tidak berdaya • Putus asa • Apatis • Gagal dan kehilangan • Ragu-ragu • Sedih • Depresi • Respon maladaptif Bunuh diri Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku. Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan meninggalkan masalah.

Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis akan merasa gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. 1. 3. 4. implisif dan depresi. B. 2. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu beresiko untuk bunuh diri yaitu gangguan apektif. perceraian. Misalnya : kehilangan pekerjaan dan kesehatan. Cara untuk mengakhiri keputusasaan. faktor predisposisi bunuh diri antara lain : 1. dan skizofrenia. Bunuh diri Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk mengkahiri kehidupan. . perpisahan individu akan merasa gagal dan kecewa. 1. bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri. Bunuh diri merupakan koping terakhir individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Etiologi Banyak penyebab tentang alasan seseorang melakukan bunuh diri : 1. Perasaan marah/ bermusuhan. Kegagalan beradaptasi. C. dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti. 1. Perasaan terisolasi. Depresi Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang ditandai dengan kesedihan dan rendah diri. Sifat kepribadian Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya resiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan. Faktor Predisposisi Menurut Stuart dan Sundeen (1997). mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. 1. Biasanya bunuh diri terjadi pada saat individu ke luar dari keadaan depresi berat. 1. penyalahgunaan zat. Diagnostik > 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. rendah diri yang semua dapat berakhir dengan bunuh diri. sehingga tidak dapat menghadapi stres.

Orang yang siap membunuh diri adalah orang yang merencanakan kematian dengan tindak kekerasan. 1. 1. Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah : 2. apatengik. D. 1. mempunyai rencana spesifik dan mempunyai niat untuk melakukannya. 4. Faktor Presipitasi 1. kurangnya respon positif dapat ditafsirkan seseorang sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Riwayat keluarga Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor resiko penting untuk prilaku destruktif. bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri. Upaya bunuh diri . dan depominersik menjadi media proses yang dapat menimbulkan prilaku destrukif diri. Prilaku bunuh diri biasanya dibagi menjadi 3 kategori : 1. Cara untuk mengakhiri keputusasaan. Faktor biokimia Data menunjukkan bahwa secara serotogenik. kehilangan yang dini dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri. perpisahan/perceraian. Perasaan marah/bermusuhan. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.1. 5. 3. Patopsikologi Semua prilaku bunuh diri adalah serius apapun tujuannya. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti. 1. E. Lingkungan psikososial Seseorang yang baru mengalami kehilangan. 1. Ancaman bunuh diri Peningkatan verbal/nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang tentang kematian.

perasaan gagal dan tidak berguna 3. Celaan terhadap diri sendiri. Penurunan BB 7. agresif. Bunuh diri Mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau terabaikan. Kegiatan kognitif dan negatif 3. TINJAUAN PROSES KEPERAWATAN 1. Pengertian . Riwayat psikososial 1. Implisit. Dimensia dini/ status kekacauan mental pada lansia 6. Agitasi dan gelisah 5.Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang dapat mengarah pada kematian jika tidak dicegah. 1. 1. Tidak bekerja. Petunjuk dan gejala 1. Kelaianan tindakan dan depresi mental pada remaja 5. Harga diri rendah 5. Alkoholisme dan penyalahgunaan obat 4. keletihan. Upaya bunuh diri sebelumnya 2. F. Hidup sendiri 3. 1. Keputusasaan 4. Petunjuk psikiatrik 1. Berbicara lamban. Kelainan afektif 3. Alam perasaan depresi 4. Batasan/gangguan kepribadian antisosial 1. bercerai/ kehilangan 2. 1. rasa bermusuhan 2. perbahan/ kehilangan pekerjaan baru dialami 4. Baru berpisah. Faktor-faktor kepribadian 1. Orang yang melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung ingin mati mungkin pada mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya. 8. Percobaan bunuh diri terlebih dahulu individu tersebut mengalami depresi yang berat akibat suatu masalah yang menjatuhkan harga dirinya. Tanda dan Gejala Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut. menarik diri dari lingkungan sosial. Keputusasaan 2. II. Insomnia yang menetap 6.

Kaji sistem pendukung keluarga dan kaji pengetahuan dasar keluarga klien. 1. Sistem pendukung yang ada. 6. 3. meditasi dan rekomendasi pengobatan gangguan mood.1. Keadaan jiwa klien (misalnya adanya gangguan pikiran. 4. 2. Kaji adanya faktor resiko bunuh diri dan letalitas prilaku bunuh diri : 1. 2. kognitif. perasaan bersalah. Hasil dan alat pengkajian yang terstandarisasi untuk depresi. atau keluarga tentang gejala. solusi masalah yang sulit. 4. termasuk penyakit lain (baik psikiatrik maupun medik). Potensial untuk bunuh diri berhubungan dengan keadaan stress yang tiba-tiba 5. Rencana bunuh diri termasuk apakah klien memiliki rencana yang teratur dan cara-cara melaksanakan rencana tersebut. kehilangan yang baru dialami dan riwayat penyalahgunaan zat. hubungan interpersonal). Riwayat pengobatan. 6. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan kegagalan (sekolah. Stressor saat ini yang mempengaruhi klien. 7. Peristiwa hidup yang menimbulkan stres dan kehilangan yang baru dialami. Riwayat pendidikan dan pekerjaan. 5. Koping yang tidak efektif berhubungan dengan ingin bunuh diri sebagai pemecahan masalah. 6. 3. 4. keparahan gangguan mood). 5. tanda-tanda kekambuhan dan tindakan perawatan diri. Tujuan klien misalnya agar terlepas dari stres. Catat ciri-ciri respon psikologik. Isolasi sosial berhubungan dengan usia lanjut atau fungsi tubuh yang menurun. 2. Dorongan yang kuat untuk bunuh diri berhubungan dengan gangguan alam perasaan : depresi. Potensial untuk bunuh diri berhubungan dengan ketidakmampuan menangani stres. 2. . 3. Tinjauan kembali riwayat klien untuk adanya stressor pencetus dan data signifikan tentang : 1. emosional dan prilaku dari individu dengan gangguan mood. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada prilaku percobaan bunuh diri : 1. Kerentaan genetik-biologik (riwayat keluarga). tingkat gelisah.

bukan diisolasi dan perlu dilakukan pengawasan. untuk itu perawat mempunyai peran menggerakkan sistem sosial klien. Menggali perasaan Perawat membantu klien mengenal perasaananya. Bersama mencari faktor predisposisi dan presipitasi yang mempengaruhi prilaku klien. teman terdekat. Intervensi yang dibuat dan dilaksanakan terus mengacu pada etiologi dari diagnosa keperawatan serta sesuai dengan tujuan yang akan tercapai. Menguatkan koping yang konstruktif/sehat. 4. 1. intelektual. Rencana Tindakan Tujuan utama asuhan keperawatan adalah melindungi klien sampai ia dapat melindungi diri sendiri. jika aman maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan. 1. Bantu klien mngekspresikan perasaan positif dan negatif. 1. Sebelum melaksanakan tindakan yang telah direncanakan. Perawat perlu mengkaji koping yang sering dipakai klien. Dinilai kembali apakah aman bagi klien. . Perawat juga meniali diri sendiri. Pelaksanaan Tindakan keperawatan yang dilakukan harus disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah disusun. Menurut Stuart dan Sundeen (1997) dalam Keliat (1991 : 13) mengidentifikasi intervensi utama pada klien untuk prilaku bunuh diri yaitu : 1. Meningkatkan harga diri Klien yang ingin bunuh diri mempunyai harga diri yang rendah.1. 3. Berikan pujian pada hal yang positif. Untuk koping yang destruktif perlu dimodifikasi/dipelajari koping baru. perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dengan kebutuhannya saat ini (here and now). Tempatkan klien di tempat yang aman. teknikal sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan. Melindungi : Merupakan intervensi yang paling penting untuk mencegah klien melukai dirinya. Menggerakkan dukungan sosial. apakah mempunyai kemampuan interpersonal. 1. Berikan pujian penguatan untuk koping yang konstruktif. atau lembaga pelayanan di masyarakat agar dapat mengontrol prilaku klien. yaitu keluarga. 1.

1. 5. Evaluasi 1. Ancaman terhadap integritas fisik atau sistem dari klien telah berkurang dalam sifat,
jumlah asal atau waktu. 2. Klien menggunakan koping yang adaptif. 3. Klien terlibat dalam aktivitas
peningkatan diri. 4. Prilaku klien menunjukan kepedualiannya terhadap kesehatan fisik, psikologi dan
kesejahteraan sosial. 5. Sumber koping klien telah cukup dikaji dan dikerahkan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN DEPRESI-MANIA
6/01/2011 05:42:00 PM / Posted by sulandra_amen_sambas / A. PENGERTIAN Alam perasaan adalah
keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi
kehidupan seseorang. Gangguan alam perasan adalah gangguan emosional yang disertai gejala mania
atau depresi. Mania adalah suatu gangguan alam perasaan yng ditandai dengan adanya alam perasaan
yang meningkat, meluas atau keadaan emosional yang mudah tersinggung dan terangsang. Kondisi ini
dapat diiringi dengan perilaku berupa peningkatan kegiatan, banyak bicara, ide-ide yang meloncat,
senda gurau, tertawa berlebihan, penyimpangan seksual. Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan
yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yng berlebihan dan berkepanjangan. B. RENTANG
RESPONS EMOSIONAL Responsive adalah respons emosional individu yang terbuka dan sadar akan
perasaanya. Pada rentang ini individu dapat berpartisipasi dengan dunia eksternal dan internal. Reaksi
kehilangan yang wajar merupakan posisi rentang yang normal dialami oleh individu yang mengalami
kehilangan. Pada rentang ini individu menghadapi realita dari kehilangan dan menghalami proses
kehilangan, misalnya bersedih, berfokus pada diri sendiri, berhenti melakukan kegiatan sehari-hari.
Reaksi kehilangan tersebut tidak berlangsung lama. Supresi merupakan tahap awal respons emosional
yang maladaptiuf, individu menyangkal, menekan atau mengintemalisasi semua aspek perasaanya
terhadap lingkungan. Bila anda merasa sangat marah / kesal dengan pergi mengendarai sepeda,
biasanya reaksi berduka yang memanjang merupakan penyangkalan yang menetap

dan memanjang, tetapi tidak tampak reaksi emosional terhadap kehilangan. Reaksi berduka yang
memanjang ini dapat terjadi beberapa tahun. Mania/depresi merupakan respons emosional yang berat
dan dapat dikenal melalui intensitas dan pengharuhnya terhadap fisik individu dan fungsi sosial. C.
FACTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI 1. Factor Predisposisi Factor genetic, mengemukakan transmisi
gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan
meningkat pada kembar monozigote dri dizigote Teori agresi berbalik pada diri sendiri mengemukakan
bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri. Freud mengatakan
bahwa kehilangan obyek/orang, ambivalen antara perasaan benci dan cinta dapat berbalik menjadi
perasaan yang menyalahkan diri sendiri. Teori kehilangan. Berhubungan dengan factor perkembangan :
misalnya kehilangan orang tua pada masa anak, perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang
sangat dicintai. Individu tidak berdaya mengatasi kehilangan. Teori kepribadian mengemukakan bahwa
tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang mengalami depresi atau mania. Teori kognitif
mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian negtif
terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan. Model belajar ketidak berdayaan mengemukakan
bahwa depresi dimulai dari kjehilangan kendali diri, lalu menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi
masalah. Kemudin individu timbul keyakinan akan ketidakmampuan mengendalikan kehidupan sehingga
ia tidak berupaya mengembangkan respons yang adaptif. Model perilaku mengemukakan bahwa depresi
terjadi karena kurangnya pujian (reinforcement) positif selama berinteraksi dengan lingkungan

Faktor Presipitsai Stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi faktor biologis.Model biologis mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi perubahan kimiawi. neoplasma dan ketidakseimbangan metabolism. yaitu perasaan berduka yang belum digunakan adalah represi. dan kehilangan harga diri. Depresi. Faktor sosial budaya meliputi kehilangan peran. tidak berfungsi endokrin dan hipersekresi kortisol. psikologis dan sosial budaya. PERILAKU DAN MEKANISME KOPING Perilaku yang berhubungan dengan mania dan depresi bervariasi. Faktor biologis meliputi perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi. perceraan. denial dan disosiasi. Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan dari kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan. seseorang. termasuk kehilangan cinta. supresi. Komponen Perilaku Gembira yang berlebihan Afektif Harga diri meningkat Tidak tahan kritik Kognitif Ambisi . Mekanisme koping yang digunakan pda reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi. hal ini untuk menghindari tekanan yang hebat. 2. D. yaitu defisiensi katekolamin. Pada keadaan depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi. dapat dilihat pada table 1. Factor psikologis meliputi kehilangan kasih sayang. Gambaran utama dari mania adalah perbedaan intensitas psikofisiologikal yang tinggi. kehilangan pekerjaan.

putus asa. merasa tak berharga Afektif . marah. perasaan ditolak. murung. apatis. perasaan bersalah. merasa tak berdaya.Mudah terpengaruh Mudah beralih perhatian Wahain kesabaran Ilusi Flight ofideas Gangguan penilaian Dehidrasi Fisik Nutrisi yang tidak adekuat Berkurangnya kebutuhan tidur/istirahat Berat badan menurun Agresif Hiperaktif Aktivitas motorik meningkat Kurang bertanggung jawab Tingkah laku Royal Irritable atau suka berdebat Perawalan diri kurang Tingkah laku seksual yang berlebihan Bicara bertele-tele Table 2: Perilaku yang berhubungan dengan depresi Komponen Perilaku Sedih. cemas. merasa rendah diri. merasa sendirian. kekesalan. kebencian.

mual. impotensi Tidak berespon terhadap seksual Agresif.Ambivalen. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MANIA DAN DEPRESI . menangis. agitasi. nyeri. over acting Perubahan berat badan gangguan selera makan Gangguan menstruasi. ragu-rgu Tidak mampu konsentrasi Hilang perhatian dan motivasi Kognitif Menyalahkan diri sendiri Pikiran merusak diri Rasa tidak menentu Pesimis Sakit perut. kepala pusing Fisik Insomnia. muntah Gangguan pencernaan. E. anoreksi. konstipasi Lemas. isolasi sosial Tingkah laku Irritable (mudah tersinggung) Berkesan menyedihkan Kurang spontan Gangguan kebersihan marah. bingung. tidak toleran Gangguan tingkat aktifitas Kemunduran psikomotor Menarik diri. nyeri dada. lesu.

h. b. Tindakan keperawatan : Pada dasarnya intervensi difokuskan pada : a. presipitasi dan perubahan perilaku serta mekanisme koping yang digunakan klien. c. Lingkungan Hubungan perawat-klien Afektif . 3. d. Berduka disfungsional Ketidakberdayaan Peningkatan mobilitas fisik Gangguan pola tidur Resiko terhadap cedera Perubahan nutrisi Defisit perawatan diri Ansietas Perencanaan Tujuan keperawatan Tujuan umum : Mengajarkan klien untuk berespon emosional yang adaptif dan meningkatkan rasa puas serta kesenangan yang dapat diterima oleh lingkungan.1. 2. f. Masalah keperawatan Masalah keperawatan yang berhubungan dengan respon emosional (gangguan alam perasaan) anatara lain : a. g. b. c. e. Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor predisposisi.

d. Kognitif Perilaku Sosial Fisiologis Lingkungan Prioritas utama dalam merawat klien mania dan depresi adalah mencegah terjadinya kecelakaan. senang tindakan yang beresiko tinggi. sederhana dan beri waktu pada klien untuk berfikir dan menjawab. hiperaktif. perabotan yang dasar. Kognitif . Afektif Kesadaran dan kontrol diri perawat pada dirinya merupakan syarat utama. hal ini akan mengurangi intensitas masalah yang dihadapi. maka klien harus ditempatkan dilingkungan yang aman. karena klien merasa tidak berdaya. tidak berharga dan keputusasaan. Prinsip intervensi afektif adalah menerima dan menenangkan klien bukan menggembirakan atau mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir. merawat klien depresi. Bicara lambat. sederhana akan mengekspresikan perngharapan pada klien. e. jujur dan empati. f. kurangi rangsang dan suasana yang tenang. yaitu dilantai dasar. Sedangkan merawat klien depresi lebih ditujukan pada potensial bunuh diri. g. Klien didorong untuk mengekspresikan pengalaman yang menyakitkan dan menyedihkan secara verbal. Karena klien mania memiliki daya nilai rendah. hangat. menerima. diam aktif. Sikap perawat yang menerima klien. Bekerja dengan klien depresi perawat harus bersifat hangat. Hubungan perawat-klien Hubungan saling percaya yang terapeutik perku dibina dan dipertahankan. perawat harus mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik.

keberhasilan). dukungan dan minat klien. role play. rasional. yaitu dengan memberi tanggung jawab secara bertahap dalam kegiatan diruangan. Sertakan klien pada aktifitas yang memperlihatkan hasil. 3. 2. Identifikasi semua ide. Observasi dan kaji sumber dukungan yang ada pada klien. Dorong klien menilai kembali persepsi. logika. Beri umpan balik dan penguatan hubungan interpersonal yang positif. klien). Fisiologis . Bantu klien mengubah persepsi yang salah/negatif ke persepsi positif. 4. Klien depresi berat dengan penurunan motivasi perlu dibuat kegiatan yang terstruktur.Intervensi kognitif bertujuan untuk meningkatkan kontrol diri klien pada tujuan dan perilaku. Perilaku Intervensi perilaku bertujuan untuk mengaktifkan klien pada tujuan yang realistik. Cara mengubah pikiran yang negatif : 1. Identifikasi aspek positif yang dimiliki klien (kemampuan. Bombing klien melakukan hubungan interpersonal. pikiran yang negatif. Sosial Tujuan intervensi sosial adalah meningkatkan hubungan sosial. Beri penguatan pada kegiatan yang berhasil. Kaji kemampuan. dengan cara : 1. 2. Beri penguatan dan pujian akan keberhasilan. 3. 4. meningkatkan harga diri dan membantu klien memodifikasi harapan yang negatif. Dorong klien untuk memulai hubungan sosial yang lebih luas (dengan perawat. dari tidak realistis ke realistis. 5. 5. dengan role model.

Percobaan bunuh diri biasanya terjadi pada saat klien keluar dari fase depresi dan klien mempunyai energi dan kesempatan untuk bunuh diri. 1. Klien dalam keadaan mania akut juga dapat mengancam kehidupannya. Apakah perlu dilakukan tindakan untuk mencegah kemungkinan terjainya bunuh diri ? 6. Apakah perubahan pola tingkah laku klien dan respon tersebut tampak? Apakah riwayat individu klien dan keluarganya sebelum fase depresi/mania dapat dievaluasi sepenuhnya ? 5. kebersihan dan penampilan diri perlu mendapat perhatian perawat. istirahat. 8. 2. perawat harus memberikan prioritas yang paling utama terhadap potensial bunuh diri. Perawatan dirumah sakit diperlukan bila da resiko bunuh diri. Evaluasi Apakah sumber pencetus stress dan persepsi klien dapat digali ? Apakah masalah klien mengenai konsep diri. 7. yaitu gejala meningkat secara cepat dan support sistem tidak ada atau kurang. Kebutuhan dasar seperti makan. Asuhan keperawatan pada keadaan ini untuk melindungi dan menjamin agar klien tidak mencelakakan diri sendiri. Kewaspadaan perawat Dalam member asuhan keperawan kepada klien dengan gangguan alam perasaan berat. rasa marah dan hubungan interpersonal dapat digali ? 3. 4. Apakah masyarakat lingkungan juga merupakan sumber koping ? Apakah tindakan keperawatan telah mencakup semua aspek dunia klien ? Apakah reaksi perubahan klien dapat diidentifikasi dan dilalui dengan baik oleh klien ? .Intervensi fisiologis bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan klie. minum. 4.

persepsi dan memperhatikan. Fungsi Otak 1. Apakah perawat mampu untuk mawas diri terhadap perasaan pribadi. Apakah pengalaman klien akan meningkatkan kepuasan dan kesenangan klien terhadap dunia pribadinya ? ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN KOGNITIF Pengertian Kognitif adalah : Kemampuan berpikir dan memberikan rasional.612). konflik dan mampu untuk menghadapi benturan emosi yang timbul dalam hubungan dengan klien ? 10. (Stuart and Sundeen. Hal. 1987. Lobus Temporal • • • Diskriminasi bunyi Perilaku verbal Berbicara . orientasi. menilai. Alasan 2. karena kemampuan pasien untuk berpikir akan dipengaruhi oleh keadaan otak . Lobus Frontalis • Pada bagian lobus ini berfungsi untuk : Proses belajar : Abstraksi. Gangguan kognitif erat kaitannya dengan fungsi otak. termasuk proses mengingat.9.

Gangguan pada lobus parietalis dan oksipitalis akan ditemukan gejala gejala yang hampir sama. Sisitim Limbik • • • • Perhatian Flight of idea Memori Daya ingat Secara umum apabila terjadi gangguan pada otak. Gangguan pada lobus temporalis akan ditemukan gejala sbb : • • Amnesia Dimensia 3. Gangguan pada sistim limbik akan menimbulkan gejala yang bervariasi antara lain : • • • Gangguan daya ingat Memori Disorientasi Pengkajian a.3. Lobus Parietal • • • Diskriminasi waktu Fungsi somatic Fungsi motorik 4. Faktor Predisposisi . sesuai dengan daerah yang terganggu yaitu : 1. Gangguan pada lobus frontalis . tapi secara umum akan terjadi disorientasi 4. akan ditemukan gejala-gejala sbb : • • • • Kemampuan memecahkan masalah berkurang Hilang rasa sosial dan moral Impilsif Regres 2. maka seseorang akan mengalami gejala yang berbeda. Lobus Oksipitalis • • Diskriminasi visual Diskriminasi beberapa aspek memori 5.

memori. . Perubahan Struktur • • Tumor Trauma 4. Infeksi • • • Gagal ginjal Syphilis Aids Dement Comp 3. berpikir abstrak. Gangguan metabolisme Malfungsi endokrin : Underproduct / Overproduct Hormon • • • • Hipotiroidisme Hipertiroidisme Hipoglikemia Hipopituitarisme 2.• • • Gangguan fungsi susunan saraf pusat Gangguan pengiriman nutrisi Gangguan peredaran darah b. Faktor Presipitasi • • • • • Hipoksia Anemia hipoksik Histotoksik hipoksia Hipoksemia hipopoksik Iskemia hipoksik Suplai darah ke otak menurun/berkurang 1. Racun. Stimulasi Sensori • • Stimulasi sensori berkurang Stimulasi berlebih c. ditandai dengan: Gangguan perhatian. pikiran dan orientasi Demensia : Suatu keadaan respon kognitif maladaptif yang ditandai dengan hilangnya kemampuan intelektual/ kerusakan memori. penilaian. Perilaku Delirum adalah : Suatu keadaan proses pikir yang terganggu.

toileting . hipotensi. Mekanisme koping • • • • • Dipengaruhi pengalaman masa lalu Regresi Rasionalisasi Denial Intelektualisasi e. Racun. tumor atropi jaringan otak Hilang daya ingat Kerusakan penilaian Perhatian menurun Perilaku sosial tidak Ilusi Halusinasi Pikiran tidak teratur Gangguan penilaian dan pengambilan keputusan Afek labil Sesuai Agitasi d. kerusakan verbal Resiko tinggi terhadap cedera Sindrom defisit perawatan diri ( mandi. trauma. berhias. anemia. Fluktuasi tingkat kesadaran Disorientasi Gelisah Agitasi Biasanya perlahan Biasanya lama dan progressif Paling banyak dijumpai pada usia & gt. deficit vitamin.Karakteristik Delirium dan demensia • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Biasanya tiba-tiba Biasanya singkat/ < 1 bulan Racun. 65 th Hipertensi. makan. Sumber Koping • • • Pasien Keluarga Teman Diagnosa Keperawatan • • • • Anxietas Komunikasi. infeksi. berpakaian./kebersihan diri.

pendengaran. pengecapan. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan : • • Ketakutan Disorientasi yang ditandai dengan perilaku agitasi c. Usaha perawatan : • Memfungsikan pasien seoptimal mungkin sesuai kemampuan pasien Implementasi Keperawatan 1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan : • • • Kerusakan kognitif Kehilangan memori saat ini Konfabulasi Intervensi Keperawatan a. Prioritas : • • • • Menjaga keselamatan hidup Pemenuhan kebutuhan bio-psiko- sosial Libatkan keluarga Pendidikan kesehatan mental c. Identifikasi hasil : • Pasien dapat mencapai fungsi kognitif yang optimal b.• • • • Perubahan sensori/perseptual ( penglihatan.hal 556 ) a. Intervensi Delirium : a. 1995. perabaan. Kebutuhan Fisiologis . dan penghidu) Gangguan pola tidur Perubahan proses pikir ( Stuart and Sundeen. Gangguan proses pikir berhubungan dengan gangguan otak ditandai dengan : • • • • Interpretasi lingkungan yang tidak akurat Kurang memori saat ini Kerusakan kemampuan memberikan rasional Konfabulasi b.

lemari. Rencana perawatan. Halusinasi • • • • • • • Lindungi pasien dan orang lain dari perilaku merusak diri Ruangan : Hindari dari benda-benda berbahaya. dll. Gosok punggung. Berbicara lembut. Rencana perawatan dirumah . Hindari minum yang dapat mencegah tidur seperti : kopi. Mandi sore dengan air hangat. Pengobatan. Disorientasi : • • • • • • • • Ruangan yang terang Buat jam. pakaian. kalender dalam ruangan Lakukan kunjungan sesering mungkin Orientasikan pada situasi lingkungan Beri nama/ petunjuk/ tanda yang jelas pada ruangan/ kamar Orientasikan pasien pada barang milik pribadinya ( kamar. c. Temani menjelang tidur. Pendidikan kesehatan • • • Mulai saat pasien bertanya tentang yang terjadi pada keadaan sebelumnya Seharusnya perawat harus harus tahu sebelumnya tentang : Masalah pasien. tempat.dll) Tempatkan alat-alat yang membantu orientasi massa Ikutkan dalam therapi aktifitas kelompok dengan program orientasi realita (orang. Libatkan keluarga. Hindari tidur diluar jam tidur. Stressor. tapi sedapat mungkin harus dipertimbangkan dan jangan ditinggal sendiri Gangguan tidur : Kolaborasi pemberian obat tidur. photo keluarga. tempat tidur. waktu). Barang-barang seminimal mungkin Perawatan 1 – 1 dengan pengawasan yang ketat Orientasikan pada realita Dukungan dan peran serta keluarga Maksimalkan rasa aman Sikap yang tegas dari pemberi/ pelayanan perawatan (konsisten) d. Usaha pencegahan. Komunikasi • • • Pesan jelas Sederhana Singkat dan beri pilihan terbatas e.• • • • • • Prioritas : menjaga keselamatan hidup Kebutuhan dasar dengan mengutamakan nutrisi dan cairan Jika pasien sangat gelisah perlu : Pengikatan untuk menjaga therapi. sandal . Beri susu hangat. Lakukan methode relaksasi seperti : napas dalam b. Buat jadwal tetap untuk bangun dan tidur.

Komunikasi • • • • • • • • • • • • Membina hubungan saling percaya : Umpan balik yang positif. Tanggap situasi lingkungan dengan menggunakan panca indera. Tentramkan hati. Jangan terdesak. Tidak terburu buru Topik percakapan dipilih oleh pasien Topik buat spesipik Waktu cukup untuk pasien Pertanyaan tertutup Pelan dan diplomatis dalam menghadapi persepsi yang salah Empati Gunakan tehnik klarifikasi Summary Hangat Perhatian c. Ulangi kontrak.• • • Penjelasan diulang beberapa kali Beri petunjuk lisan dan tertulis Libatkan anggota keluarga agar dapat melanjutkan perawatan dirumah dengan baik sesuai rencana yang telah ditentukan 2. pendengaran yang baik. Intervensi Demensia : a. Berhubungan dengan orang lain. Interaksi personal Identifikasi proses pulang b. Respek. sehingga dapat dibaca pasien Orientasikan pada situasi lingkungan Perhatikan penerangan terutama dimalam hari Kontak personal dan fisik sesring mungkin Libatkan dalam kegiatan T. besar. Kurangi agitasi • • Didorong melakukan sesuatu yang tidak biasa dan tidak jelas Beri penjelasan . Pengaturan koping • • Koping yang selama dipakai ini yang positif positif dimaksimalkan dan yang negatif diminimalkan Bantu mencari koping baru yang posistf d.A. Jangan memaksa Komunikasi verbal : Jelas. Memberikan percaya diri. Ringkas. Orientasi • • • • • • • • Tujuan : Membentuk pasien berfungsi dilingkungannya Tulis nama petugas pada kamar pasien jelas.K Tanamkan kesadaran : Mengapa pasien dirawat.

Menggunakan kekuatan dan kemampuan dengan tepat. (1991). Tunjukkan sikap bersahabat. Therapeutik Milieu • Stimulasi kognitif i. P. C.M. seperti : Penyakit Alzheimer’s Pada orang tua harus hati-hati. yang diprogramkan melalui : Puskesmas. karena keadaan yang sensitive g.• • • Beri pilihan Penyaluran energi : Perawatan mandiri. St. Wandering • Perilaku yang harus diperhatikan oleh pemberi perawatan h.Louis : Mosby year book . Intervensi interpersonal • • • • • Psychotherapi Life review therafi Untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan individu dan kelompok dengan saling menceritakan riwayat hidup latihan dan terafi kognitif Therapi relaksasi Kelompok pendukung dan konseling j.A. Keluarga dan masyarakat • • • Siapkan keluarga untuk menerima keadaan pasien Siapkan fasilitas dalam berinteraksi dengan dimasyarakat Perlu bantuan dalam merawat 24 jam dirumah. Farmakologi • • Tergantung penyebab gangguan. Fortinash. Pos-pos pelayanan kesehatan dirumah sakit f. Psychiatric nursing care plan. dan Holloday. Gangguan daya ingat • • • • Mulai percakapan dengan menyebut nama anda dan panggil nama pasien Hindarkan konfrontasi atas pernyataan pasien yang salah Penataan barang pribadi jangan dirubah Lakukan program orientasi Daftar Pustaka 1. Empati e. misalnya berolahraga Saat agitasi : Tetap senyum.

Petunjuk Komunikasi dengan Pasien Demensia. 7. Perbandingan Delirium. L. H. Towsend.J (1995). Schueke. M.H dan Bostrom. Psychiatric Nursing . Pendidikan Kesehtan Keluarga . Psychiatric Mental Health Nursing : Concept of Care . Louis Mosby year Book 6. CE (1991).St. Psychiatric nursing :a psycho therapeutic management approach. St.S.J (1995). Stuart. Louis : Mosby year book 3. And Sundeen S.2.L. Davis Company.R . C.louis : Mosby year book 4. St. Gw.C (1993). Keltner. And Sundeen S. Depresi dan Demensia. Gw. and Kneils. Louis Mosby Year book 5. Stuart. N. and Sundeen S. Gw. California : Addison .Philadelphia. 2nd. (1992).J (1987).St. Stuart. Wilson.

Evaluasi keperawatan dari intervensi yang dilakukan pada pasien dengan masalah defisit perawatan diri antara teori dan kasus yang nyata memperlihatkan dengan teori yang ada dimana masalah defisit perawatan diri dapat teratasi.html .id/2012/09/bab-1-pendahuluan-1.co. http://diananovietha.blogspot.

diskusi kelompok dan browsing internet. kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya (Tarwoto dan Wartonah 2000). berhias. 2004).ASKEP DEFISIT PERAWATAN DIRI PASIEN BAB I PENDAHULUAN A. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini menggunakan penulisan metode studi pustaka. Defisit Perawatan Diri adalah Suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan/melewati aktivitas perawatan diri secara mandiri. B. kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perry (2005). Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan . Tujuan Penulisan 1. Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan/melewati aktivitas perawatan diri secara mandiri. Pengertian Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya. B. Jenis–jenis Perawatan Diri 1. Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi. Latar Belakang Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Poter. Untuk Pengetahuan Dasar Praktek Lapangan 3. Untuk membahas tentang Defisit Perawatan Diri 2. makan. kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya. toileting) (Nurjannah. Untuk membahas Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Defisit Perawatan Diri C.

C. 2. alat mandi . Kelelahan fisik. Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri. Sosial Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Kurang perawatan diri : Toileting Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004. b. 2. shampo. sikat gigi. lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. pasta gigi. kerusakan kognisi atau perceptual. penyebab kurang perawatan diri adalah: 1. Faktor presipitasi Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi. Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri. Kurang perawatan diri : Makan Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan. maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. 3. Status Sosial Ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun. Penurunan kesadaran. Etiologi Menurut Tarwoto dan Wartonah. 4. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias. Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah: 1. 2. Praktik Sosial Pada anak–anak selalu dimanja dalam kebersihan diri. (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut : 1. 79 ). Menurut Depkes (2000: 20). Body Image Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya. 2.Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri. Faktor prediposisi a. 3. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri. cemas. c. Kemampuan realitas turun Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri. d. Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.

c. Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene. c. gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit. Menarik diri. 1. Tidak mampu berperilaku sesuai norma. Badan bau. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat. Rambut dan kulit kotor. 3. Dampak fisik Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. 5. D. Kegiatan kurang . b. infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku. Interaksi kurang. e. Gigi kotor disertai mulut bau. 6. rendah diri dan merasa hina. Psikologis a. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun. kebutuhan dicintai dan mencintai. Malas. Kuku panjang dan kotor. gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri. Merasa tak berdaya. pakaian kotor. Sosial a. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. d. Fisik a. 4. sampo dan lain–lain. 2. tidak ada inisiatif. aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan. kebutuhan harga diri. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya. c. b. b. d. Penampilan tidak rapi. Dampak psikososial Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman. Kondisi fisik atau psikis Pada keadaan tertentu/sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya. gangguan membran mukosa mulut. . isolasi diri. 7. 2. Tanda dan Gejala Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah : 1.

menarik diri 4. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien. Ciptakan lingkungan yang mendukung a. Kulit kusam dan kotor e. Malas untuk beraktivitas c. Isolasi diri. Mulut dan gigi bau. Bina hubungan saling percaya. d. Mekanisme Koping 1. Bicarakan tentang pentingnya kebersihan. Ajarkan ketrampilan secara bertahap c. 2. Bantu klien merawat diri b. Kuatkan kemampuan klien merawat diri. c. Rambut kotor. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya. Regresi 2. kamar mandi yang dekat dan tertutup. b. Pohon Masalah Resiko tinggi isolasi Harga diri rendah Kronis . Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri a. G.Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah : 1. Badan dan pakaian kotor dan bau c. Data obyektif a. c. a. Data subyektif a. 2. Buatkan jadwal kegiatan setiap hari 3. Kuku panjang dan tidak terawat E. Merasa tidak berdaya. acak – acakan b. Intelektualisasi F. Penyangkalan 3. Pasien merasa lemah b. Rentang Respon Kognitif Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri sendiri adalah : 1. b. Membimbing dan menolong klien merawat diri. Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.

makan dan BAB/BAK secara mandiri. c. Tindakan Keperawatan untuk Klien a. Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan oleh klien agar dapat . • Klien mengatakan ingin di suapi makan.1 yaitu: 1. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang perawatan diri. makan. pakaian kotor dan tidak rapi. Objektif • Ketidakmampuan mandi/membersihkan diri ditandai dengan rambut kotor. serta kuku panjang dan kotor. • Klien mengatakan dirinya malas berdandan.H. • Ketidakmampuan BAB/BAK secara mandiri ditandai BAB/BAK tidak pada tempatnya. Serangkaian intervensi ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. a. atau tidak berdandan (wanita). dan berbau. gigi kotor. pakaian tidak sesuai. Isolasi Sosial. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri 2. makan. tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK J. tidak bercukur (laki-laki). Tujuan Klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi/membersihkan diri. berpakaian/berhias. • Ketidakmampuan berapakaian/berhias ditandai dengan rambut acak-acakan. Data yang perlu Dikaji Masalah Perawatan Data yang perlu Dikaji Defisit perawatan diri Subjektif • Klien mengatakan dirinya malas mandi karena airnya dingin atau di RS tidak tersedia alat mandi. berpakaian/berhias. Rencana Tindakan Keperawatan 1. dan BAB/BAK secara mandiri. Diagnosa Keperawatan Menurut Depkes (2000: 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien defisit perawatan diri sesuai dengan bagan 1. Defisit perawatan diri. • Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai dengan ketidakmampuan mengambil makan sendiri……. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga Klien Keluarga dapat meneruskan melatih klien dan mendukung agar kemampuan klien dalam perawatan dirinya meningkat. Memberikan latihan cara melakukan mandi/membersihkan diri. b. 3. • Klien mengatakan jarang membersihkan alat kelaminnya setelah BAK atau BAB. kulit berdaki. 3. Mengkaji kemampuan melakukan perawatan diri yang meliputi mandi/membersihkan diri. berpakaian/berhias. dan BAB/BAK 2. I.

Cinta mengalami harga diri rendah kronis dengan kata lain putus cinta merupakan faktor pencetus atau presipitasi dari masalah harga diri rendah kronis. Dari kasus tidak kami temukan faktor predisposisi. Hal tersebut membuat An. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan klien dalam merawat diri. 3. BAB III PEMBAHASAN A.Cinta sudah 1 bulan ini tidak mau makan.Cinta umur 15 tahun dibawa ke RSJ Magelang karena menurut keluarga An. 2.Cinta masalah dimulai sejak An. Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat dan membantu klien dalam merawat diri (sesuai jadwal yang telah disepakati) c. Resiko tinggi isolasi sosial. B. gosok gigi. Hal ini dialami An. tidak mau mandi.menjaga kebersihan diri. Kasus An. gosok gigi. kami mengambil diagnosa keperawatan defisit perawatan . sebagai berikut : Resiko Tinggi Isolasi Sosial Tidak mau makan.Cinta sejak diputuskan oleh pacarnya. Pokok masalah dari kasus An. Jika di lapangan ditemukan kasus seperti An. mandi. menata rambut. sehingga kami mengambil bahwa tidak adanya dukungan keluarga sebagai faktor predisposisi.Cinta kami perlu pengkajian lebih lanjut menemukan faktor predisposisi. Harga diri rendah kronis putus cinta Kesimpulan masalah keperawatan yang mungkin muncul : 1. Analisa Kasus Pada kasus An.Cinta yang dapat kami diskusikan. Dari ketiga masalah keperawatan tersebut. b. Harga diri rendah kronis. dan menata rambut.Cinta diputuskan oleh pacarnya. Defisit perawatan diri.

Makan An. Menunujukan rasa senang . Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri.diri masalah utama An. Ekspresi wajah bersahabat 2. dengan kriteri sebagai berikut : 1. c.Cinta mempunyai kelemahan dalam mengenakan atau melepaskan pakaian atau berhias (menyisir rambut). 3. 2. Masalah Defisit perawatan diri yang mungkin muncul : Tidak mau makan Masalah Higiene (tidak mau mandi dan gosok gigi). tidak mau mandi dan tidak mau menata rambut. Berhias An. a. Kondisi klien : Klien sudah satu bulan tidak mau makan. dan memperoleh perlengkapan untuk mandi. Tujuan khusus/SP I. Klien dapat membina hubungan saling percaya. Tidak mau berhias Pohon Masalah Resiko Tinggi Isolasi Sosial Defisit Perawatan Diri Harga Diri Rendah (diputus pacarnya) STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN Masalah : Defisit Perawatan Diri Pertemuan : Ke – I (pertama) A. Proses Keperawatam. Mandi/Higiene An. b.Cinta mengalami ketidaksamaan dalam membersihkan badan. Tanda dan Gejala a. yang kemudian dibuat strategi pelaksanaan . Faktor presdisposisi : tidak ada dukungan keluarga.Cinta.Cinta mempunyai ketidakmampuan dalam keinginan untuk makan Faktor presipitasi : diputus pacarnya. 1.

Perkenalkan diri dengan sopan 3. c. Menjelaskan peralatan yang digunakan untuk menjaga kebersihan diri dan cara melakukan kebersihan diri. Beri perhatian pada pemenuhan kebutuhan dasar klien b. dengan tahapan tindakan berikut. Jelaskan pentingnya kebersihan diri dengan cara memberikan penjelasan terhadap pentingnya kebersihan diri. a. Identifikasi kemampuan klien dalam melakukan kebersihan diri. selanjutnya minta klien menjelaskan kembali pentingnya kebersihan diri. Jelaskan tujuan peremuan 5. berdandan. 1. Memasukkan dalam jadwal kegiatan klien. Tempat : “Dimana kita duduk? Diteras. Klien bersedia mengutarakan masalah yang dihadapinya b. jujur dan menempati janji 6. dikursi panjang itu. Klien bersedia duduk berdampingan dengan perawat 7. atau dimana?” . Klien bersedia berjabat tangan 4. Jelaskan alat yang dibutuhkan dan cara membersihkan diri 2. c. Evaluasi/Validasi c. Minta klien untuk memperagakan ulang alat dan cara kebersihan diri e. peragakan cara membersihkan diri dan mempergunakan alat untuk membersihkan diri 3. e. tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan 4. dan senangnya dipanggil dengan sebutan apa?” b. Rencana tindakan keperawatan. 1. “Assalamualaikum … Boleh saya kenalan dengan adik? Nama saya … adik boleh panggil saya … saya mahasiswa keperawatan … saya sedang praktek disini. d. Memasukkan dalam jadwal kegiatan klien. Klien bersedia menyebutkan nama 5. Topik : “Apakah adik tidak keberatan untuk mengobrol dengan saya? Menurut adik sebaiknya kita ngobrol tentang apa? Bagaimana kalau kita ngobrol tentang kebersihan diri?” 3. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan 1. dan makan. B. Menjelaskan pentingya kebersihan diri. Waktu : “Berapa lama kira-kira bisa ngobrol? Adik maunya berapa menit?bagaimana kalau 10 menit? Bisa?” 4. Jelaskan peralatan yang dibutuhkan dan cara membersihkan diri. Ada kontak Mata 6. Mengidentifikasi kebersihan diri. Kontrak 2.3. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal 2. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik. dan makan. Orientasi a. Salam terapeutik. tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya 7. d. 4. berdandan. Kalau boleh saya tahu nama adik siapa.

Kondisi klien : Klien sudah satu bulan tidak mau makan.” 3. Kerja “Berapa kali adik membersihkan diri dalam sehari?” “Apakah adik suka berdandan?” “Alat apa yang adik gunakan pada saat makan. menggunakan sendok atau tangan?” “Apakah adik tahu pentingya kebersihan diri?” “Bagaimana cara adik menjaga kebersihan diri?” “Apakah adik tahu tentang alat-alat yang digunakan untuk membersihkan diri?” “Bagaimana cara adik membersihkan diri?” “Pertama lepaskan seluruh baju yang dikenakan. keringkan badan dengan handuk dan ganti pakaian dengan pakaian bersih. nanti saat jam 10. Kontrak yang akan datang : 1. sekarang coba adik simpulkan pembicaraan kita tadi? Coba sebutkan cara menjaga kebersihan diri?” c. Terminasi a.2. tidak mau mandi dan tidak mau menata rambut. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian . Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri 3. 2. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien b. Evaluasi Subjektif “Bagaimana perasaan adik dengan obrolan kita tadi? Adik merasa senang tidak dengan latihan tadi?” b. Tempat : “Kira-kira tempat yang enak buat kita ngobrol besok dimana ya. Proses Keperawatan 1. Tujuan Khusus/SP 2 a. Rencana tindak lanjut “kalau adik sudah tahu cara membersihkan diri.00 coba adik praktek penjelasan saya tadi?” d. Topik : “Adik.30 WIB. Membantu pasien mempraktekan cara makan yang baik d. Menjelaskan cara mandi yang benar c. lalu siramkan pada seluruh bagian tubuh dan bilas sampai bersih. Setelah itu menggosok gigi. bagaimana kalau besok kita ngobrol lagi tentang bagaimana cara menjaga kebersihan mulut?” 2.” Masalah : Defisit Perawatan Diri Pertemuan : Ke -2 (dua) Hari/tanggal : Waktu : A. Waktu : “Kira-kira waktuya kapan ya? Bagaimana kalau besok jam 09. Evaluasi Objektif “Setelah kita berdiskusi panjang lebar. bisa?” 3. apa masih disini atau cari tempat lain? Sampai jumpa.

Fase Kerja “Menurut cinta kalau mandi itu kita harus gimana? Sebelum mandi apa yang perlu kita persiapkan? Benar sekali.” d. Cinta perlu menyiapkan pekaian ganti. Tindakan Keperawatan a. sikat gigi.” 3. Tempat : “Tempatnya mau dimana cinta? Baiklah disini saja. Evaluasi Objektif “Coba cinta sebutkan lagi bagaimana cara-cara mandi yang baik seperti yang sudah cinta lakukan tadi. Gosok seluruh gigi. Sekarang cinta siram seluruh tubuh cinta termasuk rambut lalu ambil sampo dan gosokan pada kepala cinta sampai berbusa. handuk. Jelaskan cara mandi yang benar c. Rencana tindak lanjut “Nanti cinta lakukan secara mandiri.” 2. Bagus sekali. Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan B. Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari yang sudah dilatih d. Fase Terminasi a. Salam terupeutik “Assalamualaikum Cinta. hari ini kita akan berdiskusi tentang cara mandi yang benar.” c. Lalu kumur-kumur sampai bersih. terakhir siram lagi seluruh tubuh. Saya akan membimbing cinta melakukannya. Topik : “Besok kita ketemu untuk mendiskusikan jadwal kegiatan cinta terkait dengan kemampuan cinta dalam merawat diri” 2.” 2. Evaluasi Subjektif “Bagaimana perasaan cinta setelah mandi dan mengganti pakaian?” b. sampai bersih lalu keringkan dengan handuk. Selanjutnya ambil sabun. Bagaimana kalau sekarang kita kekamar mandi. Jelaskan cara mempersiapkan mandi b.4. sesuai jadwal yang sudah kita buat. sabun dan sisir. gosokan diseluruh tubuh secara merata lalu siram dengan air sampai bersih. Kontrak 1. Selanjutnya cinta pakai baju dan sisir rambutnya dengan baik. sesuai janji saya kemarin sekarang saya datang lagi. dan arahnya dari arah atas ke bawah. Orientasi a. Kontrak 1. Topik : “sesuai janji saya kemarin. Cinta bagus sekali melakukannya. jangan lupa sikat gigi pakai odol. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan 1. setelah itu bilas sampai bersih. Waktu : ”Mau berapa lama kita berbincang-bincang? 15 menit saja cukup?” 3. Evaluasi/Validasi “Bagaimana perasaan cinta hari ini?”Apakah cinta masih ingat tanda-tandanya bersih?”Apakah sudah dipakai yang telah kita latih kemarin? Bagaimana hasilnya?” c. sampo. Tempat : “Kira-kira cinta mau ketemu dimana? . Waktu : “Cinta mau ketemu jam berapa?” 3. Giginya disikat mulai dari depan sampai belakang.” b.

Topik : “Hari ini kita akan latihan bagaimana cara makan yang baik” 2. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien b. Tempat : “Langsung di ruang makan ya Cinta…!” 2. Diagnosa Keperawatan : Defisit Perawatan Diri 3. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan 1. “Bagus” Setelah itu kita duduk dan ambil makanan. Kondisi Klien Klien sudah satu bulan tidak mau makan. Bagus…”. Fase Terminasi . Ya. “ Silakan Cinta yang pimpin. Praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang baik e.” b. Evaluasi / Validasi “Bagaimana perasaan Cinta hari ini?” Apakah berdandan sudah dilakukan tiap hari?” c. Fase Kerja “ Bagaimana kebiasaan sebelum. Salam terupeutik “Assalamualaikum Cinta. Waktu : “Kita latihan selama satu jam” 3. mari kita makan…”. Ya bagus. Membantu pasien mempraktekan cara makan yang baik d. Menyusun Jadwal aktivitas sehari – hari. “Sebelum makan kita harus cuci tangan memakai sabun. Jelaskan cara makan yang tertib c. Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan B. Jelaskan merapikan peralatan makan setealah makan d. Kontrak 1. Ya. “ Setelah makan kita bereskan piring dan gelas yang kotor.” 3. Proses Keperawatan 1. Tujuan Khusus/SP 3 a. sesuai janji saya kemarin sekarang saya datang lagi. tidak mau mandi dan tidak mau menata rambut. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian 4. Menjelaskan cara makan yang baik c. Orientasi a. sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih f. Tindakan Keperawatan a. Sebelum disantap kita berdoa dulu. 2. Jelaskan cara mempersiapkan makan b. mari kita praktikkan” . Ya betul… dan kita akhiri dengan cuci tangan.Masalah : Defisit Perawatan Diri Pertemuan : Ke – 3 (tiga) Hari/tanggal : Waktu : A. maupun setalah makan ? Dimana Cinta makan ?”. saat. “ Mari kita makan… saat makan kita harus menyuap makanan dengan pelan – pelan.

Rencana Tindak Lanjut “Setelah makan apa yang sebaiknya kita lakukan. Evaluasi Subjektif “Bagaimana Cinta setelah kita makan bersama – sama. Kontrak 1. Membantu pasien mempraktekkan dalam jadwal d. Tujuan Khusus / SP 4 a. Evaluasi / Validasi “Bagaimana perasaan adik saat ini? Bagaimana. 2. Topik : “Besok kita ketemu untuk mendiskusikan jadwal kegiatan dalam kemampuan berdandan. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien b. coba sebutkan lagi cara – cara makan yang benar.” “Hari–hari berikutnya saya berharap Cinta melakukan cara tadi dengan baik. masih ingat saya? adik masih senang dipanggil dengan sebutan …?” b. apakah jadwal kegiatan yang kemarin dilakukan?” c. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan 1.” 2. Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian B. Bantu pasien mempraktekkan cara berdandan d. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian 4.” Bagus. tidak mau mandi dan tidak mau menata rambut.” d. Salam Teraupeutik “Assalamualaikum. c. Jelaskan cara berdandan c. Rencana Tindakan Keperawatan a. Proses Keperawatan 1. Tempat : “Kira – kira Cinta mau ketemu dimana ?” Masalah : Defisit Perawatan Diri Pertemuan : Ke – 4 (empat) Hari/tanggal : Waktu : A. Diagnosa Keperawatan : Defisit perawatan diri 3. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien b. adik…. Kondisi Klien Klien sudah satu bulan tidak mau makan. Waktu : “Cinta mau ketemu jam berapa?” 3. Evaluasi Objektif “Ayo. Menjelaskan cara berdandan c.a.” b. Kontrak 1) Topik : “Sesuai janji kita hari ini kita akan latihan berdandan agar adik tampak rapih dan cantik” . Orientasi a.

b. b. saya harap ibu sudah bisa berdandan dengan baik” d.” “Saya jelaskan bahwa ganti baju sebaiknya dilakukan dua kali dalam sehari. mulai dengan mengganti pakaian. Rencana tindak lanjut “Hari-hari berikutnya. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga. dan jenis defisit perawatan diri yang dialami pasien beserta proses terjadinya. Kerja “Bagaimana cara adik berdandan? Apakah dengan menyisir rambut? Bagaimana cara adik menyisir rambut ?” “Apa kebiasaan adik dalam berdandan?” “Apakah adik biasa memakai bedak?” “Nah. Sekarang menyisir rambut ya… bagus sekali … .2) Waktu : “Berapa lama kira-kira kita bisa latihan berdandan? Adik maunya berapa lama? Bagaimana kalau 15 menit?” 3) Tempat : “Dimana kita bisa latihan berdandan? Bagaimana kalau dikamar saja?” 2. sekarang kita praktikan ya. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien. memakai bedak dilakukan setelah mandi. Tindakan Keperawatan a. Menjelaskan cara – cara merawat pasien defisit perawatan diri. Proses Keperawatan 1.” 3. Evaluasi objektif “Untuk berdandan caranya bagaimana?” c. Menjelaskan : . tidak mau mandi. Kondisi Klien tidak mau makan. Kontrak yang akan datang “Baik. bagus. besok kita bertemu lagi. Menjelaskan pengertian tanda dan gejala defisit perawatan diri. ya bagus. gosok gigi dan menata rambut. 4. 2. Terminasi a. menyisir rambut setelah mandi. selanjutnya merias muka. c. Evaluasi subjektif “Bagaimana perasaan adik setelah belajar berdandan?” b. Adik mau kita bertemu dimana? jam berapa?” SP KELUARGA Masalah : Defisit Perawatan Diri Pertemuan : Ke – 1 (pertama) Hari/tanggal : Waktu : A. Diagnosa Keperawatan Defisit Perawatan Diri 3. Adik sekarang sudah nampak cantik. Tujuan Khusus / SPK1 a.

Evaluasi / Validasi “Bagaimana perasaan bapak hari ini ?” apa pendapat bapak tentang anak bapak Cinta?” c. Fase Kerja “Selama ini apa yang dilakukan oleh Cinta dalam merawat diri?” “Perilaku yang ditunjukkan oleh Cinta itu dikarenakan gangguan jiwanya yang membuat klien tidak mempunyai minat untuk mengurus diri sendiri. dan BAB/BAK (toiletting) Tanda dan gejala defisit perawatan diri antara lain : a. Menjelaskan cara –cara merawat pasien defisit perawatan diri B. makan.1) Pengertian defisit perawatan diri 2) Tanda dan gejala defisit perawatan diri 3) Jenis – jenis perawatan diri 4) Jenis defisit perawatan diri yang dialami oleh pasien c. Mandi : Seseorang dikatakan mengalami DPD jika mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan badan. apakah selama ini dalam merawat Cinta.” Saya perawat … yang merawat anak bapak. selamat pagi bapak. berpakaian/berhias. Orientasi a. d. Berpakaian / Berhias : Seseorang dikatakan mengalami DPD jika tidak memiliki kemampuan untuk memakai pakaian. b. bapak menemukan kesulitan?”kalau ada apa saja pak?”…. Salam Terapeutik “Assalamualaikum.” “Bapak.” b.” Defisit perawatan diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan 1. mempersiapkan makanan. mengunyah makanan. penampilan pada tingkat yang memuaskan c. kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri. BAB/BAK (Toileting) : Seseorang dikatakan mengalami DPD jika memiliki keterbatasan/ketidakmampuan dalam mendapatkan kamar kecil. Makan : Seseorang dikatakan mengalami DPD jika tidak mempunyai kemampuan dalam menelan makanan. duduk/bangkit dari jamban. “Pada dasarnya Cinta mengalami masalah defisit perawatan diri. Kontrak 1) Topik : “Hari ini kita akan berdiskusi tentang masalah yang Cinta alami dan bantuan apa yang bisa bapak berikan” 2) Waktu : “Waktunya 15 menit cukupkan?” 3) Tempat : “Tempatnya di sini saja ya pak?” 2. mempertahankan. mendapatkan makanan / dengan kata lain tidak ada kemauan untuk makan. seperti mandi. memilih pakaian. .

membersihkan diri setelah BAB/BAK secara tepat dan menyiram toilet/kamar mandi. berpakaian/berhias. gosok gigi dan menata rambut. Kondisi Klien tidak mau makan. Tindakan keperawatan Mempraktekan cara merawat pasien defisit perawatan diri langsung terhadap pasien B. Evaluasi Subjektif “Bagaimana perasaan bapak setelah bercakap – cakap?” b. “Kalau Cinta Kurang motivasi dalam merawat diri apa yang bapak lakukan ?” Bapak perlu juga memperhatikan alat – alat kebersihan diri yang dibutuhkan oleh Cinta seperti handuk. Fase Terminasi a. 3. makan. Jenis-jenis defisit perawatan diri seperti yang telah saya sebutkan tadi. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan 1. Orientasi a. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien defisit perawatan diri 4.00 WIB saja Tempat : “ Tempatnya disini saja ya pak”. Bapak juga perlu mendampinginya saat merawat diri sehingga dapat diketahui apakah Cinta sudah bisa mandiri / mengalami hambatan dalam melakukannya. baju ganti. makan. Proses Keperawatan 1. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien defisit perawatan diri b. Kontak Topik : “Baiklah bapak tiga (3) hari lagi saya akan datang lagi. dan alat kebersihan lainnya. Kita akan mendiskusikan tentang hasil yang sudah dicapai Cinta dan saya akan melatih bapak dalam mempraktikan cara merawat Cinta. sikat gigi. anak bapak mengalami DPD dalam tiga hal yaitu : mandi. Salam terapeutik . Diagnosa Keperawatan Defisit perawatan diri 3. BAB/BAK (Toiletting) Dari tanda-tanda yang dialami anak bapak. Waktu : “Mau jam berapa kita mau bertemu bapak?” ya baiklah jam 09. 2. sampo. Tujuan khusus / SPK2 a. tidak mau mandi. Rencana Tindak Lanjut ( RTL ) “Mulai sekarang cobalah bapak mendampingi dan membantu Cinta saat membersihkan diri” d. Masalah : Defisit Perawatan Diri Pertemuan : Ke – 2 (kedua) Hari/tanggal : Waktu : A. Evaluasi Objektif Coba bapak sebutkan lagi apa saja yang harus diperhatikan dalam membantu Cinta dalam merawat diri c. berpakaian. yaitu : Mandi.

merapikan dan memandikan” “ Caranya seperti ini pak ……” “ Bagaimana bapak. bapak” sesuai janji saya tiga hari yang lalu sekarang saya datang lagi” b.“Assalmualaikum. Evaluasi / Validasi “Bagaimana perasaan bapak hari ini? apakah bapak sudah membantu dan mendampingi Cinta saat membersihkan diri?” c. Kontrak 1) Topik : “Hari ini kita akan berlatih cara merawat anak bapak dan mempraktekan secara langsung” 2) Waktu : “Waktunya 30 menit ya pak?” 3) Tempat : “Tempatnya di sini saja ya pak?” 2. 2. Evaluasi Objektif “Coba bapak praktekkan lagi !” “Bagus sekali bapak sudah bisa” c. tidak mau mandi. Proses Keperawatan 1. tiga hari lagi saya akan datang. Topik : “Baiklah bapak. Rencana Tindak Lanjut “Mulai sekarang bapak praktekkan cara merawat Cinta seperti yang saya ajarkan tadi” d. Fase Terminasi a. Kontrak 1.00 ? 4. apakah sudah paham ?” “ Coba bapak pratekkan !” “ Betul pak seperti itu. Fase Kerja “Sekarang kita akan berlatih cara menyuap anak bapak. Waktu : “Mau jam berapa pak kita ketemu?” 3. Tempat : “Tempatnya mau dimana pak?” Bagaimana kalau di sini saja?”“ Baiklah bapak. 3 hari lagi saya akan datang” “ Senang bisa membantu bapak” Masalah : Defisit Perawatan Diri Pertemuan : Ke – 3 (ketiga) Hari/tanggal : Waktu : A. Baiklah kita ketemu jam 09. Evaluasi Subjektif “Bagaimana perasaan bapak setelah kita berlatih tadi?” b. Diagnosa Keperawatan Defisit perawatan diri . kita akan berbincang – bincang tentang cara menyusun jadwal kegiatan Cinta di rumah termasuk minum obat dan apa yang harus bapak lakukan setelah Cinta pulang” 2. gosok gigi dan menata rambut. Kondisi Klien tidak mau makan. bapak sudah bisa” 3.

Fase Terminasi a. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang 4. bapak sudah kontrol agar petugas kesehatan nantinya bisa membantu bapak apakah Cinta masih memerlukan obat atau tidak. Nah. Evaluasi/Validasi “Bagaimana perasaan bapak hari ini?” apakah bapak sudah mempraktekkan cara – cara yang kita berlatih 3 hari yang lalu?” c. 3. Tujuan Khusus / SPK 3 a. Evaluasi Subjektif Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang tadi? b. termasuk jadwal minum obat Cinta. Tempat : “Tempatnya di sini saja pak” 2.3. Jangan lupa juga sebelum obat habis. Evaluasi Objektif Coba bapak buat contoh jadwal aktivitas Cinta termasuk minum obat.” b. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang B. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat b. Salam terapeutik “Assalamualaikum. Bagaimana kalau bapak Cinta sudah pulang? Apa yang perlu bapak lakukan? Bagus bapak sudah paham . bapak sudah paham. Bagaimana bapak? Apakah bapak sudah paham? Coba bapak simpulkan yang telah kita bicarakan tadi! Betul sekali pak. Membantu keluarga membuat jadwal minum obat c. Fase Kerja “Baiklah bapak sekarang kita akan membuat jadwal aktivitas Cinta di rumah dimulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Orientasi a. Setelah di rumah nanti bapak harus selalu mengawasi Cinta dan apabila ada hal-hal yang tidak bapak ketahui. sesuai janji saya. Kontrak 1. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah b. Topik : “Hari ini kita akan berbincang-bincang tentang jadwal aktivitas di rumah dan jadwal minum obat untuk Cinta serta tindakan untuk Cinta setelah pulang” 2. selamat pagi bapak. Tindakan Keperawatan a. Sekarang saya datang lagi. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan 1. bapak bisa hubungi petugas kesehatan terdekat. Waktu : “Waktunya 30 menit ya pak” 3. berarti bapak harus menulis semua aktivitas Cinta secara terjadwal.

A. 2006. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. B. 2000. Sudden. Jakarta : CV Sagung Seto Stuart. Proses Keperawatan Jiwa. Rencana Tindak Lanjut “Nah mulai sekarang bapak buat jadwal untuk aktivitas Cinta agar setelah pulang bisa langsung dipraktekkan” Kalau ada kesulitan bapak bisa hubungan perawat. Jakarta : EGC Santosa.c. 1998. 2006. Edisi 7. Modul MPKP Jiwa UI . 2005 – 2006. senang bisa membantu bapak DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Jakarta : EGC Keliat. Potter. Depkes. 2005 . 2005. Jakarta : Prima Medika. Jakarta : EGC Rasmun S. M 2004.Kep. B. Budi. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Lynda Juall. Kep. 2001.A. Edisi 8. 1998. Standar Pedoman Perawatan jiwa. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC Keliat. Intansari S. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Yogyakarta : Momedia Perry. Jakarta : EGC Nurjanah. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Kaplan Sadoch. Terimakasih bapak. 2001. Jakarta : EGC. Sinopsis Psikiatri. .

Buku Saku Keperawatan Jiwa.id/2012/04/askep-defisit-perawatan-diri-pasien. 1998. 2002. 2000. Jakarta.Stuart. Edisi 5. Marry C.html .blogspot. EGC http://aangcoy13. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Perawatan Psikiatri edisi 3. Kebutuhan Dasar Manusia. GW. Jakarta.co. Jakarta: EGC. Townsend. Tarwoto dan Wartonah.

.

gigi kotor.  Ketidakmampuan makan secara mandiri. ditandai dengan BAB/BAK tidak pada tempatnya. pada pasien wanita tidak berdandan. ditandai dengan rambut kotor. PROSES TERJADINYA MASALAH a. kulit berdaki dan bau. makan berceceran.  Ketidakmampuan berhias/berdandan. LAPORAN PENDAHULUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI LAPORAN PENDAHULUAN I. pakaian tidak sesuai. Pengertian Defisit Perawatan Diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang mengalami hendaya dalam pemenuhan aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi. Penyebab .  Ketidakmampuan BAB/BAK secara mandiri. makan dan bab/bak. dan makan tidak pada tempatnya. Tanda dan Gejala Untuk mengetahui apakah pasien mengalami masalah kurang perawatan diri maka tanda dan gejala dapat diperoleh melalui observasi pada pasien yaitu:  Gangguan kebersihan diri. ditandai dengan rambut acak-acakan. ditandai dengan ketidakmampuan mengambil makan sendiri. pakaian kotor dan tidak rapi. berpakaian/berhias. MASALAH UTAMA : DEFISIT PERAWATAN DIRI II. Defisi perawatan diri adalah kegagalan kemampuan pada seseorang untuk melaksanakan atau menyelesaikan aktivitas kebersihan diri (Capernitto) b. kuku panjang dan kotor. tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK c. pada pasien laki-laki tidak bercukur.

(Budiana K. Komunikasi kurang / tidak ada d. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu dikaji 1. panu. menghindari hubungan dengan orang lain. afek tumpul b. Isolasi sosial adalah adalah opercobaan untuk mengindari interaksi dengan orang lain. e. Tidak ada kontak mata e. Berdiam diri di kamar g. Masalah Keperawatan  Defisit Perawatan Diri  Isolasi Sosial  Gangguan Pemeliharaan Kesehatan Pohon Masalah Gangguan Pemeliharaan Kesehatan . Mobilitas kurang h. kurap) dan juga gangguan yang lain seperti gastritis kronis (karena kegagalan dalam makan). Menghindar dari orang lain c. Penyebab Defisit Perawatan Diri adalah isolasi sosial. Bisa terjadinya infeksi kulit (scabies. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Jilid 2). penyebaran penyakit orofecal ( karena hiegene bab/bak sembarangan) dan lain-lain. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Jilid 2). Gangguan pemelihaaan kesehatan ini bentuknya bisa bermacam- macam. Posisi janin saat tidur d. ekspresi sedih. Tidak melakukan aktivitas sehari-hari f. Akibat Akibat dari deficit perawatan diri adalah Gangguan Pemeliharaan Kesehatan (Budiana K. Apatis. Tanda-gejala isolasi social : a.

Isolasi Sosial http://abdurrachmanramli.id/2015/02/laporan-pendahuluan-defisit-perawatan.html . berbau Ketidakmampuan berpakaian.blogspot. kotor. pakaian sembarangan Ketidakmampuan bab/bak secara mandiri : bab/bak sembarangan f. Defisit Perawatan Diri b.co. Defisit perawatan diri Isolasi Sosial 2. Data yang perlu dikaji Data subyektif Klien mengatakan dirinya malas mandi Klien mengatakan malas makan Klien mengatakan tidak tahu cara membersihkan WC setelah bab/bak Data Obyektif Ketidakmampuan mandi dan membersihkan diri . Diagnosa perawatan a.