You are on page 1of 32

GAMBARAN FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP IMPLEMENTASI

PERMENDAGRI NO 13 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN
KEUANGAN DAERAH YANG TELAH DIRUBAH DENGAN PERMENDAGRI NO 59
TAHUN 2007 DAN PERMENDAGRI NOMOR 21 TAHUN 2011 DI PUSKESMAS
KABUPATEN JOMBANG
(Studi Deskriptif Terhadap Pengelolaan Pendapatan (Retribusi Puskesmas) Dan Belanja
Operasional Puskesmas)

Rachma Fitriana
FISIP UNIVERSITAS AIRLANGGA
rachmaftr@gmail.com

ABSTRACT
This study examines to describe factors on the implementation of regulation of the budget systems on local government
especially on Community Health Clinic (CHC). The background of this research especially is many complains from Head and
Treasure of CHC about the new rule about local budget administration. Some rules seem difficult for implemented , e.g. :
deposite all of the revenue to local Finance and Asset Management Revenue (DPPKAD) and spend expenditures as effective and
effisien as possible. This research was included in a descriptive study by interview 18 key person informants used purpossive
sampling and quistionaire for Heads dan Treasures of 34 CHC to gain first data how antecedent factors influence the
implementation of rule of budget system. The result of this research are there are 4 factors according to George Edward III
affecting the implementation of Permendagri no 13 tahun 2006, eg. : Communication, Resource, Dispotition and the Structure of
Bureaucracy. Most respondents answer that the most influenced factor is Human Rresource, Structure of Bureaucracy,
Communication and Disposition. Based on the result The recommendations are suggested for Health Office are : gives authority
for Community Health Clinics at Jombang District to plan/arrange/manage their own budget (revenues and expenditure) on
Document of Budgeting Execution (DPA) which is still integrated to Health Office. The second recommendation is apply short
course in finance management for Head of Community Health Clinic and treasure. The third is the recruitment policy of the local
government by increasing employee (as treasure in Community Health Clinic) with accounting education background.

Key words : implementation, regulation of management of local budget, communication, resource, disposition and structure of
bureaucratic

PENDAHULUAN waktu dan dapat dipercaya serta disusun

Latar Belakang Masalah sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan yang

Untuk mewujudkan transparansi dan berterima secara umum.

akuntabilitas pengelolaan, Pemerintah Daerah Dalam rangka pelayanan pengelolaan

selaku pengelola dana publik harus mampu keuangan daerah untuk mendorong kegiatan

menyediakan informasi keuangan yang ekonomi dan pembangunan, diperlukan

diperlukan, salah satu upaya yang dapat system yang semakin logis, sistematis dan

dilakukan adalah melalui penyampaian konsisten, dimana aturan main antara

laporan pertanggungjawaban APBD berupa pemerintah pusat dan pemerintah daerah

laporan keuangan secara akurat, relevan, tepat semakin tertata, dan transparan baik dalam

perencanaan, pelaksanaan, pengawasan Ide dasar yang melatarbelakangi

maupun pertanggungjawabannya. ditetapkannya peraturan perundang-undangan

Bahwa dalam pelaksanaan di atas adalah keinginan untuk mengelola

kewenangan pemerintah daerah berdasarkan Keuangan Negara dan Daerah secara

UU No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi terintegrasi, efektif dan efisien. Ide tersebut

daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang sudah barang tentu ingin dilaksanakan melalui

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah tatakelola pemerintahan yang baik yang

Pusat dan Daerah dan peraturan perundang- memiliki 3 pilar utama yaitu transparansi,

undangan yang terkait, timbul hak dan akuntabilitas dan partisipatif. Untuk mencapai

kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan tujuan tersebut maka diperlukan suatu

uang sehingga perlu dikelola dalam suatu peraturan pelaksanaan pengelolaan daerah

sistem pengelolaan keuangan daerah yang yang komprehensif dan terpadu dari berbagai

merupakan sistem pengelolaan negara, serta undang-undang tersebut di atas yang bertujuan

merupakan elemen pokok dalam agar mempermudah pelaksanaannya dan tidak

penyelenggaraan pemerintah daerah. Peraturan menimbulkan multi tafsir dalam

perundang-undangan yang dimaksud antara penerapannya. Peraturan yang dimaksud

lain UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan adalah Peraturan Pemerintah no 58 Tahun

Negara, UU No. 1 tahun 2004 tentang 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

Perbendaharaan Negara , UU No. 15 tahun yang memuat kebijakan yang terkait dengan

2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan,

Tanggung Jawab Keuangan Negara dan UU penatausahaan dan pertanggungjawaban

No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem keuangan daerah.

Perencanaan Pembangunan Nasional.

Untuk melaksanakan pasal 155 Anggaran), biasanya dijabat oleh Kepala

Peraturan Pemerintah tersebut maka SKPD yang bertanggungjawab penuh terhadap

ditetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri anggaran yang dikelolanya.

No 13 tahun 2006 tentang Pedoman Bahwa saat ini berdasarkan ketentuan

Pengelolaan Keuangan Daerah yang telah tersebut di atas, SKPD, sebagai pusat

direvisi sebanyak dua kali pada tahun 2007 pertanggungjawaban dan pelaporan serta

dan 2011, sebagai pengganti Keputusan sebagai entitas akuntansi yang artinya proses

Menteri Dalam Negeri nomor 29 tahun 2002 administrasi penatausahaan mulai dari SPP

tentang Pertanggungjawaban dan Pengawasan (Surat Permintaan Pembayaran), SPM (Surat

Keuangan Daerah serta Tatacara Keuangan. Perintah Membayar) dan verifikasi dilakukan

Maka terjadi berbagai perkembangan dan sendiri oleh SKPD termasuk akuntansi

perubahan yang sangat mendasar terhadap pelaporan atas penggunaan uang dan barang

penyusunan APBD. Tidak hanya struktur yang yang merupakan kewenangan dari SKPD.

berubah tetapi juga meliputi format, prosedur, Pusat Kesehatan Masyarakat atau

bahkan sistem penyusunan APBD juga sering disingkat dengan Puskesmas

berubah. merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah

Bupati sebagai pemegang kekuasaan (UPTD) di bawah Dinas Kesehatan yang

pengelolaan keuangan daerah, saat ini bertanggungjawab menyelenggarakan

mendesentralisasikan sepenuhnya keuangan pembangunan kesehatan di 21 wilayah

daerah kepada SKPD (Satuan Kerja Perangkat kecamatan di Kabupaten Jombang. Dalam

Daerah), SKPKD (Satuan Kerja Pengelola melaksanakan tugasnya Puskesmas juga

Keuangan Daerah) dan Sekertaris Daerah membutuhkan pengelolaan keuangan

sebagai koordinator, sedangkan PA (Pengguna (penerimaan dan pengeluaran) yang baik

03. tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan dengan nama Kegiatan : Penyediaan Biaya Daerah ini telah mengakibatkan berubahnya Operasional dan Pemeliharaan (16. Sedangkan 2006 (yang telah mengalami perubahan untuk kegiatan operasional Puskesmas mulai sebanyak 2 kali yaitu Permendagri no 59 tahun pertengahan tahun 2009 telah diusulkan 2007 dan Permendagri no 21 tahun 2011) penganggarannya dalam DPA-P Dinas mulai diberlakukan di Kabupaten Jombang Kesehatan melalui akun Belanja Langsung. Sesuai Perda Kabupaten Jombang yaitu Belanja Jasa Administrasi Pelayanan Nomor 5 tahun 2005 dan Keputusan Bupati Kesehatan di Puskesmas yang digunakan Jombang Nomor 188/6/415. Dari hasil pemeriksaan BPK pada Dari hasil pemeriksaan BPK yang akhir tahun 2008 menyebutkan bahwa semua selalu memberikan opini WDP (Wajar Dengan pemasukan/ pendapatan/PAD harus disetor Pengecualian) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Jombang sejak tahun 2005 sampai dulu seluruhnya (bruto) ke Kasda.(akuntabel.12/2004 untuk memenuhi kebutuhan belanja menyebutkan bahwa hasil retribusi pelayanan operasional di Puskesmas. Permendagri yang mengatur Program Upaya Kesehatan Masyarakat. Maka sejak dengan tahun 2011 yang menjadi pemacu .2.13) dengan paradigma di dalam pengelolaan keuangan di pembebanan pada kode rekening (5.2. efektif. jumlah belanja operasional yang kurang dari PAD puskesmas (50-70%).16) Puskesmas. Kas Daerah mulai diterapkan pada 34 Di dalam Permendagri no 13 tahun Puskesmas se Kabupaten Jombang. efisien) sesuai dengan bulan April 2009 sistem setor 100% PAD ke peraturan perundangan yang berlaku. keharusan setor retribusi dalam 1x24 kelancaran tugas pelayanan kesehatan di jam sehari. Puskesmas. Permasalahan yang kesehatan dari Puskesmas 50% disetorkan ke menjadi kendala di Puskesmas adalah sering Kas Daerah dan 50% dapat digunakan terlambatnya turunnya uang panjar (SPP- langsung oleh Puskesmas unruk menunjang TU/GU). sejak TA 2007.

maka rumusan masalah bersama-sama mempunyai pengaruh yang penelitian ini adalah Gambaran faktor yang signifikan terhadap keberhasilan Permendagri berpengaruh terhadap implementasi No. sebelumnya. maka penelitian ini dilakukan undangan tentang manejemen dan akuntansi dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang keuangan daerah dalam menerapkan dan gambaran yang mempengaruhi pengelolaan menjalankan tugas masing-masing. baik Berdasarkan latar belakang masalah dari segi regulator maupun operator dan perumusan masalah yang telah diuraikan (pengimplementasi) peraturan perundang. maka sebagai implementasi Permendagri No. 13 peneliti tertarik untuk melakukan penelitian Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan . retribusi dan belanja operasional puskesmas Berdasarkan uraian di atas. Dari hasil penelitian yang dilakukan pengelolaan keuangan Puskesmas di oleh Azhar (2008). sumber daya manusia telah diuraikan di atas.bagi Pemerintah Kabupaten Jombang untuk tentang gambaran faktor yang berpengaruh selalu berupaya memperbaiki kinerja SKPD tehadap implementasi Permendagri No 13 termasuk Dinas Kesehatan dalam Laporan Tahun 2006 dan perubahannya terhadap Keuangannya. tentang faktor-faktor yang Kabupaten Jombang. khususnya dalam pengelolaan Sutrisno (2012) dari Universitas negeri Retribusi dan Belanja Operasional Puskesmas. Permasalahan Penelitian 13 Tahun 2006 menunjukkan bahwa Berdasar latar belakang masalah yang komitmen organisasi. 13 Tahun 2006. sedangkan regulasi tidak Permendagri No 13 Tahun 2006 dan mempengaruhi secara signifikan. Sedangkan perubahannya di Puskesmas Kabupaten penelitian yang dilakukan oleh Andik Tri Jombang. Surabaya menyimpulkan bahwa secara umum Tujuan Penelitian berbagai faktor harus dipertimbangkan. mempengaruhi keberhasilan Permendagri No.

Bagaimana wujud ’sarana’ ini adalah untuk pengembangan literatur tersebut agar kebijakan publik dapat berjalan? tentang faktor yang berpengaruh terhadap Sabatier & Mazmanian menegaskan implementasi Permendagri di atas. masyarakat. pengelolaan keuangan baik dari sisi 1. Secara praktis. Hal lain dalam menyediakan sarana untuk menjalankan kegunaan secara akademis dari penelitian kebijakan publik. penelitian ini akan penerimaan maupun belanja khususnya di berguna sebagai upaya pendekatan ilmiah UPTD Puskesmas serta sebagai khasanah dan analisis akademis terhadap memperdalam kemampuan teoritis dan implementasi kebijakan pengelolaan pengetahuan bagi pembaca serta penulis keuangan daerah sesuai Permendagri No khususnya. Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang peneliti dan lainnya. bahwa implementasi kebijakan berarti .Keuangan Daerah yang telah dirubah dengan 2. melalui penelitian ini pula Permendagri 59 Tahun 2007 dan Permendagri diharapkan mampu memberikan implikasi 21 Tahun 2011. Manfaat penelitian dapat dalam membuat kebijakan tentang diuraikan sebagai berikut. Secara akademis. diharapkan dapat memberi manfaat bagi Pemerintah Kabupaten Jombang dan Pemerintah Kabupaten Jombang. 13 tahun 2006 yang telah diubah dengan TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI Permendagri No 59 Tahun 2007 dan Implementasi Kebijakan Publik Permendagri no 21 Tahun 2011 terutama Kata implementasi dalam kamus pada Pengelolaan Retribusi dan Belanja Webster hanya dinyatakan sebagai : Operasional Puskesmas. praktis dan sebagai wacana untuk Manfaat Penelitian masukan bagi lembaga yang Penelitian yang akan dilakukan mengeluarkan aturan-aturan keuangan.

Bahwa tersebut dilaksanakan. memang ada kebijakan yang bersifat self Dari sudut pandang Keputusan executed. langsung dari pengimplementasian kebijakan Karena implementasi merupakan (programmes performance). apakah perlu kebijakan direvisi undang – undang. Outputs adalah hasil yang dimaksud. Sedangkan perwujudan nyata dari (isi/tujuan) kebijakan outcomes (impacts/effects) adalah dampak publik. maka aktifitas-aktifitas implementasi perubahan yang terjadi setelah kebijakan haruslah dilakukan secara cermat. sebab dari hasil hasil pembuatan Keputusan Rasional) implementasi tersebut kinerja pemerintah mengatakan bahwa untuk mengatasi masalah dapat dinilai. maka program-program kerja yang merujuk pada implementasi adalah proses bagaimana masalah yang akan ditangani oleh kebijakan.mewujudkan suatu keputusan kebijakan yang implementasilah kebijakan memperoleh memiliki legalitas hukum . maka Implementasi dapat dimaknai dilaksanakan. peraturan pemerintah. dll dalam bentuk Dari sudut pandang sistem.bisa berbentuk umpan balik. Misalnya kebijakan (sebagai proses implementasi. tidaklah mengurangi makna sebagai preposisi konkrit untuk mengatasi penting dari kecermatan dalam menyusun masalah publik. maka dari hasil diperkirakan akan mampu mengatasi masalah . keputusan eksekutif. atau tidak. Selain itu sebagai bagian dari “Y” diperlukan tindakan “X” yang proses kebijakan. yakni yang dapat langsung Rasional. menstranformasikan input (tujuan dan isi Program–program inilah yang kemudian kebijakan) ke dalam bentuk rangkaian disusun struktur pengimplementasiannya agar tindakan operasional guna mewujudkan hasil selanjutnya menghasilkan perubahan yang diinginkan oleh kebijakan tersebut sebagaimana yang diinginkan oleh kebijakan (outputs dan outcomes).

yakni berpengaruh secara langsung atau tidak memilih tindakan – tindakan operasional yang langsung. Diantaranya adalah tindakan yang telah disahkan. karena seringkali masalah justru tindak lanjut (setelah sebuah program atau timbul karena kenyataan di lapangan justru kebijaksanaan ditetapkan) yang terdiri atas tidak sesuai dengan yang diperkirakan. yang bisa merancang struktur implementasinya. serta pilihan cara diterjemahkan ke dalam bentuk – bentuk mengoperasionalkannya. langkah – langkah Sasaran – sasaran program bahkan strategis maupun operasional yang mungkin harus direvisi secara drastis saat ditempuh guna mewujudkan suatu . faktor kritis dalam proses implementasi adalah tingkat kewenangan dll. kebijakan dengan tindakan-tindakan pp. maka implementasi adalah cara untuk program tersebut dilaksanakan. tipe kebijakan. Pressmann & Wildavsky (1984. Dengan kesulitan menjembatani antara tujuan kalimat lain. selain karena menguji validitas preposisi tersebut. Walau dapat memperjelas: telah diperhitungkan sedemikian rupa. maka kreatifitas aparat. Proses implementasi program berarti kesulitan dalam proses implementasi kebijaksanaan adalah “rangkaian tindakan telah tiada. hubungan antar pelaksana. kemampuan dan Sebagai tindakan intervensi. pengambilan keputusan. bukan 1. waktu. tepat. serta mengoperasionalkan tindakan – Pernyataan Muhammad Syukur tindakan tersebut secara tepat pula ke dalam Abdullah (1988) berikut ini mungkin akan bentuk Program dan Proyek/Kegiatan.tersebut. juga karena “implementation of policy” adalah banyak variabel yang dapat mempengaruhi menjalankan program kerja yang disusun dan membatasi pilihan (alternatif) tindakan setelah hipotesis permasalahan ditemukan dan operasional. uang. xiv – xv) menyatakan bahwa operasional yang dapat dijalankan.

program atau kebijakan menjadi ditelaah dari bagaimana aktor – aktor yang kenyataan. mencapai suatu tujuan yang telah 2. struktur. sumber daya . 1. komunikasi. yaitu: menciptakan suatu sistem. Sedang proses politik dapat dominan dalam implementasi kebijakan . kurang Implementasi Kebijakan Model George C. Birokrasi merupakan institusi yang ditetapkan. yang pengaruhnya dapat bersifat disposisi. yang sesungguhnya dapat berhasil. ditinjau Edward III dari wujud hasil yang dicapai atau George C. Edward III mengkaji empat outcomes. untuk mencapai sasaran dari terlibat tersebut memilih dan menentukan program yang telah ditetapkan sejak alternatif – alternatif mana yang harus semula. diambil dan dapat digunakan dalam 2. karena dalam proses tersebut faktor atau variabel dari kebijakan yaitu turut bermain dan terlibat berbagai unsur struktur birokrasi. proses administrasi dapat karakteristik birokrasi sebagai hasil ditunjukkan melalui bagaimana para aktor pengamatan terhadap birokrasi di Amerika yang terlibat dalam kebijaksanaan Serikat. Birokrasi diciptakan sebagai instrumen prosedur dan aturan – aturan untuk dalam menangani keperluan-keperluan melaksanakan kebijaksanaan dalam rangka publik (public affair). mendukung atau menghambat pencapaian sasaran program. Pada dasarnya implementasi kebijaksanaan Ripley dan Franklin dalam Winarno memuat suatu proses tindakan administrasi (2005:149-160) mengidentifikasi enam dan politik. berhasil atau gagal sama sekali. Proses implementasi dalam kenyataan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Struktur Birokrasi 3.

Birokrasi mempunyai naluri bertahan dan dapat berfungsi untuk menyeragamkan hidup yang tinggi dengan begitu jarang tindakan-tindakan pejabat dalam organisasi ditemukan birokrasi yang mati. sehingga 6. Birokrasi bukan kekuatan yang netral dan dapat menimbulkan fleksibilitas yang besar tidak dalam kendali penuh dari pihak luar. Ketika struktur birokrasi tidak kondusif berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan terhadap implementasi suatu kebijakan. kompleks menuntut adanya kerjasama banyak Sifat kedua dari struktur birokrasi yang pihak. sumber daya serta kebutuhan 3. dapat mengoptimalkan waktu yang tersedia 5. Birokrasi mempunyai sejumlah tujuan penyeragaman dalam organisasi kerja yang yang berbeda. 4. Fungsi birokrasi berada dalam lingkungan Dengan menggunakan SOP. Edward III dalam hal ini akan menyebabkan ketidakefektifan Winarno (2005:155) menjelaskan bahwa dan menghambat jalannya pelaksanaan ”fragmentasi merupakan penyebaran tanggung kebijakan. publik yang mempunyai kepentingan Operational Procedure (SOP) merupakan yang berbeda-beda dalam setiap perkembangan dari tuntutan internal akan hierarkinya. para pelaksana yang kompleks dan luas. ”Standard melaksanakan kebijakan. jawab suatu kebijakan kepada beberapa badan Menurut Edwards III dalam Winarno yang berbeda sehingga memerlukan (2005:150) terdapat dua karakteristik utama koordinasi”. semakin berkurang . kompleks dan luas”. 2005:150). (Winarno. maka adalah fragmentasi. dan kesamaan yang besar dalam penerapan Implementasi kebijakan yang bersifat peraturan. Pada umumnya. semakin besar dari birokrasi yakni: ”Standard Operational koordinasi yang diperlukan untuk Procedure (SOP) dan fragmentasi”. kepastian waktu. yang kompleks dan tersebar luas.

kebijakan. merugikan bagi keberhasilan implementasi Sumber Daya kebijakan. bahwa sumberdaya tersebut dapat diukur dari ”Kedua. fungsi-fungsi tertentu ke dalam lembaga atau Money. Berikut hambatan-hambatan yang Syarat berjalannya suatu organisasi terjadi dalam fregmentasi birokrasi adalah kepemilikan terhadap sumberdaya berhubungan dengan implementasi kebijakan (resources). Sementara Hodge (1996:14) badan yang berbeda-beda. yang terbatas atas suatu bidang. Di samping itu. Hal ini akan kebijakan baru yang membutuhkan menimbulkan konsekuensi pokok yang perubahan”. Jr (1994:14) ”Pertama. Facilities. People”. Jika suatu badan mempunyai resources will mean that laws will not be . Material resources. mengelompokkan sumberdaya ke dalam: masing-masing badan mempunyai yurisdiksi ”Human resources. “Insufficient perubahan.2005:153-154): sumberdaya. dalam berbagai agenda birokrasi yang Edward III (1980:1) mengemukakan menumpuk”. Seorang ahli dalam bidang publik (Budi Winarno. Material. maka badan itu akan berusaha Fragmentasi mengakibatkan mempertahankan esensinya dan besar pandangan-pandangan yang sempit dari kemumgkinan akan menentang kebijakan- banyak lembaga birokrasi. tidak ada otoritas yang kuat dalam mengelompokkan sumberdaya ke dalam: implementasi kebijakan karena terpecahnya “Information. pandangan yang sempit dari badan aspek kecukupannya yang didalamnya tersirat yang mungkin juga akan menghambat kesesuaian dan kejelasan. Financial resources and Information tugas yang penting mungkin akan terlantarkan resources”.kemungkinan keberhasilan program atau fleksibilitas yang rendah dalam misi-misinya. maka tugas. Equipment. Schermerchorn.

mencukupi. Indikator-indikator yang digunakan kebijakan. (Tachjan. Kedua.enforced. sumber daya bertalian dengan biaya atau Penambahan jumlah staf dan implementor pengorbanan langsung yang dikeluarkan oleh saja tidak cukup menyelesaikan persoalan organisasi yang merefleksikan nilai atau implementasi kebijakan. salah-satunya input dalam organisasi sebagai suatu sistem disebabkan oleh staf/pegawai yang tidak yang mempunyai implikasi yang bersifat cukup memadai. Sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf atau . reasonable regulation will not be developed “. informasi mempunyai dua (2006:158-159). sumberdaya merupakan hal bentuk yaitu: pertama. Dalam implementasi Menurut Edward III dalam Agustino kebijakan. mengimplementasikan kebijakan. Secara ekonomis. tetapi diperlukan kegunaan potensial dalam transformasinya ke sebuah kecukupan staf dengan keahlian dalam output. dan kemampuan yang diperlukan sumberdaya bertalian dengan kemampuan (kompeten dan kapabel) dalam transformasi dari organisasi”. informasi yang penting dalam implementasi kebijakan yang berhubungan dengan cara melaksanakan baik. ataupun ekonomis dan teknologis. tidak kompeten dalam bidangnya. Informasi. Sedang secara teknologis. services will not be provided and pegawai (street-level bureaucrats). Kegagalan yang sering terjadi dalam “Sumber daya diposisikan sebagai implementasi kebijakan. Staf. 2006:135) 2. 1. informasi mengenai untuk melihat sejauhmana sumberdaya data kepatuhan dari para pelaksana mempengaruhi implementasi kebijakan terdiri terhadap peraturan dan regulasi dari: pemerintah yang telah ditetapkan.

jika para pelaksana bersikap kepentingan warga masyarakat. pengangkatan atau adanya dukungan terhadap implementasi dan pemilihan personel pelaksana kebijakan maka terdapat kemungkinan yang kebijakan haruslah orang-orang yang besar implementasi kebijakan akan terlaksana memiliki dedikasi pada kebijakan yang sesuai dengan keputusan awal. Wewenang. tentang ”zona ketidakacuhan” dimana para 4. Komunikasi . Jika para pelaksana kebijakan terdiri dari: mempunyai kecenderungan atau sikap positif 1. Pada umumnya kewenangan Bentuk penolakan dapat bermacam- harus bersifat formal agar perintah dapat macam seperti yang dikemukakan Edward III dilaksanakan secara efektif. Fasilitas fisik merupakan pelaksana kebijakan melalui keleluasaanya faktor penting dalam implementasi kebijakan. ”kecenderungan-kecenderungan atau disposisi Faktor-faktor yang menjadi perhatian merupakan salah-satu faktor yang mempunyai Edward III dalam Agustinus (2006:159-160) konsekuensi penting bagi implementasi mengenai disposisi dalam implementasi kebijakan yang efektif”. Insentif merupakan salah-satu teknik yang kebijakan karena konflik kepentingan maka disarankan untuk mengatasi masalah sikap implementasi kebijakan akan menghadapi para pelaksana kebijakan dengan kendala yang serius. Fasilitas. memanipulasi insentif. Demikian telah ditetapkan.3. menunda dan tindakan (2005:142-143) mengemukakan penghambatan lainnya. Pengangkatan birokrasi. (diskresi) dengan cara yang halus menghambat Disposisi implementasi kebijakan dengan cara Menurut Edward III dalam Winarno mengacuhkan. lebih khusus lagi pada sebaliknya. negatif atau menolak terhadap implementasi 2.

Distorsi komunikasi dapat terjadi kebijakan publik. informasi yang ”komunikasi merupakan salah-satu variabel disampaikan melalui berlapis-lapis hierarki penting yang mempengaruhi implementasi birokrasi. Transmisi. terdapat pertentangan antara menghindari pertanggungjawaban kebijakan. komunikasi sangat karena panjangnya rantai informasi yang dapat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan mengakibatkan bias informasi. Penyaluran komunikasi yang Menurut Winarno (2005:128) Faktor- baik akan dapat menghasilkan suatu faktor yang mendorong ketidakjelasan implementasi yang baik. Menurut Agustino (2006:157). kurangnya konsensus mengenai Terdapat beberapa hambatan umum tujuan-tujuan kebijakan publik. pelaksana kebijakan dengan perintah yang Reformasi Manajemen Keuangan Daerah dikeluarkan oleh pembuat kebijakan. dari implementasi kebijakan publik”. Perkembangan sistem tata kelola Pertentangan seperti ini akan mengakibatkan pemerintahan di Indonesia dalam satu distorsi dan hambatan yang langsung dalam dasawarsa terakhir (1998 s. ketidakmampuan para pelaksana dalam Edward III dalam Agustino (2006:157-158) memahami persyaratan-persyaratan suatu mengemukakan tiga variabel tersebut yaitu: kebijakan”. Tiga masalah penangkapan informasi juga indikator yang dapat digunakan dalam diakibatkan oleh persepsi dan mengukur keberhasilan variabel komunikasi. komunikasi kebijakan.d 2008) mengalami . Ketiga. 1. Berdasarkan informasi dalam implementasi kebijakan hasil penelitian Edward III yang publik biasanya karena kompleksitas dirangkum dalam Winarno (2005:127) kebijakan. Kedua. adanya yang biasa terjadi dalam transmisi masalah-masalah dalam memulai kebijakan komunikasi yaitu: yang baru serta adanya kecenderungan ”Pertama.

reformasi sektor public. pengauditan dan evaluasi tata buku. daerah yang baik.suatu kemajuan yang sangat pesat. tujuan otonomi daerah. mendasarkan pada buku Manual Aspek Utama Reformasi Manajemen Administrasi Keuangan Daerah Keuangan Daerah (MAKUDA) tahun 1981 yang pada Aspek Utama Reformasi Manajemen esensinya belum merupakan sistem Keuangan Daerah meliputi : . yang ada baru sebatas pelaporan. dan sumber digelorakan di tahun 1998 setelah Indonesia daya manusia daerah dalam mewujudkan mengalami krisis multidimensi. khususnya reformasi Merupakan masa awal implementasi manajemen keuangan daerah. 29 tahun 2002. Indonesia telah melewati serangkain proses 2. Era pra-otonomi daerah dan merupakan suatu peraturan menyeluruh desentralisasi fiscal. Selama masa ini dan komprehensif (omnibus regulations) belum ada sistem akuntansi keuangan mulai dari perencanaan. Dalam akuntansi. pemerintah keuangan/ tata buku. Perjalanan reformasi manajemen 3. berkah dari gerakan reformasi yang kelembagaan infrastruktur. tetapi sekadar penatausahaan waktu yang sangat singkat. yaitu : paket peraturan perundangan yang 1. Era pascatransisi (2004-sekarang). Masa ini masih belum manajemen keuangan daerah merupakan suatu mantapnya perangkat hukum. Peraturan Perkembangan Reformasi Manajemen perundangan yang menonjol dalam era ini Keuangan Daerah adalah Kepmendagri No. Era Transisi Otonomi (2000-2003). Pengelolaan keuangan daerah kinerja atas pengelolaan keuangan daerah. Reformasi otonomi daerah. pelaksanaan. keuangan daerah di Indonesia dibagi dalam 3 Adalah masa setelah diberlakukannya fase.

penganggaran dan perubahan struktur tapi juga untuk mendukung tercapainya tujuan anggaran. kinerja a. Anggaran yang tidak terserap (sisa menjadi system desentralisasi ke masing- anggaran) harus dikembalikan lagi ke rekening masing satuan kerja. Neraca. bersangkutan yaitu Laporan Realisasi Perubahan Kelembagaan Pengeloalaan Anggaran. tradisional menjadi sistem anggaran berbasis Penataan ulang kelembagaan prestasi kerja. Perubahan sistem penganggaran pengelolaan keuangan daerah itu selain untuk ini meliputi perubahan dalam proses menyesuaikan system anggaran yang baru.Perubahan Sistem Anggaran system desentralisasi ke masing-masing satuan Perubahan sistem anggaran kerja. Perubahan pengelolaan keuangan di anggaran diukur dari sisi inputnya. Struktur anggaran dirubah dari desentralisasi fiscal. Konsekuensinya kas Negara dan sebagai konsekuensinya setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah anggaran satuan kerja tersebut untuk tahun harus menyelenggarakan akuntansi dan berikutnya terancam tidak akan ditambah menyusun laporan keuangan satuan kerja bahkan bisa dikurangi. yakni pemerintah daerah dari sistem sentralisasi dilihat dari kemampuannya dalam penyerapan pada Bagian Keuangan Sekretariat Daerah anggaran. tersebut antara lain: Pada anggaran tradisional. Beberapa perubahan struktur anggaran tradisional menjadi kelembagaan pengelolaan keuangan daerah penganggaran berbasis kinerja. Bagian Keuangan Perubahan kelembagaan pengelolaan (BPKD/DPPKAD) selanjutnya bertugas keuangan daerah dari system sentralisasi pada mengkonsolidasikan laporan keuangan bagian keuangan Sekretariat Daerah menjadi . dan Catatan Atas Keuangan Daerah Laporan Keuangan.

Satuan Kerja Perangkat Daerah (PPK- Pejabat yang terkait dengan pengelolaan SKPD) keuangan daerah meliputi : 7.seluruh satuan kerja yang ada menjadi 6. Kepala Badan Pengelola Keuangan system tata buku tunggal (single entry Daerah (Biro/Bagian Keuangan) selaku bookkeeping) menjadi sistem tata buku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah berpasangan (double entry bookkeeping). Kuasa Pengguna Anggaran/ Kuasa Aspek yang diperlukan dalam Pengguna Barang reformasi akuntansi adalah perlunya dimiliki standar akuntansi pemerintahan dan perlunya . Kepala Daerah selaku Pemegang SKPD Kekuasaan Pengelolaan Keuangan 8. maka diperlukan reformasi akuntansi Barang sektor publik di Indonesia. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Pemegang Kekuasaan Pengelolaan (PPTK) Keuangan Daerah sekaligus Perubahan Sistem Akuntansi Keuangan merupakan Koordinator Pengelolaan Daerah Keuangan Daerah Perubahan system akuntansi dari 3. Sekretariat Daerah selaku Kuasa 9. Bendahara Penerimaan/ Pengeluaran Daerah. Pembantu 2. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi selaku Pengguna Anggaran/ Pengguna fiskal. 5. (PPKD) sekaligus merupakan Untuk meningkatkan transparasi dan Bendahara Umum Daerah (BUD) akuntabilitas publik dalam rangka mendukung 4. Bendahara Penerimaan/Pengeluaran 1. Pejabat Penatausahaan Keuangan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

(modified cash basis) Perubahan Basis Pencatatan Akuntansi 3. dan keberadaan kekayaan. komprehensif.dilakukan perubahan sistem akuntansi. yaitu keunggulan dan kelemahan. baik basis kas. dan ekuitas organisasi. diantaranya : utang. Dengan sistem 1. oleh pemerintah daerah. akrual modifikasian bersifat continuum dari basis kas sampai basis maupun basis akrual masing-masing memiliki akrual. transaksi yang berpengaruh terhadap keuangan Double entry ditujukan untuk menghasilkan organisasi harus diakui/ dibukukan untuk laporan keuangan yang lebih mudah untuk tujuan pelaporan keuangan. mencerminkan kinerja yang sesungguhnya. catatan. Perbedaan Basis kas Akuntansi . Akuntansi basis akrual (accrual basis) akuntansi yang digunakan. Akuntansi basis kas modifikasian secara lebih komprehensif. Keempat pendekatan ini pada dasarnya basis kas modifikasian. Perubahan teknik perubahan dari single entry menjadi double akuntansi dari basis kas menjadi akrual entry. dan karena single entry tidak dapat memberikan relevan untuk pengambilan keputusan informasi yang komprehensif dan ekonomi. akurat. dan politik. Ada beberapa dilakukan audit dan pelacakan antara bukti basis pencatatan akuntansi yang bias dipilih transaksi. Namun dapat dipercaya. Memang setiap basis 4. Akuntansi basis akrual modifikasian Basis kas ini dinilai mengandung (modified accrual basis) banyak kelemahan. social. Basis akuntansi merupakan dasar Maka beralihlah dari sistem single entry ke akuntansi yang menetapkan kapan transaksi- double entry. Akuntansi basis kas (cash basis) ini maka pengukuran kinerja dapat dilakukan 2. Single entry pada awalnya digunakan bertujuan agar pemerintah daerah dapat sebagai dasar pembukuan di pemerintahan menghasilkan laporan keuangan yang lebih karena cukup mudah dan praktis.

kinerja organisasi secara lebih baik. pemerintah daerah. dan ekuitas secara komprehensif. Namun (timing of recognition). dilakukan penyesuaian untuk menghasilkan yaitu menghasilkan laporan keuangan yang neraca yaitu dengan cara mengakui transaksi kurang komprehensif untuk pengambilan dan kejadian dalam periode berjalan walaupun keputusan serta tidak dapat menggambarkan penerimaan/ pengeluaran kas belum terealisir. Penerapan secara langsung basis akrual membutuhkan daya dukung . padahal selama bertahun-tahun basis kas telah Dengan basis akrual organisasi akan mengakui mendarah daging bagi pegawai keuangan adanya utang. meskipun belum diterima/ dikeluarkan kasnya. Dan pada akhir periode Akuntansi basis kas mempunyai kelemahan. keuangan pada saat terjadinya. yaitu ketika Perubahan secara langsung dari basis sudah menjadi hak atau kewajibannya kas menjadi basis akrual akan bersifat radikal. menggunakan basis kas. yaitu kombinasi dasar kas Basis Kas tidak mencat utang. pencatatan anggaran mampu memberikan informasi aset. Berdasrkan basis kas tersebut. aktiva secara komprehensif. 29 Tahun 2002 mengatur Basis Kas mengakui dan mencatat pemerintah daerah untuk menggunakan basis transkasi pada saat kas diterima/ dikeluarkan.tersebut berkaitan dengan penetapan waktu Pemerintah daerah bisa saja langsung pengakuan dan pengukuran suatu transaksi pindah dari basis kas ke basis akrual. kas modifikasian. piutang dan asset. Dan tidak Dengan demikian. Kepmendagri No. menghasilkan laporan neraca di akhir periode Basis Akrual mengakui transaksi akuntansi digunakan basis akrual. Akuntansi basis transaksi penerimaan kas atau pengeluaran kas kas digunakan untuk menunjukan ketaatan dibukukan pada saat uang diterima/ pada anggaran belanja (spending limits). piutang dan dengan akrual. utang. dibayarkan (basis kas). sedangkan untuk piutang.

menggambarkan secara kebijakan akuntansi (accounting policy). Edward. maka penelitian ini termasuk dalam Yang menjadi fokus dalam penelitian jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang ini antara lain adalah faktor-faktor yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi berpengaruh terhadap implementasi mengenai status suatu gejala yang ada. objektif dan tetap bersandar pada prinsip- perlakuan akuntansi untuk suatu transaksi prinsip teoritis. sesuai model keadaan gejala menurut apa adanya pada saat implementasi yang dikemukakan oleh George penelitian dilakukan (Arikunto. yaitu Permendagri no 13 tahun 2006. tapi yang berusaha menggali fakta-fakta yang ada. Permasalahan penerapan basis Anggaran Belanja Langsung di puskesmas akuntansi bukan sekedar masalah teknis (Belanja Barang dan Jasa/Penyediaan Biaya akuntansi. C. lebih penting adalah bagaimana menentukan menganalisisnya. yaitu bagaimana mencatat transaksi Operasional Puskesmas) di Jombang dengan dan menyajikan laporan keuangan. (accounting choice) dan mendesain/ dengan demikian diharapkan mampu menganalisis sistem akuntansi yang ada.teknologi serta sumber daya manusia yang terhadap pengelolaan Anggaran Pendapatan memiliki latar belakang pendidikan akuntansi (Retribusi Pelayanan Kesehatan) dan yang memadai. 1996:14). mengetahui dan mengkaji kasus yang terjadi METODE PENELITIAN secara utuh. Melihat perumusan masalah dan tujuan Fokus Penelitian penelitian. Peneliti telah menyusun daftar Dalam penelitian ini penulis berusaha pertanyaan untuk menggali data-data baik menggambarkan secara konkret tentang primer maupun sekunder yang didapatkan dari Implementasi Permendagri 13 tahun 2006 hasil kuisioner dan wawancara dengan para . Adapun pendekatan dalam (accounting treatment). pilihan akuntansi penelitian ini menggunakan analisis kualitatif.

informan yang terkait dengan pengelolaan Karena berdasar pada fokus dan lokus keuangan daerah mulai dari DPPKAD. maka sumber sampel penelitian. Jabon) yang menjadi penelitian ini berjenis kualitatif. data manusia dalam penelitian ini disebut Populasi Sampel dan Teknik Pengumpulan informan. Mengingat (Jelakombo. . Dinas penelitian maka populasi sampel adalah 17 Kesehatan maupun UPTD Puskesmas di puskesmas rawat jalan dan 17 rawat inap di Kabupaten Jombang. terbuka kepada 34 Kepala Puskesmas dan 34 Lokasi Penelitian bendahara pembantu di puskesmas di seluruh Lokasi penelitian diambil di Dinas wilayah kabupaten Jombang. Megaluh. Perak. Retribusi Pelayanan Kesehatan. Informan ditentukan secara Sampel Penelitian purposive sampling berdasarkan pemahamannya. Namun karena Kesehatan Kabupaten Jombang dan 3 banyak yang kurang memahami akhirnya puskesmas Rawat Inap (Mojoagung. kabupaten Jombang. 21 Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan dan Tahun 2011dan Peraturan Daerah Kabupaten Bendahara Penerimaan dan Pengeluaran Jombang Nomor 22 tahun 2010 tentang Pembantu di puskesmas. Diharapkan Untuk menjaring data di awal penelitian dengan perpaduan dua hal tersebut mampu peneliti menyebarkan kuisioner yang bersifat memberikan hasil penelitian secara optimal. peneliti memberikan kuisioner dengan Cukir) dan 3 Puskesmas Rawat Inap pertanyaan multiple choice. Mereka yang terkait Keempat indikator ini dipadu dengan implementasi Permendagri 13 tahun 2006 sistem pengelolaan keuangan daerah sesuai tentang pedoman pengelolaan keuangan di Permendagri no 13 tahun 2006 jo Permendagri puskesmas yaitu Kepala Puskesmas sebagai no 59 tahun 2007 jo Permendagri No.

Kemudian peneliti menyebarkan penambahan dari sampel awal yaitu satu kuisioner lagi dengan model pertanyaan sampel kunci. Jabon. Pembantu dan Bendahara Penerimaan Instrument Penelitian Pembantu dibagikan pada tanggal 9 januari Sebagaimana lazimnya sebuah 2013 pada saat ada rapat rutin bendahara penelitian kualitatif. Yang terakhir Kabupaten Jombang pada saat acara Rapat adalah wawancara dengan pejabat pengelola Kerja Kesehatan Daerah pada hari Jum’at keuangan di Dinas Kesehatan Kabupaten tanggal 21 September 2012 di Hotel Sativa. Jombang yaitu Bendahara Penerimaan dan Pacet dengan pertanyaan yang dikaitkan Bendahara Pengeluaran beserta pembantu- dengan faktor-faktor yang berpengaruh pembantunya. Dari 34 kuisioner yang dibagikan dipergunakan adalah daftar pertanyaan. Kepala Sub Bagian Keuangan. maka sampel akhir mengalami Jombang. yang dikembalikan hanya 14. maka instrument yang puskesmas. peneliti juga mengadakan informan untuk mendapatkan data informasi wawancara langsung dengan para informan sesuai dengan tujuan penelitian.Berdasarkan hasil empiris setelah dilakukan tahun 2006 di Puskesmas se Kabupaten penelitian. Selain pertanyaan yang mengarah pada eksploitasi Kuisioner. Cukir dan 3 Puskesmas Rawat Jalan responden yaitu Kepala Puskesmas se (Jelakombo. Dalam yaitu Kepala Puskesmas. di 3 Puskesmas Rawat Inap (Mojoagung. adalah Kepala Dinas Kesehatan tertutup dengan jawaban multiple choice. Kuisioner yang pertama dibagikan pada 34 Perak. Megaluh). terhadap implementasi Permendagri no 13 PPK-SKPD yang dalam hal dijabat oleh . bendahara pembantu pelaksanaannya didukung oleh kuisioner. Kabupaten Jombang selaku Pengguna Kuisioner yang kembali hanya 22. Sedangkan Anggaran dan Bendahara Penerimaan dan kuisioner untuk Bendahara Pengeluaran Bendahara Pengeluaran di Dinas Kesehatan.

memperoleh kesimpulan (Arikunto. peneliti choice diklasifikasi dan dihitung pilihan mendasarkan pada logika analisa data menurut jawaban terbanyak kemudian dianalisis Miles dan Hubermen yang memaparkan 3 alur dengan menggunakan teknik analisis pemikiran. pemusatan perhatian dan data yang ada dianalisis secara rinci pada penyederhanaan. yaitu: kualitatif. Menarik kesimpulan atau verifikasi atas memperoleh kedalaman penghayatan terhadap pola keteraturan dan penyimpangan yang ada dalam fenomena tersebut.Sekertaris Dinas. Bahwa terhadap catatan-catatan tertulis di lapangan. kemudian . dalam mentah diseleksi. Data teliti setiap informasi yang diperoleh. Dimana mengabstraksikan secara 1. Data digambarkan dengan data-data atau kalimat disajikan secara tertulis berdasarkan yang terpisah-pisah menurut kategori untuk kasus-kasus faktual yang saling berkaitan. Peringkasan data (Data reduction). analisa kualitatif dimaksudkan untuk 3. secara empiris. Teknik Analisis Data Kemudian untuk memahami dan Dalam penelitian ini data hasil mengkaji mengenai data-data yang diperoleh penyebaran kuisioner yang bersifat mutiple melalui kasus penelitian yang terjadi. dan Kepala Dinas interaksi atau konsep yang sedang dikaji Kesehatan.7. data yang bersifat kualitatif yaitu yang 2. 1996: Penyajian data disini adalah transformasi 107). 3. Menurut Sanapiah Faisal (1990: 12) data lisan menjadi bentuk tulisan. Penyajian data (data display). pengabstrakan dan sehingga diharapkan dapat diperoleh transformasi data kasar yang muncul dari kesimpulan yang memadai. disederhanakan dan arti setiap data yang diperoleh dilakukan diambil intinya. Pada tahap ini dilakukan pemaparan serta intepretasi secara mendalam proses pemilahan.

oleh karena itu Setelah itu dari hasil wawancara dengan para penyusunan dan pelaksanaan anggaran harus informan akan memperkuat pembahasan memperhatikan norma dan prinsip anggaran selanjutnya. yaitu adanya Permendagri 13/2006 pada Puskesmas se keterkaitan antara dana yang tersedia dengan Kabupaten Jombang. ANALISA DATA DAN Pengelolaan Keuangan Daerah dilaksanakan PEMBAHASAN menggunakan pendekatan “Anggaran Berbasis Untuk mengetahui sejauh mana Kinerja” di mana penyusunan anggaran harus pengaruh faktor-faktor yang dikemukakan dapat memadukan antara perencanaan kinerja George Edward III dalam implementasi dengan anggaran tahunan. dari penelitian awal yang hasil yang diharapkan (output). membuat prediksi atas kemungkinan Sistem penganggaran berdasarkan Peraturan selanjutnya. dan keanekaragaman daerah. dari jawaban hakekatnya merupakan salah satu alat untuk para partisipan dalam hal ini Kepala meningkatkan pelayanan publik dan Puskesmas dan Bendahara Puskesmas kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kemudian diklasifikasi sesuai tingkat tujuan otonomi daerah yang luas. Dengan demikian APBD pertanyaan Dari hasil klasifikasi tersebut akan harus benar-benar mencerminkan kebutuhan didapat pengelompokan yang akan dihitung masyarakat dengan mempertahankan potensi berdasarkan jumlah prosentase terbanyak. Perencanaan menggunakan tehnik kuisioner dengan pilihan dan pelaksanaan anggaran daerah pada jawaban yang telah ditentukan. Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman HASIL. Verifikasi ini bisa sesingkat Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 pemikiran kembali yang melintas dalam dan perubahannya Nomor 59 tahun 2007 serta pemikiran penganalisa. nyata dan keterpengaruhan dari item-item dalam bertanggungjawab. berbasis kinerja terukur. transparasi dan .

PPK dan PPTK). Dikatakannya. membaca tentang Permendagri 13/2006 ternyata George Edward III (1980. Implementasi Permendagri no 13 tahun 2006 Puskesmas yang merupakan Unit di Puskesmas Pelaksana Teknis Daerah bagi Dinas Karena komunikasi merupakan salah satu Kesehatan mau tak mau harus melaksanakan variabel penting yang mempengaruhi aturan-aturan dalam Permendagri 13/2006 implementasi kebijakan publik. IInformasi tentang perubahan tatacara administrasi publik adalah lack of attention to pengelolaan keuangan daerah ini masih hanya implementation. Edward menyarankan untuk Itwilkab (Bawasda) maupun BPK dan ditemukan memperhatikan empat isu pokok agar penyimpangan atau kekeliruan pada dokumen SPJ implementasi kebijakan menjadi efektif. yaitu kegiatan barulah ada kesadaran dari jajaran communication.I) ada yang merasa belum pernah mendapat menegaskan bahwa masalah utama sosialisasi. without terbatas di lingkup Dinas Kesehatan (Bendahara. disiplin anggaran serta Analisis Pengaruh Komunikasi dalam efisiensi dan efektifitas anggaran. Meski sebagian tanggungjawab Dinas Kesehatan sebagai besar sudah pernah mengetahui/mendengar/ instansi induknya. mempelajari dan akhirnya mensosialisasikan Permendagri 13/2006 tersebut. disposition or pengelola keuangan di DPPKAD. . effective implementation the decission of staf SubBag Keuangan. Dinas attitudes dan bureaucratic structure Kesehatan sampai Puskesmas untuk lebih mengetahui. policymakers will not be carried out Ketika ada pemeriksaan/audit baik dari successfully.akuntabilitas anggaran. resource. komunikasi sangat dalam penatausahaan keuangannya karena menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari anggaran Puskesmas masih di bawah implementasi kebijakan publik.

penyusunan rancangan APBD. Sekertaris Puskesmas se Kab. meski mungkin belum Teknis Penatausahaan Keuangan di Lingkungan terlalu lengkap/tuntas. administrasi keuangan. Didalamnya mengatur antara lain (336 pasal) mulai dari : kekuasaan pengelolaan pengelolaan keuangan. keuangan daerah. Menurut Edward III dalam Agustino Kurun waktu antara 2009-2012 untuk (2006:158-159). pertanggungjawaban dan pelaporan.Ketika pada pertengahan tahun 2009 anggaran keuangan hanya dibuat surat tentang Petunjuk belanja operasional Puskesmas dimasukkan dalam Teknis/Belanja Operasional Puskesmas dari DPA-P Dinas Kesehatan. penatausahaan Kesehatan maupun di UPTD Puskesmas. memudahkan pengelola keuangan baik di Dinas perubahan APBD. pengelolaan kas. prosedur pencairan dan keuangan daerah. . 01 tahun 2013 tentang Pedoman Permendagri 13/2006. sumberdaya merupakan hal mensosialisasikan aturan/prosedur pengelolaan penting dalam implementasi kebijakan yang baik. Hal ini bisa dimaklumi Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang Tahun karena isi dari Permendagri 13/2006 banyak sekali Anggaran 2013. Baru pada tahun (PPK-SKPD) maupun KaSubBag Keuangan di 2013 telah disusun dan diterbitkan Peraturan Dinas Kesehatan kepada Puskesmas mengenai Kepala Dinas No. Jombang. meski keuangan daerah. pertanggungjawaban. kerugian daerah. standar penyusunan dan penetapan APBD bagi daerah belanja. terhadap puskesmas dalam pengelolaan pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangannya. akuntansi keuangan daerah. dan Pengaruh Sumberdaya dalam Implementasi pengelolaan keuangan BLUD (Bagian Kedua. mulailah transmisi Kepala Dinas Kesehatan kepada Kepala informasi dari Kepala Dinas (PA). Dengan aturan yang jelas akan yang belum memiliki DPRD. Permendagri no 13 tahun 2006 di Puskesmas Pasal 3). penetapan APBD. azas umum dan struktur APBD. pelaksanaan APBD. masih saja ditemui adanya tindakakan kompromis pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

pengelolaan maupun pertanggungjawaban fungsional kesehatan mungkin tidak ada masalah. Memang idealnya seorang informasi yang berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan. yang seharusnya fokus untuk mengelola keuangan informasi mempunyai 2 bentuk yaitu : pertama di puskesmas. sehingga yang terjadi adalah juga melayani pasien. informasi . sehingga cukup implementasi : kompeten dalam mengelola administrasi keuangan 1. namun anehnya banyak tenaga yang 01/TT/2010 tentang Penyampaian Hasil Penilaian berlatarbelakang pendidikan kesehatan (bidan. dimulai dari perencnaan. Staf. laporan keuangan. Dari keempat puskesmas yang dinilai belum ada satupun yang sudah Namun apabila di samping sebagai bendahara dia memiliki staf yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. Selama aktifitas sebagai bendahara siapkan sebelum keempat UPTD Puskesmas ditetapkan PPK BLUD adalah kesiapan SDM untuk melaksanakan pengelolaan keuangan tidak mengganggu kinerja sebagai tenaga secara mandiri. Sumber daya utama dalam puskesmas.Indikator-indikator yang digunakan untuk melihat bendahara adalah paling tidak lulusan sejauhmana sumberdaya mempengaruhi SMEA/SMK/D3Akuntansi. Dalam implementasi kebijakan. Kedua. ada kegiatan pelayanan di overlapping pekerjaan yang akibatnya pelaksanaan pembukuan hanya dilaksanakan luar gedung atau mengerjakan laporan. Informasi. hal ini seadanya dan hal ini diakui oleh Puskesmas” dapat mengganggu kinerjanya sebagai bendahara 2. nutritionis) justru dipercaya oleh Kepala menyebutkan : Puskesmas untuk menjadi Bendahara di “Berdasarkan hasil penilaian tim teknis. Mungkin perlu direnungkan juga apa implementasi kebijakan adalah staf atau yang disampaikan oleh Kepala Bidang Akuntansi pegawai DPPKAD Kab. perlu kita cermati satu hal penting yang harus kita Puskesmas. Dalam alinea ke tiga sanitarian. Jombang yang juga merupakan Hal ini sesuai dengan hasil kuisioner dari Ketua Tim Teknis BLUD (Badan Layanan Umum beberapa Kepala Puskesmas dan Bendahara yang Daerah) dalam suratnya kepada Sekertaris Daerah berpendapat bahwa diperlukan tenaga yang kabupaten Jombang selaku Tim Penilai PPK kompeten dalam pengelolaan keuangan di BLUD tanggal 9 Desember 2010 Nomor Puskesmas. UPTD Puskesmas.

700/2510/415. gedung Pengaruh Disposisi dalam Implementasi dll). alkes. Selain itu di point 7. Untuk bentuk yang pertama dari pola lama yang hanya menyetor 50% sudah disebutkan. Apalagi adanya aturan bahwa belanja Jamkesda dan SPM dijadikan satu. dana Operasional Puskesmas tidak boleh transport Rujukan dan PONED di Program digunakan untuk membeli barang-barang yang Jamkesmas. pelayanan kesehatan di puskesmas diperlukan Nomor : X. Yang berbunyi reagen. untuk membeli Reguler TA. Jamkesda sekaligus Bendahara termasuk rekening belanja modal (mebelair. barang elektronik. Setelah tujuh tahun menerapkan pendapatan puskesmas kemudian harus setor Permendagri 13/2006 ternyata oleh Itwilkab masih semua ke Kasda memang pada awal saja ditemukan kesalahan baik administrative pemberlakuan aturan tersebut banyak mendapat maupun berpotensi merugikan Negara. Penerimaan dan Pengeluaran dana Kapitasi Askes. sukwan dll). 2012 point no 6. Seperti respon negatif dari Kepala Puskesmas. kendaraan bermotor. SPJ kegiatan yang bersumber penyelewengan. Hal ini harus dipertangggungjawabkan tiap bulan ke disebabkan kekurangfahaman Bendahara Dinas Kesehatan (setelah menerima uang panjar Puskesmas sehingga mengakibatkan rawan terjadi dari SPP-GU/TU). Bendahara dari dana operasional puskesmas harus bisa Penerimaan Pembantu merangkap menjadi dikumpulkan tanggal 5 bulan berikutnya.mengenai data kepatuhan dari para pelaksana Perubahan sistem pengelolaan keuangan terhadap peraturan. PDAM. obat yang habis. Kendala lain yaitu waktu pencairan/turunnya Permendagri no 13 tahun 2006 di Puskesmas panjar dana operasional puskesmas yang tidak . Hal ini bisa yang tercantum dalam Surat Bupati Jombang dimaklumi karena untuk menunjang kebutuhan Kepada Kepala UPTD Puskesmas Mojoagung. telpon. bayar insentif tenaga Buku Kas Umum Pembantu Dana Jamkesmas. ATK. Apalagi Bendahara Pengeluaran untuk klaim rawat inap.37/2012 perihal sejumlah dana yang selalu tersedia (misal : bayar Rekomendasi Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan listrik.

dan manfaat untuk masyarakat.teratur tiap bulannya dengan jumlah yang juga jawab dengan memperhatikan azas keadilan. maupun tidak (saat santai) kepada pengelola Analisis Pengaruh Faktor Struktur keuangan di puskesmas yang terus menerus Birokrasi dalam Implementasi disampaikan oleh Kepala Dinas. Tapi dengan sosialisasi puskesmas yang turun ke puskesmas sudah intensif yang menyentuh nurani terdalam mereka terpenuhi 100%. alasan antara lain : latarbelakang pendidikan taat pada peraturan perundang-undangan. transparan. sistem dan prosedur pengelolaan digambarkan bahwa untuk kompetensi. Sehingga puskesmas dapat selama kurun waktu 4 tahun baik di forum formal membayar jasa pelayanan untuk karyawannya.5 thn ini (2012-2013) dana operasional operasional puskemas. akhirnya secara berangsur Dari paparan hasil penelitian tentang mereka bisa memahami dan menyadari bahwa pengaruh faktor struktur birokrasi dapat memang aturan. bendahara yang bukan berpendidikan efisien. jumlah keuangan sudah harus berubah menuju arah yang dan komposisi pejabat/staf yang lebih baik sesuai yang diamanatkan oleh mengimplementasikan Permendagri 13 tahun Permendagri no 13 tahun 2006 pasal (4) yang 2006 masih belum memadai karena berbagai berbunyi : keuangan daerah dikelola secara tertib. Sekertaris Dinas. Permendagri no 13 tahun 2006 KaSubBag Keuangan. ekonomis. atau dengan aturan setor retribusi secara bruto (100%) ketika para bendahara puskesmas datang ke Sub sekarang sudah mulai melunak karena oleh Tim Bag Keuangan dan mengeluh bila menemui Anggaran PemKab Jombang selama kurun waktu hambatan/persoalan ketika mengelola dana 1. tidak pasti (tidak turun 100%). Sikap keberatan mereka biasanya Selain itu sikap Kepala Puskesmas yang disampaikan pada saat rapat rutinan yang biasanya dulunya sering protes atau merasa keberatan dilakukan pada minggu pertama setiap bulan. kepatutan. dan bertanggung ekonomi/akuntansi sehingga kurang maksimal . efektif.

Bendahara Penerimaan dan aturan yang ada demi untuk akuntabilitas dan Bendahara Pengeluaran cukup berperan transparansi anggaran. mempengaruhi keberlangsungan penataan Dukungan dari sumber politik (anggota pembukuan. Kemudian adanya oleh Itwilkab menjadi motivasi tersendiri bagi perubahan/mutasi karyawan baik di Dinkes Puskesmas untuk lebih hati-hati dalam maupun Puskesmas sedikit banyak juga mengelola keuangannya. auditor internal seperti puskesmas yang tersebar di 21 Kecamatan di Inspektorat maupun auditor eksternal seperti Kabupaten Jombang. pengelolaan keuangan legislatif) memang ada meskipun belum puskesmas. KaSubBag selalu berupaya semaksimal mungkin sesuai Keuangan. BPK. dalam pemahaman Kepala Puskesmas mapun Mengenai tingkat komunikasi serta Bendaharanya dan perbaikan terus menerus tingkat kebebasan dalam berkomunikasi baik dalam pengelolaan keuangan di Puskesmas. Evaluasi dan pengendalian terus Sedangkan komitmen UPTD menerus dari Dinas Kesehatan dalam hal ini Puskesmas di Kabupaten Jombang terhadap para pejabat pengelola keuangan di Dinkes implementasi Permendagri 13/2006 yaitu mulai Kepala Dinas. PPK-SKPD. seperti berjalan dengan baik/cukup ketat mulai dari penambahan tempat setoran Bank/Kasda yang Dinas Kesehatan sendiri sebagai organisasi masih sangat kurang dibanding jumlah induk dari Puskesmas. di dalam organisasi (Puskesmas & Dinkes) . karena mungkin beban kerjanya terlalu berat.dalam pengimplementasian aturan/prosedur Pemeriksaan yang dilakukan secara berkala penatausahaan keuangan. Di lain pihak adanya beberapa maksimal dan kurang mengutamakan bendahara yang punya tugas rangkap sehingga kepentingan puskesmas. pemahaman mereka belum sampai secara Pengawasan secara hierarkis sudah teknis dalam penatausahaan keuangan.

BAPPEDA. mandiri. Bareng. mempunyai DPA sendiri dengan KPA Hukum. padahal di situlah titik berat yang tetap dikonsolidasikan dengan organisasi pelaksanaan PPK BLUD. masih memiliki kebijakan akuntabilitas yang menemui jalan buntu. Cukir. tersendiri sehingga masing-masing Puskesmas UPTD Puskesmas tersebut dinilai dapat mengelola anggaran pendapatan dan belum mampu menyusun laporan keuangan belanjanya sendiri. Setelah melakukan memadai baik akuntabilitas kinerja. Hal ini dibuktikan dengan BLUD adalah kesiapan SDM untuk kegiatan di tahun 2010 yang lalu ketika 4 melaksanakan pengelolaan keuangan secara Puskesmas (Mojoagung. Upaya Tim Teknis Penilai BLUD yang anggotanya Kepala Dinas Kesehatan untuk gabungan dari beberapa instansi di PemKab memperjuangkan Puskesmas agar bisa Jombang (DPPKAD. dimulai dari perencanaan.dengan individu-individu di luar organisasi Puskesmas BLUD dengan pendampingan dari dalam pengimplementasian pengelolaan BPKP ternyata tidak disetujui oleh Sekertaris keuangan daerah bersifat terbuka dan bisa Daerah sebagai Ketua Tim Penilai BLUD berjalan dengan baik meskipun untuk Kabupaten Jombang atas pertimbangan dari beberapa hal masih belum ideal. sebagai SKPD pengelola APBD masih Di dalam surat tersebut juga bersikukuh berpendapat bahwa UPTD menyebutkan satu hal paling penting yang Puskesmas dianggap belum mampu mengelola harus disiapkan sebelum keempat UPTD keuangan secara tertib sesuai kaidah yang Puskesmas tersebut ditetapkan sebagai PPK berlaku (SAP). Bag. Organisasi). keuangan pertemuan dan pembicaraan dengan DPPKAD maupun lingkungan dan limbah. Bandar KM) telah dipersiapkan sebagai pengelolaan maupun pertanggungjawaban . Bag. dengan laporan keuangan secara mandiri. selain itu juga belum induknya yaitu Dinas Kesehatan. BKD.

laporan keuangan. Padahal tujuan dari penetapan PPK BLUD adalah pengelolaan keuangan secara fleksibel yang tidak hanya mematuhi kaidah SAP untuk tujuan konsolidai dengan laporan keuangan pemerintah daerah namun juga harus mematuhi kaidah SAK dalam pengelolaan keuangannya. sehingga yang terjadi adalah overlapping pekerjaan yang akibatnya pelaksanaan pembukuan hanya dilaksanakan seadanya. Dari keempat Puskesmas yang dinilai belum ada satupun yang sudah memiliki staf yang memiliki staf yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. .