You are on page 1of 4

3.

Puasa Upaya Pengendalian Diri (Self Controling)

Tujuan Puasa yang sebenarnya adalah menahan diri dari ego duniawi yang tidak terkendali
yang berakibat terjadinya ketidakseimbangan dalam hidup yang berakhir pada kegagalan
dan kehancuran.

Adanya dorongan dari nafsu/bathin secara berlebihan akan menghasilkan tertutupnya hati
nurani yang biasanya disebut buta hati. Ia menjadi seorang yang tidak peka dan tidak
mampu membaca kondisi batiniah dirinya dan lingkungannya secara objektif.

Ia menjadi bodoh,tidak mampu mendeteksi bahaya-bahaya yang ada di hadapannya, tidak
mengerti siapa dirinya. Hatinya tidak berfungsi telah tertutup oleh ego, ia menjadi tuli dan
buta, sehingga tidak mengetahui lagi yang mana yang benar yang mana salah, karena
menurutnya kebenarannya adalah apabila ia dapat mengikuti ego pribadinya. Dengan
berpuasa ia akan menjadi manusia yang merdeka dari jeratan hawa nafsunya, sehingga ia
tetap dapat menjaga fithrah/jati dirinya sebagai hamba Allah sehingga akan menghasilkan
Akhlakul Karimah.

Puasa tanpa niat hanya akan menghasilkan kesia-siaan, menahan nafsu (makan, minum,
sexual) tanpa tujuan yang jelas. Puasa tidak dapat berdiri sendiri tetapi merupakan satu
kesatuan dari rukun Islam dan Rukun Iman.

Dalam keadaan lapar dan haus seringkali membuat kondisi hati tidak terkendali, marah
adalah pelampiasannya. Akibatnya persoalan kecil yang biasanya tidak menimbulkan
masalah apa-apa akhirnya menjadi persoalan serius yang sangat mengesalkan hati dan
membuat kita resah dan gusar. Puasa adalah upaya melatih diri untuk mengendalikan
ledakan emosi itu, sehingga ia terlatih dapat tetap tenang dalam menghadapi berbagai
tekanan atau provokasi.

4.Zakat Upaya Membentuk Ketangguhan Sosial

Zakat pada hakikatnya adalah upaya upaya mengeluarkan potensi fithrah sebagai jati diri
kita ke arah kondisi nyata. Prinsip zakat sendiri adalah mengeluarkan, memberi kepada
lingkungan sosial dalam rangka membentuk rangkaian sinergi yang kuat dalam suatu
jama’ah.

Makna lain dari zakat adalah membersihkan dan menyucikan. Artinya dengan berzakat akan
menghasilkan hati dan jiwa yang suci dan mengganggap bahwa di dalam harta yang ia miliki
terdapat hak-hak orang lain. Dengan demikian, ia akan terhindar dari sifat-sifat kikir dan
bakhil. Memang, sifat dasar manusia adalah suka gelisah, rakus dan kikir. Kalau ditimpa
kesusahan ia berkeluh kesah. Sebaliknya kalau ia diberi nikmat (kebaikan) ia kikir. [lihat QS
al-Ma’arij (70) :19-21]. Jadi zakat bukan untuk menyucikan harta, melainkan menyucikan
jiwa manusia dari sifat kikir dalam upaya menjaga fithrah, kesucian dirinya.
5. Haji Upaya Totalitas Ketangguhan Pribadi dan Ketangguhan Sosial

Dalam melaksanakan ibadah haji beberapa hal yang dilaksanakan selain shalat adalah :

Memakai Pakaian Ihram.

Pakaian melambangkan profesi, jabatan, status seseorang, setelah berniat Haji semua itu
harus ditanggalkan, semua memakai pakaian yang sama, tidak boleh ada lagi perbedaan
antara yang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat, pengusaha dan karyawan.

Tawaf

Melakukan Tawaf, mengelilingi ka’bah 7x putaran dengan tetap mengambil posisi ka’bah di
sebelah kiri. Mengajarkan kepada kita bahwa tidak boleh melupakan Allah setiap hari (7x
dalam seminggu) dengan tetap memperhatikan hati.

Sa’i

Sa’i berjalan dari shafa menuju marwah,7x bolak-balik mengingatkan bagaimana Hajar
berjuang mencari air (simbol kehidupan) , tidak boleh berhenti dalam upaya meraihnya dari
shafa yang bermakna kesucian dan ketegaran menuju marwah yang artinya ideal
manusia,sikap menghargai,bermurah hati.

Wukuf

Wukuf di Padang Arafah. Arafah yang arti harfiahnya pengenalan. Bermakna berhenti untuk
mengenal jati dirinya, menyadari kesalahan dan berupaya tidak mengulangi.

Melontar Jumrah

Melontar Jumrah, melontar musuh yang terletak di dalam hati kita

1. Musuh yang pertama, mudah dideteksi, nafsu lahiriah untuk mempertahankan hidup.

2.Musuh kedua,sulit terdeteksi, keinginan untuk berkuasa.

3.Musuh ketiga,yang paling berat,dorongan untuk mengabdi kepada selain Allah. Dapat
berupa harta, jabatan, kehormatan, konsumerisme, ilmu, profesi, uang, mobil dan cinta.

II.Rukun Iman Upaya Untuk Membangun Mental (Mental Building)

1.Beriman Kepada Allah

Berprinsip kepada yang lain, selain Allah, berprinsip pada sesuatu yang labil dan tidak pasti
seperti harta, nafsu hewani, kedudukan, penghargaan atau apapun akan membuat mental
terombang ambing, sebaliknya bila berprinsip kepada Allah akan menghasilkan mental yang
cukup kuat, siap dalam menghadapi apapun. Beriman kepada Allah menghasilkan mental
yang terpuji karena dalam segala tindakan akan selalu berpedoman pada sifat-sifat Allah
(asmaul Husna) seperti ingin majuAl- Mughniy, ingin selalu adilAl-’Adl, ingin selalu
memberiAl-Wahhaab, ingin selalu kreatifAl-Khaaliq , ingin selalu berfikir jernih Al-
Quddus,dsb (99 sifat Allah asmaul-husna) (Lihat tabel Asmaul-Husna)

2.Beriman Kepada Malaikat

Malaikat adalah makhluk mulia, mereka sangat dipercaya Allah untuk menjalankan
perintahNya. Semua pekerjaan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Seberat apapun pekerjaan
yang diberikan kepada mereka akan dilaksanakan sepenuh hati. Prinsipnya tunggal hanya
mengabdi kepada Allah SWT.

Beriman kepada Malaikat, mengajarkan kepada kita agar meneladani sifat-sifat Malaikat
secara umum adalah kepercayaan yang dimilikinya, loyalitas dan integritasnya yang sangat
mengagumkan.

3.Beriman Kepada Kitab-KitabNya

Mengajarkan kita untuk senantiasa belajar, membaca, menganalisa, sekaligus mengambil
hikmah, kemudian upayakan suatu langkah perbaikan dan penyempurnaan.

Bacalah Alquran beserta maknanya, serap informasinya, terapkan pada diri kita, kita jadikan
ini rujukan kita dalam setiap permasalahan. Begitu juga dengan Hadis.

4.Beriman Kepada Rasul-RasulNya

Mengajarkan kepada kita akan semangat juang para RasulNya yang tidak pernah menyerah
dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran. Dan semua prilaku Rasulullah kita jadikan suri
tauladan dalam kehidupan.

5.Beriman Kepada Hari Akhirat

Kepercayaan seseorang terhadap hari akhir membuat hidup seseorang menjadi teratur,
mereka akan berusaha selalu berperilaku baik dan menjauhi dosa. Mereka akan sadar dan
yakin bahwa apapun yang di perbuat di dunia akan dipertanggungjawabkan dan mendapat
balasan dari Allah Swt.

Harus disadari untuk kehidupan akhirat seseorang harus membawa bekal yang cukup. Oleh
karena itu adanya kehidupan di akhirat akan mendorang kita untuk lebih bersemangat
dalam berkarya sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak.

Dengan kepercayaan kepada kehidupan akhirat akan mendidik manusia agar
mempersiapkan yang terbaik bagi kehidupan masa depannya. Jika kehidupan masa depan di
akhirat kita persiapkan dengan sebaik-baiknya maka secara otomatis kehidupan masa depan
di dunia pun juga akan menjadi lebih baik,
6.Beriman Kepada Takdir Baik dan Buruk

Dapat membangkitkan semangat dalam bekerja dan berusaha, serta memberikan dorongan
untuk memperoleh kehidupan yang layak di dunia ini.

Tidak membuat sombong atau takabur, karena ia yakin kemampuan manusia sangat
terbatas, sedang kekuasaan Allah Maha Tinggi.

Memberikan pelajaran kepada manusia bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini
berjalan sesuai dengan ketentuan dan kehendak Allah SWT.

Mempunyai keberanian dan ketabahan dalam setiap usaha serta tidak takut menghadapi
resiko, karena ia yakin bahwa semua itu tidak terlepas dari takdir Allah SWT.

Selalu merasa rela menerima setiap yang terjadi pada dirinya, karena ia mengerti bahwa
semua berasal dari Allah SWT dan akan dikembalikan kepadanya.