You are on page 1of 31

PENGARUH KONSENTRASI PUPUK CAIR PADA

PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PEPERMIN
(Mentha x piperita) SECARA HIDROPONIK

OLEH:
Dera Ardia T.
NPM : 2013610043

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil’alamin. Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah

SWT yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya, sehingga saya mampu

menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka

memenuhi salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

Jurusan Agroteknologi di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Skripsi ini mungkin tidak dapat diselesaikan oleh penulis tanpa bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak selama penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu,

penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Dr.Ir.Elfarisna, M.Si, selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah

memberikan saran, kritik, bantuan, dan arahan selama saya menyusun dan

menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas waktu dan pikiran yang telah

diberikan untuk membimbing saya, serta kesempatan yang telah diberikan

untuk membantu penelitian yang dilakukan.

2. ……….

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam

penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan

kritik yang membangun dari berbagai pihak guna menyempurnakan skripsi ini.

Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Bogor, 18 Mei 2016

DAFTAR ISI

BAB I ...................................................................................................................... 4
A. LATAR BELAKANG.................................................................................................... 4
Pengertian Hidroponik ................................................................................................ 7
Sejarah Hidroponik ..................................................................................................... 8
B. TUJUAN ................................................................................................................... 9
C. HIPOTESIS ................................................................................................................ 9
BAB II .................................................................................................................. 10
A. LANDASAN TEORI .................................................................................................. 10
1. Tentang Pepermin ................................................................................................. 10
2. Tentang Hidroponik .......................................................................................... 15
3. Larutan Pupuk Cair ........................................................................................... 22
BAB III METODOLOGI ................................................................................... 24
A. Waktu dan Tempat ............................................................................................... 24
1. Alat & Bahan: ........................................................................................................ 24
2. Langkah kerja ........................................................................................................ 24
3. Rancangan Percobaan........................................................................................... 25
3.1. Hipotesis yang Diuji...................................................................................... 26
3.2. Struktur Data: ................................................................................................ 27
3.3. Jumlah Kuadrat dan Kuadrat Tengah ............................................................ 27
3.4. Tabel Sidik Ragam (ANOVA) ...................................................................... 28
3.5. Koefisien Keragaman .................................................................................... 28

Mulai dari proteksi. Maka dari itu diperlukan suatu upaya agar pertanian di Indonesia tidak semakin turun dan bahkan mati.2012). BAB I A. Hal ini menunjukkan betapa tergantungnya penduduk Indonesia pada pertanian. Sektor ini merupakan sektor yang tidak mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah dalam pembangunan bangsa. Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Daerah dengan iklim tropis sangat kaya akan sumber daya alamnya terutama tumbuh- tumbuhannya karena tumbuhan sangat mudah berkembang pada daerah dengan curah hujan yang banyak. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang memiliki tipe iklim tropis sehingga mendapat hujan dan sinar matahari dengan intensitas yang seimbang. . Program-program pembangunan pertanian yang tidak terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan sektor ini pada kehancuran. Tumbuhan di Indonesia pun bermacam-macam. Pertanian di Indonesia bukan hanya sekedar bercocok tanam melainkan sudah menjadi budaya yang sudah mengakar dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. kredit hingga kebijakan lain tidak satu pun yang menguntungkan bagi sektor ini. Meski demikian sektor ini merupakan sektor yang sangat banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung padanya (ismpi. Itulah mengapa sebagian besar wilayah Indonesia digunakan sebagai lahan pertanian.

Petani-petani kecil memiliki kecenderungan konsumsi marginal yang lebih besar. Kondisi pertanian di Indonesia diperparah dengan degradasi lahan pertanian dan konversi lahan pertanian secara besar-besaran. Usaha -usaha pertanian yang lebih kecil adalah padat karya dan menggunakan alat-alat dan permesinan domestik. Pertanian skala kecil dan menengah memiliki efek kaitan yang lebih besar dengan industri domestik dibanding dengan pertanian skala besar sementara juga memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Selain itu. mesin jahit. . Salah satunya disebabkan lahan pertanian yang selalu berkurang dari tahun ke tahun sehingga produksi tanaman pertanian menurun. Lahan pertanian produktif yang sebagian besar berada di Pulau Jawa banyak yang diubah menjadi perumahan- perumahan dan gedung-gedung perkantoran. sepeda. dan alat-alat elektronik yang sederhana. pakaian. Tulus . Juga mereka cenderung mengadakan banyak penanaman dalam pembangunan modal manusia. beralihnya fungsi lahan pertanian menjadi daerah perindustrian menyebabkan semakin sempitnya lahan pertanian yang potensial untuk bercocok tanam. dan bagian marginal lebih besar dari konsumsi mereka diarahkan ke tekstil produksi lokal. dengan mengeluarkan bagian besar dari penghasilan mereka untuk pendidikan (TB. alas kaki dan alat-alat konsumsi yang sederhana seperti lemari es. pertanian Indonesia masih dianggap belum maju. Meskipun teknologi pertanian di Indonesia semakin canggih dengan adanya bioteknologi. Strategi atau industrialisasi yang dipimpin permintaan petani terdiri dari pembangunan pasar konsumsi masal domestik dengan cara memperbaiki produktivitas pertanian skala kecil dan menengah. 2003).

Dari data Badan Pusat Statistik di bawah ini menunjukan adanya penurunan jumlah luas lahan untuk produk sayuran hampir di semua komoditi yang di sajikan pada tabel berikut : Data di atas menunjukan perubahan presentasi dalam kurun waktu 5 tahun (2011-2015). Dari data di atas bisa kita lihat bahwa luas panen sayuran secara nasional menurun yang dapat disebabkan dengan berbagai alasan di lapangan. .

seperti pecahan genting. Uji coba tersebut ternyata berhasil dan patut diberi acungan jempol sehingga banyak ahli agronomi yang terus mengembangkan cara tersebut.Dengan menurunnya jumlah lahan sayuran menyebabkan lahan menjadi semakin sempit sehingga ruang untuk menanam pun semakin berkurang. Dahulu. Di sini termasuk juga bercocok tanam di dalam pot atau wadah lainnya yang menggunakan air atau bahan porous lainnya. Cara kedua ini lebih mendapat sambutan dibandingkan cara yang hanya menggunakan media air. Pada perkembangan selanjutnya. Di kalangan umum. media air diganti dengan media yang lebih praktis. kerikil. peneliti yang bekerja di laboratorium fisiologi tumbuhan sering bermain-main dengan air sebagai media tanam dengan tujuan uji coba bercocok tanam tanpa tanah. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu sistem bercocok tanam yang dapat menggunakan lahan sempit tanpa mengurangi tingkat produktivitas pertanian dan dapat menghasilkan kualitas produksi yang lebih tinggi. maupun gabus putih. pada . istilah ini dikenal sebagai “bercocok tanam tanpa tanah”. efisien dan lebih produktif. Oleh karenanya. pasir kali. Salah satu teknologi pertanian yang dapat digunakan adalah teknologi budidaya tanaman secara hidroponik. Pengertian Hidroponik Istilah hidroponik (hydroponics) digunakan untuk menjelaskan tentang cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Sebagian orang menganggap metode itu sebagai aquakultur (bercocok tanam di dalam air).

manusia purba sudah kerap menggunakan larutan pupuk organik untuk memupuk semangka. Gericke. India dan Cina. Terakhir pada tahun 1936 istilah hidroponik lahir. bermunculan istilah water culture. mentimun dan sayuran lainnya dalam bedengan pasir di tepi sungai. solution culture dan gravel bed culture untuk menyebutkan hasil percobaan mereka yang menanam sesuatu tanpa menggunakan tanah sebagai medianya. WF. Lebih lanjut diceritakanpula. Setelah itu. Ketika ahli patologis tanaman menggunakan nutrien khusus untuk media tanam muncullah istilah nutri culture. istilah ini diberikan untuk hasil dari Dr. di Mesir. Diceritakan. berupa tanaman tomat setinggi 3 meter yang penuh buah dan ditanam dalam bak berisi mineral hasil uji cobanya. ada taman gantung di Babilon dan taman terapung di Cina yang bisa disebut sebagai contoh Hidroponik. seorang agronomis dari Universitas California. bertanam secara hidroponik telah dimulai ribuan tahun yang lalu. Hidroponik ini kemudian dikembangkan secara komersial. teknik itu disebut hidroponik.perkembangan selanjutnya. Cara bertanam seperti ini kemudian disebut river bed cuultivation. Sejarah Hidroponik Menurut literatur. . USA.

tetapi dengan teknik yang sederhana dapat diterapkan oleh siapa saja termasuk ibu rumah tangga. foto dan riwayat kerjanya menjadi headline surat kabar. Jepang yang kalah dari sekutu dan tanahnya tandus akibat bom atom. Bahrain dan negara-negara penghasil minyak yang tanahnya berupa gurun pasir dan tandus pun ikut menerapkan hidroponik. dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat tumbuhnya. Untuk mengetahui ke efektifitiasan penggunaan pupuk cair 2. Sejak itu. Gericke ini menjadi sensasi saat itu. TUJUAN 1. . hidroponik tidak lagi sebatas skala laboratorium. bahkan ia sempat dinobatkan menjadi orang berjasa abad 20. Sejak itu. Memaksimalkan potensi hidroponik untuk komoditi berharga tinggi di pasar. pada tahun 1950 secara gencar menerapkan hidroponik. hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics untuk menyebut pengerjaan atau bercocok tanam. B. C. Kemudian negara lain seperti irak. Mengembangkan pertanian di perkotaan 4. HIPOTESIS Pemberian berbagai konsentrasi larutan pupuk cair memeberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan pepermin. Mengetahui larutan yang paling efektif untuk menghasilkan tanaman secara maksimal 3.

Argentina. Maroko. Iklim dan Tanah Pepermin (Mentha x piperita) tanaman penghasil peppermint ini secara komersial ditanam di daerah beriklim sedang. antara lain di beberapa negara Eropa. Australia. Tentang Pepermin DOMAIN : Eukarya (Eukaryotic) KINGDOM : Plantae (Plant) SUBKINGDOM : Tracheobionta (Vascular Plant) SUPERDIVISION : Spermatohyta (Seed Plant) PHYLUM : Angiospermophyta (Flowering Plant) CLASS : Magnoliopsida (Dicotyledon) ORDER : Lamiales FAMILY : Lamiaceae (Mint Family) GENUS : Mentha (Mint) SPECIES : Mentha x piperita (Peppermint) 1. LANDASAN TEORI 1. BAB II A. terutama pada ketinggian . dan Amerika Serikat.1.

Tanaman mentha secara umum juga menghendaki curah hujan yang tinggi (2000 – 4000 mm/tahun) untuk pertumbuhannya. tumbuh meninggi dan daunnya sedikit berwarna hijau tua. Mentha arvensis misalnya.219 m dpl asalkan suhu udaranya tidak terlalu dingin. India pada ketinggian sampai 1. namun berkisar 8 – 10 cm panjangnya.Perbanyakan dapat juga dilakukan lewat kultur jaringan. baik asal batang maupun stolonnya.200 – 2. sedangkan Mentha piperita 10 cm. Dia juga memberikan hasil yang tinggi dan kualitas minyak yang baik bila dibudidayakan di tanah berpasir. Pepermin paling baik tumbuhnya bila mendapat sinar matahari langsung. Dapat juga ditanam dengan setek sepanjang dua ruas dengan perlakuan zat pengatur tumbuh 2. Bahan Tanam Penanaman mentha dilakukan dengan menggunakan bahan tanaman yang berasal dari setek stolon atau cabang. 1. dengan hari hujan rata-rata 150 – 240 hari. Sedangkan Mentha arvensis tumbuh baik di Jammu dan Uttar Pradesh.5. Bila ternaungi tunasnya sedikit sekali dan tanaman tidak bercabang.100 m dpl. . paling baik ditanam dengan setek sepanjang 8 cm atau lebih. Panjang setek tergantung pada jenis tanamannyam.2. Di Jawa Barat penanaman berbagai jenis mentha pada ketinggian 800 m dpl ternyata dapat menghasilkan kandungan minyak mentha yang baik.1. jumlah cabang. Bahkan dengan perlakuan zat pengatur tumbuh tersebut. dan bobot kering daun yang baik. Sebaliknya semakin tinggi intensitas cahaya matahari akan semakin tinggi pula produksi minyaknya. dapat dihasilkan panjang batang. dan ber-pH 5 – 8 dengan pH optimum 6 – 7.4 D atau auksin + sitokinin.

sedangkan Mentha arvensis yang memiliki sifat tumbuh tegak dapat ditanam lebih rapat. Untuk menghindarkan genangan air perlu dibuat saluran pembuangan air yang cukup.4. Karena itu harus dipilih lokasi yang sistem drainasenya baik. Hanya kita tidak cukup mengandalkan pupuk kandang yang telah diberikan sebagai pupuk dasar saja. atau 40 cm x 50 cm tergantung jenis tanamannya.3. Selain dengan pemupukan. Jika lahan telah siap ditanami. kita juga perlu mengendalikan . Dengan perlakukan itu produksi daun dapat meningkat sampai 56 %. Persiapan Lahan dan Penanaman Lahan untuk mentha haruslah gembur dan bebas genangan. 30 cm x 30 cm. Pemupukan dan Penyiangan Untuk pertumbuhannya yang lebih baik dan produksi terna segarnya yang lebih tinggi kita perlu melakukan pemupukan. sedangkan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan. Untuk jenis yang sifat menjalarnya tinggi seperti Mentha piperita akan lebih baik bila ditanam dengan jarak lebar. dan 150 kg ZK per ha.1. Selain dengan pemupukan. Tanahnya harus diolah dan digemburkan dulu. 1. kemudian dibiarkan selama sekitar 2 minggu. Kita perlu melakukanpemupukan susulan dengan pupuk buatan seperti 100 – 150 kg NPK per ha atau dengan campuran 150 kg urea. Setelah itu tanah olahan dicampur pupuk kandang 20 – 40 ton / ha dan dibuatkan guludan-guludan setinggi 30 cm dengan lebar dasar 120 cm dan lebar atas 90 cm. lakukan penanaman bahan tanaman pada pagi hari dengan jarak 30 cm x 15 cm. 150 kg DS. dapat juga disemprotkan zat perangsang tumbuh seperti GA3 pada konsentrasi 50 ppm.

mengering dan gugur. Apabila keadannya tidak memungkinkan. 1. Selain hama. Hama ini cukup merugikan karena mengakibatkan daun mentha. penyiangan dapat dilakukan dengan tangan. Jika hal ini dibiarkan tentunya akan mengurangi produksi minyak. Malahan utuk hasil produksi yang maksimal. salah satu sumber minyak mentha. mentha juga cukup rawan penyakit layu yang disebabkan cendawan Rhizoctonia solani. Lihat saja di India.gulma dan rumput-rumput liar yang mengganggu. Selain itu penggunaan herbisida yang selektif dapat juga digunakan. Pengendalian Hama dan Penyakit Hama tungau Tetranichus spp merupakan hama penting tanaman mentha. terutama pada musim kemarau. sebab gulma dan rumput liar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi dan kualitas tanaman.5. . terutama pada musim hujan. Penyiangan dapat dilakukan dengan mesin asalkan tidak merusak tanaman yang sedang tumbuh. Hama ini dapat ditanggulangi dengan menggunakan akarsida. 70 % dari biaya produksi untuk suatu areal pertanaman mentha digunakan untuk mengendalikan gulma. Penyakit ini bahkan diketahui paling merugikan pertanaman mentha di Indonesia. kita mungkin harus sanggup mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk melakukan penyiangan. Untuk mengendalikannya perlu dilakukan penyemprotan fungisida. terutama Mentha piperita.

Dari uji-coba penyulingan yang dilakukan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) dengan menggunakan sistem steam boiler. Pada saat pemanenan. Namun panen harus segera dilakukan bila kadar menthol mencapai 45 % atau lebih.1. Panen dan Pasca Panen Pada kondisi di Indonesia. tergantung kondisi lokasi penanamannya. Akan lebih baik jika setiap mendekati waktu panen dilakukan analisis kadar menthol bebasnya. terna harus bebas dari gulma atau tnamaan lain yang tidak diharapkan hasilnya.5 liter solar. sedangkan pada terna kering siap suling kadar airnya tidak melebihi 30 %. dengan interval setiap 2 bulan. makin tua umur panen makin meningkat kadar menthol dan carvon yang dikandungnya. Selain itu pengisian terna kering ke dalam ketel penyulingan harus dibatasi sampai sepertiga isi ketel saja. .5 jam dengan kecepatan penyulingan 6 liter / jam diperlukan 10. Biasanya produksi terna basah Menta piperita mencapai 20 ton / ha / tahun dan Mentha arvensis 10 – 40 ton / ha / tahun. Perlu diingat. Bila kadarnya masih di bawah 41 % pemanenan dapat ditunda beberapa hari. panen terna yang paling baik dapat dilakukan apabila tanaman mendekati atau telah mencapai tingkat pertumbuhan vegetatif yang maksimum. Yang perlu diperhatikan dalam pengolahan hasil ialah kebersihan dan kemurnian terna yang dipanen serta proses pengolahannya. Sebaliknya kandungan metil asetat yang dikandungnya akan cenderung menurun jika umur tanaman makin tua. Sebagai patokan. yaitu dengan proporsi daun tua lebih banyak.6. pemanenan dapat dilakukan setelah 17 – 20 minggu penanaman tergantug kepada varietas yang ditanam dan dilakukan dalam jangka waktu enam bulan. untuk kapasitas bahan kering 100 kg per periode penyulingan selama 1.

Tentang Hidroponik Kultur Hidroponik adalah metode penanaman tanaman tanpa menggunakan media tumbuh dari tanah. Menurut Raffar (1993). untuk Mentha piperita berkisar 0. di mana pertumbuhan perakaran tanaman yang optimum akan menghasilkan pertumbuhan tunas atau bagian atas yang sangat tinggi. Dalam praktek sekarang ini. Pada sistem hidroponik. sistem hidroponik merupakan cara produksi tanaman yang sangat efektif.6% sedang Mentha arvensis berkisar 1. Rendeman minyak yang diperoleh.36 – 2.35 2.5 liter sisanya dipakai untuk proses penyulingan terna dengan menjaga atau mengatur tekanan uap yang masuk tetap 1. .Bahan bakar sebanyak itu yang dipakai untuk membangkitkan tekanan uap sampai 3 kg / cm2 sebanyak 2 liter dan 8. hidroponik tidak terlepas dari penggunaan media tumbuh lain yang bukan tanah sebagai penopang pertumbuhan tanaman. Sistem ini dikembangkan berdasarkan alasan bahwa jika tanaman diberi kondisi pertumbuhan yang optimal. maka potensi maksimum untuk berproduksi dapat tercapai. Secara harafiah hidroponik berarti penanaman dalam air yang mengandung campuran hara. larutan nutrisi yang diberikan mengandung komposisi garamgaram organik yang berimbang untuk menumbuhkan perakaran dengan kondisi lingkungan perakaran yang ideal.2 kg/cm2.2 – 0. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan sistem perakaran tanaman.

jika ada tanaman yang terserang patogen maka dalam waktu yang sangat singkat seluruh tanaman akan terkena serangan tersebut. Kelebihan sistem hidroponik antara lain adalah : 1) penggunaan lahan lebih efisien. antara lain adalah : 1) membutuhkan modal yang besar.2. dan 7) pengendalian hama dan penyakit lebih mudah. Kekurangan sistem hidroponik. 4) kuantitas dan kualitas produksi lebih tinggi dan lebih bersih. sedangkan pada kultur air volume air dan jumlah nutrisi sangat terbatas sehingga akan menyebabkan pelayuan tanaman yang cepat dan stres yang serius. 5) penggunaan pupuk dan air lebih efisien. Chow 1990). dan 3) pada kultur substrat. Kelebihan dan Kekurangan Kultur Hidroponik Beberapa pakar hidroponik mengemukakan beberapa kelebihan dan kekurangan sistem hidroponik dibandingkan dengan pertanian konvensional (Del Rosario dan Santos 1990.1. 3) tidak ada resiko untuk penanaman terus menerus sepanjang tahun. 2) tanaman berproduksi tanpa menggunakan tanah. . 6) periode tanam lebih pendek. kapasitas memegang air media substrat lebih kecil daripada media tanah. 2) pada “Close System” (nutrisi disirkulasi).

Kelompok ketiga adalah unsur-unsur yang secara pasif diserap dari larutan dan sering bertumpuk dalam larutan (Ca dan B). Mo. Kelompok kedua adalah unsur-unsur yang mempunyai tingkat serapannya sedang dan biasanya hilang dari larutan agak lebih cepat daripada air yang hilang (Mg. dan Mn harus tetap dijaga pada konsentrasi rendah dalam larutan untuk mencegah akumulasi yang bersifat racun bagi tanaman. besi (Fe). Unsur-unsur penting Tanaman membutuhkan 16 unsur hara/nutrisi untuk pertumbuhan yang berasal dari udara. hidrogen (H). Unsur-unsur nutrisi penting dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok berdasarkan kecepatan hilangnya dari larutan (Bugbee 2003). Zn. P. magnesium (Mg). boron (B). Kelompok pertama adalah unsur-unsur yang secara aktif diserap oleh akar dan hilang dari larutan dalam beberapa jam yaitu N. Prinsip-prinsip tehnik hidroponik Sistem hidroponik pada dasarnya merupakan modifikasi dari sistem pengelolaan budidaya tanaman di lapangan secara lebih intensif untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman serta menjamin kontinyuitas produksi tanaman. Unsur-unsur tersebut adalah karbon (C). molibdenum (Mo) dan khlorin (Cl). nitrogen (N).2. S. H dan O biasanya disuplai dari udara dan air dalam jumlah yang cukup. tembaga (Cu). Cl). Fe. kalium (K). fosfor (P). Unsur hara lainnya didapatkan melalui pemupukan atau larutan nutrisi. oksigen (O). P. air dan pupuk. Cu. seng (Zn). kalsium (Ca). Unsur-unsur C.2. sulfur (S). mangan (Mn). K dan Mn. N. K. .

Winslow 1992) dan melindungi dari keracunan logam berat (Vlamins dan Williams 1967). tetapi pada konsentrasi agak tinggi menjadi racun bagi tanaman. kekurangan Mn menyebabkan tanaman mudah terinfeksi oleh cendawan Pythium. yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan hara. yaitu dapat melindungi dari serangan hama dan penyakit (Cherif et al. N dalam bentuk ammonium nitrat mengurangi serapan K. Konsentrasi fosfor yang tinggi menimbulkan defisiensi Fe dan Zn (Chaney dan Coulombe 1982). dan unsur mikro. 2. Tembaga (Cu) dan seng (Zn) dapat menekan pertumbuhan mikrobia. dan kualitas tanaman sayuran (Kim 1990).1. Formula nutrisi dan cara aplikasinya Suplai kebutuhan nutrisi untuk tanaman dalam sistem hidroponik sangat penting untuk diperhatikan. hasil. N untuk larutan hidroponik disuplai dalam bentuk nitrat. 1994. Menurut Bugbee (2003). Unsur mikro dibutuhkan dalam jumlah kecil sebagai nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. terutama jika larutan yang digunakan akan disirkulasi (“closed system”) adalah komposisi larutan . Dua faktor penting dalam formula larutan nutrisi. Selain itu juga penting untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit atau hama. Nitrogen mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap pertumbuhan.2. Silikon juga bermanfaat untuk ketahanan tanaman meskipun tidak dikenal sebagai unsur esensial. Ca. Mg. Kandungan amonium nitrat harus di bawah 10 % dari total kandungan nitrogen pada larutan nutrisi untuk mempertahankan keseimbangan pertumbuhan dan menghindari penyakit fisiologi yang berhubungan dengan keracunan amonia. Konsentrasi yang tinggi dalam larutan dapat menyebabkan serapan yang berlebihan. sedangkan K yang tinggi dapat mengganggu serapan Ca dan Mg.

dan konsentrasi larutan (Bugbee 2003). tidak ada satu jenis formula larutan nutrisi yang berlaku untuk semua komoditas. 2) kandungan sodium. membutuhkan keseimbangan jumlah dan komposisi larutan nutrisi yang berbeda. . dan 4) dipilih yang ekonomis. 3) komposisi digunakan bahan yang bersifat tidak antagonis satu dengan yang lainnya. Kedua faktor ini sangat menentukan produksi tanaman. Setiap jenis tanaman. atau unsur- unsur yang tidak dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman harus diminimalkan. khlorida. Beberapa faktor penting dalam menentukan formula nutrisi hidroponik (Hochmuth dan Hochmuth 2003 ) adalah : 1) garam yang mudah larut dalam air. amonium dan nitrogen organik. Menurut Marvel (1974). bahkan antar varietas.

2. Sistem Sumbu (Wick System) Sistem ini merupakan sistem yang paling sederhana.2. Pada sistem ini penopang tanaman terbuat dari styrofoam kemudian diapungkan pada permukaan larutan nutrisi. tanpa adanya aliran air. Dilengkapi dengan aerator atau pompa udara. pergantian nutrisi perlu dilakukan secara periodik atau menggunakan aerator akuarium untuk menambah oksigen terlarut yang diperlukan akar. Biaya untuk sistem sumbu adalah yang paling murah di antara jenis sistem hidroponik lainnya. Berikut ulasan masing-masing sistem dasar tersebut. . sehingga tergolong pula sebagai sistem hidroponik pasif. karena dapat memanfaatkan barang bekas. 2.2. sistem kultur air memungkinkan jumlah oksigen terlarut mencukupi bagi akar tanaman.1. Pilihan sistem yang digunakan hendaknya menyesuaikan dengan ukuran tanaman dan luasan lahan yang dimiliki. Sistem Kultur Air (Water Culture) Sistem kultur air disebut juga sistem rakit apung (floating raft). Larutan nutrisi diserap tanaman melalui sumbu.2. Kekurangannya. ember cat. Pada hidroponik terdapat 6 (enam) jenis sistem dasar yang dapat dipilih. seperti botol air mineral. ataupun styrofoam buah.

akar tanaman akan selalu kecukupan air.2.2. Hal ini dilakukan dengan cara mengalirkan larutan nutrisi secara terus menerus selama 24 jam dengan ketinggian larutan setipis mungkin seperti lapisan film.5. sehingga aliran larutan nutrisi dari dan kembali ke bak penampungan dapat berkesinambungan. laju aliran. Sistem Pasang Surut (Eb and Flow/Flood and Drain) Sistem ini menggunakan prinsip pasang surut. maka sistem ini menggunakan sistem irigasi tetes untuk mengalirkan air yang telah diberi nutrisi. Jenisnya terdiri atas 2 (dua) macam. Sistem NFT (Nutrient Film Technique) Pada sistem NFT.2. yaitu recovery drip system (larutan nutrisi yang tidak terserap tanaman akan kembali ke bak penampungan) dan non recovery (larutan nutrisi yang tidak terserap akan dibuang). Sistem Fertigasi (Fertilizer + Drip Irrigation) Sesuai dengan namanya. . Kelebihan sistem ini adalah pengoperasian mudah serta efisien penggunaan air dan nutrisi. kemudian beberapa waktu kemudian larutan tersebut segera dialirkan kembali ke bak penampungan (surut). dan panjang saluran yang tepat.2. yaitu mengalirkan larutan nutrisi untuk membasahi akar (pasang).3. nutrisi. Proses pasang surut diatur dengan alat pengatur waktu. Rancangan NFT harus dibuat pada kemiringan. 2. 2.4. dan oksigen.

maka akar akan terjaga kelembabannya sekaligus mendapatkan nutrisi yang cukup. 3.6. . seng (Zn). Dengan memberikan pengabutan secara periodik. fosfor (P).2. terdapat dua jenis nutrisi untuk tanaman hidroponik. Sistem Aeroponik Sebagai sistem yang termahal dengan teknologi canggih. oksigen (O). Cara kerja sistem ini adalah melakukan pengabutan pada akar setiap beberapa menit sekali. hidrogen (H). mangan (Mn). molibdenum (Mo) dan khlorin (Cl). besi (Fe). Larutan Pupuk Cair Di pasaran. boron (B). tembaga (Cu). saat ini masih jarang pengusaha atau hobis hidroponik yang menggunakannya. Cara bertanam tanpa media tanah ini membuat tanaman benar-benar bergantung pada nutrisi yang dilarutkan dalam air dan yang diperoleh dari udara. magnesium (Mg). Unsur-unsur C.2. nitrogen (N). kalsium (Ca). H dan O biasanya disuplai dari udara dan air dalam jumlah yang cukup. yaitu nutrisi A dan B (AB Mix). sulfur (S). Keduanya diberikan secara bersamaan setelah masing- masing dilarutkan sebagai master larutan A dan B. Unsur-unsur yang diperlukan oleh tanaman antara lain karbon (C). kalium (K).

Tabel 2. Untuk sistem kocor/siram manual. Untuk penggunaan skala kecil bisa menggunakan jarum suntik untuk menakar volume stok pekat yang kurang dari 5ml. . Dosis Rekomendasi AB Mix: Jika terjadi kekurangan hara sperti daun menguning atau tanaman kerdil maka dosis stok pekat ditingkatkan tapi jika terjadi kelebihan hara yang ditandai dengan ujung daun seperti terbakar maka dosis stok pekat dikurangi. Diberikan 6 hari dalam 1 minggu dan 1 hari nya hanya air bersih. AB mix siap pakai diberikan setiap hari 500-1500 ml per tanaman tergantung cuaca. Untuk penggunaan banyak bisa memakai gelas ukur. Diberikan setiap pagi atau sore.

Lubangi pula bagian bawah gelas plastik secukupnya saja. Gunting g. 1. Bak/ ember plastik b. Waktu dan Tempat Budi daya pepermin menggunakan metode hidroponik sistem sumbu ini di laksanakan pada dd-mm-yyy – dd-mm-yyy di fasilitas rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta. Langkah kerja a. Net pot atau gelas plastic air mineral e. Ballpoint / spidol i. Alat & Bahan: a.Lubangi sterofoam sebanyak 8 lubang. Sumbu kompor/ kain flannel c. Pupuk cair AB mix 2. (gambar) . Benih pepermin k. Pisau f. (gambar) 2. Lidi h. Rockwool (media tanam) j. BAB III METODOLOGI A. Sterofoam d. Persiapan benih dan media tanam 1.

Letakan gelas plastik ke lubang-lubang sterofoam yang telah di buat lalu tutupkan ke bak plastic yang sudah berisi air bersih. 3.sehingga terdapat 75 tanaman yang di teliti. di dapat 25 satuan percobaan. masing-masing satuan percobaan terdiri dari 3 tanaman. (gambar) 4. Tarik sebagian media tanam sehingga menjuntai menembus dasar.Basahi rockwool. (gambar) 5. dalam air 500 ml per tanaman (kontrol) P1 = Larutan pekat pupuk cair 1 x dosis anjuran (control) P2 = Larutan pekat pupuk cair 1. . lubangi setiap rockwol dengan lidi untuk menempatkan benih pepermin..25 x dosis anjuran P3 = Larutan pekat pupuk cair 1.5 x dosis anjuran P4 = Larutan pekat pupuk cair 2 x dosis anjuran Setiap perlakuan di ulang sebanyak 5 kali. 7.Posisi dasar gelas plastik sekitar 1 cm dari permukaan air. Rancangan Percobaan Rancangan pecobaan yang di gunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan menggunakan lima perlakuan berbagai konsentrasi larutan pupuk sebagai berikut : P0 = Larutan pekat pupuk cair AB mix 5 ml.Masukkan kain flannel atau sumbu kompor ke bagian gelas plastik berlubang. 3.Tempatkan pada tempat teduh dengan pencahayaan matahari langsung. (gambar) 6.

F Tabel < F Hitung 5%. maka H0 diterima . Hipotesis yang Diuji H0 : T1 = T2 = T3 =T4 = T5 = 0 H1 : paling sedikit ada sepasang Ti yang tidak sama Atau. maka H1 diterima F Tabel > F Hitung 5 %.Yij = respon atau nilai pengamatan dari perlakuan ke i dan ulangan ke j µ = nilai tengah umum Ti = pengaruh perlakuan ke-i Bj = pengaruh blok ke-j ε ij = pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j 3. atau µi≠ µi paling sedikit ada sepasang rata-rata perlakuan yang berbeda. H0 : µ1 = µ 2 = µ 3 = µ 4 = µ 5 = 0 H1 : paling sedikit ada sepasang µ i yang tidak sama. H0: Tidak ada perbedaan rata-rata antar perlakuan.1.

.. Yi’ Y. ..2..3.. I 1 Y11 Y21 . J Y1j Y2j . Yi1 Y.2 . FK = ( Σtotal) 2/ n atau ( Σtotal) 2/ r x t JK Total = Jumlah kuadrat masing-masing pengamatan – FK JK Ulangan = (Jumlah kuadrat total masing-masing ulangan / jumlah perlakuan) – FK JK Perlakuan = (Jumlah kuadrat total masing-masing perlakuan / jumlah ulangan) – FK JK Galat = JK Total – JK Ulangan – JK Perlakuan .. . Yi. ... = SYij 3.. Jumlah Kuadrat dan Kuadrat Tengah Menghitung Jumlah Kuadrat.. Yij S Y...1 2 Y12 Y22 .......j Total Y1’ Y2’ .. .. Yi2 Y.3. . Struktur Data: Perlakuan Ulangan (i) Total (j) 1 2 ..

dbg dbu. dbg dbp. Tabel Sidik Ragam (ANOVA) SK Db JK KT Fhit F 5% F1% Ulangan i–1 JK U JKU/(dbU) KTU/KTG dbu. Koefisien Keragaman XXXXXXXXX .5. dbg Galat ij – (i+j) +1 JK G JKG/(dbG) Total ij – 1 JKT 3.4. dbg Perlakuan j-1 JK P JKP/(dbP) KTP/KTG dbp.3.

2005. Sumarni. Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura: (http://www. Pengaruh media tumbuh dalam kultur hidroponik pada pertumbuhan dan hasil tomat. Hort 11 (4):237 – 243 . Penel.id/Data5tahun/) (di akses 18 Mei 2016) . Hort. 27. ISBN: 979-8403-36-2: Budidaya Tanaman Sayuran dengan Sistem Hidroponik. 10 (2): 7-16 . Suwandi. R. Rosliani dan N. Monografi No.go. . Media tumbuh dan waktu aplikasi larutan hara untuk penanaman cabai merah secara hidroponik. Asandhi. Rosliani. Sumarni. Subur. Buku Hidroponik: bercocok tanam tanpa tanah by Pinus Lingga (1984) . 2001.pertanian. 1983. J. dan A.A. Bul. DAFTAR PUSTAKA . N dan R.

000 .000 3 Bak plastik/ kontainer plastic (25 buah) Rp 125.5 cm (75 buah) Rp 175.000 kemasan) 2 Pupuk Merk Agrifarm AB Mix 2Lset (2pc) Rp 65. LAMPIRAN Rincian Biaya Penelitian Pengaruh Pemberian Larutan Pupuk Cair Terhadap Tanaman Pepermin (Mentha x pipherita ) dengan Metode Hidroponik.000 6 Gelas plastik/ net pot (75 buah) Rp 60.000 Total Rp 555.000 4 Sumbu kompor 2 m x1 m Rp 50.000 5 Rockwool 2. Benih pepermin (1 kemasan isi 10 benih = 8 1 Rp 80.5x2.

A B C D E P5 P1 P2 P3 P4 P1 P2 P3 P4 P5 P2 P3 P4 P5 P1 P3 P4 P5 P1 P2 P4 P5 P1 P2 P3 Cadangan: P0 P0 P0 P0 P0 . LAMPIRAN Denah Penelitian Pengaruh Konsentrasi Pupuk Cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pepermin (Mentha x pipherita) dengan Metode Hidroponik.