You are on page 1of 36

SKENARIO I

BERCAK PUTIH

Ny. A 26 datang ke puskesmas dengan keluhan muncul bercak-bercak
putih yang awalnya kecil namun sekarang semakin membesar,klien
mengatakan dia juga tidak merasakan sakit pada area tersebut. Keluarga
klien mengatakan mereka memiliki tetangga yang memiliki penyakit
yang sama dengan klien.

1. KLARIFIKASI ISTILAH-ISTILAH PENTING
a. Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) adalah suatu organisasi
kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan
masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat di samping
memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.
b. Bercak-bercak putih: penyakit yang menyebabkan hilangnya warna kulit,
yang menggakibatkan sel-sel yang membentuk berhenti berfungsi atau
mati. Maka dari itu terbentuklah bercak-bercak putih pada kulit akibat
melanin tidak mampu memproduksi warna kulit.
c. Sakit: sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa
seseorang sehingga seseorang menimbulkan gangguan aktivitas sehari-
hari baik itu dalam aktivitas jasmani, rohani dan social.
d. Kulit: massa jaringan terbesar ditubuh. Kulit bekerja melindungi dan
menginsulasi struktur-struktur dibawahnyabdan berfungsi sebagai
cadangan kalori.

2. KATA/PROBLEM KUNCI
a. Ny a 26 tahun
b. Bercak-bercak putih
c. Awalnya kecil namun sekarang semakin melebar
d. Tidak merasakan sakit pada area tersebut

3. MIND MAP/Lembar Ceklis
BERCAK PUTIH
a. Mind Map

Morbus Hansen
Ptiriasis Vesicolor
Definisi: Kusta adalah penyakit yang Vitiligo

menahun dan disebabkan oleh kuman Definisi: Suatu infeksi jamur pada kulit.
Definisi: vitiligo vulgaris atau common
kusta (mikobakterium leprae) yang Di temukan di daerah mana saja di badan
generalized vitiligo atau vitiligo non-
menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan termasuk leher dan lengan. Biasanya
segmental didefinisikan sebagai suatu
tubuh lainnya menyerang ketiak,lipat paha,lengan,
gangguan pigmentasi kronik didapat, yang
Etiologi: Penyebab penyakit ini adalah tungkai atas, muka dan kulit kepala yang
ditandai dengan makula putih, seringkali
bakteri yaitu Mycobacterium leprae (M. berambut
simetris dan bertambah luas seiring waktu
leprae). Etiologi:
Etiologi: Vitiligo adalah kelainan yang
Manifestasi Klinis: Infeksi Malassezia furfur (Pityrosporum
bersifat multifaktorial dan poligenik, dengan
Mati rasa orbiculare, Pityrosporum ovale)
patogenesis kompleks yang belum diketahui
Adanya hipopigmentasi Faktor kausatif lainnya yang juga
sepenuhnya. Berbagai teori dihubungkan
Eritematosa signifikan
dengan patogenesis
Terdapat macula, nodula, dan papula Manifestasi Klinis:
Manifestasi Klinis:
Kulit kering Bercak putih pada kulit dengan batas
Bercak berwarna putih susu dengan
Laserasi tegas
depigmentasi yang homogen berbatas tegas
Demam Bersisik halus
gatal pada lesi vitiligo
Kelemahan otot Gatal terutama bila berkeringat

b. Lembar Ceklis

Morbus Ptyriasis Vitiligo
Manifestasi klinis
hansen vesicolor

Ny A 26   

Bercak putih   

Awlnya kecil
namun sekarang  - -
semakin besar
Tidak merasakan
sakit di area  - -
tersebut

Untuk itu hindarilah memakai pakaian yang panas dan gantilah pakaian jika sudah kotor atau berkeringat. Pigmen yang disebut melanin di produksi oleh sel-sel kulit lapisan dalam. TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA 1. Jadi bercak yang dialami oleh klien tidak akan dirasakan.4. Bercak putih dapat terjadi akibat berkurangnya atau hilangnya pigmen kulit bawahnya. sehinganya bercak putih yang awalnya kecil akan membesar. status pasca radang. infeksi jamur dan kusta. karena bakteri telah menginfeksi beberapa bagian tubuh oleh karena itu ketika bagian tangan yang mengalami infeksi maka bagian tersebut tidak akan menimbulkan rasa atau pada bagian tubuh lainya. baik rasa perih panas dan gatal. Bercak putih yang kecil dan menjadi membesar dikarenakan kurangnya menjaga kondisi kesehatan tubuh dan kurangnya menjaga kebersihan atau badan dengan baik dan benar. 3. 2. 6. PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING 1. bisa muncul gejala bercak putih : masalah ini misalnya vitilago. INFORMASI TAMBAHAN . Mengapa muncul bercak putih? 2. Seperti yang kita ketahui kusta kering atau tuberkuloid tandanya yaitu bercak putih dan tidak menular sedangkan dikasus adannya bercak putih dan tetnagganya juga mengalami penyakit yang didierita seperti klien . mengapa seperti itu? 2. Mengapa bercak putih yang awalnya kecil namun semakin membesar? 3. apabila terjadi masalah yang mengenai sel-sel kulit ini. JAWABAN PERTANYAAN 1. Mengapa klien tidak merasakan sakit pada area yang terkena bercak putih? 5. Apa hubungan antara penyakit tetangga klien dengan penyakit yang di alami oleh klien? 7.

Terapi standar untuk reaksi kusta tipe 2 berat adalah kortikosteroid. Indropo Agusni. leprae 4. Prevalensi kusta tertinggi di daerah Asia Tenggara. Sawitri. sehingga seringkali penggunaan kortikosteroid jangka panjang tidak terhindarkan. Hal itu dipersulit juga oleh perjalanan reaksi yang cenderung kronis dan rekurensi yang tinggi. KLARIFIKASI INFORMASI Reaksi kusta tipe 2 adalah suatu episode inflamasi akut yang timbul dalam perjalanan penyakit kusta. leprae mati dan protein dari bakteri yang mati berusaha didegradasi secara bertahap oleh tubuh sehingga menimbulkan reaksi hipersensitivitas. 27 / No. Protein M. Cita Rosita Sigit Prakoeswa Vol. leprae yang mati tersebut berada pada aliran darah sehingga gejala yang ditimbulkan oleh reaksi tipe 2 adalah gejala sistemik. Pasien kusta multibasiler (MB) bisa mengalami reaksi kusta tipe 2 dalam perjalanan penyakitnya yaitu pada saat sejumlah besar bakteri M. namun efikasi terapi standar ini masih didukung sedikit bukti sehingga dosis dan durasi pasti untuk terapi tersebut masih belum jelas. 1 / April 2015 8.5di dunia setelah India dan Brazil. “ Terapi Kortikosteroid Oral pada Pasien Baru Kusta dengan Reaksi Tipe 2 (Oral Corticosteroid Therapy in Leprosy's new patients with Type 2 Reaction) ” Irma Tarida Listiyawati. Terdapat banyak efek samping merugikan yang akan dialami oleh pasien pada penggunaan kortikosteroid jangka . khususnya terjadi pada pasien kusta tipe lepromatosa yang disebabkan oleh deposisi kompleks imun. Perjalanan reaksi kusta tipe 2 berat cenderung kronis dengan rekurensi tinggi sehingga pemberian kortikosteroid yang tidak diawasi dengan baik akan menimbulkan komplikasi. kortikosteroid sebagai obat tunggal maupun kortikosteroid yang dikombinasi dengan klofazimin. dan klofazimin sebagai obat tunggal apabila terdapat kontraindikasi pemberian kortikosteroid untuk reaksi berat. Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Terapi standar untuk reaksi kusta tipe 2 adalah analgesik pada reaksi ringan. Penyakit ini primer menyerang syaraf tepi dan sekunder menyerang kulit dan organ lain. sedangkan Indonesia berada pada comperingkat ketiga terbanyak terjadinya infeksi M.

Soetomo Surabaya dan diharapkan bisa digunakan untuk evaluasi terhadap terapi kortikosteroid oral pada pasien kusta dengan reaksi tipe 2.Penelitian retrospektif ini bertujuan untuk mengevaluasi angka kejadian dan gambaran umum pasien kusta dengan reaksi tipe 2 yang mendapat terapi kortikosteroid oral periode tahun 2009-2011 di Divisi Kusta URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. A 26 datang ke puskesmas dengan keluhan muncul bercak-bercak putih yang awalnya kecil namun sekarang semakin membesar.panjang.klien mengatakan dia juga tidak merasakan sakit pada area tersebut. keluhan muncul bercak-bercak putih yang awalnya kecil namun sekarang semakin membesar. Keluarga klien mengatakan mereka memiliki tetangga yang memiliki penyakit yang sama dengan klien Dari kasus diatas kami mengangkat penyakit Morbus Hansen karena data yang didapat lebih mengarah pada penyakit Morbus Hansen yaitu. ANALISA & SINTESIS INFORMASI Ny. 9. Laporan Diskusi Terlampir . Efek antiinflamasi kortikosteroid tidak bisa dipisahkan dari efek metaboliknya terhadap semua sel yang memiliki reseptor kortikosteroid yang sama sehingga efek samping kortikosteroid meliputi multiorgan.klien mengatakan dia juga tidak merasakan sakit pada area tersebut. Keluarga klien mengatakan mereka memiliki tetangga yang memiliki penyakit yang sama dengan klien 10.

Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik. kadang-kadang tepinya meninggi. Bercak tampak kering. tulang. kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat (djuanda dhi. penyebabnya ialah mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligata. Definisi Morbus Hansen (kusta/lepra) adalah suatu penyakit infeksi kronis pada manusia yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae (M. . Komplikasi saraf serta kecacatan relative lebih sering terjadi sering terjadi dan timbul lebih awal dari bentuk basah. Saraf perifer sebagai afinitas pertama lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas. pantat.2008) B.2010) Kusta adalah penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mikobakterium leprae) yang menyerang syaraf tepi. ekonomi. kulit dan jaringan tubuh lainnya. psikologis (huta barat. otot. dan testis (Amirudin. Kelainan kulit berupa bercak keputihan sebesar uang logam atau lebih. KONSEP MEDIS A. Kusta bentuk kering (tipe tuberkuloid) Merupakan bentuk yang tidak menular. sering di pipi. Klasifikasi Klasifikasi bentuk klinis penyakit kusta dibedakan atas dua jenis yaitu : 1. Masalah tersebut bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai segi social. perasaan kulit hilangsama sekali. paha atau lengan.punggung. Leprae) yang secara primer menyerang saraf perifer dan sekunder menyerang kulit dan mukosa saluran nafas bagian atas mata. jumlahnya biasanya hanya beberapa. sering terjadi gejala kulit tak begitu menonjoltetapi gangguan saraf lebh jelas.2010) Menurut DEPKES RI (2006) penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Pada tipe ini lebih sering didapatkan kelainan urat saraf tepi.

Bentuk ini merupakan yang paling banyak yang ditemukan di Indonesia dan terjadi pda orang yang daya tahan tubuhnya terhadap kuman kusta cukup tinggi. didapatkan bentuk pertengahan atau perbatasan(tipe borderline) yang gejala-gejalanya merupakan peralihan antara keduanya. Masa membelah diri mikobakterium leprae 12-21 hari dan masa tunasnya antara 40 hari-40 tahun. bisa kecil-kecil dan tersebar diseluruh badan ataupun sebagai penebalankulit yang luas (infiltrat) yang tampak mengkilap dan berminyak. leprae). Diantara kedua bentuk klinis ini. Kelainan kulit bisa berupa bercak kamarahan. Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kusta bentuk kering dan terjadi pada orang yang daya tahan tubuhnya rendah dalam menghadapi kuman kusta. Bila juga sebagaibenjolan-benjolan merah sebesar biji jagung yang sebesar di badan. muka dan dauntelinga. Pada bentuk yang parah bisa terjadi ”muka singa” (facies leonina). kulit maupun organ tubuh lain. sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. kulit dan organ lain seperti mukosa saluran nafas bagian atas. Kusta bentuk basah (tipe lepromatosa) Merupakan bentuk menular karena banyak kuman dapat ditemukan baik diselaput lendir hidung. berarti tidak ditemukan adanya kuman penyebab. Mycobacterium leprae merupakan basil tahan asam (BTA) bersifat obligat intraseluler. Kuman kusta berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-8 micro. menyerang saraf perifer. C. Bentuk ini dalam pengobatannya dimasukkan jenis kusta basah. menebalnya cuping telinga dan kadang-kadang terjadi hidung pelana karena rusaknya tulang rawan hidung. . Etiologi Penyebab penyakit ini adalah bakteri yaitu Mycobacterium leprae (M. Sering disertai rontoknya alis mata. hati. 2. Kecacatan padabentuk ini umumnya terjadi pada fase lanjut dari perjalanan penyakit. Pemeriksaan bakteriologis sering kali negative.

5 micro biasanya berkelompok dan ada yang disebar satu-satu. Patofisiologi Setelah mikobakterium leprae masuk kedalam tubuh. Penebalan saraf yang disertai dengan gangguan fungsi Penebalan gangguan fungsi saraf yang terjadi merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer) dan tergantung area yang dilayani oleh saraf tersebut. penyakit berkembang kearah tuberkoloid dan bila rendah berkembang kearah lepromatosa. Lesi kulit yang mati rasa Kelainan kulit dapat berupa bercak keputih-putihan (hipopigmentasi) atau kemerahan (eritematosa) yang mati rasa b. hidup dalam sel dan BTA. perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. D. nodula. dan papula e) Kulit kering f) Laserasi = g) Demam h) Kelemahan otot E. retak. Manifestasi Klinis a.2-0. dan dapat berupa : a) Gangguan fungsi sensorik : mati rasa/kurang rasa b) Gangguan fungi motorik : paresis/paralysis c) Gangguan fungsi otonom : kulit kering. .lebar 0. Respon setelah masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem imunitas seluler (celuler midialet immune) pasien. Kalau sistem imunitas seluler tinggi. edema Secara umum tanda dan gejala dari morbus Hansen adalah : a) Mati rasa b) Adanya hipopigmentasi c) Eritematosa = luka berwarna merah d) Terdapat macula.

Pemeriksaan Bakteriologis Ketentuan pengambilan sediaan adalah sebagai berikut : a) Sediaan diambil dari kelainan kulit yang paling aktif. f) Indikasi pengambilan sediaan apus kulit: . d) Lokasi pengambilan sediaan apus untuk pemeriksaan mikobakterium leprae ialah: 1. Cuping telinga kiri atau kanan 2. Tidak menyenangkan pasien 2. Pemeriksaan Penunjang a. b) Kulit muka sebaiknya dihindari karena alasan kosmetik kecuali tidak ditemukan lesi ditempat lain. c) Pemeriksaan ulangan dilakukan pada lesi kulit yang sama dan bila perlu ditambah dengan lesi kulit yang baru timbul. Positif palsu karena ada mikobakterium lain 3. Tidak pernah ditemukan mikobakterium leprae pada selaput lendir hidung apabila sedian apus kulit negatif. Pada pengobatan. yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit. 4. Gejala klinis lebih sebanding dengan tingkat reaksi seluler dari pada intensitas infeksi oleh karena itu penyakit kusta disebut penyakit imonologik F. Derajat penyakit tidak selalu sebanding dengan derajat infeksi karena imun pada tiap pasien berbeda. Dua sampai empat lesi kulit yang aktif ditempat lain e) Sediaan dari selaput lendir hidung sebaiknya dihindari karena: 1.Mikobakterium leprae berpredileksi didaerah-daerah yang relatif dingin. pemeriksaan bakterioskopis selaput lendir hidung lebih dulu negatif dari pada sediaan kulit ditempat lain.

Bentuk kuman yang mungkin ditemukan adalah bentuk utuh (solid). G. granula (granulates). klofazimin. Semua pasien kusta yang diduga kambuh (relaps) atau karena tersangka kuman resisten terhadap obat 4. Semua pasien MB setiap 1 tahun sekali g) Pemerikaan bakteriologis dilakukan dengan pewarnaan tahan asam. mengurangi ketidaktaatan pasien. globus dan clumps. menurunkan angka putus obat. dan mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan. Program Multi Drug Therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin. Semua orang yang dicurigai menderita kusta 2. yaitu ziehl neelsen atau kinyoun gabett h) Cara menghitung BTA dalam lapangan mikroskop ada 3 metode yaitu cara zig zag. dan DDS dimulai tahun 1981. dan setengah atau seperempat lingkaran. pecah- pecah (fragmented). Program ini bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat. huruf z. Semua pasien baru yang didiagnosis secara klinis sebagai pasien kusta 3. Terapi medik Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah penyembuhan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit. 1. Penatalaksanaan a. Rejimen pengobatan MDT di Indonesia sesuai rekomendasi WHO 1995 sebagai berikut: .

Umur 11-14 tahun : 1) Bulanan 100mg/bln 2) Harian 50mg/3kali/minggu d) Pengobatan MDT terbaru Metode ROM adalah pengobatan MDT terbaru.a) Tipe PB ( PAUSE BASILER) Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa : 1. Umur dibawah 10 tahun : 1) Bulanan 100mg/bln 2) Harian 50mg/2kali/minggu 2. ofloksasim 400mg dan minosiklin 100 mg dan . c) Dosis untuk anak Klofazimin: 1. b) Tipe MB ( MULTI BASILER) Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa: 1. pasien kusta tipe PB dengan lesi hanya 1 cukup diberikan dosis tunggal rifampisin 600 mg. Klofazimin 300mg/bln diminum didepan petugas dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg /hari diminum di rumah 3. Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas 2. Menurut WHO(1998). Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas 2. DDS tablet 100 mg/hari diminum di rumah Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif. DDS 100 mg/hari diminum dirumah Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif.

Penderita memeriksa mata setiap hari apakah ada kemerahan atau kotoran 2. Untuk tipe MB diberikan sebagai obat alternatif dan dianjurkan digunakan sebanyak 24 dosis dalam 24 jam. Penderita memeriksa tangannya tiap hari untuk mencari tanda. Terjadinya cacat pada kusta disebabkan oleh kerusakan fungsi saraf tepi. Kaki direndam dalam air dingin lebih kurang ½ jam 3. Kulit yang tebal digosok agar tipis dan halus 5. melepuh 2. Penderita memeriksa kaki tiap hari 2. baik karena kuman kusta maupun karena peradangan sewaktu keadaan reaksi netral. Penderita harus ingat sering kedip dengan kuat 3. Perawatan umum Perawatan pada morbus hansen umumnya untuk mencegah kecacatan. sedangkan pasien kusta tipe MB dinyatakan DO bila tidak minum obat 12 dosis dari yang seharusnya. Mata perlu dilindungi dari kekeringan dan debu. Masih basah diolesi minyak . b) Perawatan tangan yang mati rasa 1. Perlu direndam setiap hari dengan air dingin selama lebih kurang setengah jam 3. Keadaan basah diolesi minyak 4. luka c) Perawatan kaki yang mati rasa 1. sedangkan untuk tipe PB dengan 2-5 lesi diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. benda tajam. Jari bengkok diurut agar lurus dan sendi-sendi tidak kaku 6. Tangan mati rasa dilindungi dari panas. b.tanda luka. e) Putus obat Pada pasien kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis dari yang seharusnya maka dinyatakan DO. a) Perawatan mata dengan lagophthalmos 1. pasien langsung dinyatakan RFT.

Komplikasi Cacat merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kusta baik akibat kerusakan fungsi saraf tepi maupun karena neuritis sewaktu terjadi reaksi kusta. . Kaki mati rasa dilindungi d) Perawatan luka 1. Kulit yang keras digosok agar tipis dan halus 5. Jari-jari bengkok diurut lurus 6. 4. Bila bengkak. Luka dibersihkan dengan sabun pada waktu direndam 2. Bagian luka diistirahatkan dari tekanan 4. panas. Luka dibalut agar bersih 3. bau bawa ke puskesmas H.

Pengkajian 1. klien mengatakan dia juga tidak merasakan sakit pada area tersebut. Identitas a. KONSEP KEPERAWATAN A. . 3. A Umur : 26 tahun Jenis kelamin : Perempuan Diagnosa Medis : Morbus Hansen 2. Pengkajian fisik Keadaan umum : Klien muncul bercak-bercak putih yang awalnya kecil namun sekarang semakin membesar. Status Kesehatan a. klien mengatakan dia juga tidak merasakan sakit pada area tersebut. Identitas pasien Nama : Ny. Status kesehatan saat ini 1) Keluhan utama (saat masuk rumah sakit dan saat ini) Klien mengeluh muncul bercak-bercak putih yang awalnya kecil namun sekarang semakin membesar 2) Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini Muncul bercak-bercak putih yang awalnya kecil namun sekarang semakin membesar.

Keluarga klien mengatakan mereka memiliki tetangga yang penyakitnya sama dengan klien 2. Tabel analisa data dan diagnosa keperawatan Data Etiologi Masalah DS: Mycobacterium Leprae Kerusakan Integritas Muncul bercak-bercak Kulit putih yang awalnya Menyerang saraf tepi kecil namun semakin lama semakin besar Gangguan fungsi saraf DO: . tepi Terganggunya sel-sel melanosit . Klien mengatakan tidak merasakan sakit pada area tersebut Tidak dikaji 3. Data fokus Data Subjektif Data Objektif 1. Analisa Data 1. Klien mengeluh bercak-bercak putih 2. Kulit : Bercak-bercak putih B.

saraf radialis. Produksi melamin menurun Hipopigmentasi Timbul bercak-bercak putih Dx : Kerusakan Integritas Kulit DS: Mycobacterium Leprae Risiko Cedera Klien mengatakan tidak merasakan sakit Menyerang saraf tepi pada area tersebut Gangguan fungsi saraf DO: . saraf aurikularis Mati rasa Refleks protektif menurun Dx : Resiko Cedera DS: Defisiensi . tepi Mengganggu saraf ulnarius.

Tabel daftar diagnosa keperawatan/masalah kolaboratif berdasarkan prioritas N Tanggal/Jam Tanggal Diagnosa Keperawatan Ttd o ditemukan teratasi 1 Kerusakan Integritas Kulit (00046) Domain 11 : Keamanan/ Perlindungan Kelas 2 : Cedera Fisik 2 Risiko Cedera (00035) Domain 11 : Keamanan/ Perlindugan Kelas 2 : Cedera Fisik 3 Defisiensi Pengetahuan (00126) Domain 5 : Persepsi/ Kognisi Kelas 4 : Kognisi . Keluarga klien Pengetahuan mengatakan mereka memiliki tetangga yang penyakitnya sama dengan klien DO: - C.

Integritas jaringan: Kulit memperparah luka 3. Suhu kulit (4) termasuk drainase warna ukuran kondisi dari luka melalui b. Status Neurologi: Perifer Perlindungan 4. tujuannya perawat dapat 2. Monitor karakteristik luka & membran mukosa 3.Hipertermia terjadinya infeksi yang dapat .Kerusakan integritas keperawatan selama 3 x 24 jam menyebabkan infeksi kulit kulut diharapakan bercak putih pada 2. Respon Pengobatan Domain 11 : Keamanan/ kelembaban dan kondisi area mengetahui tingkat 3. dan bau dari . perawat dapat memonitor a. Monitor warna suhu udem.Lembap 1. ukuran. Perawatan Diri: epidermis dan/atau kulit dan menjaga area Kebersihan dermis sekitar luka agar tidak Setelah dilakukan tindakan Batasan karakteristik : memperparah atau . 1. tujuannya agar dapat Faktor yang 2. dan Kelas 2 : Cedera Fisik matahari juga dapat menjaga dan 5. Kontrol risiko: terpapar sekitar luka keparahan dari luka. Monitor tanda dan gejala infeksi klien berkurang/hilang dengan mengetahui tanda dari berhubungan : di area luka Kriteria Hasil : . Keringat (4) warna. Integritas jaringan: Kulit Observasi Observasi Kulit (00046) & membran mukosa 1. D. Intervensi dan Rasional No Diagnosa NOC NIC Rasional 1 Kerusakan Integritas 1. Sensasi (4) dan bau c. Perawatan Diri: Mandi Definisi : Kerusakan pada mengontrol kelembaban dari 6.

Membandingkan dan (4) mencatat setiap kali d. Ketebalan (4) 4. Tekstur (4) Mandiri luka tersebut e. membersihkan luka dengan pada kulit (4) pembersihan dengan gerakan gerakan sirkuler dari dalam h. pemberian obat-obatan oral ketika melakukan perawatan (4) Sedikit terganggu dapat membantu (4) Ringan penyembuhan luka 7. lakukan 4. Jaringan parut (4) dapat menyebabkan infeksi. Bersihkan luka dengan cairan Mandiri f. Dampak buruk (4) yg lebih banyak yang dapat c. Berikan obat-obatan oral m. Integritas kulit (4) sirkuler. Lesi pada kulit (4) j. Lesi mukosa membran di luka tidak bertambah di (4) tempat yg lebih dalam yang k. Pertahankan teknik balutan steril Catatan: 5. d. Perfusi jaringan (4) g. Respon Pengobatan a. Respon perilaku yang perubahan luka balutan steril agar terhindar di harapkan (4) dai infeksi bakteri lainnya b. Penebalan kulit (4) menggunakan cairan yang n. Interaksi pengobatan 7. Bandingkan dan catat setiap kali 6. Pengerasan kulit (4) tidak berbahaya 6. Pengelupasan kulit (4) 5. dari dalam keluar keluar agar bakteri yang ada i. Intoleransi pengobatan HE perubahan luka agar perawat (4) . l. Pertumbuhan rambut yang tidak berbahaya. perawat mempertahankan 2.

Ajarkan pasien dan keluarga (4) ringan HE mengenai perawatan luka 3. Warna kulit di berkonsultasi dengan perawat sakit dan tidak dalam ekstremitas kanan atas ahli luka jika dibutuhkan perawatan dirumah oleh (4) g. Efek perilaku yang di 8. Anjurkan pasien dan keluarga 9. agar klien dan keluarga ektremitas kiri atas (4) h. Warna kulit di tenaga kesehatan 10. Sensasi di ekstremitas dapat memantau kiri atas (4) c. agar pasien dan keluarga kanan bawah (4) untuk mengenal prosedur d. agar klien mendapatkan a. e. Sensasi di ekstremitas dapat secara mandiri perawatan luka kiri bawah (4) membersihkan dan e. Sensasi di ekstremitas pengetahuan tentang kanan atas (4) pengobawatan dan perawat b. Warna kulit di mengetahui posedur . Sensasi di ekstremitas perkembangan 10. Ajari dan pantau teknik dapat mengetahui harapkan pemberian obat secara mandiri perkembangan dari luka Catatan : apakah mulai membaik atau (4) sedikit terganggu justru bertambah parah 9. Status Neurologi: Perifer 8. Fasilitasi pasien agar dapat tidak berada dalam rumah f. Sensasi yang sama Kolaborasi mengobati luka ketika klien bilateral (4) 11.

Memanfaatkan sumber . Kontrol risiko : kondisi keparahan maupun terpapar matahari penyembuhan luka tersebut a. Secara teratur memeriksakan diri ke dokter (4) d. Memonitor lamanya 12. memfasilitasi klien agar ektremitas kiri bawah dapat berkonsultasi dengan (4) perawat ahli agar klien dapat Catatan: bertanya dan memahami (4 ) sedikit terganggu bagaimana pengobatan dan 4. ektremitas kanan bawah 12. Dokumentasikan lokasi luka perawatan luka yang baik (4) ukuran dan tampilan Kolaborasi i. agar dapat menjadi acuan terpapar matahri (4) yang dapat di laporkan b. Memakai pakaian yang kepada dokter mengenai sesuai untuk melindungi perkembangan luka tersebut kulit (4) c. Warna kulit di 11. Memeriksa obat-obatan yang memiliki efek samping fotosensitif (4) e.

Perawatan Diri : Kebersihan a. informasi terpercaya (4) Catatan: (4) sering menunjukkan 5. Perawatan Diri : Mandi a. Mempertahankan kebersihan tubuh (4) . Memperhatingan kuku jari tangan (4) c. Mencuci badan bagian bawah (4) e. Mencuci badan bagian atas (4) d. Mencuci wajah (4) c. Mengeringkan badan (4) Catatan: (4) Sedikit terganggu 6. Mandi dengan bersiram (4) b. Mencuci tangan (4) b.

Monitor efek samping obat Batasan karakteristik : .diharapakan bercak putih pada mengetahuui efek terapeutik Faktor yang klien berkurang/hilang dengan dari obat yang di berikan berhubungan : Kriteria Hasil : kepada klien .Gangguan mekanisme 1. tujuannya untuk mengganggu kesehatan 3. Status imunitas mengalami cedera fisik 7. Kontrol Risiko akibat kondisi lingkungan penyakit lebih banyak 9. Monitor faktor-faktor lingkungan Domain 11 : Keamanan/ 1. Cara Berjalan mempengaruhi penyebaran 5. Deteksi Risiko yang berinteraksi dengan 10. Keseimbangan Observasi Observasi 2. yang dapat lingkungan sekitar keperawatan selama 3 x 24 jam 2.Disfungsi imun 3. perawat dapat memonitor . Respon Imun Hipersensitif Definisi : Rentan penyakit menular agar dapat 6. Monitor pasien mengenai efek beberapa aspek salah 11.Keamanan Lingkungan dengan memperhatikan sumber adaptif dan Rumah 2. Pergerakan mencegah penyebaran 8. Status Imun Komunitas 1. Status Perawatan Diri sumber defensive terapeutik obat satunya memperhatikan Setelah dilakukan tindakan individu. memonitor faktor – faktor 3. Keseimbangan . Catatan: (4) Sedikit terganggu 2 Risiko Cedera (00035) 1. Kontrol Risiko Komunitas: yang mempengaruhi penyebaran Perlindugan lingkungan yang Penyakit menular penyakit menular Kelas 2 : Cedera Fisik 4.

dengan tujuan mengetahui 2. Monitor kembalinya fungsi b. Mempertahankan 6.pertahanan primer a. Monitor kekuatan pegangan ini (4) b. Mempertahankan obat sensorik dan motorik keseimbangan ketika 4. Surveilans status 8.. Monitor bentuk otot. gerakan 6. tujuan nya agar dapat berdiri (4) memonitor pengaruh dan c. Monitor adanya tanda dan gejala juga perubahan obat yang keseimbangan ketika infeksi sistemik dan lokal diberikan secara tepat 7. berjalan (4) 5. denyut nadi. kulit robek) keseimbangan dari perubahan pengobatan dengan menjelaskan kepada klien posisi duduk ke posisi cara yang tepat agar klien mengetahui berdiri (4) bahwa itu hanyalah efek dari 5. gaya berjalan dan a. Monitor respon cara berjalan hidup berkelompok otot. dan Catatan: perkembangan dari fungsi respirasi (4) Sedikit terganggu sensorik dan motorik 8. Monitor tanda-tanda vital: suhu. dan gaya berjalan . Status imun komunitas motorik. Mempertahankan 4. agar dapat mengetahui imunisasi pada fasilitasi gerakan motorik. bentuk 10. Monitor respon terhadap efek dari obat dan (mis. Tingkat imunisasi sam statu neurologi klien proprioception 7. agar mengetahui bagaimana tekanan darah. dengan tujuan mengetahui dengan atau lebih besar statu neurologi klien garis stndar nasional saat 9.

agar dapat mengidentifikasi pemberitahuan kontak penyakit dan dapat mengenai resiko penyakit mengetahui beberaapa menular (4) b. Monitor pola berkeringat 10. Kepatuhan dengan 9. misalnya rumah apakah masih berfungsi berkelompok (4) dengan baik atau sebaliknya 11. Penegakan program yang lain terhadap penyakit menular dan pengendalian infeksi (4) 13. Kontrol resiko komunitas : menilai status neurologi penyakit menular a. Penyediaan produk untuk menyeimbangkan produksi pendidikan kesehatan yang mengurangi penyebaran keringat klien agar tidak memadai sehubungan dengan penyakit (4) menyebabkan masalah kulit pencegahan dan pengobatan d. Monitor paresthesia: mati rasa c. Tingkatkan akses pada c. dengan tujuan dapat yang terinfeksi (4) 1. memonitor respon terhadap . dengan memonitor respon (4) Sangat Baik cara berjalan perawat dapat 3. Investigasi dan 13. memonitor kekuatan dan kesemutan rekomendasi imunisasi pengangan agar perawat (4) mengetahui tinggkat dari Catatan: kekuatan klien 12. Monitor respon terhadap obat klien 11. Ketersediaan pelayanan fungsi saraf yang masih pengobatan untuk orang aktiv dari klien Mandiri 12.

agar klien lain merasaaman (4) Sedikit terganggu . Perubahan mukosa (4) pasien lain dari infeksi c. Bersihkan lingkungan dengan berikan selanjutnya atau dig (4) Sangat Baik baik setelah digunakan untuk anti 4. agar dapat menjauhkan a. Pergerakan sendi (4) 3. Sediakan lingkungan yang tidak 2. Fungsi neurologis (4) d. Cara berjalan setiap pasien Mandiri a. Berjalan pada jalur lurus penyakit menular pencegaha pengobatan (4) penyakit menular dapat e. Postur saat berjalan (4) 4. dengan menigkatkan b. Respon imun hipersensitif 6. Isolasi orang yang terkena sehubungan dengan d. Cuci tangan sebelum dan sesudah mengurangi terjadinya Catatan: kegiatan perawatan pasien penyakit menular karena (4) Sedikit terganggu sudah memiliki pengetahuan 5. Tetap nyalakan lampu di malam Catatan: perpasien agar mencegah hari sesuai kebutuhan (4) Ringan terjadinya infeksi 4. Pemantauan komplikasi pencegahan berulangnya kejadian obat dapat menetukan penyakit menular (4) apakah obat itu akan tetap di Catatan: 2. Langkah mantap (4) 3. Ganti peralatan perawatan per 1. Perubahan kulit (4) mengancam b. e. Panjang langkah (4) 5. Keseimbangan tubuh saat pasien sesuai protokol institusi pendidikan kesehatan berjalan (4) c. perawat mengganti peralatan 7.

Bergerak dengan mudah 7.6. Kontrol resiko obat matikan pada malam hari a. Status imunitas dan tidak cemas. Berikan obat-obatan sesuai sehingga mmenyebabkan tentang risiko kesehatan dengan tehnik dan cara yang tepat klien jatuh (4) b. dapat a. Gerakan sendi (4) e. menyediakan lingkungan a. Mengidentifikasi faktor 8. dengan tujuan klien dan risiko (4) c. Berjalan (4) 10. Hindari pemberian obat yang menularkan ke klien lainnya d. Integritas mukosa (4) c. Mencari informasi 12. Keseimbangan (4) tidak di beri label b. Buang obat-obatan yang tidak terganggu f. Mengenali faktor risiko keluarga tetap merasa . Bantu pasien/ keluarga tertular penyakit menular 5. Imunisasi saat ini (4) 8. Pergerakan 6. Bantu klien dalam pemberian jelas ketika lampu di e. Integritas kulit (4) mecegah lebih banyak klien b. Gerakan otot (4) klien merasa nyaman dan d. agar menhghindari klien dari sudah kadaluarsa dan tidak (4) beberapa faktor seperti klien terpakai lagi sesuai dengan Catatan: tidak dapat melihat dengan protokol yang ada (4) Sedikit terganggu 11. Cara berjalan (4) yang tidak mengancam agar c. agar tidak membawa bakteri Catatan: mengidentifikasi faktor apa yang kepada pasien dan tidak (4) Sedikit terganggu meningkatkan rasa keamanan 9.

Memonitor faktor risiko 10. Promosikan legislasi yang keracunan obat yang sudah g. agar masyarakat dapat yang mengancam mengetahui dan kesehatan (4) . Mengenali kemampuan 1. Ajarkan pasien dan/atau anggota j. terjadinya ketidak cocok kan (4) aktivitas yang berhubungan obat bahkan keracunan e. Anjurkan pengunjung untuk kontrol risiko (4) kesembuhan klien mencuci tangan pada saat i. Memonitor faktor risiko dengan pengaturan (wabah) karna mengkonsumsi obat di lingkungan (4) seperti yang di butuhkan obatan yang tidak tepat f. dengan tujuan mempercepat 3. Informasikan masyarakat 9. Mengembangkan strategi memastikan pemantauan dan kadarluarsa yang efektif dalam pengobatan yang tepat untuk mengontrol risiko (4) penyakit menular h. Menjalankan strategi 12. pemberiaan obat obatan memasuki dan meninggalkan kontrol risiko yang sudah yang tepat untuk mematuhi ruangan pasien ditetapkan (4) aturan dan dosis sesuai 4. Memodifikasi gaya hidup dengan resep yang di keluarga mengenai metode untuk mengurangi risiko berikan pemberian obat yang sesuai (4) HE k. individu (4) HE nyaman d. Menghindari paparan 1. Menyesuaikan strategi 11. dengan tujuan menghindari untuk merubah perilaku mengenai penyakit dan aktivitas. tujuannya agar tidak terjadin individu (4) 2.

Tentukan obat apa yang f. Diskusikan situasi khusus atau b. Deteksi resiko memperparah penularan dan diperlukan. Mengidentifikasi mengenai pemberian obat individu yang mengancam pasien kemungkinan risiko yang sesuai misalnya atau keluarga kesehatan (4) dengan menjelaskan obat 3. Memonitor perubahan pengobatan agar dapat status kesehatan (4) mengurangi terjadinya Catatan: Kolaborasi penyakit menular (4) Sering menunjukkan 3. Jelaskan semua prosedur pada mengurangi risiko (4) menyebabkan munculnya pasien/keluarga m. dan kelola menurut a. Mengenali tanda dan tidak mudah tertular resep dan/atau protokol gejala yang 4. Mengenali perubahan wabah penyakit menular status kesehatan (4) 2. agar pengunjung tidak 1. menjelaskan dan mengindikasikan risiko memberikan pengetahuan (4) 2. melakukan pemantauan dan n. Menggunakan sistem menghindari aktivitas dukungan personal untuk aktivitas yang dapat 5. l. Memvalidasi risiko yabg di konsumsi berapa perubahan kondisi pasien kesehatan yang ada (4) kali sehari dengan tujuan d. Melakukan pemeriksaan keluraga bisa mandiri dalam mandiri sesuai waktu . Beritahu dokter mengenai c.

Ketersdiaan air bersih (4) b. Kunci pada jendela (4) e. yang di anjurkan (4) pemberian obat terhadap e. Kunci pada pintu (4) maupun f. mejelaskan semua prosedur risiko kesehatan pribadi kepada klien dan keluarga (4) agar klien dan keluarga lebih f. dengan tujuan klien dan untuk memenuhi standar keluarga tidak merasa keselamatan (4) terancam h. Pemeliharaan peralatan 2. tujuannya agar obat yang di rumah berikan benar benar tepat a. Kebersian hunian (4) diberikan oleh dokter d. Kemanan lingkungan 1. Status perawatan diri 3. Mendapatkan informasi memahami dan dapat terkait perubahan gaya dengan mandiri melakukan hidup untuk kesehatan (4) pengobatan jika pada Catatan: keadaan yang mengancam (4) sering menunjukkan Kolaborasi g. agar dokter dapat . Memanfaatkan sumber- klien sumber untuk mengetahui 5. Ruang dan huniaan untuk dan benar benar di butuhkan bergerak dengan aman (4) sesuai dengan resep yang c.

Mandi sendiri mengetahui perubahan dan b. ketidakefektifan pola nafas mengikuti perintah pasien teratasi dengan Kriteria ..Ketidakakuratan Setelah dilakukan tindakan melakukan tes keperawatan selama . Perilaku Patuh: dengan topik tertentu Pengobatan yang Batasan karakteristik : Disarankan . Pengetahuan: Prosedur defisiensi informasi Perawatan kognitif yang berkaitan 5. Pengetahuan: Proses Kognisi Penyakit 3.x24 . a. Mempertahankan lebih jauh keadaan klien kebersihan mulut 3 Defisiensi Pengetahuan 1. Berpakaian sendiri perkembangan pengobatan c. Pengetahuan: Gaya Kelas 4 : Kognisi Hidup Sehat Definisi : ketiadaan atau 4.. Pengetahuan: Manajemen (00126) Penyakit Kronik Domain 5 : Persepsi/ 2...Ketidakakuratan jam... Memperhatikan dan dapat mengidentifikasi kebersihan d.Kurang pengetahuan .

Imunisasi yang direkomendasikan (4) Catatan: (4) Pengetahuan banyak 2. Tes laboratorium yang diperlukan (4) e.Kurang informasi penyakit perkembangan .Gangguan fungsi Penyakit Kronik a. Penggunaan yang benar dari obat yang di resepkan (4) d. Pengetahuan: Proses Penyakit a. Karakter spesifik penyakit (4) . Tanda dan gejala kognitif . Pengetahuan: Manajemen .Kurang minat untuk penyakit (4) belajar b.Kurang sumber tersedia (4) pengetahuan c. Pilihan pengobatan yang .Faktor yang Hasil: berhubungan : 1.

faktor risiko (4) d. Efek fisiologis penyakit (4) e. Proses perjalanan penyakit biasanya (4) g. Tanda dan gejala penyakit (4) f. Manfaat manajemen penyakit (4) i. Faktor faktor penyebab dan faktor berkontribusi (4) c. Sumber-sumber informasi penyakit spesifik yang terpercaya (4) Catatan: (4) Pengetahuan banyak . b. Strategi untuk meminimalkan perkembangan penyakit h.

Tahu kapan untuk mendapatkan bantuan dari seorang professional kesehatan (4) Catatan: (4) Pengetahuan banyak 4. Pengetahuan: Gaya Hidup Sehat a.3. Perilaku Patuh : Pengobatan yang Disarankan a. Pentingnya skrining pencegahan (4) d. Strategi mencegah penyakit (4) b. Minum obat sesuai dosis (4) . Strategi mencegah infeksi (4) c. Memperoleh obat yang dibutuhan (4) b.

c. Mendapatkan tes laboratorium yang diperlukan (4) Catatan: (4) Sering menunjuk kan . Mengkonsumsi obat dengan atau tanpa makanan seperti yang ditentukan (4) d.