You are on page 1of 14

26

BAB III

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas tentang diagnosa keperawatan.

Alasan prioritas, rencana tindakan dan rasionalnya, implementasi dengan

kekuatan atau kelemahan dan evaluasi. Dalam bab ini juga akan dibahas tentang

kesenjangan antara konsep pada teori dengan kenyataan yang ada di lapangan.

Dari hasil pengkajian pada tanggal 20 Juli 2005 pada Ny. L dengan TB Paru,

penulis memperoleh data yang digunakan untuk menegakkan diagnosa

keperawatan. Diantaranya pasien mengeluh sesak nafas,menurut teori hal tersebut

terjadi karena individu mengalami penurunan jalannya gas (oksigen dan

karbondioksida) yang aktual (atau dapat mengalami potensial) antara alveoli paru-

paru dan sistem vaskuler.(Carpenito,2001;327).Pasien mual dan muntah saat

makan dikarenakan peningkatan asam lambung oleh bakteri yang menyebar

keperitonium (Price,1995).Pasien makan habis seperempat porsi dan minum tiga

sampai empat gelas perhari,berat badan 37 kg. Pola aktivitas dan latihan, pasien

merasa badan terasa lemas hal ini terjadi karena individu mengalami kecapaian

yang berlebihan terus menerus dan penurunan kapasitas kerja fisik dan mental

(Carpenito,2001;130).Pasien hanya bedrest di tempat tidur, semua aktivitas

dibantu oleh keluarga. Pola nutrisi perseptual dan kognitif pasien mengatakan

tidak tahu tentang masalah penyakitnya yang sedang dialami, hal ini terjadi karena

individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau

Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi sekret Tidak efektifnya bersihan jalan nafas adalah suatu keadaan dimana seorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernafasan sehubungan dengan ketidakmampuan untuk batuk secara efektif (Carpenito. ronchi). Dari data-data diatas penulis mengangkat diagnosa keperawatan sebagai berikut : 1. RR 28 kali/menit. L adalah pasien mengatakan sesak nafas. Dari pemeriksaan fisik diperoleh data keadaan umum pasien lemah. pasien tanpak sesak. bunyi nafas tak normal (mengi. vital sign TD : 110/80 mmHg. vokal premitus lebih getar kanan.1999.Doenges.2001. 1999 : 244). S : 36 2 C. dispnea. dispnea (sesak nafas).223). RR : 28 kali/menit. 27 keterampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan (Carpenito. Sedangkan data yang ditemukan pada Ny. irama. batuk produktif. pekak. Dari data diatas penulis memprioritaskan masalah pada prioritas yang pertama karena bersifat segera yaitu suatu keadaan yang mengancam dan memerlukan perawatan yang tepat .244 diagnosa tidak efektifnya bersihan jalan nafas frekuensi pernafasan. N : 100 kali/menit. stridor. Menurut Marilynn. 2000 : 324). terdapat ronchi. (Doenges. kedalaman tak normal. terdapat ronchi.E. mukosa bibir kering. Pada ekstermitas turgor kulit kering. bunyi nafas tak normal (ronchi). Pada dada I : bentuk dada pigeon chest. Dari data teori dan data yang didapat dari pasien sudah sesuai yaitu adanya frekuensi pernafasan tak normal. terpasang infus NaCl 20 tetes/menit.

1999 : 245). 1999 : 245). (Doenges. rasionalnya adalah posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan (Doenges. membuatnya mudah dikeluarkan. Memberikan posisi semi foler. ronchi. 1999 : 245). tidak nyaman untuk bergerak dan . Kekuatan tindakan ini adalah dapat menunjukkan terjadinya atelektasis. tidak ada ronkhi. (Doenges. menurunkan kekentelan sekret dan respon inflamasi (Doenges. 28 dan apabila tidak segera diatasi akan mengancam kehidupan (Effendy. 1995 : 35) Untuk mengatasi masalah diatas penulis membuat rencana keperawatan yang bertujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan jalan nafas kembali efektif dengan kriteria hasil jalan nafas bersih. Mencegah obstruksi atau aspirasi. pemasukan tinggi membantu untuk mengencerkan sekret. Kaji fungsi pernafasan rasionalnya adalah penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasis. Bersihkan sekret dari mulut rasional. Akumulasi sekret dan ketidakmampuan mengeluarkan sekret. Kobalorasi dengan pemberian obat sesuai indikasi rasional. akumulasi sekret dan ketidakmampuan mengeluarkan sekret. pasien merasa bosan. batuk berukuran yaitu berikan posisi semi foler. 1999 : 245) Adapun tindakan yang dilakukan selama 2x24 jam diantaranya mengkaji fungsi pernafasan atau vital sign. Kelemahannya. penghisapan dapat diperlukan bila pasien tak mampu mengeluarkan sekret. pasien tidak sesak. kekuatan tindakan ini yaitu dapat membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan. rasional.

Kekuatan tindakan ini dapat mengetahui apakah pasien mampu mengeluarkan sputum. pasien merasa bosan bila terus disuntik dan minum obat. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan dimana individu yang tidak puasa mengalami atau yang berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan tak adekuat atau . Kekuatannya dapat mengencerkan sekret. O : RR : 24 kali/menit. P : planing lanjutkan intervensi. P: lanjutkan intervensi. A : masalah belum teratasi.00 WIB S : pasien mengatakan sesak berkurang. catat kemampuan untuk batuk efektif. Karena keterbatasan waktu. Evaluasi yang didapat setelah 2x24 jam diperoleh pada tanggal 20 Juli 2005 S: pasien mengatakan masih sesak. penulis mendelegasikan ke perawat ruangan untuk perawatan lebih lanjut. berikan posisi semi fowler. terdapat ronchi. Kelemahan dari tindakan ini pasien merasakan nyeri abdomen saat batuk. terdapat ronchi. Evaluasi tanggal 21 Juli 2005 jam 12. bersihkan sekret dari mulut. 2. kolaborasi dengan tim medis. kaji fungsi pernafasan. Menganjurkan pasien untuk minum air hangat  2500/hari. memberikan obat amoxan 1 gr dan aminopillin 3x100 mg tindakan ini dapat melemahkan bakteri yang ada pada jalan nafas dan mengurangi sesak nafas. 29 mencatat kemampuan untuk batuk efektif. pasien sesak. pertahankan masukan cairan. Hambatan dari tindakan ini. posisi semi fowler. posisi tidur pasien tanpa menggunakan registin. O : RR : 28 x/menit. A : masalah teratasi sebagian.

(Doenges. 1995 : 35) Untuk mengatasi masalah diatas penulis membuat rencana keperawatan yang bertujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil pasien makan habis 1 porsi. tonus otot buruk. 30 metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik (Carpenito. gangguan sensasi pengecap (mual muntah). pasien muntah saat makan. Rasionalnya dapat berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. rasional dari tindakan ini adalah dapat . pasien makan habis ¼ porsi.Doenges. Antara lain catat status nutrisi pasien. turgor kulit kering. tidak muntah atau mual. mual dan muntah. (Doenges. catat turgor kulit. Menurut Marilynn. Awasi masukan dan pengeluaran secara periodik.E. 1999 : 247) Selidiki anorexia. 1999 : 246). berat badan meningkat. 2000 : 259).1999. Data yang didapat dari pasien yaitu pasien mengatakan nafsu makan menurun dan sering mual dan muntah. Dari data teori dan yang ada di lapangan sudah sesuai yaitu adanya penurunan berat badan.246 diagnosa yang ditandai dengan berat badan dibawah 10% . melaporkan kurang tertarik pada makanan. turgor kulit baik. Berat Badan sebelum sakit 40 kg Berat Badan selama sakit 37 kg. gangguan sensasi pengecap. Rasional dari tindakan ini adalah berguna dalam mendefinisikan derajat atau luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat. kurang tertarik pada makanan. Dari data diatas penulis memprioritaskan masalah yang kedua karena bersifat urgen yaitu masalah pasien memerlukan pelayanan yang tepat terhadap suatu keadaan yang tidak mengandung resiko tinggi (Effendy.20%.

Kekuatan tindakan ini adalah untuk menghindari adanya muntah. rasional memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak perlu/kebutuhan energi dari makan makanan banyak dan menurunkan iritasi gaster. 1999 : 247). 1999 : 247). (Doenges. Menganjurkan makan sedikit tapi sering. Rasional : memberikan bantuan dalam perencanaan diet. rasional : membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam. Dorong dan berikan periode istirahat sering. 1999 : 247) Kolaborasi dengan tim medis. kekuatan tindakan ini adalah dapat menghemat energi pasien. hambatan dari tindakan ini adalah kadang pasien merasa bosan untuk tidur. Memonitor adanya mual dan muntah kekuatan dari tindakan ini untuk mengetahui pilihan diet yang disukai pasien untuk menambah masukan nutrisi pasien. menganjurkan pasien untuk istirahat. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah. Hambatan dari tindakan ini adalah pasien malas . Rasional membuat lingkungan sosial lebih normal selama makan dan membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural. Kekuatan dari tindakan ini dapat mengetahui masukan dan pengeluaran nutrisi pasien. (Doenges. 31 mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk meningkatkan pemasukan atau penggunaan nutrien (Doenges. (Doenges. Dorong makan sedikit dengan frekuensi sering. Adapun tindakan yang dilakukan selama 2x24 jam diantaranya mencatat status nutrisi pasien dan turgor kulit kekuatan dari tindakan ini dapat mengidentifikasi pilihan intervensi yang tepat. Memonitor masukan dan pengeluaran secara periodik. 1999 : 247).

dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah. pasien tidak muntah waktu makan. O : pasien mengatakan habis ¼ porsi.00 WIB S : pasien mengatakan mual muntah. A : masalah teratasi. dorong makan sedikit dengan frekuensi sering. catat status nutrisi pasien dan catat turgor kulit. Kolaborasi dengan tim medis yaitu memberikan obat plastasid sirup 3x1 sendok. memberikan injeksi ulkument 3x2 ml. P : lanjutkan intervensi. A : masalah belum teratasi. berat badan 37 kg. awasi masukan dan pengeluaran secara periodik. P : planing pertahankan intervensi. turgor kulit kering. Pembenaran dari implementasi kolaborasi dengan tim medis adalah penulis tidak melakukan kolaborasi dengan medis melainkan penulis hanya meneruskan teraphy pada hari sebelumnya. Kekuatan dari tindakan ini adalah untuk memberikan makanan kesukaan pasien dan menambah asupan nutrisi pasien. kolaborasi dengan tim medis. karena perawat sudah memberikan obat sebelum penulis melakukan asuhan keperawatan. O : pasien makan habis 1 porsi. selidiki anorexia mual muntah. Menganjurkan keluarga untuk membawa makanan tambahan dari rumah yang pasien inginkan. turgor kulit baik. 32 untuk makan. Tanggal 21 Juli 2005 S : pasien mengatakan nafsu makan meningkat. dorong dan berikan periode istirahat sering. Evaluasi yang didapat setelah 2x24 jam diperoleh tanggal 20 Juli 2005 jam 12. berat badan 37 kg. . Kekuatan dari tindakan ini adalah dapat menurunkan mual dan muntah pasien. Hambatan dari tindakan diatas adalah pasien malas untuk minum obat.

Berikan lingkungan tenang. Sedangkan data yang ditemukan dari pasien adalah pasien mengatakan badannya lemas. 1999). pucat aatau sianosis. rasional. Menurut Carpenito. meningkatkan aktivitas sampai normal dan memperbaiki tonus otot (Doenges. 1999). Rasional. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan intoleran aktivitas teratasi dengan kriteria hasil pasien dapat beraktivitas sendiri. pertahankan tirah baring.2000). keletihan akibat aktivitas. aktivitas dibantu keluarga. Untuk diagnosa ini penulis memprioritaskan masalah yang ketiga karena masalah pasien tidak mengandung resiko tinggi (Effendy. rasional : mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan . 33 3. keletihan. 1999). pasien bedrest. 1999). rasional. rasional . Gunakan teknik penghematan energi. hipotensi postural/hipoxia cerebral dapat menyebabkan pusing. 2000 : 2 diagnosa kelemahan. meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan dan menurunkan regangan jantung dan paru (Doenges. Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing. pusing.adalah mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan (Doenges. berdenyut. dan peningkatan risiko cidera (Doenges. dispnea. Intoleran aktivitas berhubungan denagan keletihan atau kelemahan fisik Intoleran aktivitas adalah penurunan dalam kapasitas fisiologis seseorang untuk melakukan aktivitas sampai tingkat yang diinginkan atau yang dibutuhkan (Carpenito. 1995 : 35). Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi. Adapun rencana tindakan yang dilakukan adalah kaji kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas. Dari data teori dan data lapangan sudah sesuai yaitu dengan adanya kelemahan.

O : aktivitas dibantu keluarga. pasien bedrest.pasien memaksakan diri untuk beraktivitas misal pasien akan BAK ke kamar mandi. Meliputi. kaji kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas. mengkaji kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas. menganjurkan dan memberikan lingkungan yang tenang dan tirah baring kekuatannya dapat menurunkan sesak nafas atau regangan jantung. Rasional regangan atau stres kardiopulmonal berlebihan atau stres dapat menimbulkan dekompensasi atau kegalalan (Doenges. Mengubah posisi pasien dengan perlahan dan memantau adanya pusing kekuatan tindakan ini dapat mengantisipasi risiko cidera. Evaluasi yang didapat setelah 2x24 jam didapat pada tanggal 20 Juli 2005 jam 12. Menganjurkan aktivitias sesuai kemampuan pasien. P : lanjutkan intervensi. 1999). ubah posisi . dan pertahankan tirah baring. pusing. 1999) Adapun tindakan yang dilakukan untuk diagnosa intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan atau kelemahan fisik. menganjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila sesak nafas. Hambatan kadang dalam aktivitas. keadaan umum lemah. kekuatan dari tindakan ini adalah dapat mengetahui pilihan intervensi pasien.00 WIB S : pasien mengatakan badan masih lemas. Kelemahan atau hambatan dari tindakan ini pasien sulit untuk istirahat karena seringnya keluarga mengunjungi pasien. Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila terjadi nafas pendek. kekuatan tindakan ini dapat mengembalikan / memperbaiki tonus otot dan aktivitas sampai keadaan normal. berikan lingkungan tenang. menyarankan untuk menghemat energi tindakan ini dapat mencegah kelemahan pasien. 34 (Doenges. A : masalah belum teratasi.

memperlihatkan perasaan terancam (gelisah. gunakan teknik penghemat energi. 2000 : 223). A : masalah teratasi sebagian. menunjukkan kesalahan konsep tentang status kesehatan. miring kanan dan ke kiri. keadaan lemah.Doenges.247 permintaan informasi. Menurut Marilynn. bingung. gelisah. 4. Ditemukan data dari pasien mengatakan tidak mengerti mengenai penyakitnya. P : planing lanjutkan semua intervensi dengan pendelegasian ke perawat ruangan karena keterbatasan waktu penulis untuk melakukan asuhan keperawatan.00 WIB S : pasien mengatakan masih lemas. Kurang atau tidak akurat mengikuti instruksi atau perilaku menunjukan atau memperlihatkan perasaan terancam.1999. anjurkan pasien menghentikan aktivitas bila terjadi nafas pendek. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan keterbatasan kognitif Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan- ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan (Carpenito. 35 pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing. bingung). tingkatkan aktivitas sesuai toleransi.E. Pada tanggal 21 Juli 2005 jam 12. pendidikan SD. Dalam penempatan diagnosa ini penulis memprioritaskan pada tempat keempat karena termasuk . pasien dapat duduk. pasien bertanya tentang penyakitnya. O : pasien dapat berjalan dengan bantuan. Data yang sesuai dengan teori adalah adanya permintaan informasi.

informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi. pasien tidak lagi bertanya mengenai penyakitnya. pengulangan menguatkan belajar (Doenges. memenuhi kebutuhan metabolik. pasien tidak bingung. membantu meminimalkan kelemahan dan meningkatkan penyembuhan. 1995 : 35). Adapun rencana keperawatan yang dibuat penulis bertujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama kurang lebih 30 menit diharapkan pasien mengerti tentang penyakitnya dengan kriteria hasil. Tekankan pentingnya memberikan protein tinggi dan karbohidrat. 1999 : 248). 1999 : 248). Rasional. 36 masalah non urgen yaitu masalahnya timbul secara perlahan dan dapat ditolerir oleh pasien sendiri (Effendy. Kekuatan dari tindakan ini adalah dapat memberikan penyuluhan kesehatan dan kesiapan fisik dan ditingkatkan. rasional dapat menunjukkan kemajuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut (Doenges. cairan dapat mengencerkan atau mengeluarkan sekret (Doenges. Pada tahapan individu memberikan informasi tertulis mengenai penyakitnya dengan menjelaskan pengertian TB . Adapun intervensi yang dibuat antara lain : kaji kemampuan pasien untuk belajar. Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat. Berikan instruksi dan informasi tertulis. 1999 : 248). Rasional. 1990 : 248). Rasional belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu (Doenges. Sedangkan implementasi yang dilakukan antara lain : mengkaji kemampuan pasien seberapa jauh pasien mengerti tentang penyakitnya.

Didapat data obyektif pasien dan keluarga mampu menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang diberikan. kesulitan bernafas. pasien kurang dapat mengingat informasi yang diberikan apabila penjelasan tidak sering diulang. demam. Analisa masalah teratasi dengan planing pertahankan intervensi. Resiko tinggi infeksi (Penyebaran aktivitas ulang) berhubungan dengan : . pencegahan. Kekuatan dari tindakan ini bisa memotivasi dan meningkatkan harga diri pasien pada diagnosa ini. Evaluasi dilakukan pada tanggal 21 Juli 2005 jam 10.30 WIB didapat data subyektif pasien mengatakan sudah mengerti tentang penyakit TB Paru. 37 Paru. ada dua intervensi yang penulis tidak lakukan yaitu tekankan pentingnya memberikan protein tinggi dan karbohidrat dan identifikasi gejala adanya nyeri dada. tanda dan gejala serta cara penularan TB. penurunan kerja silia atau statis sekret . dan pengobatan.Pertahanan primer tidak adekuat. Kekuatan dari tindakan ini adalah pasien dapat mengerti cara penularan dan pencegahan serta pengobatan selama di rumah. penularan dan pencegahan serta penatalaksanaan di rumah. tanda dan gejala. Kelemahan dari tindakan ini. penyebab.Penurunan pertahanan atau penekanan proses inflamasi . Penulis tidak melakukan intervensi tersebut karena penulis menganggap intervensi tersebut sudah dilakukan pada diagnosa kurang nutrisi dan ketidakefektifan bersihan jalan nafas. etiologi.Kerusakan jaringan atau tambahan infeksi . Memberikan kesempatan pasien untuk bertanya. Masalah keperawatan yang muncul pada fokus intervensi tetapi tidak muncul pada pasien antara lain : 1.

protozoa. 2000 : 327). bakteri. adanya tanda- tanda dan gejala membuat diagnosa aktual (Doenges.Terpajan lingkungan. Risiko tinggi terhadap perusakan pertukaran gas berhubungan dengan : . Diagnosa ini tidak . 38 . Diagonosa ini tidak diangkat penulis karena tidak ada data yang mendukung untuk mengambil diagnosa tersebut yaitu dengan data tidak dapat diterapkan. 2000 : 204). atau parasit lain) dari sumber-sumber eksternal. Kerusakan pertukaran gas : keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas (oksigen dan karbondioksida) yang aktual (atau dapat mengalami potensial) antara alveoli paru-paru dan sistem vaskuler (Carpenito. 1999 : 242).Edema bronkial.Malnutrisi .Kerusakan membran alveolar. Diagnosa ini tidak dapat diangkat karena tidak ada tanda dan gejala yang mendukung pengambilan diagnosa tersebut. jamur.Penurunan permukaan efektif paru. 2. Resiko tinggi infeksi adalah keadaan dimana seorang individu berisiko terserang oleh agens patogent atau oportunistik (virus.Sekret kental. atelektasis . Sumber- sumber endogen atau eksogen (Carpenito. Diagnosa ini tidak diangkat penulis tidak akan berdampak buruk karena penyebabnya sudah dibahas dan diangkat dalam diagnosa keperawatan tidak efektifnya bersihan jalan nafas yang telah diatasi masalahnya. kapiler . tebal .

Diagnosa ini tidak diangkat penulis karena tidak ada data yang mendukung untuk mengambil tersebut. Pertahanan primer tak adekuat. Terpajan lingkungan. . penurunan kerja silia atau stasis sekret . Penurunan pertahanan atau penekanan proses inflamasi . 39 diangkat namun tidak berakibat buruk karena faktor risiko tidak muncul atau ditemukan pada lapangan. Malnutrisi . Kerusakan jaringan atau tambahan infeksi . Masalah keperawatan yang muncul pada fokus intervensi terapi tidak muncul pada pasien antara lain : a. Risiko tinggi infeksi (penyebaran atau aktivitas ulang) berhubungan dengan : .