You are on page 1of 43

BAB V

BEBERAPA KRITERIA DAN HUKUM DASAR

5.1 Umum
Dalam bab-bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa metoda matriks yang
digunakan dalam analisis struktur menggunakan konsep-konsep dasar analisis yang
digunakan dalam analisis klasik, antara lain hukum-hukum elastisitas. Dalam Bab I telah
dirangkum bahwa aspek yang menjadikan metoda matriks berbeda dengan metoda
klasik lainnya adalah dalam segi penyajian dan penyelesaian problem. Dengan
mengingat hal ini, dirasakan perlu untuk merangkum secara singkat konsep-konsep
dasar analisis klasik yang nantinya sering digunakan di dalam analisis metoda matriks.
Bab ini memberikan sajian intisari dari konsep-konsep dasar elastisitas, yang
mencakup konsep tegangan, regangan, dan hubungan regangan-tegangan dalam Pasal
5.2 hingga 5.3. Kemudian diberikan bahasan mengenai perpindahan dan gaya umum
beberapa elemen batang yang banyak digunakan dalam analisis struktur berbentuk
rangka. Dalam Pasal 5.7 disajikan bahasan mengenai konsep energi dan kerja struktur
elastis linier, dilanjutkan dengan Pasal 5.8 yang membahas energi regangan dari
beberapa elemen batang. Pasal 5.9 membahas prinsip kerja maya (khayal) yang
dilanjutkan dengan beberapa teori, antara lain Castigliano, Maxwell-Betti, Muller-Breslau
dalam Pasal 5.10 hingga 5.15. Contoh penerapan dan soal-soal disajikan dalam pasal-
pasal terakhir.

5.2 Tegangan dan Keseimbangan
Tinjaulah suatu sistem struktur yang elastis linier serta yang berada dalam
keseimbangan dengan gaya dan/atau pengaruh luar seperti dalam Gambar 5.2.1. Akibat
gaya badan b(bx , b y , bz ) dan gaya traksi permukaan t (t x , t y , t z ) timbul medan
perpindahan dan deformasi serta yang pada akhirnya menimbulkan gaya F pada
irisan I  I berluas penampang A dengan komponen ( Fn , Ft1 , Ft 2 ) pada arah
normal dan tangensial. Tegangan normal dan geser pada potongan didefinisikan
sebagai

Fn Ft1 Ft 2
  lim A0 ;  1  lim A0 ;  2  lim A0 (5.2.1)
A A A

Dengan demikian, pada suatu permukaan umumnya ada tiga komponen tegangan, yaitu
satu tegangan normal (berarah tegak lurus permukaan) dan dua tegangan geser
(menggeser pada permukaan).

Selanjutnya, kita meninjau suatu diferensial volume ( dx, dy, dz ) pada titik
bermateri yang dibatasi enam permukaan dengan masing-masing komponen tegangan
seperti dalam Gambar 5.2.2. Kita melihat bahwa ada sembilan komponen tegangan
73

yang keseluruhannya diatur serta dituliskan membentuk suatu tensor tegangan dalam
format

Gambar 5.2.1: Komponen Gaya dan Tegangan Pada Permukaan

Gambar 5.2.2: Komponen Tegangan

 xx  xy  xz 
 
[T ]   yx  yy  yz  (5.2.2)
 zx  zy  zz 

Hubungan sesama komponen tegangan diatur oleh keseimbangan. Pertama,
keseimbangan momen di arah vektorial ( X , Y , Z ) memberikan

 yz   zy  0 ;  zx   xz  0 ;  xy   yx  0

yang mengindikasikan bahwa tensor tegangan bersifat simetri dalam kasus sistem yang
tidak menerima gaya momen badan (moment body forces), yaitu

 xy   yx ;  yz   zy ;  zx   xz  0 (5.2.3)

Selanjutnya, keseimbangan gaya di arah vektorial ( X , Y , Z ) memberikan

74

  
 xx   yx   zx  bx  0
x y z
  
 xy   yy   zy  b y  0 (5.2.4)
x y z
  
 xz   yz   zz  bz  0
x y z

dengan (bx , b y , bz ) merupakan komponen gaya badan per satuan volume di arah
( X ,Y , Z ) .

5.3 Perpindahan dan Regangan
Tinjaulah suatu sistem seperti dalam Gambar 5.3.1 yang pada mulanya
menempati konfigurasi awal V0 yang berada dalam keadaan seimbang tanpa gaya
luar. Akibat gaya badan b(bx , b y , bz ) dan gaya traksi permukaan t (t x , t y , t z ) , pada
titik bermateri P ( x, y , z ) timbul perpindahan q (u , v, w) yang memindahkan titik
tersebut ke posisi baru P  ( x  , y  , z  ) dalam konfigurasi sesaat V , serta yang
dituliskan dalam bentuk
q  u iˆ  v ˆj  w kˆ (5.3.1)
dengan komponen
u  x  ( x, y , z )  x
v  y  ( x, y , z )  y (5.3.2)

w  z ( x, y , z )  z

Gambar 5.3.1: Medan Perpindahan

Sekarang, kita memantau suatu segmen garis ds ( dx, dy , dz ) yang setelah
perpindahan, terpetakan kepada segmen garis ds  (dx  , dy  , dz  ) dengan komponen
yang sesamanya diatur dalam format
x  x  x  y  y  y 
dx   dx  dy  dz ; dy   dx  dy  dz
x y z x y z
(5.3.3)
z  z  z 
dz   dx  dy  dz
x y z

yang mengandung gradien perpindahan. Gradien perpindahan ini menimbulkan
deformasi yang kita amati dengan menggunakan regangan (strain) sebagai alat
pengukur.
75

Definisi regangan didasarkan atas telaah geometri sebagai berikut. Kita
mengamati bahwa setelah deformasi, segmen garis ds dipetakan kepada ds  dengan
paroh selisih panjang kuadrat

1
2
 
(ds  ) 2  (ds) 2   xx dx 2   yy dy 2   zz dz 2
(5.3.4)
  xy dxdy   yz dydz   zx dzdx   yx dydx   zy dzdy   xz dxdz

dalam mana komponen-komponen regangan yang diukur pada garis ds diberikan oleh

1
 xx  u x  (u x2  v x2  wx2 )
2
1
 yy  v y  (u y2  v 2y  w y2 ) (5.3.5)
2
1
 zz  wz  (u z2  v z2  wz2 )
2
dan
1
 xy   yx  (u y  v x  u x u y  v x v y  wx w y )
2
1
 yz   zy  (v z  w y  u y u z  v y v z  w y wz ) (5.3.6)
2
1
 zx   xz  ( wx  u z  u z u x  v z v x  wz wx )
2

di mana sub-indeks menyatakan turunan parsial terhadap indeks tersebut
(u x  u / x dan sebagainya). Bentuk dalam Pers.(5.3.4) memberikan faktor elongasi
 di arah garis ds yang berkoefisien arah

  dx / ds ; m  dy / ds ; n  dz / ds (5.3.7)
dalam format

1  (ds  ) 2  (ds) 2 
     xx    yy m   zz n
2 2 2

2 (ds) 2  (5.3.8)
  xy m   yz mn   zx n   yx m   zy nm   xz n

Untuk problem deformasi kecil serta perpindahan kecil (infinitesimal), komponen
regangan dalam Pers.(5.3.5) dan (5.3.6) menjadi

1 1
 xx  (u x  u x )  xy   yx  (u y  v x )
2 2
1 1
 yy  (v y  v y )  yz   zy  (v z  w y ) (5.3.9)
2 2
1 1
 zz  ( wz  wz )  zx   xz  ( wx  u z )
2 2

Dengan demikian, komponen-komponen regangan membentuk tensor regangan
dalam bentuk
76

Dapat dibuktikan bahwa U U U  xx  .3. Untuk bahan yang elastis.  yz .9). energi regangan dapat dituliskan dalam bentuk U  U V 0 dV (5.1) di mana U merupakan fungsi tertentu dari ke enam komponen regangan bebas.  yz  . kerja yang dibutuhkan untuk mendeformasikan suatu elemen volume dV dapat dinyatakan sebagai U ( xx .2) U U U  xy  . 5.. hubungan tersebut diberikan oleh hukum Hooke yang dituliskan dalam bentuk  xx  c11  xx  c12  yy  c13 zz  c14  xy  c15 yz  c16  zx  yy  c 21 xx  c 22  yy  c 23 zz  c 24  xy  c 25  yz  c 26  zx  zz  c31 xx  c32  yy  c33 zz  c 34  xy  c35 yz  c36  zx (5.  yy .  zz   xx  yy  zz (5.4..  zz .  c16  xx  zx  c 21 xx  xx  c 22  yy  yy  c 23 yy  zz  ..  zx ) dV (5.10)  zx  zy  zz   yang berdasarkan pengamatan atas Pers. sistem bersifat elastis sempurna.5 Hubungan Regangan dan Tegangan Hubungan antara regangan dan tegangan mencerminkan sifat bahan.4) 5..5.  c 26  yy  zx  .4.4.1)  xy  c 41 xx  c 42  yy  c 43 zz  c 44  xy  c 45 yz  c 46  zx  yz  c51 xx  c52  yy  c 53 zz  c54  xy  c55  yz  c56  zx  zx  c 61 xx  c 62  yy  c 63 zz  c 64  xy  c 65  yz  c 66  zx 77 . Dalam hal ini.  xx  xy  xz    [ R]   yx  yy  yz  (5...  yy  .4 Kerapatan Energi Regangan Untuk proses yang adiabatis dan konservatif.4.3.(5..  zx   xy  yz  zx Untuk kasus bahan yang elastis anisotropis dalam proses yang adiabatis.  c66  zx  zx (5.3) di mana 2U 0  c11 xx xx  c12 xx yy  c13 xx  zz  ..  xy . merupakan tensor yang simetris.  c61 zx  xx  c62  zx  yy  c63 zx  zz  .

2) dengan matriks koefisien sebagai berikut.6) sehingga hanya ada 9 unsur yang bebas.3) c 41 c 42 c 43 c 44 c 45 c 46  c51 c52 c53 c54 c55 c56    c 61 c 62 c 63 c64 c 65 c 66  Bentuk matriks koefisien di atas dapat mengambil bentuk yang lebih sederhana sesuai dengan sifat-sifat khusus dari bahan.5. Untuk bahan yang isotropis. maka diperoleh c ij  c ji (5.5. diperoleh penyederhanaan lanjut dengan c11  c 22  c33 . untuk bahan yang ortotropis. mengambil bentuk     C   (5.5) Dengan demikian. Selanjutnya.5. c12  c13  c 23 . sifat invarian konstanta elastis terhadap transformasi dari suatu lahan ortotropis menyiratkan bahwa c14  c15  c16  c 24  c 25  c 26  c34  c35  c36  c 45  c 46  c56  0 (5. c 44  c55  c66 (5.  c11 c12 c13 c14 c15 c16  c c 22 c 23 c 24 c 25 c 26   21 c c32 c33 c34 c35 c36  [C ]   31  (5.5. Pertama. jika bahan bersifat identik atau simetri terhadap sumbu-sumbu.5.4) yang menyiratkan sifat simetri dari matriks koefisien. matriks koefisien mengambil bentuk yang lebih sederhana sebagai  c11 c12 c13 0 0 0  c c22 c23 0 0 0   21  c c32 c33 0 0 0  [C ]   31  0 0 0 c44 0 0 0 0 0 0 c55 0    0 0 0 0 0 c66  (5.yang jika dituangkan di dalam formulasi matriks.7) sehingga diperoleh 78 . sehingga dari 6 x 6 = 36 unsur- unsur hanya ada 21 yang bebas.5.

dalam regangan yang diukur pada tata sumbu (X.5. Jika energi regangan U bahan isotrop dinyatakan dalam regangan utama ε1.1).12) atau.  yz  2G yz .10) dapat dituliskan dalam bentuk 2 U  ( / 2  G ) J 1  2 GJ 2 (5.5. dalam bentuk U  ( / 2  G )( xx   yy   zz ) 2 2 2 2 (5.15)  zz   xx   yy     2G   zz .  zx  2G zx Inversi dari sistem persamaan yang dituliskan di dalam Pers.Y. C44  G (5.11) 2 Mengingat bentuk-bentuk invarian regangan. (5.5. Pers.5. maka U mengambil bentuk yang dapat dituliskan sebagai 1 1 C11 ( 1   2   3 )  C12 ( 1 2   2 3   3 1 ) 2 2 2 U (5. ε2 dan ε3. C12   .5.13) memberikan hubungan C11    2G. Pers.10) 2 di mana λ dan G dinamakan koefisien atau tetapan elastis Lame (penamaan ini demi menghormati penemunya) yang diberikan oleh 1   C11 .5.14) sehingga untuk kasus bahan yang isotropis.5.5.5.9) dan (5.9) 2 2 yang oleh Lame.5. (5.5.  xy  2G xy . yaitu dari tegangan ke regangan dalam bentuk 79 . (5.5.Z). dituliskan dalam bentuk 1 U  ( 12   2 2   3 2 )  G (1 2   2 3   3 1 ) (5. c11 c12 c12 0 0 0 c c11 c12 0 0 0   12 c c12 c11 0 0 0 [C ]   12  0 0 0 c 44 0 0 0 0 0 0 c44 0    0 0 0 0 0 c 44  (5. (5.5.5.  yy   xx     2G   yy   zz (5. G (C11  C12 ) (5.8) yang meninggalkan hanya tiga unsur bebas.15) memberikan hubungan yang sebaliknya.1) mengambil bentuk sebagai  xx     2G   xx   yy   zz . (5.13)  2G ( xx yy   yy zz   zz  xx   xy   yz   zx ) Perbandingan antara bentuk-bentuk dalam Pers.

kita akan menggunakan tetapan elastis E dan ν.16)  G    zz   zz   xx   yy  G  3  2G   2   G   1 1 1  xy   xy .17)   zz   zz   xx   yy  . ν) adalah G (3  2G ) E (a )  G (5. sehingga nilai dari λ dan G sulit ditentukan dari suatu pengujian fisis di lapangan atau laboratorium. lentur dan torsi). ketimbang menggunakan tetapan elastis Lame. E  (a) (1   )(1  2 ) (5. Dengan menggunakan E dan ν hubungan tegangan terhadap regangan mengambil bentuk  xx  1 E   xx    yy   zz  .18)    (b) 2(   G ) atau sebaliknya. Deformasi dan Perpindahan Elemen Batang Rumus-rumus elastisitas dalam pasal-pasal sebelumnya dapat diorganisir dalam hubungan yang lebih bermanfaat dan cocok diterapkan khusus bagi elemen batang (pendel. hubungan antara tetapan elastis Lame (λ.   yy  1 E   yy     zz   xx   (5.  zx   zx G G G Dengan demikian.19) E G (b) 2(1   ) 5. pasal ini khusus diperuntukkan bagi penulisan hubungan antara aksi. 80 .5. deformasi dan perpindahan batang. dalam mana gaya reaksi yang bekerja hanyalah berupa gaya aksial sentris tekan maupun tarik. 5. Dalam kaitan ini.  zx   zx 2G 2G 2G Kita memperhatikan bahwa tetapan elastis Lame (λ dan G) secara natural muncul dari perumusan matematis dan teoritis.6. G) dan (E.5.  G     xx  G  3  2G   xx  2   G   yy   zz      G     yy   yy   zz   xx   G  3  2G   2   G   (5.5.  yx   yz .5.6 Aksi. 1 E  1 1 1  xy   xy . Untuk itu.  yx   yz .1 Elemen Pendel Elemen pendel adalah batang yang mengalami deformasi aksial murni.

81 .Untuk itu. tinjaulah suatu batang pendel dengan panjang L .6. luas penampang A serta modulus elastisitas bahan E yang dibebani gaya aksial sentris P seperti dalam Gambar 5.6.6. menimbulkan deformasi lentur dengan gaya dalam berupa momen lentur murni.5) E 5.1) dx dan tegangan seragam  xx du  xx  E  xx  E (5. Gambar 5.1.4) L L E E Dengan demikian.6.2) dx sehingga  xx du  dx (5.3) E yang menghasilkan  xx  L u   du   dx  xx (5. terjadi regangan pada penampang vertikal balok yang berjalan linier di sepanjang ketinggian balok. perpindahan ujung menjadi  xx L u (5.6.1: Deformasi Aksial Batang Pendel Akibat gaya tersebut timbul perpindahan u yang menimbulkan regangan seragam  xx yang dihubungkan dengan rumus du  xx  (5.6.6.6. Akibat momen ini.2 Elemen Lentur Gambar 5.6.2 memperlihatkan suatu balok yang seturut sifat gaya luar yang bekerja.

6.7) I zz Selain itu. terjadi pertukaran relatif dari suatu diferensial batang dx sebesar  xx Mz d   dx  dx (5.6.6.6) EI zz dan tegangan yang koresponden Mz  xx  E xx   y (5.8) y EI zz yang jika diintegrasikan menghasilkan MzL  (5. Gambar 5. menimbulkan deformasi torsional dengan gaya dalam berupa momen torsi murni.9) EI zz 5. Akibat momen ini.6. terjadi regangan torsi pada penampang vertikal balok sebesar Mx   r (5.10) GI x 82 .2: Deformasi Batang Lentur Mz  xx   y (5.6.3 memperlihatkan suatu balok yang seturut sifat gaya luar yang bekerja.6.6.2 Elemen Torsi Gambar 5.6.

11) Ix Gambar 5.3: Deformasi Torsional Batang Sudut rotasi dari suatu diferensial batang dx diperoleh  M d  dx  x dx (5. Dalam terapan.6.6.1) di mana  adalah sudut apit antara garis arah perpindahan dan garis arah gaya seperti terlihat dalam Gambar 5. Secara matematis.7 Kerja Kerja (work) didefinisikan sebagai perkalian dari gaya atau aksi dengan jarak tempuhan di arah gaya tersebut.6.7. kerap lebih taktis berurusan dengan incremental kerja ketimbang kerja total.2) 83 .6. kerja W yang dilakukan oleh gaya P di arah perpindahan u adalah W  P u cos  (5.7.(5.13) GI x 5.7. Jika bentuk Pers.1) diinkrementasikan maka diperoleh dW  P du cos  (5.1.7. atau perkalian dari jarak tempuhan dengan komponen gaya di arah tempuhan tersebut.12) r GI x yang jika diintegrasikan menghasilkan M xL  (5.dan tegangan geser torsi yang koresponden sebesar Mx   G  r (5.

7... di mana Wc merupakan kerja komplementer terhadap W .3) Di lain fihak.2: Definisi Kerja 84 .. inkremental kerja yang dilakukan oleh gaya yang sudah ada di arah inkremental perpindahan menjadi dW  P1 du1  P2 du 2  .7.2 untuk sistem berderajat kepindahan tunggal. inkremental kerja yang dilakukan oleh inkremental gaya di arah perpindahan yang sudah ada diberikan oleh dWc  dP1u1  dP2 u 2  .7.7.7.  Pn du n (5. Gambar 5. diperoleh 1 n W  Wc   P1u i 2 i 1 (5.  dPn u n (5..1: Kerja Oleh Gaya di Arah Perpindahan Andaikanlah bahwa ada n gaya yang masing-masing bekerja melalui perpindahan yang koresponden.7.5) seperti yang diperagakan dalam Gambar 5. Gambar 5.4) Untuk suatu sistem yang elastic linier. Dengan demikian.

yaitu Wi  U (5.6) yang untuk sistem yang adiabatic.8) dengan U 0 yang merupakan kerapatan energi regangan yang telah dibahas dalam Pasal 5.8) merupakan rumus standard bagi kasus sistem menerus. Untuk batang pendel. regangan teritlak adalah rotasi  x dan tegangan teritlak adalah momen torsi M x sehingga energi regangan torsional suatu balok berbentang L diberikan oleh 85 . kerja total menjadi W  Wc  Wi (5.2) Untuk batang torsional. regangan teritlak adalah  xx dan tegangan teritlak adalah  xx sehingga energi regangan aksial suatu balok berpenampang A dan bentang L diberikan oleh 1 1 Px2 2 L 2 L EA Un    xx xx A dx  dx (5.8 Energi Regangan Batang Linier Bentuk energi regangan dalam Pers. yaitu dengan memandang vektor tegangan dan vektor regangan dalam Pers.8.7) di mana U adalah energi regangan yang diberikan oleh 1 1 2  U     dV  U 0 dV V 2 V (5.(5. yaitu We yang merupakan kerja luar yang dilakukan oleh gaya-gaya luar. Energi regangan tersebut dapat dituangkan ke dalam bentuk yang dapat diterapkan kepada sistem yang terdiri atas batang-batang.7.7. kerja dalam identik dengan energi regangan yang tertimbun dalam sistem.8) sebagai vektor tegangan dan vektor regangan teritlak (generalized stresses and strains).5.7. termasuk gaya badan dan gaya traksi permukaan. Dengan demikian. Kerja dalam suatu sistem dapat dibagi atas dua bagian. 5.7.7. serta Wi yang merupakan kerja dalam yang dilakukan oleh gaya-gaya dalam.(5.8. regangan teritlak adalah kelengkungan  x   w / x dan 2 2 tegangan teritlak adalah momen lentur M zz  EI w / x  EI x sehingga energi 2 2 regangan lentur suatu balok berbentang L diberikan oleh 1 1 M z2 2 L 2 L EI zz Um   x M z dx  dx (5. termasuk gaya badan dan gaya traksi permukaan.1) Untuk batang lentur.

Z).8.Z) dari gaya luar yang diketahui dan bekerja pada permukaan. energi regangan menjadi 1 Px2 1 M z2 1 M x2 2 L EA 2 L EI zz 2 L GI x U  Un Um Ut  dx  dx  dx (5.2) t z   zx  m zy  n zz  t z pada permukaan S yang memiliki normal dengan koefisien arah (l.9. Perpindahan ini menimbulkan regangan  dan tegangan  .Y.m.1. (5.9.3) Untuk batang yang mengalami ketiga ragam deformasi sekaligus. maka tinjaulah suatu sistem struktur medium menerus yang sebelum pembebanan menempati konfigurasi awal V0 yang dibatasi permukaan S 0 seperti dalam Gambar 5.4) 5. dalam format yang sangat sering diterapkan orang. struktur mengalami perpindahan u sedemikian hingga sistem menempati konfigurasi akhir V yang dibatasi permukaan S pada mana struktur mencapai keseimbangan di bawah pengaruh gaya-gaya luar tersebut.9 Prinsip Kerja Perpindahan Maya Prinsip kerja perpindahan maya (virtual atau khayal) adalah suatu bentuk alternatif pernyataan dari kriteria keseimbangan sistem struktur. khususnya dalam kasus sistem struktur yang merupakan sistem berupa medium menerus (kontinuum). 86 .9. Perpindahan u memenuhi persyaratan keserasian dan  memenuhi persyaratan kompatibilitas.9.1) σ xy  σ yy  σ zy  b y  0 (b) x y z    σ xz  σ yz  σ zz  b z  0 (c) x y z pada titik-titik bermateri dalam volume V.Y. (t x .8. Keseimbangan sistem struktur menyaratkan bahwa    σ xx  σ yx  σ zx  b x  0 (a) x y z    (5. t z ) adalah komponen pada (X. 1 1 M x2 2 L 2 L GI x Ut   x M x dx  dx (5. dan syarat batas gaya t x   xx  m xy  n xz  t x t y   yx  m yy  n yz  t y (5. t y . Akibat gaya luar yang terdiri dari gaya badan (body force) b dan gaya traksi permukaan t .n) terhadap sumbu (X. Dalam Pers.2). Untuk menjelaskan prinsip ini.

9.9. karena integran dalam integrasi bernilai nol.1: Prinsip Kerja Perpindahan Maya Kemudian.3) dapat dimodifikasi dengan melakukan pengelompokan unsur-unsur dengan bentuk sebagai berikut. perpindahan maya ini. (5.9. Bentuk dalam Pers.9. w) adalah komponen dari  u yang nota bene sembarang.1) dan (5. dapat merupakan perpindahan yang mengikuti pola perpindahan riel u yang tentunya memenuhi syarat-syarat batas natural pada S.   W       xxu    yxv      zxw v  x y z    xyu     yyv     zyw x y z      xzu     yzv      zzw  dV  x y z   87 .9. (5.9.1) dan (5.3) jelas berlaku.2). atas konfigurasi V yang berseimbang.9. Dengan mengingat bentuk-bentuk dalam Pers. Pada dasarnya. dibayangkan terjadinya suatu medan perpindahan maya  u yang sembarang namun secara kinematis dimungkinkan.3)     ( σ xz  σ yz  σ zz  b z )w dV  x y z   (t S x  t x )u  (t y  t y )v  (t z  t z )w  dS dalam mana (u . (5.9. v. mengingat bentuk dalam Pers.2) kita dapat menuliskan     W   ( σ xx  σ yx  σ zx  b x )u  v  x y z    ( σ xy  σ yy  σ zy  b y )v  x y z (5. Gambar 5. Bentuk dalam Pers. (5.

9.2).  xy  u  v (5. u )dV   (t.4)   (t x u  t y v  t z w) dS  0 S Dengan melihat bahwa integran-interan dalam interasi volume pertama dalam Pers. (5.9. maka diperoleh W     xx xx   yy yy   zz zz   xy xy   yz yz   zx zx  v    ( xx  m xy   xz  t x )u  ( yx  m yy  n yt  t y ) dV S (5. dapat dituliskan dalam bentuk ~ ~ W    ( . u )dS  0 V V S (5. (5.9.~ )dV   (b . (5.6)  ( S xx u x   xyv   xz ) dS Dengan melakukan proses yang sama terhadap dua integran lainnya.9.4) dapat dituliskan dalam bentuk   W      xxu   xyu   xzu   y  yxu   yyv   yzw v  x    zxu   zyv   zzw  dV z         xx u   yy v   zz w   xy ( u  v ) v x y z y x        yt ( v  w)   zx ( w  u  dV z y x z    (b x u  b y v  b z w) dV   (t x u  t y v  t z w) dS v S (5.7) x y y x dan seterusnya.9. dituliskan     x ( xx u   xyv   xzw) dV dV   v (5.9.  (b u  b v  b w)dV   (t v x y z S x u  t y v  t z w) dS (5.9.9.  yy  v .9.8)  ( zx  m zy  n xx  t z )w dS    (bxu  byv  bzw)dV   (t xu  t yv  t zw)dS  0 v S yang dengan mengingat bentuk dalam Pers. serta menuliskan      xx  u .5) menjadi integrasi permukaan.9) 88 .5)   (t x u  t y v  t z w) dS  0 S Setelah itu. diterapkan teorema Gauss untuk merobah integrasi-integrasi volume dalam Pers. Sebagai contoh.

12) dan (5.10) kita secara prosedur berbalikan dapat menemukan bentuk dalam Pers. (5. sama dengan kerja dalam yang (5. sama (5. Karena dari Pers. (5.9.13) timbul.9. kita dapat menuliskan pernyataan berikut ini. u~ )dV   (t.9. u )dS V S (5. Jika kerja yang dilakukan oleh gaya luar di arah perpindahan maya. sering dihadapi kebutuhan untuk menghitung perpindahan yang terjadi pada arah suatu gaya. maka kita dapat mengatakan bahwa untuk suatu sistem struktur yang seimbang.10) berdasarkan kriteria keseimbangan. (5.~ )dV V ~  We   (b .9. jika kerja dalam sama dengan kerja luar. maka kerja yang dilakukan oleh gaya luar di arah perpindahan maya.10 Teorema Castigliano Dalam analisis. maka sistem berada di dalam keadaan seimbang. (5. sistem seimbang ↔ kerja luar = kerja dalam (5.9) diperoleh  U   We (5. (5.Akhirnya. Dengan demikian. maka sistem struktur berada dalam keseimbangan.9. Sebaliknya juga berlaku pernyataan sebagai berikut ini. dengan bantuan teorema Castigliano. perpindahan pada suatu lokasi yang ditanyakan. Karena kita telah menyusun bentuk persamaan dalam Pers. Tentunya.9.9. Namun. kedua pernyataan dalam Pers. kita dapat melakukan hal ini dengan cara formal.14) 5.1). 89 .9. maka kerja dalam sama dengan kerja luar.9. dapat dihitung tanpa melakukan integrasi formal persamaan diferensial batang.12) dengan energi dalam maya.11) yang masing-masing merupakan energi regangan maya (atau kerja dalam maya) dan kerja gaya luar di arah perpindahan maya.9. atas mana dapat dimasukkan parameter lokasi titik pada mana komponen perpindahan (translasi ataupun rotasi) ingin dihitung. Jika suatu sistem berada di dalam keadaan seimbang.13) dapat dituliskan dalam bagan sebagai berikut. berupa integrasi langsung persamaan diferensial untuk mendapatkan solusi perpindahan. dari Pers.10) di mana U    ( . maka kita juga dapat mengatakan bahwa. Secara skematis. atau gaya yang menimbulkan perpindahan tertentu.9.

8) Pk maka Pers.10.4) uk dalam mana δik adalah delta Kronecker.10. jika energi regangan dipandang sebagai fungsi kuadrat di dalam perpindahan. (5.~ )dV i 1 2 V (5.6) perpindahan tersebut. berapa Pi yang bekerja dan yang menimbulkan perpindahan ui yang diketahui? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.10.10.10. Di lain pihak. maka Pers. (5.10.1) atau n 1  Pu i i   ( .3) k dan karena ui   ik (5.10.7) menghasilkan U uk  (5. dengan gaya-gaya (Pi. yaitu We  U (5. Pertama.5) uk yang merupakan Teorema I dari Castigliano yang mengatakan. Turunan energi regangan terhadap suatu perpindahan. jika energi regangan dituliskan dalam fungsi kuadrat gaya.10.10.10. berapa perpindahan ui yang diukur pada arah Pi? Atau sebaliknya.1.10.2) dapat diperoleh n ui U  P u i 1 i  u k (5. (5. n) yang bekerja.10. Pertanyaannya sekarang. kita mulai dengan menyusun persamaan keseimbangan yang dinyatakan di dalam kesamaan energi dalam dan kerja luar yang dilakukan oleh gaya-gaya.7) yang karena Pi   ik (5. kita meninjau suatu sistem struktur dalam Gambar 5.2) diperoleh n Pi U u i 1 i  Pk Pk (5.9) Pk 90 . maka dari Pers. menghasilkan gaya di arah (5.2) di mana energi regangan dapat dinyatakan sebagai fungsi kuadrat dari komponen perpindahan atau komponen gaya.3) memberikan U Pk  (5.10. (5. Untuk menurunkan teorema Castigliano. i=1.10. maka dari diferensiasi parsial Pers.

1: Teorema Castigliano Dengan demikian.10.2.10. sebagaimana dipaparkan berikut ini. yaitu 1 M 2 ( x) 2 L EI Um  dx (5.11) dengan momen yang kita peroleh dalam badan bebas potongan sebagai M ( x)  P( L  x) (5. kita dapat menghitung perpindahan tersebut. menurut Teorema II Castigliano. maka dengan bantuan teorema Castigliano. yaitu perpindahan translasi dengan gaya translasi terpusat. (5. yang mengatakan Turunan energi regangan terhadap suatu gaya. diferensiasi parsial dari energi regangan terhadap suatu componen gaya. Pertama.10) gaya tersebut. akan menghasilkan komponen perpindahan yang terjadi dan diukur di arah komponen gaya tersebut. akan menghasilkan komponen gaya yang bekerja di arah komponen perpindahan tersebut. Tanpa menyusun fungsi perpindahan secara formal.8. diferensiasi parsial dari energi regangan terhadap suatu componen perpindahan. Di lain fihak.10. tinjaulah suatu balok kantilever dengan gaya terpusat P pada ujung bebas seperti terlihat dalam Gambar 5. komponen perpindahan dan komponen gaya dalam teorema Castigliano adalah komponen yang koresponden. Pada hematnya. Sebagai contoh.10.10. Gambar 5. jika energi regangan secara eksplisit dinyatakan sebagai fungsi dari perpindahan dan/atau gaya. dan rotasi dengan momen.2). menghasilkan perpindahan di arah (5.yang merupakan Teorema II dari Castigliano. kita dapat menyusun energi regangan lentur seperti telah dituliskan di dalam Pers. Kita ingin menghitung perpindahan di titik ujung bebas tersebut. karena yang kita hadapi adalah batang dengan ragam lentur.12) 91 . maka menurut Teorema I Castigliano.

atau menghitung besarnya gaya di arah perpindahan yang diketahui.14) P 20 EI 3EI 5. Sekarang timbul pertanyaan. maka kita mengerjakan gaya palsu di arah rotasi tersebut.1) yang dapat dimasukkan ke dalam Pers.13) EI yang menurut Pers. Inilah alasan kenapa cara ini dinamakan metoda gaya maya atau palsu.10.2) 20 EI 92 . bidang momen menjadi M ( x)  P( L  x)  m (5. dalam hal ini momen seperti dalam Gambar 5.10.10.11. Setelah itu.8.8).2). pada titik di mana dan pada arah mana tidak ada gaya bekerja. (5. Hal ini dapat dilakukan dengan metoda gaya maya atau gaya palsu (dummy load method) sebagai berikut. prosedur yang sama dengan cara Castigliano dilaksanakan dengan menerapkan teorema II Castigliano dalam Pers.10. Jika kita ingin menghitung rotasi titik ujung balok kantilever dalam Gambar 5.11 Metoda Gaya Maya Dalam Pasal 5.10.10. Pertama. bagai mana kita dapat menentukan perpindahan pada suatu arah. diperoleh 1 P 2 ( L  x) 2 2 L Um  dx (5. dikerjakan suatu gaya. Untuk kasus ini. bagai mana kita dapat menghitung perpindahan pada tengah bentang kantilever dalam Gambar 5. memberikan L U m 1 (2 P )( L  x) 2 PL3 wb    dx  (5.8).2. Gambar 5. padahal tidak ada gaya yang bekerja di arah tersebut.2: Penerapan Teorema Castigliano Dengan demikian. (5.2.10. Cara ini dapat diterapkan dalam contoh berikut.11. karena gaya itu memang tidak ada.1.11.10 telah dipaparkan bahwa teorema Castigliano dapat digunakan untuk menghitung perpindahan di arah gaya yang diketahui. Hasil akhir diperoleh dengan memasukkan nilai nol dalam gaya tersebut. Sebagai contoh. untuk memberikan L 1 [ P ( L  x )  m ]2 Um   dx (5. di arah dan pada lokasi dimana perpindahan ingin dihitung. (5.

i  1. (5. Gambar 5.1) sehingga hubungan kerja dalam dan kerja luar diberikan oleh 93 . n) seperti dalam Gambar 5.11.4) untuk mendapatkan hasil akhir. pandanglah suatu sistem struktur dengan dua skema pembebanan (Pi. i = 1. sehingga akhirnya dinamakan teorema Maxwell-Betti.11.12.3) sehingga diperoleh PL2 mL b   (5. timbul perpindahan (ui. Jika gaya Pi bekerja sendiri. (5. yang kemudian disempurnakan oleh Maxwell. Sekarang dapat muncul pertanyaan.11. I = 1. n (5. timbul (Vi. yaitu PL2 b  (5.12 Teorema Timbal Balik Maxwell-Betti Teorema Castigliano berurusan dengan gaya dan perpindahan pada lokasi yang sama dalam struktur. m) dan (Q j.5) 2 EI 5. Perpindahan total menurut hukum superposisi menjadi wi  ui  vi . maka nilai m = 0 dimasukkan ke dalam Pers.11. (5.11.11. dan jika Q j bekerja sendiri.12.1.9) atas bentuk dalam Pers. i = 1.1: Penerapan Metoda Gaya Palsu Penerapan teorema II Castigliano dalam Pers. Untuk menjelaskan teorema ini.n).4) 2 EI EI dan karena m adalah palsu. j = m + 1. bagaimana kita dapat menghitung perpindahan pada suatu lokasi akibat gaya yang bekerja di lokasi lain? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan teorema Betti.2) memberikan L U m [ P ( L  x )  m] b   (1) dx m 0 EI (5. sebagai berikut.10.n).

1 m 1 n 1  2 i 1 Pi ui  2 Q w j m 1 j j  2   w w dV V (5.12. ini berarti bahwa vi telah ada saat Pi dikerjakan.12.12. Dalam hal ini.(5.12. maka dari Pers.4) 1 1 2   u  u dV   u v dV   v v dV V V 2 V Karena hasil harus sama dan tidak tergantung dari urutan bekerjanya gaya.2) Jika diandaikan Pi bekerja terlebih dahulu. baru Qj menyusul.3) 1 1  2 V  u  u dV   v u dV   v v dV V 2 V Di lain pihak. jika Qj dikerjakan terlebih dahulu baru Pi menyusul kemudian.12. kaitan kerja luar dan energi regangan menjadi 1 m n 1 n  Piui  2 i 1 Q u j  m 1 j j  2 Q v j  m 1 j j  (5. maka ui sudah ada pada saat Qj dikerjakan.2). (5.4) diperoleh m n  Pv i 1 i i  Q u j  m 1 j j (5.5) 94 . Dalam hal ini diperoleh 1 m m 1 n  2 i 1 P u i i   i 1 Pi vi  2 Q v j  m1 j j  (5.3) dan (5.12.12.

12. (5. diperoleh (vB )( P )  (uC )(1) (5. Sekarang. sama dengan perpindahan di lokasi kedua akibat satu satuan gaya di tempat pertama. Gambar 5. dengan solusi yang sangat mudah. yaitu (1)( L3 )   a  a  2 3 vB     3     (5. merupakan kondisi khusus dari teorema Maxwell. karena dalam kasus ini. diperoleh hasil dengan menerapkan hasil yang sudah diperoleh sebelumnya. untuk a = L. (5.12. karena fungsi perpindahan dan gaya-gaya dalam pada segmen AB berbeda dengan yang ada pada segmen (bidang momen berbeda antara segmen AB dan BC. Selanjutnya. kita memiliki fungsi perpindahan dan gaya dalam yang manunggal.5) yang merupakan teorema Betti menyatakan bahwa kerja yang dilakukan oleh suatu pola gaya di arah perpindahan akibat pola gaya yang lain. teorema Betti yang dinamakan hukum timbal balik (reciprocal theorem). Penentuan ini dengan cara biasa akan cukup sulit. di mana ditinjau kaitan dua gaya yang bernilai satuan gaya. (5.39) memberikan (1)(v1 )  (1)(u 2 ) (5. sehingga Pers. diperoleh PL3 uC  (5.1: Teorema Betti Bentuk dalam Pers.10) 3EI 95 .7) 6 EI   L   L   Menurut teorema Maxwell-Betti dalam Pers.12. sama dengan kerja yang dilakukan oleh pola gaya yang kedua di arah perpindahan akibat pola gaya yang pertama tadi.9) 6 EI   L   L   Sebagai pemeriksaan.2.12. Akibat Q = 1 ini.8) sehingga diperoleh hasil PL3   a  2  a 3  uC  3      (5. Kita ingin menghitung perpindahan di ujung bebas akibat P pada lokasi sejarak a dari jepitan A.12.12.12. Keampuhan dari teorema timbal balik ini dapat didemonstrasikan dalam contoh yang ada dalam Gambar 5. dan karenanya perpindahan pada kedua segmen batang tersebut juga akan berbeda). kita mengerjakan Q = 1 pada ujung C.12.6).12.6) yang memiliki interpretasi bahwa perpindahan di suatu tempat pertama akibat suatu satuan gaya di suatu tempat kedua.

kemudian diberi rotasi sebesar satu satuan.2: Penerapan Teorema Maxwell-Betti 5. maka kita menghapus kekangan pada penampang yang menimbulkan momen Mc tersebut.12. 1  ( L  xC ) . Prinsip ini sendiri disusun berdasarkan teorema Betti sebagai yang akan disajikan berikut ini Kita meninjau suatu balok dengan bentang L seperti dalam Gambar 5.1. yaitu dengan memberi sendi dalam pada penampang tersebut.13 Prinsip Müller-Breslau Prinsip Müller-Breslau bermanfaat untuk diterapkan di dalam penyusunan garis pengaruh dalam kasus sistem struktur dengan beban bergerak.13.1) L L L 96 .13. Akibat dari rotasi tersebut. 2  ( L  x2 ) (5. yaitu Өc = 1. timbul perpindahan badan kaku dari balok dengan perpindahan xC x1 xC C  ( L  xC ) . Jika kita ingin menyusun garis pengaruh dari momen pada penampang pada lokasi sejarak xc dari A. Gambar 5.

Gambar 5.1b. pola perpindahan badan kaku yang diperoleh dengan melepaskan kekangan yang mengerahkan momen Mc. Dengan demikian.2) yang menghasilkan M C  ( P1 )(1 )  ( P2 )( 2 ) (5.13. Dengan demikian.13. prinsip Müller-Breslau dapat diterapkan dengan menjalankan suatu prosedur sebagai berikut. seperti terlihat dalam Gambar 5. dan pada lokasi pelepasan kekangan tersebut (dalam contoh ini sendi dalam) dikerjakan satu satuan perpindahan (dalam contoh ini. satu satuan notasi). untuk penyusunan garis pengaruh. 1.3) yang menuruti sifat khas daripada suatu garis pengaruh.1: Penurunan Prinsip Müller-Breslau Kita sekarang menerapkan teorema Betti atas gaya-gaya dan perpindahan dalam model Gambar 5. Lepaskanlah kekangan yang mengerahkan gaya yang diminati serta yang garis pengaruhnya ingin disusun. 97 .1b dan 5. Melawan arah perpindahan akibat pelepasan tersebut. Pelepasan ini akan memperkenankan kecenderungan terjadinya perpindahan pada garis kerja gaya.1c sebagai ( Rav )(0)  ( P1 )(1 )  ( M C )(1)  ( P2 )( 2 )  ( Rbv )(0)  0 (5. 2. diberikan satu-satuan perpindahan.13.13.13. adalah garis pengaruh yang dimintakan bagi gaya yang diminati.13.

jika diminati garis pengaruh gaya reaksi Rav.14.14.14 Metoda Bidang Momen Metoda bidang momen merupakan pemanfaatan persamaan kelengkungan balok lentur. Tinjaulah suatu balok lentur seperti dalam Gambar 5. Gambar 5. Untuk balok pada segmen AB sepanjang L.13. yaitu perpindahan translasi di arah gaya Rav.2) Interpretasi dari Pers.13.2 misalnya. Lalu.3. dari gaya yang berjalan di atas bentang AB. Dengan demikian.14.2: Penerapan Prinsip Müller-Breslau 5.14.2) adalah bahwa luas bidang momen dibagi EI. memberikan konfigurasi akhir dari balok yang sekaligus merupakan bentuk dari garis pengaruh yang diinginkan.2.2c. kita dapat mengisolir sumbangan rotasi yang dikerahkan oleh 98 .1. Metoda bidang momen (moment area method) disusun dengan menggunakan persamaan kelengkungan yang telah diturunkan dalam Pasal 5. dilepaskan.13. memberikan perubahan sudut kemiringan antara dua penampang pada batang. ujung A yang sudah bebas tersebut diberi satu satuan perpindahan seperti dalam Gambar 5. yaitu d 1 M ( x)   (5.6. (5. telah didapatkan garis pengaruh terhadap R av. Perpindahan balok akibat pelepasan kekangan dan pengerjaan satu satuan perpindahan di arah gaya. memberikan Xb M ( x) b  a   Xa EI zz dx (5. maka kekangan yang mengerahkan Rav tersebut. dalam perhitungan perpindahan dan rotasi balok.1) dx  EI zz yang jika diintegrasikan di sepanjang bentang xb – xa = l.13. seperti diperlihatkan dalam Gambar 5. Untuk struktur contoh dalam Gambar 5. Interpolasi ini dapat dijadikan dasar untuk menurunkan rumus yang lebih formal sebagai berikut. dalam hal ini perletakan sendi.

4) dan perpindahan tangensial ∆ab dan ∆ba yang diberikan oleh Xb Xb M ( ) M ( )  ab  l a   (l   ) d .14.3) l l EI zz l l EI zz sehingga Xb X l   M ( ) b  M ( ) a  X l EI zz d .1b. d b  d  d (5.14.14.segmen batang sepanjang d  . diperoleh Gambar 5.  ba  lb     d (5.1: Metoda Bidang Momen l  l   M ( )   M ( ) d a  d  d . Dengan demikian.5) Xa EI zz Xa EI zz 99 .  b  X l EI zz d a a (5. dengan memisalkan bagian batang lainnya dalam segmen l di luar segmen d  tersebut.14. seperti dalam Gambar 5. kaku tak terhingga.14.

15.15. (5.3) masing-masing memberikan rotasi dan 100 .15.Persamaan (5.1) yang memberikan Lx x d a   d . db   d (5.5) masing-masing memberikan rotasi dan perpindahan dalam suatu segmen balok dengan bidang momen dan kekakuan lentur EI yang diketahui.11) bagi balok dalam Gambar 5.15.1. 5.14. sebagai “beban” dalam perhitungan perpindahan dan rotasi balok.14.4) dan (5. (5.1: Metoda Balok Konyugasi M ( x) d  dx EI zz (5.3) L Yang menarik dari bentuk Pers. kita menuliskan kembali bentuk dalam Pers.2) L L dan x( L  x) dw( x)  xda   d (5. (5.1) dipandang sebagai gaya di atas suatu “balok”.15 Teorema Balok Konyugasi Metode balok konyugasi (conjugate beam) merupakan suatu varian lain daripada pemanfaatan bidang momen dibagi dengan faktor EI.15. yaitu Gambar 5. maka gaya lintang dalam Pers. (5. Untuk itu.15.15.3) adalah bahwa jika d dalam Pers.15.14.15.2) dan (5. (5.2) dan momen pada Pers.15.

15.perpindahan balok yang sesungguhnya. Ini berarti bahwa ujung bebas balok sebenarnya diwakili oleh ujung jepit pada balok konjugasi. Pertanyaan kita sekarang adalah bagai mana syarat-syarat batas pada balok konjugasi harus dipilih.15. sebagaimana disajikan dalam Tabel 5.1: Hubungan Balok Dengan Balok Konyugasi Tabel 5. perpindahan w dan rotasi  adalah bebas.1. Lihat Tabel 5. sehingga dalam balok konjugasi Vˆ ≠ 0 dan M̂ = 0.15. M̂ = 0 dan Vˆ = 0. Kita melihat bahwa ada kaitan antara balok sebenarnya dengan balok konyugasi. Untuk ujung bebas balok sebenarnya. Ini berarti bahwa perletakan sendi balok sebenarnya diwakili oleh perletakan sendi pada balok konjugasi. Dengan demikian. agar solusi yang diperoleh dari peninjauan balok konyugasi dapat memberikan perpindahan yang memenuhi syarat-syarat batas balok yang sesungguhnya. maka w = 0 dan  = 0. sehingga momen M̂ dan geser Vˆ dalam balok konjugasi dibuat tidak nol. Suatu “balok” yang memiliki sifat seperti ini dinamakan balok konjugasi (conjugate beam). Untuk perletakan sendi balok sebenarnya.2 sebagai penjelasan.  ≠ 0 dan w = 0.2: Perletakan Balok Dengan Balok Konyugasi Yang perlu dicatat adalah bahwa metoda balok konjugasi ini dapat memberikan kemudahan. Tabel 5. ujung jepit diwakili oleh ujung bebas pada balok konjugasi. atau justru kerumitan di dalam perhitungan perpindahan dan rotasi balok 101 . Untuk jepitan pada balok sebenarnya.15. sehingga pada balok konjugasi.

2.1 akibat gaya terpusat P.2: Dengan cara Castigliano.3) P 1  L x  P  PL3  0 [ ][  x]2 dx        dx  EI 2 L/ 2  2 2   EI  48EI Gambar 5. 102 .1) 2  2  2 di mana h adalah fungsi tangga (step function). perpindahan wc dapat ditentukan dengan penurunan energi regangan terhadap gaya P yang kebetulan searah dengan wc.16. terapkanlah teorema Castigliano untuk menghitung perpindahan tengah bentang balok sederhana dalam Gambar 5. sehingga  1  L  L M ( x )   x   x  h x   (5.16.1: Dengan tidak menyusun fungsi perpindahan secara formal lewat integrasi persamaan diferensial terlebih dahulu.16.16 Contoh Penerapan Contoh 5.2) P 2  2   2 Menurut teorema Castigliano. 5. Penyelesaian: Bidang momen untuk balok ini dapat disusun dalam bentuk 1  L  L M ( x)   Px  P x  h x   (5.1 Contoh 5. hitunglah reaksi perletakan B akibat gaya terpusat P pada ujung bebas struktur balok dalam Gambar 5. Jadi U M ( x) M ( x) wc   dx  P EI P L/2 L 2 (5.16.16. Efektifitas penerapan metoda balok konjugasi tergantung kepada kondisi balok yang dihadapi.16.sebenarnya.1: Struktur Contoh 5.

16.6) 2L 1 5 PL3 Rbv L3  [ ][P ( 2 L  x)  Rbv ( L  x)](0) dx   L EI 6 EI 3EI Kita mengetahui bahwa perpindahan di arah RBv adalah nol.16. perpindahan di B diberikan oleh U M ( x ) M ( x ) wb   dx  Rbv EI Rbv L 1  [ EI ][P(2 L  x)  R 0 bv ( L  x )]( L  x) dx (5.4) dan  M ( x)  ( L  x)[1  h( x  L)] (5.7) 6 EI 3EI dengan solusi 5 Rbv   P (5.2: Struktur Contoh 5.16.16.8) 2 103 .Penyelesaian: Dengan melepas perletakan sendi di B dan mengerjakan R Bv sebagai gaya luar.16. jadi 5 PL3 Rbv L3  0 (5.2 Menurut teorema Castigliano.16. diperoleh momen lentur M ( x)  P ( 2 L  x)  Rbv ( L  x )[1  h( x  L)] (5.5) RBV Gambar 5.

1.4 akibat gaya terpusat P pada ujung tersebut.3 Penyelesaian: Karena tidak ada gaya di arah a (dalam hal ini momen). Dengan demikian.11) Px x P x PL2  0 ( 2 EI )(1  ) dx   ( L L/2 2 EI )( x  L)(1  ) dx  L 16 EI Contoh 5. Penyelesaian: 104 . Gambar 5.4: Dengan metode balok konjugasi.16. hitunglah rotasi titik A akibat gaya terpusat P pada tengah bentang struktur Contoh 5.16.3: Dengan metode beban palsu. momen palsu ma = 0 dikerjakan pada titik A di arah positif.16. diperoleh U M ( x) M ( x) a   dx  ma EI ma L/2 L (5. tentukanlah perpindahan dan notasi pada ujung bebas balok kantilever yang diperagakan dalam Gambar 5.9) 2 2 2 L dari mana diperoleh  x M ( x )  (1  ) ma L (5.16. bidang momen menjadi 1 L L x M ( x)   Px  P( x  )h( x  )  (1  ) ma (5.10) Menurut teorema beban palsu.Contoh 5.3: Struktur Contoh 5.16.

Karena momen harus nol pada sendi dalam penampang C balok konjugasi.16. Karena pada balok. Balok konjugasi diperoleh dengan melihat bahwa w a = 0. wb    L  (5.4(d).4(c) balok asli.16. diperoleh 1  PL  PL2 1  PL   2 L  PL3 a    L  .16. titik C menjadi sendi dalam pada perletakan balok konyugasi.5: Dengan metode balok konyugasi. Bidang momen dibagi faktor EI dalam Gambar 5.5. maka dalam balok konjugasi A menjadi ujung bebas dan B ujung terjepit seperti dalam Gambar 5. Penyelesaian: Kita menyusun bidang momen yang dibagi dengan faktor EI. maka ujung B dibuat terjepit dalam balok konjugasi.5(c). Gaya geser dan momen pada titik B balok konjugasi. seperti dalam Gambar 5. menjadi gaya luar pada balok konjugasi. c ≠ 0 tetapi wc = 0. kondisi ujung A adalah terjepit dan B bebas. Karena b ≠ 0. a = 0 sehingga titik A menjadi ujung bebas dalam balok konjugasi. wb ≠ 0.16. maka haruslah 1  M a L   2 L   PL  L  L    L    ( )   0 2  EI   3   EI  2  3  sehingga 105 . memberikan rotasi dan perpindahan ujung B pada balok asli. Dengan demikian.16. karena itu.4 Contoh 5.12) 2  EI  2 EI 2  EI   3  3EI Gambar 5.4: Struktur Contoh 5.16. di mana besaran M a belum diketahui. hitunglah momen pada perletakan jepitan A sistem struktur seperti dalam Gambar 5. Pada titik C.

5: Struktur Contoh 5. karena δhc searah dengan gaya P.16. tentukanlah gaya reaksi dan perpindahan pada perletakan C struktur dalam Gambar 5. kita akan menggunakan metoda beban palsu dengan mengerjakan Mc = 0 pada C. justru lebih sulit dari pada perhitungan yang sama dalam balok biasa. Perpindahan vertikal di C adalah nol.13) 2 Gambar 5. tetapi reaksi Rbv yang dalam ini kita ambil sebagai gaya kelebihan.6: Dengan metoda Castigliano.5 Sebagai tambahan. Untuk menentukan δhc. Contoh 5. penerapan metoda konjugasi dalam menghitung perpindahan dan rotasi di titik B. Penyelesaian: Ada dua komponen perpindahan pada titik C. 1 Ma  PL (5. Momen lentur menjadi CB : M ( s )  Rbv s  M c BA: M (t )  Rbv l  M c  P t 106 .6 akibat gaya horisontal P pada titik B. kita akan menurunkan energi regangan terhadap gaya P.16. Untuk menentukan θc. karena segmen CB merupakan sistem statis tidak tentu dalam versi balok konjugasi.16. yaitu δhc dan θc.

Penyelesaian: Momen jepit Ma pada ujung A dipandang sebagai gaya kelebihan. M ( s )  1.  c  8 48 EI 16 EI (5.7.  hc  . Bidang momen pada sistem statis tentu dalam Gambar 5.16. Gambar 5. hitung gaya-gaya serta perpindahan ujung balok akibat gaya momen M yang bekerja langsung pada ujung B.7: Dengan metoda Castigliano.6 dengan    M (s)  0 .16.15) Contoh 5. M (s)  s .6: Struktur Contoh 5.16.14) Menurut teorema Castigliano. seperti dalam Gambar 5.16.16. diperoleh L L M ( s ) M ( s ) M (t ) M (t ) R L3 PL3  hc   ds   dt   bv  0 EI P 0 EI P 2 EI 3EI L L M ( s ) M ( s ) M (t ) M (t ) R L3 R L3 PL3  vc   ds   dt   bv  bv  0 0 EI Rbv 0 EI Rbv 3EI EI 2 EI L L M ( s ) M ( s ) M (t ) M (t ) R L2 R L2 PL2 c   ds   dt   bv  bv  0 EI M c 0 EI M c 2 EI EI 2 EI dengan solusi 3 7 PL3 PL2 Rbv  P .7(b) menjadi 107 . M (t )  L .  vc  0 . P Rbv M c    M (t )  t . M (t )  1 P Rbv M c (5.

8: Kerjakanlah kembali Contoh 5.17) M a L M L Gambar 5.16. yaitu a  0 (5.7 Menurut teorema Castigliano.16.16. Keseimbangan gaya di arah vertikal dan momen terhadap sendi B balok konyugasi memberikan 108 .18) U M ( x) M ( x) M L ML b   dx   a  M 0 EI M 6 EI 3EI Syarat batas natural diberikan oleh persyaratan keserasian perpindahan pada titik A.7 namun dalam kesempatan ini digunakan metoda balok konyugasi. menjadi gaya balok konyugasi dari sistem struktur balok Gambar 5.16.8.16) L L dari mana diperoleh  x  x M ( x)  (1  ) . menghasilkan 1 ML Ma  M .19) yang jika dimasukkan dalam bentuk persamaan sebelumnya.16.7 yang dibagi dengan faktor EI. M ( x)  (5.16.20) 2 4 EI Contoh 5. b  (5. Penyelesaian: Bidang momen dalam Contoh 5. x x M ( x)  (1  )M a  M (5.7: Struktur Contoh 5. perpindahan dapat diperoleh dengan rumus L U M ( x) M ( x) M L ML a   dx   a  M a 0 EI M a 3EI 6 EI L (5.16.

21) 2 4 EI Gambar 5. Bidang momen menjadi x x x L M ( x)  (1  ) M a  M b  [  h( x  )]M c L L L 2 (5.8: Struktur Contoh 5. dan θc. 1 Ma 1M Rbv  L L0 2 EI 2 EI 1 M a 2L 1M L  L( )  L( )  0 2 EI 3 2 EI 3 yang menghasilkan: 1 ML Ma  M . hitung rotasi pada ujung-ujung dan perpindahan pada titik tengah bentang. kita sudah memiliki gaya P di arah wc tersebut. sedangkan untuk menentukan wc. Dengan metoda Castigliano.16.16. dibebani gaya P seperti dalam Gambar 5. Penyelesaian: Untuk dapat menghitung θa.22) dari mana diperoleh 109 .  b   Rbv L  (5.16. 9: Sistem struktur balok dengan bentang L dan kekakuan lentur EI yang bervariasi. pada arah rotasi-rotasi tersebut dikerjakan Ma = 0. Mb = 0 dan Mc = 0.9.8 Contoh 5.16. θb.

25) Contoh 5.10: Dengan menggunakan metoda balok konjugasi. M a L M b L  x L  x L L M ( x)   h( x  ) . sehingga diperoleh PL2 PL2 PL3 a   . M ( x)  .16. wc   16 EI 16 EI 48 EI (5.9: Struktur Contoh 5.23) Gambar 5.16. tentukan perpindahan dan rotasi balok Contoh 5.9 akibat gaya terpusat P pada tengah bentang.  c  0 . α = 1. Penyelesaian: 110 .  x  x M ( x)  (1  ) .16.16. M ( x)    ( x  ) h( x  ) M c L 2 P 2 2 2 (5.24) M ( x ) M ( x ) PL2 1 c   dx   (1  ) 0 EI M c 48 EI  L M ( x ) M ( x ) PL2 1 wc  0 EI P dx   96 EI (1  )  Untuk kasus khusus berupa balok prismatis. perpindahan menjadi L M ( x ) M ( x ) PL2 1 a   dx   (2  ) 0 EI M a 48 EI  L M ( x) M ( x ) PL2 2 b   dx   (1  ) 0 EI M b 48 EI  L (5. b   .9 Menurut metoda beban palsu.

16.16.9. Rbv   (1  ) (5.27)  L   PL  L  PL 1 M c   Rav         (1  )  2   4 EI  6  96 EI  Dengan demikian. 48EI  48 EI  2 2 (5. Bidang momen dibagi EI sebagai gaya luar terhadap balok konyugasi dari struktur Gambar 5. wc   (1  ) 48 EI  96 EI  yang sama dengan hasil yang diperoleh dalam Contoh 5.9. Dari konsiderasi balok konyugasi ini diperoleh  PL  L  2 L   PL  L  L   LRav          0  4 EI  4  3   4EI  4  3   PL  L  L   PL  L  2 L   LRbv          0  4 EI  4  3   4EI  4  3  yang menghasilkan PL2 1 PL2 2 Rav  (2  ) .16. cara balok konjugasi memberikan proses perhitungan yang lebih sederhana.  b   (1  ) .16.16.26) 48EI  48EI  Momen dan geser pada lokasi C adalah  PL  L  PL2 1 Vc   Rav       (1  )  4 EI  4  48EI  2 (5.18) PL 1 PL 1 c   (1  ) . diperlihatkan dalam Gambar 5. 111 . Terlihat bahwa khusus untuk sistem struktur ini. diperoleh PL2 1 PL2 2 a   (2  ) .10.

17 Rangkuman Dalam bab ini telah disajikan beberapa hukum dan teorema yang sangat penting dan bermanfaat dalam analisis sistem struktur. Gambar 5. dengan demikian sangatlah penting dimiliki untuk digunakan dalam analisis struktur dengan metoda gaya.1: Dengan cara Castigliano.2 akibat gaya merata q0 pada paroh bentang kiri. 112 .16.10: Struktur Contoh 5. akan terlihat nantinya bahwa sering diperlukan untuk menghitung komponen gaya-gaya translasi maupun momen pada titik- titik tertentu. teorema II Castigliano akan sangat bermanfaat untuk diterapkan. khususnya berkaitan dengan kriteria keserasian perpindahan dan keseimbangan gaya. Berkaitan dengan metoda perpindahan.18 Soal-soal Soal 5. Soal 5. tentukanlah gaya reaksi perletakan B dalam struktur Gambar 5.2: Dengan metoda Castigliano. Semua teorema yang diturunkan.18. Berkaitan dengan metoda gaya. Keterampilan dalam menghitung perpindahan yang terkait medan gaya yang berseimbang.18. serta yang nantinya akan sangat sering diterapkan didalam analisis struktur baik dalam metoda gaya maupun metoda perpindahan. akan terlihat nantinya bahwa sering diperlukan untuk menghitung komponen perpindahan translasi maupun rotasi pada titik-titik tertentu. 5. Dalam hal ini. teorema I Castigliano akan sangat bermanfaat untuk diterapkan. Dalam hal ini.1 akibat gaya terdistribusi q0 pada segmen balok BC. dengan demikian sangatlah penting dimiliki untuk digunakan dalam analisis struktur dengan metoda perpindahan. Keterampilan dalam menghitung gaya-gaya yang terkait dengan medan perpindahan yang serasi. hitung gaya-gaya ujung balok dalam Gambar 5.10 5.

7: Dengan metoda gaya maya. Gambar 5. Gambar 5. Soal 5.18.3: Struktur Soal 5.3: Dengan cara Castigliano.5.6: Kerjakanlah kembali Soal 5.5: Dengan teorema Castigliano.6. hitung gaya-gaya ujung pada penampang C balok menerus akibat gaya terpusat pada tengah kedua bentang.18. hitunglah rotasi di titik C akibat gaya terpusat P seperti dalam Gambar 5.18.18.7 Gambar 5.4: Struktur Soal 5. 5. tentukanlah rotasi pada sendi S akibat gaya terpusat P seperti dalam Gambar 5.18.5: Struktur Soal 5.2 Soal 5.1 Gambar 5.5.18.7.10: Dengan metoda gaya palsu.4: Dengan cara Castigliano. Soal 5.18.9: Dengan teorema Castigliano. Soal 5. hitung gaya-gaya ujung balok akibat gaya momen M pada titik penampang B.1: Struktur Soal 5.8 Soal 5.5. Gambar 5. hitunglah rotasi pada sendi S akibat gaya momen M dalam Gambar 5. Soal 5.2: Struktur Soal 5.18. hitung rotasi pada titik B akibat gaya momen M yang bekerja pada titik tersebut.3 Gambar 5.4 Soal 5.8: Dengan cara gaya maya. 113 . namun kali ini dengan metoda balok konyugasi. Soal 5. hitunglah perpindahan vertikal dan horisontal ujung balok C akibat gaya terpusat P yang bekerja pada arah miring sesudut α terhadap garis horisontal pada ujung bebas tersebut.6: Struktur Soal 5.6 dan 5.18.

9 dan 5.7: Struktur Soal 5.18.10 114 .Gambar 5.

107.108.76.103.93.112.73.102.80.88.81.105.113 74.90.82.75.77.111.85.98.101.87.96.114 115 .91.78.83.89.104.99.100.79.94.95.110.92.106.97.86.109.84.