You are on page 1of 19

BAB XI

PERAKITAN DAN PENYIMPANAN
MATRIKS KEKAKUAN

11.1 Umum
Dalam bab-bab terdahulu telah disajikan sekilas tentang aspek perakitan dan
penyimpanan matriks kekakuan struktur. Dimulai dari penomoran titik simpul, identiikasi
keaktifan titik simpul, penomoran derajat kebebasan struktur, proses dilanjutkan hingga
perakitan dari matriks kekakuan elemen-elemen pada matriks kekakuan struktur dengan
menggunakan vektor tujuan.
Intensi kita pada akhirnya adalah dapat menuangkan algoritma analisis struktur
dalam suatu alur tindak yang cocok dituangkan kedalam suatu program paket komputer.
Dengan memasukkan data struktur dan beban, kita dapat melaksanakan analisis
dengan komputer secara sistematis dan otomatis hingga kepada pemunculan hasil
keluaran.

11.2 Penomoran Titik Simpul
Penomoran titik simpul dapat dilakukan secara manual, maupun secara otomatis
oleh komputer (data generarion) khususnya bentuk struktur relatif teratur. Namun
demikian, penomoran titik simpul pada hakekatnya merupakan proses yang bebas,
sekalipun setiap pilihan memiliki konsekuensi langsung atas bentuk maupun ukuran dari
pada matriks keikakuan struktur.
Untuk jelasnya, tinjaulah suatu struktur portal bidang seperti yang diperagakan
dalam Gambar 11.2.1. Struktur dimodel atas 5 elemen balok bidang. Penomoran titik
simpul dapat saja dilakukan secara manual tanpa mengikuti urut-urutan tertentu; namun
untuk kesederhanaan, kerapihan maupun untuk mencegah terlewatnya satu atau
beberapa titik simpul, penomoran dapat dilakukan secara teratur menurut urutan titik ke
arah X ataupun ke arah Y terlebih dahulu, seperti dalam Gambar 11.2.1(b) dan
11.2.1(c).
Masing-masing pola penomoran titik simpul dapat dilanjutkan dengan pemberian
daftar titik-titik ujung batang-batang (dalam contoh ini, ujung kiri dan ujung kanan atau
ujung 2 dan ujung 2), yang dinamakan insidens elemen (element incidences). Daftar
insidens elemen untuk kedua cara atau pula penomoran titik simpul disajikan dalam
Tabel 11.2.1. Selain pemberian daftar titik-titik ujung elemen, insidens juga akan
menentukan tata sumbu lokal masing-masing elemen. Dalam hal ini, sumbu x elemen
ditarik dari titik ujung pertama ke arah titik ujung kedua dan sumbu y serta z diatur
mengikuti aturan tangan kanan. Sebagai contoh, tata sumbu lokal ( x1 , y1 , z1 ) untuk
elemen 1 diberikan seperti dalam Gambar 11.2.1(b).

237

2.2.1: Penomoran Titik Simpul Tabel 11.1(d) menunjukkan komponen perpindahan semua titik simpul. disingkat dof). Y ) .1(d). 238 . Kedua translasi dapat diarahkan masing-masing di arah X dan Y pada bidang ( X . setiap titik simpul memiliki 2 translasi dan 1 rotasi.1: Insidens Elemen Struktur Dalam Gambar 11.2.1 Cara 1 Cara 2 Elemen titik 1 titik 2 titik 1 titik 2 1 1 4 1 2 2 2 5 3 4 3 3 6 5 6 4 4 5 2 4 5 5 6 4 6 11.2. Untuk membedakan perpindahan yang aktif dari pada perpindahan yang non-aktif atau terkekang maka perpindahan diberi indeks pengenal (identifiers) yang berbeda. untuk contoh ini ada 12 perpindahan aktif atau lazim disebut derajat kebebasan (degrees of freedom. Gambar 11. Untuk kasus portal bidang dalam contoh Gambar 11. misalnya indeks 1 untuk perpindahan yang aktif dan 0 untuk perpindahan yang non-aktif seperti dalam Gambar 11. Langkah berikutnya adalah pemeriksaan keaktifan komponen perpindahan.3 Penomoran Derajat Kebebasan Penentuan derajat kebebasan struktur dimulai dengan penentuan komponen perpindahan titik simpul sesuai jenis struktur yang bersangkutan. Dengan demikian. sedangkan rotasi diarahkan secara vertikal pada sumbu Z .1.2. Gambar 11.2.

Untuk kedua cara. jadi ada perbedaan selisih antara 8 dan 3 untuk kedua cara penomoran.6. Dengan melakukan hal ini atas semua titik simpul. Sebagai contoh. Dimulai dari nomor 1.4 Korespondensi Derajat Kebebasan Elemen dan Struktur 239 . sementara elemen 2 dengan titik 3 dan 4 sebagai ujung-ujung pada cara penomoran kedua. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap profil.0. Setiap kebebasan aktif maupun non-aktif setiap titik simpul sekarang telah mendapatkan indeks yang final. sebagai mana akan dibahas secara mendalam dalam pasal-pasal mendatang. Pada setiap titik simpul yang diproses.4. penyimpanan dan operasi atas matriks kekakuan global struktur. derajat kebebasan) struktur.1.1: Penomoran Derajat Kebebasan Struktur Jika disimak. diperoleh jumlah kebebasan aktif (atau. yang dalam contoh Gambar 11.2. dalam contoh ditampilkan dua cara penomoran titik simpul. Cara 1 dilakukan dengan menomori titik simpul ke arah X terlebih dahulu lalu melanjutkan proses penomoran ke arah Y .5. memiliki derajat kebebasan dengan indeks (0. yang dalam contoh ini adalah 12. 11.7. beda atau selisih nomor terendah dan tertinggi nomor kebebasan elemen 2 untuk cara penomoran pertama adalah 9 – 1 = 8 sementara untuk cara penomoran kedua adalah 7 – 4 = 3. maka setiap ditemukan kebebasan aktif. sementara setiap kebebasan terkekang dibiarkan tetap berindeks pengenal 0. nomor ditambahkan 1 lalu angkanya dituliskan menggantikan indeks pengenal kebebasan aktif (yang semula diberi indeks 1).3. Gambar 11. Kembali kepada gambar struktur. Jika penomoran derajat kebebasan struktur dilakukan secara otomatis dengan komputer maka penomoran mengikuti urutan nomor titik simpul dimulai dari nomor terkecil hingga terbesar atau sebaliknya. penomoran dilakukan secara berurutan menurut urutan dof titik simpul.3.9). yang dapat dilakukan secara manual tanpa harus mengikuti urutan nomor titik simpul.7) seperti diperlihatkan dalam Gambar 11.0. namun dengan indeks pengenal kebebasan titik simpul yang berbeda.1. Selanjutnya dilakukan penomoran derajat kebebasan struktur. tetap akan didapatkan derajat kebebasan struktur yang sama. sementara cara 2 dilakukan dengan menomori titik simpul ke arah Y terlebih dahulu lalu melanjutkan proses penomoran ke arah X . memiliki derajat kebebasan dengan indeks (0.8. elemen 2 dengan titik 2 dan 5 sebagai ujung- ujung pada cara penomoran pertama.1 adalah 12.

matriks tujuan T2  digantikan dengan vektor tujuan T2  dalam bentuk T2    0 0 1 7 8 9 (11. derajat kebebasan 3. penggunaan 240 . elemen 1 2 3 4 5 6 kebebasan  (11.4. Derajat kebebasan setiap elemen berkorespondensi dengan derajat kebebasan struktur.2) dalam mana  T2  adalah matriks tujuan elemen 2 yang mengkaitkan derajat kebebasan 3. dalam pemetaan berikut. 4. Sebagai contoh. 4.1) U 4  0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0  U S 4  U 52  0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0     2    U 6  0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 U S12  atau U 2   T2  U S  (11. 7.4.4.3) menunjukkan bahwa untuk menjalankan fungsi yang sama. 5 dan 6 elemen berkorespondensi atau identik dengan masing-masing derajat kebebasan 1. matriks ini berukuran setara dengan matriks kekakuan struktur padahal hanya mengkaitkan beberapa derajat kebebasan aktif elemen ke beberapa derajat kebebasan struktur. Dengan demikian.(11. matriks tujuan digantikan dengan vektor tujuan.4) struktur 0 0 1 7 8 8 Pengamatan atas bentuk dalam Pers. Matriks tujuan berukuran baris sebesar jumlah derajat kebebasan elemen dan ukuran kolom sebesar jumlah derajat kebebasan struktur. U 12  0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0  U S 1   2  U 2  0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0  U S 2  U 32  1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0  U S 3   2     (11. 5 dan 6 elemen masing-masing dengan derajat kebebasan 1.4.4. Dengan demikian. Sebagai contoh. derajat kebebasan elemen 2 dalam cara penomoran 1 berkorespondensi dengan derajat kebebasan struktur sebagai berikut. Untuk alasan kesederhanaan dan efisiensi proses analisis. dan sewaktu merakitkan vektor gaya elemen (yang sudah dinyatakan dalam tata sumbu global) ke dalam vektor gaya struktur. 7. 8 dan 9 derajat kebebasan struktur. 8 dan 9 struktur.3) yang berarti bahwa derajat kebebasan 1 dan 2 elemen 2 tidak aktif. vektor tujuan T2  berukuran relatif sangat kecil dibandingkan dengan ukuran matriks tujuan T2  . Korespondensi ini diatur dengan apa yang dinamakan matriks tujuan dan matriks ini akan digunakan sewaktu merakitkan matriks kekakuan elemen (yang sudah dinyatakan dalam tata sumbu global) ke dalam matriks kekakuan struktur.4. di mana semua derajat kebebasan elemen langsung dikaitkan dengan derajat kebebasan struktur yang koresponden.1) dan (11. untuk elemen 2 dalam cara penomoran pertama.

didefinisikan dengan dua cara. Untuk lebih menjelaskan hal ini.3 telah dipaparkan bahwa suatu model diskrit yang digunakan mewakili struktur yang sebenarnya dalam analisis. maka kedua cara penomoran titik simpul memberikan profil matriks kekakuan struktur yang berbeda sebagai mana masing-masing diperlihatkan dalam Gambar 11. diperlihatkan dalam Tabel 11. memiliki derajat kebebasan struktural yang sama serta tidak tergantung kepada cara penomoran titik simpul ataupun penomoran derajat kebebasan. Berkaitan dengan hal ini.5.1(f) sekalipun tetap memberikan total derajat kebebasan struktur yang sama. Struktur Gambar 11.1(c). Dengan mengikuti andaian ini. Namun begitu. yang dalam contoh ini adalah 12. yaitu skema paroh lebar pita (half-bandwidth) dan cara garis langit-langit (sky-line).5.5. Tentu saja matriks kekakuan elemen (dalam tata sumbu global) dapat memiliki beberapa unsur yang tidak nol.1 Vektor tujuan eleme Cara penomoran 1 Cara penomoran 2 n 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 0 0 0 1 2 3 0 0 0 4 5 6 2 0 0 4 5 6 7 0 0 1 7 8 9 3 8 0 9 10 11 12 2 0 3 10 11 12 4 1 2 3 4 5 6 4 5 6 7 8 9 5 5 6 7 10 11 12 7 8 9 10 11 12 241 . ternyata cara penomoran titik simpul ataupun penomoran derajat kebebasan struktur sangat mempengaruhi bentuk atau profil.5. dan dengan menggunakan vektor tujuan. Vektor tujuan untuk masing-masing elemen 1 hingga 5 untuk kedua cara penomoran.5. profil atau bentuk serta penyimpanan dari pada bagian matriks kekakuan struktur yang memiliki unsur-unsur tidak nol yang dalam gambar ditandai dengan notasi kali (x). namun dalam hal ini kita mengandaikan saja bahwa semua unsur matriks kekakuan elemen bernilai tidak nol (completely populated).vektor tujuan ketimbang matriks tujuan akan sangat menghemat operasi dalam analisis struktur.5.1(b) dan 11.5. mana kala analisis struktur dijalankan dalam suatu paket program yang dieksekusi oleh komputer.1.5.1(e) dan 11.2. sifat maupun besar kebutuhan memori penyimpanan matriks kekakuan struktur.5 Profil Matriks Kekakuan Struktur Dalam Pasal 11. Tabel 11.5.1 yang atasnya dilakukan dua cara penomoran titik simpul seperti terlihat dalam Gambar 11.1: Vektor Tujuan Elemen. 11. kedua cara penomoran titik simpul tersebut masing-masing memberikan penomoran derajat kebebasan dalam Gambar 11. Sekiranya penomoran dilakukan secara otomatis dengan komputer. kita menyajikan pembahasan langsung dengan mengambil suatu contoh struktur seperti dalam Gambar 11.

K S 33 . K S 23 . Dalam skema garis langit-langit.1: Penomoran Titik Simpul dan Derajat Kebebasan Struktur Dalam skema paroh lebar pita diperiksa lebar mendatar pada semua baris. yang diberikan oleh baris 1 yang nota bene disumbangkan oleh elemen 2. K S 44 . menjadi kecil. sementara lebar yang paling maksimum untuk cara penomoran 2 adalah 11. matriks kekakuan total diwakili oleh bagian yang 242 . yang diberikan oleh baris 2 yang nota bene disumbangkan oleh elemen 3.5. dengan mempertimbangkan bahwa matriks kekakuan struktur berbentuk simetris. unsur-unsur disimpan secara berbaris dalam urutan K S 11 . dengan lebar yang paling maksimum untuk cara penomoran 1 adalah 7. sedemikian hingga paroh lebar pita menjadi minimum. unsur-unsur mulai dari kolom pertama ke arah atas yang merupakan tinggi kolom yang berisikan unsur-unsur tidak nol. hanya bagian yang berukuran baris total dan berukuran kolom sebesar paroh lebar pita saja yang disimpan sebagai matriks persegi dalam memori komputer. maka mewakili matriks kekakuan komplit. untuk cara penomoran pertama. Ini dapat dicapai dengan melakukan penomoran sedemikian hingga selisih nomor terkecil dan nomor terbesar derajat kebebasan elemen. Gambar 11. Sebagai contoh. penomoran derajat kebebasan struktur dapat diulang kembali. K S 55 . K S 22 . dengan berawal mulai dari unsur diagonal utama setiap kolom. maka dimulai dari unsur-unsur diagonal utama. disimpan sebaris dalam memori. K S 45 dan seterusnya. K S 13 . Dengan demikian dalam pola ini. K S12 . Nantinya. Untuk menghemat memori dan operasi analisis.

5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 x x x x x x 2 x x x x x x 3 x x x x x x 4 x x x x 5 x x x x x x x x x x 6 x x x x x x x x x x 7 x x x x x x x x x x 8 x x x x x 9 x x x x x 10 x x x x x x x x 11 x x x x x x x x 12 x x x x x x x x (a) Pola penomoran 1 Paroh lajur Garis langit-langit 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 x x x x 2 x x x x x 3 x x x x x 4 x x x x x x 5 x x x x x x 6 x x x x x x 7 x x x x x x x x x x 8 x x x x x x x x x x 9 x x x x x x x x x x 10 x x x x x x x x 11 x x x x x x x x 12 x x x x x x x x (b) Pola penomoran 2 Gambar 11. Dalam konteks solusi sistem persamaan simultan. Struktur Gambar 11. sedangkan skema garis langit-langit hanya membutuhkan 1 + 2 + 3 + 1 + 5 + 6 + 7 + 1 + 2 + 6 + 7 + 8 = 49 lokasi dalam memori komputer. Yang pertama adalah aspek besar memori yang dibutuhkan. mulai dari unsur diagonal utama hingga ke unsur yang tidak nol di atasnya.1 Perbandingan antara kedua skema penyimpanan matriks kekakuan tersebut di atas terletak pada dua aspek. yang dibatasi oleh garis langit-langit seperti dalam Gambar 11. Yang kedua adalah dalam aspek operasi manipulasi atas matriks kekakuan struktur. Untuk cara penomoran kedua. Padahal. unsur-unsur kolom yang sama 243 . teknik eliminasi melibatkan operasi antar baris pada kolom yang sama. skema garis langit-langit jauh lebih efisien. sedangkan skema garis langit-langit hanya membutuhkan 1 + 1 + 2 + 1 + 2 + 3 + 7 + 8 + 9 + 9 + 10 + 10 = 63 lokasi dalam memori komputer. Untuk cara penomoran pertama. skema paroh pita membutuhkan 12 x 11 = 132 lokasi untuk unsur-unsur. skema paroh pita membutuhkan 12 x 7 = 84 lokasi untuk unsur-unsur. Dari segi aspek ini. mulai dari kolom pertama hingga kolom terakhit secara berturutan.5.2: Profil Matrik Kekakuan.2.dicakup oleh tiang-tiang kolom.5.

untuk memproses derajat kebebasan 1. unsur-unsur matriks kekakuan global yang terkait dengan derajat kebebasan titik simpul tuntas disusun. lalu berpindah ke titik lainnya. Dalam skema ini. Untuk menerangkan ini.5 yang lewat. untuk memproses derajat kebebasan 5. ada kemungkinan bahwa beberapa elemen akan terproses beberapa kali karena menyumbang terhadap titik-titik simpul yang berlainan. apa lagi dalam skema garis langit-langit yang nota bene mengurutkan seluruh unsur-unsur tidak nol dalam satu baris. Matriks kekakuan elemen-elemen penyumbang (donatur) disusun lalu dirakitkan kepada matriks kekakuan global. ada keuntungan dari cara ini. Lihat Gambar 11. diproses elemen 2 yang didefinisikan oleh gelombang 2.6. Kemudian. Untuk memproses derajat kebebasan 8 dan 9 dalam titik simpul 5 pada pola penomoran 1. Secara umum. 6 dan 7 dalam titik simpul 4 pada pola penomoran 1. diproses elemen 3 dan 5 yang didefinisikan oleh gelombang 6. diproses elemen 3 yang didefinisikan oleh gelombang 4.2 dengan dof penyumbang dalam pola elemen maupun pola titik simpul seperti dalam Gambar 11. Dengan menggunakan vektor tujuan. Dof tersumbang Elm. Sekali proses. melakukan transformasi ke tata sumbu global.6.6 Perakitan Matriks Kekakuan Struktur Perakitan matriks kekakuan struktur dilaksanakan dengan menjumlahkan kontribusi dari masing-masing elemen. Cara ini juga sering dinamakan sebagai skema frontal (frontal scheme). 2 dan 3 dalam titik simpul 2 pada pola penomoran 1. Dalam skema ini. 4 dan 5 yang didefinisikan oleh gelombang 3. Namun.6. Dalam cara ini. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 244 . Selanjutnya. diproses elemen 1 dan 4 yang didefinisikan oleh gelombang 1. serta merakitkannya ke dalam matriks kekakuan struktur dengan menggunakan vektor tujuan. dalam artian bahwa derajat kebebasan yang selesai diproses lalu dieliminir sedemikian hingga kita tidak perlu menyimpan matriks kekakuan struktur lengkap dalam semua baris. untuk memproses derajat kebebasan 4 dalam titik simpul 3 pada pola penomoran 1.dalam matriks kekakuan komplit. dikenal dua macam skema perakitan matriks kekakuan global struktur. tidak lagi terpetakan kepada kolom yang sama baik dalam skema paroh pita. Hal ini telah juga dibahas dalam Pasal 10.1. 11 dan 12 dalam titik simpul 6 pada pola penomoran 1. Yang pertama adalah menurut elemen (element-wise assemblage) seperti yang telah dipaparkan terdahulu. yaitu dengan melihat elemen yang menyumbang kepada derajat kebebasan titik simpul yang sedang diproses.2 sebagai penjelasan. dimulai dengan penyusunan matriks kekakuan elemen dalam tata sumbu lokal. kita merujuk kepada Gambar 11. 11. diproses elemen 2. Akhirnya. Skema perakitan matriks kekakuan global struktur yang kedua adalah menurut titik simpul (nodal-wise assemblage). Pertama. elemen demi elemen diproses satu per satu. untuk memproses derajat kebebasan 10. titik simpul demi titik simpul diproses satu per satu. matriks kekakuan elemen yang telah dinyatakan dalam tata sumbu global dirakitkan dengan memperhatikan korespondensi antara derajat kebebasan elemen penyumbang derajat kebebasan struktur yang disumbang.

1. Untuk menerangkan hal ini.7.2: Perambatan Gelombang Frontal Dalam Perakitan Menurut Titik Simpul 11. didasarkan atas jumlah derajat kebebasan struktur untuk jumlah baris.5 terdahulu telah disinggung secara umum bahwa ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyimpan matriks kekakuan struktur. 1 x x x 2 x x x x 3 x x x x x 4 x x x x x x 5 x x x x x x (a) Menurut elemen Ttk 2 3 4 5 6 dof 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 x x x 2 x x x x Elm.6. Kedua skema penyimpanan matriks kekakuan struktur yang disebutkan ini akan dibahas secara lebih mendalam pada bahasan berikut ini.1: Perakitan Matriks Kekakuan Gambar 11. Dengan penomoran titik simpul dan derajat kebebasan struktur yang diambil 245 . yaitu menurut skema paroh pita dan skema garis langit-langit. dan lebar paroh jalur matriks kekakuan sebagai jumlah kolom.6.7. dari bagian matriks kekakuan yang disimpan. 11.1 Penyimpanan Matriks Kekakuan Menurut Skema Paroh Jalur Cara penyimpanan matriks kekakuan struktur menurut skema paroh pita atau paroh lajur. 3 x x x x x 4 x x x x x x 5 x x x x x x (b) Menurut titik simpul Gambar 11. tinjaulah suatu struktur portal seperti dalam Gambar 11.7 Penyimpanan Matriks Kekakuan Struktur Dalam Pasal 11.

Gambar 11. hanya unsur-unsur yang berada dalam paroh jalur yang perlu disimpan.1(c). berupa sub-matriks berukuran (9 x 6) berbentuk jajaran genjang. cukup separoh dari  K  yang perlu disimpan.seperti dalam Gambar 11. K S 48 . Dalam hal ini. 246 .1: Penyimpanan Matriks Kekakuan Dalam Skema Paroh Lajur Penyimpanan menurut skema paroh jalur diatur sebagai berikut.6. Paroh jalur diberikan oleh baris 2 sebesar (7 – 2) + 1 = 6.7.7. dalam hal ini unsur-unsur mulai dari diagonal utama ke kanan. berhubung sifat simetri.2(b). Sub-matriks jajaran genjang ini kemudian ”ditegakkan” seperti dalam Gambar 11. K S 16 . sedemikian hingga unsur-unsur diagonal matriks  K  awal.7. profil matriks kekakuan struktur menjadi seperti yang terlihat dalam Gambar 11. maka sesuai dengan bahasan Pasal 11.7. karena unsur-unsur di luar paroh jalur ke kanan semuanya nol.7. misalnya K S 15 . Pertama.1(b). K S 16 . K S 38 . beberapa unsur yang sebenarnya nol. K S 15 . sekarang menempati kolom pertama dalam susunan matriks  K  yang baru. K S 38 . disertakan dalam penyimpanan. Kedua.2(a). K S 49 dan unsur-unsur sub-matriks segitiga tambahan di sebelah kanan di luar matriks kekakuan seperti terlihat dalam Gambar 11.

7. unsur-unsur matriks kekakuan disusunsebagai baris tunggal. penyimpanan dengan skema garis langit-langit lebih cocok diterapkan. Dalam skema garis langit-langit.( j i 1) (11.3(a). j  K i'. K 57 dalam susunan lama menjadi K 53 dalam susunan baru.2 Penyimpanan Matriks Kekakuan Menurut Skema Garis Langit-langit Penyimpanan matriks kekakuan struktur menurut skema paroh lajur sangat sederhana dan cukup baik diterapkan khususnya jika lebar lajur antar baris tidak begitu bervariasi. unsur-unsur tambahan yang bernilai nol khususnya dalam matriks segitiga tambahan di kanan bawah dalam Gambar 11. Jika tidak. K 66 ' dalam susunan lama menjadi K 61 dalam susunan baru. serta lebar paroh lajur maksimum relatif kecil dibandingkan terhadap jumlah derajat kebebasan struktur. dengan urutan seperti dalam Gambar 11.2: Lokasi Penyimpanan Matriks Kekakuan Dalam Skema Paroh Lajur Dalam notasi indeks. dan sebagainya. hubungan unsur-unsur dari susunan lama ke susunan penyimpanan (baru) adalah K i . Dalam kasus semacam ini. 11. unsur-unsur kolom mulai dari unsur diagonal utama ke atas 247 .7.7.7. Gambar 11.2(a) akan sangat memperbesar ukuran penyimpanan matriks. dan bisa jadi malah sama dengan ukuran matriks kekakuan awal. Mulai dengan kolom pertama hingga kolom akhir.7.1) ' Sebagai contoh.

3: Penyimpanan Matriks Kekakuan Dalam Skema Garis Langit-langit Karena tinggi kolom (column height) unsur tidak nol bervariasi untuk kolom demi kolom.7. Gambar 11.7. dicatat dan disusun sebagai (pointer) seperti dalam Gambar 11.7. dapat ditelusuri tinggi kolom ke k (berapa unsur tidak nol dalam kolom k) dengan rumus COLHT ( k )  PTR ( k  1)  PTR ( k ) (11. berada pada posisi ke 11 dalam urutan barisan dalam Gambar 11. maka lokasi dari unsur pertama setiap kolom (jadi. Sebagai contoh.7.hingga unsur tertinggi yang tidak bernilai nol. unsur diagonal utama tersebut).3(c). maka dengan array PTR. diurutkan sebaris seperti dalam Gambar 11.3(b). Jika menunjuk (pointer) kolom ke k dinyatakan dalam PTR(k). K 55 ebagai unsur pertama dari kolom kelima.3(b).7.2) 248 .

sekarang berada pada lokasi baru dalam urutan berbaris yang dapat dicari dengan hubungan K i . sebesar 16 – 5 + 1 =12.8. dibandingkan dengan 34 lokasi menurut skema garis langit-langit. penyimpanan matriks kekakuan menurut skema garis langit-langit membutuhkan lokasi yang lebih sedikit. setiap titik simpul memiliki dua derajat kebebasan. metoda penyimpanan menurut skema paroh jalur membutuhkan 9 x 6 = 54 lokasi. jadi. Untuk cara penomoran 2. j  K ptr ' ( j )i (11. K 24 dalam susunan lama menjadi K ptr ( 4 )  2  K 7  2  K 9 dalam ' ' ' susunan baru. sebesar 16 .1: Suatu ranghka sendi bidang seperti dalam Gambar 11. Terlihat bahwa jumlah derajat kebebasan struktur ukuran 16. selalu lebih efisien dalam membutuhkan memori. Untuk cara penomoran 1 dan 2 ukuran matriks kekakuan tersimpan menurut paroh jalur adalah masing-masing sebesar 16 x 8 = 128 dan 16 x 12 = 192. Contoh 11.3) Sebagai contoh.2: Struktur portal bidang tertutup seperti dalam Gambar 11.8. tentukan besar paroh jalur dan ukuran matriks kekakuan yang perlu disimpan. dimodel dengan dua cara penomoran titik simpul.1(b). Jadi.7. maka berikut ini diberikan beberapa contoh penerapan metoda penyimpanan matriks kekakuan. Susunlah profil matriks kekakuan dengan cara paroh jalur.2. dinomori dengan urutan titik simpul seperti tergambar.8. 11.8.1(a) dan 11.8 Contoh Penerapan Untuk memberikan pengertian dan pemahaman bahasan dalam bab ini.8. paroh jalur diberikan oleh elemen 13. maka nomor derajat kebebasan untuk kedua cara penomoran simpul diberikan dalam Gambar 11. cara penomoran 1 dalam Gambar 11.7. besar paroh jalur maksimum diberikan oleh elemen 13.1.9 + 1 = 8. Penyelesaian: Untuk rangka sendi bidang. dan cara garis langit-langit. Untuk cara penomoran simpul 1. Skema penyimpanan mana yang paling baik? 249 .1(a) memberikan penyimpanan yang lebih efisien. Kecuali aspek kerumitan. Perhatikan bahwa untuk struktur yang sama dan urutan penomoran derajat kebebasan struktur yang sama seperti dalam Gambar 11.1. Untuk kedua cara penomoran tersebut. Dari kedua cara penomoran. Andaikanlah penomoran derajat kebebasan struktur dilakukan secara berurutan menurut urutan nomor titik simpul. Contoh 11.Lokasi dari unsur K ij dalam susunan awal.

1 Gambar 11.8.1: Struktur Contoh 11.2: Struktur Contoh 11.Gambar 11.8.2 250 .

Perhatikan bahwa cara penomoran simpul yang diurut ke arah kanan dulu baru balik kembali ke kiri di atas (titik 4). dan yang terpaksa diikutkan dalam penyimpanan.8. Apa yang terjadi.3 251 .Penyelesaian: Dengan cara penomoran simpul seperti dalam gambar.2. Gambar 11.4: Struktur Contoh 11. dilakukan urutan penomoran derajat kebebasan seperti dalam Gambar.8. karena membutuhkan lokasi penyimpanan paling sedikit.2 Dengan penyimpanan cara paroh jalur. terlihat banyak sekali unsur-unsur nol yang terperangkap. jelaskan. namun dengan urutan penomoran sepert dalam Gambar 11.3. Paroh jalur maksimum diberikan oleh baris 2 dan 5. dibutuhkan lokasi sebesar 15 x 11 = 165.3: Ulangilah kembali Contoh 11. sedangkan cara garis langit-langit sebesar 103.8.3: Profil Matriks Kekakuan Struktur Contoh 11. Gambar 11.8. Dengan jumlah derajat kebebasan struktur sebanyak 15. Contoh 11. sehingga cara garis langit-langit memberikan hasil yang lebih baik. atau 15 – 5 + 1 = 11. profil matriks kekakuan untuk cara paroh jalur dan sky- line.4. terlihat dalam Gambar 11. sebesar 12 – 2 + 1 = 11.

dan menurut titik simpul ke derajat kebebasan terkait (nodal wise). penomoran derajat kebebasan struktur. Perakitan matriks kekakuan dapat dilakukan dengan dua cara.8. sebagai penentu besar matriks kekakuan yang perlu disiapkan. Ini bermanfaat untuk meminimumkan besar paroh jalur. perakitan persamaan keseimbangan global. diperoleh profil matriks kekakuan seperti dalam Gambar 11. serta skema penyimpanan matriks kekakuan. tidak mempengaruhi besar lebar paroh jalur.8.8. dibutuhkan 88 lokasi penyimpanan matriks kekakuan. 2.4. 3. Terlihat bahwa lebar paroh jalur diberikan oleh baris kedua sebesar 10 – 2 + 1 = 9 sehingga dibutuhkan lokasi sebesar 15 x 9 = 135 untuk penyimpanan cara paroh jalur. Gambar 11. Urutan penomoran elemen.Penyelesaian: Dengan urutan penomoran simpul dalam Gambar 11.3 11.5: Profil Matriks Kekakuan Struktur Contoh 11. Penomoran derajat kebebasan struktur yang mengikuti urutan nomor titik simpul. dapat diberikan sebagai berikut. 4. 252 . yaitu bentuk terluar yang berisikan unsur-unsur tidak nol. menghasilkan profil matriks kekakuan. Penomoran titik simpul perlu dilakukan sedemikian hingga maksimum dari beda nomor antara kedua ujung untuk semua elemen. profil matriks kekauan struktur. Untuk cara garis langit-langit.5. 1.9 Rangkuman Pembahasan dalam bab ini telah menyajikan aspek mengenai penomoran titik simpul. serta kesinambungan topologi struktur. diperoleh minimum. yaitu menurut elemen ke derajat kebebasan terkait (element wise). Beberapa hal penting yang perlu disimak dalam kaitan aspek-aspek tersebut di atas.

2: Untuk struktur portal bidang seperti dalam Gambar 11. cara penyimpanan matriks kekakuan struktur dengan skema garis langit-langi lebih efisien dari skema paroh lajur karena selalu membutuhkan lokasi penyimpanan yang lebih kecil.1: Struktur Soal 11. Kecuali aspeknya yang lebih rumit. Berapa lokasi yang dibutuhkan untuk skema penyimpanan matriks kekakuan struktur dengan skema paroh lajur dan dengan skema garis langit-langit? Gambar 11. dapat digunakan dua cara.1: Untuk struktur portal bidang seperti dalam Gambar 11. 5. Berapa lokasi yang dibutuhkan untuk skema penyimpanan matriks kekakuan struktur dengan skema paroh lajur dan dengan skema garis langit-langit? 253 .10.10. 6.10. Dengan mengingat sifat simetri dari matriks kekakuan. serta profil yang dihadapi.1.2: Struktur Soal 11.2. dan menurut titik simpul ke derajat kebebasan terkait. tentukan urutan penomoran titik simpul yang menghasilkan paroh lajur terkecil. tentukan urutan penomoran titik simpul yang menghasilkan paroh lajur terkecil.10. yaitu menurut elemen ke derajat kebebasan terkait. tentukan urutan penomoran titik simpul yang menghasilkan paroh lajur terkecil.2 Soal 11.10 Soal-soal Soal 11. 11.3: Untuk struktur rangka sendi bidang seperti dalam Gambar 11.3. Berapa lokasi yang dibutuhkan untuk skema penyimpanan matriks kekakuan struktur dengan skema paroh lajur dan dengan skema garis langit-langit? Soal 11.1 Gambar 11.10.

10.4: Struktur Soal 11.5: Untuk struktur rangka sendi bidang seperti dalam Gambar 11. Gambar 11.4 Soal 11.5 254 .4. tentukan urutan penomoran titik simpul yang menghasilkan paroh lajur terkecil. Berapa lokasi yang dibutuhkan untuk skema penyimpanan matriks kekakuan struktur dengan skema paroh lajur dan dengan skema garis langit-langit? Penomoran derajat kebebasan tidak perlu berurutan menurut urutan nomor titik simpul. Gambar 11. Berapa lokasi yang dibutuhkan untuk skema penyimpanan matriks kekakuan struktur dengan skema paroh lajur dan dengan skema garis langit-langit? Penomoran derajat kebebasan tidak perlu berurutan menurut urutan nomor titik simpul.4: Untuk struktur rangka sendi bidang seperti dalam Gambar 11.5: Struktur Soal 11.10.10. Gambar 11.3 Soal 11.5. tentukan urutan penomoran titik simpul yang menghasilkan paroh lajur terkecil.10.10.3: Struktur Soal 11.

252.237.240.250.239.243.253 238.246.241.242.248.247.245.244.254 255 .249.251.