You are on page 1of 11

PENDAHULUAN

Stunting merupakan pertumbuhan linear Data survey pendahuluan yang dilakukan
yang gagal untuk mencapai potensi genetik pada tanggal 19 Mei 2016 di Dinas
sebagai akibat dari pola makan yang buruk Kesehatan Kabupaten Melawi diperoleh data
dan penyakit (ACC/SCN, 2000).1 World hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) masalah
Health Organization (WHO) Child Growth gizi balita stunting sebesar 40,7%, hal ini
Standart mendiagnosis stunting berdasarkan lebih tinggi dibandingkan masalah gizi buruk
pada indeks antropometri panjang badan (5,0%), gizi kurang (17,1%) maupun gizi
dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan lebih (3,8%) yang ada di wilayah Kabupaten
dibanding umur (TB/U) dengan batas (z- Melawi.
score) di bawah standar deviasi ( < - 2 SD ).2 Kasus stunting terbanyak terjadi di
Masalah gizi dapat terjadi pada semua wilayah kerja Puskesmas Ulak Muid
kelompok umur. Anak balita merupakan Kecamatan Tanah Pinoh Barat sebesar 65%
kelompok umur yang rawan gizi dan rawan tahun 2014 dengan kategori pendek.
penyakit, hal ini disebabkan karena anak Sedangkan pada tahun 2015 diperoleh 40,1%
balita baru berada dalam masa transisi dari balita mengalami stunting kategori pendek
makanan bayi ke makanan dewasa. 3 13,7% dan 26,4% dengan kategori sangat
Stunting pada balita merupakan faktor pendek. Walaupun terjadi penurunan
risiko meningkatnya angka kematian, prevalensi stunting dari tahun 2014 ke 2015
menurunkan kemampuan kognitif dan tetapi adanya peningkatan status yang lebih
perkembangan motorik rendah serta fungsi- besar menjadi kategori sangat pendek. Pada
fungsi tubuh yang tidak seimbang.4 Ada laporan PSG bulan April 2016 diperoleh
beberapa faktor yang mempengaruhi prevalensi stunting sebesar 44,1%. Balita
terjadinya stunting pada anak yakni faktor mengalami stunting dengan kategori pendek
langsung yaitu asupan makanan dan penyakit 25,5% dan kategori sangat pendek 18,6%.
infeksi serta faktor tidak langsung seperti Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan
pengetahuan gizi (pendidikan orang tua, kejadian stunting pada balita dari tahun 2015
pengetahuan tentang gizi, pendapatan orang ke tahun 2016.
tua, distribusi makanan, besar keluarga). Berdasarkan kelompok umurnya
Masalah anak pendek merupakan cerminan kejadian stunting balita di wilayah
dari keadaan sosial ekonomi masyarakat. Puskesmas Ulak Muid diketahui pada
Karena masalah gizi pendek diakibatkan oleh kelompok bayi (0-11 bulan) sebesar 31,6%
keadaan yang berlangsung lama, maka ciri (60 bayi), kelompok umur batita (12-36
masalah gizi yang ditunjukkan anak pendek bulan) sebesar 47,9% (91 batita) dan pada
adalah masalah gizi yang sifatnya kronis.5 kelompok anak balita (37-59 bulan) sebesar
1

Karakteristik Responden Berdasarkan Umur. Tingkat pekerjaan penelitian untuk mempelajari dinamika responden di peroleh sebagian besar (82.3 PNS 2 2.8%) dari responden studi Cross Sectional yaitu suatu desain berpendidikan SD. Tingkat Pendidikan dan Jenis Pekerjaan di Wilayah Kerja Puskesmas Ulak Muid Tahun 2016 Karakteristik N % Umur Remaja akhir 5 6.8 Pekerjaan Tidak bekerja/ IRT 65 82.3 Dewasa awal 73 92. Tingkat pendidikan diperoleh observasional analitik dengan rancangan sebagian besar (41. Kecamatan Tanah Pinoh Barat awal (20-40 tahun) sebanyak 42 orang Kabupaten Melawi.3%) korelasi antara faktor-faktor resiko dengan dari responden tidak mempunyai pekerjaan. Sampel dalam 2016.2 2 .9 SD 33 41. Jenis penelitian (53. observasi atau Tabel 1. efek.2%).4 Dewasa Akhir 1 1.5 Petani/pelayan/buruh 12 15.20.5% (39 anak balita). bulan.8 SMP 18 22.8 SMA 18 22. sebagian besar September 2016 di Wilayah Kerja Puskesmas responden berada pada kelompok dewasa Ulak Muid.3 Pendidikan Tidak Sekolah 7 8. Hasil dan Pembahasan Metode Penelitian Karakteristik Responden Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Berdasarkan umur.8 Diploma/PT 3 3. Jika dilihat dari pengumpulan data sekaligus pada suatu saat kelompok umur dari tahun 2014 hingga April (point time approach). kejadian stunting terbanyak terjadi penelitian ini berjumlah 79 orang ibu yang pada balita dengan kelompok umur 12-36 mempunyai balita 12 sampai 36 bulan. dengan cara pendekatan.

ikan sungai.9%) 12 bulan dan umur yang tertinggi yaitu 36 mengkonsumsi tablet fe selama kehamilan.4 BBLR 6 7. Berdasarkan hasil wawancara dapat Sebagian besar responden memiliki balita disimpulkan bahwa kebiasaan atau pantangan dengan riwayat Berat Badan Lahir yang tidak makan selama masa kehamilan di wilayah BBLR sebesar 92. diketahui bahwa umur terendah balita yaitu Sebagian besar responden (75.6% balita. Jumlah Anggota Keluarga dan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Ulak Muid Tahun 2016 Karakteristik N % Jenis Kelamin Laki-laki 49 62 Perempuan 30 38 Umur Balita 12-24 bulan 47 59. yodium.6 Garam Beryodium Tidak 16 20. Karakteristik Balita Berdasarkan Jenis Kelamin.3 Ya 63 79.9 Jumlah anggota keluarga Kecil 59 74. Berdasarkan umur balita. Tabel 2. sedangkan sebagian kecil tidak responden mempunyai anak balita berjenis mengkonsumsi garam yang mengandung kelamin laki-laki. bulan dengan rata-rata usia terbanyak yaitu sedangkan sebagian kecil tidak (24. Riwayat BBLR. besar responden (79.5 Riwayat BBLR Tidak BBLR 73 92.5 25-36 bulan 32 40. kura-kura. ayam. Konsumsi Garam Beryodium.3 3 .1 Ya 60 75.7 Riwayat konsumsi tablet Fe selama hamil Tidak 19 24.Karakteristik Balita Karakteristik balita berdasarkan jenis garam beryodium selama kehamilan hingga kelamin balita sebagian besar (62%) dari saat ini. ikan lele. Konsumsi garam beryodium sebagian trenggiling. labi-labi.7%) mengkonsumsi cabe dan es.7 Besar 20 25. timun.4% dan balita BBLR Puskesmas Ulak Muid berupa pantangan sebesar 7. berada pada rentang usia 12 hingga 24 bulan. Umur.1%). makan nanas. Tablet Fe Selama Kehamilan.

pengetahuan yang baik yaitu sebesar Pada kelompok bahan makanan pokok 34.2%). Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu.9 Variasi Makanan Tidak bervariasi 37 46. Dari frekuensi makan sering diberikan (94.2 Pendapatan Keluarga Rendah (<Rp. Untuk Berdasarkan variabel variasi makanan kelompok buah-buahan.4%).5%).9%) diketahui dapat diketahui bahwa dari Tabel 3. pisang merupakan dapat diketahui bahwa sebagian besar yang paling sering (29.1 Tinggi (>Rp.3 Normal 29 36. Sedangkan sebagian kecil responden memiliki untuk penyempurna ASI masih menjadi memberikan makanan tidak bervariasi pilihan utama dengan frekuensi paling yaitu sebesar 46.2% Distribusi Frekuensi berdasarkan beras merupakan bahan makanan yang pendapatan keluarga dapat diketahui paling bayak dikonsumsi setiap harinya bahwa sebagian besar responden memiliki (88. Frekuensi Pemberian Makan dan Variasi Makanan di Wilayah Kerja Puskesmas Ulak Muid Tahun 2016 Variabel N % Pengetahuan Ibu Kurang Baik 52 65. Kejadian stunting pada balita Stunting 50 63.7 Analisis univariat Dari Tabel 3 diketahui sebagian besar kelompok makanan 4 sehat 5 sempurna responden memiliki pengetahuan kurang yakni bahan makanan pokok.8%.1.8 Bervariasi 42 53.2%.8%.2 4 . diberikan pada balita (30. sedangkan memiliki frekuensi diberikan paling sering sebagian kecil responden memiliki (97. Pada sayuran.000) 41 51. sedangkan sebagian kecil ibu ayam merupakan bahan makanan dari memiliki pendapatan yang rendah yaitu kelompok lauk pauk yang paling sering sebesar 48.1%). sedangkan yang sering diberikan (48. daun ubi yang pendapatan yang tinggi yaitu sebesar paling sering diberikan (39.1. Pendapatan Keluarga.1%) dan agar-agar responden memberikan makanan bervariasi merupakan kelompok makanan selingan pada balita sebesar 53.9%.1%.6%). Telur 51.803. beras baik yaitu sebesar 65.8 Baik 27 34.000) 38 48.803.

frekuensi pemberian Muid.490 statistik menunjukkan bahwa p value 0.105- ada hubungan antara variasi makanan dengan 2.459 berarti tidak (PR) yaitu 1.490. dengan 1.045-2.492.644.588 sehingga mengandung dibandingkan ibu yang memberikan dengan arti bahwa variasi makanan tidak frekuensi sering.492 kali memiliki balita stunting CI 95% = 1. Hasil telur ayam diperoleh nilai p value sebesar analisis diperoleh hasil Prevalence Ratio 0. dengan CI 95% = 1.045.813. dengan cenderung mempunyai balita stunting CI 95% = 1.015 berarti ada hubungan antara frekuensi (PR) yaitu 1.Analisis Bivariat Pada tabel 4 berdasarkan hasil uji mempengaruhi terjadinya stunting pada anak statistik diperoleh bahwap value sebesar balita. Hasil analisis diperoleh hasil yang kurang mempunyai resiko sebesar Prevalence Ratio (PR) yaitu 1.6%.813 kali sebesar 0.308 sehingga mengandung yang memiliki pengetahuan yang baik.644.022 kali memiliki balita stunting dibandingkan berarti ada hubungan antara frekuensi ibu yang memiliki pendapatan tinggi. dengan CI 95% = 1.644 kali Prevalence Ratio (PR) yaitu 1.021 berarti ada hubungan antara memiliki balita stunting dibandingkan ibu pendapatan keluarga dengan kejadian yang memberikan dengan frekuensi sering.016 sehingga mengandung arti bahwa ibu kejadian stunting pada balita di Puskesmas yang memberikan jenis ASI dengan frekuensi Ulak Muid. 0. pemberian telur ayam dengan kejadian 2. stunting pada balita di Puskesmas Ulak Selain telur ayam. dengan memiliki balita stunting dibandingkan ibu CI 95% = 0. Hasil uji yang rendah mempunyai resiko sebesar 1. 5 . arti bahwa ibu yang memberikan jenis Hasil uji statistik pada variabel makanan telur ayam dengan frekuensi yang pendapatan keluarga diperoleh bahwa p value kurang mempunyai resiko sebesar 1.993-3.588 sehingga mengandung arti bahwa ibu stunting pada balita di Puskesmas Ulak yang memiliki pengetahuan yang kurang baik Muid. pemberian ASI dengan kejadian stunting Variabel variasi makan diketahui hasil pada balita di Puskesmas Ulak Muid.012 berarti ada hubungan antara Hasil uji statistik dengan menggunakan pengetahuan ibu dengan kejadian stunting Chi-Square pada varibel frekuensi makan pada balita di Puskesmas Ulak Muid. Hasil analisis diperoleh hasil mempunyai resiko sebesar 1.109 sehingga mengandung memiliki hubungan dengan kejadian stunting arti bahwa ibu yang memiliki pendapatan pada anak balita sebesar 82.053-2. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa p value analisis diperoleh hasil Prevalence Ratio sebesar p value sebesar 0. Hasil analisis diperoleh hasil Air Susu Ibu (ASI) yang kurang juga Prevalence Ratio (PR) yaitu 1.

105- Sering 31 55.812- Bervariasi 25 59.308) ASI Kurang 19 82.Tabel 4.588) Pendapatan Keluarga Rendah 29 76. Frekuensi Pemberian Makan dan Variasi Makanan dengan kejadian stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Ulak MuidTahun 2016 Stunting Normal PR Variabel P Value n % n % 95%CI Pengetahuan Ibu Kurang Baik 38 73.8 (1.053-2.492 (1.490 0.644 kali sebagai respon terhadap kesadaran ataupun memiliki balita mengalami stunting pengetahuan tetapi efek kumulatif dari peningkatan kesadaran. faktor penguat (reinforcing factor) hasil analisis diperoleh hasil Prevalence dan faktor predisposisi (predisposing Ratio (PR) yaitu 1.2 20 48. dan pengetahuan 6 .6 (1.6 4 17. Variabel perilaku akan tetapi ada hubungan yang pengetahuan diperoleh hasil pvalue sebesar positif berkaitan dengan perubahan 0.5 1.1 3.5 1.586) Frekuensi Makan Telur Ayam Kurang 43 70.4 0.6 12 32. Hubungan antara Pengetahuan Ibu pengetahuan yang baik.109) Variasi Makan Tidak Bervariasi 25 67.024 Baik 18 51.1 14 26.6 2.4 0.5 17 40.016) Variasi Makan Tidak Bervariasi 25 67.613 1.812- Bervariasi 25 59. Perilaku di tentukan oleh tiga antara pengetahuan ibu dengan kejadian faktor .5 17 40.030 1. Kemudian dari factor).5 0.6 12 32.644 0. Pendapatan Keluarga.613 1.813 (0. Hubungan Antara Pengetahuan Ibu.993- Sering 7 38.7 1. yang artinya ibu factor).4 25 44.9 1.644.3 9 23.045-2.038 Tinggi 21 51.586) Hasil dan Pembahasan dibandingkan ibu yang memiliki 1.135 (0. Pengetahuan adalah salah mungkin yang memiliki pengetahuan yang kurang tidak dapat berubah secara langsung baik mempunyai resiko sebesar 1. Terhadap Kejadian Stunting Pada Peningkatan pengetahuan memang Anak Balita tidak selalu menyebabkan perubahan Pada penelitian ini.4 17 48.135 (0.012 yang berarti terdapat hubungan perilaku.043 1. faktor pemungkin (enabling stunting pada anak balita.9 11 61.4 0.5 18 29.

pengetahuan baik.000. Pengetahuan sangat diperlukan berhubungan dengan gizi balita.6 Penelitian lain anak balita stunting akan lebih sulit menyebutkan pengetahuan mempunyai mengubah perilaku ibu untuk memantau hubungan dengan terjadinya stunting pertumbuhan dan perkembangan balita dimana tingkat pengetahuan ibu mengenai maupun untuk kesehatan ibu itu sendiri gizi pada anak balita stunting yang berada 2.5%. Prevalence Kusumawati mengatakan bahwa Ratio (PR) yaitu 1.3 sehingga pengetahuan mereka tentang gizi Dimana perilaku yang disadari oleh balita stunting juga rendah. ibu-ibu tersebut untuk aktif mengikuti Penelitian ini sejalan dengan penyeluhan maupun kegiatan kesehatan penelitian Pormes yang menyebutkan lainnya dalam rangka peningkatan bahwa pengetahuan orang tua tentang gizi komunikasi.021 berarti ada hubungan pengetahuan cukup yaitu sebesar 86.490 6-36 bulan dengan p value sebesar 0. pengetahuan akan bersifat lebih langgeng Untuk itu guna meningkatkan daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan responden diharapkan kepada pengetahuan dan kesadaran. Namun karena pengetahuan atau kognitif dalam penelitian ini sebagian besar tingkat merupakan domain yang sangat penting pendidikan responden yaitu rendah untuk terbentuknya perilaku seseorang. apa yang formal. informasi dan edukasi (KIE) berhubungan dengan kejadian stunting mengenai gizi seimbang. minat dan perilaku. semakin tinggi pendidikan formal benar dan kepercayaan ini akan seseorang maka semakin mudah orang membentuk suatu gagasan terhadap tersebut mengerti tentang hal-hal yang stimulus.berkaitan dengan nilai. Tanpa adanya pada anak usia 4-5 tahun dengan p value pengetahuan mengenai gizi khususnya sebesar 0.27 kali balita mengalami 7 .8 Pengetahuan akan menimbulkan Tingkat pengetahuan seseorang erat kepercayaan bagaimana seseorang akan kaitannya dengan tingkat pendidikan mengenal apa yang berlaku.7%. keyakinan.490 yang artinya ibu pengetahuan ibu yang kurang berhubungan yang memiliki pendapatan keluarga yang dengan kejadian stunting pada balita usia rendah mempunyai resiko sebesar 1. Hubungan antara Pendapatan Keluarga Terhadap Kejadian di desa sebagian besar adalah kurang Stunting Pada Anak Balita dengan persentase 64. stunting dibanding ibu yang memiliki kepercayaan.7 antara pendapatan keluarga dengan Begitu juga dengan penelitian kejadian stunting pada balita. sedangkan untuk Variabel pendapatan diperoleh hasil p wilayah kota sebagian besar yaitu tingkat value sebesar 0.008 kali memiliki balita mengalami stunting memiliki risiko 3.

Ibu-ibu diharapkan pendapatan keluarga yang tinggi.dibandingkan ibu yang memiliki Oleh sebab itu. dan lain-lain tidak salah satunya disebabkan dan berasal dari memiliki hubungan dengan nilai p value krisis ekonomi. Sebagian besar ibu memiliki pendapatan Pada frekuensi konsumsi telur yang keluarga yang rendah dengan anak balita kurang memiliki risiko 1.13 kali lebih menambah pendapatan keluarga besar dibanding anak dengan status setidaknya melebihi Upah Minimum ekonomi keluarga tinggi. 3. diketahui bahwa variabel pemberian makan yang kurang pada pendapatan memiliki hubungan dengan beberapa jenis makanan untuk memiliki kejadian stunting pada anak balita. kentang.2 Dengan Kabupaten (UMK) dengan bekerja sama karakteristik sosial ekonomi yang rendah dengan organisasi PKK baik di tingkat pada kedua kelompok anak stunting dan Kecamatan maupun desa dengan normal. Variabel frekuensi yang signifikan antara pendapatan keluarga pemberian makan dari berbagai jenis terhadap kejadian stunting pada anak balita bahan pangan diperoleh hasil terdapat baik yang berada di pedesaan maupun hubungan yang signifikan antara frekuensi perkotaan. stunting dari keluarga miskin. Apabila ditinjau dari pemberian telur ayam dan ASI dengan karakteristik pendapatan keluarga bahwa kejadian stunting pada anak balita. sehingga keluarga mengalami stunting pada anak balita memiliki keterbatasan daya beli khususnya dibandingkan dengan yang diberikan pada pangan untuk pemenuhan gizi keluarga. frekuensi sering dan konsumsi ASI yang 8 . ternyata kelompok anak normal meningkatkan nilai jual hasil bumi yang yang miskin memiliki pengasuhan yang ada (mengolah ubi menjadi aneka jenis lebih baik dibandingkan dengan anak makanan yang dapat diperjual belikan). Hubungan antara Frekuensi Makanan Terhadap Kejadian Begitu juga dengan penelitian Stunting Pada Anak Balita Aridiyah mengatakan terdapat hubungan Pada penelitian ini. akar masalah dari dampak pertumbuhan Sedangkan untuk jenis bahan makanan lain bayi dan berbagai masalah gizi lainnya seperti beras. Sebagian besar anak balita lebih besar dari 0.5 dengan kecenderungan sebagian besar Berdasarkan penelitian yang dilakukan responden yang memiliki frekuensi oleh peneliti. dapat mengembangkan diri dengan Status ekonomi keluarga yang rendah memberdayakan hasil alam untuk memiliki risiko stunting 4.05. Selain itu yang mengalami gangguan pertumbuhan diperolehnya hasil analisa yang homogen memiliki status ekonomi yang rendah. anak dengan status gizi stunting.813 kali mengalami stunting.

ibu hamil dan menyusui. serta menambah frekuensi berpengaruh terhadap status gizi balita. keju. Hubungan antara Variasi Makanan makan dengan kejadian stunting pada anak Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Balita usia 13-36 bulan dengan nilai p value 0. Berdasarkan anak balita agar terhindar dari stunting.4%.492 kali mengalami udang. zinc. Tanda kekurangan zinc pada yang artinya tidak ada hubungan antara anak yakni gangguan pertumbuhan pemberian makan yang bervariasi dengan ataupun stunting. Variabel Kandungan protein pada telur ayam pendapatan diperoleh hasil p value sebesar dan kalsium pada ASI (air susu ibu) 0. serta hasil Prevalence Ratio (PR) yaitu 1.459 berarti tidak ada hubungan antara merupakan zat gizi yang berperan cukup variasi makanan yang diberikan dengan besar mendukung pertumbuhan tulang kejadian stunting pada balita. mengandung sumber zinc seperti daging Menurut Almatsier. Besar kecilnya sebesar 67.6% jika dibandingkan dengan masalah kesehatan masyarakat didasarkan responden yang memberikan balita pada besar kecilnya prevalensi defisiensi makanan bervariasi sebesar 44. Keadaan defisiensi zinc paling rentan Kemudian dari hasil analisis diperoleh pada anak.644 orang tua. Pemberian pola asuh makan yang memadai Selain itu pemberian jenis bahan makanan berhubungan dengan baiknya kualitas mineral mikro seperti zinc dan kalsium konsumsi makanan balita. susu dan telur serta makanan 9 . daging ayam. sayur. beras kelapa dan stunting pada anak balita dibandingkan kentang. adalah bahan makanan pokok. analisis bivariat. buah. Sedangkan pada penelitian untuk mencegah kekurangan gizi anak dan Kainde dkk menyebutkan tidak terdapat stunting.464 > 0. 11 dengan yang diberikan pada frekuensi Oleh sebab itu. ikan terutama ikan laut. hubungan yang bermakna antara frekuensi 4. pemberian protein terutama telur ayam. susunan hidangan sapi. Bahan makanan yang kejadian stunting pada anak balita.05. diketahui bahwa ibu yang Zinc merupakan saluh satu zat gizi memberikan makanan tidak bervariasi yang mempengaruhi sintesis jaringan cenderung mempunyai anak stunting selama pertumbuhan.kurang berisiko 1. susu. yang pada yang sangat dibutuhkan dalam proses akhirnya mempengaruhi status gizi balita pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. lauk pauk.10 Pada penelitian ini. sesering mungkin saat masih bayi (0-6 Hasil penelitian oleh Faiza dkk bulan) dilanjutkan hingga anak berumur 2 melaporkan bahwa pola asuh makan tahun. pemberian ASI sering.

dan tiga atau empat jenis Saran bahan sebagai campuran majemuk. lauk 3.038 dan PR 1. Tidak ada hubungan antara variasi tidak boleh dilupakan adalah ASI atau makanan terhadap kejadian stunting susu. pauk. dengan p value sebesar 0. gizi seimbang. dengan p value menyatakan bahwa susunan menu yang sebesar 0.030 harus mengandung makanan pokok. dengan p value sebesar 0. maupun bahan pokok+lauk pauk+buah dan 2. menambah frekuensi pemberian sayuran.11 1.043.613. Serta melaksanakan balita. Ada hubungan antara pendapatan Kesehatan (DEPKES) melalui Pedoman keluarga terhadap kejadian stunting Umum Gizi Seimbang (PUGS) pada anak balita.813 dan PR 1. sayur mayur. sayur mayor dan buah. Ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang pentingnya membawa balita ke terhadap kejadian stunting pada anak posyandu. terhadap kejadian stunting pada anak Karena makanan sapihan ideal bagi balita balita. Bagi pihak puskesmas dilengkapi dengan susu). serta lebih pemberian telur ayam dan ASI sempurna bila ditambahkan dengan susu. dengan kombinasi variasi paling pada anak balita. Bagi Ibu Balita Meskipun penelitian yang dilakukan Mayarakat khususnya para ibu peneliti memiliki hasil tidak terdapat lebih aktif mengikuti penyuluhan hubungan akan tetapi dilihat dari maupun kegiatan kesehatan lainnya kecendrungan maka setiap jenis bahan dalam rangka peningkatan komunikasi. Ibu-ibu diharapkan Maka para ibu diharapkan mengusahakan memberikan ASI sesering mungkin saat pemberian makanan pada anak balita lebih masih bayi dan dilanjutkan sampai 2 dari 2 variasi (bahan pokok+lauk pauk dan tahun. seimbang terdiri dari makanan pokok. bahan pokok+sayur+buah.490. meningkatkan program kesehatan ibu 10 .492. lauk dan 0.selingan. bahan makanan. buah-buahan dan yang 4. protein terutama telur ayam.644.024 kerjasama lintas sektor dalam dan PR 1. PR 1. Meningkatkan upaya promosi kesehatan di wilayah puskesmas Ulak Simpulan Muid dengan memberikan penyuluhan Berdasarkan penelitian dapat ke masyarakat tentang cara mencegah disimpulkan bahwa: stunting serta memberikan informasi 1. makanan harus diberikan dengan bervariasi informasi dan edukasi (KIE) mengenai yakni lebih dari 2 jenis bahan makanan. dengan p value sederhana dengan mencampur 2 jenis sebesar 0. Sedangkan Departemen 2. Ada hubungan antara frekuensi pauk.

. 2015. dilakukan secara kualitatif dengan 2014. Mury R. E. status imunisasi dan peran pelayanan [8] Kusumawati. sanitasi lingkungan rumah.O. Sleman Yogyakarta.O. 2013. 46 (suppl 1): 8–17. Kejadian Stunting pada Anak Usia 2. Mempengaruhi Kejadian Stunting 3. Peminatan Gizi Zinc pada Pertumbuhan Balita. 2010. S.I. Impact of Micronutrient Deficiencies on Growth: The Stunting Syndrome. zat gizi. 3(1) : 163-170. Berat Lahir Sebagai Faktor Dominan Terjadinya Stunting [9] Adriani. menambah jumlah variabel penelitian 2015.. Mury R. F.. Group. 2002. Ilmu Gizi. Sumarti E dan Yuli E. Jurnal Bagi peneliti lain yang akan Pustaka Kesehatan. Ninna R. Gizi dan Sumatera (Analisis data riskesdas Kesehatan Balita Peranan Mikro 2010). Jurnal Kesehatan Masyarakat. Hubungan Pengetahuan Orang wawancara mendalam serta mencari Tua tentang Gizi dengan Stunting pada Anak Usia 4-5tahun di TK faktor-faktor lain yang mempengaruhi Malaekat kejadian stunting pada balita dan [7] Ardiyah. 2011... 2014. [2] Kusuma.S. 2012.. Faktor-Faktor yang dengan menggali lagi secara mendalam Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah faktor-faktor determinan penyebab Pedesaan dan Perkotaan. [1] Fitri. [3] Notoatmodjo. Jakarta : Rineka Cipta. Hesti P. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Karakteristik Perilaku 3 Tahun (Studi di Kecamatan Pemberian Makan Dan Status Gizi Semarang Timur). INRAN (National Institute for Food Nutrition Research). 11 . Kesehatan Masyarakat – Fakultas Jakarta : Kencana Prenamedia Ilmu Kesehatan Masyarakat.. Ninna R. Model Pengendalian kesehatan. melakukan penelitian serupa dapat [6] Pormes. Skripsi.. F. Setiyowati R. 9 ( 3) : 249- DAFTAR PUSTAKA 256. Prinsip Dasar Kesehatan. Ilmu Perilaku [11] Almatsier. Faktor Risiko [10] Nugroho BFD. dan anak untuk mencegah bayi/ balita [5] Ardiyah. 2014. [4] Branca and Ferrari. Merryana dan Bambang pada Balita (12-59 bulan) di Wirjatmadi. 2013. W.. Faktor-Faktor yang stunting. Skripsi. Ann Nutr Metab 2002. Bagi Peneliti Selanjutnya pada Anak Balita di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan. Sefti R. Prodi Gizi Anak Usia 1-3 Tahun Di Posyandu – Fakultas Kedokteran Universitas Kuncup Melati Puskesmas Depok Iii Diponegoro.E. S. Amatus Y. Jurnal stunting lainnya seperti jumlah asupan Pustaka Kesehatan. KE. 3(1) : 163-170. Faktor Risiko Stunting pada Anak Usia di Bawah Tiga Tahun.