You are on page 1of 52

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Konsep Anak

a. Pengertian anak

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang

perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa

anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai

dari bayi (0-1 tahun) usia bermain/toddler (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-

5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun). Rentang

ini berada antara anak satu dengan yang lain mengingat latar belakang

anak berbeda. Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan

perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses

perkembangan anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping

dan perilaku sosial. Ciri fisik adalah semua anak tidak mungkin

pertumbuhan fisik yang sama akan tetapi mempunyai perbedaan dan

pertumbuhannya. Demikian juga halnya perkembangan kognitif juga

mengalami perkembangan yang tidak sama. Adakalanya anak dengan

perkembangan kognitif yang lambat. Hal tersebut juga dapat dipengaruhi

oleh latar belakang anak. Perkembangan konsep diri ini sudah ada sejak

bayi, akan tetapi belum terbentuk secara sempurna dan akan mengalami

perkembangan seiring dengan pertambahan usia pada anak.

13

Demikian juga pola koping yang dimiliki anak hampir sama

dengan konsep diri yang dimiliki anak. Bahwa pola koping pada anak

juga sudah terbentuk mulai bayi, hal ini dapat kita lihat pada saat bayi

menangis. Salah satu pola koping yang dimiliki anak adalah menangis

seperti bagaimanan anak lapar, tidak sesuai dengan keinginannya, dan

lain sebagainya. Kemudian perilaku sosial pada anak juga mengalami

perkembangan yang terbentuk mulai bayi. Pada masa bayi perilaku sosial

pada anak sudah dapat dilihat seperti bagaimana anak mau diajak orang

lain, dengan orang banyak dengan menunjukkan keceriaan. Hal tersebut

sudah mulai menunjukkan terbentuknya perilaku sosial yang seiring

dengan perkembangan usia. Perubahan perilaku sosial juga dapat

berubah sesuai dengan lingkungan yang ada, seperti bagaimana anak

sudah mau bermain dengan kelompoknya yaitu anak-anak (Hidayat,

2005).

Anak adalah seseorang yang belum berumur 18 (delapan belas)

tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. Anak merupakan

individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan,

artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam

memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri (Supartini,

2012).

14

2. Konsep Tumbuh Kembang Anak

a. Pengertian Tumbuh Kembang

Istilah tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang berbeda

sifatnya. Namun, peristiwa itu saling berkaitan dan sulit untuk

dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan (Soetjiningsih, 2005).

Pertumbuhan (growth), merupakan masalah perubahan dalam

besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu,

yang dapat diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilo). Ukuran

panjang dengan cm atau meter, umur tulang dan keseimbangan metaboli

(retensi kalsium dan nitrogen tubuh).

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam

struktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur

sebagai hasil dari proses pematangan.

b. Teori Terkait Tumbuh Kembang

1) Freud (1856-1929)

Menurut Freud, memperkenalkan sejumlah konsep-konsep

tentang pikiran alam bawah sadar, mekanisme pertahanan diri, serta

ide, ego, dan superego. Berdasarkan teori perkembangan

psikoseksual Freud, kepribadian berkembang dalam lima tahap yang

tumbang tindih dari lahir hingga dewasa. Lokasi penekanan libido

dari satu tahap perkembangan ketahap perkembangan lain. Oleh

sebab itu, area tubuh tertentu memiliki kemaknaan khusus bagi

individu ditahap tertentu. Jika individu tidak mencapai

15

perkembangan yang memuaskan pada satu tahap, kepribadian akan

terfiksasi pada tahap tersebut. Fiksasi adalah imobilisasi atau

ketidakmampuan kepribadian untuk beralih ketahap berikutnya yang

disebabkan oleh kecemasan.

2) Erick H. Erickson (1963)

Kehidupan sebagai rangkaian tingkat pencapaian. Setiap tahap

mengindikasikan tugas yang harus diselesaikan. Tugas dapat

diselesaikan seluruhnya, sebagaian, atau malah gagal diselesaikan.

Erickson menekankan bahwa manusia harus berubah dan

menyesuaikan perilaku mereka guna mempertahankan control

terhadap hidup mereka. Dalam perkembangannya, tidak ada satu pun

tahap didalam perkembangan kepribadian yang dapat dilewatkan,

tetapi dalam kondisi cemas atau stres, individu dapat terfiksasi pada

tahap perkembangannya tertentu atau mundur ketahap perkembangan

sebelumnya.

3) Piaget (1952)

Perkembangan kognitif merujuk pada cara manusia dalam

belajar berpikir, menalar, dan menggunakan bahasa. Perkembangan

tersebut melibatkan kecerdasan, kemampuan persepsi, dan

kemampuan memproses informasi yang dimiliki oleh individu.

Perkembangan kognitif menggambarkan peningkatan kemampuan

mental dari pikiran yang tidak logis menjadi pemikir logis, dari

pemecahan masalah sederhana menjadi pemecahan masalah

16

komplek, dan dari pemahaman ide konkrit menjadi pemahaman

konsep abstrak.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

Faktor yang mempengaruhi Tumbuh Kembang Menurut Rohmah

(2009) secara umum ada 2 faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah

herediter dan faktor lingkungan.

1) Faktor herediter

Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil

hasil proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang

terkandung dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan

kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Termasuk faktor genetik antara

lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis

kelamin, suku atau bangsa.

2) Posisi anak pada keluarga

Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah,

anak bungsu akan mempengaruhi pola anak tersebut diasuh dan

dididik dalam keluarga. Anak tunggal tidak mempunyai teman bicara

atau beraktivitas kecuali dengan orang tuanya. Oleh karena itu,

kemampuan intelektual anak tunggal anak akan dapat lebih cepat

berkembang dan mengembangkan harga diri yang positif karena

terus-menerus berinteraksi dengan orang dewasa, yaitu orang tuanya

dan mendapat stimulasi secara psikososial. Akan tetapi, mereka akan

lebih bergantung dan kurang mandiri. Perkembangan motorik lebih

c) Emosi Pendidikan dalam keluarga sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. insulin. tiroid. Cara anak berinteraksi dalam anak akan mempengaruhi anak . hormone seks. terdapat faktor lingkungan internal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. dkk (2014). apa yang anak rasakan dan apa yang anak lihat akan memjadi model yang dapat ia tiru dalam berperilaku sehari-hari. Sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam keluarga. 17 lambat karena tidak ada stimulasi untuk melakukan aktifitas fisik yang biasanya dilakukan oleh saudara kandungnya. b) Hormon Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap tumbuh 2 kembang antara lain: growth hormone. Sementara anak yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan tinggi dapat didorong oleh stimulus lingkungan untuk berprestasi secara cemerlang. 3) Faktor lingkungan Menurut Putra. dan hormon yang dihasilkan kelenjar adrenal. IGFs (Insulin Like Growth Factors). Anak yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang rendah tidak akan mencapai prestasi yang cemerlang walaupun stimulus yang diberikan lingkungan demikian tinggi. adalah sebagai berikut : a) Intelegensi Kecerdasan anak dimiliki sejak ia dilahirkan.

Apabila kebutuhan emosi anak tidak terpenuhi dalam tahap perkembangannya akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya. 18 berinteraksi di luar rumah. f) Status sosial dan ekonomi keluarga. g) Iklim atau cuaca. . adalah sebagai berikut : a) Budaya lingkungan (mempengaruhi tingkah laku dan pola pemeliharaan anak). dkk (2014). terdapat juga faktor lingkungan eksternal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. b) Nutrisi baik kuantitas maupun kualitas. saudara akan berpengaruh terhadap hubungan dengan teman sebaya. ibu. Hubungan yang hangat dengan ayah. Putra. c) Penyimpangan dari keadaan sehat (sakit atau kecelakaan) d) Olahraga (mempengaruhi sirkulasi dan menstimulasi perkembangan otak) e) Urutan posisi anak dalam keluarga.

Pubertas a. 1-3 tahun b. Adolesent tahun b. Laki-laki 14-19 tahun a. Neonatal a. 1-12 bulan 3 Awal masa anak a. Toddler a. Bayi b. Perempuan 13-18 b. Pra sekolah b. Embrio Konsepsi-8 minggu b. Periode perkembangan anak NO PERIODE SUB PERIODE WAKTU 1 Pranatal a. 3-6 tahun 4 Pertengahan Usia sekolah 6-12 tahun masa anak 5 Akhir masa a. 19 d. Fetus Fetus muda (8-28 minggu) Fetus tua (28 minggu- lahir) 2 Post natal a. Lahir-28 minggu b. Laki-laki 12-13 tahun a. Perempuan 10-11 anak tahun b. Rata-rata 12-17 tahun .

contoh melambaikan tangan dulu baru memainkan jari). b) Masing-masing fase dipengaruhi oleh fase sebelumnya. c) Mass to spesifik/simple to complex (dari kemampuan yang sederhana dulu baru kemampuan yang kompleks. 2) Sequential Trend a) Semua dimensi pertumbuhan dan perkembangan dapat diketahui melalui sequence dari masing-masing tahap pertumbuhan dan perkembangan. paling cepat sebelum dan sesudah lahir. berangsur turun sampai dengan awal masa anak. Kemudian dada dan di akhiri ekstremitas bagian bawah) b) Proximodistall from the center outward (menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan jantung pusat tubuh kemudian pada anggota yang jauh. contohnya menggerakkan bahu dulu baru jari-jari). c) Dapat diprekdisikan: waktu tumbuh kembang dapat diperkirakan telungkup duduk berdiri) tetapi kecepatan tumbuh kembang tidak sama sangat individual. Arah Pertumbuhan dan perkembangan 1) Directional Trend a) Cephalocaudal/head to toe (mengangkat kepala dulu kemudian dada dan diakhiri ekstremitas bagian bawah). 20 e. Lambat pada pertengahan masa anak dan cepat lagi masa adolescence. .

dengan manifestasi adanya sel-sel abnormal dalam darah tepi (Permono. Leukemia Limfoblastik Akut a. obat-obatan. Dosis tinggi radiasi. 2014). dan kelainan genetik telah terlibat dalam etiologi penyakit ini. Etiologi Etiologi pasti dari Acute Lymphoblastic Leukemia tidak diketahui. bahan kimia. 21 3. . Penyebab Acute Lymphoblastic Leukemia belum diketahui. Ada hubungan kuat antara Epstein-Barr Virus (EBV) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada pasien dengan sel B matang ALL. 2012 cit Fella. Definisi Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) adalah suatu penyakit ganas yang progresif pada organ pembentuk darah. 2011). akan tetapi beberapa faktor predisposisi atau faktor yang berperan telah diketahui. 2012 cit Fella. Puncak awal pada anak- anak terjadi antara usia 2 dan 4 tahun dan menurun selama masa kanak- kanak (Langhorne. yang ditandai perubahan proliferasi dan perkembangan leukosit serta prekursornya dalam darah dan sumsum tulang (Dorland. termasuk faktor lingkungan dan genetik serta keadaan imunodefisiensi. b. virus. 2014). Adapun pengertian lainya Acute Lymphoblastic Leukemia ialah merupakan keganasan penyakit sel darah yang berasal dari sumsum tulang ditandai oleh proliferasi sel-sel darah putih.

anemia fankoni dan sindrom bloom di mana semuanya berkaitan dengan kelainan kromosom kongenital. Beberapa penelitian menyebutkan ada aktivasi onkogen pada beberapa kasus leukemia. 2) Zat-zat kimia Salah satu faktor yang berkaiatan dengan leukemogenesis adalah terpaparnya populasi terhadap zat kimia tertentu seperti polutan lingkungan dan obat-obatan. 3) Virus Salah satu virus yang terbukti berperan dalam leukemogenesis pada manusia ialah retrovirus HTLV-1. 5) Onkogen Pertumbuhan suatu sel normal berada di bawah pengaturan sekelompok gen seluler yang di kenal sebagai proto-onkogen. 22 Sedangkan menurut Hoffbrand (2012) cit Fella (2014) faktor- faktor yang dapat menyebabkan Acute Lymphoblastic Leukemia antara lain : 1) Radiasi ionisasi Terbukti bahwa radiasi ionisasi bersifat leukemogenik pada manusia. . 4) Faktor genetik Bukti peran faktor genetik pada peristiwa leukemogenesis pada manusia berasal dari tingginya insiden ALL pada penderita sindrom down.

23 c. Yayasan Onkologi Anak Indonesia menyatakan. imunofenotipe. dan fitur klinis. Terdapat perbedaan yang signifikan pada kejadian ALL antara ras kulit hitam dan kulit putih. sebanyak 70% merupakan penderita leukemia atau kanker darah. Tingkat kejadian tahunan AS untuk ALL dibawah usia 20 tahun adalah 35. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) klasifikasi mendefinisikan leukemia menggunakan morfologi. 2011). d. dengan laki-laki memiliki insiden yang lebih tinggi daripada perempuan.0 per satu juta penduduk. Secara internasional.970 (21%) dari kasus-kasus ini merupakan ALL.513 orang (DEPKES RI. dengan rata-rata kejadian pertahun berkisar 9-47 per juta untuk laki-laki dan 7-43 per juta untuk wanita (Robinson. Sekitar 2. WHO mengklasifikasikan ALL menjadi : . Pada tahun 2006 jumlah penderita leukemia rawat inap di Rumah Sakit di Indonesia sebanyak 2. fitur genetik. Klasifikasi Acute Lymphoblastic Leukemia adalah keganasan hematopoietik yang berasal dari sel prekursor limfoid sumsum tulang. terdapat variasi antara ALL pada masa kanak-kanak dan remaja. Epidemiologi Setiap tahun di Amerika Serikat ada sekitar 14. 2012). dimana anak-anak kulit putih memiliki insiden hampir 2 kali lipat lebih besar. Puncak insidens ALL paling tinggi terjadi pada usia 2-5 tahun.382 kasus kanker baru yang didiagnosis pada penduduk di bawah usia 20 tahun.

sitoplasma sedikit. Gambaran Klinis Kira-kira 66% anak dengan LLA mempunyai gejala dan tanda penyakitnya kurang dari 4 minggu pada waktu didiagnosis. The French American British (FAB) mengklasifikasikan berdasarkan morfologi sel. Terdapat vakuola pada sitoplasma dan menyerupai gambaran limfoma Burkitt. 2011). yaitu : 1) L1: Limfoblast kecil. Penyakit ini disebut limfoma ketika sebagian besar curah tumor di mediastinum atau lainnya struktur nodal dan ada kurang dari 20% ledakan di sumsum tulang. e. dengan atau tanpa lesi massa. Keterlibatan sumsum dari 20% lympoblasts atau lebih. gejala . 3) L3: Limfoblas besar. dan nukleolus yang mencolok. mengklasifikasikan penyakit menjadi leukemia. 2) Prekursor T lympoblastic leukemia/limfoma (T-sel Acute Lymphoblastic Leukemia) (25% dari pasien). mencakup 85%. Gambaran sel menunjukkan adanya heterogenitas ukuran dengan nukleolus yang menonjol serta sitoplasma yang banyak dan merupakan 14% kasus ALL pada anak. L3 mencakup 1% kasus LLA pada anak (Langhorne. merupakan kasus terbesar pada anak. 24 1) Prekursor B lymphoblastic leukemia/limfoma (sel B Acute Lymphoblastic Leukemia) (75% dari pasien). sitoplasma basofilik. 2) L2 : Sel limfoblas lebih besar dari pada L1.

dan infeksi. Patofisiologi Leukemia merupakan proliferasi tanpa batas sel darah putih yang imatur dalam jaringan tubuh yang membentuk darah. gerakan mata yang abnormal. dan VII dan menyebabkan penglihatan ganda. Bukti lisis tumor dan disseminated intravascular coagulopathies (DIC) daerah hadir di 10% sampai 20% dari pasien penyakit mediastinal umum di T-sel ALL (Langhorne. hasil dari peningkatan ledakan di sumsum tulang. Gejala malaise. keganasan) (Nelson. memar. Nyeri. dan dagu mati rasa yang sering diabaikan. Kebanyakan manifestasi SSP melibatkan saraf kranial VI. keringat malam. kelelahan. perdarahan. III. Organ- . 2014 ). demam. 2008 cit Fella. nyeri tulang. perdarahan (trombositopenia). keterlibatan SSP hadir di 50% dari pasien dengan leukemia Burkitt. dan demam (neutropenia. keterlibatan parenkim otak langka di leukemia. dan penurunan wajah. sumsum tulang yang progresif sehingga timbul anemia. f. sebagian besar dengan T-Sel dan leukemia Burkitt. Hepatosplenomegali dan limfadenopati ditemukan pada 20% kasus. tapi jarang di ALL lainnya. seperti keterlibatan testis pada diagnosis. IV. terutama pada anak-anak. Keadaan patologi dan manifestasi klinisnya disebabkan oleh infiltrasi dan penggantian setiap jaringan tubuh dengan sel-sel leukemia nonfungsional. dysesthesia wajah. 2011). 25 pertama biasanya non spesifik meliputi anorexia. Pembesaran testis biasanya asimetris dan tidak menyakitkan.

Sel-sel bias tersebut di cirikan oleh morfologi. Tanda gejala leukemia yang paling sering ditemukan merupakan akibat dari infiltrasi pada sum-sum tulang. Invasi sel-sel leukemia ke dalam sum-sum tulang secara perlahan-lahan akan melemahkan tulang dan cenderung mengakibatkan fraktur. normal atau meningkat. (Hockbenberry. 2) Pemeriksaan sediaan apus darah biasanya memperlihatkan adanya sel blas dalam jumlah yang bervariasi. 2005 cit Fella. g. uji imonologik. . merupakan organ yang terkena paling berat. Jumlah leukosit total dapat menurun. Karena sel-sel leukemia menginvasi periosteum. 3) Fungsi lumbal untuk pemeriksaan cairan cerebrospinal harus dilakukan dan dapat menunjukkan bahwa tekanan cairan spinal meningkat dan mengandung sel leukemia. dan tendensi perdarahan akibat penurunan produksi trombosit. 2014). infeksi akibat neutropenia. peningkatan tekanan menyebabkan rasa nyeri yang hebat. Sumsum tulang hiperseluler dengan bias lekomotik >30%. Gambaran Laboratorium 1) Pemeriksaan hematologik memperlihatkan adanya anemia normositik normokromik dengan trobositopenia pada sebagian kasus. 26 organ yang terdiri banyak pembuluh darah seperti limpa dan hati. Tiga akibat yang utama adalah adalah anemia akibat penurunan jumlah SDM. dan analisa sitogenetik.

Tubuh pasien tidak lagi memiliki pertahanan dan sangat rentan . Pengobatan 1) Kemoterapi Terapi leukemia meliputi pemakaian agen kemoterapi. hiperkalsemia. dalam empat fase yaitu : a) Terapi induksi Menghasilkan remisi total atau remisi dengan kurang dari 5% sel- sel leukemia dalam sum-sum tulang. terapi induksi dimulai dan berlangsung selama 4-6 minggu. vinkristin dan Lasparaginase. 27 4) Pemeriksaan biokimia dapat memperlihatkan adanya kadar asam urat serum laktat dehidrogenase serum yang meningkat. Pemeriksaan sinar x mungkin memperlihatkan adanya lesi titik tulang dan masa mediastinum yang disebabkan pembesaran timus atau kelenjar getah bening yang khas (Hoffbrand. 2014) h. dan lebih jarang. 5) Uji fungsi hati dan ginjal di lakukan sebagai dasar sebelum melakukan pengobatan. dengan atau tanpa radiasi kranial. periode waktu yang terjadi segera sesudah remisi merupakan periode yang sangat menentukan. 2012 cit Fella. dengan atau tanpa doksorubisin. Karena banyak diantara obat ini juga menyebabkan mielosupresi unsur-unsur darah yang normal. Hampir segera setelah diagnosis ditegakkan. Obat-obatan utama yang dipakai untuk induksi ALL adalah kortikosteroid (terutama prednisone).

dapat disuntikkan secara intratekal sebagai agen tunggal. metotreksat dosis tinggi atau sedang. dilaksanakan suatu periode terapi yang intensif untuk menghilangkan sel-sel leukemia yang masih tersisa. Penyuntikan intratekal yang menyertai kemoterapi yang sistemik meliputi pemberian L-asparaginase. dan hidrokortison. Karena adanya kekhawatiran terhadap efek samping iradiasi kanial. begitu juga sitarabin. Penanganan SSP terdiri atas terapi profilaksis melalui keoterapi intratekal dengan metotreksat. 28 terhadap infeksi dan perdarahan spontan. sitarabin. sitarabin. Kadangkadang metotreksat. terapi ini hanya dilakukan pada pasienpasien yang beresiko tinggi dan yang memiliki penyakit SSP. selama periode beberapa bulan. d) Terapi rumatan/maintenance Terapi rumatan dimulai sesudah terapi induksi dan konsolidasi selesai dan berhasil dengan baik untuk memelihara remisi dan . Konsekuensinya. vinkristin dan merkaptopurin. b) Terapi profilaksis SSP/consolidation Untuk mencegah agar sel-sel leukemia tidak menginvasi SSP. c) Terapi intensifikasi/reinduction Setelah remisi total tercapai. terapi ini diikuti oleh terapi intensifikasi lambat (delayed intensification) untuk mencegah munculnya klon leukemik yang resisten. terapi supportif selama periode ini sangat dibutuhkan.

dan terapi intratekal secara periodik diberikan selama terapi rumatan. Sum-sum tulang yang digunakan untuk transplantasi bukan hanya dari donor yang ada hubungan keluarga tetapi juga bisa dari donor yang tidak memiliki hubungan keluarga asalkan antigennya cocok atau dari darah yang antigennya tidak cocok (Hockbenberry. . transplantasi sum-sum tulang tidak direkomendasikan selama remisi yang pertama karena kemoterapi masih mungkin memberikan hasil yang menakjubkan. Regimen terapi obat kombinasi yang meliputi pemberian merkaptopurin setiap hari. 29 selanjutnya mengurangi julah sel leukemia. harus dilakukan pemerikasaan hitung darah lengkap untuk mengevaluasi respons sum-sum tulang terhadap obat-obatan yang digunakan. metotreksat seminggu sekali. 2) Transplantasi sum-sum tulang belakang Pada anak dengan ALL. 2005 cit Fella 2014).

nyeri adalah pengalaman dan emosional yang tidak sensori menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Pengertian Nyeri sudah dikenal sejak kehadiran manusia dimuka bumi. 30 4. dan fantasi luka. 1) Mc Caffery (1979). ancaman. 2) Kozier (1983). Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya. nyeri didefinisikan sebagai suatu fenomena yang sulit dipahami. 4) Tamsuri (2007). Konsep Nyeri a. Namun mengingat kompleksnya masalah nyeri. Tanda dan gejala nyeri Tanda dan gejala dari nyeri dapat menyebabkan bermacam- macam perilaku yang tercermin. atau digambarkan dalam ragam yang menyangkut kerusakan atau sesuatu yang digambarkan dengan terjadinya kerusakan. namun beberapa hal yang sering terjadi berhubungan dengan respon psikologisnya antara lain : . maka nyeri didefinisikan sebagai berikut. serta eksistensinya diketahui bila seseorang mengalaminya. Nyeri adalah sensasi ketidaknyamanan yang dimanifestasikan sebagai suatu penderitaan yang diakibatkan oleh persepsi yang nyata. b. 3) International Association for the Study of Pain (IASP) (1979). memengaruhi seseorang.

klien yang mengalami nyeri tidak akan selalu memperlihatkan tanda-tanda fisik (Perry & Potter. Sedangkan dalam hal respon fisiologisnya. 2) Ekspresi wajah Meringis. . mengatupkan gigi. yaitu tanda-tanda fisik kembali normal. dan menarik/menghembuskan nafas. yang menyebabkan individu mengalami syok. mondar-mandir. Nyeri dengan intensitas ringan hingga sedang dan nyeri yang superfisial menimbulkan reaksi nyeri yang sangat. 3) Pergerakan tubuh Kegelisahan. system saraf otonom menjadi terstimulasi sebagai bagian dan respon stres. yang merupakan sindrom adaptasi umum. otot tegang. membuka/ mata mulut dan menggigit bibir. kebanyakan individu mencapai tingkat adaptasi. berfokus pada aktivitas untuk mengurangi nyeri dan disorientasi waktu. immobilisasi dan bergerak melindungi bagian tubuh. 2005). menggerutkan dahi. Dengan demikian. pada saat impuls nyeri naik ke medulla spinalis menuju ke batang otak dan thalamus. merintih. menggigit lidah. Respon fisiologi terhadap nyeri traumatik yang berat. 4) Interaksi sosial Menghindari percakapan dan kontak sosial. 31 1) Suara Menangis.

Secara otomatis. Berdasarkan letaknya. yaitu : 1) Serabut A delta Merupakan serabut komponen yang tercepat (kecepatan transmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam. 2) Serabut C Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan transmisi 0. Reseptor nyeri ini disebut juga nociceptor. Nosiseptor kutaneus berasal dari kulit dan subkutan. Fisiologi nyeri Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima ransangan nyeri. Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang . dan pada daerah visceral. yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulasi kuat yang secara potensial merusak. 32 c. somatik dalam (deep somatic). Nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dilokalisasi dan didefinisikan. nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda. nosiseptor dapat dikelompokkan dalam berbagai bagian tubuh yaitu pada kulit (kutaneus). Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua kelompok. reseptor nyeri ini (nociceptor) ada yang bermielin dan ada juga yang tidak bermielin dari saraf eferen.5-2 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam yang lebih dalam. Karena letaknya yang berbeda-beda inilah. nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasikan.

Klasifikasi Nyeri Nyeri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis. dan mekanik kuat (Zakiyah. Biasanya dapat dan ditandai dengan peningkatan tegangan otot. cemas sehingga meningkatkan persepsi nyeri dan gejala-gejala perilaku memberikan kemungkinan untuk mengkaji kebiasaannya dalam mengalami nyeri. Adanya berbagai macam nosiseptor ini memungkinkan terjadi nyeri karena pengaruh mekanis. kimia. yaitu : nosiseptor termal. 2015). Berdasarkan jenis ransangan dapat diterima oleh nosiseptor di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis nosiseptor. atau karena perubahan suhu. Sedangkan serabut jenis C lebih dipengaruhi oleh ransangan suhu. Nyeri akut biasanya terjadi apabila terdapat luka/kerusakan jaringan kulit. yaitu : 1) Nyeri akut Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi dalam waktu mulai terjadinya nyeri/masalah nyeri sampai masalah nyeri teratasi dan berlangsung tidak melebihi 6 bulan. d. saraf. nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi. nosiseptor mekanik. nosiseptor elektrik. dan jaringan penyangga lainnya. listrik. otot. Kerusakan ini . Serabut jenis A delta merupakan serabut nyeri yang lebih banyak dipengaruhi oleh ransangan mekanik dari pada ransangan panas dan kimia. 33 terdapat pada tulang. pembuluh darah. kimia. Karena struktur reseptornya kompleks. dan nosiseptor kimia. Serangan mendadak pada daerah yang dirasakan adanya nyeri.

2) Nyeri kronis Nyeri kronis ialah nyeri yang berlangsung lama. terdapat faktor . khususnya pada anak dan lansia. 34 biasanya terjadi akibat trauma atau ruda paksa. antara lain : 1) Usia Usia merupakan variabel penting yang dapat mempengaruhi nyeri. laserasi. Tetapi ketika jaringan yang terkena ini akan mengalami proses penyembuhan. mulai dari otot dan bagian lainnya. 2) Jenis Kelamin Secara umum. e. dan lain sebagainya. luka operasi. 2015). Perbedaan perkembangan yang ditemukan diantara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri. Akan tetapi. maka nyeri yang dirasakan juga akan berkurang atau hilang. intensitas yang bervariasi dan biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan. maka respon otonom yang dapat terjadi pada nyeri ini adalah berupa local adaptasi sindrom ataupun general adaptasi sindrom (Zakiyah. nyeri ini dapat bersifat superfisial ataupun dalam dan dapat berasal dari organ- organ dalam. pria dan wanita tidak berbeda secara makna dalam merespon terhadap nyeri. Ketika sistem tubuh mulai beradaptasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nyeri.

hal tersebut sangat berkaitan dengan latar belakang budaya individu. kehilangan sesuatu. hukuman dan tantangan. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka. Sosialisasi budaya juga menentukan perilaku psikologis seseorang. Biasanya hal ini . sehingga hal ini dapat mempengaruhi pengeluaran fisiologis endogen sehingga terjadilah persepsi terhadap nyeri. 5) Perhatian Perhatian yang meningakat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat. Setiap orang akan mempersepsikan nyeri dengan cara yang berbeda-beda apabila nyeri tersebut memberikan kesan ancaman. sedanhkan upaya pengalihan dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Dengan memfokuskan perhatian dan konsentrasi klien pada stimulus yang lain. Derajat dan kualitas nyeri yang dirasakan klien berhubungan dengan makna nyeri. 35 perbedaan hormon antara pria dan wanita yang dapat mempengaruhi toleransi terhadap nyeri. 4) Makna nyeri Pengalaman nyeri dan cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri itu berbeda. maka perawat menempatkan nyeri pada kesadaran yang perifer. 3) Kebudayaan Keyakinan dan nilai-nilai budaya juga mepelajari cara individu dalam mengatasi nyeri.

maka rasa takut akan muncul. yakni memperburuk atau menghilangkan nyeri. rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping. Apabila keletihan disertai kesulitan tidur. khususnya terhadap nyeri yang berlangsung hanya selama waktu pengalihan. Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri. 6) Ansietas Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks. maka persepsi nyeri terasa lebih berat dan jika mengalami suatu proses periode tidur yang baik maka nyeri akan berkurang. Stimulus nyeri mengaktifkan bagian sistem limbik dapat memproses reaksi emosi seseorang terhadap nyeri. 8) Pengalaman sebelumnya Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu akan menerima nyeri dengan lebih mudah pada masa yang akan datang. tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. Apabila individu sejak lama sering mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah sembuh. Akibatnya klien akan cenderung lebih siap untuk . 7) Keletihan Keletihan dapat meningkatkan persepsi nyeri. Pola bangkitan otonom adalah sama dengan nyeri dan ansietas. 36 menyebabkan toleransi nyeri individu meningkat. Hal ini dapat menjadi masalah umum pada setiap individu yang menderita penyakit dalam jangka lama.

pengukuran tingkat nyeri sangat subyektif dan individual. Tingkat nyeri Tingkat nyeri merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu. seringkali pengalaman nyeri membuat klien semakin tertekan. 2010). 2015). . 37 melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan nyeri. 10) Dukungan keluarga dan sosial Faktor lain yang bermakna mempengaruhi respon nyeri adalah kehadiran orang-orang terdekat klien dan bagaimana sikap mereka terhadap klien. kehadiran orang yang bermakna bagi klien akan meminimalkan sensasi nyeri yang dirasakan. f. Walaupun nyeri dirasakan. 9) Gaya koping Pengalaman nyeri dapat menjadi suatu pengalaman yang membuat merasa kesepian. kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Oleh karena itu. Apabila tidak ada keluarga atau teman. kehadiran orang-orang yang paling dekat dengan klien dalam memberi dukungan sangatlah berguna karena akan membuat seseorang merasa lebih nyaman (Zakiyah. 2002 cit Farid. gaya koping akan mempengaruhi cara seseorang untuk mengatasi nyeri. (Brunner & Suddarth.

2015). Pengukuran intensotas nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan dengan Vicual Analoque Scale (VAS). 2015) . 7-9 = Nyeri berat terkontrol. nyeri hebat atau sangat nyeri). sedangkan angka 10 merupakan nyeri yang tidak tertahankan lagi oleh pasien. tingkat nyeri numerik adalah sebagai berikut : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tidak ada nyeri Nyeri sedang Nyeri hebat Skala tingkat nyeri numerik (Zakiyah. 2015) Pasien diminta untuk menunjukkan angka dimana skala nyeri yang dirasakan pasien. 38 Individu dapat diminta untuk membuat tingkat nyeri pada skala verbal (misal : tidak nyeri. Atau dengan angka 1-10 dengan penjelasan 0 = tidak nyeri dan 10 = sangat nyeri. sedikit nyeri. 1-3 =Nyeri ringan. 4-6 = Nyeri sedang. Skala pengukuran nyeri juga dapat ditampilkan sebagaimana bagan berikut : Tidak ada Nyeri Nyeri Nyeri berat Nyeri berat nyeri ringan sedang terkontrol tidak terkontrol Skala tingkat nyeri deskriptif (Zakiyah. Kriteria nyeri menurut angka di golongkan menjadi 5 yaitu : 0 = Tidak nyeri. dan 10 = Nyeri berat tidak terkontrol (Zakiyah. Angka 0 menunjukkan tidak adanya nyeri.

g. 2015) Pasien anak diminta menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai dengan tingkat nyeri yang dirasakan. 2007). dalam penatalaksanaan nyeri juga dibutuhkan penentuan skala nyeri dengan jalan meminta pada pasien untuk menunjukkan daerah yang dirasakan nyeri sampai kepada tingkat yang paling nyeri. 39 Pengukuran skala nyeri dilakukan dengan meminta pasien untuk menunjuk tingkat nyeri yang dirasakan sesuai dengan keterangan yang tercantum dalam tingkatan nyeri yang ada. . (Zakiyah. yaitu menggunakan ekspresi wajah sebagaimana tercantum dalam bagan sebagai berikut : Wong-Baker Faces Pain Rating Scales. Pengukuran nyeri untuk pasien anak-anak dapat menggunakan Wong-Baker Faces Pain Rating Scale. Penatalaksanaan nyeri Penatalaksanaan nyeri membutuhkan pengkajian yang tepat. Terus menerus dan berkesinambungan. Hal ini dilakukan untuk melokalisasi nyeri agar lebih spesifik (Tamsuri. Pengkajian nyeri itu sendiri memerlukan pengetahuan dasar yang harus dipelajari dengan bijak agar lebih berani dalam pemberian obat.

hubungan perkawinan atau pengangkatan. Konsep Keluarga a. dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaannya (Mashudi. keluarga adalah ikatan/persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis hidup bersama atau sendiri-sendiri. Definisi Keluarga Sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat. dan . Berikut ini dikemukakan tiga pengertian keluarga : 1) Menurut Sayekti (1994). 2012). 2) Menurut Bailon dan Maglaya (1978). 3) Menurut Departemen Kesehatan RI 1998. 40 5. berinteraksi satu sama orang lain. kelahiran. dengan atau tanpa anak sendiri atau anak adopsi. keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah suatu atap atap dalam keadaan saling ketergantungan (Mashudi. dan tinggal dalam suatu rumah tangga (Mashudi. keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah. 2012). menguraikan bahwa keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan. dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga. Menurut Duval dan Logan (1986). 2012). banyak ahli memberikan definisi tentang keluarga.

dan meningkatkan perkembangan fisik. mempertahankan budaya. 41 adopsi yang bertujuan untuk menciptakan. dan sosial keluarga (Mashudi. diantaranya adalah sebagai berikut : . struktur keluarga terdiri dari bermacam-bermacam. maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah sebagai berikut : 1) Terdiri atas dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah. psikologis. keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga serta beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. meningkatkan perkembangan fisik. Friedman (1998) mendefinisikan bahwa keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga. Sesuai dengan pengertian di atas. perkawinan atau adopsi. 2) Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain 3) Mempunyai tujuan menciptakan. mempertahankan budaya. 2009). emosional. mental. serta sosial dari tiap keluarga (Efendi dan Makhfudli. Menurut Departemen Kesehatan (1988). 2012). Struktur keluarga Menurut Mashudi (2012). b.

2) Matrilineal. Menurut Mashudi (2012) tipe keluarga adalah sebagai berikut : 1) Tradisional nuclear. patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri atas sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi. adalah hubungan suami-istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga. struktur keluarga terdiri atas pola dan proses komunikasi. c. 3) Matrilokal. matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri. Tipe Keluarga Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola kehidupan. 42 1) Patrilineal. hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu. matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi. struktur peran. dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami-istri. Menurut Friedman dalam Mashudi (2012). dan anak yang tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan. struktur nilai. satu/keduanya dapat bekerja di luar rumah. . hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah. 4) Keluarga kawinan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga berkembang mengikutinya. ibu. keluarga inti yang terdiri atas ayah. struktur kekuatan. dan norma.

5) Dyadic nuclear. misalnya nenek. Satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah. 4) Middle agelaging couple. . 6) Single parent. suami-istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak. sudah meninggalkan rumah karena sekolah/ perkawinan/ meniti karir. baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. istri di rumah/ kedua-duanya bekerja di rumah. tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah. kakek. bibi. tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya. keduanya/ salah satu bekerja di luar rumah. paman. 9) Single adult. suami-istri/ keduanya orang karir dan tinggal terpisah pada jarak tertentu. 8) Commuter married. pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami/istri. keponakan. saudara. 7) Dual carrier. sepupu. suami-istri atau keduanya orang karir dan tanpa anak. adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara. 43 2) Extended family. 10) Three Generation. wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk kawin. 3) Reconstituted nuclear. suami sebagai pencari uang. keduanya saling mencari pada waktu- waktu tertentu. satu orang tua sebagai akibat perceraian/ kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal dirumah/ di luar rumah. dan lain sebagainya. anak-anak.

dua orang atau satu pasangan yang tinggal tanpa kawin. anaknya di adopsi. . 12) Comunal. 1998) yang dikutip oleh Efendi dan Makhfudli (2009) adalah sebagai berikut : 1) Peran sebagai ayah adalah sebagai suami dan istri dan ayah dari anak- anaknya berperan sebagai pencari nafkah. pendidik. Dari berbagai macam tipe keluarga tersebut. ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehandaki. pelindung. dan pemberi rasa aman. satu perumahan terdiri atas orang tua dan keturunannya di dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain dan semua orang adalah orang tua anak-anak. satu rumah terdiri dari dua/ lebih pasangan yang monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas. d. Peran dan Fungsi Keluarga Peran formal dalam keluarga (Nasrul Effendy. serta anggota masyarakat dan lingkungan. maka secara umum negara Indonesia dikenal dua tipe keluarga yaitu tipe keluarga tradisional dan tioe keluarga nontradisional (Mashudi. 14) Unmarried parent and child. Juga sebagai kepala keluarga. anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti. 44 11) Institusional. 13) Group marriage. 2012). 15) Cohibiting couple. anggota kelompok sosial.

dan spiritual. 3) Peran sebagai anak adalah melaksanakan peran psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya. 3) Fungsi reproduksi (the reproductive function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga. 4) Fungsi ekonomi (the economic function). mental. serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungan disamping dapat berperan pula sebagai pencari nafkah tambahan keluarga. 2) Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (socialization and social placement function) adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain diluar rumah. sosial. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga. adalah sebagai berikut : 1) Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. pelindung dan salah satu anggota kelompok sosial. 45 2) Peran sebagai ibu adalah sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya berperan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya. yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat . baik fisik. Secara umum fungsi keluarga Friedman (1998) dalam Suprajitno (2012).

baik moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan kegiatan (Sarwono. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (Friedman. 5) Fungsi perawatan/ pemeliharaan kesehatan (the health care function). Bentuk dukungan keluarga Caplan (1964) dalam Friedman (1998) menjelaskan bahwa keluarga memiliki beberapa jenis dukungan yaitu : 1) Dukungan informasional Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan disseminator (penyebar) informasi tentang dunia. sugesti. yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi. Definisi dukungan keluarga Dukungan keluarga adalah sikap. 46 untuk mengembangkan kemampuan individu untuk meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 2005). informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu . Menjelaskan tentang pemberian saran. Dukungan Keluarga a. tindakan. Dukungan keluarga adalah suatu upaya yang diberikan kepada orang lain. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga dibidang kesehatan. dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya. 1998). 6. b.

Sedangkan menurut Kuncoro (2002). dan pemberian informasi. Aspek- aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi. 4) Dukungan emosional Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. 2) Dukungan penilaian Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik membimbing dan menengahi pemecahan masalah. istirahat. 47 masalah. dan perhatian. dan mendengarkan. sebagai sumber dan validator identitas anggota keluarga diantaranya memberikan support. petunjuk. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat. bentuk dari dukungan keluarga meliputi : 1) Dukungan penghargaan (appraisal support) Merupakan suatu dukungan sosial yang berasal dari keluarga atau lembaga atau instansi terkait dimana pernah berjasa atas . usulan. kepercayaan. 3) Dukungan instrumental Keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit diantaranya kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum. saran. perhatian. Manfaat dari dukungan ini adalah dapat menekan munculnya suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus pada individu. terhindarnya penderita dari kelelahan. penghargaan.

bantuan keuangan dan pemberian barang-barang. saran dan umpan balik tentang bagaimana seseorang untuk mengenal dan mengatasi masalahnya dengan lebih mudah. 4) Dukungan emosional (Emosional Support) Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Pemberian dukungan materi dapat dicontohkan dalam sebuah keluarga atau persahabatan. c. 2) Dukungan materi (Tangible Assistance) Adalah dapat berupa servis (pelayanan). 48 kemampuannya dan keahliannya maka mendapatkan suatu perhatian yang khusus. 3) Dukungan informasi (Information Support) Merupakan dukungan yang berupa pemberi informasi. pujian. kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan misalnya penegasan. (2008) antara lain : 1) Informatif Yaitu dukungan informasi yang disediakan agar dapat digunakan oleh seseorang dalam menanggulangi persoalan-persoalan yang dihadapi. meliputi pemberian nasehat. (1994) dalam Setiadi. Merupakan dukungan emosional yang mencakup ungkapan empati. dan sebagainya. ide-ide atau . pengarahan. Ciri-ciri dukungan keluarga Setiap bentuk dukungan keluarga mempunyai ciri-ciri menurut Smet.

Penilaian ini bias positif dan negatif yang mana pengaruhnya sangat . atau menolong secara langsung kesulitan yang dihadapi misalnya dengan menyediakan peralatan lengkap dan memadai bagi penderita. mau mendengar segala keluhannya. cinta. Dengan demikian seseorang yang menghadapi persoalan merasa dirinya tidak menanggung beban sendiri tetapi masih ada orang lain yang memperhatikan. bersimpati. 2) Perhatian emosional Setiap orang pasti membutuhkan bantuan afeksi dari orang lain. 4) Bantuan penilaian Yaitu suatu bentuk penghargaan yang diberikan seseorang kepada pihak lain berdasarkan kondisi sebenarnya bagi penderita. dan empati terhadap persoalan yang dihadapinya. dan penghargaan. 3) Bantuan instrumental Bantuan bentuk ini bertujuan untuk mempermudah seseorang melakukan aktivitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya. bahkan mau membantu memecahkan masalah yang dihadapinya. menyediakan obat-obat yang dibutuhkan dan lain-lain. kepercayaan. dukungan ini berupa dukungan simpatik dan empati. 49 informasi lainnya yang dibutuhkan dan informasi ini dapat disampaikan kepada orang lain yang mungkin menghadapi persoalan yang sama atau hampir sama.

50 berarti bagi seseorang. d) Memelihara dan merawat anggota keluarga. dan kesehatan emosi. fungsi keluarga dikembangkan menjadi : 1) Fungsi biologis a) Untuk meneruskan keturunan. Fungsi keluarga dalam memberikan dukungan sosial Setiadi (2008) mengemukakan bahwa dengan berubahnya pola hidup agraris menjadi industrialisasi. 2008). lebih mudah sembuh dari sakit. Berkaitan dengan dukungan sosial keluarga maka penilaian yang sangat membantu adalah penilaian yang positif. 1994 dalam Setiadi. . Secara lebih spesifik. fungsi kognitif. Efek dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan berfungsi bersamaan. c) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga. fisik. b) Memberikan perhatian diantara anggota keluarga. b) Memelihara dan membesarkan anak. pengaruh positif dari dukungan sosial keluarga adalah pada penyesuaian terhadap kejadian dalam kehidupan yang penuh dengan stress (Smet. c) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Disamping itu. 2) Fungsi psikologis a) Memberikan kasih saying dan rasa aman. d. keberadaan dukungan sosial yang adekuat terbukti berhubungan dengan mortalitas.

jaminan hari tua dan sebagainya. dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. c) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak. 4) Fungsi ekonomi a) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memebuhi kebutuhan keluarga. c) Mendidik anak sesuai dengan tingka-tingkat perkembangannya. 3) Fungsi sosialisasi a) Membina sosialisasi pada anak. b) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa. . 51 d) Memberikan identitas keluarga. 5) Fungsi pendidikan a) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan. b) Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak. keterampilan. b) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. c) Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.

latar belakang pendidikan. 52 e. c) Faktor emosional Faktor emosioanal juga mempengaruhi keyakinan terhadap adanya dukungan dan cara melaksanakannya. (2008) dalam Setiadi. b) Pendidikan atau tingkat pengetahuan Keyakinan seseorang terhadap adanya dukungan terbentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan. Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga Menurut Purnawan. dan pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan membentuk cara berpikir seseorang termasuk kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan dirinya. (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga adalah : 1) Faktor internal a) Tahap perkembangan Artinya dukungan keluarga dapat ditentukan oleh faktor usia. mungkin dilakukan dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat . Seseorang yang mengalami respon stress dalam perubahan hidupnya cenderung berespon terhadap berbagai tanda sakit. dengan demikian setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahanaman dan respon terhadap perubahan kesehatan berbeda-beda. dalam hal ini adalah pertumbuhan dan perkembangan.

2) Faktor eksternal a) Praktik di keluarga Cara bagaimana keluarga memberikan dukungan biasanya mempengaruhi penderita dalam melaksanakan kesehatannya. dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam hidup. d) Spiritual Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Misalnya : klien juga akan melakukan tindakan pencegahan jika keluarga melakukan hal yang sama. c) Latar belakang budaya . b) Faktor sosioekonomi Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap penyakitnya. menyangkut nilai dan keyakinan yang dilaksanakan. Seseorang yang secara umum terlihat tenang mungkin mempunyai respon emosional yang kecil selama ia sakit. mungkin ia menyangkal adanya gejala penyakitpada dirinya dan tidak mau menjalani pengobatan. 53 mengancam kehidupannya. hubungan dengan keluarga atau teman. Seorang individu yang tidak mampu melakukan koping secara emosional terhadap ancaman penyakit.

lebih sembuh dari sakit dan . Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan keluarga sosial internal seperti dukungan dari suami-istri serta dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial keluarga eksternal (Friedman. Manfaat dukungan keluarga Wills (1985) dalam Friedman (1998) menyimpulkan bahwa baik efek-efek penyangga (dukungan sosial menahan efek-efek negatif dari stres terhadap kesehatan) dan efek-efek utama (dukungan sosial secara langsung mempengaruhi akibat-akibat dari kesehatan) pun ditemukan. tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan). Sesungguhnya efek-efek penyangga dan utama dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan boleh jadi berfungsi bersamaan. keberadaan dukungan sosial yang adekuat terbukti berhubungan dengan menurunnya mortalitas. g. f. Sumber dukungan keluarga Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan sosial yang dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga (dukungan sosial bisa atau tidak digunakan. nilai dan kebiasaan individu dalam memberikan dukungan termasuk cara pelaksanaan kesehatan pribadi. 1998). 54 Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan. Secara lebih spesifik.

Kolcaba. 1991 dalam Alligood. 7. . fisik. fungsi kognitif. 2 Ease (ketentraman) merupakan arti kenyamanan dari hasil penelitian Henderson (1966). 3 Transcendence dijabarkan dari hasil penelitian Paterson dan Zderad (1975). dan kesehatan emosi (Ryan dan Austin dalam Friedman. 1994 dalam Alligood. adalah sebagai berikut : 1 Relief (kelegaan) merupakan arti kenyamanan dari hasil penelitian Orlando (1961). yang mengemukakan bahwa perawat meringankan kebutuhan yang diperlukan oleh pasien. Pencapaian kenyamanan seorang individu memberikan kekuatan bagi pasien dalam membentuk sikap kesadaran terkait kesehatan dirinya (Kolcaba. Kenyamanan adalah kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan dan harus dipenuhi oleh setiap individu. yang menjelaskan bahwa perawat membantu pasien dalam mengatasi kesulitannya. yang mendeskripsikan ada 13 fungsi dasar manusia yang harus dipertahankan selama pemberian asuhan. 1998). 2014 menggunakan idenya dari tiga teori keperawatan sebelumnya untuk mensintesis atau mengidentifikasi jenis kenyamanan menurut analisis konsep. 2014). 55 dikalangan kaum tua. Teori Keperawatan Kolcaba Kenyamanan adalah hasil holistik yang ingin dicapai oleh setiap individu dan erat kaitannya dengan disiplin keperawatan.

56 Empat konteks kenyamanan. berdasarkan asuhan yang diberikan. 2003 dalam Alligood 2014). berasal dari literature keperawatan (Kolcaba. adalah sebagai berikut : 1 Konteks fisiologis 2 Konteks psikospiritual 3 Konteks sosiokultural 4 Lingkungan .

Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan secara emosional merasa lega karena diperhatikan. yang menyatakan bahwa dukungan keluarga adalah sikap. tindakan. Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan sosial yang dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga (dukungan sosial bisa atau tidak digunakan. dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya. Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan keluarga sosial internal seperti dukungan dari suami-istri serta dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial . saran. Dukungan keluarga juga didefinisikan sebagai informasi verbal atau non verbal. dan Sarwono (2005). mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. Dukungan Keluarga Teori tentang dukungan keluarga yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari buku Friedman (1998). tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan). 57 B. bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam lingkungannya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional dan berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Landasan Teori a. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan baik secara moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan kegiatannya.

nyeri hebat atau sangat nyeri). terhindarnya penderita dari kelelahan). dukungan emosional (keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi). sugesti. istirahat. sebagai sumber dan validator identitas anggota keluarga diantaranya memberikan support. Bentuk dukungan keluarga memiliki beberapa jenis dukungan yaitu dukungan informasional (keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan disseminator (penyebar) informasi tentang dunia dengan menjelaskan tentang pemberian saran. informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu masalah). pengukuran tingkat nyeri sangat subyektif dan individual. yang menyatakan bahwa tingkat nyeri merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu. penghargaan. kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. 58 keluarga eksternal. 2002 dalam Farid. pasien diminta untuk membuat tingkat nyeri pada skala verbal (misal : tidak nyeri. Tingkat nyeri Teori tentang tingkat nyeri yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari buku (Brunner & Suddarth. Atau dengan angka 1-10 dengan penjelasan 0 = tidak nyeri . dukungan penilaian (keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik membimbing dan menengahi pemecahan masalah. b. 2010). dukungan instrumental (keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit diantaranya kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum. dan perhatian). sedikit nyeri. Dalam skala tingkat nyeri numerik.

Dalam skala nyeri tingkat deskriftif. 1-3 =Nyeri ringan. Kenyamanan adalah kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan dan harus dipenuhi oleh setiap individu. Pengukuran intensotas nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan dengan Vicual Analoque Scale (VAS). dapat dilakukan pengukuran nyeri dengan meminta pasien untuk menunjuk tingkat nyeri yang dirasakan sesuai dengan keterangan yang tercantum dalam tingkatan nyeri yang ada. c. Teori Keperawatan Kolcaba Teori keperawatan Kolcaba yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari buku (Alligood. pasien diminta untuk menunjukkan angka dimana skala nyeri yang dirasakan pasien. dan 10 = Nyeri berat tidak terkontrol (Zakiyah. Angka 0 menunjukkan tidak adanya nyeri. 4-6 = Nyeri sedang. Dalam pengukuran nyeri Wong-Baker Faces Pain Rating Scale yang menggunakan ekspresi wajah untuk pasien anak-anak. sedangkan angka 10 merupakan nyeri yang tidak tertahankan lagi oleh pasien. . Pencapaian kenyamanan seorang individu memberikan kekuatan bagi pasien dalam membentuk sikap kesadaran terkait kesehatan dirinya. 7-9 = Nyeri berat terkontrol. Kriteria nyeri menurut angka di golongkan menjadi 5 yaitu : 0 = Tidak nyeri. 59 dan 10 = sangat nyeri. 2014). yang menyatakan bahwa kenyamanan adalah hasil holistic yang ingin dicapai oleh setiap individu dan erat kaitannya dengan disiplin keperawatan. 2015).

Terdapat juga empat konteks kenyamanan. berdasarkan asuhan yang diberikan. konteks psikospiritual. 60 Kolcaba menggunakan idenya dari tiga teori keperawatan sebelumnya untuk mensintesis atau mengidentifikasi jenis kenyamanan menurut analisis konsep. dan transcendence. . yaitu konteks fisiologis. konteks sosiokultural. ease (ketentraman). lingkungan. berasal dari literature keperawatan. yaitu relief (kelegaan).

Ease 8 (Nyeri sangat berat) 3. 2001 . Dukungan keluarga : 1. Dukungan emosional 0 (Tidak nyeri) 2 (Nyeri ringan) Teori Comfort Kolcaba : 4 (Nyeri sedang) 1. Jenis Kelamin 10. 2005 . 61 B. Ansietas 5. Makna nyeri Leukemia (ALL) 3. Perhatian 4. Dukungan informasional 2. Relief 6 (Nyeri berat) 2. Friedman. Transcedence 10 (Nyeri tidak tertahankan) Gambar 2.1 Skema landasan teori (Carpenito. Usia 9. 2012 . Kerangka Teori Lebih jelasnya kerangka teori yang akan diteliti adalah sebagai berikut : Anak dengan Kanker Faktor yang mempengaruhi nyeri : 1. Perry & Potter. Keletihan Kemoterapi 6. Dukungan instrumental 4. Dukungan penilaian Tingkat nyeri pada anak 3. Gaya koping Nyeri 8. 1198 . Kebudayaan Acute Lymphoblastic 2. Sitzman & Eichelberger dalam Herlina. Zakiyah. 2015) Keterangan : Tanda : Mempengaruhi DITELITI TIDAK DITELITI . Pengalaman sebelumnya 7.

62 C. Perhatian 4 (Nyeri sedang) d.2 Kerangka Penelitian . Mendengarkan 6 (Nyeri berat) Berat 8 (Nyeri sangat berat) 10 (Nyeri tidak tertahankan) Tidak Tertahankan Gambar 2. Afeksi 0 (Tidak nyeri) b. Kepercayaan 2 (Nyeri ringan) Sedang c. Kerangka Konsep Penelitian Variabel Independen Variabel Dependen Dukungan Tingkat nyeri Emosional Keluarga pada anak Ringan a.

. 63 D. Pertanyaan Penelitian/Hipotesis Hipotesis yang akan dikemukakan untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu . Ha : Ada hubungan dukungan emosional keluarga dengan tingkat nyeri pada anak Acute Lymphoblastic Leukemia akibat kemoterapi di Ruang Hemato Onkologi Tulip III A RSUD Ulin Banjarmasin.