You are on page 1of 11

BAB I

KONSEP DASAR

A. DEFINISI

Apendicitis adalah suatu peradangan pada Appendic yang berbentuk

cacing, yang berlokasi dekat katup ileosekal (Barbara C. Long, 1996).

Apendisitis adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira–kira

10 cm (4 inci) melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal.

(Smeltzer, 2001).

Apendisitis adalah suatu peradangan apendix yang mengenai semua

lapisan dinding organ tersebut. (Price, 1995).

Apendisitis adalah Kasus Gawat Bedah Abdomen yang paling sering

terjadi dan kejadian ini paling banyak terjadi pada laki – laki dari pada wanita.

(Soeparman, 1999).

Apendisitis adalah pada fase inflamasi bagian vermiform Apendix,

ukurannya kecil seperti jari yang merupakan lanjutan seikum dari kolon.

(Donna D. Ignatavicius, 1991).

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermi vormis, dan

merupakan penyebab abdomen akut (Mansjoer Arif, 2000).

B. ETIOLOGI

a. Masa keras dari feses

Nafsu makan menurun (Smeltzer. Implamasi merupakan petunjuk penting pada infeksi. kebiasaan makan-makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi. 1995) Apendisitis merupakan infeksi bakteri. Tanda dan Gejala a. seperti bagian pada cecum terisi dengan makanan dan pengosongan tempat secara teratur. dan anoreksia. Berbagai hal yang berperan sebagai penyebabnya adalah (obstruksi lumen apendiks faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus. PATOFISIOLOGI Apendix sudah tidak berfungsi.50 C – 38. Inflamasi pada Apendix dapat terjadi sewaktu ada ulserasi pada mukosa atau pada waktu lumen apendix terjadi obstruksi. pada titik mc. Mual dan muntah c. Burney nyeri tekan setempat karena tekanan. 2004). 2000). suhu kurang lebih 37. kaki kanan fleksi karena nyeri (Mansjoer. . erosi mukosa apendiks karena parasit) (Sjamsuhidayat. leukosit PMN meningkat. Nyeri kuadran kanan bawah b. seperti invasi bakteri pada dinding Apendix. obstruksi fekalit atas massa fekal padat.50 C. muntah. konstipasi. Tumor (Sabiston. 2001 : 1098) Pasien dengan apendisitis akan ditemukan tanda-tanda sebagai berikut: nyeri kuadran kanan bawah disertai dengan mual. Benda asing c.b.

Aspirin dapat diberikan untuk mengurangi peningkatan suhu. pembengkakan yang lebih lanjut menghalangi aliran darah. Abses (Smeltzer. dan terjadi infeksi yang menyebabkan pembengkakan. mukosa terus menerus mensekresi cairan. sampai tekanan dalam lumen melebihi tekanan dalam vena. Pra Operatif . Ganggren dari hipoxia atau perforasi (ruptur) dapat terjadi dalam 24 – 26 jam. Perbatasan organ dinding Apendix tertutup dan lokasi absel berkembang atau tumbuh. (Donna D. . Apendix Akut bisa kambuh dengan gejala yang lebih ringan diantara Inflamasi Akut. Semua komplikasi dari peritonitis sangat berbahaya. Jika proses ini terjadi secara pelan. Walaupun kecepatan proses infeksi progresif dapat menyebabkan peritonitis. sehingga aliran darah ke Apendix terbatas. tetapi ini biasanya menyebabkan nyeri abdomen pada minggu terakhir. Infus intra vena digunakan untuk meningkatkan fungsi ginjal adekuat dan menggantikan cairan yang telah hilang. 1991) Komplikasi 1. Terapi Antibiotik dapat diberikan untuk mencegah infeksi b. Peritonitis 2. Pada waktu lumen terobstruksi. . Ignatavicius. 2001) Penatalaksanaan a. infeksi kronik Apendix dapat terjadi. Pasca Operatif .

2001) C. Sirkulasi Tanda : Takikardi 3. Nyeri / Kenyamanan . (Smeltzer. Aktivitas / istirahat Gejala : Malaise 2. nyeri tekan / nyeri lepas. . Makanan / cairan Gejala : Anoreksia Mual / muntah 5. kekakuan Penurunan atau tak ada Bising Usus 4. . Eliminasi Gejala : Konstipasi pada awitan awal Diare (kadang – kadang) Tanda : Distensi Adomen. Posisi semifowler mengurangi tegangan pada insisi dan organ Abdomen yang membantu mengurangi nyeri. Opiod biasanya sulfat morfin diberikan untuk menghilangkan nyeri. FOKUS PENGKAJIAN 1.

(Doenges. Pernafasan Tanda : Takipnea. neutrofil meningkat sampai 75 % Urenalisis : Normal tetapi eritrosit / leukosit mungkin ada. Penyuluhan / pembelajaran Gejala : Riwayat kondisi lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen contoh prelitis akut. 9. pernafasan dangkal 8. meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan / posisi duduk tegak. Keamanan Tanda : Demam (biasanya rendah) 7. berbaring kesamping atau terlentang dengan lutut ditekuk.ileus terlokalisis. 6. 1999) . Foto Abdomen : Dapat menanyakan adanya pengerasan material pada apendiks. Pemeriksan Dragnostik Leukositosis diatas 12. Tanda : Perilaku berhati – hati. Gejala : Nyeri Abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. batu uretra. Burney.000 / mm3.

batu. PATHWAY Fekalit / massa fekal padat. kebutuhan 1991) Pembatasan dinding Apendiks Akan dilakukan Apendiktomi operasi koping Gangguan Aktifitas Kurangnya Terputusnya kontinuitas Kelemahan fisik yang diterima Luka Post AbsesPeritonitis berkembang Kurang Kurang Cemas Resti InfeksijaringanNyeri pengetahuan informasi . benda asing Masuk ke Apendiks Tertahan dari Apendiks Pembengkakan jaringan limfoid Obstruksi Mual dan muntah Invasi bakteri pada dinding Output berlebihan apendiks Kekurangan volume Inflamasi cairan Pembengkakan Distensi jaringan usus Aliran darah ke Apendiks Peningkatan produksi terhambat HCI pada lambung Supplay darah ke Apendiks berkurang Mual dan muntah Kematian jaringan Perforasi Infeksi Nutrisi ( Donna D. kurang dari Ignatavicius.D.

Awasi tanda vital perhatikan demam menggigil. FOKUS INTERVENSI 1. membantu menurunkan ansietas. eritema dan demam. Lihat insisi dan balutan. Berikan informasi yang tepat. perforasi atau ruptur pada appendiks. peritonitis. meningkatkan nyeri abdomen. Rasionalisasi : Menurunkan risiko penyebaran infeksi c. Rasionalisasi : Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi. Rasionalisasi : Dugaan adanya infeksi / terjadinya sepsis. . Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptik . b. cacat karakteristik drainase luka / drein. d. berkeringat. Resiko terhadap Infeksi Faktor resiko meliputi : tidak adekuatnya pertahanan utama. drainase purulen. abses. Kriteria evaluasi : Pasien akan meningkatkan penyembuhan luka dengan benar. bebas tanda infeksi. Intervensi : a.E. Rasionalisasi : memberikan deteksi dari terjadinya prose infeksi atau pengawasan penyembuhan peritonitis. jujur pada pasien / orang terdekat. perubahan mental.

e.Muntah pra operasi .Inflamasi peritoneum dengan cairan asing Kriteria Evaluasi : Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembaban membran mukosa. Intervensi : a. turgor kulit baik. Rasionalisasi : Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler. tanda vital stabil. . kaji turgor kulit. b. Ambil contoh drainase bila diindikasikan Rasionalisasi : Kultur pewarnaan gram dan sensitivitas berguna untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan pilihan terapi. Berikan antibiotik sesuai indikasi Rasionalisasi : Mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya pada rongga abdomen. Resti Kekurangan Volume Cairan Faktor resiko meliputi : . 2. f.Status hipermetabolic . Lihat membran mukosa. Awasi TD dan Nadi Rasionalisasi : Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intravastuler.

catat warna urine / konsentrasi berat jenis. Rasionalisasi : Dehidrasi mengakibatkan bibir dan mulut kering dan pecah – pecah.Melaporkan nyeri hilang / terkontrol . d. otot tegang . Rasionalisasi : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan berat jenis / kebutuhan peningkatan cairan. kesiapan untuk pemasukan peroral. 3. gerakan usus. mampu tidur / istirahat dengan tepat . Adanya insisi bedah kemungkinan dibuktikan oleh : . e. Berikan Perawatan mulut sering dengan perhatian khusus pada perlindungan bibir. Wajah mengkerut. Laporan nyeri . Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi. c. Respons otomatis KH : . Auskultasi Bising Usus. Awasi masukan dan haluaran. Rasionalisasi : Indikator kembalinya peristaltik. catat kelancaran flatus.Tampak rileks.

4. Intervensi : a. prognosis dan kebutuhan pengobatan. Hasil yang diharapkan : Mengemukakan pemahaman proses penyakit. catat lokasi. Rasionalisasi : Berguna dalam pengawasan keefektifan obat. menyatakan salah konsepsi. c. salah interprestasi. Kaji nyeri. Rasionalisasi : Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis. Kurang pengetahuan tentang kondisi. contoh merangsang peristaltik d. kemajuan penyembuhan. . Dorong Ambulasi Dini Rasionalisasi : Meningkatkan normalisasi fungsi organ. b. Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler. pengobatan. Dapat dihubungkan dengan kurang terpajan / mengingat. Kemungkinan dibuktikan oleh : Pertanyaan meminta informasi. karakteristik beratnya (skala 0 – 10) Selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat. berpartisipasi dalam program kegiatan. Kolaborasi dengan tim medis dengan pemberian analgetik Rasionalisasi : Menghilangkan nyeri mempermudah kerja sama dengan intervensi terapi lain. tidak mengenal sumber informasi. terjadi komplikasi yang dapat dicegah.

seks. Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik contoh peningkatan nyeri. 1999) . Rasionalisasi : Membantu kembali ke fungsi usus semula.Intervensi : a. Dorong Aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodik. latihan menyetir. meningkatkan penyembuhan. Kaji ulang pembatasan aktivitas pasca operasi. mencegah mengejan saat defekasi. contoh mengangkat berat. Rasionalisasi : Upaya intervensi menurunkan risiko komplikasi serius contoh lambatnya penyembuhan. (Doenges. c. Anjurkan menggunkaan laksatif / pelembek feses ringan bila perlu dan hindari enema. b. Rasionalisasi : Mencegah kelemahan. dan perasaan sehat. d. edema / eritema luka. peritonitis. olah raga. Rasionalisasi : Memberikan informasi pada pasien untuk merencanakan kembali rutinitas biasa tanpa menimbulkan masalah. adanya drainase. mempermudah kembali ke aktivitas normal. demam.