You are on page 1of 27

BAB VII

MATRIKS FLEKSIBILITAS DAN MATRIKS
KEKAKUAN ELEMEN

7.1 Umum
Metoda matriks dalam analisis struktur menggunakan model diskrit sebagai
representasi struktur. Model diskrit diperoleh dengan jalan membagi-bagi struktur yang
sebenarnya atas segmen-segmen batang yang dinamakan elemen, serta yang dibatasi
oleh titik-titik ujung yang membatasi setiap elemen. Titik-titik ujung ini merupakan titik-
titik perletakan atau titik simpul, dalam mana titik-titik simpul sekaligus menyambungkan
elemen-elemen sesamanya.
Dalam analisis dengan metoda matriks sebagai mana akan dipaparkan dalam
bab-bab mendatang, maka dalam metoda perpindahan misalnya, persamaan
keseimbangan global struktur diperoleh dengan menggabungkan persamaan-
persamaan keseimbangan gaya-gaya di arah komponen-komponen perpindahan bebas
titik-titik simpul. Gaya-gaya pada titik-titik simpul merupakan gaya-gaya sumbangan dari
pada ujung-ujung elemen yang bertemu pada titik-titik simpul. Di lain fihak, gaya-gaya
ujung elemen diperoleh dari hubungan gaya luar elemen dan komponen perpindahan
elemen. Dengan demikian, untuk dapat menyusun persamaan keseimbangan struktur,
maka terlebih dahulu kita akan menuliskan hubungan komponen-komponen
perpindahan dan gaya dalam tingkat elemen.
Bab ini menyajikan penyusunan hubungan komponen-komponen perpindahan dan
gaya yang melibatkan matriks yang dinamakan matriks fleksibilitas (flexibility matrix)
elemen, dan penyusunan hubungan komponen-komponen gaya dan perpindahan yang
melibatkan matriks yang dinamakan matriks kekakuan (stiffness matrix) elemen.

7.2 Perpindahan Absolut dan Perpindahan Relatif
Kita mengetahui bahwa medan perpindahan mencakup perpindahan badan kaku
(rigid body displacement) yang tidak menimbulkan gaya reaksi, dan perpindahan
deformatif yang menimbulkan gaya reaksi. Dalam formulasi, perpindahan total
dinamakan perpindahan absolut dan perpindahan deformatif dinamakan perpindahan
relatif. Hal ini diterangkan dengan mengajukkan perpindahan dari suatu elemen balok-
kolom bidang seperti dalam Gambar 7.2.1, dengan perpindahan total yang dinyatakan
dalam komponen
 u   u 1x , u 1y ,  x1 , u x2 , u y2 ,  x2  (7.2.1)

yang dapat didekomposir atas bagian kaku

 u k    u 1x , u 1y , 0, u 1x , u 1y , 0 (7.2.2)

145

dan bagian deformatif

 u r    0, 0,  z1 , (u x2  u 1x ), (u y2  u 1y ),  x2  (7.2.3)

sehingga untuk konteks batang yang merupakan elemen balok-kolom tersebut, hanya
komponen perpindahan dalam Pers.(7.2.3) saja yang menyumbangkan komponen gaya
reaksi dalam elemen, sedangkan komponen perpindahan dalam Pers.(7.2.2) tidak
menyumbangkan apa-apa.

Gambar 7.2.1: Komponen Perpindahan Struktural

Perlu ditambahkan, bahwa komponen perpindahan total dalam Pers.(7.2.1) dapat
mewakili perpindahan yang secara umum akan dialami oleh elemen. Perpindahan ini
dikaitkan secara langsung kepada komponen gaya, dalam format

 k  u   p (7.2.4)

Untuk perpindahan  u yang diketahui, dapat dihitung  p dengan menggunakan
hubungan dalam Pers.(7.2.4). Namun, untuk  p yang diketahui, inversi dari hubungan
dalam Pers.(7.2.4), yaitu

 u   k  1  p (7.2.5)
tidak dapat digunakan karena balok-kolom dalam Gambar 7.2.2 merupakan sistem yang
masih labil. Kalau nantinya disimak, akan diketahui bahwa

k  det k   0 (7.2.6)

dengan perkataan lain, matriks  k  adalah singulir sehingga matriks inversinya tidak
terdefinisi. Ini berarti bahwa kita tidak dapat menuliskan hubungan dalam Pers.(7.2.5).

146

2. dapat digunakan vektor perpindahan absolut maupun vektor perpindahan relatif.2. namun dapat bervariasi seturut sumbu aksial batang. Untuk memulai.3 Penentuan Matriks Fleksibilitas Elemen Dengan Metoda Irisan Pasal ini menyajikan penurunan dari matriks fleksibilitas dari komponen batang yang boleh jadi tidak prismatis. 7. Berikut ini dibahas penentuan hubungan fleksibilitas dan hubungan kekakuan dari pada beberapa jenis elemen. Untuk menghubungkan vektor gaya kepada vektor perpindahan.(7. Gambar 7. yang memberikan  u r    k r  1  s (7. kita meninjau suatu batang non-prismatis sebagai elemen dari kasus struktur bidang seperti dalam Gambar 7.7) di mana  s adalah vektor gaya yang berkaitan dengan vektor perpindahan relatif. kekangan membuat elemen menjadi sistem yang statis tentu. dengan perkataan lain.3) yang dapat diperoleh dengan jalan memberikan kekangan terhadap elemen seperlunya sedemikian hingga perpindahan badan kaku tidak terjadi (suppressed).3. lentur ataupun torsional tidak perlu seragam.1.2: Perpindahan Absolut dan Relatif Elemen Salah satu cara menuliskan hubungan  p terhadap  u adalah dengan menggunakan komponen perpindahan relatif dalam Pers. Dengan perkataan lain.8) atau u r    f   s (7.2.2. Dalam hal ini dapat dituliskan  k r u r    s (7.10) Sebagai kesimpulan.2.2.9) di mana  f    k r  1 (7. untuk menghubungkan vektor perpindahan kepada vektor gaya. kekakuan aksial. Sumbangan deformasi segmen dx dapat diformulasikan dengan melihat bahwa 147 . hanya dapat digunakan vektor perpindahan relatif.

(7. dari Pers.  1   0 0  e x   E x Ax   fx     1   e y    0 0  fy  (7.1) G x A 'x  k      z  0 1  m z  0  E x I z  atau  e   f s   f  (7.3.3.3.3.1: Metoda Irisan Dalam Penyusunan Matriks Fleksibilitas Elemen Vektor perpindahan relatif akibat deformasi segmen dx diberikan oleh  dv1  1 0 0   s1       dv2   0 1 L  x  s 2 dx (7.3.3.6).3.2) di mana komponen gaya-gaya pada potongan dapat dikaitkan dengan gaya-gaya ujung lewat transformasi translasional  f x  1 0 0  s1        f y   0 1 0 s2  (7.3) m   0 L  x 1   s   z   3 atau  f   Vx   s (7.3.3.6) Dengan demikian.3.2) dan (7.4) Gambar 7.5) dv  0 0 1   s3   3  atau  dv  Vx   e dx T (7. (7.4) diperoleh hubungan antara gaya dan perpindahan dalam bentuk 148 .

(7.3.3. diperoleh 149 .3.  dv  Vx   f s Vx  dx T (7.10) dan (7.3.2: Contoh Penerapan Metoda Irisan Substitusi bentuk dalam Pers. diperoleh matriks translasi 1 0 0 Vx   0 1 0 (7.3.2.3.8) dalam mana  f    Vx   f s Vx  dx T (7.9) L Sebagai contoh. kita menyusun matriks fleksibilitas dari suatu batang prismatis sepanjang L yang dimodel dengan dua cara sepeerti dalam Gambar 7.10) 0 Lx 1  dan  1   EA 0 0   1   fs    0 0   GA '   1   0 0   EI  (7.3.(7.9) dan setelah proses integrasi. Untuk model 1.3.3.11) Gambar 7.11) ke dalam Pers.7) yang setelah proses integrasi memberikan  v   f   s (7.3.

 L   EA 0 0   (1   ) L3 L2  3EI f 0 .3. persamaan-persamaan dalam hubungan kekakuan merupakan keseimbangan antara gaya.9) dan setelah proses integrasi.3.   3EI 2 EI  GA ' L2  L2 L   0   2 EI EI  (7.14)  0 0 1 / EI  Substitusi bentuk dalam Pers. 7.15) Kiranya tidak berlebihan jika sekali lagi ditekankan bahwa  f  merupakan matriks yang non-singulir karena didasarkan atas elemen yang merupakan sistem yang stabil dan statis tentu.13)  x / L  ( L  x) / L 0 dan 1 / EA 0 0   fs    0 1 / GA' 0  (7. Dengan demikian. Dalam bahasan terdahulu juga telah diterangkan bahwa hubungan kekakuan dapat disusun baik berdasarkan perpindahan relatif maupun perpindahan absolut.13) dan (7.3. diperoleh  (1   ) L (1  2 ) L    0  3EI 6 EI  (1  2 ) L (1   ) L   f    0   6 EI 3EI   L  0 0  EA  (7.3. yaitu gaya luar dan gaya reaksi. lalu disusun hubungan fleksibilitas dalam format 150 .3. Dalam cara yang pertama.14) ke dalam Pers.(7. diperoleh matriks translasi  0 0 1 Vx     1 / L 1/ L 0 (7.3.(7.3. diambil suatu model representasi elemen yang merupakan sistem yang statis tentu.4 Matriks Kekakuan Elemen Di dalam bahasan terdahulu telah diterangkan bahwa hubungan kekakuan mengkaitkan perpindahan kepada gaya.12) Untuk model 2.

4.6) ke dalam Pers.4.4. sedang yang kedua adalah dengan jalan menurunkan langsung dari persamaan diferensial batang.4) dan (7.4. menghasilkan  EA / L 0 0   kr    f    0 2 1 12EI / L3  6 EI / L  (7.2) serta mengalikan bentuk hasil dengan T  dari depan.12) yang untuk   0 (ragam deformasi torsional diabaikan).4.4.3) Bentuk hubungan kekakuan dalam Pers. Dalam kasus ini. Namun.4.(7. dapat digunakan dua cara.4.4.2) dapat diterapkan dalam analisis struktur.4. kita akan mendapatkan hubungan kekakuan absolut dalam bentuk  p   k   u (7. memberikan T  s  T  k r  T  T  u (7. Sebagai contoh.4.5).4) dalam mana vektor gaya absolut  p dihubungkan dengan vektor gaya relatif  s via transformasi  p  T   s (7.4.(7.6) Substitusi bentuk Pers.9)  0  6 EI / L2 4 EI / L  151 .4.5) dan vektor perpindahan relatif  v dihubungkan dengan vektor perpindahan absolut  u via transformasi  v  T  T  u (7. memberikan  k   T  k r  T  T (7.1(b). suatu hubungan yang menggunakan perpindahan absolut sering lebih cocok untuk diterapkan.(7.(7. yang mengkaitkan vektor perpindahan absolut  u dengan vektor gaya absolut  p .4.4.2). matriks kekakuan absolut elemen balok-kolom ingin disusun dengan menggunakan matriks fleksibilitas yang berkaitan dengan model elemen seperti dalam Gambar 7.(7. Dalam cara pertama.  v   f   s (7.3. (7.2) di mana  k r    f  1 (7.8) dalam mana k merupakan matriks kekakuan absolut elemen. Matriks fleksibilitas telah diperoleh dalam Pers. yang pertama adalah dengan memanfaatkan hubungan kekakuan relatif dalam Pers.1) yang dapat diinversikan untuk memberikan hubungan kekakuan  s   k r   v (7.7) yang jika dibandingkan dengan bentuk dalam Pers.4.

matriks transformasi T  dapat disusun berdasarkan pengamatan model dalam Gambar 7.4. dalam mana komponen perpindahan diambil sebagai syarat batas natural 152 .(7.4.1: Derajat Kebebasan Relatif dan Absolut Untuk model ini.4. s 2 dan s 3 sedangkan p 4 .(7. s 2 dan s 3 . Pemasukan bentuk  k r  dari Pers.10) ke dalam Pers. p 2 dan p 3 pada ujung 1 merupakan komponen gaya yang berseimbang dengan s1 .4. p5 dan p 6 pada ujung 2 identik masing-masing dengan s1 .4.4.9) dan bentuk T  dari Pers.11) Cara kedua dalam menyusun matriks kekakuan absolut adalah dengan menggunakan integrasi persamaan diferensial sebagai mana telah dilakukan dalam Pasal 6.4.10)  p4   1 0 0   s3  p5   0 1 0        p 6   0 0 1  Perhatikan bahwa dalam model ini p1 .1(c).4. Gambar 7.8) memberikan  EA / L 0 0  EA / L 0 0   0  12 EI / L3  6 EI / L2 0  12 EI / L3 2  6 EI / L    0  6 EI / L2  4 EI / L 0  6 EI / L2  2 EI / L  k     EA / L 0 0  EA / L 0 0   0  12 EI / L3  6 EI / L2 0  12 EI / L3  6 EI / L2     0  6 EI / L2  2 EI / L 0  6 EI / L2  4 EI / L  (7.(7. hasilnya adalah  p1   1 0 0  p   0 1 0   2  s   p 3   0  L  1  1      s 2   T  s (7.

dengan gaya-gaya yang muncul adalah unsur k 21 .2 untuk melengkapi unsur-unsur matriks kekakuan lainnya.2: Penentuan Matriks Kekakuan Elemen Secara Langsung dua macam vektor perpindahan. Sebagai contoh. kita telah membahas adanya Gambar 7.11) yang secara simbolis dituliskan dalam bentuk hubungan  p1   k11 k12 k13 k14 k15 k16  u1   p  k k 22 k 23 k 24 k 25 k 26  u 2   2   21  p3   k 31 k 32 k 33 k 34 k 35 k 36  u 3       (7. Cara yang sama dilakukan atas komponen perpindahan lainnya seperti dalam Gambar 7. k 32 .(7. k 52 dan k 62 . k 42 . Hasilnya adalah seperti dalam Pers. apakah ada hubungan matriks kekakuan dan matriks fleksibilitas.dalam proses integrasi. unsur-unsur dalam kolom kedua diperoleh dengan memberikan u 2 = 1 dan u1 = u 3 = u 4 = u 5 = u 6 = 0.4. di mana model 153 .4. yaitu perpindahan relatif dan perpindahan absolut. k 22 .4.4. 7.12)  p 4  k 41 k 42 k 43 k 44 k 45 k 46  u 4   p5   k 51 k 52 k 53 k 54 k 55 k 56  u 5        p 6   k 61 k 62 k 63 k 64 k 65 k 66  u 6  Penentuan unsur-unsur k ij dapat dilakukan dengan memperkenalkan satu satuan salah satu perpindahan sementara lainnya dipegang. Dalam konteks elemen. Dalam bahasan sebelumnya telah dipaparkan bahwa matriks fleksibilitas hanya dapat disusun berdasarkan model yang menggunakan perpindahan relatif.5 Hubungan Matriks Kekakuan dan Matriks Fleksibilitas Elemen Suatu pertanyaan yang taktis dan menarik adalah.

6 Beban dan Pengaruh Lokal Dalam mekanika teknik telah diketahui bahwa sistem struktur pada umumnya akan mengalami gangguan luar berupa gaya maupun pengaruh luar.3) ataupun (7. digunakan vektor perpindahan dan vektor gaya yang berpasangan.1) sedangkan matriks kekakuan (relatif) mengkaitkan perpindahan dan gaya dalam format  s   k r   v (7.5. Namun sebaliknya. Contoh dari pada pengaruh luar misalnya antara lain penurunan (settlement). sedangkan pengaruh luar tidak. Dalam kasus ini.5. jelas kiranya bahwa tidak ada matriks fleksibilitas yang koresponden dengan matriks kekakuan  k  dengan hubungan yang saling inversional seperti yang dituliskan dalam Pers.5. Untuk kasus ini. Dengan demikian.5.elemen merupakan sistem yang statis tentu dengan perpindahan badan kaku yang absen. Gaya luar merupakan gangguan yang dapat dikuantifisir sebagai gaya.2) Dalam kasus semacam ini.5.(7. yaitu det  k   0 (7. perpindahan  u tidak bisa didapatkan unik. gaya  p dapat dihitung. salah pasang (misfit). Ini juga diindikasikan oleh sifat matriks  k  yang singulir. matriks kekakuan dan matriks fleksibilitas memiliki hubungan inversional sebagai berikut.3) ataupun  f  k r    I  (7.  f    k r  1 atau  k r    f  1 (7. Untuk model yang semacam ini. 7.5. untuk gaya  p yang hingga dan diketahui. matriks fleksibilitas mengkaitkan gaya dan perpindahan dalam format  v   f   s (7. segala sesuatu pengaruh gangguan harus diperhitungkan pada titik-titik simpul.5) di mana vektor perpindahan  u masih mengandung perpindahan badan kaku dan model elemen merupakan sistem yang masih labil. Berikut ini akan dibahas prinsip ekivalensi yang 154 .4) Dalam model yang menggunakan perpindahan absolut. Dalam analisis struktur dengan metoda matriks. untuk  u yang hingga dan diketahui. pengaruh dari gangguan luar harus diperhitungkan dengan menggantinya dengan gaya-gaya atau pengaruh ekivalen pada titik simpul.5.4).6) Dengan demikian. kita telah menurunkan hubungan kekakuan dalam bentuk  p   k   u (7.5. suhu dan lain-lain.

2) dalam mana v .1 Vektor Perpindahan Akibat Pengaruh Lokal Di dalam model perpindahan relatif. 7. yaitu  v0   v0q   v0t   v0d  (7.1) dalam mana  v0  adalah vektor perpindahan relatif akibat pengaruh lokal. 45. 56. v . 36. 58 dan 78 dapat dimodel sebagai elemen balok-kolom bidang.(7. pengaruh dari beban lokal dapat dihitung dengan memodifikasi bentuk dalam Pers.6. dan gaya terdistribusi q yang merupakan gaya lateral dalam batang 36.6. Dalam hal ini ditinjau tiga macam pengaruh lokal.6. gaya-gaya elemen semacam ini perlu terlebih dahulu dikonversikan menjadi gaya-gaya yang ekivalen serta yang bekerja di arah kebebasan titik simpul sehingga dapat disertakan dalam persamaan keseimbangan struktur global.6. 25. batang 12. Namun tidak demikian halnya dengan gaya terpusat P3 yang merupakan gaya lateral dalam batang 25. 23.8) ke dalam bentuk  v   f   s   v0  (7. Agar dapat diperhitungkan dalam analisis struktur. P2 dan P4 dengan demikian merupakan gaya-gaya pada titik simpul sehingga dapat secara langsung disertakan dalam persamaan keseimbangan gaya-gaya di arah kebebasan titik simpul. Gaya terpusat P1 .6.1 yang dimodel dengan mengambil titik 1 hingga titik 8 sebagai titik simpul. v  q 0 t 0 d 0 berturut-turut adalah vektor perpindahan relatif akibat beban langsung. perobahan suhu dan kesalahan pemasangan seperti akan dibahas berikut ini. Dengan demikian. Gambar 7. Sebagai contoh.1: Gaya Luar Titik Simpul dan Gaya Luar Elemen 155 .dimaksudkan. tinjaulah suatu portal bidang dalam Gambar 7.3.

6.4) yang jika diintegrasikan memberikan L v    V   f   f  dx q 0 x T s x q (7.6.6.  koordinat kurvilinier seperti dalam Gambar 7.6.3.3.3) dan dv   V  e  dx  V   f   f  dx q 0 x T q x x T s x q (7.6.2 memperlihatkan suatu struktur kantilever yang memikul beban lateral.6.6) k   1 TdA  z    I  di mana  adalah koefisien muai bahan.2 Pengaruh Dari Perubahan Suhu Andaikanlah bahwa pada suatu penampang terdapat distribusi dari perobahan suhu seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 7.6.6.5) 0 Gambar 7. dan A serta I masing-masing luas dan momen inersia penampang.7. Perpindahan relatif ujung yang timbul menjadi 156 . Gaya irisan ini menimbulkan deformasi dan perpindahan yang dapat dituliskan dalam bentuk e    f   f  q x s x q (7.1 Pengaruh Dari Beban Langsung Gambar 7. Deformasi pada irisan akibat perobahan suhu ini diberikan oleh 1  e x    TdA  A ext   e y    0  (7. Beban ini menimbulkan gaya f x q pada irisan dx sejarak x dari ujung jepit kiri.2: Pengaruh Beban Lokal 7.1.6. T pertambahan suhu.6.1.

8) 7.9) Vektor gaya  s0  yang berkaitan dengan derajat kebebasan relatif ini dapat digunakan menghitung vektor gaya ujung  p0  yang berkaitan dengan derajat kebebasan absolut elemen.6.6.6. Dengan demikian. serta yang berkaitan dengan suatu pola perpindahan relatif elemen dapat diperoleh dengan memasukkan  v   0 dalam Pers.1).6. v    V  e  dx t 0 x T t x (7.7) Gambar 7. x Kesalahan seperti ini dapat dinyatakan sebagai bentuk suatu vektor perpindahan v 0   pada titik terjadinya kesalahan tersebut.6.3 Pengaruh Dari Kesalahan Pemasangan Kesalahan pemasangan pada elemen antara lain diakibatkan oleh kesalahan pemotongan komponen di fabrik ataupun kesalahan penyambungan (misfit) di lapangan. melalui transformasi sebagai berikut.2 Gaya-gaya Ujung Jepit Elemen Gaya-gaya jepit ujung unsur yang timbul akibat pengaruh atau beban lokal pada elemen. vektor gaya ujung relatif menjadi  s0    f  1  v0    k r   v0  (7. Perpindahan relatif ujung yang timbul dapat diperoleh dengan jalan transformasi sebagai berikut ini v    V  v  d 0 x T x 0 (7.(7.6. 157 .6.1.3: Pengaruh Suhu 7.

12) yang bekerja pada ujung-ujung batang.4) ke dalam bentuk  p   p0    k   u (7. yang selanjutnya diterima oleh titik-titik simpul yang merupakan ujung-ujung elemen.6.(7.10) Perlu dicatat bahwa matriks transformasi T  dalam Pers. 158 . dalam hal ini kita menggunakan konsep yang dinamakan konsep beban ekivalen (equivalent load).11) di mana  p adalah gaya ujung elemen. karena gaya-gaya ujung akibat perpindahan ujung telah dihitung secara terpisah serta yang muncul dari bentuk  k   u .3 Konsep Beban Ekivalen Dalam pasal-pasal terdahulu kita telah membahas perumusan perpindahan dan gaya ujung akibat berbagai faktor yang timbul secara lokal pada elemen.(7. Sebagai konsekuensi logis dari pada Pers. transformasi akan juga memperhitungkan beban lateral yang bekerja langsung pada elemen (gaya luar lokal). 7.  p0   T  s0   T  f  1  v0   T  k r   v0  (7. 7. maka berikut ini disajikan beberapa contoh penerapan. Selanjutnya. juga dapat ditambahkan bahwa  p0  juga dapat dihitung secara langsung sebagai gaya- gaya jepit ujung akibat pengaruh atau gaya lokal.4.6. Dengan demikian.6. Pengaruh lokal tersebut dapat diperhitungkan dengan memodifikasi hubungan gaya dan perpindahan dalam Pers.10) mencakup hubungan dari vektor  s0  dan  p0  yang dapat diperoleh dengan meninjau keseimbangan elemen. Contoh 7.1: Susunlah matriks fleksibilitas untuk elemen batang prismatis ( EA konstan) dengan panjang L seperti dalam Gambar 7.6.7 Contoh Penerapan Untuk memperdalam pengertian dan pemahaman mengenai bahan yang telah disajikan serta dibahas dalam bab ini.  p 0  sebagai reaksi batang akibat pengaruh lokal dapat dipandang sebagai akibat dari suatu aksi  p e  yang dihitung dari  pe    p0  (7. Kemudian. Dengan demikian.1.7.11) maka  p 0  adalah reaksi ujung elemen yang dihitung pada sistem elemen dengan ujung jepit-jepit. Dengan demikian.6. Pengaruh- pengaruh lokal tersebut telah diterjemahkan ke dalam perpindahan dan gaya ujung elemen.6. Aksi  p e  ini menggantikan pengaruh lokal dan bekerja pada titik simpul.  p0  gaya ujung akibat pengaruh lokal dan  k   u gaya-gaya akibat perpindahan ujung elemen.(7.

7.9) serta pelaksanaan proses integrasi atas bentuk diperoleh menghasilkan L  1   L   f     1  EA  1 dx   EA  T (7.7.(7.1)  EA  Pemasukan bentuk-bentuk ini ke dalam Pers.1(b). Penyelesaian: Karena ada dua komponen gaya dan hanya satu persamaan keseimbangan bebas (keseimbangan gaya-gaya di arah aksial batang).7. maka matriks fleksibilitas hanya dapat disusun mengambil suatu sistem yang statis tentu dan stabil dari elemen. diperoleh  k r    f  1   EA  (7.2) 0 L Gambar 7. dan dengan menggunakan hubungan komponen gaya absolut dan relatif dari interpretasi Gambar 7.  f s    1  (7. diambil seperti dalam Gambar 7.7.  p1   1       s1  atau  p  T   s (7.3. dengan menggunakan matriks fleksibilitas yang diperoleh.7.1: Struktur Contoh 7. Untuk model perpindahan ini.3)  p 2   1 Selain itu. dalam hal ini.1(c) sebagai berikut.1(b) dan 7. diperoleh matriks V x   1 .1 Matriks kekakuan absolut elemen dapat diperoleh dengan menggunakan matriks fleksibilitas ini.7. susunlah matriks kekakuan absolut elemen.4)  L  159 .7.7.

2(b) dan 7. dan dengan menggunakan hubungan komponen gaya absolut dan relatif dari interpretasi Gambar 7.6)  6 EI 3EI   0 L   0 EA  yang merupakan bentuk Pers.8)  p4   0 0  1   s  p5   1 / L  1 / L 0   3       p 6   0 1 0  160 .2.Pemasukan hasil ini dan bentuk dalam Pers.7.7. maka susunlah matriks kekakuan absolut elemen prismatis ( EA konstan) dengan panjang L seperti dalam Gambar 7.2: Dengan menggunakan matriks fleksibilitas yang diperoleh berdasarkan perpindahan relatif seperti dalam Gambar 7.3.7.7.8) akhirnya memberikan T 1 1   EA / L  EA / L   k      EA     (7.(7.4.5)   1  L   1   EA / L  EA / L  yang bersifat simetris dan singulir.7. Inversi bentuk di atas memberikan 4 EI / L 2 EI / L 0   kr    f   2 EI / L 0  1 4 EI / L (7.  p1   0 0  1  p   1 / L  1 / L 0   2    s1   p3    1 0 0      s 2  atau  p  T   s (7.7.7.(7. Penyelesaian: Dengan mengabaikan deformasi geser.3) ke dalam Pers.15) dengan   0 .7)  0 0 EA / L  Matriks kekakuan absolut elemen dapat diperoleh dengan menggunakan matriks kekakuan relatif ini.2(c) yang disajikan dalam Gambar 7.3.2(b) dapat dituliskan dalam bentuk  L L   3EI  0  6 EI    f    L L 0  (7.7. Contoh 7. matriks fleksibilitas untuk model dua dalam Gambar 7.2(b).(7.3.2(c) sebagai berikut.7.

9)   EA / L 0 0  EA / L 0 0   0  12 EI / L3  6 EI / L2 0  12 EI / L2  6 EI / L2     0  6 EI / L3  2 EI / L 0  6 EI / L2  4 EI / L  yang juga bersifat simetris dan singulir.7.(7.3: Gunakanlah perpindahan relatif dalam Gambar 7.7.(7. Gunakanlah konsep metoda irisan untuk terlebih dahulu menyusun matriks fleksibilitas yang kemudian digunakan untuk menyusun matriks kekakuan absolut yang ditanyakan.7.11) k z  0 1 / EI z  m z  161 .2 Contoh 7.4.4) untuk kasus ini memberikan e y  0 0  fy         f s  f x  (7.2: Struktur Contoh 7.8) akhirnya memberikan  EA / L 0 0  EA / L 0 0   0  12 EI / L3  6 EI / L 2 0  12 EI / L 3  6 EI / L  2   0  6 EI / L3  4 EI / L 0  6 EI / L2  2 EI / L  k    (7.7.(7.2) memberikan  fy   1 0  s1        V x  s (7.3.3. Pers.(7.Pemasukan hasil dalam bentuk Pers.3(b) untuk menentukan matriks kekakuan absolut elemen balok non-prismatis dalam Gambar 7.7.7.3) dan bentuk matriks T  di atas ke dalam Pers. Gambar 7.7. Penyelesaian: Untuk elemen ini.7.10) m z   L  x 1   s 2  sementara Pers.

7.7.7.(7.7.7. Matriks fleksibilitas untuk model elemen dalam Gambar 7.16) Hubungan komponen gaya absolut dan gaya relatif diberikan oleh inspeksi atas Gambar 7.4.(7.7.7.3.3(b) diberikan oleh Pers. dengan hasil T  1 0  0 0  1 0  f    dx (7.7.(7.3(d) dengan hasil  p1    1 0   p   L  1 s  2      1  atau  p  T   s (7.15) dan bentuk matriks T  di atas ke dalam Pers.14)  (3  1) L (  1) L   8EI 2EI 0   0 yang memberikan  96 (  1) EI 0 24 (3  1) EI 0    1    k r    24 (3L  1) EI 3 L2 8 (7  1) EI 0  (7.15) k0   0   L2 L  di mana k 0  4(7  1)(  1)  (3  1) 2 (7.17)  p3   1 0  s 2    p 4   0  1 Pemasukan hasil dalam bentuk Pers.10) dengan memasukkan matriks Vx  dadi Pers.7.11).7.10) dan  f s  dari Pers.8) akhirnya memberikan 162 .12) L  Lx 1 0 1 / EI z   L  x   1 atau  ( L  x) 2 ( L  x)     f     ( LEIzx) EI z  1  dx (7.7.(7. dengan hasil  (7  1) L3 (3  1) L2     f    24EI 0 2 8EI 0  (7.7.13) L  EI z EI z  Integrasi dalam persamaan di atas dapat dilakukan bertahap dari x  0 hingga x  L / 2 dengan menggunakan I z  I 0 dan dari x  L / 2 hingga x  L dengan menggunakan I z   I 0 .di mana deformasi geser diabaikan.(7.3(c) dan 7.

163 . untuk   1 diperoleh k 0  48 dan matriks kekakuan menjadi  12 EI 0 / L3  6 EI 0 / L2  12 EI 0 / L3  6 EI 0 / L2     6 EI 0 / L2  4 EI 0 / L  6 EI 0 / L2  2 EI 0 / L  kr     (7.3  96 (  1) EI 0 (96 2  24  24) EI 0 96 (  1) EI 0 24 (3   3  2  3   L L L L  (96  24  24) EI 0  (152  40  48) EI 0  (96  24  24) EI 0  (56  64 2 2 2 2  k   k 0  L2 L2 L2 L 96 (  1) EI 0 (96  24  24) EI 0 2 96 (  1) EI 0 24 (3       L3 L2 L3 L  24 (3  1) EI 0 (56  64  24) EI 0 2 24 (3  1) EI 0 8 (7   2  2  2  L L L L (7.7.7.3: Struktur Contoh 7. Sebagai pemeriksaan.(7. ketiga. ketiga. kelima dan keempat dari matriks kekakuan dalam Pers.7. Gambar 7. serta baris kedua. kelima dan keempat.19)  12 EI 0 / L3  6 EI 0 / L2  12 EI 0 / L3  6 EI 0 / L2      6 EI 0 / L  2 EI 0 / L  6 EI 0 / L2  4 EI 0 / L  2 dengan unsur-unsur yang koresponden masing-masing dengan kolom kedua.11).18) yang juga bersifat simetris dan singulir.4.

7.7.7.7. Susun matriks kekakuan absolut untuk elemen ini.20)  EAx   1 Gambar 7.7.Contoh 7.(7.5). V x   1 .7.7.8) akhirnya memberikan 2EA  1  1 k  (7.(7.21)  2 EA 2EA  yang memberikan 2EA   k r     (7.7. Contoh 7.4.10). memberikan matriks fleksibilitas yang koresponden dengan perpindahan relatif dalam Gambar 7. V x  dan T  mengambil bentuk seperti di bawah ini.7.7. Penyelesaian: Untuk elemen ini. memiliki 164 .22)  (  1) L  Pemasukan hasil dalam bentuk Pers.23) (  1) L   1  1 yang untuk   1 memberikan matriks kekakuan yang identik dengan bentuk dalam Pers. dalam bentuk  f    L  L  (7.4 yang jika dimasukkan ke dalam Pers.5: Suatu sistem struktur yang terdiri atas dua segmen yang terhubung dan terpegang kaku pada perletakan seperti dalam Gambar 7.5.7.(7.(7. matriks  f s  .4(b).  1   1  fs     . Pers. T     (7.22) dan bentuk matriks T  di atas ke dalam Pers.4 memiliki nilai kekakuan aksial yang meloncat di pertengahan panjang.4: Struktur Contoh 7.4: Suatu elemen pendel non-prismatis seperti dalam Gambar 7.

7.25)  0 0  1 / EI  untuk kasus yang mengabaikan deformasi geser.9) dengan bentuk H L  f     V   f s  V  d    V   f s  V  d T T 0 L 0 L (7.7.5(b) dan 7.5(c) yang mengambil bentuk seperti di bawah ini.7.7.26) 165 . matriks transfer V  dapat disusun berdasarkan Gambar 7.3.(7.5 Penyelesaian: Untuk elemen ini.7.5: Struktur Contoh 7.5(a).  0 1 0 V     1 0 0  untuk 0    H pada BC   0  1 (7. Matriks fleksibilitas untuk kasus ini diberikan oleh Pers. kekakuan lentur EI dan kekakuan aksial EA yang sama untuk segmen mendatar sepanjang L dan segmen vertikal sepanjang H dimodel dengan satu elemen bengkok ABC . Gambar 7.24)  1 0 0 V    0 1 0  untuk 0    L pada AB  H   1 Matriks fleksibilitas bahan adalah  1 / EA 0 0   fs    0 0 0  (7.7. Susunlah matriks fleksibilitas elemen yang koresponden dengan perpindahan relatif dalam Gambar 7.7.

28)  3EI 2 EI   L2 L   0   2 EI EI  Contoh 7.24) dan (7.6 yang memiliki kekakuan lentur EI dan bentang L yang berkaitan dengan gaya luar merata.3. berobah menjadi  L   EA 0 0   L3 L2  f 0 (7. matriks beban pada irisan x adalah  f hq   0   0   q     f  x q   f v     qd    q( L  x)   (7.29) m q       z   q(  x)d  q ( L  x) / 2 2 Gambar 7.27)   2 EI   3 EI EA   2 EI     HL H 2   L2   L H                EI 2 EI   2 EI   EI EA   yang untuk H  0 .(7.10) dan 166 .7.yang setelah pemasukan bentuk-bentuk matriks dalam Pers.25) ke dalamnya dan proses integrasi.7. Penyelesaian: Untuk contoh ini.(7.6: Struktur Contoh 7.6: Susunlah vektor perpindahan dan vektor gaya untuk struktur balok prismatis dalam Gambar 7.7.7.7.7.7.3 dan masing-masing dituliskan dalam Pers.6 Matriks transfer V x  dan matriks fleksibilitas bahan  f s  untuk kasus elemen ini telah disusun dalam Pasal 7. memberikan  H 3 H 2 L L   H2   HL H 2              3 EI EI EA   2 EI   EI 2 EI    H2   L3 H   L2   f          (7.

7.30)  Matriks transformasi T  dan matriks kekakuan  k r  yang digunakan untuk menghitung  p0 telah diberikan dalam Pers.6 yang dimodel atas dua elemen berupa segmen AB dan BC . Untuk gaya terpusat P1 yang bekerja di tengah bentang elemen pertama. gaya ujung menjadi 167 .4.(7. Dengan ini.7.9).7: Susunlah vektor beban ekivalen untuk beban-beban lokal struktur dalam Gambar 7. vektor perpindahan diperoleh dengan menggunakan Pers.31) Contoh 7. Di lain fihak.4.7.7: Struktur Contoh 7.(7.(7.6. Gambar 7. Dengan ini.3. gaya terpusat P2 menjadi gaya langsung pada titik simpul B .(7. vektor gaya ekivalen diperoleh dengan menggunakan Pers.10) dengan hasil  p 0   0  qL / 2  qL2 / 12 0  qL / 2  qL2 / 12 (7.7 Penyelesaian: Dengan mengambil model dua elemen seperti dalam gambar.11).7. maka gaya terpusat P1 menjadi gaya lokal pada elemen pertama dan gaya merata q menjadi gaya lokal pada elemen kedua. dan keduanya perlu dirobah menjadi gaya ekivalen.6.5) dengan hasil v   0 q 0 qL4 8 EI qL3   6 EI  (7.10) dan (7.

34) sehingga menurut Pers. Dalam konteks sistem elemen yang linier elastis. Karena kedua matriks fleksibilitas dan kekakuan relatif elemen disusun berdasarkan model perpindahan yang berkaitan dengan suatu sistem yang stabil. matriks kekakuan absolut adalah singulir. 168 .6. Matriks fleksibilitas dan kekakuan relatif elemen memiliki hubungan yang saling inversional. 3. 6.35) 7. 1. 2. berikut ini disajikan beberapa sari dari paparan dalam bab ini sebagai berikut.(7. baik matriks fleksibilitas maupun kekakuan berbentuk simetri. vektor beban ekivalen menjadi  p   0 2 e  qL / 2  qL2 / 12 0  qL / 2  qL2 / 12  (7.7. maka kedua matriks adalah non-singulir. 5.15).32) sehingga menurut Pers. Dengan demikian.6. yang diperoleh dengan memberikan perletakan elemen secukupnya sedemikian hingga diperoleh suatu model yang merupakan sistem yang statis tentu.33) Untuk gaya merata q yang bekerja di seantero bentang elemen kedua.  p  0 1 0  P1 / 2  P1 L / 8 0  P1 / 2  P1 L / 8 (7.15).7. Matriks kekakuan relatif elemen merupakan inversi dari pada matriks fleksibilitas elemen.7.7. Matriks kekakuan relatif elemen didasarkan atas perpindahan relatif yang tidak mengikut sertakan bagian perpindahan badan kaku. Matriks kekakuan absolut elemen didasarkan atas perpindahan absolut yang umum serta mengikut sertakan bagian perpindahan badan kaku.(7. vektor beban ekivalen menjadi  p   0 1 e  P1 / 2  P1 L / 8 0  P1 / 2  P1 L / 8 (7. dan berlaku untuk model perpindahan relatif yang digunakan untuk menyusun kedua matriks tersebut. gaya ujung menjadi  p   0 2 0  qL / 2  qL2 / 12 0  qL / 2  qL2 / 12  (7.8 Rangkuman Sebagai penekanan. Matriks fleksibilitas elemen didasarkan atas perpindahan relatif yang tidak mengikut sertakan bagian perpindahan badan kaku. 4. yang diperoleh dengan memberikan perletakan elemen secukupnya sedemikian hingga diperoleh suatu model yang merupakan sistem yang statis tentu.

9. susunlah matriks fleksibilitas untuk perpindahan relatif seperti dalam Gambar 7.9.2(b).9. memiliki radius lengkung R serta kekakuan aksial EA dan serta kekakuan lentur EI .9.2: Suatu elemen balok-kolom prismatis berbentuk perempat lingkaran sepaerti Gambar 7.3.9. dalam rumus I x  (1  x / L) I 1  ( x / L) I 2 (7.1.9 Soal-Soal Soal 7.2.2(a) serta matriks kekakuan absolut untuk perpindahan absolut seperti dalam Gambar 7. dalam rumus Ax  (1  x / L) A1  ( x / L) A2 (7.2) 169 . Gambar 7.2: Struktur Soal 7.9.9. susunlah matriks fleksibilitas untuk perpindahan relatif seperti dalam Gambar 7.1: Suatu elemen pendel memiliki luas penampang yang bervariasi linier sepanjang bentang L seperti dalam Gambar 7. Dengan menggunakan metoda irisan. Gambar 7.9.2 Soal 7.7.1) Dengan menggunakan metoda irisan.1(a) serta matriks kekakuan absolut.1: Struktur Soal 7.3: Suatu elemen lentur memiliki luas penampang yang bervariasi linier sepanjang bentang L seperti dalam Gambar 7.9.1 Soal 7.9.

3 Soal 7. susunlah matriks fleksibilitas untuk perpindahan relatif seperti dalam Gambar 7.9.3: Struktur Soal 7. Gambar 7.9.5(a) serta matriks kekakuan absolut untuk perpindahan seperti dalam Gambar 7. Dengan menggunakan metoda irisan. dipandang sebagai satu elemen tunggal dengan ujung-ujung A dan D .9.4.4: Struktur Soal 7. susunlah matriks fleksibilitas untuk perpindahan relatif seperti dalam Gambar 7.4: Suatu elemen balok-kolom terdiri atas dua segmen AB dan BC yang disambung kaku seperti dalam Gambar 7.9. Dengan menggunakan metoda irisan. Dengan menggunakan metoda irisan.3(a) serta matriks kekakuan absolut seperti dalam Gambar 7.4(a) serta matriks kekakuan absolut.4 Soal 7.9.9.5(b). Gambar 7. susunlah matriks fleksibilitas untuk perpindahan relatif seperti dalam Gambar 7. Derajat kebebasan relatif dan absolut diambil seperti terlihat dalam gambar.9.3(b). Derajat kebebasan relatif dan absolut diambil seperti terlihat dalam gambar.9.5. 170 .5: Suatu portal kaku ABCD seperti dalam Gambar 7.9.

169 146.155.161. Gambar 7.148.154.162.5: Struktur Soal 7.152.158.166.164.167.150.163.170 171 .157.159.160.168.9.149.151.153.165.5 145.156.147.