You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penanganan tindak pidana kehutanan, perlu dipahami sebagai
bagian mendorong terciptanya tujuan pembangunan kehutanan dalam
rangka memenuhi kesejahteraan rakyat Indonesia dan tetap menjaga fungsi
hutan sebagai konservasi, lindung dan produksi. Sehingga, penanganan
permasalahan kehutanan harus lintas sektoral, termasuk keberanian untuk
memahami tindak pidana kehutanan bukan sekadar bagian dari tindak
pidana umum, serta tidak mereduksinya menjadi sebuah pelanggaran
administratif, melainkan sebagai salah satu sistem penyangga kehidupan
yang memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia.
Pemahaman terhadap akar persoalan munculnya tindak pidana
kehutanan, akan membuahkan hasil menegakkan nilai-nilai kebenaran dan
keadilan. Sebab, penanganan tindak pidana kehutanan, tidak terlepas dari
upaya bangsa Indonesia dalam rangka menegakkan prinsip-prinsip
keadilan dan kebenaran yang ditujukkan bagi pemenuhan kesejahteraan
rakyat (baik secara ekonomi maupun sosial dan budaya) melalui
pembangunan di sektor kehutanan.
Menghadapi berbagai persoalan yang terkait dengan tindak pidana
kehutanan, maka penanganannya tidak hanya berpijak pada ketentuan UU
No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (selanjutnya disingkat
UUKehutanan). Sebab, isi UUKehutanan tidak akan mampu menjerat
perbuatan-perbuatan lain yang sesungguhnya menjadi bagian dari
kejahatan kehutanan. Kejahatan kehutanan tidak hanya terbatas pada
perbuatan-perbuatan yang dilakukan dilapangan dan atau di wilayah
ekploitasi kehutanan, tetapi tidak menutup kemungkinan yang menjadi
bagian dari rangkaian kejahatan kehutanan di dalamnya terdapat perbuatan
pegawai kehutanan yang korup, keterlibatan personel TNI dan polisi di
lapangan, broker kayu ilegal, dan pemegang hak konsensi hutan yang
beroperasi di luar kontrak HPH, adanya penggelapan pajak dengan

1

melakukan tindak pidana kejahatan perbankan yaitu melakukan mark-up
biaya investasi mereka serta penyelundupan, bahkan, untuk menjangkau
mereka perlu diterapkan pula Undang-Undang Anti Pencucian Uang,
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Undang-
Undang Penataan Ruang.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Penegakan Hukum ?
2. Bagaimanakah Ketentuan Pidana UU Kehutanan ?
3. Bagaimanakah Proses Penegakan Hukum Pidana Kehutanan ?
4. Sebutkan Strategi Penegakan Hukum Pidana Kehutanan ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Penegakan Hukum.
2. Untuk mengetahui Ketentuan Pidana UU Kehutanan.
3. Untuk mengetahui Proses Penegakan Hukum Pidana Kehutanan.
4. Untuk mengetahui Strategi Penegakan Hukum Pidana Kehutanan.

2

perlindungan. 3 . Selanjutnya. melaui proses penerapan aturan tertentu). Dapat berfungsinya sistem hukum. menciptakan kaidah-kaidah. Penegakan Hukum Hukum sebagai kumpulan peraturan atau kaedah mempunyai isi yang bersifat umum dan normatif berperan memberikan jaminan. kesejahteraan. dan melindungi masyarakat. hukum ditujukan untuk menciptakan keamanan. memberikan kerangka sosial terhadap kebutuhan-kebutuhan yang diajukan anggota masyarakat. kebenaran. ada 4 hal yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Selain itu. Ini tidak lain karena sifat dari hukum itu sendiri adalah memerintah dan mengatur atau menata. sebagai suatu keseluruhan perundang-undangan itu merupakan satu kesatuan tanpa pertentangan. serta instrumen kebijakan. bagaimana penerapannya dan siapa yang menerapkannya). kepastian. hukum mengemban fungsinya sebagai memelihara stabilitas. Hukum ada atau diadakan untuk mengatur dan menciptakan keseimbangan atau harmonisasi kepentingan manusia. serta jalinan antar institusi. kepatutan. Keadilan yang dikehendaki hukum harus mencapai nilai persamaan. Artinya. BAB II PEMBAHASAN A. perdamaian. dan golongan apa yang hendak diatur oleh perangkat norma itu). masalah interpretasi (yang akan menyangkut soal penetapan hak dan kewajiban subyek. Hukum mengendalikan keadilan. keselamatan alam dan keterlanjutan manusia. dan masalah yuridiksi (menetapkan garis kewenangan yang kuasa menegakkan norma hukum. masalah sanksi (menegaskan sanksi apa. hak asasi individu. yaitu: masalah legitimasi (yang menjadi landasan bagi pentaatan kepada aturan-aturan). dan arah pembangunan.

Pengemban profesi hukum melaksanakan tugasnya berdasarkan landasan keagamaan. Dan profesionalisme ini berkaitan erat dengan penegakan etika profesi hukum. dan 3. Suara hati ini memerlukan nalar. dituntut adanya moralitas yang tinggi dari pelakunya. 2. Artinya. artinya melalui pembacaan terhadap teks hukum dapat diketahui apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang diharapkan dari suatu tindakan. dan nalar baru dapat dilakukan dengan baik apabila mendapat informasi atau data sebanyak mungkin tentang konflik moral yang terjadi. Melaksanakan profesi hukum. pernyataan dari budi kesusilaan. Sadar akan kewajibannya. terlebih-lebih profesionalisme para penegak hukum. terutama jika tidak di dukung oleh informasi atau data yang memadai. Memiliki idealisme yang tinggi. menjadikan subjek dalam mengambil keputusan berangkat dari kesadaran moralnya sendiri. Suara hati merupakan kesadaran moral kita dalam situasi konkrit. yaitu yang disebut dengan suara hati. Moralitas yang tinggi tersebut bercirikan kepada: 1. pertimbangan akal yang ditanamkan Tuhan pada manusia tentang apa yang baik dan buruk. suara hati dapat saja keliru. Peran dan fungsi hukum yang penting adalah memberikan prediktabilitas. Ketiga ciri yang disebutkan di atas. Kualitas pengemban profesi tercermin dalam sikapnya yang memiliki keahlian yang berkeilmuan dan motivasi dalam mewujudkan/melaksanakan tugas profesinya merupakan amanah bukan kekuasaan. pembangunan di bidang hukum juga menyangkut sumber daya manusia. yang melihat profesinya sebagai tugas kemasyarakatan dan sekaligus sebagai sarana mewujudkan kecintaannya 4 . Kemudian. Berani berbuat dengan tekad untuk bertindak sesuai dengan tuntutan profesi.

namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan pribadinya guna mengambil keputusan yang adil yang didasari kebenaran. mempunyai ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah. cepat dan tepat serta cermat di dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan.kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan tindakan nyata. akan tetapi masyarakat aktif berperan dalam penegakan hukum. punya sikap orientasi ke depan sehingga mampu mengantisipasi perkembangan yang terjadi maupun di masa depan. Artinya. pengemban profesi hukum dalam menjalankan fungsinya harus selalu mengacu kepada tujuan hukum untuk memberikan pengayoman kepada setiap manusia dalam mewujudkan ketertiban yang berkeadilan. Penegakan hukum yang semata-mata mengacu pada kepentingan hukum atau umum tanpa mempertimbangkan kepentingan pembangunan. dapat menimbulkan situasi dan kondisi yang justru akan menghambat pembangunan berkelanjutan. yaitu meletakkan pada titik keseimbangan dan keserasian yang saling menunjang secara sinergik antara penegakan hukum di bidang kehutanan dengan pelaksanaan pembangunan Penegakan hukum merupakan kewajiban dari seluruh masyarakat dan untuk ini pemahaman tentang hak dan kewajiban menjadi syarat mutlak. Ada dua tugas berat yang dilaksanakan secara arif dan bijaksana dalam era pembangunan dan bidang kehutanan saat ini. Pengemban profesi yang berkualitas bercirikan memiliki ketrampilan yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya. sebaliknya kegiatan pembangunan dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Masyarakat bukan penonton bagaimana hukum ditegakkan. peraturan perundang- 5 . Penegakan hukum di bidang kehutanan sebagai suatu tindakan dan/atau proses paksaan untuk mentaati hukum yang didasarkan kepada ketentuan. peka di dalam membaca situasi. yang bertumpu kepada martabat manusia. punya sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pihak lain.

diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.000.000. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf h.00 (satu milyar lima ratus juta rupiah). 5.000. diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 7. 6. undangan dan/atau persyaratan-persyaratan di bidang kehutanan maupun ketentuan perundang-undangan lainnya yang terkait.000. huruf b.000. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp5. Ketentuan Pidana UU Kehutanan Ketentuan pidana dalam UUKehutanan diatur dalam Pasal 78 UUKehutanan. yang berbunyi sebagai berikut: 1. diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 5. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (4) atau Pasal 50 ayat (3) huruf g.000.000.000.500. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d.000. 1. 5.00 (lima milyar rupiah).000. Barang siapa karena kelalaiannya melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d. 5. 2. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.000. diancam dengan pidana 6 .000. atau huruf c.00 (lima milyar rupiah). B. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) atau Pasal 50 ayat (2).000. 3. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.000. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf e atau huruf f.000.00 (lima milyar rupiah).00 (lima milyar rupiah). 5.000.00 (lima milyar rupiah). Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf a. 4.000.

00 (lima puluh juta rupiah). ayat (6). ayat (5).000. dan ayat (3) apabila dilakukan oleh dan atau atas nama badan hukum atau badan usaha. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf k. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf m. 11. ayat (9).000. ayat (2).000.000. baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. dan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dan ayat (12) adalah pelanggaran.000. 10. 10.00 (sepuluh juta rupiah).000. 13. 14. 7 . 12. Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf i. ayat (2).00 (satu milyar rupiah). 10. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan dan denda paling banyak Rp. 1. diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.000. 8. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf l.000.000.000.000. 1.000. tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya.00 (satu milyar rupiah). ayat (10). Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 5. Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1). ayat (3).000. 9. ayat (4). dan ayat (11) adalah kejahatan.00 (sepuluh milyar rupiah). diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.00 (lima milyar rupiah). ayat (7).000.000.000. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf j.

 200 m dari tepi mata air dan kiri kiri kanan sungai di daerah rawa  100 m dari kiri kanan tepi sungai  50 m dari kiri kanan tepi anak sungai  2 kali kedalaman jurang dari tepi jurang  130 kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai (Sengaja  10 tahun dan denda Rp. 1. izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu. dilarang melakukan kegiatan yang menimbulkan kerusakan hutan Diancam pidana (10 tahun dan denda Rp. 15. Mengerjakan dan/atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah b. tindak pidana yang dimaksud. b. dikenakan pidana sesuai dengan ancaman pidana masing-masing ditambah dengan 1/3 (sepertiga) dari pidana yang dijatuhkan. 5 M kelalaian  5 tahun dan denda Rp. 50 ayat (1) dan (2)  78 ayat (1) Merusak prasarana dan sarana perlindungan hutan. atau c  78 ayat (2) a. Merambah kawasan hutan c. Membakar hutan (sengaja  15 tahun dan denda Rp. Semua hasil hutan dari hasil kejahatan dan pelanggaran dan atau alat- alat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan dan atau pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal ini dirampas untuk Negara. yaitu melanggar ketentuan:  Psl. 5 M)  Pasal 50 ayat (3) d  78 ayat (3) dan (4) a. izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan. Berdasarkan ketentuan Pasal 78 UUKehutanan tersebut. 5 M)  Pasal 50 ayat (3) huruf a. Melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan radius atau jarak s/d  500 m dari tepi waduk atau danau.5 M) 8 . yang diberikan izin usaha pemanfaatan kawasan. serta izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu.

atau memiliki hasil hutan yg tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan (Sengaja  5 Tahun dan denda Rp. 10 jt)  Pasal 50 ayat (3) huruf j  Pasal 78 (9) a. Melakukan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang di dalam kawasan hutan. menyimpan. 10 M)  Pasal 50 ayat (3) huruf i  Pasal 78 (8) a. f  Pasal 78 (5) a. menerima tukar. menerima titipan. Membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang. Membawa alat berat dan atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut di duga akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang (Sengaja  5 tahun dan denda Rp. Mengangkut. 5 M)  Pasal 50 ayat (3) huruf k  Pasal 78 (10) a. Menerima. Menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang b. 1 M) 9 . Menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan yg tidak ditunjuk secara khusus untuk maksud tsb oleh pejabat yg berwenang (Sengaja  3 bulan dan denda Rp. 5 M)  Pasal 38 ayat (4) atau Pasal 50 ayat (3) huruf g  Pasal 78 (6) a. 5 M)  Pasal 50 ayat (3) huruf h  Pasal 78 (7) a. Pada kawasan hutang lindung dilarang melakukan pertambangan dengan pola pertambangan terbuka b. Pasal 50 ayat (3) huruf e. atau membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang (Sengaja  3 tahun dan denda Rp. menguasai. tanpa izin menteri (Sengaja  10 Tahun dan denda Rp. membeli atau menjual. memotong. atau memiliki hasil hutan yg diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah (Sengaja  10 Tahun dan denda Rp.

hal ini secara hukum akan dapat ditafsirkan (di interpretasikan) bahwa tindakan yang dilarang dalam Pasal 50 ayat (3) UUKehutanan adalah secara kumulatif artinya semua perbuatan yang dilarang harus dilakukan. menggunakan kata sambung “dan”. guna menghindari perbedaan penafsiran tindakan yang dilarang jika dikaitkan dengan Pasal 78 UUKehutanan dan ketentuan Bab VI Tentang Perbarengan (concursus) dalam Buku Kesatu KUHP. dan mengangkut tumbuh-tumbahan dan satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang yang berasal dari kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang (sengaja  1 tahun dan denda Rp. semua hasil kejahatan dan pelanggaran alat-alat termasuk alat angkutnya dirampas untuk negara Suatu hal yang perlu diperhatikan rumusan Pasal 50 ayat (3) UUKehutanan antara huruf l dan m. 10 . KEJAHATAN  Tindak Pidana dalam ayat (1) s/d (7). Membuang benda-benda yang dapat menyebabkan kebakaran dan kerusakan serta membahayakan keberadaan atau kelangsungan fungsi hutan ke dalam kawasan hutan (Sengaja  3 tahun dan denda Rp. 1 M)  Pasal 78 ayat (13) a. Seharusnya rumusan Pasal tersebut menggunakan kata sambung “dan atau”. (9) s/d (11) b. 1 M)  Pasal 50 ayat (3) huruf m  Pasal 78 (12) a. PELANGGARAN  Tindak Pidana dalam ayat (8) dan (12)  Pasal 78 ayat (14) a. Pasal 50 ayat (3) huruf l  Pasal 78 (11) a. membawa. Badan Hukum  melanggar Pasal 50 ayat (1) – (3) HUKUMAN di tambah 1/3 dikenakan kepada: Pengurusnya baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama  Pasal 78 (ayat 15) a. bukan secara alternatif ataupun gabungan dari beberapa perbuatan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 50 ayat (3) Kehutanan. Mengeluarkan.

PPNS Kehutanan juga mempunyai kewenangan dalam penyidikan berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999. PPNS Kehutanan harus melalui Penyidik Polri sebagaimana diatur dalam Pasal 107 KUHAP dan Pasal 77 ayat (3) UUKehutanan. Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai mekanisme penanganan tindak pidana dan proses pelaporannya jika menemukan indikasi tindak pidana kehutanan. berdasarkan Pasal 138 KUHAP Jaksa Penuntut Umum di beri peluang untuk mengembalikan berkas pada penyidik jika dianggap belum cukup untuk dapat diajukan kepersidangan. Kendala lainnya yang dihadapi dalam penanganan tindak pidana kehutanan. selain dilakukan oleh Penyidik Polri. diantaranya: 1. namun untuk melanjutkan hasil penyidikannya ke Jaksa Penuntut Umum. Kurangnya koordinasi diantara PPNS. akan tetapi KUHAP tidak mengatur sampai berapa kali proses ini dapat berlangsung.C. Selain itu. Proses Penegakan Hukum Pidana Kehutanan Penyidikan tindak pidana kehutanan. Tidak digunakannya kewenangan pemeriksaan ulang oleh Jaksa Penuntut Umum dalam memeriksa tindak pidana kehutanan guna membantu Penyidik dalam pemberkasan. 3. Proses pelimpahan berkas perkara melalui Penyidik Polri adakalanya menjadi kurang optimal jika PPNS dan Polri tidak saling melakukan koordinasi dalam penyidikan. Polri dan Jaksa Penuntut Umum memiliki rasa kebersamaan dan koordinasi yang baik sesuai dengan semangat yang tergambar dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system). PPNS. ketika berkas perkara sudah sampai di tangan Jaksa Penuntut Umum. Hal ini juga menjadi kendala dalam penanganan tindak pidana kehutanan. Polri dan Penuntut Umum. Pengembalian berkas tersebut disertai dengan petunjuk untuk melengkapi berkas tersebut. 2. dan tak jarang pula 11 . Meskipun PPNS mempunyai kewenangan dalam melakukan penyidikan. sehingga adakalanya proses pelimpahan perkara menjadi lambat. Seharusnya.

seperti adanya bentuk backing oknum penegak hukum ataupun penyuapan terhadap aparat penegak hukum dalam hal mengurangi sanksi pidana atau melepaskan jeratan hukum pidana si pelaku. sebenarnya pelaku bersama-sama oknum penegak hukum. dinas atau departemen kehutanan. dan lain-lain. Kurang melibatkan para pakar yang ahli dalam bidang kehutanan. yang seharusnya mereka saling berkoordinasi dalam menegakkan hukum. sebab kerusakan hutan bisa mengganggu kelestarian fungsi lingkungan hidup. ditemukan kurang memadainya pemahaman Jaksa Penuntut Umum terhadap aturan-aturan hukum yang dapat dipakai untuk menjerat pelaku tindak pidana kehutanan. yang seharusnya masing-masing dapat memperbaiki kapasitasnya dan saling mendukung kelancaran setiap tahap penanganan perkara. Selanjutnya. Hal yang disebutkan terakhir ini. 4. sehingga penegakan hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya. 6. 7. telah melakukan tindak pidana korupsi. lingkungan hidup. oknum aparat keamanan. Kejaksaan dan Kehutanan. 8. korporasi dan lainnya yang seharusnya dilibatkan sejak awal pada tahap penyelidikan atau setidak-tidaknya pada tahap penyidikan guna membantu melakukan kajian atau audit kehutanan dan lingkungan hidup guna membantu memberikan kesimpulan telah terjadinya kerusakan kehutanan dan atau kerusakan lingkungan hidup. Lamanya proses pemeriksaan perkara hingga putusan hakim. juga ditemukan adanya indikasi yang sarat dengan muatan korupsi dalam penanganan tindak pidana kehutanan. 12 . sehingga sulit untuk memenuhi asas peradilan yang cepat. Adanya backing dari oknum pejabat baik dari pemerintah daerah. Adanya kecenderungan untuk saling menyalahkan antara satu aparat Kepolisian. Masih ditemukannya sikap oknum yang arogan dengan kewenangan yang dimiliki. 9. 5. Terbatasnya ahli di bidang kehutanan.

Kejaksaan. Banyaknya pihak yang terlibat memerlukan adanya koordinasi dan komitmen bersama semua pihak. TNI AD/Hankam. Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota. dikarenakan masih ditemuinya beberapa kendala. Departemen Perhubungan. 4. Kepolisian RI. Kementrian Lingkungan Hidup. D. diantaranya: 1. perlu adanya pedoman yang memberikan arahan dalam upaya penegakan hukum kehutanan. Departemen Keuangan. rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Untuk dapat dilaksanakannya penegakan hukum kehutanan secara sistematik. Departeman Perdagangan. 2. biasanya dilakukan dalam skala besar dan ada yang mengorganisasikan serta membiayainya. diantaranya: Menteri Negara Koordinator Bidang Politik. Departemen Kehutanan. guna penegakan hukum yang optimal. organisasi non pemerintah dan donor. Strategi Penegakan Hukum Pidana Kehutanan Upaya penegakan hukum yang dilakukan secara preventif dan represif. TNI AL. setidak-tidaknya akan melibatkan beberapa instansi maupun lembaga yang berada dalam mata rantai pemberantasan tindak pidana kehutanan. terdapatnya kerancuan atau duplikasi antara peraturan perundang- undangan satu dengan lainnya. belum terbentuknya sistem penanggulangan gangguan hutan secara sinergi dan komprehensif. Departemen Industri. perlu mempercepat proses peradilan sebagai tindakan 13 . Tindak pidana di bidang kehutanan. ketidak seimbangan antara pasokan dan kebutuhan industri perkayuan. Bea Cukai. Departemen Informatika dan Komunikasi. 3. Sosial dan Keamanan. lemahnya komitmen para pihak dalam mendukung upaya pemberantasan tindak pidana kehutanan. Untuk kasus tersebut. efektif dan efesien. 5. belum berjalan optimal. Penanganan tindak pidana kehutanan baik secara preventif maupun secara represif. Badan Peradilan.

2. Dengan demikian. sumber-sumber kayu yang legal dan illegal. Sejalan dengan tindakan “shock terapi” tersebut. perlu di bangun kerangka kerja yang mendukung pelaksanaan penegakan hukum kehutanan. antara lain: 1. Keseragaman pemahaman (persepsi yang sama) multi pihak tentang defenisi kayu legal menjadi hal yang krusial dan penting serta perlu adanya petunjuk praktis yang jelas guna membedakan antara kayu legal dan illegal. menjatuhkan sanksi administrasi dan sanksi pidana terhadap pelaku. Membentuk sistem monitoring pelacakan kasus untuk memonitor kejahatan yang dilaporkan.“shock terapi”. Selanjutnya. hak adat atas hutan dan hasil-hasil tanah. sehingga dapat secara jelas diketahui pihak-pihak yang berwenang dan punya otorita menerbitkan ijin tersebut. Memperbaiki komunikasi dan penyelesaian perbedaan diantara pemangku kepentingan. melakukan penahanan. melakukan investigasi kejahatan dan memantau proses jalannya pengadilan. disebabkan masih adanya pahamanan yang tidak sama atau adanya perbedaan pandangan mengenai makna “kayu legal” dan belum adanya standar data hutan yang disepakati bersama. Kegiatan yang dilakukan dalam mengeluarkannya pedoman yang jelas mengenai sumber-sumber kayu legal dan otoritas pemberi ijin melalui proses konsultasi yang luas kesepahaman multi pihak. terutama yang terkait dengan: otoritas pemberi izin. perlu adanya kesepakatan dan komitmen antara pusat dan daerah dalam pemberian ijin. pemanfaatan kayu secara illegal. kepemilikan hutan dan tanah. juga disebabkan masih terjadinya tumpang tindih dalam hal pemberian ijin pemungutan hasil hutan kayu mulai dari penebangan. Meningkatkan kesadaran guna memerangi dan mengurangi terjadinya tindak pidana dibidang kehutanan melalui berbagai media massa. pemrosesan sampai pengangkutannya. 3. berupa: 14 . antara pusat dengan yang diterapkan oleh daerah. Peluang terjadinya pemanfatan kayu secara illegal.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam mendeteksi pelanggaran tindak pidana kehutanan terhadap kegiatan: 1. Hutan Rakyat. Mengidentifikasikan dan mengesahkan sumber kayu lain yang dihasilkan kegiatan pengelolaan hutan secara tradisional. 4. pelanggaran penebangan: a. Memutuskan standar teknis dan proses administrasinya untuk menjamin akurasi data. penatabatasan dan pengukuhan batas kawasan hutan.1. jika diperlukan untuk kepentingan pengadilan. 5. IPK. Untuk mendeteksi pelanggaran tindak pidana kehutanan perlu dikumpulkan informasi dan dilakukan analisis data tersebut bekerjasama dengan Departemen Kehutanan yang mempunyai kewenangan dalam: 1. HPH dan HTI sebagai dasar yang sah dan untuk memberi kepastian hukum terhadap sumber kayu legal. Menyelesaikan pemetaan. 2. 4. Memberikan ijin untuk pengumpulan data. melakukan identifikasi dengan berbagai alat deteksi. 3. dll) melalui pembangunan kesepakatan dan konsultasi berbagai pemangku kepentingan. Menyatakan informasi yang dikumpulkan tersebut legal dan mempunyai kekuatan hukum. seperti citra satelit dan analisa batas areal kerja. 2. HTI. Membuat pedoman umum bagi instusi-instusi yang berwenang memberikan ijin pemanfaatan kayu melalui proses konsultasi dan konsensus bersama dengan pemerintah daerah. HTI. 15 . IPK Kebun. Menyetujui sumber kayu yang legal saat ini (termasuk HPH. 3. Mengijinkan data yang dikumpulkan dapat diakses oleh publik. seperti hutan adat yang dikelola secara lestari. Menetapkan jumlah tebangan tahunan secara berkesinambungan untuk semua sumber kayu yang legal. kecuali yang digunakan untuk pembuktian di pengadilan. ijin konsesi dan surat pengangkutan.

b. b. Hentikan sementara untuk ijin baru terhadap industri primer hasil hutan. analisis data untuk mengindentifikasi kegiatan kehutanan di luar areal yang telah ditetapkan. mengumpulkan data dan mengidentifikasi serta analisis pabrik yang tidak menyerahkan laporan dan yang beroperasi tanpa ijin. serta memperkecil dampak sosial dan ekonomi. 3. kumpulkan dan susun secara sistematis sebagai data base dan sebarkan kepada publik. c. c. b. ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan: a. dalam mengantisipasi ketidak seimbangan kebutuhan kayu untuk industri perkayuan yang disebabkan persediaan bahan kayu legal yang semakin kecil. mendeteksi pelanggaran dalam pengangkutan: a. identifikasi pabrik yang menggunakan bahan baku dari sumber-sumber yang tidak jelas atau pabrik yang punya izin namun produksi tahunannya lebih 30% dari batas yang diijinkan. b. identifikasi penyeludupan kayu ilegal dengan cara patroli rutin di perairan Indonesia dan meneingkatkan pemeriksaan fisik kayu eksport. Selanjutnya. 2. identifikasi pengiriman kayu dari unit manajemen hutan atau sumber- sumber lain yang telah melampaui batas produksi. Susun rencana yang menunjukkan besarnya penurunan kapasitas industri. Susun rencana bantuan industri yang dikurangi atau ditutup dalam rangka menyeimbangkan kapasitas industri dengan sumber bahan baku. identifikasi pelanggaran cukai dengan cara menganalisa data dan informasi yang dikumpulkan di sistem perukaran data elektronik Bea dan Cukai Indonesia. d. 16 . 4. Susun rencana kompensasi bagi pegawai yang terkena dampak pengurangan kapasitas pabrik e. Industri yang memproses kayu ilegal: a. pengiriman kayu dengan nomer seri SKKH atau faktur yang tidak sama dengan kode provinsi atau kabupaten asal pengirim. Susun rencana peningkatan produktifitas HTI bubur kayu.

Memberikan dukungan finasial dalam proses pelatihan dan penegakan hukum. Berkaitan dengan membangun kapasitas untuk melaksanakan penegakan hukum kehutanan perlu dilakukan kegiatan: 1. Tuntut dan tutup semua unit manajemen hutan yang diberi ijin atau ijinnya diperpanjang oleh pejabat kabupaten/kota. tentang ilmu dan teknologi serta alat-alat deteksi analisis sehingga mampu memformulasikan strategi yang handal dalam mengungkapkan jaringan keterlibatan aktor dalam tindak pidana ilegal logging. juga lakukan promosi perdagangan kayu legal. pengetahuan tentang hukum kehutanan. Meningkatkan kesadaran dan pelatihan bagi petugas cukai regional Negara pengimport dan negara yang dilalui. untuk itu beberapa langkah penegakan hukum yang perlu dilaksanakan. 2. Tingkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan pencegahan ilegal loging dan beri kesempatan untuk terlibat dalam social forestry. selain melakukan langkah pemberian hak kepemilikan yang jelas bagi masyarakat lokal dan tingkatkan partisipasi aktif mereka dalam pengelolaan hutan melalui skema kehutanan sosial. yang secara fisik lokasinya berada dalam kawasan hutan. korupsi. Menciptakan sistem pengamanan sipil pesisir nasional yang tersentralisasi untuk menjaga wilayah perairan Indonesia. 17 . atau perkebunan yang mempunyai ijin dari pemerintah pusat . Selanjutnya lagi. yaitu: 1.f. Pelatihan meningkatkan kapasitas dan pengetahuan aparat penegak hukum . 4. penerapan undang-undang pencucian uang. Laporankan nama-nama Bupati yang menandatangani ijin tersebut ke Presiden. 5. hukum lingkungan. Ketentuan UUKehutanan telah mengatur mekanisme untuk menghukum pelanggar yang terlibat dalam kegiatan tindak pidana kehutanan. Pelatihan dalam persiapan kasus dokumen perkara. 3. dan membangkitkan kesadaran aparat penegak hukum tentang pentingnya fungsi hutan.

6. Tuntut semua HTI dan perkebunan yang terdapat “titik api” yang berasal dari areal tebangannya. 7. Hentikan produksi semua pabrik pengolahan yang memiliki ijin atau kapasitas terpasang kurang dari 6. 10. Tuntut dan tutup semua HPH atau HTI yang melampaui batas quota produksi tahunan.000 m3 namun tidak menyerahkan laporan yang rinci tentang sumber bahan baku kayu (Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri. 4. Departemen Kehutanan. dan tuntut pejabat yang telah mengeluarkan SKSHH yang ilegal tersebut dengan tindak pidana korupsi.000m3 yang tidak berasal dari Dinas Kehutanan Provinsi atau Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan’ 18 . Laporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi dan Inspektorat Jenderal Departemen Kehutanan dalam hal terjadinya pengiriman kayu yang ditebang melebihi batas. Tuntut dan tutup pabrik pengolahan yang memiliki ijin dengan kapasitas terpasang kurang dari 6. 5. Tuntut dan tutup unit manajemen hutan yang membangun akses jalan yang melintasi kawasan konservasi atau hutan lindung tanpa ijin dari instansi yang berwenang. Gunakan konsep penyertaan sebagaimana tercantum dalam Pasal 55 dan 56 KUHP guna menjerat dan menuntut pelaku tindak pidana kehutanan. kemudian lakukan penuntutan terhadap HPH atau HTI yang telah menebang yang melebihi ketentuan. 3. 8. 9. Tuntut dan tutup semua HPH atau HTI jika batas yang ada di peta kerja dan atau dilapangan terdapat tumpang tindih dengan kawasan konservasi dan hutan lingdung. disingkat RPBI) ke Departemen Kehutanan.2. Hentikan produksi semua pabrik pengolahan yang memiliki ijin atau kapasitas terpasang lebih dari 6.000m3 namun tidak menyerahkan RPBI ke Direktorat Pengolahan Hasil Hutan dan Pemasaran.

Sebelum ada keputusan Pengadilan. hentikan produksi di sawmill atau industri kayu lapis. Tuntut dan tutup pabrik pengolahan yang memiliki ijin dengan kapasitas terpasang lebih dari 6. 12.000m3 yang tidak berasal dari Departemen Kehutanan atau Departemen.11. 19 .

20 . B. namun juga harus melibatkan Pegawai Penyelidik Negeri Sipil (PPNS) di bidang kehutanan. dan seringkali tidak efektif akibat tidak cermat dalam merumuskan masalah. perusahaan yang memperdagangkan hidupan liar atau badan hukum lainnya yang melakukan tindak pidana di bidang kehutanan dan konservasi. Tindak pidana di bidang kehutanan dan konservasi menimbulkan dampak yang berbeda dengan tindak pidana secara umum. Tindak pidana bidang kehutanan merupakan masalah yang serius yang dihadapi karena tidak hanya terjadi di hutan produksi tetapi sudah merambah ke kawasan lindung dan konservasi. Ketentuan pidana di bidang kehutanan dan konservasi menerapkan sanksi kumulatif (penerapan hukuman penjara sekaligus denda). dan masalah selalu timbul dari pelaku-pelaku yang dalam kesehariannya mengambil keputusan sebagai dasar bertindak. Saran Agar kiranya Ancaman sanksi pidana di bidang kehutanan dan konservasi tidak hanya berlaku pada individu namun juga terhadap perusahaan pemegang ijin HPH dan industri kayu gergajian (sawmill) dalam illegal logging. Kesimpulan Kebijakan merupakan solusi atas masalah. akan tetapi memberikan dampak buruk luar biasa pada lingkungan dan sumberdaya alam itu sendiri dalam jangka panjang Proses pembuktian yang lebih kompleks karena melibatkan aspek- aspek teknis di bidang dan konservasi yang tidak ditemui tindak pidana di bidang kehutanan dan konservasi tidak dapat dilakukan oleh pihak kepolisian saja. konservasi. juga lingkungan hidup. BAB III PENUTUP A. tidak saja merugikan masyarakat dan negara.

. IB. 2003. Vol. Dinamika Kebijakan Konservasi Hayati di Indonesia. Jakarta. M. 2004.  Otje Salaman dan Anton F.  Ratih Chandradewi dan Wulan Pratiwi.  Budi Riyanto dan Dudy Mempawardi Saragih. Lebah. 2004. DAFTAR PUSTAKA  Alvi Syahrin. Sukardi.  Budi Riyanto dan Samedi.  Saryono. Refika Aditama. 2003. B. 2 No. Pustaka Al Husna Baru.  Nurdjana. Struktur Hukum. Teguh Prasetyo. mengumpulkan dan membuka kembali. Gadjah Mada University Press. Jakarta. mengingat. Yogyakarta. Kondisi dan Masalah Penunjukan Kawasan Hutan di Sumatera Utara. Alumni. Menentukan hukum melalui tafsir dan fakta. 2003.  Koesnadi Hardjasoemantri. 1985. 21 .  Arief Sidharta. Korupsi & Illegal Logging Dalam Sistem Desentralisasi. 2005. Kasat IV/Tipiter Dit Reskrim Polda Sumut.  Butar-Butar. Himpunan Ringkasan Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Kehutanan dan Konservasi Hayati. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Dalam Pencemaran dan atau Kerusakan Lingkungan Hidup. Remaja Rosdakarya. Bandung. Medan. 1993. Universitas Sumatera Utara.  John Z. Teori Hukum. 2002. Hukum sebagai Suatu Sistem. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Hukum Fakultas Hukum USU. 2007. Loedoe. Bandung. Susanto. Bandung. Pengelolaan Hutan. Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan Lingkungan. Kajian Hukum Penanganan Tindak Pidana Illegal Logging dan Perdagangan Hidupan Liar. Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan Lingkungan. 2006. Yogyakarta. Jakarta. Hukum Tata Lingkungan. 2004. Jakarta. 2 Oktober 2003.  Lili Rasjidi dan Wyasa Putra. tidak dipublikasikan. Tanah & Air dalam Perspektif Al Qur’an. Bina Aksara. Pustaka Pelajar.