You are on page 1of 26

TUGAS FORMULASI SEDIAAN OBAT

“TABLET KUNYAH”

Oleh Kelompok 3:

1. Elhas Adelse Nameza (2605010)


2. Dewi Winduri (2605011)
3. RINA AFDIKA (2605012)
4. HELEN SONITA (2605013)

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA


YAYASAN PERINTIS
PADANG
2018

1
I. Teori Tablet Kunyah
A. Pengertian Tablet
Tablet adalah sediaan bentuk padat yang mengandung substansi obat dengan
atau tanpa bahan pengisi berdasarkan metoda pembuatannya dapat
diklasifikasikan sebagai tablet cetak atau tablet kompresi (USP 26). Tablet adalah
sediaan padat meengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi
berdasarkan metoda pembuatannya dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan
tablet kempa (FI. IV).
B. Pengertian Tablet Kunyah
Tablet kunyah adalah tablet yang dirancang agar segera hancur ketika
dikunyah atau dibiarkan melarut dalam mulut memberian dasar seperti krim yang
halus dan lembut dari manitol (Ansel hal.249 dan Lacman hal. 712).
Tablet ini cocok untuk bahan obat yang memiliki dosis besar misalnya
antasida, analgesik, zat yang tidak terasa pahit (mislnya garam antibiotik,
multivitamin) tidak larut dalam air(Ansel hal.249 dan Lacman hal. 712).
C. Keuntungan
Cocok untuk tablet dengan dosis besar, cocok untuk anak dan dewasa yang
susah menelan, ukuran partikel dapat diperkecil dengan pengunyahan sehingga
efeklebih cepat karena lebih mudah diserap dan efek enetralan asam lambung dari
tablet antasida menjadi lebih cepat (Ansel hal.249 dan Lacman hal. 712).
D. Kerugian
Tidak semua semua zat dapat dibuat tablet kunyah seperti tablet dengan zat
yang berasa sangat pahit atau rusak karena asam lambung.
E. Metode Pembuatan Tablet Secara Umum
a. Granulasi basah, yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien
menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat
dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat
digranulasi. Metoda ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap
lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung
karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip dari metode
granulasi basah ini adalah membasahi massa tablet dengan larutan pengikat
tertentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa
basah tersebut di granulasi.
b. Granulasi kering, disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif
dan eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat
yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran
lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah
membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut,
ikatannya di dapat mealui gaya. Teknik ini cukup baik digunakan untuk zat

2
aktif yang memiiki dosis efektif yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung
atau zat aktif yang sensitif terhadap pemanasan dan kelembaban.
c. Kempa Langsung yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung
campuran zat aktif dan eksipien kering tanpa melalui perlkun awal erlbih
dahulu. Metoda ini merupakan meto yang paling mudah, praktis, dan cepat
pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang
kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab.
Ada beberpa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl yang mungkin
langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktif tidak mudah untuk langsung
dikempa, selain zat aktif dijaikan tunggal yang langsung dikempa untuk
dijadikan tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan tubuh).
Secara umum sifat zat aktif yang cocok untuk metode kempa lngsung adalah :
aliran baik, kompresibilitas baik, bentuk kristal, dan mampu menciptakan
adhesifitas, dan kohesifitas dalam massa tablet.
II. Farmakologi Zat Aktif
1.1 Famakokinetik
Absorbsi : kalsium diabsorbsi dari saluran pencernaan dengan difusi pasif dan
transpor aktif. Kalsium harus dalam bentuk larut dan terionisasi agar bisa
diabsorbsi. Vitamin D diperlukan untuk absorbsi kalsium dan meningkatkan
absorbsi. Absorbsi kalsium meningkat dengan adanya makanan. Ketersediaan oral
pada orang dewasa berkisar pada 25% - 35% jika diberikan dengan sarapan
standar. Absorbsi dari susu sekitar 29% dalam kondisi yang sama.
Distribusi : kalsium secara cepat didistribusikan ke jaringan skelet. Kalsium
serum normal berkisar dari 9 - 10,4 mg/dL (4,5-5,2 mEq/L), tetapi hanya kalsium
terionsasi yang aktif. Kalsium menembus plasenta dan mencapai konsentrasi lebih
tinggi pada darah fetal dibandingkan darah ibu. Kalsium juga didistribusikan
dalam susu.
Ekskresi : kalsium terutama diekskresikan melalui feses. Ekskresi urin tidak
melebihi 150 mg/hari pada pasien yang diet kalsium rendah. Ekskresi urin
menurun dengan bertambahnya usia, pada gagal jantung awal dan selama
kehamilan. Kalsium juga diekskresikan melalui urin.
a. Indikasi; Suplemen kalsium biasanya hanya diperlukan bila kalsium tidak
cukup, defisiensi kalsium. Kalsium oral juga digunakan daalm pengobatan
osteoporosis, osteomalacia, riketsia, dan tetanus laten.
b. Efek samping; Gangguan gastrointestinal ringan, bradikardia, aritmia dan
iritasi setelah injeksi intra vena.
c. Kotraindikasi : pasien dengan hiperkalsemia dan fibrasi ventrikular.
d. Dosis : 300 mg, 500 mg/ tablet
e. Interaksi obat;
 Anti Bakteri Menurunkan absorbsi tetrasiklin
 Bifosfonat mengurangi absorbsi

3
 Glikosida jantung dosis kalsium intra vena yang tinggi dapat mencetuskan
aritmia
 Diuretik dengan tiazida meningkatkan resiko hiperkalsemia
III. Preformulasi
 Kalsium Laktat
Fungsi : Zat Aktif
Nama resmi : Calcii Laktat
Nama umum : Kalsium Laktat
Nama Kimia :
Rumus Molekul : C6H10CaO6.xH2O
Rumus Struktur : CH3CHOO—Ca . H2O

OH 2

Berat molekul : 218,22


Pemerian : Serbuk atau granul putih; praktis tidak berbau; bentuk
pentahidrat sedikit mekar pada suhu 1200 menjadi anhidrat.
Kelarutan : Pada suhu 250, larut dalam 20 bagian air; larut dalam air
panas.
 Amylum
Fungsi : Zat Pengikat
Nama resmi : Amylum
Nama umum : Pati
Nama Kimia :
Rumus Molekul :
Rumus Struktur :
Berat molekul :
Pemerian : Serbuk sangat halus, putih.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol.
Mikroskopik : butir tunggal, agak bulat atau bersegi banyak; butir kecil
diameter 5 µm- 10 µm, butir besar bergaris tengah 20 µm-35
µm; halus di tengah berupa titik, garis lurus atau bercaang
tiga, lamela tidak jelas, konsentris; butir majemuk sedikit,
terdiri dari 2 atau 3 butir tunggal yang tidak sama bentuknya.
 Laktosa
Fungsi : Zat Pengisi
Nama resmi : Lactosum
Nama umum : Laktosa
Nama Kimia :
Rumus Molekul : C12H22O11

4
Rumus Struktur :
Berat molekul : 342, 30
Pemerian : Serbuk atau masa hablur, kera, putih atau putih krem tidak
berbau dan rasa sedikit manis. Stabil di udara, tetapi mudah
menyerap bau.
Kelarutan : Mudah (dan pelan-pelan) larut dalam air dan lebih mudah
larut dalam air mendidih; sangat sukar larut dal etanol; tidak
larut dalam kloroform dan dalam eter.
Rotasi Jenis : Antara +54,80 dan +55,50
 Magnesium Stearat
Fungsi : Lubricant
Nama resmi : Magnesii Stearas
Nama umum : Magnesium Stearat
Nama Kimia :
Rumus Molekul :
Rumus Struktur :
Berat molekul :
Pemerian : Serbuk sangat halus, putih dan voluminus; bau lemah khas;
mudah melekat di kulit; bebas dari butiran.
Kelarutan : Tidak larut dalam air, dalam eter dan dalam etanol.
 Talcum
Fungsi : Glidan
Nama resmi : Talcum
Nama umum : Talk
Nama Kimia :
Rumus Molekul :
Rumus Struktur :
Berat molekul :
Pemerian : Sebuk hablur sangat halus, putih atau putih kelabu.
Berkilat,mudah melekat pada kulit dan bebeas dari butiran.
Kelarutan : Zat larut dalam asam tidak lebih dari 2,0%.
Susut pemijaran : tidak lebih dari 6,5%.

IV. Rancangan Formula


Zat aktif kalsium laktat 500 mg
Direncanakan bobot tablet 800 mg dibuat 1000 tablet
Fase dalam (97%)
Kalsium Laktat 500 mg
Mucilago amili 10% (1/3 fase dalam)
Lactosa q.s

5
Fase luar (3%)
Magnesium stearat 1%
Talkum 2%

V. Pembuatan Skala Industri


Zat aktif kalsium laktat 500 mg
Direncanakan bobot tablet 800 mg dibuat 1000 tablet
Berat 1000 tablet : 800 mg x 1000 tablet = 800.000 mg = 800 g

Fase Dalam : 97/100 x 800 g = 776 g


Kalsium laktat : 500 mg x 1000 tablet = 500.000 mg = 500 g
Mucilago amili : 1/3 x 776 = 258,66 g
Amylum : 10/100 x 258,66 = 25,866 g
Air : 258,66 – 25,866 = 232,794 mL
Laktosa : 776 – (500 + 258,66) = 17,34 g

Fase Luar
Talkum : 2/100 x 800 g = 16 g
Mg. Stearat : 1/100 x 800 = 8 g

Cara Kerja :
Pembuatan Mucilago Amili:

Pembuatan Granul (Granulasi Basah)


1. Alur Produksi

Supplier

Bahan baku Cek Dokumen

Karantina Lulus / tidak lulus


(QC)

Gudang kelas G

Penimbangan

Ruang Produksi kelas E

6
Pemuatan Emulsi Metode Gom Kering)

1. Pembuatan Sirup Simplexgula dilarutkan dalam air panas, mixing sampai


larut
2. Na Bonzoat  dilarutkan dengan aquades sampai larut
3. GOM ditambahkan minyak + Vit E + air untuk membentuk korpus emulsi
4. Encerkan dengan sisa air + sirup simplex + Na Benzoat yang sudah
dilarutkan
IPC
IPC
 PH
Filling
 Uji  BJ
Kebocoran  Viskositas
 Penampilan  Tipe Emulsi
Labelling
 Penandaan
 Kelengkapan IPC
Cartoning  Penandaan
 Penampilan
 kelengkapan

5. Alur/Proses

1. Barang yang datang dari supplier, masuk kekantor dengan surat jalan dan surat uji
dari produsen.
2. Barang disimpan sementara di area karantina, kemudian dicek fisik secara visual
sesuai dengan pesanan barang meliputi :
a. Kebenaran label (nama bahan, no.batch/lot)
b. Keutuhan pesanan orisinil (wadah, segel, bruto)
c. Asal negara
d. Tanggal pembuatan dan tanggal kadaluarsa
e. Jumlah dan COA (Certificate of Analysis)

7
3. Setelah dicek, dibuat Bukti Titipan Barang Sementara (BTBS). Dibuat 3 rangkap,
lembar asli diserahkan kepada supplier, copy 1 untuk arsip gudang dan copy 2
sebagai surat permohonan.
4. Barang diterima oleh supervisior penyimpanan bahan baku dan disetujui oleh asisten
manajer penyimpanan. Kemudian dilakukan pemeriksaan labor oleh pihak QC.
5. Pihak QC akan melakukan sampling terhadap bahan baku yang datang. Barang
diterima atau ditolak.
6. Setelah bahan baku diluluskan, maka bagian penyimpanan akan membuat Bukti
Penerimaan Bahan Baku (BPBB). Selanjutnya bahan tersebut disimpan di gudang.
Bahan baku yang diluluskan diberi label hijau, dengan tulisan “DILULUSKAN” dan
ditempel di atas label.

8
7. Jika bahan baku ditolak, maka gudang akan membuat surat pemberitahuan kepada
bagian pembeliaan bahwa barang yang dikirim oleh pemasok tidak memenuhi syarat
dengan melampirkan hasil pemeriksaan dan surat pengambilan barang ke pemasok.
Bahan baku yang ditolak, diberi label warna merah.

9
8. Sebelum melakukan proses penimbangan personnel harus mngenakan pakaian
khusus. Untuk menghindari persentuhan langsung antara tangan dengan bahan awal,
produk antara atau produk ruahan yang terbuka, operator hendaklah mengenakan
sarung tangan berbahan karet atau plastik minimal 10 cm dari pergelangan tangan
dan utuh dan jangan menggunakan bahan kain karena berpori. Toilet harus terletak di
loker sebelum masuk ke ruang ganti pakaian bersih untuk masuk area produksi.

10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
9. Pihak produksi meminta bahan ke kepala gudang untuk dilakukan penimbangan dan
disaksikan oleh pihak QC.

21
10. Pada proses produksi, barang yang diminta untuk produksi masuk kedalam area
penimbangan, selanjutnya diarea pengolahan.
Ruang produksi kelas E
a.Jumlah maksimum partikel / m3 yang diperbolehkan :
- Non operasional » 0,5 µm yaitu 3.520.000
» 5 µm yaitu 29.000
-operasional » 0,5 µm yaitu tidak ditetapkan
» 5 µm yaitu tidak ditetapkan.
b.Kekuatan cahaya untuk koridor ruang produksi yaitu 300 lux sedangkan untuk ruang produksi
yaitu 500 lux.
c. Sistem tata udara untuk kelas kebersihan E yaitu suhu 20 sampai 27 °C , kelembaban mak 70
%, efisiensi saringan uadara akhir FB (75%) tu 90 % ASHRE 52/76 bila menggunakan sistem
single pass (100% fresh air)
d. Pertukaran udara perjam yaitu 5-20 kali.
11. Selesai pegisian, produk yang sudah disusun di rak khusus dikarantina, beri label
“quarantine” lalu lakukan IPC.
 Stabilitas sediaan.
 Pengambilan produk untuk retain sampel.
 Bila lulus uji produk yang tersusun pada rak khusus dikirim ke packing
sekunder.
 Botol dimasukkan ke iner box lalu masukkan ke auter box. Beri nomor
registrasi, batch da ED pada auter box. Lakukan pemeriksaan akhir.
12. Pengolahan dari produk ruahan, pengemasan primer, pengemasa sekunder, dilakukan
dengan dikontrol oleh pihak QC.

VI. IPC
IPC Granul:
 Granulometri
Granulometri adalah analisi ukuran dan repartisi granul (penyebaran ukuran-
ukuran granul) dalam melakukan analisis granulometri digunakan susunan
pengayak dengan berbagai ukuran mesh terbesar diletakkan paling atas dan di
bawahnya disusun dengan mesh ukuran makin kecil.

22
 Timbang 100 g granul
 Letakkan granul pada pengayak palig atas
 Getarkan mesin 5 – 30 menit, tergantung ketahanan granul pada getaran
 Imbang granul yang tertahan pada tiap-tiap pengayak
 Hitung persentase granul pada tiap-tiap pengayak

Tujuan granulometri untuk melihat keeragaman dari ukuran granul. Granulometri


berhubungan dengan sifat alirangranul, jika ukuran granul berdekatan aliran akan
lebih baik.

 Kecepatan alir
 Metode corong
Mengukur kecepatan aliran 100 g granul menggunakan corong kaca
dengan dimensi sesuai. Metode corong dapat dilakukan dengan 2 cara:
Cara bebas
Cara tidak bebas (paksa) digetarkan
Biasanya, jika 100 g granul mengalir dalam 10 detik maka aliran baik.
 Metode sudut istirahat
Masukkan 100 g granul (tutup bagian bawah corong). Tampung granul di
atas kertas grafik. Catat waktu yang dibutuhkan oleh granul untuk
mengalir dari awal sampai habis.
Kecepatan alir = berat granul (gram) / waktu (menit)
 Kandungan air
Diukur dengan pemanasan (oven)
Sebelum dilakukan analisis, wadah ditimbang bersama tutupnya yang dilepas
dimasukkan ke dalam oven pengering pada suhu 105-1100C selama 1 jam
kemudian didinginkan dalam desikator selama 1 jam. Setelah dingin, wadah
ditimbang bersam tutupnya , timbang (y gram). Kemudian masukkan ke dalam
oven pengering bersuh 105-1100C selaam 1 jam bersama tutupnya dalam keadaan
terlepas. Wadah beserta isinya dikeluarkan dari dalam oven lalu dinginan dalam
desikator. Setelah dingin wadah berisi granul dengan tutupnya ditimbang (zat
gram) perhitungan untuk mendapatkan kadar air adalah:
(y−x)− (z−x)
Kandungan air = = x 100%
y−x
 Bobot jenis
 Bobot jenis benar
Diukur dengan piknometer
Timbang piknometer kosong (a)
Timbang piknometer + parafin liq (b)
Timbang piknometer + granul (c)
Timbang piknometer + granul + parafin liq (d)

23
Volume piknometer (v)
b−a
Bobot jenis parafin = v
c−a
Bobot jenis benar = (c−a)+ (d−b) x bobot jenis parafin
 Bobot jenis nyata
Alat : gelas ukur
Cara kerja : timbang granul fase dalam kemudian diayak lalu ditimbang
(W) kemudian masukkan lagi ke dalam gelas ukur lihat volumenya (Vt)
W
BJ = Vt
 Bobot jenis mampat
Alat : gelas ukur
Cara kerja : masukkan granul yang telah diayak ke dalam gelas ukur
mampatkan 2500 kali lalu dilihat volume setelah pemampatan.
W
Bj = V Mampat

 Persentase fines / serbuk halus


Dilakukan dengan metode pengayakan, dimaan 100 gram granul diletakkan di atas
ayakan dengan derajad halus tertentu dan kemudian diayak. Granul yang masih
tertinggal di atas ayakkan ditimbang. Selisih berat granul awal dengan berat
granul setelah diayak merupakan berat serbuk halus.
Persentase fines = (berat seruk halus yang diperoleh / berat granul awal) x 100 %
 Daya kompresibilitas
Dapt−Davc
%K= x 100%
Dapt
Davc = berat jenis nyata sebelum pemampatan
Dapt = berat jenis setelah pemampatan 2500 kali
Jika % K = 5-10 % = aliran sangat baik
11-20 % = aliran cukup baik
21-25% = aliran cukup
˃ 26 % = aliran buruk
 Faktor Hausner
Dinyatakan dengan membagi bobot mampat nayat dengan bobot jenis benar.
 Sudut istirahat
Metodanya sama dengan metoda pengukuran kecepatan alir, dimana granul yang
mengalir dari corong dan ditampung di atas kertas grafik diukur diameter dan
tinggi tumpukkan granul.
Hitung sudut istirahat dengan rumus :
Tg θ = h/r
Dimana:
Θ = sudut istirahat

24
h = tinggi tumpukkan granul
r = jari-jari tumpukkan granul

jika θ = 25-30 sangat mudah mengalir


30-40 mudah mengalir
40-45 mengalir
˃45 kurang mengalir

Tiap 15 menit lakukan kembali IPC Produk Ruahan :


 Keseragaman ukuran
 Keseragaman bobot

 Keseragaman kandungan

Tiap 30 menit lakukan kembali IPC Produk Ruahan :


 Uji kekerasan tablet
 Friabilitas

Pada akhir pencetakkan, lakukan uji :


 Keseragaman kandungan

Setelah lulus uji “release”, produk ruahan di bawa ke ruang kemasan primer. Tiap 15
menit lakukan kembali IPC :
 Uji kebocoran (dengan alat vakum selama 1 menit)
 Uji estetika ( penandaan register, batch, ED pada strip)
 Stabilitas sediaan (tidak dilakukan lagi karena sudah dikerjakan pada bagian R &
D sewaktu skala pilot untuk pengembangan produk).
 Pengambilan produk untuk retain sample

25
VII. Etiket dan Brosur

KOMPOSISI INDIKASI
Emulsi LEXAFOL® mengandung : Menolong meningkatkan kekbalan
Oleum iecori asseli ..................46,5 gram tubuh secara alami dan mecegah
LEXAFOL® kekurangan vitamin A dan vitamin D.
Emulsi membantu mnejamin pertumbuhan
ATURAN PAKAI yang sehat dan perkembangan anak-
(Minyak Ikan)
Anak berusia >12tahun : 3X sehari 1 anak, menjamin tulang dan gigi kuat
sendok makan
Anak berusia 7-12 tahun: 2X sehari 1 SIMPAN DITEMPAT SEJUK DAN
sendok makan TERLINDUNG DARI CAHAYA
Anak berusia 1-6 tahun : 1X sehari 1
Diproduksi Oleh
sendok makan KOCOK DAHULU
LE SEBELUM DIPAKAI
KETERANGAN LENGKAP BACA BROSUR PT. BEARAFOL PHARMA
Padang-Indonesia
No.Reg: DTL 1711034532B1
No.Batch: D 1601
Exp. Date Mei 2019
Netto 100 ml

VIII. Pemilihan bentuk sediaan : Tablet Kunyah

26