You are on page 1of 34

Skenario A Blok IX

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Blok Endokrin adalah blok kesembilan pada semester III dari Kurikulum Berbasis
Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.
Pada kesempatan ini dilaksanakan studi kasus skenario A yang memaparkan Bpk. Roni, 50
tahun dibawa ke ruang gawat darurat RSMP dikarenakan mengalami DM Tipe II.

1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran
KBK di Fakults Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis
pembelajran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

BAB II

FK UMP 2012 Page 1

Skenario A Blok IX

PEMBAHASAN

2.1 Data Tutorial
Tutor : dr. H. Achmad Azhari, DAHK
Moderator : Santa Mercylia
Sekertaris meja : Putri Indah Sari
Sekertaris papan : Riska Annis Azzahra
Waktu : 1. Senin, 18 November 2013
2. Rabu, 20 November 2013
Pukul. 08.00 – 09.30 WIB.
Rule : : 1. Alat komunikasi dinonaktifkan
2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan
pendapat/ aktif
3. Mengacungkan tangan saat akan mengutarakan
pendapat,
4. Izin terlebih dahulu saat akan keluar ruangan,
5. Tidak boleh membawa makanan dan minuman
pada saat proses tutorial berlangsung
6. Dilarang memotong pembicaraan ketika ada
yang sedang memberikan pendapat
7. Dilarang berbisik-bisik dengan teman

2.2 Skenario Kasus

FK UMP 2012 Page 2

Skenario A Blok IX

Bpk. Roni, 50 tahun, dibawa ke ruang gawat darurat RSMP oleh keluarganya karena lemas sejak 1
hari yang lalu. Bpk. Roni mengeluh adanya luka koreng di telapak kaki kanan yang tidak sembuh-
sembuh sejak 1 minggu yang lalu. Luka terasa nyeri disertai demam yang tidak terlalu tinggi.
Menurut keluarganya, Bpk. Roni sejak 2 bulan yang lalu mengeluh BAK terus menerus setiap
malam, sering haus dan minum terus menerus, Bpk. Roni juga sering mengeluh gatal-gatal
diseluruh tubuhnya. Berat badan menurun sebanyak 5 kg selama 2 bulan terakhir padahal nafsu
makannya meningkat. Bpk. Roni bekerja sebagai juru ketik dan hampir tidak mempunyai waktu
untuk olahraga. Dalam 3 tahun ini diketahui, Bpk. Roni menyandang DM dan control tidak teratur
dan mendapat pengobatan glibenclamide 2,5 mg 1x/hari, gula darah sewaktu berkisar 250-300
mg/dl.
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum : tampak sakit sedang, compos mentis, TB : 160 cm, BB : 80 kg
Tanda vital : TD 120/80 mmHg, HR : 100x/mnt, suhu tubuh 37,8°C, RR : 20x/menit
Pemeriksaan Laboratorium :
Glukosa darah 550 mg/dl diperiksa oleh dokter yang bertugas menggunakan glucometer darah
digital
Keton urin +2, glukosa urin +4

2.3 Klarifikasi Istilah
1. Lemas : keadaan kurang tenaga atau kurang energi saat beraktivitas (KBBI)
2. Ulcus : defek lokal, atau ekskavasi permukaan suatu organ atau jaringan akibat pengelupasan
jaringan radang yang nekrotik (Dorland)
3. Demam : peningkatan temperatur tubuh di atas normal (37°C) (Dorland)
4. Poliuria : simtoma medis berupa kelainan frekuensi dieresis atau buang air kecil sebagai akibat
kelebihan produksi air seni (Kamus Kesehatan)
5. Polidipsia : simtoma medis berupa rasa haus yang tidak berkesudahan (Kamus Kesehatan)
6. Polifagia : simtoma kelainan metabolism berupa tingginya ritme rasa lapar yang harus
dipuaskan dengan mengonsumsi makanan (Kamus Kesehatan)
7. DM : suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Kamus Kesehatan)

FK UMP 2012 Page 3

Bpk. 3. HR : 100x/mnt. Dalam 3 tahun ini diketahui. Bpk. Luka terasa nyeri disertai demam yang tidak terlalu tinggi. Berat badan menurun sebanyak 5 kg selama 2 bulan terakhir padahal nafsu makannya meningkat. Glibenclamide : hiperglikemi oral derifat sulfonil urea yang bekerja aktif menurunkan kadar gula darah (Dorland) 9. Roni. 2. 5. BB : 80 kg Tanda vital : TD 120/80 mmHg.4 Identifikasi Masalah 1. gula darah sewaktu berkisar 250-300 mg/dl. sering haus dan minum terus menerus. Skenario A Blok IX 8. suhu tubuh 37. Bpk. Pemeriksaan Fisik : Keadaan umum : tampak sakit sedang. Bpk. Roni bekerja sebagai juru ketik dan hampir tidak mempunyai waktu untuk olahraga. Glucometer : alat pengukur kadar glukosa (Kamus Kesehatan) 11. Gula darah sewaktu : hasil pengukuran gula darah yang dilakukan seketika tanpa ada puasa (Kamus Kesehatan) 10. Menurut keluarganya.8°C. Keton urin : terdapatnya zat keton dalam jumlah yang berlebihan di dalam urin (Kamus Kesehatan) 2. dibawa ke ruang gawat darurat RSMP oleh keluarganya karena lemas sejak 1 hari yang lalu. RR : 20x/menit 6. Bpk. Roni menyandang DM dan control tidak teratur dan mendapat pengobatan glibenclamide 2.5 Analisis Masalah FK UMP 2012 Page 4 . 50 tahun.5 mg 1x/hari. Roni juga sering mengeluh gatal-gatal diseluruh tubuhnya. compos mentis. 4. Pemeriksaan Laboratorium : Glukosa darah 550 mg/dl diperiksa oleh dokter yang bertugas menggunakan glucometer darah digital Keton urin +2. glukosa urin +4 2. Bpk. TB : 160 cm. Roni mengeluh adanya luka koreng di telapak kaki kanan yang tidak sembuh-sembuh sejak 1 minggu yang lalu. Roni sejak 2 bulan yang lalu mengeluh BAK terus menerus setiap malam.

2011) c. 2007) b.8 per-1000/orang-tahun dan 4. Namun. (Guyton. Apa yang menyebabkan Bpk. (Darmono. Apa hubungan umur dan jenis kelamin dengan keluhan yang di alami Bpk. 50 tahun. Bpk. 2011). Resiko ini meningkat pada usia lebih dari 30 tahun dan sering kali terjadi pada usia 50-60 tahun. 2007) Menurut beberapa penelitian di Indonesia jenis kelamin perempuan lebih berisiko terkena DM tipe 2 dibandingkan laki-laki (Wicaksono. dibawa ke ruang gawat darurat RSMP oleh keluarganya karena lemas sejak 1 hari yang lalu. Skenario A Blok IX 1. pada usia tersebut rentan terkena penyakit degeneratif.0 per-1000/orang-tahun pada perempuan. Roni. a. seperti diabetes mellitus tipe 2 karena meningkatnya resiko intoleransi glukosa disebabkan menurunnya fungsi tubuh untuk memetabolisme glukosa. Luka terasa nyeri disertai demam yang tidak terlalu tinggi. studi di Augdburg mendapatkan hasil insidens rate yang distandardusasi menurut umur pada laki- laki sebesar 5. Roni 50 tahun. Bpk. Sistem apa yang terlibat pada kasus ini? Jawab :  Sistem endokrin  terjadi gangguan pada sistem endokrin (insulin)  Sistem muskuloskeletal  Sistem urinaria  akibat hiperglikemi tubulus ginjal tidak mampu mereabsorpsi glukosa sehingga urin mengandung glukosa (glikosuria) terjadi diuresis osmotik dan mengakibatkan poliuria (Sherwood. Roni mengeluh adanya luka koreng di telapak kaki kanan yang tidak sembuh-sembuh sejak 1 minggu yang lalu. Roni lemas? Jawab : Pada pasien NIDDM (obesitas) → resistensi insulin ( kebutuhan 200 unit insulin per hari untuk mengendalikan hiperglikemia dan mencegah ketosis) dimana metabolism anabolik normal diperantarai oleh insulin sebagai respons terhadap FK UMP 2012 Page 5 . Roni? Jawab : Usia Bpk. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya di Amerika yang mengatakan bahwa jenis kelamin perempuan lebih berisiko terkena DM tipe 2.

Reseptor insulin adalah glikoprotein tetramerik berisi 2 subunit α dan 2 subunit β yang terikat dengan ikatan sulfida. Bagaimana anatomi dan histologi ekstremitas bawah? Jawab : FK UMP 2012 Page 6 . Kemudian insulin diikat ke reseptor insulin spesifik pada jaringan target. (Harrison. 2012) d. Skenario A Blok IX makanan.

Skenario A Blok IX FK UMP 2012 Page 7 .

Skenario A Blok IX FK UMP 2012 Page 8 .

Skenario A Blok IX FK UMP 2012 Page 9 .

hipodermis (tela subcutanea)  Otot pada tungkai bawah merupakan termasuk jenis otot rangka (textus muscularis striatus skeletalis)  Otot rangka merupakan serat multinukleus dengan nukleus terletak ditepi  Sitoplasma sel otot disebut sarkoplasma dan membran sel sekitar atau plasmalema disebut sarkolema. 2006) Histologi  Pada kulit tungkai bawah terdiri dari epidermis.  Setiap sarkoplasma serat otot mengandung banyak miyofibril. Tulang terdiri atas 2 bentuk : FK UMP 2012 Page 10 . dermis. Skenario A Blok IX (Snell. yang mengandung dua jenis filamen protein kontraktil yakni aktin dan miosin  Pada tulang Rata-rata tulang padat terbentuk dari 30% matriks dan 70% garam.

dan menggunakan kanalikuli untuk komunikasi dan melakukan pertukaran. 2005) f. 2010) e. . dan kanalis perforans . Osteoklas termasuk dalam turunan sel makrofag mononukleus- monosit dan ditemukan di cekungan-cekungan terkikis akibat proses enzimatik (lakuna Howship) (Eroschenko.Osteoblas berada di permukaan tulang dan menyintesis matriks osteoid. bercabang. susunan trabekula tahan tehadap tekanan dan tarikan yang mengenai tulang. dan matriks ekstraselular. osteon. Bagaimana patofisiologi dari ulkus? Jawab : Resistensi insulin  hiperglikemi  hiperosmolaritas ekstrasel. remodeling.Tulang terdiri dari dari sel. Mengapa luka koreng di telapak kaki kanan tidak sembuh-sembuh sejak 1 minggu yang lalu? Jawab : Proses penyembuhan luka membutuhkan bahan dasar utama dari protein dan unsur makanan yang lain. tebal di diafisis. ruang diantara trabecula diisi sumsum tulang yang membentuk darah (orang muda) atau lemak (orang tua). terletak dilakuna. faktor pembekuan V dan VII  pembekuan dan viskositas meningkat  thrombosis menurun  makroangiopati  ulkus diabetikum (Price. endosteum. . menyebabkan sel tidak dapat mengambil glukosa  terganggu fungsi leukosit  mudah terinfeksi  lesi pada kulit  protein plasma mengandung gula yaitu peningkatan fibrinogen. Skenario A Blok IX  Substantia compacta tampak massa padat. Osteoid adalah osteoblas matur. memiliki lamella konsentris bersama dengan pembuluh darah membentuk osteon  Substantia spongiosa terbentuk trabekula banyak di epifisis dan metafisis. haptoglobin dan makroglobin.Osteoklas adalah sel multinukleus yang berperan dalam resorpsi. . tipis di epifisis. dan perbaikan tulang. Pada penderita diabetes melitus bahan protein banyak diformulasikan untuk kebutuhan energi sel sehingga bahan yang dipergunakan FK UMP 2012 Page 11 . serat.Sel osteoprogenitor terletak di periosteum.Komponen utama matriks tulang adalan serat kolagen tipe I kasar .

sering haus dan minum terus menerus. Roni juga sering mengeluh gatal-gatal diseluruh tubuhnya. (Price. Bpk. Apa makna luka terasa nyeri disertai demam yang tidak terlalu tinggi? Jawab : Demam yang terjadi pada kasus karena adanya suatu infeksi / zat yang masuk dalam tubuh Demam  pirogen (Eksogen ”di luar tubuh manusia” : endotoksis dan endogen “di dalam tubuh manusia” : IL-1. a.TNF. Skenario A Blok IX untuk penggantian jaringan yang rusak mengalami gangguan. sering haus dan minum terus menerus sejak 2 bulan yang lalu disertai rasa gatal di seluruh tubuh? Jawab : Makna Poliuria. Apa makna BAK terus menerus setiap malam. Selain itu luka yang sulit sembuh juga dapat diakibatkan oleh pertumbuhan mikroorganisme yang cepat pada penderita diabetes mellitus. polifagia merupakan keluhan khas pada diabetes mellitus dan rasa gatal diseluruh tubuh merupakan keluhan lain yang timbul. Apabila ada keluhan tersebut dapat didiagnosis seseorang menderita DM disertai FK UMP 2012 Page 12 . (Riyadi.IFN)  endotell di hipotalamus  prostaglandin  meningkatkan patokan thermostat di pusat termoregulasi hipotalamus  konversi panas.IL-6. Menurut keluarganya. Bpk. 2007) g. sel kuper. reaksi imunologis  monosit. Polidipsia. toksin mikroba. Berat badan menurun sebanyak 5 kg selama 2 bulan terakhir padahal nafsu makannya meningkat.IFN  (monosit. 2005) 2.TNF.IL-6. makrofag  zat kimia pirogen endogen (IL-1. produksi panas  demam (Sherwood. Roni sejak 2 bulan yang lalu mengeluh BAK terus menerus setiap malam. mediator inflamasi. netrofil) Infeksi. 2011) h. limfosit. Bagaimana patofisiologi nyeri pada kasus ini? Jawab : Stimulus noxious  kerusakan jaringan ( ulkus diabetikum)  perubahan kimia endogen  aktivasi nosiseptor  transmisi implus nosiceptif ke SSP  integrasi nosiceptif pada spinal  integrasi pada level supraspinal  nyeri.

2007) d. Skenario A Blok IX dengan pengukuran kadar gula darah sewaktu >200 mg/dl dan pengukuran kadar gula darah puasa >126 mg/dl. Oleh karena itu. Hormon apa yang terlibat saat keluhan tersebut terjadi pada Bpk. 2013) b. Bagaimana patofisiologi BAK terus menerus setiap malam. Oleh karena itu di dalam urin penderita diabetes mellitus terdapat glukosa. asam lemak. seseorang dengan diabetes mellitus berat yang tidak diobati dengan baik akan mengalami penurunan berat badan yang cepat dan asthenia (kurang energi) meskipun ia memakan sejumlah besar makanan (polifagia). dan penyimpanan nutrien oleh sel. Roni? Jawab :  Hormon insulin  mendorong penyerapan. Pada kasus ini terjadi resistensi insulin FK UMP 2012 Page 13 . Apa makna berat badan menurun padahal nafsu makan meningkat? Jawab : Berat badan menurun menunjukkan hilangnya protein tubuh akibat diabetes. Hal itu terjadi karena kegagalan untuk menggunakan glukosa sumber energi yang berakibat peningkatan mobilisasi protein dan lemak. dan asam amino darah serta mendorong penyimpanan bahan-bahan tersebut. pemakaian. (Soegondo. (Price. Hormon ini menurunkan kadar glukosa.  Polidipsia Sensititivitas insulin pada reseptor menurun  hiperglikemia glukosa yang tersaring lebih besar daripada kemampuan ginjal reabsorpsi glukosuria efek osmotik menarik air bersama dengan glukosa  dehidrasi  haus polidipsia. sering haus dan minum terus menerus? Jawab :  Poliuria Kadar glukosa yang meningkat di dalam plasma darah meningkatkan pembuangan urin untuk mensekresikan glukosa yang terdapat di dalam darah. 2005) c. (Guyton.

Skenario A Blok IX  Hormon glukagon  glukagon yang di hasilkan oleh sel α pankreas penting untuk mempertahankan kadar nutrien dalam darah selama pascaabsorbsi. fisiologi dan histologi dari sistem endokrin yang terlibat? Jawab : FK UMP 2012 Page 14 . Bagaimana anatomi. Terjadi peningkatan pengeluaran glukosa oleh hati (glikogenolisis) (Sherwood. 2011) e.

Hormone gonadtropik yang berasal dari Folikel Stimulating Hormon (FSH) yang merangsang perkembangan folikel degraf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa dalam testis Adaapun lobus posterior menghasilkan 2 jenis hormone yaitu : a. Hormone adenokortikotropik (ACTH) yang berfungsi mengendalikan kelenjar suprarenal dalam menghasilkan kortisol c. Adapun fungsi kelenjar FK UMP 2012 Page 15 . Adapun komponen dari sistem endokrin sebagai berikut :  Kelenjar pineal (epifise) Kelenjar ini terdapat didalam otak didalam ventrikel terletak dekat korpus. Hormone somatrofik yang berfungsi mengendalikan pertumbuhan tubuh Hormone tirotropik yang berfungsi mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormone tiroksin b. Skenario A Blok IX Sistem endokrin merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresi langsung kedalam darah yang beredar dalam kelenjar tanpa melewati saluran. Hormone antidiuretik (ADH) mengatur jumlah air yang keluar melalui ginjal b. Hormone oksitosin yang berguna merangsang yang mengeluarkan air susu sewaktu menyusui  Kelenjar Tiroid Terdiri dari 2 lobus yang berada disebelah kanan dari trakea yang terletak didalam leher bagian depan bawah melekat pada dinding laring. Hasil dari sekresi dinamakan hormone. Lobus anterior menghasilkan hormone yang berfungsi sebagai zat pengendali produksi dari semua organ endokrin a. ini menghasilkan sekresi interna dalam membentuk pancreas dan kelenjar pancreas  Kelenjar hipofise Kelenjar ini terletak pada dasar tengkorak yang mempunyai peran penting dalam sekresi hormone-hormon semua sistem endokrin Kelenjar hipofise terdiri dari 2 lobus yaitu lobus anterior dan lobus posterior.

Mempengaruhi metabolism hidrat arang dan protein c. elektrolit dan garam b. Mengatur keseimbangan air. Mengaktifkan pertumbuhan badan b. Bekerja sebagai perangsang kerja oksidasi b. adrenalin membantu metabolism karbohidrat dengan cara menambah pengeluaran glukosa dalam hati. Sel alpha menghasilkan hormone glucagon dan sel beta FK UMP 2012 Page 16 . Kelenjar timus terletak didalm thorak yang terdiri dari 2 lobus. Relaksasi bronkus  Pancreas Terdapat dibelakang lambung didepan vertebra lumbalis 1 dan 2 terdiri dari sel sel alpha dan betha. selain itu juga kelenjar tiroid mempunyai fungsi a. Bagian luar yang berwarna kekuningan yang menghasilkan kortisol disebut korteks b. Mengatur penggunaan oksidasi c. Bagian medulla yang menghasilkan adrenalin (epinefrin) dan non adrenalin (non epinefrin) Non adrenalin dapat menaikkan tekanan darah dengan cara merangsang serabut otot didalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi. Mengatur pengeluaran karbondioksida d. Penyusunan susunan kimia darah. jaringan  Kelenjar timus Kelenjar ini di mediastrium dibelakang os sternum. Mempengaruhi aktivitas jaringan limfoid Fungsi kelenjar adrenal bagian medulla adalah : a. Skenario A Blok IX tiroksin adalah mengatur pertukatan metabolism dalam tubuh dan pertumbuhan . Adapun fungsi dari kelenjar timus adalah : a. Adapun fungsi kelenjar adrenal bagian korteks adalah : a. Mengurangi aktifitas kelenjar kelamin  Kelenjar adrenal Kelenjar adrenal ada 2 bagian yaitu : a. Vasokontriksi pembuluh darah perifer b.

menghambat sekresi insulin glikogen dan polipeptida pancreas serta menghambat sekresi glikogen.  Kelenjar ovarika Terdapat pada wanita dan terletak disamping kanan dan kiri uterus dan menghasilkan hormone estrogen dan progesterone. Hormone yang digunakan untuk pengobatan diabetes adalah hormone insulin yang merupakan sebuah protein yang turut dicernakan oleh enzim pencernaan protein. (Sherwood. Hormone ini mempengaruhi uterus dan memberikan sifat kewanitaan  Kelenjar testika Terdapat pada pria terletak pada skrotum dan menghasilkan hormone testosterone yang mempengaruhi pengeluaran sperma. Selain itu juga pancreas sebagai tempat cadangan bagi tubuh dan penggunaan glukosa. Fungsi hormone insulin adalah mengendalikan kadar glukosa dan bila digunakan dalam pengobatan adalah memperbaiki sel tubuh untuk mengamati dan penggunaan glukosa dan lemak. Fungsi dari pulau langerhans adalah sebagai unit sekresi dalam pengeluaran homeostatis nutrisi. Skenario A Blok IX menghasilkan hormone insulin. Selain itu juga terdapat pulau langerhans yang berbentuk oval yang tersebar keseluruh tubuh pancreas dan terbanyak pada bagian kedua pancreas. Bagaimana patofisiologi gatal-gatal yang terjadi pada kasus ini? Jawab : Resistensi insulin Resiko untuk menderita DM tipe II lebih tinggi Menderita Diabetes Melitus tipe II (Hyperglikemi) Berkurangnya penyerapan glukosa oleh sel (defisiensi glukosa di intrasel) ↑ Pengeluaran glukosa oleh hati ↓ penyerapan ↑penguraian (glikogenolisis) asam amino protein oleh sel FK UMP 2012 Page 17 . 2011) f.

2013) 3. (Soegondo. Skenario A Blok IX ↓sintesis trigliserid ↑ asam amino darah ↓ BB Hiperglikemik Glukoneogenesis ↑ Glukosa darah Glukosa banyak terdapat di pembuluh darah Memicu degranulasi sel mast / basofil infeksi Pelepasan histamin Gatal-gatal (Soegondo. Bpk. Penelitian yang dilakukan di USA pada 21. Penelitian lain yang dilakukan selama 8 tahun pada 87. a. 2013) b.353 orang yang melakukan olahraga ditemukan penurunan risiko penyakit DM tipe 2 sebesar 33%. Bagaimana pengaruh waktu olahraga dengan keluhan yang dialami? Jawab : Olahraga yang teratur bersama diet yang tepat dan penurunan berat badan (BB) merupakan penatalaksanaan diabetes yang diannurkan terutama bagi DM tipe 2. Apa manfaat olahraga pada kasus ini? FK UMP 2012 Page 18 . Roni bekerja sebagai juru ketik dan hampir tidak mempunyai waktu untuk olahraga. Beberapa fakta yang menopang hal ini yaitu pada populasi yang tidak aktif insidensi DM tipe 2 tinggi.217 dokter disana selama lima tahun menemukan bahwa kasus DM tipe 2 lebih tinggi pada kelompok yang melakukan olahraga kurang dari 1 kali perminggu dibandingkan dengan kelompok yang melakukan olahraga 5 kali perminggu.

FK UMP 2012 Page 19 . sebaliknya sensitivitas insulin menningkat. disamping itu selain dapat meningkatkan kesehatan juga dapat meningkatkan kebugaran diabetisi. Olahraga apa yang sesuai pada kasus ini? Jawab : Pada diabetisi olahraga yang dipilih sebaiknya olahraga yang disenangi. (Soegondo. Masalah utama pada DM tipe 2 adalah kurangnya respon insulin (resistensi insulin). dan bersepeda. Respons ini hanya terjadi setiap kali berolahraga. 2013) d. Olahraga yang hendaknya melibatkan otot-otot besar dan sesuai dengan keinginan agar manfaat olahraga dapat dirasakan secara terus menerus. Permeabilitas membran terhadap glukosa meningkat pada otot yang berkontraksi. Kontraksi otot memiliki sifat seperti insulin. Seperti olahraga jalan.  Pemanasan  Latihan Inti  Pendinginan  Peregangan (Soegondo. dan bukan merupakan efek yang menetao atau berlangsung lama. Skenario A Blok IX Jawab : Pada DM tipe 2. Produksi insulin umumnya tidak terganggu terutama pada awal menderita penyakit ini. Karena adanya gangguan tersebut insulin tidak dapat membantu transfer glukosa ke dalam sel. Bagaimana pola waktu olahraga yang baik? Jawab : Olahraga dilakukan secara teratur dan dilakukan pada saat yang dirasa menyenangkan. berenang. Pada saat berolahraga resistensi insulin berkurang. Dan ada baiknya. olahraga berperan utama dalam pengaturan kadar glukosa darah. hal yang perlu diperhatikan setiap kali melakukan olahraga adalah tahap-tahap sebagai berikut. oleh karena itu olahraga harus dilakukan terus menerus dan teratur. hal ini menyebabkan kebutuhan insulin pada diabetes tipe 2 akan berkurang.2013) c. dan yang mungkin untuk dilakukan oleh diabetisi. jogging.

Skenario A Blok IX  DM tipe 1.  Frekuensi olahraga 3-5 kali perminggu  Durasi olahraga 30-60 menit (Soegondo. FK UMP 2012 Page 20 . glibenklamide diserap sangat baik (84 ± 9%). Farmakokinetik : Absorpsi OHO sulfonilurea melalui usus baik sehingga dapat diberikan per oral. Glibenklamid efektif dengan pemberian dosis tunggal. Roni menyandang DM dan control tidak teratur dan mendapat pengobatan glibenclamide 2. menghasilkan satu metabolit dengan aktivitas sedang dan beberapa metabolit inaktif.Setelah diabsorbsi. Bpk. gula darah sewaktu berkisar 250-300 mg/dl. Dalam 3 tahun ini diketahui.pada protein plasma terutama albumin (70-99%).5 mg 1x/hari. Dalam plasma sebagian besar pada protein plasma terutama albumin (70-99%). 24 jam setelah pemberian kadar dalam plasma hanya tinggal sekitar 5%. a. Masa kerja sekitar 15 = 24 jam Metabolisme glibenklamide sebagian besar berlangsung dengan jalan hidroksilasi gugus sikloheksil pada glibenklamid. Mula kerja (onset) glibenklamide: kadar insulin serum mulai meningkat 15-60 menit setelah pemberian dosis tunggal. olahraga lebih baik dilakukan pada pagi hari. Kadar puncak dalam darah tercapai setelah 2-4 jam. obat ini tersebar ke seluruh cairan ekstra sel. Bagaimana farmakokinetik dan farmakodinamik dari glibenclamide? Jawab : Farmakodinamik : Memiliki efek hipoglikemik yang poten (200 kali lebih kuat daripada Tolbutamida) sehingga pasien perlu diingatkan untuk melakukan jadwal makan yang ketat. hindari olahraga pada malam hari. 2013) 4. Setelah itu kadar mulai menurun. Studi menggunakan glibenklamide yang dilabel radioaktif menunjukkan bahwa.libenklamid diserap sangat baik (84 ± 9%).

Tolazamide. Sulfonylureas dan Meglitinide Untuk meningkatkan produksi insulin di sel β pancreas. Contohnya : Metformin FK UMP 2012 Page 21 . metabolit kedua (M2) merupakan hasil hidroksilasi 3-cis. Skenario A Blok IX Metabolit utama (M1) merupakan hasil hidroksilasi pada posisi 4-trans. Glimepiride 2. Glipizide. 2010) d. terutama dipakai 3-4 bulan pertama pengobatan perubahan diet dan pasine mulai sadar berolahraga sakit minum obat. 2012) b. (Katzung. sedangkan metabolit lainnya belum teridentifikasi. Semua metabolit tidak ada yang diakumulasi. meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankeas. dosis perlu diperhatikan karena lebih mudah timbul hipoglikemia. Apa makna gula darah sewaktu berkisar 250-300 mg/dl? Jawab : Makna gula darah sewaktu >200 mg/dl adalah positif diabetes mellitus karena dikatakan tidak DM adalah <100 mg/dl dan belum pasti DM adalah 100-199 mg/dl. a) Sulfonylureas Generasi pertama : Acetohexamide. Biguanides Untuk menurunkan produksi glukosa di hati. Glipizide. Chlorpropamide. apabila ada gangguan fungsi ginjal atau hati . Tolbutamide Generasi kedua : Glyburide. (Ganiswarna. (Soegondo. Apa jenis-jenis golongan obat yang dapat diberikan pada kasus ini? Jawab : 1. Efek samping : hipoglikemia. Glimepiride b) Meglitinide Glyburide. Apa indikasi dan efek samping dari pemberian obat glibenclamide? Jawab : Indikasi : menurunkan glukosa darah dengan cepat. 2013) c.

suhu tubuh 37. Miglitol 4. Thiazolidinediones Untuk meningkatkan ambilan glukosa di darah oleh otot dan sel lemak. Contohnya: Pioglitzone.5 °C : Normal Febris  37. Contohnya : Acarbose. Skenario A Blok IX 3.TNF.IL-6. Pemeriksaan Fisik : Keadaan umum : tampak sakit sedang.8 °C  <36 °C : Hipotermi Suhu 37.8 °C :  36-37. BB : 80 kg Tanda vital : TD 120/80 mmHg. reaksi imunoligis  monosit. 2013) 5.8°C? Jawab : Pemeriksaan hasil Kategori Interepretasi Suhu 37. mediator inflamasi. Apa pengaruh dari pemberian obat glibenclamide? Jawab : Pemberian obat glibenclamide Mempunyai efek hipoglikemik yang poten bahkan koma. Inhibitor α-glukosidase Untuk menghambat penyerapan glukosa di usus. makrofag  zat kimia pirogen endogen (IL-1. netrofil) Infeksi. 2010) e.TNF. HR : 100x/mnt. limfosit.IL-6. Dalam batas-batas tertentu dapat diberikan pada kelainan fungsi hati dan ginjal.8 °C : febris/pireksia) FK UMP 2012 Page 22 . RR : 20x/menit a. TB : 160 cm. Rosiglitazone (Katzung. ` (Soegondo. Bagaimana interpretasi dan patofisiologi dari suhu 37. sel kuper.8°C.IFN)  endotell dihipotalamus  prostaglandin  meningkatkan patokan thermostat dipusat termoregulasi hipotalamus  konversi panas. sehingga pasien perlu diingatkan untuk melakukan jadwal makanan ketat. compos mentis.5-40 °C : Febris/pireksia  >40 °C : Hipertermi Patofisiologi : Demam  pirogen (Eksogen ”diluar tubuh manusia” : endotoksis dan endogen “didalm tubuh manusia” : IL-1. toksin mikroba.IFN  monosit. produksi panas  demam (37.

56 = 31. (Centre for Obesity Research and Education. Roni? Jawab : IMT = BB (kg)/TB2 (m2) = 80 / 1. dengan IMT 31. Apa makna hasil IMT Bpk.62 = 80/2. Skenario A Blok IX (Sherwood.25 Sumber: Kemenkes RI 2003 Berdasarkan table diatas.25 Bpk. Roni masuk kategori Obes II menurut Center for Obesity Reseacrh and Education dan menurut Kemenkes RI masuk kategori gemuk atau kelebihan berat badan tingkat berat.2011) b. 2007) FK UMP 2012 Page 23 .

Skenario A Blok IX 6. glukosa urin +4 a.0 % yang mengindikasikan terjadinya penyakit Diabetes Melitus.0 % Jingga +3 1.5 %. atau 3. Bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan laboratorium? Jawab : Uji glukosa urin dengan Benedict Warna Penilaian Konsentrasi glukosa Biru/hijau keruh . atau 2. Keton urin +2 berarti terdapat benda keton di dalam urin yang mengindikasikan terjadinya ketosis pada pasien Diabetes Melitus. American Diabetes Association (ADA) menganjurkan penapisan (skrining) DM yang sebaiknya dilakukan terhadap rang yang berusia 45 tahun ke atas dengan interval 3 tahun sekali. benda keton merupakan hasil metabolisme lipid.0% Merah +4 > 2. Kadar gula darah puasa ≥ 126 mg/dL. - Hijau/hijau kekuningan +1 < 0. Dimana. Berikut adalah criteria diagnosis DM menurut standar pelayanan medis ADA 2010.0 % Glukosa urin +4 berarti terdapat glukosa didalam urin dengan konsentrasi > 2.0-2. Bagaimana cara mendiagnosis pada kasus ini? Jawab : Pada usia 50 tahun merupakan usia yang rentan mengalami DM. Pemeriksaan Laboratorium : Glukosa darah 550 mg/dl diperiksa oleh dokter yang bertugas menggunakan glucometer darah digital Keton urin +2. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus 1. Kadar gula darah 2 jam pp ≥ 200 mg/dL pada tes toleransi glukosa oral yang dilakukan dengan 75 g glukosa standar WHO FK UMP 2012 Page 24 . 2013) 7. HbA1C ≥ 6.5 % Kuning kehijauan/kuning +2 0. (Soegondo.5-1. Oleh sebab itu.

hasil tes terhadap DM perlu diulang untuk menyingirkan kesalahan laboratorium. kecuali diagnosis DM dibuat berdasarkan keadaan klinis seperti pasien dengan gejala klasis hiperglikemia atau krisis hiperglikemia.5 %). Pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia dengan kadar gula sewaktu ≥ 200 mg/dL. Skenario A Blok IX 4. Tes yang sama dapat juga diulang untuk kepentingan konformasi. maka pasien tersebut dapat dipastikan menderita DM. (American Diabetes Association. maka pasien tersebut dianggap menderita DM. 2010) 8. Kadangkala ditemukan hasil tes pada seseorang pasien yang tidak bersesuaian (misalnya antara kadar gula darah puasa dan HbA1C). Jika nilai dari kedua hasil tes tersebut melampaui ambang diagnostic DM. namun jika terdapat ketidaksesuaian (diskordansi) pada hasil dari kedua tes tersebut. Jika seorang pasien memenuhi kriteria DM berdasarkan pemeriksaan HbA1C (kedua hasil ≥6. tetapi tidak memenuhi kriteria berdasarkan kadar gula puasa (≤ 126 mg/dL) atau sebaliknya. Sebagaimana tes diagnostic lainya. maka tes yang melampaui ambang diagnostic untk DM perlu diulang kembali dan diagnosis dibuat berdasarkan hasil tes ulang. Apa differential diagnostic pada kasus ini? Jawab : FK UMP 2012 Page 25 .

Resistensi Insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. artinya terjadi defisiensi relatif insulin. 2013) 10. maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan sekresi insulin lain. sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan seperti mudah haus. Apa working diagnostic pada kasus ini? Jawab : Diabetes Mellitus Tipe 2 11. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. Berarti sel B (beta) pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa. Sedangkan Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau DM tidak tergantung insulin (DMTTI) disebabkan kegagalan relatif sel B (beta) dan resistensi Insulin. 2013) 9. (Mansjoer. Gejalanya sengat bervariasi dan dapat timbul secara perlahan-lahan. Apa saja pemeriksaan penunjang pada kasus ini? Jawab :  Hba1c  Kolesterol HDL ≤35 mg/dl dan trigliserid ≥ 250 mg/dl  TTGO (tes toleransi glukosa oral) (Soegondo. Bagaimana etiologi pada kasus ini? Jawab : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau DM tergantung Insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel B (beta) pulau langerhans akibat proses autoimun. FK UMP 2012 Page 26 .2000) 12. karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Skenario A Blok IX (Soegondo. Bagaimana epidemiologi pada kasus ini? Jawab : Diabetes mellitus sering disebut sebagai the great imitator. lebih sering buang air kecil. Sel B (beta) tidak mampu mengimbangi retensi insulin ini sepenuhnya.

7 %. diabetes mellitus menduduki peringkat ke-6 pola kematian semua umur di Indonesia dengan presentase 5. Bagaimana patofisiologi pada kasus ini? Jawab : FK UMP 2012 Page 27 . (Mansjoer. Menurut Riskesdas 2007. Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita diabetes mellitus terbesar di dunia setelah India. 2000) 13. Skenario A Blok IX mudah lapar ataupun penurunan berat badan. Cina dan Amerika Serikat. sedangkan menurut survey yang dilakukan WHO.

Skenario A Blok IX Obesitas Resistensi insulin Nafsu makan ↑ (polifagia) Resiko untuk menderita DM tipe II lebih tinggi Rangsangan Menderita Diabetes Melitus tipe II reseptor sel ke (Hyperglikemi) bagian Berkurangnya penyerapan glukosa oleh sel (defisiensi glukosa di intrasel) hypothalamus anterior ↑ Pengeluaran ↓sintesis trigliserid ↑ lipolisis ↓ penyerapan ↑penguraian glukosa oleh hati asam amino protein (glikogenolisis) oleh sel ↓sintesis trigliserid ↑Asam lemak darah ↑ asam amino darah ↓ BB Hiperglikemik Sel menggunakana asam Glukoneogenesis lemak sebagai sumber energi alternatif Reabsorbsi ginjal terganggu ↑ asam lemak oleh hati Glikosuria Hati mengoksidasi asam lemak hanya sampai sampai asetil Diuresis osmotik KoA dan tidak mampu memproses lebih lanjut melalui Peningkatan asam sitrat untuk ekstraksi energi secara maksimum pengeluaran urin (poliuria) Secara parsial energi yang tersedia mengubah asetil KoA Dehidrasi badan keton Pelepasan badan keton berlebih Polidipsia ↓ Volume dalam darah darah FK UMP 2012 Page 28 .

Bagaimana tatalaksana pada kasus ini? Jawab : FK UMP 2012 Page 29 . Skenario A Blok IX Glukosa tidak masuk dalam sel Ketosis ↓ Metabolisme energi Lemas (Price. 2005) 14. Bagaimana manifestasi klinis pada kasus ini? Jawab :  Polifagia  Poliuria  Polidipsia  Penurunan berat badan  Urin mengandung glukosa (Soegondo. 2013) 15.

Akut a. Ketoasidosis FK UMP 2012 Page 30 . Bagaimana komplikasi pada kasus ini? Jawab : 1. Skenario A Blok IX Penekanan perencanaan makanan & olahraga Evaluasi 2-4 minggu STT 1 macam OHO : Biguanide/ penghambat glukosidase alfa atau tiazolidindion Evaluasi 2-4 minggu STT Kombinasi 2 macam OHO: antara Biguanide/PGα/Tiazolidindion Evaluasi 2-4 minggu STT Kombinasi 3 macam OHO : B+PGα+T Evaluasi 2-4 minggu STT Kombinasi 4 macam OHO : B+PGα+T+ Insulin Sekretagog Evaluasi 2-4 minggu STT Kombinasi OHO + Insulin Insulin Keterangan : B : Biguanide PGα : Penghambat glukosidase alfa T : Tiazolidindion OHO : Obat Hipoglikemik Oral STT : Sasaran Tidak Tercapai (Soegondo. 2013) 16. Koma hipoglikemia b.

berenang. makan berlebih juga FK UMP 2012 Page 31 . di karenakan selain Allah tidak menyukai hal yang berlebih-lebihan. Neuropati diabetik (Mansjoer. dan menunggang kuda” Dari ayat diatas menganjurkan bahwa hendaknya kita tidak makan berlebih. Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter (Konsil Kedokteran Indonesia. “ajarkanlah anak-anakmu memanah. sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. 2012) 19. Mikroangiopati : mengenai pembuluh darah kecil (retinopati diabetik. Kronik a.. (Mansjoer. Skenario A Blok IX c. b.. 4A. nefropati diabetik) c. pembuluh darah tepi.makan dan minumlah tetapi jangan yang berlebihan. dan pembuluh darah otak). Amirul mukminin Umar bin Khottob ra berkata . melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas. Makroangiopati : mengenai pembuluh darah besar (pembuluh darah jantung.. sisanya dapat mengalami kebutaan.. gagal ginjal kronik. Bagaimana prognosis pada kasus ini? Jawab : Sekitar 60% pasien DMTI yang mendapat insulin dapat bertahan hidup seperti orang normal. dan kemungkinan untuk meninggal cepat. koma hiperosmolar nonketotik 2. 2000) 18. Dalam Ath-Thibbun Nabawi.. 2000) 17. Bagaimana KDU pada kasus ini? Jawab : Tingkat Kemampuan 4: mendiagnosis. Bagaimana pandangan islam pada kasus ini? Jawab : QS Al-A’raf :31 .

 Apabila makan berlebih namun aktifitas fisik sedikit. dan menunggang kuda merupakan aktivitas fisik (olahraga) memberikan banyak manfaat bagi tubuh. dan memicu resiko terjadinya DM tipe II (Al-Quran) 2. maka dapat menimbulkan obesitas. poliuria.6 Kesimpulan Bpk. Dari kutipan Umar bin Khottob yang menganjurkan untuk dapat memanah. polidipsia. polifagia akibat DM Tipe II yang tidak terkontrol. 2. 50 tahun. mengalami lemas. berenang. Roni.7 Kerangka Konsep Kontrol tidak teratur Resistensi Insulin Luka koreng tidak sembuh-sembuh Obesitas Berat badan DM Tipe II menurun Poliuria Ketosis Polidipsia Lemas Polifagia DAFTAR PUSTAKA FK UMP 2012 Page 32 . luka koreng di telapak kaki kanan yang tidak sembuh- sembuh. berat badan menurun. Skenario A Blok IX tidak baik untuk kesehatan.

Padmmartono FS. Hlm 75-103. dan R. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Sylvia Anderson. Darmono.G.diabetesjournals. Jakarta : EGC Harrison. 2007. Naskah Lengkap Eroschenko. 223-240. S. Standarts of Medical Care in Diabetes 2010. Atlas Histologi Difiore. 2217. Pabst. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Body Mass Index : BMI Calculator. Fisiologi Manusia. Jakarta : Media Aesculapius Price. 2012. Lauralee. Riyadi. 2007.extract. 2010. hal. Richard S. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Hall.html di uduh pada 20 November 2013. 2005. Jakarta : EGC FK UMP 2012 Page 33 . Arief et all. 2007. 2010. 2000. 2010. Pemayun TGD. Hlm 776-791. 33(1): S11-4. Jakarta : EGC Putz R. Diabetes Care.org/bmi.org/content/33/Supplement 1/S11.Asuhan Keperawatan pada pasien dengan gangguan Eksokrin & Endokrin pada pancreas. 2006. Victor P.monash. Centre for Obesity Research and Education. Jakarta: EGC Ganiswarna. 2012. John E.2007. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta: EGC. Sukarman. Jakarta : Bagian Farmakologi FK UI Guyton. Skenario A Blok IX American Diabetes Association. Suhartono T. Edisi 13 vol. Atlas Anatomi Manusia Sobotta. Jakarta: EGC Snell.core. 123-136. 2011. Yogyakarta : Graha Ilmu Sherwood. 2000. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. http://www. Edisi 21 jilid 2. 5. Jakarta : EGC Mansjoer. Arthur C. Diunduh dari http://care.

RP.PD-KEMD. Skenario A Blok IX Prof. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu Edisi 2. Semarang : Universitas Diponegoro FK UMP 2012 Page 34 . Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2. 2013.Dr.Sidartawan Soegondo. 2011. Jakarta : Balai Penerbit FK UI Wicaksono.Dr.Sp.