You are on page 1of 18

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Menurut surat Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 128/2004 tentang kebijakan dasar
Puskesmas, bahwa Puskesmas adalah unit pelaksana tenis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suaru wilayah kerja. Menurut
Departemen Kesehatan RI tahun 2009, Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan
fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat, membina peran serta
masyarakat dan memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Atas landasan KEMENKES RI dan
DEPKES RI tersebut, dapat dikatakan bahwa Puskesmas merupakan suatu organisasi yang berperan
penting bagi masyarakat Indonesia untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dengan
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat
tinggal di wilayah kerja Puskesmas.

Penyakit tidak menular (PTM) menjadi penyebab utama kematian secara global. Data WHO
menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta
atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh PTM. Proporsi penyebab kematian PTM pada orang-
orang berusia kurang dari 70 tahun, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab terbesar yaitu
39%. Terdapat 3 faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, salah satunya yakni hipertensi. Bila
hipertensi tidak terkontrol, keadaan ini bukan hanya menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti
serangan jantung dan stroke, namun juga dapat menyebabkan gangguan ginjal serta kebutaan.
Hipertensi sendiri dibagi menjadi 2 jenis, yakni hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi
primer memberikan kontribusi 90% dibanding hipertensi sekunder.

Selain PTM, penyakit menular seperti tuberkulosis juga tidak kalah pentingnya mengingat
Indonesia merupakan negara berkembang dan hal ini juga tentunya mempengaruhi hidup orang
banyak. Prevalensi penduduk Indonesia yang didiagnosis TB paru oleh tenaga kesehatan tahun 2013
adalah 0.4 persen, tidak berbeda dengan 2007. Lima provinsi dengan TB paru tertinggi adalah Jawa
Barat (0.7%), Papua (0.6%), DKI Jakarta (0.6%), Gorontalo (0.5%), Banten (0.4%) dan Papua Barat
(0.4%). Berdasarkan karakteristik penduduk, prevalensi TB paru cenderung meningkat dengan
bertambahnya umur, pada pendidikan rendah, tidak bekerja.

Penyakit tidak menular dan penyakit menular tentunya dipengaruhi oleh berbagai aspek
diantaranya pola hidup masyarakat. Oleh sebab itu, merupakan salah satu tugas Puskesmas untuk
memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh terutama dalam hal melakukan kegiatan
promotif dan preventif kepada masyarakat untuk menurunkan angka kejadian, morbiditas dan
mortalitas bagi masyarakat Indonesia. Namun tentunya dalam hal mewujudkan hal ini, Puskesmas
tidak dapat bekerja sendiri. Puskesmas memerlukan bantuan dari berbagai pihak yang berazaskan
azas keterpaduan lintas program dan lintas sektoral agar usaha untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat Indonesia tidak terjadi hanya sementara saja namun berkesinambungan.

4 Sasaran Sasaran pokok nya adalah Pasien beserta dengan Keluarga pasien .  Dari seluruh provinsi di Indonesia.3 Masalah Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai penyakit hipertensi esensial yang umumnya terjadi pada usia dewasa dan tuberkulosis paru. Serta memberikan penjelasan mengenai pentingnya kepatuhan minum obat terhadap kesembuhan pasien.  Mengidentifikasikan faktor resiko hipertensi dan faktor yang memperberat hipertensi. Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki prevalensi TB paru tertinggi.  Kurangnya pengetahuan mengenai penyakit-penyakit yang di derita dan penyebab penyakit- penyakit tersebut.  Memantau perkembangan penyakit pasien serta kepatuhan pasien menjalani terapi.  Menciptakan komunitas masyarakat yang sehat.2 Tujuan Dengan melakukan kunjungan ke rumah. yakni:  Meningkatkan kesadaran pasien dan keluarganya mengenai pentingnya kesehatan. 1.1.  Kurangnya pengetahuan mengenai makna dari hidup bersih dan sehat baik di dalam rumah maupun di lingkungan tempat tinggal pasien dan keluarga. diharapkan kita dapat melakukan analisa kasus hipertensi dan tuberkulosis paru dengan pendekatan keluarga.  Mengidentifikasi faktor risiko tuberkulosis dan cara penularan tuberkulosis.  Penyakit tidak menular (termasuk hipertensi) merupakan penyakit utama penyebab kematian global di dunia akibat komplikasi kesehatan yang ditimbulkannya. 1.  Memberikan penyuluhan mengenai faktor faktor yang dapat mempengaruhi kesembuhan dan memperberat penyakit.

Alamat: Dusun Sindangkarya II. Pola rekreasi: Cukup. Jenis bangunan: dinding terbuat dari bilik tanpa disokong oleh batu bata b. Luas rumah: 4x4 m2 d.Raya Sampalan kecamatan Kutawaluya. b. Keadaan Rumah/Lingkungan: a.A. anaknya sering batuk selama 1 tahun ini dan sering mengeluh sesak napas. Pengambilan keputusan: mufakat dengan seluruh anggota keluarga c. mantri e. tidak memakai sandal baik di dalam maupun di luar rumah. Jawa Barat Puskesmas: Puskesmas Kutawaluya Alamat: Jl. Penyakit yang sering diderita: Pusing d. f. Riwayat Biologis Keluarga: a. Identitas pasien: a. Pendidikan: Tidak sekolah f. Keadaan kesehatan sekarang: Sedang b. Ventilasi: buruk g. Pola makan: 2-3 kali per hari h. Dapur: tidak ada h. Nama: Ny. Penyakit keturunan: Tidak ada e. Penerangan: sangat kurang e. Psikologis Keluarga a. Ketergantungan obat: tidak ada d. Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga (IRT) e. Kebersihan perorangan: Cukup bersih c. Bersosialisasi dengan tetangga sekitar rumah saja IV. Kebiasaan buruk: Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat. Jamban keluarga: tidak ada . Usia: 72 tahun c. suka memasak makanan asin. Kutawaluya. kabupaten Karawang Data Riwayat Keluarga I. Kebersihan: buruk f. Lantai rumah: tanah c.A yaitu Tn. A b. Tempat mencari pelayanan kesehatan: warung obat. Jenis kelamin: Perempuan d. Penyakit kronis/ menular: Ada. BAB II Tinjauan Kasus Desa Sindangkarya. Kecacatan anggota keluarga: - g. Jumlah anggota keluarga: 5 orang III.M diduga menderita tuberkulosis karena menurut Ny. anak ke 4 dari Ny. Pola istirahat: cukup i.

M Ipar 33 SMP Pemulu Islam Susp. Pusing dirasakan hilang timbul tidak menentu. i. Tn. Adat yang berpengaruh: adat Sunda b. Hubungan dengan orang lain: Harmonis d. Ny.A Mertua 72 Tidak IRT Islam Hipertensi Cukup Lupa Pasien yg sekolah diwawanca ra 5. Ny. X. Sumber pencemaran air: tidak ada k. Sumber air minum: air isi ulang (galon) j. Riwayat penyakit sekarang: Pasien merasa pusing sejak 1 minggu yang lalu. An. Sistem pembuangan air limbah: tidak ada m. Tempat pembuangan sampah: di kebun terbuka terpakai milik desa n. Daftar Anggota Keluarga Tabel 1.R IRT 26 SD IRT Islam Sehat Cukup Lupa pil 3. Keluhan tambahan: kedua mata buram XI. Keyakinan tentang kesehatan: Cukup VI. Keadaan ekonomi: Rendah VII. pasien pernah memeriksakan diri ke mantri dan dikatakan tensi 160/80 mmHg. Spiritual Keluarga: a. Sejak 6 bulan yang lalu. Keadaan Sosial Keluarga: a. Isam Sehat Cukup Lengkap sekolah 4. Ketaatan beribadah: Cukup b. Pemanfaatan pekarangan: tidak ada l. Pasien juga memiliki keluham kedua mata buram sejak 2 tahun yang lalu.Tb Kurang Lupa ng IX. Tingkat pendidikan: Rendah b. Lain-lain: Tidak ada VIII. Daftar Anggota Keluarga Keterangan Pendidikan Pekerjaan kesehatan Imunisasi Keadaan Keadaan Hub dgn Agama Umur Nama KK gizi KB No 1.R Kepala 30 SMP Buruh Islam Sehat Cukup Lupa keluarga bangun an 2.W Anak 1 Belum . . Hubungan antar anggota keluarga: Harmonis c. Kultural Keluarga a. Keluhan utama: pusing sejak 1 minggu lalu. Sanitasi lingkunagn: sangat buruk V. Tn.

mengurangi makanan asin  Agar keluarga ibu A memakai sandal di rumah maupun di luar rumah karena lantai rumah masih beralas tanah  Agar anak ibu A segera memeriksakan diri ke Puskesmas dan memakai masker bila kontak dengan orang rumah dan sekitarnya Preventif  Diet rendah garam  Agar tidak stress  Berolahraga ringan. saat ini semakin sesak napas. faring tidak hiperemis Thorax: Cor: Bj i-II dalam batas normal. tampak katarak di kedua mata Mulut: bibir lembab. stage II: karena tekanan darah pasien adalah 180/100 mmHg. Riwayat Penyakit terdahulu:tidak ada Riwayat alergi: disangkal Riwayat hipertensi: ada Riwayat penyakit jantung: disangkal Riwayat penyakit injal: disangkal Riwayat penyakit diabetes: disangkal XIII. Diagnosis keluarga XVIII. CRT <2’’ XVI. senam  Perilaku hidup sehat . Pemeriksaan Fisik Keadaan umum: tampak sakit ringan A. BB semakin berangsur berkurang.XII. Riwayat Pengobatan sebelumnya: Tidak ada XV. ronkhi-/-. XIV. Diagnosis penyakit: Berdasarkan JNC 7. ibu A menderita Hipertensi primer.. Pemeriksaan Fisik Umum: Bentuk tubuh pasien terlihat status atleticus dan tidak tampak deformitas pada bagian tubuh. Riwayat penyakit keluarga:  Anak ke-4. wheezing -/- Abdomen: BU+.50C (normal) B. dbn. nyeri tekan – Ekstremitas: akral hangat. Tanda Vital Tekanan darah: 180/100 mmHg Auskultasi: Normal Nadi: 84 x/mnt Suhu: 36. murmur -. suara napas vesikuler+/+. Penatalaksanaan penyakit Promotif:  Mengurangi pemakaian garam berlebihan. Keseluruhan pergerakan dan percakapan tidak tampak kelainan Mata: konjungtiva tidak anemis. sklera tidak ikterik. Tn M sering mengalami batuk-batuk sejak 1 tahun lalu. XVII. gallop – Pulmo.

Keluarga : Buruk (dubia ad malam) karena pasien tinggal bersama 4 orang anggota keluarga di dalam suatu rumah yang sempit dan tidur berdesak-desakan sementara Tn M diduga menderita TB paru. Wvaluation. dan didukung dengan pola hidup sehat yang baik maka prognosis penyakit pasien adalah baik (dubia et bonam).Tn M sering batuk-batuk ± 1 tahun ini. yakni Tn M menunjukan gejala TB yang dapat menulari bukan hanya keluarga namun warga sekitar yang sering kontak dengan Tn M dan keluarganya BAB III Tinjauan Pustaka 3.  Monitoring: o Tekanan darah o Kerusakan target organ:  Mata (Retinopati hipertensi)  Ginjal (Nefropati hipertensi)  Jantung (HHD)  Otak (Stroke) o Interaksi obat dan efek samping o Kepatuhan XIX. Prognosis Penyakit :Bila pasien teratur meminum obat yang diberikan dan selalu memeriksa tekanan darahnya ke Puskesmas secara teratur. Berdasarkan keterangan ibu A. Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensiesensial. karena riwayat kesehatan anak ibu A. dan derajat 2.1 Definisi Hipertensi (tekanan darah tinggi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalamarteri.1.1. and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasitekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal. . mengalami penurunan berat badan hebat (saat ini BB diduga 30 kg) dan sesak napas.detection. prehipertensi. Hipertensi 3.hipertensi derajat 1. Masyarakat: Buruk.  Pemakaian masker Kuratif Terapi medikamentosa:  Captopril 3x25 mg tab/hari  Vit B complex 1x1 tab/hari  Terapi nonmedikamentosa: Rehabilitatif  Kontrol penyakit ke dokter Puskesmas/mantri minimal sebulan sekali. Menurut The Seventh of The Joint national Committee on Prevention.

b. Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya. stress dan pengaruh lain misalnya merokok. c. Pada ras kulit hitam. Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya 2.prednison. tekanan darah sistolik >140 mmHgmerupakan factor resiko yang lebih penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskular daripada tekanan darah diastolic. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain.3.4 Patofisiologi . mereka yang tekanan darahnya berkisar antara 130 ± 139/80 ± 89 mmHgdalam sepanjang hidupnya akan memiliki dua kali risiko menjadi hipertensi danmengalami penyakit kardiovaskular daripada yang tekanan darahnya lebih rendah. Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi (melebihi 30 gram). dan ras. 3. epinefrin). Risiko penyakit kardiovaskular dimulai pada tekanan darah 115/75 mmHg. 3. dan independen dari faktor resiko lainnya. kegemukan atau makan berlebihan. Jenis kelamin.3 Klasifikasi Tabel 2. minum alkohol.2 Etiologi Hipertensi berdasarkan enyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu: 1.meningkat dua kali dengan tiap kenaikan 20/10 mmHg. jenis kelamin. Faktor tersebut adalah sebagai berikut: a. Ciri perseorangan Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur.1.Pada orang yang berumur lebih dari 50 tahun. sedangkan 10% sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. konsisten. Hipertensi primer terdapat pada lebih 90% penderita hipertensi. tekanan darah lebih tinggi dibandingkan pada kulit putih. Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orangtuanya adalah penderita hipertensi. Jika umur bertambah maka tekanan darah meningkat.1. Risiko penyakit kardiovaskular bersifat kontinyu. minum obat-obatan (ephedrine. Klasifikasi Hipertensi Pasien dengan prehipertensi berisiko mengalami peningkatan tekanan darah menjadihipertensi.1. data-data penelitian elah menemukan beerapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. di mana tekanan darah pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya yang memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras simpatis. menyebabkan pelepasan rennin. yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. suatu vasokonstriktor kuat. di mana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. pada medulla otak. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Bagan 1.perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Untuk pertimbangan gerontology. aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup). Pada saat bersamaan di mana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah. Pada titik ini. neuron preganglion melepas asetilkolin yang akan merangsang serabut saraf pascaganglion ke pembuluh darah. Patofisiologi Hipertensi Renin Angiotensin I Angiotensin I Converting Enzyme Angiotensin II ↑ Sekresi hormone ADH rasa haus Stimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal Urin sedikit → pekat & ↑osmolaritas ↓ Ekskresi NaCl (garam) dengan mereabsorpsinya di tubulus ginjal Mengentalkan ↑ Konsentrasi NaCl di pembuluh darah . yang menyebabkan vasokonstriksi.medulla adrenal mensekresi epinefrin. kelenjar adrenal juga terangsang. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal. Individu dengan hipertesi sangat sensitif terhadap norepinefrin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. Semua keadaan ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal. menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis. yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer. yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Konsekuensinya.

6 Komplikasi Hipertensi Tabel 3.5 Diagnosis Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi: 1. Sebagai akibatnya terjadi hipertrofiventrikel kiri untuk meningkatkan kontraksi. Untuk memastikan adanya hipertensi. 3. Pemeriksaan laboratorium berupa urinalisa untuk mengetahui adanya protein. pielogram intravena arteriogram renal.1.3. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan tekanan darah dengan manset dan pemeriksaan mata bagian retina. Komplikasi Hipertensi Sistem organ hipertensi Komplikasi hipertensi Jantung Gagal jantung kongestif Sistem saraf pusat Angina pektoris Infark miokard Enselopati hipertensif Ginjal Gagal ginjal kronis Mata Retinopati hipertensif Pembuluh darah perifer Penyakit pembuluh darah perifer Penyakit Jantung Hipertensi Peningkatan tekanan darah secara sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah dai ventrikel kiri.1. dan pemeriksaan fungsi ginjal terpisah. Hal ini berarti hiertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. Pemeriksaan penunjang seperti EKG untuk mengetahui hipertrofi ventrikel kiri. sehingga beban jantung bertambah. dan glukosa dalam urin. Pemeriksaan foto dada dan CT scan mungkin diperlukan. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. selain penentuan tekanann arteri. Pemeriksaan renogram. 2. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. darah. Hipertrofi ini ditandai dengan ketebalan . diperlukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan bila perlu dilakukan pemeriksaan penunjang.

dinding yang bertambah. Anemia hemolitik. Contoh. atau sistem renin angiotensin aldosteron (RAA). fungsi ruang yang memburuk.1. Angina pektoris juga dapat terjadi juga karena gabungan penyakitarterial koroner yang cepat dan kebutuhan oksigen miokard yang bertambah akibat penambahan massa miokard. sakit kepala.dan Hipoglikemia (pada penderita diabetes mellitus) atenolol Vasodilator Parosin dan hidralasin Sakit kepala dan pusing Penghambat Kaptopril l Batuk kering.dan Efek Samping Obat Antihipertensi Jenis Contoh Efek samping Diuretik Hidroklorotiazid Hipokalemia.Terapi nonfarmakologis terdiri dari :  Menghentikan merokok  Menurunkan berat badan berlebih  Menurunkan konsumsi alcohol berlebih  Latihan fisik  Menurunkan asupan garam  Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak Jenis ± jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan JNC 7:  Diuretika. terutama jenis Thiazie (Thiaz) atau Aldosterone Antagonist (AldoAnt)  Beta Blocker (BB)  Calcium Channel Blocker atau Calcium Anatagonist (CCB)  Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)  Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist / blocker (ARB) Tabel 4. salah satunya pada bagian yang menuju ke kardiovaskular.7 Penatalaksanaan Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologis dan farmakologis. dan dilatasi ruang jantung.propanolol. dan simpatetik reserpin hepatitis kronis (kadang2) Betabloker Metoprolol.muntah. Mekanisme terjadinya hipertensi pada gagal ginjal kronik oleh karena penimbunan garam dan air.pusing Penghambat Metildopa. lemas enzim konversi .hipourisemia. Terapinonfarmakologis harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujianmenurunkan tekanan darah dan mengendalikan factor-faktor resiko serta penyakit penyerta lainnya.hiponateremia. klonidin. 3. Jenis. Jantung semakin terancam seiring parahnya aterosklerosis koroner.kekakuan otot. Gagal ginjal Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginja yang progesif dan irreversibel dari berbagai penyebab. gangguan fungsi hati. Akan tetapi kemampuan ventrikel untuk mempertahankan curah jantung dengan hipertrofi kompensasi akhirnya terlampaui dan terjadi dilatasi payah jantung.

pusing.angiotensin Antagonis Nifedipin. sakit kepala dan muntah kalsium verapamil Penghambat Valsartan Sakit kepala.pusing. dan Sembelit.diltiazem. Bagan Penatalaksanaan Hipertensi .lemas dan mual reseptor angiotensin II Bagan 2.

Infeksi dimulai saat kuman tuberkulosis berhasil berkembang biak dengan cara membelah diri di paru yang mengakibatkan radang dalam paru. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadi perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.2. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya.4 Patogenesis Tuberkulosis Infeksi primer Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman tuberkulosis. hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita tuberkulosis (Depkes RI. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1% mempunyai arti bahwa pada tiap tahunnya diantara 1000 penduduk. ada beberapa kuman menetap sebagai kuman persisten atau dormant (tidur).2 .2. dan ini disebut kompleks primer. Waktu terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4-6 minggu. Meskipun demikian. Sumber penularan adalah pasien TB paru BTA (+) saat batuk/bersin. Tuberkulosis paru disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Masa inkubasi mulai dari seseorang terinfeksi sampai menjadi sakit. Pada waktu batuk atau bersin. 10 orang akan terinfeksi. Kuman yang berada di dalam droplet dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam dan dapat menginfeksi individu lain bila terhirup ke dalam saluran nafas. Akibatnya dalam beberapa bulan yang bersangkutan akan menjadi pasien tuberkulosis. Kuman tuberkulosis yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah. Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan kuman. membutuhkan waktu sekitar 6 bulan (Depkes RI. sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus dan terus berjalan sampai ke alveolus dan menetap di sana. atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya 3. 2006). saluran pernafasan. Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak akan menderita tuberkulosis.3.2.2 Cara Penularan Sumber penularan adalah melalui pasien tuberkulosis paru BTA (+). 2006). . bakteri menyebar ke udara dalam bentuk droplet. 3.1 Definisi dan Etiologi Tuberkulosis adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menular. sebagian besar menyerang paru tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lainnya. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Pada umumnya respon daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman tuberkulosis. 3. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). TB Paru 3. Saluran limfe akan membawa kuman ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru. sistem saluran limfe.3 Risiko Penularan Risiko penularan tiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3 %.2.

foto dada sering didapatkan bermacam-macam bayangan sekaligus seperti infiltrat. Pada pasien TB paru gejala klinis utama adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih.5 Diagnosis Diagnosis klinis adalah diagnosis yang ditegakkan berdasarkan ada atau tidaknya gejala pada pasien. badan lemah. berat badan turun. Pada kalsifikasi bayangannya tampak sebagai bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Bila TB mengenai pleura. Lokasi lesi TB umumnya di daerah apex paru tetapi dapat juga mengenai lobus bawah atau daerah hilus menyerupai tumor paru. Sewaktu (SPS) . nafsu makan menurun. perkusi memberikan suara pekak. misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Pemeriksaan radiologis pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi TB. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang tegas dan disebut tuberkuloma. Bagan 2. pemeriksaan pertama pada keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia.Tuberkulosis pasca primer (post primary tuberculosis) Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer. kalsifikasi. Gambaran tuberkulosa milier terlihat berupa bercak-bercak halus yang umumnya tersebar merata pada seluruh lapangan paru. seperti pada kasus TB anak-anak dan TB milier yang pada pemeriksaan sputumnya hampir selalu negatif. gambaran radiologinya berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan batas-batas yang tidak tegas. kavitas maupun atelektasis dan emfisema. garis-garis fibrotik. Pagi. berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan dan demam/meriang lebih dari sebulan. Pada pemeriksaan fisik pasien sering tidak menunjukkan suatu kelainan terutama pada kasus-kasus dini atau yang sudah terinfiltrasi secara asimtomatik. Pada TB paru lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot interkostal. Dalam penampilan klinis TB sering asimtomatik dan penyakit baru dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau uji tuberkulin yang positif. badan kurus atau berat badan menurun. rasa kurang enak badan (malaise). Pada pemeriksaan fisik. Gejala tambahan yang mungkin menyertai adalah batuk darah. auskultasi memberikan suara yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali. Pada TB yang sudah lanjut. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura (Depkes RI. 3. 2006).2. Pada awal penyakit saat lesi masih menyerupai sarang-sarang pneumonia. Alur Diagnosis Tersangka Penderita TB (suspek TB) Periksa Dahak Sewaktu. Dalam beberapa hal pemeriksaan ini lebih memberikan keuntungan. sesak nafas dan rasa nyeri dada. Pada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas dengan penciutan yang dapat terjadi pada sebagian atau satu lobus maupun pada satu bagian paru. sering terbentuk efusi pleura sehingga paru yang sakit akan terlihat tertinggal dalam pernapasan. suhu demam (subfebris).

Di sini peran antibodi humoral masih menonjol.  Indurasi > 15 mm : Mantoux positif kuat = golongan hypersensitivity.  Indurasi 10-15 mm : Mantoux positif = golongan low grade sensitivity. gama globulin meningkat. Pasien dengan sputum BTA positif adalah pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis ditemukan BTA. Di sini peran kedua antibodi seimbang. Bila penyakit mulai sembuh. Dalam darah. pada saat TB baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan pergeseran hitung jenis ke kiri. Sedangkan pada dewasa tes tuberkulin hanya untuk menyatakan apakah seorang individu sedang atau pernah mengalami infeksi Mycobacterium tuberculosis atau Mycobacterium patogen lainnya. sekurang kurangnya pada 2 kali pemeriksaan/1 sediaan sputumnya positif disertai kelainan radiologis yang sesuai dengan gambaran TB aktif /1 sediaan sputumnya positif disertai biakan yang positif. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah (LED) mulai meningkat. Di sini peran antibodi humoral paling menonjol. Pasien dengan sputum BTA negatif adalah pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak ditemukan BTA sama sekali.  Indurasi 6-9 mm : Hasil meragukan = golongan normal sensitivity. dan kadar natrium darah menurun Pada tes tuberkulin. jumlah leukosit kembali ke normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Di sini peran antibodi seluler paling menonjol. tetapi pada biakannya positif. banyak dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis TB terutama pada anak-anak (balita). . LED mulai turun ke arah normal lagi. Berdasarkan indurasinya maka hasil tes mantoux dibagi dalam:  Indurasi 0-5 mm (diameternya) : Mantoux negatif = golongan no sensitivity. Hasil pemeriksaan darah lain juga didapatkan: anemia ringan dengan gambaran normokrom normositer.

kasus baru TB paru dahak negatif dengan 2 EHRZ (SHRZ) 4 HR kelainan luas di paru. Sedangkan komplikasi lanjut dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas. laringitis. dan sindrom gagal napas (sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB). Tabel 5. Mekanisme kerjanya adalah menghambat polimerase DNA-dependent ribonucleic acid (RNA) M. Streptomisin bakterisid obat ini adalah suatu antibiotik golongan (S) aminoglikosida dan bekerja mencegah pertumbuhan organisme ekstraselular. empiema. usus Poncet’s arthropathy. karsinoma paru. amiloidosis. Obat ini hanya diberikan dalam 2 bulan pertama pengobatan. kor pulmonal. Jenis Obat Anti Tuberkulosis Jenis OAT Sifat Keterangan Isoniazid (H) Bakterisid Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif. 2 EHRZ (SHRZ) 4 H 3 R3 kasus baru TB ekstra- . yaitu kuman yang Terkuat sedang berkembang. Mekanisme kerjanya adalah menghambat cell-wall biosynthesis pathway Rifampisin bakterisid Rifampisin dapat membunuh kuman semi- (R) dormant (persistent) yang tidak dapat dibunuh oleh Isoniazid.Komplikasi TB Paru Komplikasi TB paru antara lain dapat timbul pleuritis. Dosis Obat Berdasarkan Klasifikasi Tuberkulosis Kategori Paduan pengobatan TB alternatif pengobatan TB Pasien TB Fase awal Fase lanjutan (setiap hari / 3 x seminggu) I Kasus baru TB paru dahak 2 EHRZ (SHRZ) 6 HE positif. kerusakan parenkim paru. efusi pleura. Tuberculosis Pirazinamid bakterisid Pirazinamid dapat membunuh kuman yang (Z) berada dalam sel dengan suasana asam. Etambutol Bakteriostatik - (E) Tabel 6.

dahak positif. Dosis Obat Tuberkulosis Berdasarkan Berat Badan Berat badan Tahap Intensif tiap hari Tahap Lanjutan 3x seminggu selama 56 hari selama 16 minggu RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 4KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT > 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Tabel 8. 2 SHRZE / 1 HRZE 5 H3R3E3 pengobatan gagal. pulmonal berat II Kambuh. kasus baru TB ekstra-pulmonal yang 2 HRZ atau 2H3R3Z3 2 HR/4H tidak berat 2 HRZ atau 2H3R3Z3 2 H3R3/4H IV Kasus kronis (dahak masih TIDAK DIPERGUNAKAN positif setelah menjalankan pengobatan (merujuk ke penuntun WHO guna ulang) pemakaian obat lini kedua yang diawasi pada pusat-pusat spesialis) Tabel 7. Dosis Paduan OAT KDT Kategori II: 2(RHZE)S/(RHZE)/5(HR)3E3 Berat Tahap Intensif tiap hari Tahap Lanjutan3x seminggu RHZE (150/75/400/275) + Badan S RH (150/150) + E (400) Selama 58 hari Selama 28 hari Selama 2 Minggu 30 – 37 kg 2 tab 4KDT + 500mg 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 2 tab Etambutol . pengobatan setelah 2 SHRZE / 1 HRZE 5 HRE terputus III Kasus baru TB paru dahak 2 HRZ atau 6 HE negatif (selain dari 2H3R3Z3 kategori I).

Pasien  Membicarakan masalahnya kepada orang terdekat atau orang yang dipercaya. penyebab hipertensi pada pasien ini tidak diketahui. Dari hasil analisis kedokteran keluarga. Puskesmas Diharapkan dapat lebih sering melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan dalam usaha promotif dan preventif kesehatan masyarakat khususnya penyakit yang tergolong berat baik menular (tuberkulosis) maupun tidak menular (hipertensi). Saran 1. Keluarga Pemeriksaan BTA bagi seluruh keluarga terkait dengan tuberkulosis. Streptomisin inj 38 – 54 kg 3 tab 4KDT + 750mg 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 3 tab Etambutol Streptomisin inj 55 – 70 kg 4 tab 4KDT + 1000mg 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 4 tab Etambutol Streptomisin inj > 71 kg 5 tab 4KDT + 1000mg 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 5 tab Etambutol Streptomisin inj BAB IV Penutup Kesimpulan Diagnosis pada pasien ini adalah hipertensi derajat II.  Memeriksakan kesehatannya ke Puskesmas terdekat (Puskesmas Kutawaluya) untuk hipertensi dan cek BTA untuk mengetahui apakah ibu A menderita penyakit tuberkulosis. 3.  Tetap rajin mengontrol kesehatannya ke pelayanan kesehatan masyarakat terdekat. Keberhasilan dalam penatalaksanaan penyakit sangat bergantung pada motivasi dan perhatian keluarga terhadap penyakit pasien. Daftar Pustaka . sehingga mengurangi beban pikirannya. 2.  Berusaha untuk lebih memahami penyakit yang dideritanya.

A.jakarta. A. 3. 2007. Direktorat pengendalian penyakit tidak menular direktorat jendral PP&PL Departemen Kesehatan RI. 1. Jakarta : BPFKUI. 4.7.2006. Bahar. Edisi IV.24. Jakarta : BPFKUI.Pedoman teknis penemuan dan tatalaksana penyakit hipertensi. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.. 2.. Edisi IV. Zulkifli Amin. 995-1000. Lampiran . 988-994. 2007. Gunawan L.p. Bahar. Pengobatan Tuberkulosis Mutakhir dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.