You are on page 1of 6

JURNAL BIOLOGI PAPUA ISSN: 2086-3314

Volume 2, Nomor 1 April 2010
Halaman: 12-18

Kualitas Protein Ulat Sagu (Rhynchophorus bilineatus)

VITA PURNAMASARI*
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih, Jayapura–Papua

Diterima: tanggal 1 Nopember 2009 - Disetujui: tanggal 19 Maret 2010
© 2010 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih

ABSTRACT

Protein merupakan salah satu makronutrien penting bagi tubuh. Fungsinya sebagai zat pembangun dan
memelihara sel-sel dan jaringan tubuh, menyebabkan kekurangan protein akan berakibat serius bagi kesehatan.
Salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan protein adalah dengan pemanfaatan bahan pangan lokal. Ulat sagu
(Rhynchophorus papuanus) telah lama dikonsumsi oleh masyarakat asli Papua dan Maluku sebagai pelengkap (lauk)
bubur sagu (papeda) dan diketahui dari kandungan zat gizinya dapat berperan sebagai sumber protein. Penelitian
ini bertujuan mengetahui kualitas protein ulat sagu (Rhynchophorus papuanus). Ulat sagu dikembangbiakkan pada
media batang sagu dengan tiga varietas sagu masing-masing adalah Debet Embyam, Kutu blup, dan Kutu Mamakutu
(berdasarkan pengetahuan indigineus etnik Moy). Dilakukan analisis kimiawi untuk mengetahui kadar protein,
lemak, air, dan abu. Sedangkan kualitas protein ulat sagu ditentukan dengan penentuan NPR (net protein ratio) dan
penentuan nilai kimia asam amino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulat sagu mengadung protein dengan
kualitas cukup baik, yang diperlihatkan dengan nilai kimia asam amino ulat sagu, masing-masing yang
dikembangbiakkan pada Debet Embyam = 97,54%; Kutu blup = 80,77%; dan Kutu Mamakutu = 77,53% dengan asam
amino pembatas metionin. Sedangkan nilai NPRnya masing-masing 3,31; 3,16; dan 3,17. Tidak ada perbedaan
yang signifikan terhadap nilai NPR ketiga perlakuan tersebut.

Key words: Kualitas protein, ulat sagu, Maribu, Jayapura.

PENDAHULUAN 1990; Rumawas, 1990). Tetapi jika dilihat dari
kandungan nutriennya, dapat berperan sebagai
Sagu merupakan sumber karbohidrat sumber protein (Rumawas, 1990; Sediaoetomo,
penting bagi masyarakat Papua pada umumnya. 1993).
Berbagai jenis makanan dengan bahan baku sagu Sebagian besar masyarakat di Papua selain
telah lama dikenal. Namun, yang unik adalah mengambil pati sagu, sisa-sisa batang tanaman
selain menjadi sumber karbohidrat, sagu juga sagu dimanfaatkan untuk membudidayakan ulat
mampu menghasilkan sumber protein penting sagu. Ulat sagu ini oleh masyarakat Papua dan
lain yakni ulat sagu. Ulat sagu adalah larva Maluku pada umumnya dikonsumsi sebagai
kumbang sagu (Rhynchophorus sp.) yang pelengkap bubur sagu (papeda) (Haryanto &
sebenarnya adalah hama tanaman sagu (Harsanto, Pangloli, 1992). Pemanfaatan sisa-sisa pohon sagu
yang telah di tokok (diambil patinya) berperan
cukup besar dalam mengurangi limbah yang
dihasilkan. Masyarakat pada umumnya
*Alamat Korespondensi:
Laboratorium Jurusan Biologi FMIPA, Jln. Kamp memanfaatkan dan mengambil ulat sagu dari sisa
Wolker, Kampus Baru UNCEN–WAENA, Jayapura hasil olahan secara langsung di hutan.
Papua. 99358 Telp: +62967572115, email: Di Indonesia, penyebaran sagu cukup luas,
purnamasari.vita@yahoo.co.id. mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Riau,

Proten kasar 7. Moy di Maribu. Kabupaten Jayapura.8 45.1 Selanjutnya dibiarkan selama 7–10 hari sehingga (%) 4. PURNAMASARI. karena secara tradisional masyarakat membedakannya berdasarkan atas METODE PENELITIAN keberadaan duri tersebut. Debet daysiabu. 1996). Dengan demikian. Masa lundi (larva) akan 32. sagu yang digunakan diklasifikasikan menurut pengetahuan indigenous adalah jenis sagu yang berbeda dari ethnik Moy. Kualitas Protein Ulat Sagu 13 Kalimantan. Maluku dan Papua. Debet Kampung Maribu.2 berlangsung selama lebih kurang 3 – 4 bulan. Berat ulat sagu yang berukuran lebih kurang sebesar ibu jari atau digunakan rata-rata 6.2 54. (1977).3 Setelah kurang lebih 3 hari.8 (%) 15. Rerata 22. yaitu: Kutu yokali.0 20. Jawa Barat.7 Biasanya pemanenan dilakukan setelah larva Sumber : Moniaga (1980). panjang adalah Debet Embiam (V1)(sagu tidak berduri). Kutu Ulat sagu dikembangbiakan pada sisa-sisa menggeng. Bali. Debet Jayapura. sedangkan sagu yang Pemeliharaan Ulat Sagu berduri terdiri atas 6 jenis.2 juta hektar atau 55% sejalan dengan program pemerintah dalam usaha berada di Indonesia. .0 91. Debet Kluyo.0 14. Sulawesi Utara. Kabupaten embian bahley. Beberapa penelitian sebelumnya telah Depapre. terutama di Jayapura..3 63. Rerata 5.. potensi pengembangan Sulawesi Selatan. Distrik Depapre. dan Kutu blup. Pengelompokan ini digunakan di Papua. Jayapura. Debet banu. Sagu yang tidak berduri berduri). Di Maribu. 1992) dibagi sagu (Rhynchophorus bilineatus) yang berasal dari menjadi dua kelompok menurut ada tidaknya masyarakat asli Papua. Etnik Moy membagi jenis sagu pengelompokan sistem tradisional masyarakat berdasarkan atas ada tidaknya duri pada batang.2 pada batang sagu tersebut. yang diambil secara langsung di dijumpai 10 jenis. diketahui nilai nutrisi ulat sagu (Tabel 1). Kutu dundu. dan Debet srom. setelah memasuki larva instar ke-8. Debet embian.. dan lebar daun. jumlah daun. serta warna dan rasa sagunya Kutu Blup (V2) dan Kutu Mamakutu (V3)(sagu jenis (Renyaan et al. Nilai nutrisi ulat sagu. Pemeliharaan ulat sagu sekaligus sebagai sumber media pengembangan dilakukan langsung di Kampung Maribu. Kabupaten Jayapura yang merupakan salah satu pusat Pemilihan Varietas Sagu penghasil sagu ditemukan 16 jenis yang Dalam penelitian ini. Jenis-jenis tersebut pelepah dan tangkai daun. Debet yeblum. telur akan Lemak kasar 19.6 kumbang sagu betina akan meletakkan telurnya 3.2 menetas menjadi larva. yakni Debet Manangra. duri pada tangkai daun. Potongan sisa sagu yang tidak diambil Kandungan Hasil yang DM Basis sagunya (bagian dekat pucuk) dibelah menjadi didapat dua bagian atau dibuat lubang-lubang.. Sementara Papua memiliki perbaikan gizi termasuk di dalamnya luas wilayah dengan hutan sagu tertinggi di penganekaragaman sumber protein baik hewani Indonesia.33 gram.2 9. Kutu potongan pohon sagu dari 3 jenis yang telah swaplen. dari seluruh areal sagu di dunia sumber protein cukup baik di Papua. demisba. Kutu mamakutu. maupun nabati. Oleh karena itu perlu dilakukan Tumbuhan sagu sejati oleh Heyne penelitian mengenai kualitas protein dari ulat (Notohadiprawiro & Louhenapessy. Keragaman ini akan ditentukan berdasarkan atas nama daerah di menjadi kekayaan sumber plasma nutfah Kampung Maribu.2 juta diperkirakan 1. Perkembangan ulat sagu Tabel 1. distrik ulat sagu. Debet warni.8 13. Menurut ulat sagu dan prospek pemanfaatan sebagai Flach et al. Hal ini 2.

79 a (ransum protein ulat sagu) (ransum nonprotein) Lemak 55. Berat badan tikus ditimbang Embyam. Selanjutnya persen protein dihitung dengan Kemudian dibuat tabel (urutan). Komposisi Sumber ulat sagu Perhitungan NPR dilakukan dengan rumus : V1 V2 V3 Kenaikan bb tikus (g) + rata-rata penurunan berat (g) Protein 31.008 ulat sagu dengan jumlah asam amino esensial %N  gram contoh x 1000 tersebut pada pola referensi (Pola FAO 1973). Susunan kimiawi ulat sagu (dikeringkan yang diberi ransum non protein dibagi dengan pada suhu 700C). 1990. (Relative Net Protein Ratio). Persentase menghitung persentase perbandingan jumlah nitrogen dihitung dengan rumus: setiap asam amino esensial dari masing-masing (ml HCl contoh  ml HCl blanko) x100 x14. Asam amino esensial yang Soxhlet (Sudarmadji. Ransum yang diberikan adalah 3 jenis ulat sagu (3 kelompok). Perhitungan persen menunjukkan angka terendah disebut juga asam kadar lemak dilakukan dengan rumus : amino pembatas. Sudarmanto. 1984). yakni Debet Research Council). ransum menggunakan ANRC (Animal Nutrition Dari ketiga jenis sumber ulat sagu.59 a 34. Jumlah pertambahan berat badan tikus mempunyai kandungan protein yang berbeda.81 2.70 11. Asam amino rumus: esensial dengan dengan angka terendah untuk % protein  % N x 6.14 JURNAL BIOLOGI PAPUA 2(1) : 12-16 Pada saat pemanenan. NPR kasein 1990). 1 Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok non protein dan kelompok terakhir kandungan lemak ulat sagu mempunyai nilai diberikan ransum standar (kasein). Kutu blup.76 . dan Kutu Mamakutu setiap hari. Perhitingan RNPR dilakuakan dengan rumus Analisis Kimiawi Ulat Sagu NPR ulat sagu Penentuan kadar protein dilakukan dengan RNPR = ------------------------ metode Mikro Kjedahl (AOAC. Jumlah AAE sampel (mg/g) Nilai Kimia (%)= ----------------------------------------. Ulat sagu Kedua nilai NPR tersebut kemudian yang telah kering kemudian dihancurkan dengan dibandingakan untuk menentukan nilai RNPR cara di blender. dan kadar abu dengan cara ditentukan nilai kimianya dengan rumus : pengabuan (AOAC.25 ( faktor konversi) setiap jenis ulat sagu adalah Nilai Kimia protein Kadar lemak ditentukan dengan Metode ulat sagu.28 54. Jumlah dan jenis asam amino berat lemak ( g ) ditentukan menggunakan RP-HPLC (Reverse Kadar Lemak  X 100 Phase-High Performance Liquid Chromatho- berat sampel ( g ) graphi) dan spektrofotometer. Selisih jumlah titrasi sampel dan blanko Penentuan Nilai Kimia dilakukan dengan merupakan jumlah ekuivalen nitrogen.37 2.X 100 Analisis Kualitas Protein Jumlah AAE tsb dlm referensi (Pola FAO) Penentuan NPR (Net Protein Ratio) yang merupakan tes bioesai dilakukan menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus strain Winstar) HASIL DAN PEMBAHASAN sebagai hewan uji selama 10 hari.23 a 31. standar (kasein) dan penurunan berat badan tikus Tabel 2.03 NPR ulat sagu = ----------------------------------------------------------------------- Konsumsi protein ulat sagu (g) Air 11.26 54. Masing-masing Kadar air ditentukan dengan cara asam amino esensial dari setiap ulat sagu pemanasan.42 Abu 1.76 8. ulat sagu dibersihkan Kenaikan bb tikus (g) + rata-rata penurunan berat (g) (ransum protein kasein) (ransum nonprotein) dari sisa kotoran. jumlah protein yang dikonsumsi adalah nilai NPR. 1990). yang diberi ransum protein ulat sagu/protein tetapi tidak ada beda nyata diantara ketiganya. dan kemudian dikeringkan NPR kasein = ----------------------------------------------------------------------- dalam oven pada kondisi temperatur 700C hingga Konsumsi protein kasein (g) kering yang memakan waktu + 24 jam. Perhitungan tertinggi dibandingkan dengan protein (Tabel 2).

89 11. abu 2.13 3. Kandungan nutrien ulat sagu secara tidak langsung akan dipengaruhi oleh jumlah makanan yaitu tepung sagu yang dikonsumsi.00 0.00 0.00 mengembangbiakkan ulat sagu tersebut V1 1. Disamping itu.25%. disebabkan karena lemak akan digunakan sebagai energi cadangan pada saat ulat sagu memasuki fase pupa (kepompong). Sehingga tepung sagu by different sebagai sumber makanan bagi masing-masing ulat Ket: n = 3. ini kemungkinan karena (g) ketiga jenis sagu yang dipakai untuk Kaasein 2. Kualitas Protein Ulat Sagu 15 Serat 3. . (V1). Rata-rata pertambahan dan penurunan berat. 1991).83 yaitu bertepatan dengan mulai Non protein -2. Ulat sagu yang dikembang biakkan pada sagu Debet embyan Tabel 3.14 1.54%.66 11. Kutu Blup (V2). dan Kutu ransum yang dikonsumsi (g).45%.46 11.85 merupakan sumber makanan ulat sagu mencapai Karbohidrat 0.92 6. angka yang diikuti huruf yang sama berarti tidak ada beda saat itu kandungan tepung (aci) yang nyata pada taraf signifikansi 5%. Kandungan lemak yang tinggi pada ulat sagu. Kandungan protein kasar pada ulat sagu juga cukup tinggi.15 3.. tidak ada beda nyata pada taraf signifikansi 5%.55a 1.00 maksimal (Harsanto. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Istalaksana (1994).16a 0.47%.17a 0. dalam keadaan basah ulat sagu mengandung air 67. rata-rata 32.48 1. NPR dan RNPR.00 11. dikonsumsi (g) . dan lemak 18. protein juga dipakai untuk membentuk protein katalitik yakni hormon dan enzim yang diperlukan dalam proses metamorfosis. Nilai rata-rata NPR setiap perlakuan yang Gambar 1.10 dibentuknya primordia bunga. angka yang diikuti huruf yang sama berarti sagu akan tersedia dalam keadaan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi basah maupun kering (pengeringan pada suhu 700C) kandungan nutrien yang tinggi adalah lemak dan protein.93 V2 1. Hal ini didukung oleh Wingglesworth (1972).24 1.31a 0. ransum protein yang Mamakutu (V3)(Gambar tanpa skala).79 8. PURNAMASARI. Kandungan protein yang tinggi tersebut dapat dimengerti sebab protein dalam ulat sagu nanti akan digunakan untuk membentuk protein struktural yang diperlukan dalam pembentukan jaringan tubuh larva. Perlakuan Rata-rata Rata-rata Ransum NPR RNPR Hasil analisis dengan uji sidik pertambaha ransum protein ragam terhadap nilai rata-rata kadar n/penguran yang (g) gan berat dikonsumsi protein kasar tidak ada perbedaan badan tikus (g) signifikan.44 1. protein 11. yang menerangkan bahwa selama proses metamorfosis terjadi peningkatan produksi protein pada tubuh serangga.89 sama-sama telah mencapai umur panen V3 1.35%. Pada Ket: n = 3.12 3.14 3.

77a Metionin Sedangkan nilai NPRnya masing-masing 3.52 Valin 3.18 Hasil penelitian ini dapat disimpulkan Triptofan 0. ketiga perlakuan tersebut. Nilai kimia signifikansi 5% menunjukkan NPR standar menunjukkan derajat efesiensi membentuk maupun NPR protein ulat sagu (V1.54a Metionin Kutu blup = 80.77%. Untuk menentukan Nilai kimia ulat sagu Saran yang dikembangkan pada 3 varietas sagu Penelitian mengenai cara pengolahan ulat dilakukan perbandingan jumlah konsentrasi asam sagu sebagai bahan pangan berprotein yang baik amino (mg/g) dengan pola referensi FAO (1973). V3 77. protein kualitas tinggi.81 217.42 45. dan menarik perlu dilakukan agar dapat Hasil analisis dengan uji Sidik Ragam diketahui menambah keanekaragaman bahan pangan bahwa Nilai Kimia protein ulat sagu yang sumber protein.41 3.90 92. Hal ini ditunjukkan dengan yang hampir menyamai protein standar (kasein). yang sama dengan kualitas protein hewani lainnya.66 1. V2.44 3.50 130. asam amino esensial dalam pola referensi FAO Metionin.68 117. Menurut Artinya protein ulat sagu dapat dimanfaatkan Sediaoetama (1991) sumber protein hewani yang dalam mendukung pertumbuhan dan mempunyai Nilai Kimia 65 – 100 termasuk sumber pemeliharaan jaringan tubuh.53 Leusin 5. cukup tingginya Nilai Kimia ulat sagu. yang diperlihatkan dengan Perlakuan Nilai Kimia Asam amino Nilai Kimia ulat sagu.98 31. 8 diantaranya adalah protein ulat sagu sesuai dengan jumlah dan jenis asam amino esensial yaitu Isoeusin.11 98.53%.17 3.79 KESIMPULAN Lisin 6.60 80.24 4.04 126.43 70. tidak memperlihatkan perbedaan nyata (Tabel 3). Dari Nilai Kimia ulat sagu (Tabel 5) terlihat Hal tersebut menunjukkan bahwa ransum bahwa ulat sagu mempunyai kualitas protein yang mengandung ulat sagu mempunyai kualitas yang cukup baik .16.50 4.55 74.75 39.42 1.60 83.31 102. Leusin.53a Metionin 3. Threonin.12 32. V2 80. masing-masing yang pembatas diebangbiakkan pada Debet Embyam = 97. Fenilalanin.28 3. protein hewani yang berkualitas baik. dan 3. Tidak ada perbedaan yang Ket: n = 3.02 4. V2 dan V3) protein tubuh. Ulat sagu mengadung Tabel 5. (1973).77 4.57 143.05 88. Asam Macam ulat sagu Amino V1 V2 V3 Esensial % mg/g % mg/g % mg/g Isoleusin 3. Rata.17.32 164.37 39. Lisin. V1 97.29 3. dan V3) tidak berbeda nyata (Tabel 5) dengan .44 Kesimpulan Fenilalanin 2. Hal ini berarti jenis dan jumlah asam dan Triptofan (Tabel 4).74 1. amino esensial dalam protein ulat sagu dapat mencukupi kebutuhan tubuh untuk membentuk Tabel 4.31.37 136.55 103. Triptofan.16 JURNAL BIOLOGI PAPUA 2(1) : 12-16 dianalisis dengan uji Sidik Ragam pada taraf asam amino pembatas metionin. Valin.00 Metionin 1.79 110. pemeliharaan tubuh.07 berkualitas tinggi. Nilai kimia ulat sagu.85 5.rata konsentrasi AAE protein ulat protein yang diperlukan bagi pertumbuhan dan sagu (%) dan mg/g protein.45 bahwa ulat sagu mengandung protein yang Treonin 2.46 2.54%. Cukup Hasil analisis kandungan asam amino tingginya Nilai Kimia tersebut disebabkan jumlah menggunakan RP-HPLC dan spektrofotometer dan jenis asam amino esensial yang menyusun didapatkan 16 asam amino.92 2.84 2. dan Kutu Mamakutu = 77. angka yang diikuti huruf yang sama berarti tidak signifikan terhadap nilai NPR dan Nilai Kimia ada beda nyata pada taraf signifikansi 5%.08 161. dikembangkan pada tiga varietas sagu (V1.22 102.

The principle of insect physiology. Haryono. S. van R Jansen. P. Sifat – sifat dan kajian pemurnian minyak 307 – 339. AOAC. Official methods of analysis of AOAC Sediaoetama. Insect Physiology. Insect storage protein in Comprehensive Kanisius.G. Faperta Uncen.. Universitas Notohadiprawiro. 10 – 11 Wingglesworth. Laporan Penelitian.B. I di Irian Jaya. 1996. 16th Edition. Vol 1.J. Potensi dan pengolahan 7 July 1977.CHR. Kabupaten Jayapura. Yogyakarta. Sago symp. K (Ed. Universitas Cenderawasih. sagu. Seventh Edition. Yogyakarta. 1977. Jakarta..). Cnoops. PURNAMASARI. 1992. Kualitas Protein Ulat Sagu 17 DAFTAR PUSTAKA Depapre. English Language Book Society and Renyaan. Irian Jaya. Yogyakarta. 78. Budidaya dan Pengelolaan Sagu. Harsanto. 1992. Prosedur Flach. dan Suhardi. 1991. Yogyakarta. F. Contaminan. 1990. Dian Rakyat. 5 – Haryanto. & J. Ambon.J. dan Daniel Lantang. Desember 1991.A. Louhenapessy. Jilid 1.. FKIP. 1985. B. Herny E. 10: Istalaksana. Kucing. P. A. analisa untuk bahan makanan dan pertanian.E. sago 76. 77– seedling: preliminary investigation. Biochemistry and Pharmacology. Papers on the first int. 1984. Agriculture Chemical. F. Penerbit Kanisius. Penerbit Lavenbook.B. 1972. Budidaya Sagu dengan Catatan Khusus. 61. Edisi Tolerance to salinity and flooding of sagoo palm Ketiga. and G.. 1994. M. Penerbit Liberty. dan penganekaragaman bahan pangan pokok ditinjau Rumawas. Potensi sagu Cenderawasih. pp: 51–52. Simbala. Drugs. persyaratan lahan.. Thesis. Ilmu Gizi untuk Profesi dan International. B dan P. Pangloli.. 12–13 Oktober 1992. ulat sagu (Rhynchoporus papuanus). Porsiding Simposium Sagu Prosiding Seminar Pengembangan Sumber Daya Sagu Nasional. Studi Awal Identifikasi Jenis Sagu di Desa Maribu Kec. L. Chapman & Hall. p: 597. In:: Tan. Mahasiswa.. 1990. V. 1991. . Manokwari.D.. Jayapura. Sudarmadji. T. S.