You are on page 1of 15

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN THYPOID

DI RUANG RUFAIDA PUSKESMAS RAWAT INAP SELOMERTO

Disusun Oleh :

FATONAH

010215A022

PROGRAM SETUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDIWALUYO

JLN GEDONG SONGO CANDI REJO UNGARAN

2016

( Ngastiyah. basil diserap di usus halus. PATOFISIOLOGI Infeksi terjadi pada saluran cerna. (IPD. menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak Peyeri. C. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. ETIOLOGI Penyebab dari penyakit typhoid adalah bakteri Salmonella typhosa. Bakterri tersebut merupakan gram negatif tidak berspora. DEFINISI Typhoid adalah penyakit infeksi mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu. Salmonella paratyphi A. Salmonella paratyphi B dan Salmonella paratyphi C. LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN THYPOID A. antigen H dan antigen Vi. 2004).( Ngastiyah. gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran. 2003). 2003). mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen yaitu antigen O. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin. . Melalui pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai organ-organ terutama hati dan limpa. Kemudian basil masuk kembali ke dalam darah ( bakterimia ) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus. B. Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ-organ itu membesar disertai nyeri pada perabaan.

Ruam muncul pada hari 7-10 dan bertahan selama 2-3 hari 5. Mual. Demam turun pada minggu ke empat. stupor dan koma 4. muntah 9. Nyeri perut 7. Dapat timbul dengan gejala yang tidak tipikal terutama pada bayi muda sebagai penyakit demam akut dengan disertai syok dan hipotermia. Konstipasi 11. Batuk 14. (Sudoyo Aru. Nyeri otot 13. Demam meninggi sampai akhir minggu pertama 3. Delirium atau psikosis 22. Nyeri kepala 6. Meteroismus 20. Gejala pada anak : inkubasi anatara 5-40 hari dengan rata-rata 10-14 hari 2. Splenomegali 19. Diare 10.dkk 2009) . tepid an ujung merah serta tremor) 17. Gangguan mental berupa samnolen 21.D. Lidah yang berselaput (kotor ditengah. Pusing 12. Kemung 8. kecuali demam tidak tertangani akan menyebabkan shock. Hepatomegali 18. Bradikardi 16. MANIFESTASI KLINIS 1. Epistaksis 15.

nyeri perut. umur. pekerjaan. Pengkajian a. nomor register dan diagnosa medik. muntah. mual. diare serta penurunan kesadaran. Pengumpulan data 1) Identitas klien Meliputi nama. pusing kepala. tanggal masuk rumah sakit. anoreksia.E. PROSES KEPERAWATAN 1. jenis kelamin.. 3) Riwayat penyakit sekarang . PATHWAY Melalui pembulu limfe Makanan terkontaminasi Dinetralisasi asam Saluran cerna kuman salmonella lambung (usus) typhosa Darah Basil Hati dan Peredaran darah (bakteriema) limpa Seluruh tubuh khususnya kelenjar limfoid perdarahan Usus halus Tukak mukosa perforasi F. agama. alamat. 2) Keluhan utama Keluhan utama demam tifoid adalah panas atau demam yang tidak turun-turun. status perkawinan. suku/bangsa.

Klien dengan demam tifoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus. sehingga dapat meningkatkan kebutuhan cairan tubuh. 4) Riwayat penyakit dahulu Apakah sebelumnya pernah sakit demam tifoid. Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan. bagaimana koping mekanisme yang digunakan. 5) Riwayat penyakit keluarga Apakah keluarga pernah menderita hipertensi. b) Pola eliminasi Eliminasi alvi. Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke dalam tubuh. f) Pola sensori dan kognitif . Gangguan dalam beribadat karena klien tirah baring total dan lemah. 6) Riwayat psikososial dan spiritual Biasanya klien cemas. hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan. 7) Pola-pola fungsi kesehatan a) Pola nutrisi dan metabolisme Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual dan muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali. e) Pola persepsi dan konsep diri Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya dan ketakutan merupakan dampak psikologi klien. agar tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu. c) Pola aktivitas dan latihan Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total. d) Pola tidur dan istirahat Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu tubuh. Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama. diabetes melitus.

perabaan. bradikardi relatif. d) Sistem kardiovaskuler Terjadi penurunan tekanan darah. b) Tingkat kesadaran Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis). e) Sistem integumen Kulit kering. 8) Pemeriksaan fisik a) Keadaan umum Didapatkan klien tampak lemah. hemoglobin rendah. turgor kullit menurun. nafas cepat dan dalam dengan gambaran seperti bronchitis. Pada penciuman. i) Pola penanggulangan stress Biasanya klien sering melamun dan merasa sedih karena keadaan sakitnya. muka tampak pucat. rambut agak kusam f) Sistem gastrointestinal . suhu tubuh meningkat 38 – 410 C. h) Pola reproduksi dan seksual Gangguan pola ini terjadi pada klien yang sudah menikah karena harus dirawat di rumah sakit sedangkan yang belum menikah tidak mengalami gangguan. perasaan. j) Pola tatanilai dan kepercayaan Dalam hal beribadah biasanya terganggu karena bedrest total dan tidak boleh melakukan aktivitas karena penyakit yang dideritanya saat ini. c) Sistem respirasi Pernafasan rata-rata ada peningkatan. pendengaran dan penglihatan umumnya tidak mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu waham pad klien. g) Pola hubungan dan peran Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di rawat di rumah sakit dan klien harus bed rest total. muka kemerahan.

dan konstipasi. b) Pemeriksaan urine Didaparkan proteinuria ringan ( < 2 gr/liter) juga didapatkan peningkatan lekosit dalam urine. perut terasa tidak enak. terjadi gangguan absorbsi. c) Pemeriksaan tinja Didapatkan adanya lendir dan darah. Trombositopenia terjadi pada stadium panas yaitu pada minggu pertama. dicurigai akan bahaya perdarahan usus dan perforasi. g) Sistem muskuloskeletal Klien lemah. nyeri perut. h) Sistem abdomen Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak serta nyeri tekan pada abdomen. peristaltik usus meningkat. Bibir kering pecah-pecah. Limfositosis umumnya jumlah limfosit meningkat akibat rangsangan endotoksin. muntah. hambatan pembentukan darah dalam sumsum dan penghancuran sel darah merah dalam peredaran darah. Pada perkusi didapatkan perut kembung serta pada auskultasi peristaltik usus meningkat. Leukopenia dengan jumlah lekosit antara 3000 – 4000 /mm3 ditemukan pada fase demam. 9) Pemeriksaan penunjang a) Pemeriksaan darah tepi Didapatkan adanya anemi oleh karena intake makanan yang terbatas. d) Pemeriksaan bakteriologis Diagnosa pasti ditegakkan apabila ditemukan kuman salmonella dan biakan darah tinja. terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan. urine. mual. cairan empedu atau sumsum tulang. Adapun antibodi yang dihasilkan tubuh akibat infeksi kuman . mukosa mulut kering. Hal ini diakibatkan oleh penghancuran lekosit oleh endotoksin. e) Pemeriksaan serologis Yaitu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin ). Laju endap darah meningkat. anoreksia. lidah kotor (khas). Aneosinofilia yaitu hilangnya eosinofil dari darah tepi.

salmonella adalah antobodi O dan H. 2013). Pada pemeriksaan ulangan 1 atau 2 minggu kemudian menunjukkan diagnosa positif dari infeksi Salmonella typhi. 4. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan. Perencanaan Asuhan Keperawatan a. 5. Untuk perawat harus jeli dan memahami tentang standart keperawatan sebagai bahan perbandingan apakah keadaan kesehatan klien sesuai tidak dengan standart yang sudah ada. Apabila titer antibodi O adalah 1 : 20 atau lebih pada minggu pertama atau terjadi peningkatan titer antibodi yang progresif (lebih dari 4 kali). Gangguan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Data subyek adalah data yang diambil dari ungkapan klien atau keluarga klien sedangkan data obyek adalah data yang didapat dari suatu pengamatan atau pendapat yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan output berlebih. Diagnosa Keperawatan 1. 3. Analisa data Data yang sudah terkumpul dikelompokkan dan dianalisis untuk menentukan masalah klien. (Nanda. 3. Untuk mengelompokkan data ini dilihat dari jenis data yang meliputi data subyek dan dan data obyek. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan. 2. Gangguan eliminasi bowel: konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Data tersebut juga bisa diperoleh dari keadaan klien yang tidak sesuai dengan standart kriteria yang sudah ada. Rencana Tujuan 1. f) Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah ada kelainan atau komplikasi akibat demam tifoid. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh. 2004) 2. (IPD. Tujuan : . b.

Setelah diberikan tindakan keperawatan maka nyeri pasien dapat teratasi.Menunjukkan membran mukosa lembab dan turgor jaringan normal.Input dan output cairan elektrolit seimbang. Setelah diberikan tindakan keperawatan maka kebutuhan nutrisi dalam tubuh dapat terpenuhi. intensitas. Tujuan : . Gangguan eliminasi bowel: konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. mampu menggunakan teknik nonfarmokologi untuk mengurangi nyeri . Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri . Pasien menghabiskan 1 porsi makan rumah sakit. . Mempertahankan berat badan dalam kondisi normal. Pasien mampu mengontrol nyeri. frekuensi dan tanda nyeri) . Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri kerkurang 2. Mampu mengenali nyeri (skala. Setelah diberikan tindakan keperawatan maka kebutuhan cairan elektrolit terpenuhi. . . 3. Tujuan : .Nafsu makan meningkat. Tujuan : . Kriteria hasil : . Kriteria hasil : . Kriteria Hasil : . 4. . .Orang tua mengerti jenis makanan bagi anak typoid. Gangguan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan output berlebih.

2.Suhu tubuh pasien dalam batas normal (36-370C). Rasional : nyeri pasien berkurang dan pasien merasa nyaman. Kriteria hasil : . Intervensi : . frekuensi. . Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh. Catat output dan input cairan. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan output berlebih.Pola eliminasi dapat kembali normal. Setelah dilakukan tindakan keperawatan maka gangguan eliminasi dapat teratasi. Ajurkan pasien untuk banyak minum. . 5. b. . Rasional : pasien dapat mengurangi nyeri secara mandiri melalui metode yang diajarkan perawat. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian obat analgetik. Intervensi : . karateristik. . Rasional : Untuk mengetahui derajat kekurangan cairan. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan maka rasa nyaman kembali terpenuhi. Rasional : untuk manajemen nyeri pasien. . kualitas dan factor presipitasi. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan. Kriteria hasil : . Tujuan : . Rencana Tindakan dan Rasional Tindakan 1. . Ajarkan pasien untuk mengatasi nyeri secara nonformakologis. .Pasien mengatakan dirinya sudah merasa nyaman. Rasional : membantu memenuhi cairan tubuh.Feses tidak padat. durasi.

. Pertahankan oral hygien sebelum dan setelah makan. . 3. Anjurkan keluarga pasien untuk tidak menggunakan selimut tebal. Rasional : Membuka pori-pori memperlancar sekresi kreringat. . Lakukan enema/ levemen. . Sajikan makan secara menarik. Gangguan eliminasi bowel: konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Rasional : membantu mendorong peristaltik. Rasional : mengetahui perubahan suhu. Lakukan monitor TTV sebelum dan setelah kompres. . . Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh. Rasional : agar orang tua dapat mengerti apa pentingnya nutrisi. 4. larutan gula garam. Intervensi : . 5. Hindarkan makanan yang banyak asam lemak. Gangguan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. . Intervensi : . Rasional : Asam lemak memperlambat rangsang peristaltik. Rasional : Mengganti elektrolit yang terbuang. Ajarkan orangtua membuat larutan elektrolit pengganti. Anjurkan pasien untuk segera menanggapi respon bowel. . Anjurkan pasien untuk minum banyak sebelum makan. Rasional : menambah asupan nutrisi. Intervensi : . . Rasional : meningkatkan motivasi untuk makan. Lakukan kompres hangat. . Rasional : membantu mendorong nafsu makan. Rasional : untuk mencegah pengerasan feses. Beri PenKes tentang pentingnya nutrisi bagi anak typhoid. Beri porsi kecil tapi sering. Rasional : Untuk melunakan dan memudahkan keluarnya feses yang keras.

Rasional : menurunkan panas. 5. . Gangguan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Kolaborasi dengan tim medis pemberian antipiretik (paracetamol). Anjurkan keluarga pasien untuk memberikan pakaian yang tipis. Evaluasi : gangguan nutrisi teratasi. Evaluasi : balance cairan seimbang antara input dan output. . Rasional : memberikan respirasi pada kulit. Evaluasi : peristaltik usus meningkat. Gangguan eliminasi bowel: konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan output berlebih. Rasionaol : agar sirkulasi lancar. 2. 4. . Evaluasi : suhu tubuh menurun. 3. 4. Evaluasi Keperawatan 1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh. Evaluasi : nyeri pasien hilang. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan. sehingga tidak terjadi konstipasi.

Buku Ajaran Ilmu Penyakit Dalam.3. Perawatan Anak Sakit. Ngastiyah. Jakarta . Edisi keempat. 2004. Jilit 1. 2011. herry. NANDA. Persatuan Ahli Bedah Indonesia. Jilit 1. Internal Publishing. Gertrude K et al. 2013.2. 2003. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Kedua. DAFTAR PUSTAKA McFarland. Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC. Sudoyo Aru. Jakarta: EGC. 2009. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan diagnosa medis.

LAMPIRAN .