You are on page 1of 38

1

BAB I
PENDAHULUAN

Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan
meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang mengalami
pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien gawat, terapi
inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun. Pada prinsipnya dalam penatalaksanaan
anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra
anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan anestesi,
menentukan prognosis dan persiapan pada hari operasi. Sedangkan tahap penatalaksanaan
anestesi terdiri dari premedikasi, masa anestesi dan pemeliharaan, tahap pemulihan serta
perawatan pasca anestesi.
Anestesi spinal ialah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid
yang berisi cairan serebrospinal (CSF/ Cerebrospinal fluid).1,2 Lokasi prinsipal dari kerja
blok neuro-axial anestesi spinal adalah akar saraf.2
Amputasi adalah suatu tindakan pembedahan dengan membuang bagian tubuh.
Amputasi dapat terjadi oleh berbagai sebab, seperti trauma, kelainan bawaan, infeksi,
keganasan, gangguan vaskuler, dengan atau tanpa diabetes melitus.
Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti
sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sistem cardiovaskuler.
Labih lanjut ia dapat menimbulkan masalah psikologis bagi pasien atau keluarga berupa
penurunan citra diri dan penurunan produktifitas. Prevalensi dan insiden pasti amputasi
tidak diketahui. Di United States, sekitar 43.000 amputasi baru terjadi setiap tahun.
Kebanyakan terjadi karena penyakit vaskuler, dengan 90% melibatkan kaki. Sekitar 5%
merupakan amputasi partial foot dan ankle, 50% merupakan below knee amputation, 35%
merupakan above knee dan 7-10% merupakan amputasi pada Hip.
Makalah ini melaporkan seorang wanita, 90 tahun dengan rencana amputasi distal
pedis dekstra. Pada kunjungan pra anestesi pasien terpasang infus dan kondisi
hemodinamik stabil. Pasien dilakukan anestesi spinal dengan bupivacaine 0,5%
Hyperbarik. Setelah operasi pasien dipindahkan ke ICU. Hb post operasi 11,6 g/dl.

2

BAB II
LAPORAN KASUS DAN ANESTESI

2.1 IDENTITAS
Nama : Ny. R
Umur : 90 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
BB / TB : 50 Kg / 150 cm
Agama : Islam
Alamat : Beringin RT.17 Pasar Jambi
MRS : 28 Agustus 2017

2.2 ANAMNESIS dan PEMERIKSAAN FISIK
Riwayat Penyakit
A. Keluhan utama : Luka di kaki kanan
B. Riwayat penyakit sekarang : + 1 bulan SMRS os mengaku ibu jari kaki
kanannya bengkak, terdapat benjolan dan berisi cairan bening, tetapi os tidak
menyadari penyebab bengkak tersebut karena tidak merasa sakit. Awalnya
berukuran kecil dan os tidak berobat, benjolan berisi cairan tersebut pecah dan
os hanya membersihkannya sendiri dirumah. Kemudian luka tersebut tidak
sembuh-sembuh sampai sekarang. Makin lama makin membesar.
+ 1 minggu ini luka pada kaki kanan tersebut makin lama makin membesar,
warnanya merah kehitaman, mengeluarkan nanah, dan berbau. Luka tersebut
meluas sampai ke telapak dan ke punggung kaki kanannya. Pergelangan kaki
kanannya juga membengkak, merah kehitaman dan terdapat benjolan berisi
cairan bening di punggung kaki kanannya. Keluhan disertai demam (+) yang
tidak begitu tinggi, demam naik turun tidak sampai suhu normal.
Os mengaku sebelumnya mempunyai riwayat kencing manis sejak 4 tahun yang
lalu. Os mengaku tidak rutin mengkonsumsi obat dan tidak rutin kontrol.

3

Sebelum menderita penyakit kencing manis os mengaku sering lapar dan banyak
makan, sering haus, sering BAK lebih dari 3 kali dalam semalam, os sering
merasa cepat lelah dan berat badan menurun. BAB tidak ada keluhan, pandangan
kabur (-).

C. Riwayat penyakit dahulu :
 Riwayat hipertensi :-
 Riwayat Asma :-
 Riwayat DM : + (tidak teratur minum obat)
 Riwayat Batuk Lama :-
 Riwayat Operasi :-
 Riwayat Alergi Obat :-
 Riwayat Penyakit Lain :-
D. Riwayat kebiasaan :-
E. Pemeriksaan Fisik :
1. Tanda Vital
 Kesadaran : Compos mentis
 Suhu : 36,70C
 Tekanan Darah: 130/90 mmHg
 RR : 18 kali/menit
 Nadi : 78 kali/menit
2. Kepala : Normochepal
a. Mata : CA (-/-), SI (-/-), RC (+/+), pupil isokor
b. THT : Tidak ada kelainan
c. Leher : Pembesaran KGB (-)
3. Thorax
 Inspeksi : simetris, sikatriks (-), massa (-)
 Palpasi : krepitasi (-), nyeri tekan (-)
 Perkusi : redup (+/-)

6 SGOT 17 U/L <40 SGPT 18 U/L <41 Ureum 20 mg/dL 15-39 . gallop (-). hepar dan lien tidak teraba  Perkusi : timpani  Auskultasi : bising usus (+) normal 5.0 % 36.0 109/L 3. Ekstremitas : akral hangat (+). murmur (-)  Pulmo : Vesikuler (+/+). wheezing (-/-) 4. Genitalia : Tidak diperiksa 6.0 RBC 3. arteri poplitea dekstra (+). edema (-).4 g/dL 6. Darah rutin PARAMETER HASIL SATUAN NILAI NORMAL WBC 10.50 HCT 32. rhonki (+/-). gangren (+). pulsasi arteri dorsalis pedis dekstra (-).0-48. 4  Auskultasi :  Cor : BJ I-II reguler.0 Globulin 2. sensibilitas menurun.4 Albumin 3.1 g/dL 3.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium tanggal : 09 September 2017 a. sikatriks (-)  Palpasi : nyeri tekan (-).0 HGB 10.5-5. arteri femoralis dekstra (+). CRT < 2s Tampak daerah cruris dekstra kehitaman (+).0-16. kimia darah PARAMETER HASIL SATUAN NILAI NORMAL Protein total 5.91 1012/L 3.0-3.0 g/dL 11.4-8.5-10. 2.50-5. Abdomen :  Inspeksi : simetris.0 PLT 409 109/L 150-450 CT 4 Menit 2-6 BT 2 Menit 1-3 b.3 g/dL 3.

4.5 LAPORAN ANESTESI PASIEN a) Diagnosis pra-bedah : gangrene distal pedis dekstra b) Diagnosis post-bedah : gangrene distal pedis dekstra c) Jenis pembedahan : pro amputasi d) Jenis anestesi : Anestesi Spinal (intrathecal) . Pasien telah diberikan Informed Consent .5 sklerotik disertai dengan lesi litik distal palang 1.2.18 mmol/L 1.4 PRA ANESTESI  Penentuan Status Fisik ASA: 1 / 2 / 3 / 4 / 5  Mallampati: grade I  Persiapan Pra Anestesi: . c.23 Pemeriksaan EKG : sinus rhythm Pemeriksaan rontgen thoraks : Kesan TB paru dan efusi pleura kanan Pemeriksaan rontgen pedis dekstra : Kesan Osteoporosis pedis dekstra dengan distal palang 3. Pro amputasi .53 mmol/L 3.3 Klorida 100.4. Pemeriksaan elektrolit : PARAMETER HASIL SATUAN NILAI NORMAL Natrium 137. b. Surat persetujuan tindakan operasi .19-1.0 mg/dL 0. Lanjutkan terapi Sp. Puasa 6 jam pre op .39 mmol/L 98-110 Kalsium 1. a. Persiapan operasi : . Persiapkan PRC 1 kolf .3 GDS 210 mg/dL <200 c.3. 5 Kreatinin 1.36 mmol/L 135-148 Kalium 3.9-1.5-5.OT 2.5 2. d.

00 WIB Berat badan pasien : 50 Kg Durasi operasi : 40 menit Pasien puasa : 11 jam Terapi cairan  Maintenance = 2 cc/KgBB/jam = 2 cc x 50 Kg = 100 cc/jam  Pengganti puasa = puasa x maintenance = 11 jam x 100 cc/jam = 1100 cc  Stress operasi = 6 cc/KgBB/jam = 6 cc x 50 Kg = 300 cc/jam  EBV = 65 cc/KgBB = 65 cc x 50 Kg = 3250 cc  EBL = 10% x EBV = 10% x 3250 cc = 325 cc . Ondansentron 4 mg.15 WIB Operasi mulai : 13. dexametason 10 mg Induksi : Bupivacaine 15 mg Adjuvant : Morphin 0. 6 Premedikasi anestesi : Ranitidin 50 mg.20 WIB Operasi selesai : 14.1 mg Pemeliharaan anestesi : O2 Posisi : terlentang Infus : Ringer Laktat Status fisik : ASA II Induksi mulai : 13.

7 Jadwal pemberian cairan (lama operasi 40 menit) Jam I = ½ PP + SO + M = 550 + 300 + 100 = 950 cc 2. diberikan PRC 250cc dan NaCl 100 cc 13 : 45 113/81 80 20 99 14 : 00 100/70 90 22 92 6) Ruang Pemulihan 1. Keadaan Umum : Kesadaran: CM. GCS: 15 .15 WIB ke ruang ICU 2. nadi cepat 13 : 30 108/62 80 20 97 dan dangkal. Masuk Jam : 14.6 KEADAAN SELAMA OPERASI 1) Posisi Penderita : Terlentang 2) Penyulit waktu anestesi : tidak ada 3) Lama Anestesi : 45 menit 4) Jumlah Cairan Input : RL 1 Kolf  500 ml HES 1 kolf  500 ml NaCl  100 cc PRC  250 cc Total  1350 ml Output : ± 200 cc Perdarahan : ± 200 cc 5) Monitoring Jam TD Nadi RR SpO2 Keterangan 13: 15 131/90 78 21 93 RL 500cc + HES 500 cc Perdarahan ± 200 cc.

. kesadaran. IVFD RL (20 gtt/i) 2. Asam Traneksamat 3 x 500 mg IV 4. dr. Tanda vital : TD : 110/70 mmHg Nadi : 67 x/menit RR : 20 x/menit 4.OT. Ceftriaxon 1 x 2 gram IV 3. 8 3. dan perdarahan tiap 15 menit. M. Inj.Kes. Inj. Ranitidin 2 x 50 mg IV 5. Pernafasan : Baik 5. Debridement dengan NaCl . 1. Humaryanto Sp. Ketorolac 3 x 30 mg 6. Inj. Inj. NRM 8 lpm  Tirah baring menggunakan bantal 1 x 24 jam  Boleh makan dan minum secara bertahap bila tidak mual  Cek Hb post transfusi  Terapi selanjutnya disesuaikan dengan DR. posisi setengah duduk. Scoring Alderate: Aktifitas :1 Pernafasan :2 Warna Kulit :2 Sirkulasi :2 Kesadaran :2 Jumlah : 9 Instruksi Post Operasi:  Monitoring tanda-tanda vital.

1. Blok sentral meliputi blok spinal. 12 vertebra torakal.1 Pendahuluan Kata anestesia diperkenalkan oleh Oliver Wendell holmes yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara. epidural dan kaudal sedangkan blok perifer meliputi blok pleksus brakialis.2 Anatomi 1. dan lain- lainnya.3 Tindakan anastesia pertama kali dilakukan di dunia modern dan ditujukan untuk mengurangi rasa nyeri didepan publik oleh Williem T. analgesia regional intravena.3 3.G Morton (1819-1868) pada tahun 1846. karena pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. 5 vertebra lumbal.3 2. Tulang punggung terdiri atas 7 vertebra servikal. Garis lurus yang menghubungkan kedua krista iliaka tertinggi akan memotong prosesus spinosus vertebra L4 atau antara L4-5. Beliau mendemostrasikan penggunaan eter secara inhalasi untuk operasi vaskuler di daerah leher. Vertebra lumbal .3 Anestesi regional terdiri atas blok sentral (blok neuroaksial) dan perifer (blok saraf).1. Beliau adalah seorang dokter gigi yang menggunakan eter sebagai zat anestesi. 9 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3. aksiler. 5 vertebra sakral menyatu pada dewasa dan 4-5 vertebra koksigeal menyatu pada dewasa.1 Regional Anestesi 3.

dan pada bayi L3 dan sakus duralis berakhir setinggi S2. Medula spinalis Berada dalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinalis dibungkus meningen. Spinalis anterior dan a. Cairan serebrospinalis Cairan serebrospinalis merupakan ultrafiltrasi dari plasma yang berasal dari pleksus arteria koroidalis yang terletak di ventrikel 3-4 dan lateral. 4. Lapisan jaringan punggung Untuk mencapai cairan serebrospinalis. maka jarum suntik akan menembus     kulit subkutis lig. pada anak L2. Interspinosum lig. Flavum    ruang epidural duramater ruang subaraknoid 5. sedangkan yang di punggung sekitar 25-45 ml. Ketinggian segmental anatomik C3-C4 Klavikula T2 ruang interkostal anatomik T4-5 garis puting susu T7-9 arkus subkostalis T10 Umbilicus L1 daerah inguinal S1-4 Perineum 8. Ketinggian segmental refleks spinal T7-8 epigastrik T9-12 abdominal L1-2 kremaster . 6. Vertebra Lumbal 3. 10 Gambar 1. Cairan ini jernih tak berwarna mengisi subaraknoid dengan jumlah total 100-150 ml. Supraspinosum lig. Peredaran darah Medula spinalis diperdarahi oleh a. Spinalis posterior. Pada dewasa berakhir setinggi L1. 7.

subdural. pergelangan kaki S4-5 sfingter anus. Penampang sagital tulang belakang . Pembedahan Ketinggian kulit Tungkai bawah T12 Panggul T10 Uterus-vagina T10 Buli buli prostat T10 Testis ovarium T8 Intraabdomen bawah T6 Intraabdomen lain T4 3. refleks kejut 9.1 Pendahuluan Anestesi spinal (intratekal. subaraknoid) ialah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoi.2. 11 L2-4 lutut S1-2 plantar. intradural.2 Anestesi Spinal 3.3 Gambar 2.

2 Indikasi dari anestesi spinal ialah:1. Anestesi spinal pada bedah abdomen atas seperti gastrektomi sulit mencapai tingkat sensorik yang adekuat bagi kenyamanan pasien.2 Indikasi dan Kontraindikasi Blok neuro-axial boleh digunakan sendiri atau sebagai tambahan pada anestesi umum pada kebanyakan prosedur dibawah leher.2. 12 3.2 Kontraindikasi absolut  Pasien menolak   Infeksi pada tempat suntikan   Hipovolemia berat. sehingga teknik ini jarang digunakan  Bedah abdomen bawah   Bedah ekstremitas bawah   Bedah panggul   Tindakan sekitar rektum-perineum   Bedah obstetri-ginekologi   Bedah urogenital  1.2 Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatri biasanya dikombinasi dengan anestesi umum ringan. syok   Koagulopati atau mendapat terapi anti koagulan   Tekanan intrakranial meninggi (terutama massa intrakranial)  Stenosis aortik berat   Steniosis mitral berat   Fasilitas resusitasi minim   Kurang pengalaman/tanpa didampingi konsultan anestesi  Kontraindikasi relatif  Sepsis (Infeksi sistemik)   Pasien tidak kooperatif   Kelainan neurologis  .

nadi. dan EKG 2. Quinckebabock) atau jarum spinal dengan ujung pensil (pencil point.3 Peralatan Anestesi Spinal 1. 13  Lesi demielinisasi   Lesi katup jantung stenosis  Deformitas spinal berat atau nyeri punggung kronis  Obstruksi aliran keluar ventrikel kiri (kardiomiopati obstruktif hipertropik)  Infeksi disekitar tempat suntikan  Kelainan psikis  Penyakit jantung  Hipovolemia ringan 3. Jarum spinal Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bambu runcing. oksimetri denyut. Pemeriksaan fisik 3.2. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan misalnya kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan processus spinosus.2. Peralatan resusitasi/anestesi umum 3. Pemeriksaan penunjang 3. Peralatan monitor Tekanan darah.2 Persiapan Anestesi Spinal Pada dasarnya persiapan untuk anestesi spinal seperti persiapan pada anestesi umum. Informed consent 2. whitecare) . Selain itu perlu diperhatikan:3 1.

23 G atau 25G dapat langsung digunakan. Jarum spinal 3.4 Teknik Anestesi Spinal Posisi yang paling sering dikerjakan adalah posisi tidur lateral dekubitus atau duduk dengan tusukan pada garis tengah. Tusukkan introducer sedalam kira-kira 2 cm agak sedikit ke sefal. Sedangkan untuk yang kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan introducer yaitu jarum suntik biasa semprit 10 ml. Jika menggunakan jarum tajam (Quincke-Babbock) irisan jarum (bevel) harus sejajar . kemudian masukkan jarum spinal beserta mandrinnya ke lubang jarum tersebut. L4-5. 14 Gambar 3. 3. tidurkan pasien atau duduk kemudian pasien dibuat bungkuk maksimal agar prosesus spinosus mudah teraba. Tusukan pada L1-2 atau diatasnya beresiko trauma terhadap medula spinalis.3 1. Tentukan tempat tusukan misalnya L2-3. Sterilkan tempat tusukan dengan alkohol atau betadine 4. Setelah dimonitor. 5. Tentukan L4 dan L5 dengan membayangkan perpotongan garis yang menghubungkan krista iliaka tertinggi dengan tulang punggung. L3-4. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3 ml. Untuk jarum spinal besar 22 G. 2.2. Cara tusukan median atau paramedian.

Jarak kulit-ligamentum flavum dewasa sekitar 6 cm. Jika sudah yakin putar arah jarum 90 derajat biasanya likuor keluar. Anestetik lokal dengan berat jenis lebih besar dari CSS disebut hiperbarik. 15 dengan duramaater yaitu pada posisi tidur miring bevel mengarah ke atas atau ke bawah. mandrin jarum spinal dicabut dan keluar likuor. Dosis anestetik lokal1 Anestetik Lokal Berat Jenis Sifat Dosis Lidokain 2% plain 1006 Isobarik 20-100 mg (2-5 ml) 5% dalam Dekstrosa 7. Dosis dan volum anestetik lokal (kecuali isobarik) . Untuk anestesi spinal kontinyu dapat dimasukkan kateter.3 Anestetik lokal yang sering digunakan adalah hiperbarik diperoleh dengan mencampur anestetik lokal dengan dekstrosa. Faktor utama a.5ml/detik). Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah hemoroid dengan anestetik hiperbarik. Berat jenis anestetik lokal b. Anestetik lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut isobarik.5% 1033 Hiperbarik 20-50 mg (1-2 ml) Bupivakan (markain) 0.5 Anestesi Lokal untuk Anestesi Spinal Berat jenis cairan serebrospinal pada suhu 370C ialah 1003-1008.3 Tabel 1. Setelah resistensi menghilang. untuk menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. diselingi aspirasi sedikit hanya untuk memastikan posisi jarum tetap baik.5% dalam air 1005 Isobari 5-20 mg (1-4 ml) 0.5% dalam Dekstrosa 8. pasang semprit berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0. Anestetik lokal dengan berat jenis lebih kecil dari CSS disebut hipobarik.25% 1027 Hiperbarik 5-15 mg (1-3 ml) Penyebaran anestetik lokal tergantung:3 1. 6.2. 3. Posisi pasien (kecuali isobarik) c.

Nyeri punggung 3. Faktor tambahan a. Trauma pembuluh darah 5.6 Komplikasi 1. Retensio urin 5. Kecepatan suntikan c. Meningitis .3 3. Lama kerja anestetik lokal tergantung pada jenis anestetik lokal. Ukuran jarum d.2. Bradikardi 3. Ketinggian suntikan b. Nyeri kepala karena kebocoran likuor 4. Trauma saraf 6. ada tidaknya vasokonstriktor dan besarnya penyebaran anestetik lokal. 16 2. Blok spinal tinggi atau spinal total Komplikasi pasca tindakan:3 1. Gangguan pendengaran 8. besarnya dosis. Hipoventilasi 4. Keadaan fisik pasien e. Tekanan intraabdominal f. Nyeri tempat suntikan 2. Hipotensi berat 2. Mual-muntah 7.

3.4.5:1 pada deformitas kongenital.3:1 pada tumor.3. Perbandingan antara pria dan wanita adalah 2. dan hip disarticulation 2%. knee disarticulation1%. Distribusi dari amputasi bawah lutut berdasarkan tingkatan Syme. tumor 5%. 1. arteriosklerosis dan buerger’s dissease. Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Kebanyakan amputasi karena penyakit terjadi pada usia 61-70 tahun.1:1 pada penyakit.3 Amputasi 3.4 3. dan deformitas kongenital 3%. 90% melibatkan ekstremitas inferior. trauma berkisar pada usia 21-30 tahun. Mereka menemukan 70% dari amputasi disebabkan oleh penyakit infeksi dan vaskuler. 7. b. Didapat (95%). 5% partial foot and ankle .5 3. terdiri dari: .2.2. Penyakit oklusi arterial (occlusive arterial dissease) (60%) Penyakit vaskuler yang berhubungan dengan amputasi yaitu diabetes mellitus.3. 35%. Perbandingan antara amputasi ekstremitas bawah dan atas adalah 11:1.3.3 Etiologi Secara umum penyebab dari amputasi dibedakan menjadi : a.2 Epidemiologi Survei Kayne dan Newman didapatkan 5830 amputasi baru yang disebabkan oleh berbagai sebab. transtibial 9%. Insidensi kasus ini terjadi pada usia 60- 70 tahun. dan 1. 3%. Defek lahir kongenital (5%) Mayoritas tampak pada usia lahir sampai 16 tahun. 17 3.1 Definisi Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan sebagai pancung.2:1 pada trauma. trauma 22%. dan kasus tumor berkisar pada usia 11-20 tahun. transfemoral.

Trauma (30%) Mayoritas pada usia 17-55 tahun dan sekitar 71% lebih sering pada pria. pada masa sekarang kasus neoplastik dapat dilakukan terapi awal dengan kemoterapi dan radioterapi.5. Amputasi Selektif (Terencana) Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus. 35% above knee amputation. Meskipun begitu.4 Klasifikasi Klasifikasi amputasi berdasarkan perencanaan : a. Trauma dari ekstremitas yang melibatkan kerusakan pada vaskuler atau saraf dapat membuat ekstremitas secara permanen menurun secara fungsional dan membahayakan jiwa pasien. Amputasi Akibat Trauma Amputasi akibat trauma merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. Kegiatan medis dilakukan hanya untuk memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum pasien. b. untuk kasus neoplastik stadium lanjut juga membutuhkan tindakan amputasi namun bersifat segmental untuk menyelamatkan nyawa dan ekstremitas pasien.4.6 3. Tumor (5%) Umumnya kasus terjadi pada usia 10-20 tahun. . Sehingga amputasi merupakan pilihan terbaik untuk menyelamatkan anggota tubuh dan jiwa pasien secara keseluruhan. dan 7- 10% hip amputation. biasanya dilakukan amputasi dari bagian proksimal sampai ke lesi neoplastik. . Pada masa lalu dimana untuk menanggulangi kasus keganasan pada ekstremitas.3. Lebih banyak mengenai ekstremitas inferior daripada ekstremitas superior dengan rasio 10 : 1. 18 amputation. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir. . Namun. 50% below knee amputation.

Sampai saat ini. kelainan bawaan. kecelakaan kendaraan bermotor. radiasi dan kemoterapi. Amputasi jarang dilakukan karena infeksi. thermal injury seperti terbakar. amputasi sering dilakukan karena kelainan pembuluh darah sedangkan karena trauma jarang dilakukan amputasi. amputasi primer setelah cedera makin jarang dilakukan. Amputasi Darurat Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim medis. 19 c. Pada orangtua. cedera dan tumor ganas. Biasanya pada orang tua yang mengalami arterosklerosis dan diabetes melitus. Umumnya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multipel dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas. kecuali luka akibat perang misalnya terkena ranjau. prostesis tangan untuk mengganti faal tangan masih mengecewakan.3. atau pada tumor maligna.5 Indikasi amputasi Indikasi amputasi ialah kelainan ekstremitas yang disebabkan oleh penyakit pembuluh darah. . infeksi. Trauma amputasi Bisa diakibatkan karena perang. Iskemia Iskemia karena penyakit vaskularisasi perifer yang tidak adekuat sehingga menimbulkan matinya jaringan. atau kelainan neurologik seperti paralisis dan anestesia.3 Indikasi pelaksanaan amputasi adalah : a. Amputasi atas indikasi tumor ganas jaringan lunak atau tulang merupakan salah satu langkah penanggulangan yang biasanya terdiri atas pembedahan. Oleh karena kemajuan ilmu bedah vaskuler dan teknik bedah osteosintesis.4 3. Amputasi tangan atau lengan hanya dilakukan bila taraf trauma adalah berat dengan cedera saraf. b. gangguan metabolisme seperti pagets dissease dan kelainan kongenital.

20 c. e. dan persiapan untuk penggunaan protesis (jika mungkin).6 Metode Amputasi dilakukan sebagian kecil sampai dengan sebagian besar dari tubuh. Mempertahankan perfusi jaringan. dan dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama b.4. maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi dan mencegah kontraktur. metodenya benar-benar terbuka dan dipasang drainase untuk membersihkan. d.5. maka dilakukan amputasi.5 3. Keganasan Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif. Gas gangren Keadaan nyeri akut dimana otot dan jaringan subkutan menjadi terisi dengan gas dan cairan eksudat. f. dan luka dapat ditutup setelah tidak terinfeksi. Hal ini disebabkan infeksi luka oleh bakteri anaerob.3. Kehancuran jaringan kulit massif yang tidak mungkin diperbaiki. Dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana kulit dibuat dengan memotong kurang lebih 5 cm dibawah potongan otot dan tulang untuk menutupi luka amputasi.4. Metode terbuka (guillotine amputasi) Metode ini digunakan pada pasien yang mengalami infeksi pada ekstremitasnya. Osteomielitis Peradangan pada tulang (bisa menyebabkan kelumpuhan) dan bisa juga terjadi assending infection. Setelah dilakukan tindakan pemotongan. Bila keadaan peradangan pada tulang menjadi parah dan mengancam ekstremitas. dengan dua metode : a.3. seperti clostridium.7 . Metode tertutup (flap amputasi) Pada metode ini kulit tepi ditarik ke atas ujung tulang dan dijahit pada daerah yang diamputasi.

Amputasi terbuka dikerjakan pada luka kotor seperti luka perang atau infeksi berat. kecuali apabila dilakukan atas indikasi obstruksi pembuluh nadi. Pembedahan dilakukan secara terbuka atau tertutup. Luka dibiarkan terbuka sampai infeksi teratasi. Batas amputasi ekstremitas inferior 3. 21 Gambar 4. kemudian baru dikerjakan reamputasi. antara lain terbentuknya gas gangren. sedangkan otot dipotong sedikit proksimal dan sayatan dari kulit dan tulang digergaji sedikit proksimal dari otot. .7 Pembedahan Pembedahan dilakukan dalam lingkungan bebas darah. pada cara ini sayatan kulit dibuat secara sirkuler.3. dengan menggunakan turniket.

1 Etiologi 11.13 • Perdarahan (syok hemoragik). otot mendapat insersi kembali dan dapat berkontraksi sehingga tidak menjadi hipertrofi. Biasanya otot difiksasi pada ujung tulang dengan teknik miodesis atau dijahit disekitar ujung tulang secara mioplastik. iskemia tungkai kritis akan berkembang pada sisa ekstremitas dalam 18-28% dalam kurun waktu 2 tahun amputasi.4 3.2. ketahanan hidup 5 tahun untuk osteogenic sarkoma adalah kurang dari 20% tapi bertahan hidup 3 tahun telah ditingkatkan menjadi 60-85%.50% dan 70% setelah 5. Saraf akan dipotong cukup tinggi agar ujungnya menarik diri kedalam jaringan supaya neuroma yang akan terbentuk pada ujungnya terletak cukup terlindung dari tekanan sehingga tidak mengganggu. 22 Pada amputasi tertutup dibuat flap kulit (kulit penutup) yang direncanakan luas dan bentuknya secara teliti untuk memperoleh kulit penutup ujung puntung yang baik dengan lokasi bekas pembedahan diluar tempat pembebanan prostesis yang akan dipasang.4 Syok Hipovolemik 3.4. .3. Faktor resiko meliputi rokok. tetapi juga menderita neuropati sensorik menuju ulserasi. Kematian ini terutama disebabkan oleh komorbiditas penyakit jantung dan otak. Dengan demikian. Laporan lainnya tingkat kematian 30%. Bila fungsi otot baik. masing masing pada mereka dengan ekstremitas kritis iskemia.10 dan 15 tahun. sedangkan kelangsungan hidup 5 tahun untuk amputasi diabetes hanya 39%. Penderita diabetes tidak hanya mengalami gangguan vaskuler. Otot. diabetes dan hipertensi.2. dengan perbaikan hidup untuk sarkoma tulang dan jaringan lunak lainnya. Pada tahun 1960. Dari pasien yang selamat. pembuluh darah dan saraf dipotong pada batas tersendiri. peredaran darah di puntung juga membaik.8 Prognosis Kelangsungan hidup 5 tahun untuk amputasi non diabetic hampir normal sekitar 75%.4 3. misalnya taruma.

Secara klinis syok hipovolemik ditandai oleh volume cairan intra vaskular yang berkurang bersama-sama penurunan tekanan vena sentral. Gejala yang ditimbulkan bergantung pada tingkat kegawatan syok. Perkiraan Kehilangan Cairan dan Darah Berdasarkan Presentasi Penderita Semula Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Kehilangan Sampai 750 750-1500 1500-200 >2000 darah (mL) Kehilangan Sampai 15% 15%-30% 30%-40% >40% darah (% volume darah) Denyut nadi < 100 >100 >120 >140 Tekanan Normal Normal Menurun Menurun darah Tekanan Normal atau Menurun Menurun Menurun nadi naik (mmHg) Frekuensi 14-20 20-30 30-40 >35 pernafasan Produksi >30 20-30 5-15 Tidak urin berarti (mL/jam) CNS/status Sedikit cemas Agak cemas Cemas. hipotensi arterial. Bingung. 23 • Kehilangan plasma.14 Tabel 2. 12. misalnya luka bakar.2 Patogenesis dan Patofisiologi Penyebab syok hipovolemik yang paling umum adalah perdarahan mukosa saluran cerna dan trauma berat. diare. peritonitis. 12. mungkin tekanan darah dan diuresis tidak banyak terganggu pada syok hipovolemik yang ringan. mental bingung lesu .14 Respon jantung yang umum adalah berupa takikardia. 3. respon ini dapat minimal pada orang tua atau karena pengaruh obat-obatan. dan peningkatan tahanan vaskular sistemik. misalnya muntah. • Kehilangan air dan elektrolit.4.

d. Suplemen oksigen aliran tinggi harus diberikan kepada semua pasien. flail chest) harus ditangani segera. meningkatkan saturasi oksigen darah.11.13 Perawatan pra rumah sakit: Tatalaksana pasien dengan syok hipovolemik sering dimulai di tempat kejadian atau di rumah.13. b. glukosa). BUN. pneumothorax. 3. kreatinin. Memaksimalkan hantaran oksigen. Jalan nafas harus dinilai segera saat pasien tiba dan distabilkan jika perlu. Cl. Golongan darah dan cross match.15 3. Kedalaman dan frekuensi nafas. dan memulihkan aliran darah. HCO3 . c. serta bunyi nafas harus dinilai. K. kadar elektrolit (misal Na. Mengendalikan kehilangan darah lebih lanjut. transpor pasien ke RS secepat mungkin dan mulai tatalaksana awal yang sesuai di tempat kejadian.4. dan dukungan ventilasi harus diberikan jika dibutuhkan. Jika ditemukan patologi yang mengganggu pernafasan (misal. dikerjakan dengan memastikan kecukupan ventilasi.14 1. hemothorax. Maksimalisasi hantaran oksigen. 2. Dua infus jaga dengan caliber besar harus dimulai. 24 Penggantian Kristaloid Kristaloid Kristaloid dan Kristaloid cairan darah dan darah (Hukum 3:1)  Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan awal harus mencakup hitung darah lengkap. Hukum Poiseulle menyatakan bahwa aliran berbanding terbalik dengan panjang kateter IV.3 Penatalaksanaan Perawatan di UGD: Tiga tujuan tatalaksana pasien syok hipovolemik di Unit Gawat Darurat adalah sebagai berikut: 11. dan berbanding . gas darah arteri dan urinalisis pada pasien dengan trauma). activated partial thromboplastin time. Resusitasi cairan a. Perawatan pra rumah sakit harus diupayakan mencegah trauma lebih lanjut. waktu protrombin.

Jika tanda vital kembali normal. kaliber jauh lebih bermakna daripada panjangnya. Sebagai contoh. h. dan golongan darah harus diperiksa dan diuji silang. Jenis cairan koloid antara lain darah. resusitasi cairan dimulai dengan kristaloid isotonik.tanda dan gejala dari perfusi yang tidak adekuat yang digunakan untuk mendiagnosis syok juga berguna untuk menetukan respon pasien. plasmanat) atau pengganti plasma (plasma substitutes). e. dan komponen darah (plasma beku segar. Produksi urin . kateter besar dan pendek adalah ideal. albumin. 25 langsung dengan panjang kateter IV.4. tekanan nadi. sayatan ke vena saphena atau vena lengan. f. ringer’s asetat. misal Ringer Lactate atau NaCl 0. plasma. NaCl hipertonik atau larutan garam berimbang seperti ringer’s laktat. g.4 Monitor Resusitasi Tanda. Jenis cairan kristaloid antara lain garam fisiologi (garam normal). Akses IV bisa dicapai melalui perkutan pada vena antecubiti. 3. dan denyut nadi merupakan tanda yang mendukung perfusi organ menjadi normal. Pemberian infus dengan cairan kristaloid atau koloid bertujuan untuk memulihkan curah jantung dan perfusi jaringan secepat mungkin. pasien harus dipantau untuk memastikan kestabilannya. dan berbanding langsung dengan radiusnya. atau akses ke vena sentral dengan teknik Seldinger technique. Posisi pasien bisa digunakan untuk memperbaiki sirkulasi. Jika digunakan akses vena sentral. Juga memutar pasien hamil yang hipotensif (dengan trauma) ke sisi kiri akan menggeser janin dari vena cava inferior sehingga dapat meningkatkan sirkulasi. infus kristaloid harus diteruskan dan koloid harus diberikan. harus digunakan kateter monolumen yang besar. Bolus awal 1-2 L diberikan pada dewasa (20 mL/Kg pada pasien anak). Jika respons sedikit atau tidak ada. posisi Trendelenburg meningkatkan aliran darah ke otak.9%. Jadi. Perbaikan CVP dan sirkulasi kulit merupakan bukti penting dari perfusi yang baik namun sulit diukur secara kuantitatif. Pulihnya tekanan darah. Segera setelah didapat akses.

Diuresis harus dipertahankan minimal 0. cairan hangat diberikan dengan tetesan cepat sebagai bolus. Asidosis yang parah dapat terjadi pada syok yang berkepanjangan atau syok berat. Pemasangan CVP harus diambil pada kasus yang sulit/ kompleks. dan pada bayi ( kurang 1 tahun) 2 ml/kg/jam. Jumlah cairan yang diperlukan untuk resusitasi sukar diramalkan pada awal evaluasi penderita. pengukuran curah jantung.5 ml/kg/jam pada orang dewasa. Jenis cairan ini mengisi intravascular dalam waktu singkat dan juga menstabilkan volume vascular dengan cara menggantikan kehilangan cairan berikutnya ke dalam ruang interstitial dan intraseluler.15  Diuresis Merupakan indeks aliran darah viseral yang baik terutama aliran darah ginjal. Dosis awal adalah 102 liter pada dewasa dan 20 mL/Kg pada anak. Terapi Awal Cairan Larutan elektrolit isotonic digunakan untuk resusitasi awal. NaCl fisiologis adalah pilihan kedua. sehingga memungkinkan . 1ml/kg/jam untuk anak-anak. Kemungkinan ini bertambah besar jika fungsi ginjalnya kurang baik. Pada saat awal. Larutan ringer laktat adalah cairan pilihan pertama. dan konsumsi oksigen. Asidosis yang persisten umunya disebabakan oleh resusitasi yang tidak memadai atau kehilangan darah yang berlanjut. Keberhasilan resusitasi juga dapat ditunjukkan dengan perbaikan tingkat kesadaran dan perfusi perifer. Alkalosis respiratorik seringakali diikuti oleh asidosis metabolic ringan pada fase awal syok dan tidak membutuhkan terapi. 26 merupakan salah satu monitor utama resusitasi dan respon pasien. Untuk itu umumnya digunakan indikator klinis termasuk AGD. Perhitungan kasar untuk jumlah total volume kristaloid yang secara akut diperlukan adalah mengganti setiap milliliter darah yang hilang dengan 3 ml cairan kristaloid.  Keseimbangan Asam/ Basa Pasien dalam syok hipovolemik dini akan mengalami alkalosis respiratorik karena takipnea. Walaupun NaCl fisiologis merupakan cairan pengganti yang baik namun cairan ini memiliki potensi untuk terjadinya asidosis hiperkhloremik.

bila tidak dimodifikasi dengan pemberian obat diuretik. Produksi urin yang normal pada umumnya menandakan aliran darah ginjal yang cukup. Transfusi Darah Pemberian darah tergantung respon penderita terhadap pemberian cairan.5 Jumlah produksi urin merupakan indicator yang cukup sensitif untuk perfusi ginjal. Respon Terhadap Pemberian Cairan Awal Respon cepat Respon sementara Tanpa respon Tanda vital Kembali ke Perbaikan Tetap abnormal normal sementara. Keadaan ini menuntut ditambah penggantian volume dan usaha diagnostik. Bila kurang. Perbaikan volume dapat dicapai dengan pemberian larutan kristaloid. Penggantian volume yang memadai seharusnya menghasilkan keluaran urin sekitar 0.Sedang. . Namun lebih penting untuk menilai respon penderita kepada resusitasi cairan dan bukti perfusi dan oksigenasi end-organ yang memadai. Tujuan utama transfusi darah adalah memperbaiki oxygen-carrying capacity. yang sekaligus akan memperbaiki volume intrstisial dan intraselular. 1 ml/kg/jam pada anak-anak dan 2 ml/kg/jam untuk bayi (dibawah umur 1 tahun). Sebab itu. tingkat kesadaran dan perfusi perifer.4. atau makin turunnya produksi urin dengan berat jenis yang naik. tensi dan nadi kembali turun Dugaan kehilangan Minimal (10%. Ini dikenal sebagai “hokum 3 untuk 1” (“3 for 1 rule”). maka ini menandakan resusitasi yang tidak cukup. masih ada Berat (>40%) darah 20%) (20%-40%) Kebutuhan kristaloid Sedikit Banyak Banyak Kebutuhan darah Sedikit Sedang-banyak Segera Persiapan darah Type specivic Type specific Emergenci dan crossmatch Operasi Mungkin Sangat mungkin Hampir pasti Kehadiran dini ahli Perlu Perlu Perlu bedah a. keluaran urin merupakan salah satu dari pemantau utama resusitasi dan respon penderita.3 Tabel 3. misalnya keluar urin. 27 restitusi volume plasma yang hilang ke dalam ruang interstisial dan intraseluler.5 ml/kg/jam pada orang dewasa.

5 . yang melaksanakan fungsi hemodinamika hamper tepat dengan plasma. Pengobatan harus mencakup transfuse darah lengkap. Agar tetap berada di sirkulasi. tetapi manusia biasanya dapat bertahan pada penurunan hematokrit sampai kira- kira sepertiga normal sebelum menimbulkan akibat serius jika curah jantung mencukupi. Plasma tidak dapat memulihkan hematokrit normal. Dekstran dengan besar molekul yang sesuai tidak dapat melewati pori kapilr dank arena itu dapat menggantikan protein plasma sebagai bahan osmotik koloid. Telah diamati beberapa reaksi toksik ketika dekstran dipakai untuk menyediakan tekanan osmotic koloid. pengganti plasma harus mengandug bahan yang mempunyai ukuran molekul cukup besar untuk mendesak tekanan osmotik koloid. Karena larutan dari bahan ini telah terbukti menjadi pengganti plasma yang memuaskan pada terapi penggantian banyak cairan. Syarat utama suatu pengganti plasma yang benar-benar efektif adalah yang tetap tinggal di system sirkulasi yaitu tidak tersaring melalui pori-pori kapiler ke dalam ruang jaringan. 28 Yang lebih baik ialah darah yang sepenuhnya crossmatched. Namun.4. Salah satunya adalah larutan dekstran. plasma biasanya dapat menggantikan darah lengkap karena plasma meningkatkan volume darah dan mengembalikan hemodinamika normal. Bakteri tertentu mengeluarkan dekstran sebagai produk tambahan dari pertumbuhan mereka. suatu polimer polisakarida glukosa yang besar. cukup beralasan untuk menggunakan plasma dalam menggantikan darah lengkap guna mengobati syok hemoragik. darah lengkap tidak selalu tesedia. Karena itu. Sejauh ini bahan yang paling memuaskan untuk tujuan tersebut adalah dekstram. dan dekstran yang dijual dibuat melalui prosedur biakan bakteri. Selain itu larutan tidak boleh toksik dan mengandung elektrolit yang tepat guna mencegah kekacauan elektrolit cairan ekstraselular pada waktu diberikan. pada keadaan akut. Dengan mengubah kondisi pertumbuhan bakteri. Kadang-kadang plasma juga tidak tersedia. proses crossmatching lengkap memerlukan sekitar 1 jam dihampir semua bank darah. berat molekul dekstran dapat dikendalikan sesuai kebutuhan. Dalam hal ini berbagai pengganti plasma telah dikembangkan.

warna kulit.5 . tepat. Perdarahan yang tidak kelihatan adalah penyebab paling umum dari respon buruk penderita terhadap terapi cairan. Penderita ini pada umumnya masuk dalam kategori respn sementara. Dengan menempatkan penderita dengan kepala 12 inci lebih rendah daripada kaki akan sangat membantu dalam meningkatkan alir balik vena dan dengan demikian menaikkan curah jantung. Pengobatan dengan Obat-obat Simptomatik Obat-obat simptomatik tidak terbukti bermanfaat pada syok hemoragik. 29 b. khususnya kalau penderitanya menyimpang dari pola yang diharapkan. Komplikasi yang paling umum pada syok hemoragik adalah penggantian volume yang tidak adekuat. Alasannya adalah bahwa pada syok hemoragik. Jika penderita tidak memberi respon terhadap terapi. Mungkin diperlukan intervensi pembedahan segera. Pemantauan CVP (central venous pressure) merupakan prosedur yang relatif sederhana dan digunakan sebagai pedoman standar untuk menilai kemampuan sisi kanan jantung menerima beban cairan/ jika dilakuka dengan benar respon CVP pada pemberian cairan membantu mengevaluasi penggantian volume. kunci untuk mengenal masalahnya adalah evaluasi ulang yang terus menerus. dan agresif untuk memulihkan perfusi organ akan memperkecil kejadian yang tidak dikehendaki sedikitpun. fungsi system saraf sentral yang baik. yang dikonfirmasi oleh produksi urin yang tepat. Posisi kepala di bawah ini adalah tindakan pertama dalam pengobatan berbagai macam syok. risiko kebanyakan cairan diperkecil dengan memantau penderitanya dengan teliti. Setelah penilaian penderita dan pengelolaan awal.4 c. Terapi Lain Pengobatan dengan posisi kepala di bawah. dan pemulihan tekanan nadi dan tekanan darah ke normal. Terapi yang segera. Tujuan terapinya ialah pemulihan perfusi organ dan oksigenasi jaringan yang adekuat. system saraf simpatis hampir selalu telah menjadi teraktivasi secara maksimal oleh refleks sirkulasi dan ada begitu banyak norepinefrin dan epinefrin yang bersikulasi dalam darah sehingga obat simpatomimetik pada dasarnya tidak memberi efek tambahan yang bermanfaat.

Kunjungan pra anestesi dilakukan untuk menilai keadaan pasien sebelum operasi. dorsalis pedis dekstra sehingga pasien direncanakan operasi amputasi. biokimia Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atas sedang. dari gambaran rontgen thoraks ditemukan adanya TB . fisiologik. Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat. keadaan fisik dan mental penderita. tanpa pembatasan aktivitas. sehingga aktivitas rutin terbatas. Untuk menilai kebugaran seseorang sesuai The American Society of Anesthesiologists (ASA) yaitu:1. Pada kunjungan tersebut dilakukan penilaian tentang keadaan pasien secara umum. 30 BAB IV PEMBAHASAN Pasien Ny. psikiatrik. Kelas V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam Berdasarkan The American Society of Anesthesiologists (ASA). tanpa pembatasan aktivitas yaitu terdapatnya masalah pada pasien dimana pasien memiliki riwayat DM yang tidak terkontrol.1 Kunjungan Pra Anestesi Kunjungan pra anestesia dilakukan kurang dari 24 jam sebelum operasi.0 g/dl. Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat. Pasien datang dengan tanda-tanda vital stabil dan Hb 10. pasien Ny. yaitu pasien dengan penyakit sistemik ringan atas sedang. R merupakan ASA II.1 Dimana didapatkan keadaan pasien secara umum baik. hal ini benar dilakukan karena perkenalan dengan orang tua penderita sangat penting untuk memberi penjelasan mengenai masalah pembedahan dan anestesi yang dilakukan. 90 tahun dengan rencana amputasi distal pedis dekstra. R. Didapatkan gangrene pada distal pedis dekstra dan tidak teraba pulsasi a. 4.2 Kelas I : Pasien sehat organik.

31 paru dan efusi pleura dekstra dan dari pemeriksaan rontgen pedis dekstra ditemukan adanya osteoporosis pedis dekstra dengan distal palang 3.3. Mengurangi mual dan muntah pada pasca bedah . Hampir semua operasi dengan lokasi dibawah leher dilakukan anestesi neuraxial (lokal). Tujuan premedikasi sangat beragaman. anestesi lokal dapat mengizinkan pengembalian fungsi gastrointestinal yang lebih awal setelah operasi. Selain itu.5 1. 4. R dalam keadaan yang optimal untuk mengikuti operasi. dan pneumonia. Dari masalah yang dapat diperkirakan pada Ny. Mengurangi kecemasan dan ketakutan . serta depresi nafas pada bedah abominal atas dan thoraks pada pasien dengan penyakit paru kronis. dengan tujuan melancarkan anestesia. sebaiknya dipertimbangkan persiapan darah sesuai golongan darah pasien.3 Tindakan Premedikasi Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum anestesi dilakukan. Anestesi lokal dapat menurunkan insidensi trombosis vena dan emboli paru. Beberapa studi menyatakan morbiditas postoperasi dan kemungkinan mortalitasnya dapat berkurang ketikan digunakan anestesi lokal atau kombinasi dengan anestesi umum. Pada pasien ini dilakukan anestesi regional dengan teknik spinal (intrathekal).5 sklerotik disertai dengan lesi litik distal palang 1. Mengurangi sekresi ludah dan broncus . perdarahan dan permintaan transfusi.2.4. R. 4. oklusi graft vaskular. Meminimalkan jumlah obat anesthetic . Teknik tersebut tidak menyebabkan masalah selama operasi dan post operasi. komplikasi jantung pada pasien resiko tinggi. Menciptakan amnesia .2 Dinilai tanda-tanda vital pasien Ny.2 Pemilihan Jenis Anestesi Pasien ini direncanakan untuk dilakukan operasi amputasi. diantaranya :1 . Bahkan operasi thoraks dan jantung menggunakannya. Memperlancar induksi dan anesthesia . Pada pasien ini dipilih anestesi spinal.4.

Mengurangi isi cairan lambung . 32 . Histamin disintesis dengan dekarboksilasi asam amino histidine. 2 Gambar 6. mukosa gaster dan di jaringan perifer lainnya. Neuron histaminergik berlokasi di hipotalamus posterior namun memiliki proyeksi lebar di otak. Sekresi asam oleh sel parietal gaster juga dapat meningkat secara tidak langsung oleh asetilkolin via stimulus reseptor M3 dan secara langsung oleh gastrin melalui peningkatan konsentrasi Ca2+. Histamin ditemukan di sistem saraf pusat.8 Ranitidin merupakan antagonis H2 Histamin.5 dapat menyebabkan pneumonitis asam. Ranitidin (antagonis H2 histamin) diberikan sebagai profilaksis dari pneumonitis asam dan aspirasi selama operasi.reseptor bekerja menghambat cAMP. Prostaglandin E2 dapat menghambat sekresi asam dengan menurunkan aktivitas cyclic adenosine monophosphate (cAmp). Cairan lambung dapat meningkat seiring dengan stress operasi yang timbul. H2. Mengurangi reflek yang membahayakan Sebagai obat premedikasi pada pasien ini yaitu: Ranitidin 50 mg. Ondansentron 4 mg dan dexametason 10 mg. Proses sekresi HCl2 Sekresi HCl normalnya dimediasi oleh pelepasan histamin yang diinduksi oleh gastrin dari ECL (Enterochromaffin like cells) di gaster. Contohnya adalah . Cairan lambung 25 ml dengan pH 2.1.

mencegah permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium. 4.625 mg I.1-1 mg/kgBB. Agen ini menghambat histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 sehingga menurunkan pengeluaran asam lambung dan meningkatkan pH gaster.1 Bupivacain merupakan anestesi lokal golongan amida.V) yang dapat diberikan tunggal ataupun kombinasi. posisi pasien duduk tegak dengan kepala menunduk sambil memeluk bantal di dada yang bertujuan agar prossesus spinosus mudah teraba.V). Obat-obatan lainnya yang biasa dipakai sebagai anti emetik adalah dexamethasone (4 mg I. . Ondansentron juga mempercepat pengosongan lambung. droperidol (0.4 Anestesi Regional Anestesi regional mulai dilakukan. Obat dimasukkan pelan- pelan diselingi aspirasi. Dilakukan tusukan median dengan jarum spinal. Obat ini memiliki kadar toksisitas yang rendah.5% dengan volum 2-4 ml iso atau hiperbarik. Setelah resistensi menghilang.5 mg-10 mg dan pemberian deksametason seharusnya 0.2 mg/kgBB = 2.05-0. Jarum dihubungkan dengan semprit berisi bupivakain 0. Kemudian disterilkan tempat tusukan dengan alkohol dan betadin. mual dan muntah pasca pembedahan. Obat anestesi regional bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium. Mekanisme kerja obat ini adalah mengantagonisasi reseptor 5HT-2 yang terdapat pada Chemoreseptor Trigger Zone di area postrema otak dan pada aferen vagal saluran cerna. Dicari perpotongan garis yang menghubungkan kedua krista illiaca dengan tulang punggung yaitu antara vertebra lumbal 4 atau L4-5. diphenhydramine (25 mg I. lalu ditentukan tempat tusukan pada garis tengah yaitu L3-4. mandrin jarum spinal dicabut dan keluar likuor. 33 ranitidin. Dosis pemberian ondansentron sudah tepat yakni 4 mg sesuai dengan dosisnya berdasarkan berat badan pasien 50 kg.V). 2 Ondansentron 4 mg (golongan antiemetik) digunakan untuk mengurangi mual dan muntah pasca pembedahan. yakni 0. bupivakain digunakan dengan konsentrasi 0. Untuk anestesi spinal. pada pasien ini diberikan 10 mg.5% 3 ml. Obat ini mulai kerja lebih lambat namun berakhir lebih lama yaitu 8 jam.

RR: 16 x/i pernafasan baik).15 wib. Pada saat di RR. review lokasi operasi.1.15 wib pasien langsung di transfer ke ICU keadaan umum cukup. GCS 15. skor nyeri.6 Ruang Pemulihan (RR) Masuk ke ruangan pemulihan (RR) pada pukul 14. karena penurunan kerja dari syaraf simpatis. N: 67x/i reguler. Hal ini terjadi akibat relaksasi otot polos arteriol dan depresi langsung pada miokard sehingga menurunkan resistensi vaskuler sistemik dan cardiac output. 4. pemantauan saturasi oksigen. langsung dipindahkan ke ICU pada pukul 14. dilakukan observasi rutin pada pasien seperti di ruang operasi meliputi pemberian oksigen. RR terletak berdekatan dengan ruang operasi sehingga apabila terjadi suatu kondisi yang memerlukan pembedahan ulang tidak akan mengalami kesulitan.5 Monitoring Intraoperatif Pada pasien ini dilakukan anestesi spinal. suhu dan urin output jika perlu dan cairan atau obat yang sedang diberikan.1. 34 sehingga terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tak terjadi konduksi saraf yang menghantarkan rasa nyeri. isi cukup. Monitoring tekanan darah serta nadi dilakukan setiap 15 menit sekali untuk mengetahui penurunan tekanan darah yang bermakna. Hipotensi merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada pasien dengan anestesi spinal.7 Hipotensi terjadi bila terjadi penurunan tekanan darah sebesar 20-30% atau TD sistole kurang dari 100 mmHg. Kesadaran CM.2 4.9 Pada orang dewasa dapat dicegah dengan pemberian infus cairan elektrolit 1000 ml atau 500 ml koloid seperti pada kasus ini. Di ruang RR biasanya dilakukan pemantauan pemulihan dari anestesi regional yang telah dilakukan. frekuensi nafas.1. Sedangkan pada pasien ini. . tekanan darah. denyut nadi. Tanda Vital dalam keadaan stabil (TD 110/70 mmHg. Hipotensi dan bradikardi merupakan salah satu efek dari pemberian obat anestesi spinal. kuat angkat.8 Pasien dapat dipindahkan dari RR apabila sudah mencapai skor Alderete ≥8.

OT. IVFD RL (20 gtt/i) 2. Ketorolac 3 x 30 mg 6. Inj. 4. Humaryanto Sp.. Ceftriaxon 1 x 2 gram IV 3. nadi. Inj. 1. NRM 8 lpm  Tirah baring menggunakan bantal 1 x 24 jam  Boleh makan dan minum secara bertahap bila tidak mual  Cek Hb post transfusi  Terapi selanjutnya disesuaikan dengan DR. urine output setiap 15 menit intraoperatif. Untuk memantau hal ini agar tidak terjadi maka harus diperhatikan tekanan darah. Pada pasien ini juga perlu diperhatikan resiko terjadinya ketidakseimbangan elektrolit dan cairan tubuh.7 Permasalahan Pada Saat Tindakan Pembedahan Yang Mungkin Terjadi Amputasi pada pasien ini dilakukan dengan teknik spinal anestesi dengan menggunakan bupivakain. kesadaran. posisi setengah duduk. M. Inj. Asam Traneksamat 3 x 500 mg IV 4. Inj. Debridement dengan NaCl Instruksi yang diberikan sudah tepat. perlunya obsevasi keadaan umum. dan perdarahan tiap 15 menit. 35 Instruksi Post Operasi:  Monitoring tanda vital. vital sign post operasi sangat penting untuk menilai apakah ada komplikasi yang terjadi pasca pembedahan. . dr. Ranitidin 2 x 50 mg IV 5.Kes.

Operasi dan anestesi pada tanggal 11 September 2017 pada pikul 13. . Humaryanto Sp. Masalah pada pasien ini adalah kemungkinan dapat terjadi gangguan hemodinamik.Kes dengan ahli Anestesi dr.An. Posisi pasien terlentang dan loading cairan sebelum operasi 1000 ml untuk mencegah efek hipotensi dari bupivacaine 0. 36 BAB V KESIMPULAN Anestesi spinal pada amputasi membutuhkan evaluasi terhadap masalah-masalah yang kemungkinan timbul selama operasi serta upaya untuk menanggulangi masalah tersebut sehingga operasi tetap berjalan dengan optimal. Sp. 90 tahun.OT. Secara umum pelaksanaan operasi dan penanganan anestesi berlangsung dengan baik meskipun ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian. Panal HDS.15 WIB dan berakhir pada pukul 14.. yang menjalani amputasi distal pedis dekstra dengan ASA II. M. Makalah ini melaporkan seorang wanita.00 WIB dengan operator DR.5% hyperbaric. Dalam kasus ini selama operasi berlangsung tidak ada hambatan yang berarti baik dari segi anestesi maupun dari tindakan operasinya. dr.

dalam Anestesiologi.medscape. 2009 2. http://emedicine. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. Regional Anesthesia for Postoperative Pain Control. 2006. Latief. S.com/article/1268467-overview#a1 9. 2012 4. http://emedicine. Edisi 9.945 3. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. Wasnick JD.124(2):5 7.com/article/284801-overview#showall 11. New York: McGraw-Hill. et al. Practice guidelines for obstetric anesthesia. Medscape. 5. 2015 http://emedicine. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.pdf 8. Edisi ke-2. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2009. dkk. Medscape. M.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Editor : Sudoyo Aru.. Eds. Wijaya Prasetya Ika. 2015. Adhrie. Guyton. Buku Ajar Anestesiologi. Jakarta: EGC. 2006 .anaesthesiaorg/ e_library/ 05/ Monitoring_ in_the_ recovery_ room_ Update _2000. dkk. Butterworth JF. ASA. & Dachlan.A. 2015. Buku Ajar Anestesiologi. Boulton Thomas B. Departemen Anestesiologi dan Intensive care.medscape. Arthur C. Edisi 4. 2015. Mackey DC. editor Widyanti D. 2013. Blogg CE. p. Suryadi. Sugiarto. dkk. Soenarto RF. Monitoring in the recovery room. Allman K. Jakarta. 6. p.R. UA (internet). K. Syok Hipovolemik. Diunduh dari: http://e-safe. Anesthesiology (2015). Morgan & Mikhail’s Clinical anesthesiology 5th edition.com/article/284801-overview#showall 10. Medscape.medscape. Subarachnoid Spinal Block. Jakarta : Departemen Anestesiologi dan Intensif Care FKUI. 45. Dahlan MR.A. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 1994 12. Jakarta : EGC. Alih bahasa Jonatan Oswari. Perioperative Medication Management. 37 DAFTAR PUSTAKA 1.

"Clinical review: hemorrhagic shock. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Southern Medical Journal. Wulf-Gutierrez. Gutierrez. 2008 . Kathula. 2017 16. Available from: http://www. Editor : Sudoyo Aru.medscape. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. and Marian E. Syok Kardiogenik. Bolla. (Last update: November 18. 38 13. Accesed on September 20. American College of Surgeon. 2004 14. HDavid Reines. Advance trauma life support ATLS student course manual eighth edition. 2006 15." Critical care. Alwi Idrus.com. dkk. 2002). Magann. Guillermo. Edisi 4. Shock and management of shock.