You are on page 1of 45

PENGARUH COKELAT TERHADAP KEJADIAN ACNE VULGARIS

PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
WIJAYA KUSUMA SURABAYA ANGKATAN 2010 (B)

TUGAS AKHIR

Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh:

Audrey Soegiarto
NPM: 10700138

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
SURABAYA
2013

HALAMAN PERSETUJUAN

TUGAS AKHIR

PENGARUH COKELAT TERHADAP KEJADIAN ACNE VULGARIS
PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
WIJAYA KUSUMA SURABAYA ANGKATAN 2010 (B)

Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh:

Audrey Soegiarto
NPM: 10700138

Menyetujui untuk diuji

Pembimbing, Penguji,

Titiek Sunaryati, dr, Mked. Akhmad Sudibya, dr, Mkes.
NIK. 00303-ET NIK. 95256-ET

ii

HALAMAN PENGESAHAN

TUGAS AKHIR

PENGARUH COKELAT TERHADAP KEJADIAN ACNE VULGARIS
PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
WIJAYA KUSUMA SURABAYA

Oleh:

Audrey Soegiarto
NPM: 10700138

Telah diuji pada

Hari : ........................................

Tanggal : ........................................

dan dinyatakan lulus oleh:

Pembimbing, Penguji,

Titiek Sunaryati, dr, Mked. Akhmad Sudibya, dr, Mkes.
NIK. 00303-ET NIK. 95256-ET

iii

KATA PENGANTAR

Penulis haturkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya, sehingga penulis mendapat kemudahan dalam menyelesaikan
Tugas Akhir yang berjudul “Pengaruh Cokelat terhadap Kejadian Acne vulgaris
pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Angkatan 2010 (B)” dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penulis tertarik untuk meneliti topik ini karena acne termasuk salah satu
penyakit kulit yang sering dikeluhkan masyarakat terutama kalangan wanita karena
mengganggu penampilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
coklat terhadap kejadian Acne vulgaris. Tugas Akhir ini penulis susun untuk
memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran.
Dalam pembuatan Tugas Akhir ini, penulis mendapat bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. H. Djanggan Sargowo, dr. Sp.PD, Sp.JP (K), FIHA, FACC, FCAPC,
FESC, FASCC, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya
Kusuma Surabaya yang telah memberi kesempatan kepada penulis menuntut
ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
2. dr. Titiek Sunaryati, MKed., selaku dosen pembimbing yang telah berkenan
meluangkan waktu untuk memberi bimbingan, arahan, masukan, dan
dorongan dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
3. dr. Akhmad Sudibya, MKes., selaku dosen penguji yang telah berkenan
menguji dengan teliti dan memberikan masukan guna memperbaiki kesalahan
yang ada dalam Tugas Akhir ini.
4. Rudy Soegiarto, Ester Magda, Edbert Soegiarto, Ellen Soegiarto, Ivana
Clarissa Soegiarto, selaku keluarga penulis yang telah memberi masukan dan
dukungan melalui doa agar penulis mampu menyelesaikan Tugas Akhir ini.
5. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
terutama angkatan 2010 (B) yang berkenan menjadi sampel penelitian dan
bersedia mengisi kuesioner dengan jujur.
6. Segenap Tim Pelaksana Tugas Akhir dan sekretariat Tugas Akhir Fakultas
Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang telah memfasilitasi
proses penyelenggaran hingga penyelesaian Tugas Akhir ini.
7. Semua pihak yang tidak mungkin disebut satu per satu yang telah membantu
dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
Penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi berbagai
pihak yang terkait. Penulis menyadari keterbatasan penulis dalam penyusunan
Tugas Akhir ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca demi menyempurnakan Tugas Akhir ini.

Surabaya, 11 Maret 2013

Penulis

iv

05 didapatkan X2 tabel=3. Hasil penelitian menunjukkan 11 responden sering makan cokelat dan mengalami acne. Acne vulgaris adalah penyakit kulit yang umum terjadi dan penyebabnya bersifat multifaktorial. 8 responden tidak sering makan cokelat tetapi mengalami acne. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan studi cross- sectional dilakukan kepada 30 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya angkatan 2010 (B). Fakultas Kedokteran. diolah dalam tabel 2x2 secara manual. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. dan sisanya tidak sering makan cokelat dan tidak mengalami acne. MKed. 4 responden sering makan cokelat namun tidak mengalami acne. ABSTRAK Soegiarto. Kata kunci: cokelat. Audrey. Pengaruh Cokelat terhadap Kejadian Acne Vulgaris pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B). Progam Studi Pendidikan Dokter. Dari uji statistika didapatkan nilai X2 hitung=1. Titiek Sunaryati. Tugas Akhir. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh makanan khususnya cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris. Oleh karena X2 hitung < X2 tabel maka H0 diterima.263. Pembimbing: dr. dan dianalisis dengan uji kai-kuadrat (X2). Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 2013. Dengan df=1 dan α=0. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada pengaruh cokelat terhadap kejadian acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya angkatan 2010 (B).841. acne vulgaris ABSTRACT v . namun pengaruh faktor makanan masih kontroversial. Oleh karena itu.

Keyword: chocolate. but the influence of dietary factors is still controversial. Wijaya Kusuma Surabaya University. processed in a 2x2 table manually.263. 4 respondents often eat chocolate but do not experience acne. 2013. Faculty of Medicine. The results showed 11 respondents often eat chocolate and having acne. MKed.05 obtained X2 table=3. The Influence of Chocolate on the Incidence of Acne Vulgaris in 2010th (B) Generation Student Faculty of Medicine. Audrey. acne vulgaris DAFTAR ISI vi . Wijaya Kusuma Surabaya University. The conclusion of this study. Supervisor: dr. especially chocolate on the incidence of Acne vulgaris. Of the test statistics obtained X2 count=1. 8 respondents do not often eat chocolate but having acne and the rest do not often eat chocolate and do not experience acne. Because of X2 count < X2 table then H0 is accepted. The data collection method is questionnaires. Final Assignment. Titiek Sunaryati. there is no influence of chocolate on the incidence of Acne vulgaris in 2010th (B) generation student Faculty of Medicine. This study is an observational analytic study with cross-sectional study performed on 30 students 2010th (B) Generation Faculty of Medicine.841. With df=1 and α=0. Wijaya Kusuma Surabaya University. the purpose of this study is to determine the influence of food. Wijaya Kusuma Surabaya University. Therefore. and analyzed by kai-squared test (X2). Acne vulgaris is a common skin disease and its cause is multi factorial.Soegiarto.

......................................................... 13 BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.................3 Variabel Penelitian .......................2 Populasi dan Sampel..................................4 Keratinisasi Folikel ..................6 Prosedur Penelitian .................................................................... 9 2.............7 Komedo ............1 Kerangka Konseptual Penelitian .......................................4 Manfaat Penelitian ...................................................................... 1 1........................................................................................................6 Inflamasi .............................................................................................................................. 11 2............................................ 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.......................8 Papula ......................................................................................................... 10 2........................................ 12 2...................................................... 8 2.......2 Rumusan Masalah ..2 Cokelat ................................................................... 18 4...................11 Kista ... 5 2..................... 10 2......................... 12 2................. 12 2............. 3 1......Halaman Judul......... 21 vii ...............4 Lokasi dan Waktu Penelitian ..............................................1 Rancangan Penelitian .....................2 Hipotesis Penelitian ........................................... 18 4................................................................. 18 4.....................iii Kata Pengantar ............10 Nodul ...........................................7 Analisis Data .......i Halaman Persetujuan .................................................................................... 20 BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA 5...........................1 Acne Vulgaris ............1 Latar Belakang Masalah ................................................................................iv Abstrak ....3 Tujuan Penelitian ...........................12 Parut ........................................................................................................................ 14 3.......................................................... 15 BAB IV METODE PENELITIAN 4.................................. 19 4............................5 Bakteri .....................................................................................................................3 Kenaikan Ekskresi Sebum .................................................................................................................................. vii Daftar Gambar .................................................................... 11 2. 13 2................................................................. 3 1........................................... 16 4......................................................................................................................................................................................................... ii Halaman Pengesahan ............... v Abstract ........................................ix Daftar Tabel ............................. 17 4.................vi Daftar Isi..........................1 Gambaran Umum Daerah Penelitian . x BAB I PENDAHULUAN 1........................5 Definisi Operasional .........................................................................................................9 Pustula ................................................

................... 31 7.................... 21 5.................................... 5............. 32 LAMPIRAN ............................................3 Analisis Data .............................................................2 Karakteristik Responden ...............1 Kesimpulan ....................................................................................................................................................................... 31 DAFTAR PUSTAKA .................. 34 DAFTAR GAMBAR viii ..............2 Saran .................................... 27 BAB VII PENUTUP 7........................................ 21 BAB VI PEMBAHASAN ...........................................................................

................Gambar II..1 Proporsi Konsumsi Cokelat pada 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010(B) ...............................23 Gambar V........3 Proporsi Jenis Cokelat yang Dikonsumsi oleh 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) ...22 Gambar V..................2 Proporsi Kejadian Acne vulgaris pada 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010(B) ............................1 Patogenesis terjadinya Acne vulgaris ....................7 Gambar V.....................................24 DAFTAR TABEL ix ......

............................................. 25 Tabel V...................... 22 Tabel V.............................................. 25 Tabel V....................2 Kejadian Acne vulgaris pada 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) .......... 23 Tabel V................5 Perhitungan Hubungan antara Konsumsi Cokelat dengan Kejadian Acne Vulgaris ........................................Tabel V.....................1 Konsumsi Cokelat pada 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) ........3 Jenis Cokelat yang Dikonsumsi oleh 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) ......................4 Tabel 2 x 2 Mengenai Hubungan antara Konsumsi Cokelat dengan Kejadian Acne Vulgaris. 25 BAB I x .......

PENDAHULUAN 1. sehingga sering dianggap sebagai kelainan kulit yang timbul secara fisiologis. Gangguan ini masih dianggap proses fisiologik. 2000). Secara genetis wanita rentan terinfeksi jerawat. terutama saat remaja. penyakit ini jarang terjadi waktu lahir. karena wanita lebih dulu mengalami masa pubertas pada usia remaja (Wasitaatmadja. 2012). Timbulnya jerawat pada wanita lebih dini dibanding pada pria. jerawat vulgaris adalah penyakit kulit yang hampir universal yakni menimpa 79% sampai 95% dari 1 .1 Latar Belakang Masalah Acne vulgaris merupakan penyakit kulit yang umum terjadi dengan ciri-ciri adanya papula folikuler noninflamasi (noninflammatory follicular papules) atau komedo. dan dialami oleh 85% para remaja. Lima belas persen remaja menderita Acne minor. dan punggung (Hartini dkk. pustula. 16-19 tahun pada pria dan masa itu lesi yang predominan adalah komedo dan papula dan jarang terlihat lesi beradang pada penderita. beberapa kasus yang terjadi pada masa bayi. papula radang. 1999). Dalam masyarakat negara Eropa. yang cukup hebat sehingga mendorong mereka untuk berobat ke dokter. Hampir setiap orang pernah menderita penyakit ini. Acne vulgaris mempengaruhi daerah kulit yang banyak mengandung folikel sebaceous (kelenjar minyak). Namun. dada bagian atas. seperti wajah. nodul dan kista dalam bentuk yang lebih berat. Mayoritas jerawat timbul akibat pengaruh bahan komedogenik yang terkandung dalam kosmetika (Widjaja. Umumnya insiden terjadi pada sekitar umur 14-17 tahun pada wanita. Acne minor adalah suatu bentuk Acne yang ringan.

nodul. Tingginya tingkat hormon tertentu dapat meningkatkan produksi sebum dan menyebabkan hipertrofi kelenjar minyak diikuti dengan proses keratinisasi folikel yang abnormal. dan kista. Hal ini menyebabkan pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes meningkat dan terjadi proses keradangan. dimulai dari komedo dan berkembang menjadi papula. Pada pria dan wanita lebih tua dari 25 tahun. 2 populasi remaja. pustula. buah berkadar lemak tinggi. Cokelat mengandung banyak lemak. 40% sampai 54% juga menderita beberapa derajat jerawat di wajah. produk goreng-gorengan. Hingga saat ini. Makanan yang dimaksud adalah makanan yang mengandung kadar lemak tinggi. Pori-pori yang tersumbat karena sel-sel mati dan penumpukan minyak membuat nutrien dan sebum terperangkap sehingga kuman dapat bertumbuh pesat. 2010). produk susu. seperti produk cokelat. susu dan gula yang dapat mengganggu produksi hormon. bersantan dan pedas (Mumpuni dan Wulandari. Faktor makanan dapat menjadi salah satu hal yang mempengaruhi munculnya Acne vulgaris secara tidak langsung. Proses terakhir dari . makanan dengan bumbu rempah- rempah. lemak hewani. Diet pola makan yang tidak benar dan tidak terkontrol akan menyebabkan ketidakseimbangan asupan zat gizi dalam tubuh. pengaruh cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris belum dapat dijelaskan. Proses keradangan menimbulkan erupsi ke permukaan kulit (acne). Kekurangan zat gizi tertentu juga akan memicu pertumbuhan jerawat. Jerawat wajah klinis yang berlanjut ke usia menengah menimpa 12% perempuan dan 3% laki-laki (Cordain. 2002). produk kacang-kacangan.

susu (es krim. serta memperbanyak asupan buah-buahan (kecuali pisang. Pembatasan konsumsi cokelat merupakan salah satu cara mengurangi munculnya jerawat. garam. Pada kasus berat. keju. dan milk chocolate).2 Rumusan Masalah Adakah pengaruh cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B)? 1. 2012). apokat) tanpa di-blender/mixer. 1.3 Tujuan Penelitian 1. 3 peradangan Acne vulgaris ini adalah terbentuknya jaringan parut.3. makanan yang banyak mengandung karbohidrat. dapat timbul atrofi maupun keloid (Hartini dkk. 2012). Konsumsi cokelat terutama yang mengandung kadar lemak. susu dan gula yang tinggi dapat menyebabkan jerawat. dalam pembatasan asupan gizi tertentu untuk mengurangi jerawat (acne-free diet) dianjurkan untuk menjalani diet rendah lemak dan tinggi serat dengan cara mengurangi produk- produk yang mengandung kacang. makanan yang digoreng. susu olahan. gula.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui adakah pengaruh makanan terhadap kejadian Acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B). Memiliki pola makan dengan asupan zat gizi yang seimbang akan sangat membantu kesehatan seseorang secara keseluruhan (Hartini dkk. . Oleh karena itu.

4 1. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.2 Manfaat Bagi Institusi Lain Agar institusi lain mampu menerapkan dan mengembangkan penelitian mengenai hubungan cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris sehingga menjadi lebih sahih dan konsisten. 1.3. 1.4 Manfaat Bagi Pengembangan Ilmu Agar penelitian mengenai pengaruh cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris dapat menjadi salah satu bahan yang berguna bagi perkembangan ilmu khususnya dalam bidang dermatologi. 1.4. BAB II .4.2 Tujuan Khusus Untuk mengetahui adakah pengaruh cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B).4.3 Manfaat Bagi Peneliti Agar peneliti dapat memahami penyakit kulit khususnya mengenai Acne vulgaris dan tertarik untuk meneliti masalah kesehatan lainnya atau mengembangkan penelitian yang sudah ada.1 Manfaat Bagi Masyarakat Agar masyarakat dapat mengetahui adakah pengaruh cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris sebagai salah satu upaya dalam mencegah terjadinya Acne vulgaris.

faktor-faktor tersebut adalah: 1. TINJAUAN PUSTAKA 2. nodul. nodul. . 2. superficial pus-filled cyst dan dalam kasus berat terjadi inflamasi dan terkadang membentuk kantung nanah. Acne sedang yang tidak membaik dalam 6 bulan setelah perawatan termasuk acne berat (Healy dan Simpson. namun ada berbagai faktor yang berkaitan dengan patogenesis penyakit. dan berat. dan bekas lesi tampak. sedang. atau keduanya. Keratinisasi dalam folikel yang biasanya berlangsung longgar berubah menjadi padat sehingga sukar lepas 6 dari saluran folikel tersebut.1 Etiologi dan Patogenesis Etiologi pasti untuk penyakit ini masih belum diketahui. 1994).1. pustula. Acne sedang didefinisikan sebagai lesi dengan peradangan yang lebih banyak. dan bekas lesi ringan. menyebabkan peningkatan unsur komedogenik dan inflamatogenik 5penyebab terjadinya lesi acne. Acne berat didefinisikan sebagai lesi dengan peradangan yang sudah menyebar luas. Acne ringan didefinisikan sebagai lesi yang tidak mengalami peradangan (komedo). Perubahan pola keratinisasi dalam folikel. lesi dengan sedikit peradangan (papulopustular). 2. atau keduanya. Produksi sebum yang meningkat.1 Acne Vulgaris Acne vulgaris merupakan penyakit peradangan pilosebasea yang sering terjadi dengan karakteristik komedo. Acne vulgaris diklasifikasi menjadi ringan. papula. atau keduanya. kadang berupa nodul.

berbentuk “V” terbalik mulai dari bahu sampai xifisternum. Terjadinya respons hospes berupa pembentukan circulating antibodies yang memperberat acne. dan telinga. Akne yang berat dapat meluas ke bawah. sepanjang seluruh bagian tengah punggung. 5. anabolik. gonadotropin. dan Staphylococcus epidermidis) yang berperan pada proses kemotaktik inflamasi serta pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi lipid sebum.1. ras. dulu: Corynebacterium acnes. 2. makanan. 4. usia. cuaca/musim yang secara tidak langsung dapat meningkatkan proses patogenesis tersebut (Wasitaatmadja. Tanda fisik yang pertama yang perlu diperhatikan adalah . leher terutama bagian belakang. Faktor lain. bahu. Terjadinya stres yang dapat memicu kegiatan kelenjar sebasea. baik secara langsung atau melalui rangsangan terhadap kelenjar hipofisis. 6. Pityrosporum ovale. 8.2 Gejala Klinis Tanda-tanda fisik terdapat distribusi yang khas dari wajah. ke arah tangan. Terbentuknya fraksi asam lemak bebas penyebab terjadinya proses inflamasi folikel dalam sebum dan kekentalan sebum yang penting pada patogenesis penyakit. 7. dan terus hingga ke bokong. serta ACTH yang mungkin menjadi faktor penting pada kegiatan kelenjar sebasea. Peningkatan jumlah flora folikel (Propionibacterium acnes. punggung bagian atas. 1999). dada bagian depan. familial. kortikosteroid. 3. Peningkatan kadar hormon androgen.

J.L. Rambut di kepala juga menjadi sangat berminyak.utah. lemas. tetapi pada akne produksi sebum sangat berlebihan. . nyeri sendi.htm Gambar 1: Patogenesis terjadinya Acne vulgaris. maka keadaan ini disebut Acne fulminans yang jarang terjadi (Graham-Brown dan Burns. 1997. Sebenarnya hal ini normal terjadi pada masa pubertas. Berikut ini adalah gambar patogenesis munculnya Acne vulgaris: Sumber: Bezzant. Lesi ini sering disebut komedo. 7 wajah dan tubuh bagian atas menjadi sangat berminyak akibat peningkatan produksi sebum. http://library.med.edu/kw/derm/pages/ac01_2. Komedo yang mencapai permukaan kulit dan terbuka disebut komedo terbuka dan akan terlihat warna hitam pada permukaan kulit sehingga disebut juga komedo hitam. selain adanya akne nodulkistik didapatkan gejala-gejala sistemik seperti demam. Lesi jerawat dasar adalah folikel rambut yang membesar dan pori-pori tersumbat oleh sel-sel mati dan minyak. 2005). dan bengkak. Apabila pada kasus Acne vulgaris.

B1. Theobromine juga dapat meredakan batuk.2 Cokelat Cokelat atau kakao (Theobroma cacao) mengandung theobromine yang dapat menstimulasi jaringan saraf dan jantung sehingga meningkatkan semangat dan membuat kita terjaga. bukan disebabkan oleh kotoran. dinding kantung rambut dapat membusuk dalam dermis dan menyebabkan peradangan serta muncul warna kemerahan (Nurmalina dan Valley. lipid mula-mula dibentuk dari dua asam lemak jenuh (asam stearat dan palmitat) dan satu asam lemak tidak jenuh (asam oleat). cokelat mengandung kadar lipid yang cukup tinggi (50%). namun apabila konsumsi cokelat berlebihan maka akan menimbulkan efek kebalikan dan memicu obesitas (Steinberg dkk. maka disebut komedo tertutup dan akan menghasilkan tonjolan putih yang disebut komedo putih. Kandungan senyawa polifenol flavonoid pada bitter chocolate komparatif dengan makanan yang mengandung . Jika komedo tetap berada di bawah permukaan kulit. 2003). E. Caffeine. B2. Cokelat juga mengandung gula. B3. 2. beberapa mineral. antioksidan (Flavonoid) . dan vitamin (A. Selain itu. 2011). dan asam pantotenat). 8 Perubahan warna komedo menjadi hitam disebabkan karena adanya perubahan pada keringat yang terkena udara. Saat proses ini belangsung dan bakteri masuk. C. Cokelat tidak meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Dark chocolate dengan kandungan tinggi kakao terhadap susu mungkin berperan dalam perlindungan kulit dari perkembangan melanoma dan meningkatkan kesehatan kulit keseluruhan.

kelenjar adrenal memproduksi peningkatan kadar hormon androgen. Hormon ini mengikat reseptor androgen di sitoplasma dan akhirnya menyebabkan proliferasi sel penghasil sebum. 2013). Meningkatnya produksi sebum disebabkan oleh respon organ terakhir (end-organ hyperresponse) pada kelenjar sebasea terhadap kadar normal androgen dalam darah. Pada penderita acne terdapat peningkatan konversi hormon androgen yang normal beredar dalam darah (testosteron) ke bentuk metabolit yang lebih aktif (5-alfa dihidrotestosteron). 2000). 2. 10 2. pada kebanyakan penderita. 9 antioksidan mungkin dapat memperbaiki kerentanan kerusakan kulit karena radiasi ultraviolet (Watson dan Berg. pori-pori tersumbat sehingga menimbulkan bintik-bintik yang biasanya berwarna hitam (Fauzi dan Nurmalina. Terbukti bahwa. menyebabkan pembesaran yang lebih besar dari kelenjar minyak. 2012). Pertumbuhan kelenjar sebasea dan produksi sebum ada dibawah pengaruh hormon androgen.3 Kenaikan Ekskresi Sebum Acne biasanya mulai timbul pada masa pubertas pada waktu kelenjar sebasea membesar dan mengeluarkan sebum lebih banyak. Selama masa stres. lesi akne hanya ditemukan di beberapa tempat yang kaya akan kelenjar sebasea (Widjaja.4 Keratinisasi Folikel . Akibat produksi minyak berlebih.

sehingga 11 oksigen dalam folikel semakin berkurang. Bakteri ini memproduksi porfirin. Staphylococcus epidermidis. Ketiga macam bakteri ini bukanlah penyebab primer. 2000).6 Inflamasi . Keratinisasi pada saluran pilosebasea disebabkan oleh adanya penumpukan korneosit dalam saluran pilosebasea. 2000). Kadar oksigen dalam folikel yang berkurang. Bakteri mungkin berperan dalam perhitungan lamanya masing- masing lesi. 2.5 Bakteri Ada tiga macam mikroba yang terlibat pada patogenesis acne adalah Corynebacterium acne (Propionibacterium acnes). Defisiensi asam linoleat setempat pada epitel folikel akan menimbulkan hiperkeratosis folikuler dan penurunan fungsi barier dari epitel. Terdapat hubungan terbalik antara sekresi sebum dengan konsentrasi asam linoleat pada sebum. Penurunan tekanan oksigen dan tingginya jumlah bakteri menyebabkan peradangan folikel (Widjaja. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya produksi korneosit pada saluran pilosebasea. Menurut hipotesis Saint-Leger. Bertambahnya produksi korneosit dari sel keratinosit merupakan salah satu sifat komedo. sehingga dinding komedo lebih mudah ditembus bahan-bahan yang dapat menimbulkan peradangan (Widjaja. yang bila dilepaskan akan menjadi katalisator untuk terjadinya oksidasi skualen. pelepasan korneosit yang tidak adekuat. skualen yang dihasilkan oleh kelenjar sebasea dioksidasi dalam kelenjar folikel dan hasil oksidasi dapat menyebabkan terjadinya komedo. meningkatkan kolonisasi Corynebacterium acne. 2. dan Pityrosporum ovale (Malassezia furfur). dan kombinasi keduanya.

close comedo) (Wasitaatmadja. 2012). memegang peranan penting pada proses peradangan. 2. bila berwarna hitam akibat mengandung unsur melanin disebut komedo hitam atau komedo terbuka (black comedo. lesitinase. dapat menarik lekosit nukleus polimorfi (PMN) dan limfosit. seperti lipase. 2000). open comedo). Pada masa permulaan peradangan yang ditimbulkan oleh bakteri. Bahan keratin yang sukar larut. Faktor kemotaktik yang berberat molekul rendah (tidak memerlukan komplemen untuk bekerja aktif). PMN dapat mencerna bakteri dan mengeluarkan enzim hidrolitik yang bisa menyebabkan kerusakan dari folikel pilosebasea.7 Komedo Komedo adalah gejala patognomonik bagi akne berupa papul miliar yang ditengahnya mengandung sumbatan sebum. yang disertai makrofag dan sel-sel raksasa. hialuronidase. protease. 2.8 Papula . dan neuramidase. Sedang bila berwarna putih karena letaknya lebih dalam 12 sehingga tidak mengandung unsur melanin disebut sebagai komedo putih atau komedo tertutup (white comedo. yang terdapat di dalam sel tanduk serta lemak dari kelenjar sebasea dapat menyebabkan reaksi non-spesifik. 1999). juga terjadi aktivasi jalur komplemen klasik dan alternatif (classical and alternative complement pathways) (Hartini dkk. bila keluar dari folikel. Pencetus kemotaksis adalah dinding sel dan produk yang dihasilkan oleh Corynebacterium acne. Faktor yang menimbulkan peradangan acne belum diketahui pasti. Limfosit dapat merupakan pencetus terbentuknya sitokin (Widjaja. Bila masuk ke dalam folikel.

10 Nodul Nodul letaknya lebih dalam dan dapat bertahan selama 8 minggu dan kemudian mengecil.11 Kista . Para dokter ahli penyakit kulit biasanya memiliki cara-cara untuk mengurangi pembengkakan dan mencegah 13 timbulnya parut seperti dengan menyuntikkan kortison pada lesi jenis ini (Nurmalina dan Valley. Papula tidak aktif. Pustula yang dalam sering dijumpai pada acne vulgaris parah. berdiameter 4mm (Hartini dkk. 50% papula berasal dari mikrokomedo dimana 25% berasal dari komedo tertutup dan 25% berasal dari komedo terbuka. 2. berwarna merah dan tidak memiliki mata (Nurmalina dan Valley. 2011). Pustula lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan papula. kurang merah dan lebih kecil dari yang aktif. 2012). 2010). Letak pustula bisa dalam atau superfisial. Papula merupakan bintil yang meradang. Warna pustula adalah merah di pinggir dan putih di tengahnya (Mumpuni dan Wulandari. 2012). 2. Nodul terdiri atas bercak-bercak jerawat lebih besar dan berbintil keras dibawah permukaan kulit. Pustula terbentuk dari papula atau nodul yang mengalami peradangan dan dapat bertahan selama 7 hari atau lebih (Hartini dkk. sebagian akan menjadi parut (Hartini dkk. tetapi tidak semua nodul akan menghilang. 2012). 2. 2011). Ada dua tipe papula yaitu yang aktif dan tidak aktif.9 Pustula Pustula merupakan papula yang berisi pus atau nanah.

yaitu terjadinya atrofi atau pembentukan keloid (Graham-Brown dan Burns. 2005). bahkan kadang-kadang sangat besar sehingga terlihat seperti bengkak. sedangkan pada kasus yang berat dapat terjadi perubahan yang besar.12 Parut Jaringan parut atau scar merupakan perjalanan akhir dari proses peradangan pada acne. tetapi memiliki nanah. Kista (Cyst) adalah bentuk jerawat yang paling parah. Ukurannya besar (diameter sekitar 5mm atau lebih). 2010). 2. Berbeda dengan jerawat lainnya. berbentuk seperti “butiran es” dan dalam. BAB III . Tanda yang khas adalah terbentuknya jaringan parut yang kecil. Kemungkinan besar jerawat jenis ini bersifat genetik. Jerawat ini bisa terlihat mirip seperti nodula. cyst biasanya menyebar ke seluruh wajah atau tidak di satu tempat saja. Jerawat ini adalah jerawat yang paling merusak (Mumpuni dan Wulandari.

gula Produksi sebum Hiperkeratosis epitelium folikuler Pertumbuhan bakteri Inflamasi Komedo Papula Pustula Nodul Kista Acne vulgaris Keterangan: : Diteliti 14 . KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3. susu.1 Kerangka Konseptual Penelitian Cokelat Kandungan lemak.

Pada Acne vulgaris terjadi perubahan jumlah dan konsistensi lemak kelenjar akibat pengaruh berbagai faktor penyebab. susu dan gula dalam kadar tinggi dapat menyebabkan produksi sebum meningkat. Penyumbatan pori-pori mengakibatkan sebum dan nutrien terperangkap sehingga pertumbuhan bakteri semakin cepat dan terbentuk erupsi kulit polimorfi yang diawali dari komedo. 2011). lengan atas. 15 Cokelat yang mengandung lemak. Acne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja. Pada umumnya keluhan penderita adalah keluhan estetis walaupun biasanya dapat disertai rasa gatal (Wasitaatmadja. Proses ini diakhiri dengan terbentuknya jaringan parut. Tempat predileksi Acne vulgaris adalah di wajah. Kelenjar-kelenjar keringat pada kulit menghasilkan zat berminyak (sebum atau keringat) yang normalnya dikeluarkan ke permukaan kulit melalui pori-pori atau folikel yang terbuka. dan punggung bagian atas. Adanya hiperkeratosis dari sel-sel yang menghubungkan pori-pori ini (sel keratinosit) dan epitelium folikel menyebabkan pertumbuhan bakteri meningkat dan terjadi proses keradangan. bahu. pustula.2 Hipotesis Penelitian Ada pengaruh cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B). nodul. . bahkan pada kasus berat dapat timbul atrofi maupun keloid (Nurmalina dan Valley. 1999). dada bagian atas. Hampir setiap orang pernah mengalami penyakit ini. leher terutama bagian belakang. 3. dan kista. telinga dan glutea yang terkadang dapat terkena acne. papula.

1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan studi cross- sectional untuk mengetahui pengaruh cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris. BAB IV METODE PENELITIAN 4. 16 . Dalam pengukuran tersebut dapat diketahui jumlah subyek yang mengalami efek. pengukuran terhadap variabel bebas (faktor resiko) dan variabel tergantung (efek) hanya dilakukan sekali dalam waktu bersamaan. Secara skematis rancangan penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Acne vulgaris Cokelat (O1) Tidak ada Acne vulgaris P Kuesioner  Ku Acne vulgaris Tidak makan esi cokelat (O2) on er Tidak ada Acne vulgaris Keterangan: P : Populasi O: Observasi Dalam studi analitik cross-sectional mempelajari hubungan antara faktor risiko dengan penyakit (efek). 2011). maupun pada kelompok tanpa faktor risiko (Alatas dkk. baik pada kelompok subyek yang faktor risiko.

dana. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek. 2.2. 4. maka besar sampel penelitian dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih tergantung dari: 1. Suharsimi Arikunto (2006). Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. apabila jumlah anggota subjek dalam populasi kurang dari 100. maka sebaiknya subjek sejumlah itu diambil seluruhnya.2. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu.1 Populasi Populasi adalah sekelompok subyek yang memiliki karakteristik tertentu (Sastroasmoro. Dr. dan tenaga. karena menyangkut banyak sedikitnya dana 3. dan dalam pengumpulan datanya peneliti menggunakan angket. Apabila subyek dalam populasi besar terdiri dari beberapa ratus subyek. dalam menentukan besar sampel penelitian. sehingga penelitian merupakan penelitian populasi.2 Populasi dan Sampel 4.2 Sampel Sampel adalah bagian (subset) dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap dapat mewakili populasinya (Sastroasmoro. 2011). Sampel dalam penelitian ini adalah beberapa mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi angkatan 2010 (B) Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang berjumlah 117 orang. 2011). 17 4. . Menurut Prof.

5 Definisi Operasional Menurut Kamus Kedokteran Dorland (2010).25 (dibulatkan 30) Keterangan: N = Jumlah populasi n = Besar sampel penelitian yang dibutuhkan Dalam penelitian ini.4 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilaksanakan di area Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) pada bulan Oktober 2012. 4.. besar sampel yang diambil adalah 30 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B). variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini dapat didefinisikan sebagai berikut: . 4. 4.3 Variabel Penelitian Variabel bebas dalam penelitian ini adalah cokelat dan variabel terikat yang diteliti adalah kejadian Acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B). 18 Dengan demikian didapatkan rumus : n=%xN n = 25% x 117 n = 29.

4.5. Kuesioner adalah alat pengumpul data berbentuk pertanyaan yang akan diisi atau dijawab oleh responden (Djaali P.2 Pengolahan Data Data mentah yang didapatkan dari hasil kuesioner akan diolah ke dalam tabel distribusi frekuensi dan tabel 2 x 2 secara manual untuk mengetahui prevalensi penyakit Acne vulgaris pada responden yang mengkonsumsi dan tidak mengkonsumsi cokelat. dipanggang. 19 4. Kuesioner dibagikan kepada 30 responden yang ditentukan secara simple random sampling. 4. M. 2008). dan difermentasi.6. penyakit radang menahun dari aparatus pilosebacea. Data tersebut selanjutnya dikumpulkan untuk diteliti. dan punggung. dihaluskan. .5.1 Pengumpulan Data Data yang diambil merupakan data primer. lesi paling sering dijumpai pada wajah. 4.6. Setelah kuesioner diisi dan dijawab oleh responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui jumlah penderita Acne vulgaris.2 Acne Vulgaris Acne vulgaris adalah bentuk acne yang paling umum. akan didapatkan dua data yaitu data tentang mengkonsumsi cokelat dan kejadian Acne vulgaris..6 Prosedur Penelitian 4. dada.1 Cokelat Chocolate adalah produk gula-gula yang dibuat dari biji Theobroma cacao yang sudah dikupas.

. Tingkat kesalahan (α) dalam penelitian ini ditentukan sebesar 5% dan interval kepercayaan (Confident Interval) sebesar 95 %. 20 4.7 Analisis Data Uji statistik yang dipakai untuk menentukan hubungan kedua variabel adalah uji kai-kuadrat (X2).

5.3 Analisis Data Dalam penelitian ini. 2011). kemudian dapat dihitung risiko relatif atau risiko insidens (Alatas.2 Karakteristik Responden Cara pengambilan sampel diawali dengan menghitung jumlah subyek dalam populasi (terjangkau) yang akan dipilih subyeknya sebagai sampel penelitian. analisis data menggunakan tabel distribusi frekuensi dan tabel 2 x 2. kemudian setiap subyek diberi nomor dan dipilih sebagian menggunakan bantuan tabel angka random (Sastroasmoro. 21 . 5. BAB V HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA 5. Tabel 2 x 2 dapat digunakan untuk menentukan insidens terjadnya efek pada kelompok terpajan dan kelompok kontrol. 2009).1 Gambaran Umum Daerah Penelitian Penelitian dilakukan pada kelas 2010 (B) di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Distribusi frekuensi adalah penyusunan suatu data menurut interval tertentu atau menurut katagori tertentu dalam sebuah daftar (Hasan. Responden dalam penelitian ini merupakan 30 mahasiswi angkatan 2010 (B) yang dipilih secara acak menggunakan sistem simple random sampling. 2011).

22 5. dapat diketahui bahwa jumlah responden yang sering mengkonsumsi cokelat (minimal 1x / minggu) sama besar dengan jumlah responden yang tidak mengkonsumsi cokelat (minimal 1x / minggu) yaitu 15 responden.1 Konsumsi Cokelat Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang telah dilakukan. diperoleh data tentang konsumsi cokelat yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5. 2012 Berdasarkan tabel tersebut. Persentase responden mengenai konsumsi cokelat dapat dilihat dari diagram lingkaran berikut ini: Konsumsi Cokelat ya 50% 50% tidak Gambar 1: Proporsi Konsumsi Cokelat pada 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) .1: Konsumsi Cokelat pada 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) Konsumsi Cokelat Frekuensi Persentase (%) Ya 15 50 Tidak 15 50 Total 30 100 Sumber: Data primer yang diolah.3.

diperoleh data kejadian Acne vulgaris pada 30 responden yang dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 5.2 Kejadian Acne Vulgaris Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner.3. Proporsi kejadian Acne vulgaris dari 30 responden yang diteliti dapat dilihat dalam diagram lingkaran dibawah ini: Kejadian Acne vulgaris 37% Ya Tidak 63% Gambar 2: Proporsi Kejadian Acne vulgaris pada 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) . dapat diketahui bahwa sebagian besar responden sejumlah 19 responden mengalami Acne vulgaris baik karena mengkonsumsi cokelat ataupun tidak mengkonsumsi cokelat.2: Kejadian Acne vulgaris pada 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) Kejadian Acne vulgaris Frekuensi Persentase (%) Ya 19 63.3 Tidak 11 36. 2012 Berdasarkan tabel tersebut. 23 5.7 Total 30 100 Sumber: Data primer yang diolah.

3 Jenis Cokelat yang Dikonsumsi Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner. Persentase jenis cokelat yang dikonsumsi digambarkan dalam diagram berikut: Jenis Cokelat 10% Cokelat batang 40% 23% Es krim rasa cokelat Minuman cokelat Roti cokelat 27% Gambar 3: Proporsi Jenis Cokelat yang Dikonsumsi oleh 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) . 24 5.3 Roti cokelat 3 10 Total 30 100 Sumber: Data primer yang diolah.3. Sejumlah 8 responden mengkonsumsi es krim rasa cokelat dan 7 responden mengkonsumsi minuman cokelat.7 Minuman cokelat 7 23. Sedangkan hanya 3 responden mengkonsumsi roti cokelat. diperoleh data tentang jenis cokelat yang dikonsumsi oleh 30 responden dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 5. 2012 Berdasarkan tabel tersebut.3: Jenis Cokelat yang Dikonsumsi oleh 30 Responden Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B) Jenis Cokelat Frekuensi Persentase (%) Cokelat batang 12 40 Es krim rasa cokelat 8 26. dapat diketahui bahwa sebagian besar responden sejumlah 12 responden mengkonsumsi cokelat batang.

Sejumlah 7 responden lainnya tidak mengkonsumsi cokelat terlalu sering dan tidak mengalami Acne vulgaris.4 Konsumsi Cokelat dan Kejadian Acne Vulgaris Berdasarkan hasil kuesioner dan tabel-tabel diatas.5 15 (c+d) Jumlah 19 (a+c) 11 (b+d) 30 Sumber: Data primer yang diolah. Tabel 5. Sejumlah 8 responden menyatakan tidak sering mengkonsumsi cokelat namun tetap mengalami Acne vulgaris. didapatkan sejumlah 11 responden yang mengalami Acne vulgaris dan mengkonsumsi cokelat (minimal 1x / minggu). Sedangkan 4 responden tidak mengalami Acne vulgaris walaupun sering mengkonsumsi cokelat (minimal 1x / minggu). 25 5.5: Perhitungan Hubungan antara Konsumsi Cokelat dengan Kejadian Acne Vulgaris Acne vulgaris Cokelat Ya Tidak Jumlah O E O E Ya 11 (a) 9. sebagai berikut: Tabel 5. maka dihubungkan data tentang konsumsi cokelat dan kejadian Acne vulgaris yang disajikan dalam tabel 2 x 2 untuk mengetahui prevalensi kejadian.3.4: Tabel 2 x 2 Mengenai Hubungan antara Konsumsi Cokelat dengan Kejadian Acne Vulgaris Acne vulgaris Cokelat Jumlah Ya Tidak Ya 11 4 15 Tidak 8 7 15 Jumlah 19 11 30 Sumber: Data primer yang diolah.5 4 (b) 5.5 7 (d) 5.5 15 (a+b) Tidak 8 (c) 9. 2012 Berdasarkan tabel tersebut. 2012 .

26 30 (|(11 . 7)−(4 . Nilai X2 hitung yang didapatkan adalah 1. Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara konsumsi cokelat dengan kejadian Acne vulgaris.263 47025 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑥 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 Keterangan: 𝐸 (𝑠𝑒𝑙) = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑛 (|𝑎𝑑−𝑏𝑐|−0.05 didapatkan X2 tabel = 3. tidak terdapat perbedaan signifikan antara responden yang mengkonsumsi cokelat dan yang tidak mengkonsumsi cokelat dengan kejadian Acne vulgaris.5)2 𝑋2 = (𝑎+𝑏)(𝑐+𝑑)(𝑎+𝑐)(𝑏+𝑑) X2 = Nilai kai-kuadrat df = (Baris – 1) (Kolom – 1) = (2 – 1) (2 – 1) = 1 Dengan df = 1 dan α = 0.263.19 . Berdasarkan uji statistik kai-kuadrat dengan koreksi Yates.5 𝑋2 = = 1.11 59407. H0 = Tidak ada pengaruh cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B).841. Oleh karena X2 hitung < X2 tabel m aka H0 diterima. H1 = Ada pengaruh cokelat terhadap kejadian Acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B). .5)2 𝑋2 = 15 .15 . 8)|−0.

BAB VI PEMBAHASAN Acne vulgaris adalah penyakit kronis yang ditandai dengan proses peradangan yang khas. 2011). Berdasarkan hasil studi terbaru yang telah dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition. fungsi sebaseous. Penelitian di Jerman menunjukkan acne vulgaris terjadi sebanyak 64% dari yang berusia 20-29 tahun dan setelah usia 20 tahun prevalensi acne akan menurun seiring bertambahnya usia (Williams dkk. dan proliferasi bakteri Propionibacterium acnes. Hal ini dapat dilihat dalam tabel 5.2. Acne vulgaris adalah penyakit yang kompleks dengan elemen patogenesis yaitu kerusakan pada keratinisasi epidermal. dan imunitas (Yenni dkk. sekresi androgen. Penyebab jerawat (acne vulgaris) dikatakan bersifat multifaktorial namun hingga saat ini pengaruh makanan terhadap munculnya jerawat masih kontroversial. inflamasi. pertumbuhan bakteri. disimpulkan bahwa diet rendah GL (Glycemic Load) dapat memperbaiki lesi 27 . seperti kelebihan produksi sebum. Acne vulgaris umumnya terjadi pada rentang usia 15-17 tahun. 2011). Bakteri ini merupakan bakteri yang bersifat anaerob dan gram positif dan biasanya ditemukan koloni pada kelenjar sebasea dan folikel pilosebasea sehingga bakteri ini sering dianggap sebagai bakteri yang memiliki peran utama dalam terjadinya acne vulgaris (Linuma dkk. deskuamasi abnormal epitel folikel sebasea.3% dari itu menunjukkan kejadian acne vulgaris. 30 responden yang dipilih secara acak adalah wanita berusia 19-20 tahun dan 63. Dalam penelitian ini. 2011).

namun sedikit bukti yang mendukung ataupun membantah pernyataan tersebut. 40% diantaranya cenderung mengkonsumsi cokelat batang baik dark chocolate atau milk chocolate.3% cenderung mengkonsumsi minuman cokelat yang memiliki kandungan lemak. 2008). tidak menunjukkan perkembangan acne (Hillyer. susu dan gula cukup tinggi. 23. Peneliti dari Universitas Pennsylvania (Philadelphia. Dalam penelitian ini objek yang diteliti adalah cokelat. USA) mengungkapkan bahwa konsumsi cokelat baik secara teratur atau tidak. Beberapa studi yang dilakukan oleh Universitas Harvard menemukan bahwa wanita dan remaja yang mengkonsumsi susu atau produk susu lainnya mengalami acne yang lebih parah (Edison. 28 jerawat dan perbaikan sensitivitas insulin. 26.3. . sinar matahari.1 dan 5. tetapi perlu diwaspadai untuk milk chocolate yang mengandung susu dan gula. 2006). (Williams dkk. Banyak orang berpendapat bahwa makanan. didapatkan bahwa dari 15 responden yang sering mengkonsumsi cokelat (minimal 1x / minggu) dan 15 responden yang tidak sering mengkonsumsi cokelat. 2011). Edison. cokelat (terutama dark chocolate) mungkin tidak menyebabkan timbulnya acne. 10% sisanya memilih mengkonsumsi roti cokelat yang memiliki kandungan tepung dan gula cukup tinggi. namun perlu studi lebih lanjut untuk memastikan hal ini (Smith dkk. 2007).7% memilih sering mengkonsumsi es krim cokelat. sehingga pola hidup khususnya dari sisi nutrisi mungkin berperan terhadap patogenesis jerawat. dan kebersihan kulit memiliki peran dalam timbulnya jerawat. Menurut Richard G. Berdasarkan tabel 5.

produk susu. dr. dalam acne-free diet (diet untuk membersihkan jerawat). Dean Goodless menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mempunyai nilai glycemic index (GI) rendah termasuk makanan yang banyak mengandung serat dan mengurangi konsumsi makanan berlemak. dan obesitas (Hartini dkk. Makanan dengan GI rendah mungkin diperbolehkan dan tidak memperparah jerawat serta dapat membantu mencegah penyakit lain seperti diabetes. 2012). Dengan menghindari makanan tertentu dan menambah jumlah vitamin serta mineral tertentu. penyakit jantung. produk kacang-kacangan. didapatkan bahwa antara konsumsi cokelat dengan kejadian acne vulgaris didapat . namun lemak dan gula yang biasa menemani cokelat yang dapat menyebabkan jerawat. 29 Cokelat mungkin memang tidak menyebabkan jerawat.5. 2012). Oleh karena itu. Para peneliti menemukan bahwa makanan yang tinggi karbohidrat akan meningkatkan kadar insulin yang dapat memicu produksi sebum dan ketidakseimbangan hormon. Pada penelitian ini hubungan antara cokelat dengan kejadian acne vulgaris ditunjukkan dalam tabel 5. tetapi interaksi antara makanan dengan jerawat tidak sesederhana seperti hubungan sebab-akibat (Hartini dkk. Berdasarkan hasil perhitungan penelitian ini. Banyak makanan yang tinggi karbohidrat dipercayai dapat memperparah acne. Glycemic index (GI) merupakan angka yang menunjukkan potensi suatu makanan dalam meningkatkan kadar gula darah. 2012). dan asupan garam (Hartini dkk. mungkin dapat mengurangi jumlah sebum dan mencegah timbulnya jerawat.4 dan 5. Makanan dengan GI rendah membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dicerna sehingga akan lebih lambat dalam meningkatkan gula darah.

. dengan X2 tabel = 3. melainkan untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan. Oleh karena itu.841 (X2 hitung < X2 tabel). mengubah gaya hidup dapat membawa hasil positif tidak hanya untuk jerawat. artinya tidak ada hubungan antara cokelat dengan kejadian acne vulgaris. Walaupun pada akhirnya hasil dari penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan antara cokelat dengan acne vulgaris serta masalah makanan sebagai salah satu agen penyebab terjadinya acne juga masih diperdebatkan.263. 30 nilai X2 hitung = 1. pola makan yang tidak benar dan tidak terkontrol akan menyebabkan ketidakseimbangan asupan gizi dalam tubuh secara keseluruhan.

menggunakan metode penelitian berbeda. dan waktu yang lebih lama sehingga dapat mendapatkan hasil yang lebih signifikan.2 Saran 7.1 Kesimpulan Tidak ada pengaruh cokelat terhadap kejadian acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya angkatan 2010B.2. BAB VII PENUTUP 7.2. 7.1 Perlu dilakukan penelitian eksperimental untuk membuktikan apakah cokelat tidak memiliki hubungan dengan kejadian acne vulgaris. 7.2 Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan meneliti faktor-faktor lain yang menjadi penyebab timbulnya acne vulgaris. 31 .

2002. diakses tanggal 27 Juni 2012. Chocolate is a Health Food? International News on Fats. Susceptibility of Propionibacterium Acnes Isolated From Patients With Acne Vulgaris to Zinc Ascorbate and Antibiotics. dkk. G. Edison. E. dan Supomo. Jakarta: PT. Anand. A.. 138. 2012. 759. 2008. D. G. Safitri. hal. Terjemahan oleh M. Graham-Brown. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Djaali. Oils and Related Materials: INFORM. J. Dec. Terjemahan oleh Retna Neary Elseria.R. 2012. 61-71 Healy. A... Vol. S. pg. Rineka Cipta.. J. Acne vulgaris. Hartini. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. 21-26. Vol. 2008. http://library. 2011: 4 161- 32 . 134.edu/kw/derm/pages/ac01_2. 55-65. hal 20. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 31. 2006.. S. Cordain. pg. Yogyakarta: Maher Publishing. Fahrezi. R. Arikunto. Fauzi. 2005. dkk.utah. P. 81-87. 1994. 33-39. 17 (12). hal. A. dkk. Hilyer. ProQuest Science Journals. M. editors. 11. T. Desain Penelitian. American Medical Association. 2002. Gramedia Widiasarana Indonesia. 408. Linuma. Jakarta: Elex Media Komputindo. dan Nurmalina. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi Ke-4. Jakarta: PT. Bezzant.L. N. pg. Patogenesis terjadinya Acne vulgaris. 1997. In: Sastroasmoro. S. H.. A. hal 13-14.med. Listen: Apr 2008. L. Mahode. 1584- 1590. 104-129. dkk. dkk. editor. 2007. Good for You. Acne Vulgaris: A Disease of Western Civilization. Merawat Kulit dan Wajah. Jakarta: Sagung Seto. ProQuest Sociology. W. hal. Anies Zakaria. Jakarta: EGC. Dorland. Dec 2006. Arch Dermatol. dan Burns. hal 131. 2008. DAFTAR PUSTAKA Alatas. Vol.. dkk. 61 (8). R. K. 2011. C. 13-17. PubMed.htm. 2006. Jakarta: Erlangga.. 2010. A. Lecture Notes on Dermatologi Edisi Kedelapan. 2011. dan Simpson. R. N. 10 Cara Paling Jitu Mengatasi Jerawat dan Komedo. 308:831-833.

88-103. American Journal of Clinical Nutrition 2007: 86 (1): 107-115.. Sastroasmoro. 2: 215. Widjaja. M. Y. S. Amin. April 2011. P. Williams.. Pemilihan Subyek Penelitian. 1-20. S. 231-241. hal.05% Gel yang Dinilai dengan Gambaran Klinis serta Profil Interleukin 1-α (IL-1α) pada Avne Vulgaris. M. dan Djawad. hal. Rinofirma.. In: Harahap. dan Valley. A. C. Jakarta: Hipokrates. 31-32. Lwanga. 2011.. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi Ke-4. Watson. Sample Size Determination in Health Studies. ISSN 1411-4674. 9813. ProQuest. Nutrition and Health 2013. Nurmalina. Perbandingan Efektivitas Adapalene 0. Mumpuni. Jan 28 – Feb 3. S. editors. Dellavalle. Rosasea dan Acne Vulgaris. R. B. Charper 30 Chocolate: A Role in Skin Care and Cancer. 52-53. Yenni. R. dan Garner. Jakarta: Elex Media Komputindo. dan Wulandari. dkk. Clinical. H. Jakarta: Sagung Seto. K. Cara Jitu Mengatasi Jerawat. Geneve: WHO. pg 337-340. Cocoa and Chocolate Flavonoids: Implication for Cardiovascular Health. dkk. Jurus Ampuh Menaklukkan Jerawat.N. R. R. . P. 1: 85-93. Cosmetic. S. Steinberg.. 13-37. S. 1991. Dove Press Journal. Vol. 103. K.. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketiga. Lancet 379. 35-47. In: Sastroasmoro. 52-53. hal. S. A Low Glycemic-Load Diet Improves Symptoms in Acne Vulgaris Patients: A Randomized Controlled Trial.1% Gel dan Isotretinoin 0. dan Berg. A. dkk. S. dkk. 2000. 1999. 39-40. A. JST Kesehatan.S. Ilmu Penyakit Kulit. 2012: 361-372. In: Djuanda. Wasitaatmadja. 2011. 2003. E. 2011. Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics. hal. Bioactive Dietary Factors and Plant Extracts in Dermatology. L. 2013. Erupsi Akneiformis. Rachmah. Yogyakarta: Andi.. 1 No. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. dan Cahanar. Akne. 3-5. hal. and Investigational Dermatology.. Acne vulgaris. Rosasea. Smith. 33 165. 2010. 2007.. 2012. R. dan Lemeshow.

Ya b. Es krim rasa cokelat c. Ya b. Roti cokelat 34 . Jenis cokelat apakah yang Saudara sering konsumsi? a. Bila jawaban tidak (pertanyaan no. Ya b. apakah Saudara berjerawat? a. LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER 1. Apakah Saudara sering makan cokelat (minimal 1 x / minggu)? a. apakah Saudara berjerawat? a. Minuman cokelat d. Tidak 4. Bila jawaban ya.1). Tidak 2. Tidak 3. Cokelat batang b.

Audrey Soegiarto NPM: 10700138 . NPM : 10700138. Apabila di kemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan. 21 November 2013 Yang membuat pernyataan. benar- benar hasil karya saya sendiri. menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis dengan judul “Pengaruh Cokelat terhadap Kejadian Acne Vulgaris pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Angkatan 2010 (B)”. Surabaya. maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut. Program Studi : Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Yang bertanda tangan di bawah ini saya: Nama : Audrey Soegiarto. bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.