You are on page 1of 23

DISPARITAS SPASIAL KEPEMILIKAN JAMINAN KESEHATAN

BERDASARKAN STATUS BEKERJA KEPALA RUMAH TANGGA
DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Hilmi Sifa’ Iftitah – 3SE1 – 14.8166

ABSTRAK

Keberadaan penduduk atau rumah tangga miskin dalam suatu wilayah
tidak akan membawa kemakmuran sehingga perlu diberantas. Pemerintah
merancang berbagai program penanggulangan kemiskinan guna mengatasi
persoalan kemiskinan dan mewujudkan terciptanya kesejahteraan masyarakat
Indonesia secara keseluruhan. Keefektifan program-program penanggulangan
kemiskinan yang sudah diretas sejak lama sebagaimana digagas dalam suatu
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diatur dalam kerangka UU No. 40
Tahun 2004 tentang SJSN ini pun dipertanyakan jika kita melihat angka
kemiskinan di atas yang tetap tinggi. Adanya kebijakan jaminan kesehatan dari
pemerintah, masih sulit diakses atau dirasa belum mampu melindung masyarakat
miskin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran kepemilikan
jaminan kesehatan berdasarkan status bekerja Kepala Rumah Tangga (KRT) di
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan menggunakan analisis spasial.
Variabel yang digunakan yaitu status bekerja, keluhan kesehatan, dan kepemilikan
jaminan kesehatan KRT yang diperoleh dari data Praktik Kerja Lapangan (PKL)
STIS Angkatan 56. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tangga dengan
KRT yang tidak bekerja dan mengalami keluhan kesehatan serta tidak mempunyai
jaminan kesehatan persentasenya masih besar. Berdasarkan hasil pengujian
autokorelasi spasial dengan Moran’s I menunjukkan tidak ada keterkaitan atau
hubungan nilai persentase KRT yang tidak bekerja dan mempunyai keluhaan
kesehatan dalam satu bulan terakhir serta tidak memiliki jaminan kesehatan antar
kecamatan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung.

Kata Kunci : Jaminan Kesehatan, Kemiskinan, Analisis Spasial

1

I. PENDAHULUAN

Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang timbul dalam
pembangunan bersama-sama dengan masalah pengangguran dan kesenjangan
yang ketiganya saling kait mengkait. Masalah kemiskinan berkaitan sangat erat
dengan kualitas sumber daya manusia. Kemiskinan muncul karena sumber daya
manusia tidak berkualitas, demikian pula sebaliknya. Meningkatkan sumber daya
manusia mengandung upaya menghapuskan kemiskinan. Peningkatan sumber
daya manusia tidak mungkin dapat dicapai bila penduduk masih dibelenggu
kemiskinan. Oleh karena itu dalam pengembangan sumber daya manusia, salah
satu program yang harus dilaksanakan adalah mengurangi dan menghapuskan
kemiskinan.
Keberadaan penduduk atau rumah tangga miskin dalam suatu wilayah
tidak akan membawa kemakmuran bagi wilayah tersebut sehingga wajib
diberantas. Gagasan ini tersirat dalam ungkapan Smith (1776) dalam Todaro
(2004) yang menyatakan bahwa tidak ada masyarakat yang makmur dan bahagia,
jika sebagian besar penduduknya berada dalam kemiskinan dan kesengsaraan.
Oleh karena itu, pemberantasan kemiskinan telah menjadi tantangan utama
pembangunan dewasa ini, karena hakikat pembangunan ekonomi bukan terletak
pada pendapatan yang dihasilkan suatu wilayah, tetapi pada peningkatan kualitas
kehidupan penduduk.
Fakta yang ada saat ini menggambarkan jika kelompok masyarakat bawah
yang jumlah pertumbuhannya memang ‘lebih kecil’, tetapi kondisinya justru
semakin memperihatinkan. Kelompok masyarakat miskin semakin miskin. Di sisi
lain, adanya kebijakan jaminan sosial dari pemerintah, masih sulit diakses atau
dirasa belum mampu melindung masyarakat miskin. Sebagai dampaknya,
masyarakat miskin akan semakin terperosok, sedangkan masyarakat yang rentan
akan masuk dalam kemiskinan. Masyarakat yang rentan terhadap kemiskinan ini
mempunyai kecenderungan kondisi ekonomi rumah tangganya belum
berkecukupan. Kepala rumah tangga (KRT) yang mempunyai tanggung jawab
dalam mengatur ekonomi rumah tangga belum mampu memenuhi standar
kebutuhan hidup. Kurangnya pengetahuan dan kemampuan penduduk

2

agar pada situasi sakit. jaminan agar dia bisa produktif. Jamkesmas memang dirancang untuk membantu yang sudah terlanjur yang sangat miskin. Keefektifan program-program penanggulangan kemiskinan yang sudah diretas sejak lama ini pun dipertanyakan jika kita melihat angka kemiskinan di atas yang tetap tinggi. pemerintah merancang berbagai program penanggulangan kemiskinan guna mengatasi persoalan kemiskinan dan mewujudkan terciptanya kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. berkeluarga atau pun saat tua dia memiliki jaminan sosial bahwa dia tak akan tiba- tiba jatuh miskin misalnya ketika sakit dan sebagainya. Bertolak dari hal tersebut.menyebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia sehingga tidak mampu bersaing dalam dunia pekerjaan. Jamkesmas diketahui bukanlah program preventif yang mencegah masalah. 2012). Catatan terhadap berbagai program penanggulangan kemiskinan adalah apakah akan berkesinambungan dan ataukah memang sudah menjawab kebutuhan masyarakat. melainkan suatu program bantuan sosial (Wisnu. Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut adalah pendekatan yang digunakan kurang tepat dan sering salah sasaran. Sebagai solusi atas kondisi tersebut. asuransi kesehatan 3 . Permasalahan ini dapat menimbulkan rentannya rumah tangga untuk jatuh dalam kemiskinan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dengan hak orang- orang yang sebenarnya juga membutuhkan bantuan. Sebagai program bantuan sosial. agar semua warga negara mendapatkan jaminan sosial. Sistem ini meliputi jaminan hari tua. Sering kemudian kita mendapati fakta bahwa orang-orang mampu yang mengakses berbagai program penanggulangan kemiskinan ini. ternyata tidak mendapatkan hak atas berbagai program penanggulangan kemiskinan ini. Salah satunya yaitu dengan Jamkesmas. pensiun. Hal ini terkonfirmasi dengan hasil penelitian Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dari kantor Wakil Presiden yang diselenggarakan pada periode 2010-2011 yang menunjukkan bahwa kerap terjadi masyarakat miskin yang seharusnya dapat. 40 Tahun 2004 tentang SJSN ini. Berbagai program penanggulangan kemiskinan yang diluncurkan bukanlah program-program preventif. digagaslah suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diatur dalam kerangka UU No.

keluhan kesehatan yang dialami oleh KRT adalah keadaan seseorang yang mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan. Pemilihan ketiga variabel ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran kepemilikan jaminan kesehatan pada rumah tangga yang mempunyai keluhan kesehatan berdasarkan status bekerja KRT. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti mengambil judul “Disparitas Spasial Kepemilikan Jaminan Kesehatan Berdasarkan Status Bekerja KRT di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. Jamkesda. Jika kondisi ekonomi rumah tangga bermasalah secara berkelanjutan maka rumah tangga tersebut akan rentan terhadap kemiskinan. Pada penelitian kali ini. peneliti fokus pada jaminan sosial di bidang kesehatan dengan menggunakan lokasi penelitian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang juga merupakan lokasi penelitian dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) STIS Angkatan 56. serta kepemilikan Jaminan Kesehatan (Jamkes). atau wiraswastawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran kepemilikan jaminan kesehatan berdasarkan status bekerja KRT dengan menggunakan analisis spasial.nasional. dan jaminan kesehatan lainnya. Terdapat tiga variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu status bekerja KRT. sektor informal. Kemudian. dan keluhan lainnya. Kepemilikan jaminan kesehatan menunjukkan adanya jaminan pembiayaan meliputi Bantuan Iuran (PBI). 4 . Jamkesmas. Apabila rumah tangga dengan KRT tidak bekerja kemudian mempunyai keluhan kesehatan serta tidak mempunyai jaminan kesehatan maka aktivitas kehidupannya terganggu terutama dalam membiayai kebutuhan ekonomi rumah tangganya. Program ini akan mencakup seluruh warga negara Indonesia. KRT dengan keluhan kesehatan dalam satu bulan terakhir. jaminan kecelakaan kerja. dan jaminan kematian. baik karena gangguan/penyakit yang sering dialami oleh penduduk maupun karena penyakit akut. tidak peduli apakah mereka termasuk pekerja sektor formal. kecelakaan. Melakukan pekerjaan dalam konsep bekerja adalah melakukan kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang atau jasa dan memperoleh penghasilan dan keuntungan dengan waktu paling sedikit satu jam dalam seminggu yang lalu.

1 Sumber Data dan Lokasi Penelitian Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan pemodelan spasial yang menggambarkan kondisi nyata di lapangan. II. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari data Praktik Kerja Lapangan (PKL) STIS Angkatan 56. Peta lokasi disajikan pada Gambar 2.1 Kode Kabupaten dan Kecamatan Tahun 2016 Kabupaten Kode Kec Kecamatan 070 Mendo Barat 080 Merawang Bangka (1901) 081 Puding Besar 090 Sungai Liat 091 Pemali 5 . Gambar 2. Sistem informasi geografis merupakan alat yang digunakan dalam mengolah dan menganalisis penyebaran kepemilikan jaminan kesehatan pada KRT berdasarkan status bekerja yang mengalami keluhan kesehatan dalam satu bulan terakhir.1. Lokasi Penelitian Tabel 2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1. Lokasi penelitian yaitu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan unit analisis kecamatan.

092 Bakam 130 Belinyu 131 Riau Silip 010 Membalong 060 Tanjung Pandan Belitung (1902) 061 Badau 062 Sijuk 063 Selat Nasik 010 Kelapa 020 Tempilang Bangka Barat 030 Mentok (1903) 040 Simpang Teritip 050 Jebus 051 Parittiga 010 Koba 011 Lubuk Besar Bangka Tengah 020 Pangkalan Baru (1904) 021 Namang 030 Sungai Selan 040 Simpang Katis 010 Payung 011 Pulau Besar 020 Simpang Rimba Bangka Selatan 030 Toboali (1905) 031 Tukak Sadai 040 Air Gegas 050 Lepar Pongok 051 Kepulauan Pongok 010 Dendang 011 Simpang Pesak 020 Gantung Belitung Timur 021 Simpang Renggiang (1906) 030 Manggar 031 Damar 040 Kelapa Kampit 010 Rangkui 020 Bukit Intan 021 Girimaya Pangkal Pinang 030 Pangkal Balam (1971) 031 Gabek 040 Taman Sari 041 Gerunggang 6 .

keluhan kesehatan dan kepemilikan jaminan kesehatan yang digabungkan sehingga akan dihasilkan output yang berupa informasi baru. Penggunaan unit polygon terkecil dari wilayah penelitian yaitu kecamatan dengan tujuan untuk membandingkan hasil wilayah kecamatan satu dengan 7 . Hal ini dilakukan dengan berusaha meminimalkan rata-rata penyimpangan kelas rata-rata dalam kelompok.3.2 Analisis Spasial Analisis spasial yang dilakukan dalam penelitian ini adalah untuk pemetaan variabel dengan klasifikasi variabel menggunakan teknik klasifikasi Natural Breaks (Jenks). Analisis dilakukan dengan input data variabel status bekerja. Metode pengoptimalan Jenks dipilih karena metode ini dirancang untuk menentukan susunan nilai terbaik ke kelas yang berbeda. metode ini berusaha untuk mengurangi varians di dalam kelas dan memaksimalkan varians di antara kelas. 160 HIGH LOW MEDIUM 140 120 100 80 60 40 20 0 Gambar 2.2 Ilustrasi Klasifikasi Natural Breaks (Jenks) Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan alat sistem informasi geografis berupa software ArcGIS 10.2. Input data yang digunakan dalam pemetaan variabel menggunakan data kuantitatif dan data spasial. sedangkan output dari model ini juga akan menghasilkan data spasial berupa peta. sekaligus memaksimalkan penyimpangan kelas antar kelompok. Dengan kata lain.

metode analisis melalui tahapan eksplorasi data melalui peta tematik dilanjutkan dengan analisis autokorelasi spasial.. Buffering ini bertujuan untuk membangun lapisan pendukung di sekitar permukaan dalam jarak tertentu untuk menentukan dekatnya hubungan antar sifat bagian yang ada. Koefisien Moran’s I digunakan untuk uji dependensi spasial atau autokorelasi antar amatan atau lokasi. Hipotesis yang digunakan adalah : Ho: I = 0 (tidak ada autokorelasi antar lokasi) H1: I ≠ 0 (ada autokorelasi antar lokasi) Statistik uji (Lee dan Wong.lainnya. 2.. 2.. 2001): di mana nilai moran’s I : Keterangan: xi = data variabel lokasi ke-i ( i = 1. yaitu Moran’s I. 2. .. Sementara itu.3 Moran’s I Koefisien Moran's I merupakan pengembangan dari korelasi pearson pada data univariate series.. n) 𝑥̅ = rata-rata data w = matrix pembobot var (I) = varians Moran’s I E(I) = expected value Moran’s I 8 . . Polygon tersebut nantinya digunakan dalam teknik Buffering dengan memilih salah satu kecamatan yaitu Kecamatan Simpang Renggiang yang berada di Kabupaten Belitung Timur. n) xj = data variabel lokasi ke-j ( j = 1.. Selain Buffering Polygon juga dilakukan Buffering Polyline dan Polypoint.

Jika I < Io. Pemberian koding pembobotan menurut Bivand (2006) dalam Kissling dan Carl (2008:3) di antaranya adalah kode biner : 9 . data memiliki autokorelasi positif. sedangkan yang jauh diberi pembobot kecil. Lokasi yang dekat dengan lokasi yang diamati diberi pembobot besar. data memiliki autokorelasi negatif. Apabila I > Io. 2. Pengambilan keputusan Ho ditolak atau ada autokorelasi antar lokasi jika |Zhitung| > Zα/2.4 Pembobot Hubungan kedekatan (neighbouring) antar lokasi dinyatakan dalam matrik pembobot W. Elemen-elemen matrik tersebut adalah wij yang menunjukkan ukuran hubungan lokasi ke-i dan ke-j. Nilai dari indeks I adalah antara -1 dan 1.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Peta Tematik Persentase KRT yang Bekerja Berdasarkan gambar 3. Wilayah kecamatan di bagian barat pulau Belitung cenderung memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah pulau Belitung bagian Timur yang juga merupakan wilayah kabupaten Belitung Timur. Sebagian besar KRT di wilayah kecamatan di Kepulauan Bangka Belitung memiliki persentase bekerja pada rentang rendah dan sedang jumlahnya hampir seimbang.1 dapat diketahui bahwa persentase Kepala Rumah Tangga (KRT) yang bekerja memiliki pola penyebaran yang acak. Kecamatan dengan persentase KRT bekerja tertinggi yaitu Sungai Liat yang merupakan ibukota dari Kabupaten Bangka serta Tanjung Pandan yang berada di wilayah Pulau Belitung.1 Status Bekerja Kepala Rumah Tangga Gambar 3. Namun jika dibandingkan secara parsial antara pulau Bangka dan pulau Belitung terdapat perbedaan. Sehingga dapat diperkirakan rumah tangga yang berada di wilayah Belitung Timur memiliki kondisi kehidupan ekonomi yang belum tentu 10 .

Grafik 3. Hal ini akan menjadi masalah karena jika rumah tangga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya karen tidak ada sumber pendapatan secara terus menerus akan menjatuhkan rumah tangga tersebut pada kemiskinan.1 Hasil Pengujian Moran’s I Variabel Status Bekerja Kepala Rumah Tangga 11 .memadai karena KRT sebagai anggota rumah tangga yang bertanggung jawab dalam memenuhi perekonomian rumah tangga sebagian besar tidak memiliki status pekerjaan yang tetap.

65. Seperti pada identifikasi sebelumnya. Berdasarkan hasil pengujian autokorelasi spasial dengan Moran’s I (Grafik 3. diketahui bahwa tidak terdapat autokorelasi spasial pada persentase KRT bekerja di Kepulauan Bangka Belitung.1) dengan tingkat signifikansi 5 persen. Kecamatan dengan persentase KRT yang memiliki keluhan kesehatan tertinggi yaitu Sungai Liat yang berada di pulau 12 . Hal ini ditunjukkan oleh nilai p-value = 0. tidak ada pengelompokan pada pola penyebarannya (random).2 dapat diketahui bahwa persentase Kepala Rumah Tangga (KRT) yang memiliki keluhan kesehatan dalam satu bulan terakhir menyebar dengan pola yang acak. Tidak adanya autokorelasi spasial pada hasil pengujian pada grafik 3. Dimana jika p-value > α maka gagal tolak H0 artinya tidak terdapat autokorelasi antar lokasi.2 Kepala Rumah Tangga yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Gambar 3.1 menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan atau hubungan nilai persentase KRT bekerja antar kecamatan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. 3.2 Peta Tematik Persentase KRT dengan Keluhan Kesehatan Berdasarkan gambar 3.

Wilayah kecamatan di bagian selatan pulau Bangka sebagian besar memiliki persentase sedang dan dengan letak yang berdekatan. Sebagian besar KRT di wilayah kecamatan di Kepulauan Bangka Belitung memiliki persentase keluhan kesehatan pada rentang sedang.2 Hasil Pengujian Moran’s I Variabel Keluhan Kesehatan Kepala Rumah Tangga 13 .Bangka dan Tanjung Pandan yang berada di wilayah Pulau Belitung. Apabila kondisi kesehatan KRT menurun dan berlangsung lama maka secara tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi rumah tangga. Sehingga dapat diperkirakan rumah tangga yang berada di wilayah tersebut rentan terhadap keluhan kesehatan. Grafik 3.

diketahui bahwa tidak terdapat autokorelasi spasial pada persentase KRT dengan keluhan kesehatan di Kepulauan Bangka Belitung. Tidak adanya autokorelasi spasial pada hasil pengujian pada grafik 3. Dimana jika p- value > α maka gagal tolak H0 artinya tidak terdapat autokorelasi antar lokasi. Berdasarkan hasil pengujian autokorelasi spasial dengan Moran’s I (Grafik 3. tidak ada pengelompokan pada pola penyebarannya (random). 3.2) dengan tingkat signifikansi 5 persen.74.2 menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan atau hubungan nilai persentase KRT dengan keluhan kesehatan dalam satu bulan terakhir antar kecamatan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Seperti pada identifikasi sebelumnya.3 Peta Tematik Persentase Kepemilikan Jaminan Kesehatan KRT 14 .3 Kepemilikan Jaminan Kesehatan Gambar 3. Hal ini ditunjukkan oleh nilai p-value = 0.

Rumah tangga tersebut banyak yang belum mengetahui tentang akses untuk memiliki Jaminan Kesehatan.3 dapat diketahui bahwa persentase Kepala Rumah Tangga (KRT) yang memiliki jaminan kesehatan menyebar dengan pola acak.3 Hasil Pengujian Moran’s I Variabel Kepemilikan Jaminan Kesehatan Kepala Rumah Tangga 15 . Kecamatan dengan persentase KRT memiliki jaminan kesehatan tertinggi yaitu Tanjung Pandan kemudian diikuti dengan Sungai Liat. Akses kepemilikan jaminan kesehatan KRT di sekitar kota Pangkal Pinang cenderung lebih baik. juga menyebabkan masih lemahnya pemahaman aparatur pelaksana ( baik di tingkat kecamatan. kabupaten. Kurangnya sosialisasi. Hal ini ditemui hampir di sebagian besar masyarakat miskin di kecamatan yang cukup jauh dari fasilitas publik. Grafik 3. Berdasarkan gambar 3. Masalah lainnya adalah. sedangkan rumah tangga yang berada di wilayah dengan akses dan fasilitas yang kurang memadai cenderung sedikit untuk memiliki jaminan kesehatan. masih belum massif dan komprehensifnya sosialisasi mengenai Jaminan Kesehatan terutama untuk rumah tangga yang rentan akan kemiskinan. Wilayah di sekitar Sungai Liat dan kota Pangkal Pinang memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Ketersediaan fasilitas dan pelayanan jaminan kesehatan yang memadai dari daerah tersebut memudahkan rumah tangga dalam memilikinya. maupun provinsi).

4 Keterkaitan Variabel Status Bekerja. diketahui bahwa tidak terdapat autokorelasi spasial pada persentase KRT yang memiliki jaminan kesehatan di Kepulauan Bangka Belitung. Berdasarkan hasil pengujian autokorelasi spasial dengan Moran’s I (Grafik 3.4 dapat diketahui bahwa persentase Kepala Rumah Tangga (KRT) yang tidak bekerja dan mempunyai keluhaan kesehatan berdasarkan status kepemilikan jaminan kesehatan menyebar secara acak. dan Kepemilikan Jaminan Kesehatan Berdasarkan gambar 3. Keluhan Kesehatan. Apabila KRT mempunyai keluhan kesehatan namun tidak mempunyai jaminan kesehatan serta tidak bekerja maka beban tanggungan 16 . Dimana jika p-value > α maka gagal tolak H0 artinya tidak terdapat autokorelasi antar lokasi. Hal ini ditunjukkan oleh nilai p-value = 0.3 menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan atau hubungan nilai persentase KRT yang memiliki jaminan kesehatan antar kecamatan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Tidak adanya autokorelasi spasial pada hasil pengujian pada grafik 3. Seperti pada identifikasi sebelumnya. 3.3) dengan tingkat signifikansi 5 persen.33. Kepemilikan jaminan kesehatan pada KRT tidak bekerja dan memiliki jaminan kesehatan ini menunjukkan adanya penanganan terhadap resiko gangguan kesehatan tersebut. Persentase KRT tidak bekerja dengan keluhan kesehatan yang memiliki jaminan kesehatan hampir seluruhnya yaitu wilayah kecamatan Pulau Besar dan Simpang Pesak. tidak ada pengelompokan pada pola penyebarannya (random).

Wilayah kecamatan yang rentan tersebut antara lain Kelapa. Air Gegas.ekonomi rumah tangga semakin besar. Data dari instansi tersebut dapat dimanfaatkan pemerintah untuk menjangkau rumah tangga sasaran penerima jaminan kesehatan. 17 . atau seperti Pemerintah Pusat menggunakan data BPS. Penentuan masyarakat miskin mana yang layak mendapatkan bantuan dari program-program jaminan kesehatan ini bisa berbeda.4 Peta Tematik Persentase Kepemilikan Jaminan Kesehatan Berdasarkan Status Bekerja KRT Pembiayaan program program terkait jaminan kesehatan baik di tingkat provinsi maupun nasional yang dibiayai dari APBD atau APBN seharusnya memang diperuntukan bagi masyarakat miskin atau rentan. dan Lepar Pongok. Ada daerah yang mendata langsung masyarakat miskin di daerahnya. rumah tangga ini cenderung rentan terhadap kemiskinan. Gambar 3.

3 menunjukkan bahwa 18 .4) dengan tingkat signifikansi 5 persen. Tidak adanya autokorelasi spasial pada hasil pengujian pada grafik 3.33. Grafik 3. Hal ini ditunjukkan oleh nilai p-value = 0.4 Hasil Pengujian Moran’s I Variabel Kepemilikan Jaminan Kesehatan Berdasarkan Status Bekerja KRT Berdasarkan hasil pengujian autokorelasi spasial dengan Moran’s I (Grafik 3. Dimana jika p-value > α maka gagal tolak H0 artinya tidak terdapat autokorelasi antar lokasi. diketahui bahwa tidak terdapat autokorelasi spasial pada persentase KRT yang tidak bekerja dan mempunyai keluhaan kesehatan serta tidak memiliki jaminan kesehatan di Kepulauan Bangka Belitung.

5 Peta “Buffering” Wilayah Kecamatan Simpang Renggiang 19 .tidak ada keterkaitan atau hubungan nilai persentase KRT yang tidak bekerja dan mempunyai keluhaan kesehatan dalam satu bulan terakhir serta tidak memiliki jaminan kesehatan antar kecamatan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung.5 Analisis Daerah di Sekitar Kecamatan Simpang Renggiang Gambar 3. Seperti pada identifikasi sebelumnya. 3. tidak ada pengelompokan pada pola penyebarannya (random).

Letak kantor kecamatan dapat terjangkau dalam jarak 3 kilometer dari jalan propinsi. Jika dilihat berdasarkan hasil gambar 3. Damar.5 persentase KRT tidak bekerja yang mempunyai keluhan kesehatan tanpa jaminan sosial di kecamatan sekitarnya cenderung lebih besar dari pada yang mempunyai jaminan kesehatan kecuali Kecamatan Gantung dan Kecamatan Kelapa Kampit.5. Wilayah Kecamatan Simpang Renggiang ini terdapat 2 jalan propinsi yang bercabang.5 di atas juga terlihat letak Kantor Kecamatan Simpang Renggiang yang ditunjukkan dengan point. Gambar 3. Wilayah yang terjangkau dengan jarak 3 kilometer dari jalan propinsi dapat dilihat melalui gambar 3.5 Perbesaran “Buffering” Wilayah Kecamatan Simpang Renggiang Berdasarkan gambar 3. Dari gambar 3. Jalan propinsi ini membentang dari arah barat wilayah Kecamatan Badau kemudian ke arah timur dan bercabang menuju wilayah Kecamatan Manggar dan Gantung. sehingga akan memudahkan akses menuju fasilitas umum lainnya. Manggar. 20 .5 dapat diketahui bahwa di sekitar wilayah Kecamatan Simpang Renggiang dengan jarak 3 kilometer terdapat beberapa wilayah kecamatan lain yaitu wilayah kecamatan Kelapa Kampit. Gantung. Dendang dan Badau.

2. Air Gegas. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. IV. 3. Wilayah di sekitar Sungai Liat dan kota Pangkal Pinang memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Pengujian autokorelasi melalui Moran’s I didapat kesimpulan bahwa tidak ada keterkaitan atau hubungan nilai persentase KRT bekerja antar kecamatan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Sebagian besar KRT di wilayah kecamatan di Kepulauan Bangka Belitung memiliki persentase keluhan kesehatan pada rentang sedang dengan persebaran yang acak.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan di atas. KESIMPULAN 4. 21 . dan Lepar Pongok. Pengujian autokorelasi melalui Moran’s I didapat kesimpulan bahwa tidak ada keterkaitan atau hubungan nilai persentase KRT dengan keluhan kesehatan dalam satu bulan terakhir antar kecamatan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Persentase KRT yang tidak bekerja dan mempunyai keluhaan kesehatan berdasarkan status kepemilikan jaminan kesehatan menyebar secara acak. Pengujian autokorelasi melalui moran’s I didapat kesimpulan bahwa tidak ada keterkaitan atau hubungan nilai persentase KRT yang tidak bekerja dan mempunyai keluhaan kesehatan dalam satu bulan terakhir serta tidak memiliki jaminan kesehatan antar kecamatan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Pengujian autokorelasi melalui Moran’s I didapat kesimpulan bahwa tidak ada keterkaitan atau hubungan nilai persentase KRT yang memiliki jaminan kesehatan dalam satu bulan terakhir antar kecamatan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Persentase KRT yang memiliki jaminan kesehatan menyebar dengan pola acak. 4. Persentase KRT tidak bekerja dengan keluhan kesehatan dan tidak memiliki jaminan kesehatan hampir seluruhnya yaitu wilayah kecamatan Kelapa. Sebagian besar KRT di wilayah kecamatan di Kepulauan Bangka Belitung memiliki persentase bekerja pada rentang rendah dan sedang dengan persebaran yang acak.

4.2 Saran Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti. sehingga dapat menciptakan kesejahteraan. Pemerintah seharusnya meningkatkan pelayanan jaminan kesehatan bagi rumah tangga miskin dan rentan. Pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan pengambilan titik koordinat seluruh instansi pelayanan jaminan sosial di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sehingga dapat mengetahui kemudahan akses untuk mencapai pelayanan jaminan kesehatan dengan mempertimbangkan jarak. 2. 22 . Diperlukan adanya pengawasan dari pihak yang berwenang terkait pelaksanaan program jaminan tersebut agar tercipta pemerataan jaminan kesehatan bagi rumah tangga sasaran. adalah : 1.

ComTech Vol. Politik Sistem Jaminan Sosial: Menciptakan Rasa Aman dalam Ekonomi Pasar. Michael P. Edisi Kedelapan). 2012. Jakarta: Erlangga. dan Carl. Dinna. Rokhana Dwi Bekti. Todaro. dan Smith. Gramedia. G. 1 Juni 2012: 217-22. 23 . Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga (Jilid 1. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 3 No. “Spatial Autocorrelation and The Selection of Simultaneous Autoregressive Models”. Stephen C. DAFTAR PUSTAKA Kissling. 59–71. 2012. D. (2004). (2008). Wisnu. Global Ecology and Biogeography. 17. “Autokorelasi Spasial Untuk Identifikasi Pola Hubungan Kemiskinan Di Jawa Timur”. W. Jakarta.