You are on page 1of 6

Artikel Penelitian

GANGGUAN KEPRIBADIAN PADA GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF: STUDI
PERBANDINGAN VERSUS GANGGUAN KECEMASAN LAINNYA
Tujuan. Tujuan makalah ini adalah untuk memberikan bukti hubungan antara gangguan
kepribadian (PD), gangguan obsesif kompulsif (OCD), dan gangguan kecemasan lainnya
yang berbeda dengan gejala OCD (non-OCD). Metode. Sampel terdiri dari 122 individu
dibagi menjadi tiga kelompok (41 OCD, 40 non-OCD, dan 41 kontrol) yang disesuaikan
dengan jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan. Semua individu menjawab kuesioner
IPDE dan dievaluasi dengan wawancara SCID-I dan SCID-II. Hasil. Pasien dengan OCD dan
non-OCD datang dengan PD yang lebih tinggi. Terdapat peningkatan dalam diagnosis cluster
C pada kedua kelompok, tanpa perbedaan yang signifikan secara statistik di antara keduanya.
Kesimpulan. Terdapatnya gangguan kecemasan tampaknya menyebabkan kerentanan khusus
terhadap PD. Sebagian besar PD yang ada berasal dari cluster C. Obsessive Compulsive
Personality Disorder (OCPD) adalah yang paling umum di antara OCD. Namun, hal itu tidak
terjadi lebih sering di antara pasien OCD dibandingkan dengan pasien cemas lainnya, yang
tidak mengkonfirmasi hubungan antara kepribadian obsesif dan OCD. Implikasi diagnosis
kategorikal dan dimensional akan dibahas.

1. Pendahuluan

Selama beberapa tahun terakhir studi Obsesif Kompulsif Disorder (OCD) telah
meningkatkan jumlah minat di berbagai bidang. Seperti namanya, kondisi klinisnya OCD
ditandai dengan adanya obsesi atau kompulsif. Obsesi adalah pemikiran berulang dan terus-
menerus, ide, atau citra, yang dialami secara parasit dan isinya biasanya tidak diinginkan dan
menimbulkan kecemasan; dalam tahap yang lebih besar hal ini tidak disengaja dan
mengganggu aktivitas berpikir normal seseorang. Terkadang disertai dengan kebutuhan untuk
melakukan tindakan tertentu (baik tingkah laku atau pikiran lainnya), yang dilakukan sebagai
paksaan atau ritual obsesif dengan tujuan mengurangi perasaan tertekan.

Istilah "obsesif" telah digunakan untuk merujuk pada gejala atau ciri kepribadian,
seperti aspek yang berhubungan dengan kepribadian individu sebelumnya; Bentuk gangguan
tersebut berkembang; kemungkinan untuk membingungkan dalam gejala dan sifatnya ketika
gejala berlangsung selama bertahun-tahun; atau transformasi suatu gejala menjadi sifat ketika
individu menerima dan memasukkannya sebagai cara beradaptasi dengan penyakit yang tidak
jelas dan menyakitkan. Semua pertanyaan ini relevan dalam mempelajari kepribadian dan
hubungannya dengan gangguan Axis I.
Topik perdebatan dalam studi patologi ini adalah kelanjutan antara kepribadian
obsesif dan OCD. Menurut Vallejo, karya sebelumnya (umumnya tentang orientasi
psikoanalitik) menunjukkan adanya kepribadian obsesif pada pasien obsesif (50-80%), yang
akan berbicara mengenai hubungan semacam itu. Namun, penelitian terbaru yang
menggunakan kriteria berbasis DSM menunjukkan persentase yang lebih rendah-sebuah
temuan yang mempertanyakan adanya kontinum antara kepribadian obsesif dan OCD. Dalam
studi berdasarkan kriteria DSMIII-R hubungan yang ditemukan tidak secara spesifik antara
OCD dan Obsesif Kompulsif Kepribadian Disorder (OCPD). Namun demikian, cluster C
secara umum adalah yang paling sering dikaitkan dengan OCD. Albert dkk. menganalisis 15
penelitian yang dilakukan antara tahun 1999 dan 2002, di mana terdapatnya OCPD diukur
pada sampel pasien dengan OCD. Hasil menunjukkan variabilitas yang besar dalam ukuran

menggunakan data dari Survei Nasional Morbiditas Psikiatri Inggris tahun 2000. komorbiditas dengan gangguan kecemasan lainnya. Kelompok Non-OCD memenuhi kriteria untuk diagnosis primer gangguan kecemasan dengan pengecualian OCD. Dalam penelitian ini mereka mengevaluasi prevalensi gangguan kepribadian pada orang dewasa OCD dalam sampel populasi umum. dua tujuan sekunder telah direncanakan: pertama. Mengingat bahwa proposal kategoris masih berlaku dari edisi DSM secara berturut- turut dan bahwa di bidang klinis. kelompok OCD dan kelompok non-OCD. dan 41 kelompok kontrol).47). dan hanya 17 yang menunjukkan diagnosis sekunder.93.. Sehubungan dengan Axis I. yang terbagi menjadi tiga kelompok (41 OCD. dorongan.komorbiditas (3-36%) dan hanya sebagian kecil pasien OCD (18%) yang juga memenuhi kriteria untuk OCPD. semua peserta di Kelompok OCD memenuhi kriteria untuk diagnosis primer OCD. simtomatologi PD dianalisis dalam tiga kelompok dengan gradasi tingkat keparahan yang berbeda. dan mereka yang mengajukan diri untuk ikut serta kemudian menandatangani sebuah formulir informed consent. dan adanya obsesi. memberikan perhatian khusus pada frekuensi OCPD pada kedua kelompok klinis. Deskripsi Sampel. Namun. ditemukan setelah mengoreksi dengan tes Bonferroni (𝑃 = . sedangkan PD dari cluster C adalah yang paling umum di antara OCD.1.2. Tabel 2 menunjukkan secara lebih rinci diagnosis PD pada kedua kelompok klinis (OCD dan non- OCD). Akhirnya. METODE DAN BAHAN 2. Mengenai gejala depresi yang dinilai melalui BDIII.657). Sd = 6. Peserta dalam penelitian ini dinilai menurut Kriteria DSM-IV-TR. adalah alat diagnostik yang terdiri dari laporan pribadi dan wawancara . kelompok kontrol tidak memenuhi kriteria untuk gangguan apapun tidak di Axis I maupun Axis II. Pada awal penelitian semua peserta diberi tahu tentang tujuan penelitian. Kelompok kontrol 'terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi dari sebuah sekolah orang dewasa di kota yang sama. perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kedua kelompok klinis. atau keduanya. pemahaman tentang kelainan ini dari proposal kategoris biasa terjadi. Sampel akhir terdiri dari sekelompok 122 peserta. perbedaan frekuensi PD kategori antara dua kelompok klinis dianalisis. Pengukuran. Kedua. perbedaan dalam kepribadian patologis antara jenis kelamin. versi Spanyol oleh Lopez-Ibor dkk. 40 kecemasan non-OCD. Perbedaan antara kelompok klinis tidak meningkat signifikan level (𝑃 = . Sehubungan dengan Axis II. Pemeriksaan Gangguan Kepribadian Internasional (IPDE). Untuk melaksanakan tujuan ini. Hasil yang sama ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Torres et al. Hasil menunjukkan bahwa pasien OCD menunjukkan lebih banyak PD secara umum dibandingkan dengan kelompok lain yang memiliki gangguan kecemasan lainnya. Sampel klinis diperoleh dari pasien yang diobati di pelayanan rawat jalan dari Departemen Kesehatan Mental 2 di Rumah Sakit Umum Castello (Spanyol).000). Seperti ditunjukkan pada Tabel 1 tidak ada perbedaan statistik yang signifikan antara ketiga kelompok dalam variabel demografis. 2. Data demografi dan klinis dirangkum dalam Tabel 1. tujuan utama dari makalah ini adalah untuk memberikan bukti yang berkelanjutan antara OCD dan gangguan kepribadian. pasien dengan skor OCD didapat dalam kisaran moderat dalam Y- BOCS (rata-rata= 24. 2. dan 18 peserta menunjukkan diagnosis sekunder lain. Lebih khusus lagi.

3. Semua pasien klinis direkrut dari layanan kesehatan mental masyarakat (Departemen 2 Kesehatan di Wilayah Valencia Spanyol) melalui prosedur yang berbeda sebagai berikut. kelompok non-OCD dan kelompok kontrol direkrut setelah kelompok OCD sesuai. dan validitasnya telah dilaporkan untuk Y-BOCS. versi Spanyol oleh Sal et al. semua subjek dievaluasi oleh seorang dokter independen dengan menggunakan SCID-I. Dua puluh satu item menilai intensitas depresi pada pasien yang terdiagnosis dan juga mendeteksi kemungkinan depresi pada populasi normal. Untuk memberikan indeks keparahan obsesi dan kompulsif saat ini. seperti gangguan terkait-zat.87. gangguan somatomorfik.. Data dianalisis dengan menggunakan paket statistik SPSS versi 17. versi Spanyol oleh Sanz et al. Akhirnya. semua pasien rujukan pertama yang memenuhi kriteria untuk OCD direkrut untuk kelompok OCD. dan kelainan adaptif. Skala keparahan dari Y-BOCS berisi 10 item: 5 untuk obsesi dan 5 untuk kompulsif. wawancara semi-terstruktur yang digunakan untuk mengevaluasi beberapa gejala klinis yang dijelaskan dalam DSM-IV di Axis I. peserta kelompok non-OCD dipilih dari pasien dalam pengobatan yang diagnosis utamanya adalah gangguan kecemasan yang berbeda dengan OCD. bersama dengan sifat psikometrik positifnya. 2. Wawancara Klinis Terstruktur untuk DSM-IV Axis II Gangguan Kepribadian (SCID- II) adalah wawancara semi-terstruktur yang digunakan untuk mengevaluasi PD yang berbeda yang dijelaskan dalam DSM IV dari pendekatan kategoris untuk menentukan diagnosis sebenarnya. Dengan adanya komorbiditas simtomatologi depresif pada gangguan kecemasan. berdasarkan kriteria yang ditetapkan sebelumnya. yang juga memungkinkan pendekatan dimensi. diberikan BDI-II. usia.klinis semi-terstruktur yang digunakan untuk mengevaluasi PD yang berbeda sesuai dengan kriteria DSM-IV dan / atau ICD-10. untuk menilai patologi di Axis II. Pilihan instrumen ini dibenarkan karena penggunaannya yang meluas baik bidang klinis dan penelitian. BDI-II telah terbukti menjadi ukuran simtomatologi depresi yang andal dan dapat divalidasi dengan baik. Dalam periode tiga tahun. untuk menjamin ada / tidaknya patologi di Axis I. Realibilitas yang memuaskan. gangguan makan. adalah wawancara semi terstruktur yang memungkinkan klinisi untuk menetapkan tingkat keparahan keseluruhan serta tingkat keparahan yang terpisah untuk kedua obsesi dan kompulsif. adalah alat yang dikelola sendiri untuk skrining dan penilaian tingkat keparahan depresi pada remaja dan orang dewasa. setiap pertanyaan memiliki empat kemungkinan jawaban untuk dipilih. yaitu koefisien kappa rata- rata 0. Skala Kompulsif Obsesif Yale-Brown (Y-BOCS). Setelah menyetujui untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Prosedur Evaluasi. skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Menurut dua tujuan sekunder yang diajukan dalam penelitian ini. Dengan baik mengevaluasi gangguan afektif. 2. Dalam layanan kesehatan mental yang sama. Pertimbangan Statistik. Wawancara Klinis Terstruktur untuk DSM-IV Axis I Disorders (SCID-I). dua analisis yang . dan tingkat pengajaran). diberikan kuesioner IPDE dan SCID-II. Kelompok kontrol terdiri dari mahasiswa dan siswa dari sekolah orang dewasa di kota yang sama. Hanya laporan sendiri yang digunakan sebagai ukuran skrining.73 dan uji coba ulang 0. Beck Depression Inventory (Edisi Kedua) (BDI-II). subjek dengan diagnosis OCD menjawab Y-BOCS.4. Untuk menyamakan kelompok (pada tingkat gender. gangguan kecemasan. Selain itu.

OCD). Studi yang sama juga menemukan peningkatan patologi cluster B. perbedaan yang signifikan muncul saat kelompok kontrol dan non-OCD dibandingkan untuk semua PD. yang merupakan hasil yang mengikuti garis yang sama dengan penelitian kami. Kesimpulan yang patut diperhatikan digiring dengan menganalisis perbedaan kelompok PD. nilai dimensi IPDE dari ketiga kelompok tersebut dibandingkan dengan ANOVA satu arah dengan koreksi Bonferroni. Analisis untuk tujuan kedua hanya menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok klinis terhadap frekuensi gangguan akumulatif dari cluster A dan cluster C seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3. 3. dengan tidak adanya kasus positif pada kelompok OCD. Untuk tujuan kedua. Adanya diagnosis PD di Axis II pada kedua kelompok klinis berkisar antara 40% sampai 50%. Hasil ini menunjukkan persentase komorbiditas yang tinggi antara gangguan kecemasan dan patologi pada Axis II. OCD dan non-OCD. dan dengan mempelajari frekuensi PD kategori antara dua kelompok klinis dengan gangguan kecemasan (OCD dan non. Sekitar 10% kasus dari kelompok obsesif dari cluster A dibandingkan dengan tidak adanya diagnosis ini pada kelompok kecemasan non-OCD. Pertama. 4. Hasil dalam penelitian kami mengkonfirmasi tingkat prevalensi gangguan kepribadian yang lebih tinggi pada pasien OCD sehubungan dengan populasi umum tetapi juga mengkonfirmasi tingkat PD yang lebih tinggi pada gangguan kecemasan lainnya yang secara fenomenologis ditandai dengan baik dan berbeda dari OCD. analisis ANOVA digunakan. Meskipun dalam penelitian kami perbedaan antara dua kelompok klinis tidak signifikan. Di sisi lain. berbeda dengan ukuran efek kecil pada cluster A dan B. Hasil ini sesuai dengan yang diperoleh dalam penelitian sebelumnya. Namun. Dalam penelitian ini.berbeda dilakukan. Diagnosa yang paling sering adalah paranoid. sedangkan data kami menunjukkan bahwa kelompok kecemasan non- OCD adalah orang yang mendapatkan diagnosis terbanyak dari kelompok tersebut. penghindaran. seperti yang ditunjukkan oleh penelitian sebelumnya. kecuali perbandingan PD skizoid dan histrionik. DISKUSI Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan bukti kontinum antara gangguan kepribadian dan OCD dengan menganalisis gejala PD dalam tiga kelompok dengan gradasi keparahan yang berbeda. Ini bisa berarti bahwa di antara individu dengan diagnosis OCD. HASIL Analisis pertama yang dilakukan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok klinis dalam perbedaan apapun.. schizoid. Sejalan dengan studi Torres et al. tingkat positif dalam skrining untuk PD adalah 78% pada kelompok pasien OCD (𝑛 = 108). sementara ukuran dimensi (yaitu IPDE) digunakan. dan schizotypal. yang dipertahankan mendekati ukuran efek sedang. Hasil ini diperoleh dengan instrumen dimensi mendapatkan kekuatan lebih lanjut bila sesuai dengan . gangguan kecemasan yang ada di Axis I memerlukan terdapatnya PD yang lebih tinggi terkait dengan cluster C. ditemukan kecenderungan yang meningkat terhadap pasien dengan diagnosis OCD. skor kelompok OCD menunjukkan nilai yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok kontrol di semua PD tapi paranoid dan histrionik PD (lihat Tabel 2). kepribadian patologis berlaku terhadap neurosis lain dan populasi umum. untuk membandingkan frekuensi gangguan kepribadian kategoris.

Saat ini. Dari pendekatan translasi. sampel populasi klinis atau umum dapat dengan mudah dipilih. bahkan ketika item tersebut menggambarkan skenario ekstrem. Selain itu. Selain itu. tampaknya jelas bahwa kedua kelompok klinis lebih rentan terhadap PD di cluster C. di mana mereka disebut "cemas - takut" orang. hubungan cluster C dan OCD telah dilaporkan dalam penelitian eksplorasi. Laporan sendiri seperti IPDE mengharuskan pasien mengidentifikasi lebih banyak patologi daripada yang dilakukan dokter melalui wawancara. dengan alat skrining. Dengan kata lain. Fenomena ini bisa jadi karena efek metode. kecurigaan muncul dari prosedur skrining. Perbedaan hasil antara penilaian kategoris dan dimensi menyoroti pentingnya proses seleksi instrumen diagnosis dan dampaknya terhadap hasil interpretasi. untuk memperjelas secara lebih rinci patologi yang disajikan dalam kasus tersebut. Hasil dalam penelitian ini gagal untuk menunjukkan kontinum yang diduga antara kedua kelainan. skrining yang dilakukan melalui IPDE menunjukkan kekuatan diskriminan yang memadai antara subjek klinis dan nonklinis. walaupun tidak ada PD spesifik yang ditemukan di antara kelompok klinis.temuan instrumen kategoris. diikuti oleh tipe penghindar. Penting untuk disoroti bahwa pasien dengan OCD direkrut dari pasien rawat jalan merujuk ke Departemen Kesehatan Mental 2 di Rumah Sakit Umum Castello (Spanyol) dalam periode tiga tahun. Hal ini telah ditunjukkan pada penelitian yang sebelumnya dikutip yang sesuai dengan definisi kelompok ini di DSM IV-TR. Di sisi lain. saat memeriksa hubungan antara OCD dan OCPD. Namun. penggunaan instrumen kategoris versus dimensi dalam praktik klinis masih kontroversial. Perlu disebutkan bahwa OCPD adalah kelainan paling sering ditemukan pada dua kelompok klinis. dan kedua. Inilah sebabnya mengapa kami menganggap penting terutama bahwa dalam penelitian penilaian dimensional dan kategoris harus dipraktekkan dengan tujuan ganda: pertama. yang mencerminkan prevalensi gangguan yang dijelaskan dalam DSMIV-TR. faktor pengobatan tidak terkontrol. Metode pengambilan sampel ini tidak difasilitasi untuk mendapatkan informasi tentang usia onset dan dimensi-dimensi. Hal itu menyebabkan kecenderungan adanya patologi halus bahkan bila tidak ada. hasil kami tidak mengkonfirmasi hubungan spesifik karena tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara kelompok klinis. menghindari menjawab "tidak pernah". mengingat kedua kelompok klinis memiliki diagnostik yang lebih tinggi pada Axis II. dan keluarga baru-baru ini. yang agak kecil untuk dapat menarik kesimpulan epidemiologis. seperti ukuran sampel. ketika kriteria kategoris diterapkan melalui wawancara klinis terstruktur (SCID-I dan SCID-II). Dampak adanya gangguan kecemasan juga ditemukan dalam kaitannya dengan cluster C saat tindakan kategoris digunakan. genetik. penilaian kategoris yang dikembangkan melalui wawancara klinis memberikan informasi pasien yang lebih andal. bertentangan dengan studi terbaru yang menunjukkan komorbiditas antara OCD dan OCPD sebagai subtipe OCD yang berbeda dan menggambarkan karakteristiknya. Hal ini bisa dijelaskan sebagian dengan prosedur rekrutmen yang digunakan. berdasarkan penelitian terbaru yang menyoroti bahwa usia awal onset dapat menjadi tanda tingkat keparahan gejala. di mana pasien sebelum kuesioner mencoba menjawab setiap item yang mencari beberapa tingkat penerapannya pada mereka. dan dengan demikian ada kemungkinan bahwa riwayat pengobatan mempengaruhi hasil studi evaluasi satu titik kami. penilaian harus dilengkapi dengan wawancara klinis. Hasil ini menunjukkan bahwa ada tingkat yang lebih tinggi dari patologi kepribadian di antara pasien daripada di antara individu non- patologi. Keterbatasan penelitian harus diperlihatkan. layanan kesehatan mental harus secara serius mempertimbangkan . Selain itu.

OCPD adalah PD yang paling umum di kedua kelompok. untuk mengetahui kemungkinan profil kepribadian yang terkait dengan subtipe OCD. Kriteria diagnosis cocok untuk PD pada OCD dapat menjadi tanda gejala berat pada OCD. perlu diingat peringatan Tyrer mengenai risiko kebingungan yang dapat timbul dari fakta bahwa gejala fobia dan obsesif. informasi tambahan mengenai pengembangan kondisi klinis diperlukan untuk menentukan apakah hubungan antara Axis I dan Axis II adalah hasil adaptasi jangka panjang pasien terhadap penyakit ini. Dengan mempertimbangkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok klinis dalam jenis kelamin dan gejala depresi. dalam pikiran kontinuitas dan diskontinuitas dalam psikopatologi antara masa kanak-kanak dan kehidupan orang dewasa. 5. Selanjutnya. seperti pasien lainnya yang memiliki gangguan kecemasan. bila diindikasi selama bertahun-tahun. hubungan kausalitas antara patologi yang dijelaskan pada Axis I dan II tidak dapat disimpulkan ke segala arah. . dengan mempertimbangkan jenis analisis statistik yang dilakukan. dalam beberapa kasus. Penelitian di masa depan harus memeriksa ciri kepribadian pada pasien OCD. yang dinilai berdasarkan skala normal dan patologis.untuk menetapkan protokol evaluasi standar dimana informasi ini disusun. meskipun tidak lebih umum terjadi pada OCD dibandingkan kelompok gangguan kecemasan lainnya. Dua dekade yang lalu. OCPD adalah sekunder dari OCD dan merupakan cara untuk menyesuaikan diri dengan perilaku dan gaya hidup. mengajukan sebuah hipotesis menarik yang mengklaim bahwa. Mayoritas PD yang ditunjukkan oleh pasien obsesif sesuai dengan cluster C. Adanya hubungan antara OCDP dan OCD tidak dapat dikonfirmasi. Pada titik ini. Pengendalian untuk variabel- variabel ini memungkinkan secara efektif mengisolasi efek komorbiditas antara berbagai jenis gangguan kecemasan dan PD. gejala depresif dan topeng gender PD pada pasien dengan OCD. KESIMPULAN Studi ini menunjukkan bahwa pasien obsesif kompulsif menunjukkan tingkat patologi yang tinggi pada Axis II yang lebih tinggi daripada pada pasien cemas nonOCD. keduanya dapat dikecualikan sebagai moderator hasil yang mungkin terjadi. Demikian pula. dapat memenuhi kriteria sifat memuaskan dan dianggap mewakili kepribadian premorbid tanpa ini benar-benar menjadi kasus. Sering dalam penelitian. Baer dan Jenike.