You are on page 1of 2

4. Pusat kendali pernapasan terdiri dari : a. medullary rhitmicity, b.

pneumothaxic area dan apneustic


area. Jelaskan fungsi dan kerjanya!

Jawab :

a. Medullary Rhytmicity Area

Fungsi medullary rhytmicity area adalah untuk mengendalikan irama dasar respirasi. Pada keadaan
istirahat, biasanya inspirasi berlangsung selama dua detik dan ekspirasi selama tiga detik, ini adalah
irama dasar respirasi. Di dalam medullary rhymicity area, ada dua neuron yaitu neuron inspiratori dan
neuron expiratori yang terdiri dari area inspiratori dan area expiratori.

Irama dasar respirasi ditentukan oleh impuls saraf dan area inspiratori. Pada awal ekspirasi, area
inspiratori tidak aktif, tetapi setelah tiga detik tiba-tiba ia aktif secara otomatis. Aktivitas ini sama dengan
akibat sesuatu ekstabilitas internal neuron inspiratori. Dalam kenyataanya, bila semua hubungan saraf
yang baru masuk area inspiratori diputus atau dihalangi area tetap menyalurkan impuls secara berirama
yang menghasilkan inspirasi. Inpuls saraf dari area inspiratori aktif berlangsung selama kira-kira dua detik
dan terus ke otot-otot inspirasi. Impuls mencapai diafragma melalui saraf fenikus dan otot-otot
interkostalis eksternal melalui saraf interkostalis. Bila impuls saraf mencapai otot inspiratori, otot
kontraksi dan terjadilah inspirasi. Pada akhir dua detik, otot inspiratori menjadi tidak aktif lagi, dan siklus
berulang dengan sendirinya terus menerus.

b. Pneumothaxic Area

Walaupun medullary rhymicity area mengendalikan irama dasar respirasi, bagian lain sistem saraf
membantu mengkoordinasi transisi antara inspirasi dan ekspirasi. Pneumothaxic Area ada di bagian atas
pons, yang terus menerus mentransmisi impuls penghambat ke area respiratori. Pengaruh impuls ini
menutup area inspiratori sebelum papu-paru terlalu penuh oleh udara. Dengan kata lain, impuls
membatasi inspirasi sehingga memudahkan ekspirasi.

c. Apneustic Area

Bagian lain sistem saraf yang mengkoordinasi transisi antara inspirasi dan ekspirasi adalah apneustic area
di bagian bawah pons. Apneustic area menyampaikan impuls ke area inspiratori yang menggiatkan dan
memperpanjang inspirasi, sehingga menghambat ekspirasi. Ini terjadi bila pneumothaxic tidak aktif. Bila
pneumothaxic area aktif, maka pengaruh apneustic area diabaikan (Soewolo, 2005: 274-275).

dibandingkan vena sistemik yang hanya 45 mm Hg. Dari jantung, CO2 mengalir lewat arteri pulmonalis
yang tekanan O2 nya sama yaitu 45 mm hg. Dari arteri pulmonalis CO2 masuk ke paru-paru lalu
dilepaskan ke udara bebas.

Setiap 100 mm3 darah dengan tekanan oksigen 100 mm Hg dapat mengangkut 19 cc oksigen. Bila
tekanan oksigen hanya 40 mm Hg maka hanya ada sekitar 12 cc oksigen yang bertahan dalam darah
vena. Dengan demikian kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen adalah 7 cc per 100 mm3
darah.
Pengangkutan sekitar 200 mm3 C02 keluar tubuh umumnya berlangsung menurut reaksi kimia berikut:

C02 + H20 → (karbonat anhidrase) H2CO3

Tiap liter darah hanya dapat melarutkan 4,3 cc CO2 sehingga mempengaruhi pH darah menjadi 4,5
karena terbentuknya asam karbonat. Pengangkutan CO2 oleh darah dapat dilaksanakan melalui tiga cara
yaitu sebagai berikut.

a. Karbon dioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam karbonat dengan enzim anhidrase (7%
dari seluruh CO2).

b. Karbon dioksida terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino hemoglobin (23% dari seluruh
CO2).

c. Karbon dioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO3) melalui proses berantai pertukaran klorida
(70% dari seluruh CO2). Reaksinya adalah sebagai berikut.

CO2 + H2O → H2CO3 → H+ + HCO3-

Gangguan terhadap pengangkutan CO2 dapat mengakibatkan munculnya gejala asidosis karena turunnya
kadar basa dalam darah. Hal tersebut dapat disebabkan karena keadaan Pneumoni atau radang paru-
paru. Sebaliknya apabila terjadi akumulasi garam basa dalam darah maka muncul gejala alkalosis
(Praweda, 2007: 22-25)