You are on page 1of 15

BAB I

LAPORAN KASUS

I.
IDENTITAS
Nama : Tn. X
Umur : 22 tahun
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 01 Juni 1995
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jakarta
Agama : Katolik
Suku/Bangsa : Tionghoa
Pendidikan Terakhir : SMA
Status Pernikahan : Belum menikah
Pekerjaan : Mahasiswa
Tanggal Masuk Poli Kulit : 24 Juli 2017

II. RIWAYAT MEDIS

Autoanamnesa dilakukan pada hari Selasa, 24 Juli 2017 (pukul 11:05 WIB) di Poli Kulit RS
Husada.

Keluhan Utama:
Gatal pada pada daerah bokong dan kedua tungkai bagian luar.

Keluhan Tambahan:
Gatal semakin lama semakin melebar

Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien laki-laki berusia 22 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin dengan
keluhan gatal pada daerah bokong dan kedua tungkai pada daerah dekat lutut sebelah
luar sejak 2 minggu yang lalu. Keluhan awalnya berupa bercak merah yang gatal, yang
dirasakan pasien semakin lama semakin melebar. Gatal dirasakan pasien hilang timbul
sepanjang hari tanpa ada waktu tertentu dimana gatal lebih terasa. Pasien mengakui

Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan yang serupa. Pasien belum menikah. Pasien mengakui sudah mencoba mengobati keluhannya dengan salap yang pasien tidak ingat namanya namun keluhan nya tidak membaik. terutama pada kelainan di bagian tungkai. bahwa gatal cukup mengganggu sehingga pasien seringkali harus menggaruk bagian yang gatal tersebut sampai timbul luka dan nyeri. dan aktif berolahraga. Keluhan tidak diperingan dengan tindakan apapun dan biasanya lebih berat ketika pasien beraktivitas terutama jika pasien berkeringat. Pasien menyangkal adanya riwayat asma. atau makanan. Pasien menyangkal adanya riwayat ketombe di rambut. berprofesi sebagai mahasiswa. Pasien menyangkal adanya riwayat alergi terhadap obat-obatan. Tetapi pasien merasa luas kelainan yang yang dialami pasien waktu itu lebih kecil dibandingkan yang dialami pasien sekarang. Riwayat Penyakit Dahulu  Riwayat Keluhan Serupa : Diakui  Riwayat Hipertensi : Disangkal  Riwayat Diabetes Melitus : Disangkal  Riwayat Ketombe : Disangkal  Riwayat Asma : Disangkal  Riwayat Alergi Obat : Disangkal  Riwayat Alergi Makanan : Disangkal Riwayat Keluarga  Riwayat Keluhan Serupa : Disangkal  Riwayat Asma : Disangkal  Riwayat Hipertensi : Disangkal  Riwayat Diabetes Mellitus : Disangkal  Riwayat Ketombe : Disangkal  Penyakit Alergi Obat : Disangkal  Riwayat Alergi Makanan : Disangkal . Pasien mengakui bahwa sebelumnya sekitar 2 tahun yang lalu pernah mengalami keluhan serupa.

isi cukup. konjungtiva anemis (-)/(-). sekret (-) Mulut : Mukosa merah muda. tidak mudah dicabut Mata : Pupil bulat. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LANJUTAN (27 Maret 2017. V = 5)  Tekanan darah : 120/70 mmHg  Nadi : 84 x/menit. GCS = 15 (E = 4. pukul 10:15 WIB) Status generalis  Keadaan umum : tampak sakit ringan  Kesadaran : compos mentis. tidak teraba benjolan. sekret (-)/(-). rambut hitam beruban. fistel preaurikuler (-)/(-) Hidung : Bentuk normal. tidak ada deviasi septum. lidah normal. stem fremitus sama kuat kiri dan kanan o Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru o Auskultasi : Vesikuler di seluruh lapang paru. wheezing (-)/(-) .5oC  Pernapasan : 16 x/menit.III. reguler. regular  Keadaan gizi : baik Pemeriksaan fisik Kepala : Bentuk bulat. pembesaran kelenjar tiroid (-) Thorax:  Paru-paru: o Inspeksi : Bentuk normal. sianosis (-). M = 6. sklera ikterik (-)/(-) Telinga : Bentuk normal. nyeri tekan (-). isokor. liang telinga lapang. faring tidak hiperemis Leher : Trakea di tengah. simetris dalam keadaan statis maupun dinamis. terdistribusi tidak merata. kuat angkat  Suhu : 36. ronkhi (-)/(-). retraksi sela iga (-) o Palpasi : Tidak teraba massa.

CRT <2s Genitalia eksterna: Tidak dilakukan pemeriksaan Kulit: (lihat status dermatologikus) KGB: Tidak teraba pembesaran Status neurologis: Tidak tampak kelainan 6 IV. STATUS DERMATOLOGIKUS Regio : Gluteus. simetris. gallop (-). Ekstremitas Inferior bagian Lateral Distribusi : Bilateral Efloresensi primer : Makula. pelebaran vena (-)  Asukultasi : Bising usus (+) normal. massa (-). skuama Efloresensi Sekunder : Ekskoriasi. striae (-). murmur (-) Abdomen:  Inspeksi : Tampak datar. krusta Warna : Eritema Ukuran : Plakat Jumlah : Multipel . nyeri ketok CVA (-)/(-)  Palpasi : Supel. ballotement (-)/(-). edema (-). hepar dan lien tidak teraba. Jantung: o Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak tampak o Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba di ICS V MCL sinistra o Perkusi :  Batas atas: ICS II PCL sinistra  Batas kanan: ICS IV sternal line dextra  Batas kiri: ICS V MCL sinistra o Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler. massa (-). bruit (-)  Perkusi : Timpani di seluruh abdomen. sikatriks (-). papul. defans muskular (-) Ekstremitas : Akral hangat.

5% 2-3x sehari selama 3 hari . Segera mengganti pakaian dan keringkan tubuh bila berkeringat c. DIAGNOSIS Diagnosis Kerja : Tinea Corporis et Cruris Diagnosis Banding : Psoriasis Dermatitis Seborrhoik Kandidosis VIII. Di keluarga tidak ada yang mempunyai keluhan yang serupa. kulit tidak kering. Gatal tidak disertai dengan rasa nyeri. Keadaan sekitar lesi masih dalam keadaaan baik. Non Medikamentosa a. terdistribusi bilateral dengan konfigurasi arsinar dan polisiklik. PENATALAKSANAAN 1. Pasien telah mengobati dengan salap. Pasien sebelumnya pernah memiliki keluhan serupa. Pasien sering menggaruk daerah yang gatal sehingga timbul luka dan nyeri. Medikamentosa Itraconazole 200mg PO selama 7 hari Hidrokortison cream 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan. Pasien mengatakan bahwa awalnya timbul bercak merah yang gatal. Tidak memakai pakaian dalam atau celana yang ketat b. RESUME Telah diperiksa seorang pasien laki-laki berusia 22 tahun dengan keluhan gatal pada daerah bokong dan kedua tungkai pada daerah dekat lutut sebelah luar sejak 2 minggu yang lalu. Keluhan tidak diperingan dengan tindakan apapun dan diperberberat dengan berkeringat. VII. Polisiklik Keadaan Sekitar : Dalam kondisi baik V. Pada pemeriksaan. Gatal hilang timbul tanpa predominan waktu tertentu. Konfigurasi : Arsinar. Usahakan untuk tidak menggaruk daerah yang gatal 2. yang semakin lama semakin melebar. terdapat lesi makulopapular multipel berskuama dengan dasar eritematosus beukuran plakat pada regio gluteus dan ekstremitas inferior bagian lateral. namun jika dilakukan anjuran pemeriksaan adalah dengan pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit dengan KOH 20% VI.

PROGNOSIS Ad Vitam : Bonam Ad Functionam : Bonam Ad Kosmetikum : Bonam Ad Sanationam : Dubia ad Bonam BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk. daerah perineum. Untuk kepentingan klinis dan epidemiologis. yang terbagi dalam 3 genus. dan sekitar anus. menyebabkan dermatofita dapat dimasukkan ke dalam famili Gymnoscaceae. dan Epidermophyton. dan kuku. dermatofita yang menginfeksi manusia dibagi berdasarkan tempat hidupnya. gypseum).2 .1 Lokasi infeksi juga dapat dipengaruhi oleh spesies jamur yang menyerang. dan 21 spesies Tricopython. rambut. Dermatofita termasuk kelas Fungi imperfecti. Adanya bentuk sempurna yang terbentuk oleh dua koloni yang berlainan jenis kelaminnya.canis. golongan zoofilik berasal dari hewan misalnya M. antropofilik khusus untuk jamur yang bersumber dari manusia contohnya T. misalnya stratum korneum pada epidermis. Tinea korporis merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh yang tidak berambut (glabrous skin). yaitu geofilik untuk jamur yang berasal dari tanah (M.IX. masing-masing 2 spesies Epidermopython. 17 spesies Microsporum. Jamur ini dapat menginvasi seluruh lapisan stratum korneum dan menghasilkan gejala melalui aktivasi respons imun pejamu. yang disebabkan jamur golongan dermatofita. Golongan jamur ini memiliki sifat mencernakan keratin. Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha. Juga telah ditemukan bentuk sempurna (perfect stage) pada spesies dermatofita tersebut. rubrum. Triicophyton. Hingga saat ini dikenal sekitar 41 spesies dermatofita. 1 Etiologi Dermatofitosis disebabkan oleh jamur golongan dermatofita. yaitu Microsporum.

Tinea kapitis  dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala . Tinea barbe  dermatofitosis pada dagu dan jenggot . yaitu:1 .Berikut adalah spesies-spesies dari dermatofita dan tempat hidup serta pejamunya2 Klasifikasi Dermatofitosis dibagi menjadi beberapa bentuk.

1 Patogenesis Dermatofit mengeluarkan berbagai macam enzim (protease keratinolitik. dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah . lipase. sekitar anus. Selain itu. tinea aksilaris. bokong. dermatofitosis pada kulit glabrosa pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea di atas Selain 6 bentuk di atas. diikuti resolusi infeksi yang spontan. Tinea fasialis. Tinea pedis et manum. Tinea korporis. Tinea imbrikata: dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris dan disebabkan Tricopython concentricum . dan rambut. Tinea kruris  dematofitosis pada daerah genitokrural. yaitu:1 . dikenal istilah tinea inkognito. Langkah awal pada infeksinya adalah adhesi ke keratin diikuti oleh invasi dan pertumbuhan elemen-elemen miselial. serta untuk menggunakan keratin sebagai sumber nutrisinya untuk pertahanan hidup. yang juga menunjukkan daerah kelainan . . dan dalam kebanyakan kasus. Sebagai konsekuensi degradasi keratin dan pelepasan mediator proinflamatorik. Tinea unguium. masih dikenal istilah-istilah lain yang memiliki arti khusus. Tinea favosa atau favus: dermatofitosis yang terutama disebabkan Tricopython schoenlini: secara klinis antara lain terbentuk skutula dan berbau seperti tikus (mousy odor) . kuku. “ringworm” klasik atau morfologi anular dari tinea corporis diakibatkan oleh respons inflamasi pejamu pada dermatofita yang menyebar dan diikuti oleh reduksi atau pembersihan elemen- elemen jamur dari dalam plak. arkuata yang merupakan penamaan deskriptif morfologis Keempat istilah di atas dapat diaanggap sebagai tinea korporis. dll) yang bekerja sebagai faktor virulensi yang menyebabkan adhesi dan invasi pada kulit. dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki . Gambaran Klinis . dermatofitosis pada kaki dan tangan . yang berarti dermatofitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh karena telah diobati dengan steroid topikal kuat. pada pejamu terjadi respons inflamasi yang bervariasi derajatnya. Tinea sirsinata.

herpes sircine tricophytique) . terdiri atas macam-macam efloresensi kulit (polimorfik).1 Gambaran klinis dermatofitosis yang bervariasi tidak hanya bergantung pada spesies penyebab dan sistem imun pejamu namun juga pada adanya keterlibatan folikel rambut. atau bagian tubuh yang lain. Terdapat berbagai variasi gambaran klinis dermatofitosis. dan sistem imun pejamu. hal ini bergantung pada spesies penyebab. sehingga pada kepustakaan lama disebut eczema marginatum. Peradangan pada tepi lebih jelas daripada di tengah dengan efloresensi polimorfik. ukuran inokulum jamur. daerah gluteus dan perut bagian bawah. Penderita merasa gatal dan kelainan berbatas tegas. atau meluas ke daerah sekitar anus. Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. dapat terlihat berbagai macam lesi kulit. Tinea kruris merupakan salah satu bentuk klinis yang sering dilihat di Indonesia. Tergantung berat ringannya inflamasi. jockey itch. Tinea glabrosa (dermatofitosis pada kulit tidak berambut) memiliki morfologi khas.2 Tinea Korporis (tinea sirsinata. kurap.1 Tinea Kruris (eczema marginatum. dhobie itch. bahkan dapat seumur hidup. Bila penyakit menjadi menahun. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genitkrural saja. daerah perineum. ringworm of the groin) Merupakan dermatofitosis pada lipat paha. bagian tubuh yang terkena. Dapat bersifat akut atau menahun. Bagian tepi lesi lebih aktif (lebih jelas tanda-tanda peradangan) dibandingkan bagian tengah. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan. Scherende Flechte. dans sekitar anus.1 Berikut adalah gambar tinea kruris. tinea glabrosa.

Papua. Bentuk menahun yang disebabkan oleh Tricopython rubrum biasanya dilihat bersama-sama dengan tinea unguium. Daerah tengah biasanya lebih tenang.1 Gambar dibawah menunjukkan tinea korporis bentuk annular dengan central healing.1 3. Kelainan yang dilihat dalam bentuk klinis merupakan lesi bulat atau lonjong. berbatas tegas. misalnya Kalimantan. memiliki beberapa gambaran klinis:1 1. karena beberapa lesi berkonfluens. Sulawesi.3 2. skuama. lebih sering dilihat pada anak-anak daripada orang dewasa karena umumnya mereka mengalami infeksi pertama kali. Merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh tidak berambut (glabrous skin). kadang-kadang dengan vesikel dan papul di tepi. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Terdapat di berbagai daerah tertentu di Indonesia. terdiri atas eritema. Pada tinea korporis yang menahun. dan Sulawesi Tengah. Kepulauan Aru dan Kei. Lesi-lesi pada umumnya berupa bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain atau dapat pula sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Lesi dimulai dengan bentuk . Dalam hal ini disebut tinea corporis et cruris atau tinea cruris et coroporis. tanda radang akut biasanya tidak terlihat lagi. Bentuk dengan tanda radang yang lebih nyata. Bentuk khas yang disebabkan Tricopython concentricum disebut tinea imbrikata.

Tinea favosa pada kulit dapat berbentuk papulovesikel dan papuloskuamosa. Kadang dapat menyerupai dermatitis seboroika. kemudian penyakit meluas ke seluruh kepala dan meninggalkan parut dan botak. namun kelainan menahun tidak menimbulkan keluhan pada penderita. Favus pada kuku tidak dapat dibedakan dengan tinea unguium pada umumnya. Proses ini setelah beberapa waktu terulang kembali dari tengah sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris.1 Berikut adalah contoh tinea korporis dengan gambaran polisiklik. Stratum korneum di bagian tengah terlepas dari dasarnya dan melebar. Tiga spesies yang menyebabkan favus adalah Tricopython schoenlini. Rambut kemudian tidak berkilat lagi dan akhirnya terlepas. Biasanya dimulai di kepala sebagai titik kecil di bawah kulit yang berwarna merah kining dan berkembang menjadi krusta berbentung cawan (skutula) dengan berbagai ukuran. Lingkaran-lingkaran skuama konsentris bila membesar dapat bertemu lingkaran lain dan membentuk polisiklik. Bila dengan jari tangan diraba dari bagian tengah ke arah luar. yang kemudian menjadi parut. terasa jelas skuama menghadap ke dalam. Pada permulaan infeksi penderita dapat merasa sangat gatal. disertai kelainan kulit berbentuk cawan yang khas. Pada kasus menahun lesi kulit kadang dapat menyerupai iktiosis. papul berwarna coklat. yang disebabkan spesies lain. Bentuk yang disertai kelainan pada rambut adalah tinea favosa atau favus.2 4. Tricopython violaceum. Kulit kepala dapat terserang namun rambut biasanya tidak. dan . Krusta tersebut biasanya ditembus oleh satu atau dua rambut dan bila krusta diangkat terlihat dasar yang cekung merah dan membasah. perlahan-lahan menjadi besar. favus tidak menyembuh pada usia akil balik. Biasanya dapat tercium bau tikus (mousy odor) pada penderita. Berlainan dengan tinea korporis yang disebabkan jamur lain.

seperti histopatologik. maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit lama dan/atau sudah diobati.2 . dan imunologik tidak diperlukan. sebagai dua garis sejajar. Kulit berambut  rambut dicabut pada bagian kulit yang mengalami kelainan. kemudian untuk:1 . mula-mua pembesaran 10x10. kemudian ditambah 1-2 tetes larutan KOH 20% (untuk kulit dan kuku). saat mulai keluar uap pemanasan sudah cukup. umur. namun lebih diperngaruhi oleh higiene. 1. dan bercabang. Bila terjadi penguapan. kemudian 10x45.1 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri atas pemeriksaan langsung dengan sediaan basah dan kultur. Kulit tidak berambut (glabrosa)  dari bagian tepi kelainan sampai dengan bagian sedikit di luar kelainan. Bahan untuk pemeriksaan mikologik diambil dan dikumpulkan sebagai berikut: tempat kelainan dibersihkan lebih dulu dengan alkohol 70%. tidak tergantung jamur penyebab. Sediaan basah dibuat dengan meletakkan bahan di atas gelas alas. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata dapat ditambah zat warna seperti tinta Parker superchroom blue black. percobaan binatang. Berat ringan bentuk klinis. terbagi oleh sekat. lalu ditunggu 15-20 menit untuk melarutkan jaringan. Microsporum gypseum. Pemeriksaan lain. sisik kulit dan kulit dikerok dengan pisau tumpul steril1 . Pelarutan jaringan dapat dipercepat dengan pemanasan sediaan basah di atas api kecil. yang tidak diharapkan.1 Pemeriksaan langsung sediaan basah dengan mikroskop. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit. Pemeriksaan dengan lampu Wood dilakukan sebelum pengumpulan bahan untuk mengetahui lebih jelas daerah yang terkena infeksi. Kulit di daerah tersebut dikerok untuk mengumpulkan sisik kulit. akan terbentuk kristal KOH.1 Pada sediaan kulit yang terlihat adalah hifa. Pemeriksaan dengan pembesaran 10x100 biasanya tidak diperlukan. dan ketahanan penderita.

yaitu agar dekstrosa Saboraud. pada penderita-penderita diabetes mellitus. biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi. Psoriasis dapat dikenali dari tempat predileksinya. Adanya lekukan-lekukan pada kuku juga dapat membantu diagnosis. yaitu daerah ekstensor. dan sebagainya. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan. sukar dibedakan dengan tinea korporis tanpa herald patch. misalnya belakang telinga. yang dapat ditambahkan dengan antibiotik saja (kloramfenikol) atau ditambah pula klorheksimid untuk menghindari kontaminasi bakterial dan jamur lain. Pitiriasis rosea distribusi kulit simetris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan. Tinea Kruris . daerah nasolabial. serta kulit kepala berambut. misalnya di kulit kepala (scalp). Dermatitis seboroika dapat menyerpai tinea korporis. . . lipatan-lipatan kulit. kelainan biasanya basah dan berkrusta. siku. dan punggung. pada wanita adanya fluor albus dapat membantu diagnosis.1 Diagnosis Banding Tinea Korporis . Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamu. kandidosis merupakan penyakit yang sering dijumpai. . misalnya lutut. Kandidosis pada daerah paha memiliki konfigurasi hen and chicken (korimbiformis).

dengan skuama lebih banyak dan lamelar. Efek samping griseofulvin jarang dijumpai. Yang paling sering digunakan untuk pengobatan dermatofita adalah griseofulvin dan golongan azole seperti ketoconazole. tolnaftate. . butenafine. Adanya lesi psoriasis di tempat lain dapat membantu diagnosis. namun biasanya lesi-lesinya lebih merah. Dosis dan pemakaian obat secara umum untuk tinea korporis dan tinea kruris adalah sebagai berikut. yang merupakan keluhan utama adalah sefalgia. Biasanya diaplikasikan dua kali sehari selama 2-4 minggu. Pemeriksaan dengan lampu Wood dapat menolong dengan adanya fluoresensi merah (coral red) . Tatalaksana Tersedia berbagai macam pengobatan topikal maupun sistemik untuk berbagai tipe dermatofitosis. Efek samping lain dapat berupa gangguan traktus digestivus seperti nausea. Psoriasis psoriasis pada sela paha dapat menyerupai tinea kruris.2 Griseofulvin biasanya dalam bentuk fine particle dengan dosis 0. dan pengobatan diberikan hingga 2 minggu setelah tercapai kesembuhan klinis.2 minggu pada pagi hari setelah makan. Itraconazole memiliki efek samping berupa gejala . obat alilamin. Eritrasma  merupakan penyakit yang tersering berlokalisasi di sela paha dengan efloresensi eritema dan skuama pada seluruh lesi.1. anak-anak 10-20 mg/kg berat badan. maka infeksi yang mengenai daerah berambut memerlukan pengobatan oral. 1-2x sehari. dapat diberikan obat tersebut 200mg/hari selama 10 hari . pada kasus- kasus resisten griseofulvin. Anti jamur oral diberikan untuk erupsi yang lebih luas atau lebih inflamatorik. dan diare. Obat ini juga bersifat fotosensitif dan dapat mengganggu fungsi hepar. dizziness dan insomnia. Namun obat ini bersifat hepatotoksik sehingga penggantinya dapat diberikan itrakonazol atau terbinafin.5-1 g pada orang dewasa.1 Obat peroral yang juga efektif adalah ketokonazol yang bersifat fungistatik. vomitus. atau siklopirox efektif. Untuk plak terisolasi pada kulit glabrosa. imidazol. Sejalan dengan penetrasi dermatofita ke dalam folikel rambut.

Angka kekambuhan penyakit cukup tinggi. Leffel DJ. gangguan fungsi hepar (3%). Goldsmith LA. Gilchrest BA. diare. durasi terapi yang memanjang. berat ringan infeksi. itraconazole 200 mg per hari selama 1 minggu. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Terbinafin memiliki efek samping gastrointestinal seperti nausea. Vinson RP. Steroid dapat memberikan penyembuhan yang cepat untuk gejala-gejala inflamatorik dari infeksi jamur.2. dan telangiektasis. Katz SI. dan konstipasi. vomitus. misalnya bila menggunakan agen antifungal yang telah resisten atau pasien berhenti memakai obat terlalu cepat.1. USA: Mc Graw Hill.2017. dan efek samping pada kulit berupa atrofi. 2012. 2015.gastrointestinal (10%).3 Prognosis Umumnya kesembuhan dapat tercapai dengan regimen terapi yang sesuai serta kepatuhan meminum obat. Efek samping lain dapat berupa gangguan pengecapan atau gangguan fungsi hepar namun presentasinya kecil. Edisi ketujuh. nyeri lambung. Lesher JL. Perwatan follow-up perlu dipertimbangkan sesuai kebutuhan pasien. 2.3 Kortikosteroid topikal potensi rendah hingga medium juga dapat diberikan sebagai tambahan regimen tatalaksana untuk meredakan gejala. sakit kepala. Medscape. Tinea corporis treatment & management. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Bramono K. Wolff K. Penelitian-penelitian komparatif pada orang dewasa menunjukkan bahwa terbinafine 250 mg per hari selama 2-4 minggu. Paller AS. dan hepatitis (1%). dan respons terhadap terapi. Menaldi SLSW. updated Jun 20. Indriatmi W. dan flukonazole tiap minggu selama 4-6 minggu lebih disukai dibandingkan griseofulvin 500 mg hingga tercapai penyembuhan. striae. demam. biasanya ringan. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. 8th ed. Available from: http://emedicine.medscape.3 Referensi 1. namun steroid harus diaplikasikan hanya pada hari-hari pertama dalam terapi.com/article/1091473- treatment#showall . Elenitsas RE. 3. Penggunaan steroid berkepanjangan akan menyebabkan infeksi yang persisten dan rekuren. Penyakit dapat rekuren bila terapi tidak mengeradikasi organisme secara tuntas.