You are on page 1of 44

LAPORAN PENDAHULUAN

DIAGNOSA – DIAGNOSA KEPERAWATAN JIWA

DISUSUN OLEH :

ALVIS SYAHRU RAMADHAN
317036

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN

PPNI JAWA BARAT

2018

LAPORAN PENDAHULUAN
HARGA DIRI RENDAH

I. KASUS (MASALAH UTAMA)
A. Pengertian
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau
kemampuan diri yang negative dan dapat secara langsung atau tidak langsung
diekspresikan (Towsend, 1998). Perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilangnya
percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 1998).

B. Tanda Dan Gejala
Berikut ini adalah tanda dan gejala klien dengan gangguan harga diri rendah :
1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit
(rambut botak karena terapi)
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
3. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
4. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
5. Mencederai diri

Tanda dan Gejala yang lain:
1 Mengkritik diri sendiri
2 Perasaan tidak mampu
3 Pandangan hidup yang pesimistis
4 Tidak menerima pujian
5 Penurunan produktivitas
6 Penolakan terhadap kemampuan diri
7 Kurang memperhatikan perawatan diri
8 Berpakaian tidak rapih
9 Selera makan berkurang
10 Tidak berani menatap lawan bicara
11 Lebih banyak menunuduk
12 Bicara lambat dengan nada suara lemah (Fitria, 2009).

C. Rentang Respon
Respon Respon
Adaptif Maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan Depersonalisasi
diri positif rendah identitas

1. Aktualisasi diri : Pernayataan diri tentangkonsep diri yang positif dengan latar
belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.
2. Konsep diri positif: apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam
beraktualisasi diri dan menyadari hal-hal positif maupun yang negative dari
dirinya
3. Harga diri rendah: Individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan
merasa rendah dari orang lain.
4. Kerancuan identitas: Kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek
identitas masa kanak-kanak kedalam kematangan aspek psikososial kepribadian
pada masa dewasa yang harmonis.
5. Depersonalisasi: Perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri
yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan
dirinya dengan orang lain.

D. Faktor Predisposisi
1. Faktor yang mempengaruhi harga diri, termasuk penolakan orang tua, harapan
orang tua yang tidak realistis.
2. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran, yaitu peran yang sesuai dengan
jenis kelamin, peran dalam pekerjaan dan peran yang sesuai dengan kebudayaan
3. Faktor yang mempengaruhi identitas diri, yaitu orang tua yang tidak percaya pada
anak, tekanan teman sebaya dan kultur social yang berubah.

E. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah adalah hilangnya sebagian
anggota tubuh, berubahnya penampilan atau bentuk tubuh, mengalami kegagalan,
serta menurunnya produktivitas. Gangguan konsep diri : harga diri rendah ini dapat
terjadi secara situasional maupun kronik.

1. Situasional
Gangguan konsep diri: harga diri rendah yang terjadi secara situasional bisa
disebabkan oleh trauma yang muncul secara tiba-tiba misalnya harus dioperasi,
mengalami kecelakaan, mejadi korban perkosaan, atau menjadi narapidana
sehingga harus masuk penjara.
2. Kronik
Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis biasanya sudah berlangsung sejak
lama yang dirasakan klien sebelum sakit atau sebelum dirawat. Klien sudah
memiliki pikiran negatif sebelum dirawat dan menjadi semakin meningkat saat
dirawat.

F. Akibat (Effect)
Harga diri rendah kronis dapat beresiko terjadinya isolasi sosial. Isolasi sosial
merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari
hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993). Isosial sosial dapat mengakibatkan
perubahan persepsi sensori: halusinasi yang pada akhirnya menyebabkan resiko tinggi
perilaku kekerasan.

G. Teori Para Ahli Mengenai Harga Diri Rendah
Peplau dan Sulivan dalam Keliat (1999) mengatakan bahwa pengalaman
interpersonal di masa atau tahap perkembangan dari bayi sampai lanjut usia yang tidak
menyenangkan seperti good me, bad me, not me, merasa sering dipersalahkan, atau
merasa tertekan kelak, akan menimbulkan perasaan aman yang tidak terpenuhi. Hal
ini dapat menimbulkan perasaan ditolak oleh lingkungan dan apabila koping yang
digunakan tidak efektif dapat menyebabkan harga diri rendah.

H. Mekanisme Koping
Mekanisme koping termasuk pertahanan koping jangka pendek dan jangka
panjang serta penggunaan mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri yang
menyakitkan.
1. Pertahanan jangka pendek
a. Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis identitas (misal
: bermain musik, bekerja keras, menonton TV)

Membantu pasien memilih kegiatan pasien beserta proses terjadinya yang akan dilatih sesuai dengan 3. Melatih pasien kegiatan yang dipilih sesuai kemampuan . Gangguan konsep diri : HDR Data Mayor :  DS : Klien hidup tak bermakna. Aktivitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara (ikut serta dalam aktivitas sosial. b. Aktivitas yang secara sementara menguatkan perasaan diri (misal: olahraga yang kompetitif. Membantu pasien menilai pasien kemampuan pasien yang masih dapat 2. tidak berinisiatif berinteraksi dengan orang lain Data Minor :  DS : Klien mengatakan malas. Intervensi Pasien Keluarga SP I SP I 1.  DO : Klien malas-malasan. Mengidenfikasi kemampuan dan 1. ingin mati. kelompok/geng) c. kontes untuk mendapatkan popularitas) d. Identitas negatif : Asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh nilai dan harapan masyarakat. agama. Aktivitas yang mewakili upaya jangka pendek untuk membuat masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan idividu (misal : penyalahgunaan obat) 2. pencapaian akademik. tanda dan digunakan gejala harga diri rendah yang dialami 3. klub politik. Menjelaskan cara-cara merawat kemampuan pasien pasien harga diri rendah 4. tidak memiliki kelebihan apapun. aspirasi dan potensi diri individu tersebut b. merasa jelek  DO : Kontak mata kurang. Mendiskusikan masalah yang aspek positif yang dimiliki pasien dirasakan keluarga dalam merawat 2. Menjelaskan pengertian. Pertahanan jangka panjang a. Penutupan identitas : Adopsi identitas premature yang diinginkan oleh orang penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN A. putus asa. II. produktivitas menurun III.

Memvalidasi masalah dan latihan 2) Melatih keluarga melakukan cara sebelumnya. merawat langsung kepada pasien 2. aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning) 2) Menjelaskan follow up pasien setelah pulang . Melatih kegiatan kedua (atau harga diri rendah selanjutnya) yang dipilih sesuai kemampuan SP III 3. Membimbing pasien memasukkan SP II dalam jadwal kegiatan harian. 1) Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan harga diri SP II rendah 1.5. Membimbing pasien memasukkan 1) Membantu keluarga membuat jadual dalam jadwal kegiatan harian.

Berpakaian/berhias Klien mempunyai kelemahan dalam meletakkan atau mengambil potongan pakaian. menanggalkan pakaian. LAPORAN PENDAHULUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI I. mengunyah makanan. Mandi/hygiene Klien mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan badan. mengaturan suhu atau aliran air mandi. serta memperoleh atau menukar pakaian. memperoleh atau mendapatkan sumber air mandi. 3. memanipulasi makanan dalam mulut. berpakaian/berhias. 2. makan dan BAB/BAK (Toileting). Pengertian Defisit perawatan diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi (higiene). Sosial Kurang dukungan dan latihan kemampuan dari lingkungannya. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Defisit Perawatan Diri 1. mempersiapkan makanan. 2. serta masuk dan keluar kamar mandi. 3. mendapatkan perlengkapan mandi. C. membuka container. mengambil makanan dari wadah lalu memasukkannya ke mulut. menangani perkakas. Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri. Tanda dan Gejala 1. menggunakan alat tambahan. Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif dan keterampilan klien kurang. KASUS (MASALAH UTAMA) A. mendapatkan makanan. mengeringkan tubuh. Makan Klien mempunyai ketidakmampuan dalam menelan makanan. B. .

D. tidak tahu cara dandan yang baik. . membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan tepat. Rentang Respon Respon Adaptif Respon Maladaptif Menyendiri (Solitude) Kesepian Manipulasi Otonomi Menarik diri Impulsive Kebersamaan Ketergantungan Narcisme Saling ketergantungan 1. tidak tahu cara eliminasi yang baik. Defisit Perawatan diri Data Mayor :  DS : Menyatakan malas mandi. 4. duduk atau bangkit dari jamban. II. perasaan dalam hubungan social 3. tidak tahu cara makan yang baik. melengkapi makan. memanipulasi pakaian untuk toileting. 2. 4. serta mencerna cukup makanan dengan aman. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN A. BAB/BAK (toileting) Klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam mendapatkan jamban atau kamar kecil. Otonomi :Kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran. Saling Ketergantungan :Hubungan saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam rangka membina hubungan interpersonal. Kebersamaan :Kondisi dalam hubungan sosial interpersonal dimana individu mampu saling member dan menerima. mengambil cangkir atau gelas. mencerna makanan menurut cara yang diterima masyarakat. dan menyiram toilet atau kamar kecil. Menyendiri (Solitude) : Respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang dilakukan dilingkungan sosialnya dan juga suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya.

BAB/BAK sembarang tempat. 2) Menjelaskan follow up pasien 4) Membimbing pasien memasukkan setelah pulang dalam jadwal kegiatan harian. merasa tidak ada yang peduli  DO : Tidak tersedia alat kebersihan. Data Minor :  DS : Merasa tidak berguna. tanda dan 3) Melatih pasien cara menjaga gejala defisit perawatan diri. Intervensi Pasien Keluarga SP I SP I 1) Menjelaskan pentingnya 1) Mendiskusikan masalah yang kebersihan diri dirasakan keluarga dalam merawat 2) Menjelaskan cara menjaga pasien kebersihan diri 2) Menjelaskan pengertian. dandan tidak rapih. merasa tak perlu merubah penampilan. . SP II 2) Menjelaskan cara makan yang baik 1) Melatih keluarga mempraktekkan 3) Melatih pasien cara makan yang cara merawat pasien dengan defisit baik perawatan diri 4) Membimbing pasien memasukkan 2) Melatih keluarga melakukan cara dalam jadwal kegiatan harian.  DO : Badan kotor. tidak tersedia alat toileting III. dan kebersihan diri jenis defisit perawatan diri yang 4) Membimbing pasien memasukkan dialami pasien beserta proses dalam jadwal kegiatan harian. merawat langsung kepada pasien defisit perawatan diri SP III 1) Memvalidasi masalah dan latihan SP III sebelumnya. tidak tersedia alat makan. makan berantakan. 1) Membantu keluarga membuat 2) Menjelaskan cara eliminasi yang jadual aktivitas di rumah termasuk baik minum obat (discharge planning) 3) Melatih cara eliminasi yang baik. 2) Menjelaskan cara berdandan 3) Melatih pasien cara berdandan 4) Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. SP IV 1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya. terjadinya 3) Menjelaskan cara-cara merawat SP II pasien defisit perawatan diri 1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.

.

4 Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri. pikiran. Hubungan Sosial Hubungan sosial adalah hubungan untuk menjalin kerjasama dan ketergantungan dengan orang lain (Stuart and Sundeen. . 1998). 2. Pengertian 1. 3 Ekspresi wajah kurang berseri. prestasi. tidak ada perhatian. Isolasi Sosial Suatu sikap di mana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain. KASUS (MASALAH UTAMA) A. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain. Kerusakkan Interaksi Sosial Kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gangguan hubungan intrapersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (Depkes. tidak ada perhatian. Individu merasa bahwa ia kehingan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan. B. 5 Tidak ada atau kurang komunikasi verbal. 2000). dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain (Balitbang. 3. dan tidak sanggup berbagi pengalaman (Balitbang. yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri. 2 Apatis (acuh terhadap lingkungan). atau kegagalan. Merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa. 2007) . Tanda dan Gejala Berikut ini adalah tanda dan gejala klien dengan isolasi sosial. 2007). dan kegagalan. 1 Kurang spontan. LAPORAN PENDAHULUAN ISOLASI SOSIAL I. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri. pikiran.

6 Mengisolasi diri 7 Tidak ada atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya. 8 Asupan makanan dan minuman terganggu. a. Menyendiri. 9 Retensi urine dan feses. pikiran. respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya. Interdependen. kemempuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide. Otonomi. 12 Rendah diri. 11 Kurang energi (tenaga). Berikut ini adalah sikap yang termasuk respons adaptif. Bekerja sama. 10 Aktivitas menurun. Berikut ini adalah perilaku yang termasuk respons maladaptif. Respons maladaptif Respons maladaptif adalah respons yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan di suatu tempat. 13 Poster tubuh berubah. kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama lain. Respons adaptif Respons adaptif adalah respons yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan secara umum berlaku. 1. c. b. . 2. dan perasaan dalam hubungan sosial. misalnya sikap fetus/janin (khususnya pada posisi tidur). d. Rentang Respons Respons Adaptif Respons Maladaptif Menyendiri Merasa sendiri Menarik diri Otononi Depedensi Ketergantungan Bekerja sama Curiga Manipulasi Interdependen curiga Berikut ini akan dijelaskan tentang respons yang terjadi pada isolasi sosial. Dengan kata lain individu tersebut masih dalam batas normal ketika menelesaikan masalah. C. saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.

Etiologi Terjadinya menarik diri dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan stressor presipitasi. seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain. 1. tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa tertekan. ragu. tidak percaya pada diri orang lain. D. d. lebih menyukai berdiam diri sendiri dan kegiatan sendiri terabaikan. Faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predisposisi dan stressor presipitasi. menghindar dari orang lain. Faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predisposisi terjadi perilaku menarik diri. Menarik diri. Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak terpenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah. Curiga. c. Ketergantungan. seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain. Tahap Tugas Perkembangan Masa Bayi Menetapkan rasa percaya Masa Bermain Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri Masa Belajar menunjukkan inisiatif. b. Manipulasi. takut salah. Kegagalan perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri. Tugas Perkembangan Berhubungan Dengan Pertumbuhan Interpersonal. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain. pesimis. putus asa terhadap hubungan dengan orang lain. seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam. menghindari orang lain. rasa tanggung jawab. a. seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain. Faktor Predisposisi a. Prasekolah dan hati nurani . Faktor Tumbuh Kembang Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial.

Belajar berkompetisi. mencari pasangan. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga. bekerja sama. berpenyakit kronis. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak. misalnya pada klien . dimana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut. dan mempunyai Muda anak. dan Masa Sekolah berkompromi Menjalin hubungan intim dengan teman sesama jenis Masa Praremaja kelamin. Faktor Biologis Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. menikah. Menjadi intim dengan teman lawan jenis atau Masa Remaja bergantung pada orang tua. Masa Tengah Belajar menerima hasil kehidupan yang sudah dilalui. Sumber : Stuart dan Sundeen (1995) b. Faktor Sosial Budaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. d. Faktor Komunikasi dalam Keluarga Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. c. Baya Masa Dewasa Berduka karena kehilangan dan mengembangkan Tua perasaan keterikatan dengan budaya. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan (double bind) yaitu suatu keadaan di mana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga. Menjadi saling bergantung antara orangtua dan Masa Dewasa teman. dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.

b. skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak. Kebutuhan Rasa Aman Klien dengan gangguan interaksi menarik diri cenderung merasa cemas. Faktor eksterna Contohnya adalah stresor sosial budaya. a. gelisah. Faktor stresorpresipitasi dapat dikelompokkan sebagai berikut. 1. Faktor Presipitasi Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal seseorang. takut dan bingung sehingga akan menimbulkan rasa tidak aman bagi klien. Kebutuhan Fisiologis Klien dengan interaksi sosial menarik diri kurang memperhatikan diri dan lingkungannya sehingga motivasi untuk makan sendiri tidak ada. Kebutuhan Mencintai dan Dicintai Klien dengan gangguan interaksi sosial menarik diri cenderung memisahkan diri dari orang lain. E. serta perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbik dan daerah kortikal. karena asyik dengan pikirannya sendiri sehingga tidak ada minat untuk mengurus diri dan keberhasilannya. Klien kurang memperhatikan kebutuhan istirahat dan tidur. yaitu stres terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. 4. Dampak Menarik Diri Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia Dibawah ini akan dijelaskan mengenai dampak gangguan interaksi sosial menarik diri terhadap kebutuhan dasar manusia yang dikemukakan oleh Abraham Maslow. Faktor internal Contohnya adalah stresor psikologis. 3. yaitu stres yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya seperti keluarga. Kebutuhan Harga Diri . Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu. 2. 2.

mengatakan orang lain tidak mau menerima dirinya. mondar-mandir tanpa arah. pasien isolasi sosia 5) Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. Klien akan mengkritik diri sendiri. mendengar suara/melihat bayangan. tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain. Kebutuhan Aktualisasi Diri Klien dengan gangguan interaksi sosial menarik diri akan merasa tidak percaya diri. SP II 1) Melatih keluarga mempraktekkan SP II cara merawat pasien dengan isolasi 1) Memvalidasi masalah dan latihan sosial sebelumnya. merasa tak berguna DO : Mematung. mengurung diri. menurunkan dan mengurangi martabat diri sendiri sehingga klien terganggu. Data Minor : DS : Curiga dengan orang lain. tanda dan 3) Mengidentifikasi kerugian tidak gejala isolasi sosial yang dialami berinteraksi dengan orang lain. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN A. merasa dirinya tidak pantas menerima pengakuan dan penghargaan dari orang lain dan klien akan merasa rendah diri untuk meminta pengakuan dari orang lain. pasien beserta proses terjadinya 4) Melatih pasien berkenalan dengan 3) Menjelaskan cara-cara merawat satu orang. 2) Menjelaskan pengertian. 5. Klien dengan gangguan interaksi sosial menarik diri akan mengalami perasaan yang tidak berarti dan tidak berguna. merasa orang lain tidak selevel. 2) Melatih keluarga melakukan cara 2) Melatih pasien berkenalan dengan merawat langsung kepada pasien dua orang atau lebih. DO : Menyendiri. Intervensi Pasien Keluarga SP I SP I 1) Mengidentifikasi penyebab isolasi 1) Mendiskusikan masalah yang sosial pasien dirasakan keluarga dalam merawat 2) Mengidentifikasi keuntungan pasien berinteraksi dengan orang lain. Isolasi sosial Data Mayor : DS : Klien mengatakan malas berinteraksi. isolasi sosial . III. tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain. II.

3) Membimbing pasien dan memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. 1) Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah SP III termasuk minum 1) Memvalidasi masalah dan latihan obat (discharge planning) sebelumnya. .3) Membimbing pasien memasukkan SP III dalam jadwal kegiatan harian. 2) Menjelaskan follow up pasien 2) Melatih pasien berinteraksi dalam setelah pulang kelompok.

. suara/bunyi yang tidak tanpa sebab. maupun histerik (Yosep. Walaupun tampak sebagai suatu yang “khayal”. 2000). Jenis – jenis Halusinasi Jenis Halusinasi Data Objektif Data Subjektif Halusinasi Dengar  Bicara atau  Mendengar suara- tertawa sendiri. menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya. Halusinasi dapat terjadi karena dasarr-dasar organik fungsional. 2. suara atau (Klien mendengar  Marah-marah kegaduhan.  Mendengar suara ada hubungannya dengan  Mendekatkan yang mengajak stimulus yang telinga ke arah bercakap-cakap. 2007).  Mendengar suara  Menutup telinga. Pengertian Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya rangsang dari luar. Teori Psikoanalisis Merupakan respon pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang mengancam dan ditekan untuk muncul dalam alam sadar. halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang “terepsesi”. B. Teori Biokimia Terjadi sebagai respon metabolisme terhadap stres yang mengakibatkan terlepasnya zat halusinogenik neurotik (buffofenon dan dimethytransaferase). tertentu. KASUS (MASALAH UTAMA) A. Teori yang Menjelaskan Halusinasi 1. C. nyata/lingkungan). psikotik. LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI I. Individu menginterpretasikan stresor yang tidak ada stimulus dari lingkungan (Depkes RI.

monster. bentuk (Klien melihat gambaran  Ketakutan pada geometris. dan terkadang muncul dari sumber bauan tertentu. urin. serangga di (Klien merasakan sesuatu permukaan kulit. ruangan/anggota badannya bergerak) . sinar. atau feses. pada kulitnya tanpa ada  Merasa seperti stimulus yang nyata) tersengat listrik. (Klien mencium bau yang membaui bau. (Klien merasakan sesuatu yang tidak nyata. menyenangkan bagi yang nyata). Merasakan rasa seperti  Muntah. bau-bau tersebut tertentu tanpa stimulus  Menutup hidung.Halusinasi Penglihatan  Menunjuk-nunjuk Melihat bayangan. Halusinasi Perabaan  Menggaruk-garuk  Mengatakan ada permukaan kulit. nyata dari lingkungan dan orang lain tidak melihatnya). darah. kartun. Halusinasi Penciuman  Mengendus-endus Membauai bau-bauan seperti sedang seperti bau darah.feses. Halusinasi Kinestetik  Memegang Mengatakan badannya kakinya yang melayang di udara. biasanya merasakan rasa yang tidak enak). yang jelas/samar terhadap situasi yang tidak melihat hantu. klien. atau adanya stimulus yang jelas. (Klien merasa badannya dianggapnya bergerak dalam suatu bergerak sendiri. ke arah tertentu. Halusinasi Pengecapan  Sering meludah. urin.

Faktor predisposisi meliputi: 1. Faktor Perkembangan Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu. Faktor Biokimia Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. maka individu akan mengalami stress dan kecemasan. 4. Faktor Psikologis Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda bertentangan yang sering diterima oleh seseorang akan mengakibatkan stres dan kecemasan yang tinggi dan berakhir pada gangguan orientasi realitas. 3. normal seperti biasanya. sehingga orang tersebut merasa kesepian di lingkungan yang membesarkannya. Diperoleh dari klien atau keluarga. tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini. Sumber : Stuart dan Sundeen (1998) D. Halusinasi Viseral  Memegang Mengatakan perutnya badannya yang menjadi mengecil (Perasaan tertentu timbul dianggap berubah setelah minum dalam tubuhnya) bentuk dan tidak softdrink. Faktor Genetik Gen yang berpengaruh dalam skizofrenia belum diketahui. maka di dalam tubuhnya akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti buffofenon dan dimethytransferase (DMP). Jika seseorang mengalami stres yang berlebihan. . Faktor Sosiokultural Berbagai faktor di masyarakat dapat menyebabkan seseorang merasa disingkarkan. 5. 2. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.

tetapi pada saat tertentu menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan mengontrol semua perilaku klien. Individu asik dengan halusinasinya. ancaman/tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Dimensi emosional Perasaan cemas yang berlebihan karena masalah yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi terjadi. Perilaku Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa rasa curiga. serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. 2. tidak mampu mengambil keputusan. kurang perhatian. sehingga klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga berbuat sesuatu terhadap ketakutannya. demam hingga delirium. Faktor Presipitasi Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan. penggunaan obat-obatan. berperilaku yang merusak diri. F. seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi . Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok. 4. takut. Dimensi fisik Manusia dibangun oleh sistem indra untuk menanggapi ransangan eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. 3. objek yang ada dilingkungan juga suasana sepi/isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan. Rawlins dan Heacock (1993) mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan individu sebagai makhluk yang dibangun atas unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi yaitu: 1. Dimensi sosial Dimensi sosial menunjukkan individu cenderung untuk mandiri. Dimensi intelektual Individu yang mengalami halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. tidak aman. gelisah dan bingung.E. terlalu lama diajak komunikasi. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti: kelelahan yang luar biasa. intoksikasi alkohol dan kesulitan tidur dalam waktu lama. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan.

dan ketakutan b. kontrol diri. Individu dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan. Tahap I ( non-psikotik ) Pada tahap ini. Secara umum pada tahap ini halusinasi merupakan hal yang menyenangkan bagi klien. kesepian. Klien yang mengalami halusiansi cenderung menyendiri dan cenderung tidak sadar dengan keberadaanya serta halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut. Tersenyum atau tertawa sendiri b. termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. Karakteristik : a. rasa bersalah. Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan kecemasan c. dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. tingkat orientasi sedang. maka hal tersebut dapat mengancam dirinya atau orang lain. sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman. dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil. 5. sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Sumber Koping Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. kebutuhan akan interaksi sosial. Dimensi spiritual Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial. dukungan sosial dan keyakinan budaya. Menggerakkan bibir tanpa suara c. Pergerakan mata yang cepat . Mekanisme Koping Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress. Tahapan Halusinasi 1. G. Isi halusinasi dijadikan sistem kontrol. I. H. Mengalami kecemasan. Pikiran dan pengalaman sensorik masih ada dalam control kesadaran Perilaku yang muncul : a. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah. halusinasi mampu memberikan rasa nyaman pada klien.

dan berkonsentrasi 2. Mulai merasa kehilangan kontrol c. Agitasi atau kataton c. Tidak mampu mengikuti perintah yang nyata e. Terjadi peningkatan denyut jantung. Klien tampak tremor dan berkeringat 4. Karakteristik : a. b. Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya b. Sulit berhubungan dengan orang lain c. d. Tahap IV ( psikotik ) Klien sudah sangat dikuasai oleh halusinasi dan biasanya klien terlihat panic Perilaku yang muncul : a. Tahap II ( non-psikotik ) Pada tahap ini biasanya klien bersikap menyalahkan dan mengalami tingkat kecemasan yang berat. Resiko tinggi menciderai b. Kehilangan kemampuan dalam membedakan antara halusinasi dan realita 3. Respon verbal lambat. dan halusinasi tidak dapat ditolak lagi. Perhatian terhadap lingkungan menurun c. Klien menuruti perintah halusinasi b. Klien menjadi kesepian bila pengalaman sensori berakhir Perilaku yang muncul : a. Pengalaman sensori menakutkan atau merasakan dilecehkan oleh pengalaman tersebut b. pernapasan. Menarik diri dari orang lain Perilaku yang muncul : a. Konsentrasi terhadap pengalaman sensori menurun d. Isi halusinasi menjadi atraktif c. Secara umum. halusinasi yang ada dapat menyebabkan antipasti. Tahap III ( psikotik ) Klien biasanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. Tidak mampu merespon rangsangan yang ada . Karekteristik: a. Perhatian terhadap lingkungan sedikit atau sesaat d. tingkat kecemasan berat. dan tekanan darah. diam.

merawat langsung kepada pasien halusinasi SP II 1) Memvalidasi masalah dan latihan SP III sebelumnya 1) Membantu keluarga membuat jadual 2) Melatih pasien cara kontrol halusinasi aktivitas di rumah termasuk minum dengan berbincang dengan orang lain obat (discharge planning) 3) Membimbing pasien memasukkan 2) Menjelaskan follow up pasien setelah dalam jadwal kegiatan harian. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN A. Timbulnya perubahan persepsi sensori halusinasi biasanya diawali dengan seseorang yang menarik diri dari lingkungan karena orang tersebut menilai dirinya rendah. menyatakan senang dengan suara- suara  DO : Menyendiri. Intervensi Pasien Keluarga SP I SP I 1) Mengidentifikasi jenis halusinasi 1) Mendiskusikan masalah yang pasien dirasakan keluarga dalam merawat 2) Mengidentifikasi isi halusinasi pasien pasien 3) Mengidentifikasi waktu halusinasi 2) Menjelaskan pengertian. marah tanpa sebab Data Minor :  DS : Menyatakan kesal. III. melamun. dan jenis halusinasi 4) Mengidentifikasi frekuensi halusinasi yang dialami pasien beserta proses pasien terjadinya 5) Mengidentifikasi situasi yang 3) Menjelaskan cara-cara merawat pasien menimbulkan halusinasi halusinasi 6) Mengidentifikasi respons pasien terhadap halusinasi SP II 7) Melatih pasien cara kontrol halusinasi 1) Melatih keluarga mempraktekkan cara dengan menghardik merawat pasien dengan halusinasi 8) Membimbing pasien memasukkan 2) Melatih keluarga melakukan cara dalam jadwal kegiatan harian. pulang . tertawa sendiri. tanda dan pasien gejala halusinasi. Perubahan persepsi sensori : halusinasi Data Mayor :  DS : Mengatakan mendengar suara. Bila klien mengalami halusinasi dengar dan lihat atau salah satunya yang menyuruh pada kejelekan maka akan berisiko terhadap perilaku II. bisikan/melihat bayangan  DO : Bicara sendiri.

. SP IV 1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.SP III 1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya 2) Melatih pasien cara kontrol halusinasi dengan kegiatan (yang biasa dilakukan pasien). 2) Menjelaskan cara kontrol halusinasi dengan teratur minum obat (prinsip 5 benar minum obat). 3) Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. 3) Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

Tidak ada perhatian pada perawatan diri 3. LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM I. Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas 8. Ekspresi wajah tegang 9. Mudah tersinggung (Azis R dkk. Bermusuhan 5. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala pada klien dengan perubahan proses piker : waham adalah sebagai berikut. sangat waspada 7. keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan 2. Klien tampak tidak mempunyai orang lain 3. KASUS (MASALAH UTAMA) A. Mudah teresinggung 6. Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan kontrol. Pengertian Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realitas social (Stuart dan Sundeen. Tidak dapat membedakan antara kenyataan dan bukan kenyataan . kebesaran. 1998). tetapi dipertahankan dan tidak dapay diubah secara logis oleh orang lain. B. Tanda dan Gejala : 1. lingkungan) 6. Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan knyataan. Takut. Ekspresi wajah sedih/gembira/ketakutan 4. Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan 7. Menurut Depkes (2000). Menolak makan 2. kecurigaan. Gerakan tidak terkontrol 5. Merusak (diri. 2003). Curiga 4. 1. orang lain. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama.

Rentang Respon Respon Adaptif Respon Maladaptif . 8. Isi piker . Hal ini dapat menigkatkan stress dan ansiets yang berakhir dengan gangguan persepsi. Menarik diri . b. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Perilaku sesuai . Menjalankan kegiatan keagamaan secara berlebihan (Fitria.Perilaku tidak . Emosi konsisten . Menghindar dari orang lain 9. Kadang proses . Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri. Mendominasi pembicaraan 10. Penyebab dari Waham Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir: waham yaitu harga diri rendah kronis. klien menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi yang tidak efektif.Isolasi sosial D. Berperilaku yg . C. hilang kepercayaan diri. Persepsi akurat piker terganggu halusinasi . Harga diri rendah kronik dapat menyebabkan isolasi sosial dan pada akhirnya menyebabkan perubahan proses pikir: waham. Ilusi . Faktor psikologis . Faktor predisposisi a. Faktor perkemabangan Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal seseorang. 2009). c. dan merasa gagal mencapai keinginan. Berbicara kasar 11. Hubungan social tidak biasa terorganisasi harmonis . Pikiran logis . 1.Gg. Emosi berlebih emosi .Perubahan proses dng pengalaman . Faktor sosial budaya Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya waham.

Waham agama : keyakinan seseorang bahwa ia dipilih oleh Yang Maha Kuasa atau menjadi utusan Yang Maha Kuasa. Genetis Diturunkan. adanya abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif. Hubungan yang tidak harmonis. e. Faktor sosial budaya Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau diasingkan dari kelompok. norepineprin. E. h. Neurotransmitter Abnormalitas pada dopamine. Faktor biologis Waham diyakini terjadi karena atrofi otak. pembesaran ventrikel di otak. Waham kebesaran : keyakinan seseorang bahwa ia memiliki kekuatan yang istimewa. c. . Virus paparan virus influensa pada trimester III 2. atau perubahan pada sel kortikal dan limbik. dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang. Neurobiologis Adanya gangguan pada korteks pre frontal dan korteks limbic g. Macam – macam Waham 1. serotonin dan glutamat. Waham somatik : keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya sakit atau terganggu. Faktor psikologis Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan. b. dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan. 3. d. f. Faktor biokimia Dopamine. peran ganda/bertentangan. Faktor Presipitasi a. 2.

Akibat dari Waham Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri. Mempunyai rencana untuk melukai . 9. Menarik diri 4. Mekanisme Koping Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi klien dari pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif meliputi : 1. sering dirasakan sebagai waham sakit dan waham bersalah 6. ditandai dengan waham yang sistematis bahwa orang lain “ingin menangkap “ atau memata-matainya. Waham nihilistik : suatu pikiran bahwa dirinya atau orang lain sudah meninggal atau dunia sudah hancur 7. 4. Tanda dan Gejala : 1. orang lain dan lingkungan. waham tentang pikiran yang disiarkan ke dunia luar. Mendekati orang lain dengan ancaman 3. waham tentang pikiran yang ditempatkan ke dalam benak orang lain atau pengaruh luar. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai 4. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan 5. Waham paranoid : kecurigaan seseorang yang berlebihan atau tidak rasional dan tidak mempercayai orang lain. orang lain dan lingkungan. mengingkari G. Sisip pikir . F. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri. Waham pengaruh : keyakinan bahwa dirinya merupakan subjek pengaruh dari orang lain 8. Regresi : berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk mengatasi ansietas 2. Pada keluarga . 5. Siar pikir . Proyeksi : sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi 3. Memperlihatkan permusuhan 2. Waham depresif : kepercayaan tidak mendasar serta cenderung menyalahkan diri sendiri akibat perbuatan-perbuatannya yang melanggar kesusilaan atau kejahatan.

SP II 2) Mengidentifikasi kemampuan yang 1) Melatih keluarga mempraktekkan cara dimiliki merawat pasien dengan waham 3) Melatih kemampuan yang dimiliki 2) Melatih keluarga melakukan cara 4) Membimbing pasien memasukkan merawat langsung kepada pasien dalam jadwal kegiatan harian. merasa diancam/diguna-guna. banyak kata (longorhoe). sirkumtansial. merasa sakit/rusak organ tubuh. aktivitas di rumah termasuk minum 2) Menjelaskan penggunaan obat secara obat benar. merasa sebagai orang hebat. merasa cemburu. II. merasa tidak ada yang mau mengerti  DO : Marah – marah karena urusan sepele.  DO : Marah –marah tanpa sebab. tanda dan kebutuhannya gejala waham. Intervensi Pasien Keluarga SP I SP I 1) Membantu orientasi realita 1) Mendiskusikan masalah yang 2) Mengidentifikasi kebutuhan yang tidak dirasakan keluarga dalam merawat terpenuhi. 2) Mendiskusikan sumber rujukan yang 3) Membimbing pasien memasukkan bisa dijangkau keluarga dalam jadwal kegiatan harian. dan jenis waham yang 4) Membimbing pasien memasukkan dialami pasien beserta proses dalam jadwal kegiatan harian. pasien 3) Melatih pasien memenuhi 2) Menjelaskan pengertian. merasa memiliki kekuatan luar biasa. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN A. menyendiri. Perubahan proses pikir: waham Data Mayor :  DS : Merasa curiga. III. Data Minor :  DS : Merasa orang lain menjauh. waham SP III SP III 1) Memvalidasi masalah dan latihan 1) Membantu keluarga membuat jadual sebelumnya. menyendiri. inkoheren. . terjadinya 3) Menjelaskan cara-cara merawat pasien SP II waham 1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.

merasa diri benar. 2. bermusuhan. Intelektual : Mendominasi. otot tegang. kekerasan. Asertif : Individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberikan ketenangan . ingin berkelahi. menyalahkan dan menuntut. Fisik : Muka merah. rahang mengatup. merasa terganggu. menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan. mendekati orang lain dengan ancaman. keragu-raguan. mempunyai rencana untuk melukai C. ejekan. merusak lingkungan. 3. ngamuk. dendam. Pandangan tajam/mata melotot. 5. tak bermoral. dan tidak jarang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme. jengkel. Perilaku kekerasan dapat dibagi dua menjadi perilaku kekerasan scara verbal dan fisik (Keltner et al. Emosi : tidak adekuat. KASUS (MASALAH UTAMA) A. Perilaku : Menyerang orang lain. berbicara dengan nada keras. kasar dan ketus. kasar. Pengertian (Towsend. 1998). pengasingan. 1995). sindiran. B. cerewet. 6. LAPORAN PENDAHULUAN PERILAKU KEKERASAN I. 1998) perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang individu mengalamai perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.. memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai. Tanda dan Gejala 1. melukai diri sendiri/orang lain. tangan mengepal. Spiritual : Merasa diri kuasa. cenderung suka meremehkan berdebat. Sosial : Menarik diri. kreativitas terhambat 7. tidak berdaya. penolakan. tidak aman dan nyaman. lingkungan termasuk orang lain dan barang – barang (Maramis. Rentang Respon Respon Adaptif Respon Maladaptif Asertif Frustasi Pasif Agresif Kekerasan Keterangan : 1. Verbal : Mengancam. Suatu keadaan di mana klien mengalami perilaku yang dapat membahayakan klien sendiri. serta postur tubuh kaku. mengumpat dengan kata-kata kotor. memperlihatkan permusuhan. amuk/agresif 4.

tidak dapat Sikap tenang Mengancam. Sedang Keras dan ngotot suara mengeluh Posisi badan Menundukan Tegap dan santai Kaku. Pasif : Individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya 4. terdapat dorongan untuk menuntut tetapi masih terkontrol 5. Merendahkan orang lain. Kekerasan : Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya control Perbandingan antara perilaku Asertif. 2. condong kedepan kepala Jarak Menjaga jarak Mempertahankan Siap dengan jarak akan dengan sikap jarak yang nyaman menyerang orang lain acuh/ mengabaikan Penampilan Loyo. contohnya contohnya perkataan contohnya perkataan: perkataan : : “Kamu selalu…” “Dapatkah “Saya dapat…” “Kamu tidak pernah…” saya?” “Saya akan…. Pembicaraan merendahkan menawarkan diri. Pasif dan Agresif/Kekerasan Pasif Asertif Agresif Isi Negatif dan Positif dan Menyombongkan diri. Agresif : Perilaku yang menyertai marah. Frustasi : Individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternative 3.” “Dapatkah kamu?” Tekanan Cepat lambat. posisi tenang menyerang Kontak mata Sedikit/sama Mempertahankan Mata melotot dan sekali tidak kontak mata sesuai dipertahankan dengan hubungan Sumber : Keliat (1999) dalam Fitria (2009) . diri.

D. trauma otak. Teori pembelajaran. Faktor Predisposisi Menurut Townsend (1996) terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan tentang factor predisposisi perilaku kekerasan diantaranya adalah sebagai berikut : 1. . Teori psikoanalitik. Pengaruh genetic. ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi seseorang melakukan perilaku kekerasan. teori ini menjelaskan bahwa tidak terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah. b. Gangguan otak. yaitu sebagai berikut : a. yang umumnya dimiliki oleh penghuni penjara pelaku tindak criminal (narapidana) d. Pengaruh biokimia. penyakit ensefalitis. menurut penelitian perilaku agresif sangat erat kaitannya dengan genetic termasuk genetic tipe kariotipe XYY. beragam komponen system neurologis mempunyai implikasi dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Teori Psikologik a. norepinefrin. c. epilepsi (epilepsi lobus temporal) terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan. perilaku kekerasan merupakan perilaku yang dipelajari. Peningkatan hormone androgen dan norepinefrin serta penurunan serotonin dan GABA (6 dan 7) pada cairan serebrospinal merupakan factor predisposisi penting yang menyebabkan timbulnya perilaku agresif pada seseorang. asetil kolin dan serotinin) sangat berperan dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. dopamine. Teori Biologik Berdasarkan teori biologic. Agresi dan kekerasan dapat memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri serta memberikan arti dalam kehidupannya. 2. Pengaruh neurofisiologik. individu yang memiliki pengaruh biologic terhadap perilaku kekerasan lebih cenderung untuk dipengaruhi oleh contoh peran eksternal dibandingkan anak- anak tanpa factor predisposisi biologic. sindrom otak organic berhubungan dengan berbagai gangguan serebral. tumor otak (khususnya pada limbic dan lobus temporal). Sistem limbic sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan respons agresif b. menurut Goldstein dalam Townsend (1996) menyatakan bahwa berbagai neurotransmitter (epinefrin.

sehingga sulit untuk bergaul dengan orang lain. rasa takut sakit. Teori Sosiokultural Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima perilaku kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam masyarakat . kehilangan pekerjaan. Menurut Shives (1998) hal-hal yang dapat menimbulkan perilaku kekerasan atau penganiayaan antara lain sebagai berikut : 1. Faktor Presipitasi Faktor presipitasi dapat dibedakan menjadi factor internal dan eksternal : 1. Mekanisme Koping Mekanisme yang umum digunakan adalah mekanisme pertahanan ego seperti displacement. Kesulitan kondisi social ekonomi 2. Perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi berduka yang berkepanjangan dari seseorang karena ditinggal oleh orang yang dianggap sangat berpengaruh dalam hidupnya. 3. krisis dan lain-lain. Hal tersebut dapat berdampak pada keselamatan dirinya dan orang lain (resiko tinggi mencederai diri. dan reaksi formasi. Eksternal adalah penganiayaan fisik. kehilangan orang yang dicintai. menurunya percaya diri. Bila ketidakmampuan bergaul dengan orang lain ini tidak diatasi akan memunculkan halusinasi berupa suara-suara atau bayangan yang meminta klien untuk melakukan tindak kekerasan. orang lain dan lingkungan). Internal adalah semua factor yang dapat menimbulkan kelemahan. maka dapat menyebabkan seseorang rendah diri (Harga diri rendah). . hilang kontrol dan lain-lain. perubahan tahap perkembangan. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu 3. represif. atau perubahan tahap perkembangan keluarga. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuannya dalam menempatkan diri sebagai orang yang dewasa 4. Pelaku mungkin mempuanyai riwayat anti sosial seperti penyalahgunaan obat dan alkohol serta tidak mampu mengontrol emosi pada saat menghadapi rasa frustasi 5. Bila kondisi tersebut tidak teratasi. proyeksi. F. sublimasi.erupakan factor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan E. denial. Kematian anggota keluarga yang terpenting. 2.

Status mental 5. bicara keras dan kasar  DO : Agitasi. Putus obat 6. Konflik interpersonal 4. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN A. Intervensi Pasien Keluarga SP 1 SP I 1) Mendiskusikan penyebab PK anak 1) Mengidentifikasi kemampuan keluarga 2) Mendiskusikan tanda dan gejala PK anak dalam merawat pasien 3) Mendiskusikan PK yang biasanya 2) Menjelaskan peran serta keluarga dalam dilakukan oleh anak merawat pasien 4) Mendiskusikan akibat PK 3) Menjelaskan cara merawat anak PK 5) Melatih anak mencegah PK dengan cara fisik: nafas dalam SP II 6) Membimbing memasukkan ke jadwal 1) Melatih keluarga merawat anak PK kegiatan harian 2) Menjelaskan tentang obat untuk mengatasi PK* SP II 1) Memvalidasi masalah dan latihan SP III sebelumnya. katatonia III. mengumpat. merasa orang lain mengancam dirinya  DO : menjau dari orang lain. mendengar suara yang menjelekkan. Perilaku kekerasan Data Mayor :  DS : Mengancam. membanting dan melempar Data Minor :  DS : mengatakan ada yang mengejek dan mengancam. Ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah 2. Stimulus lingkungan 3. G. meninju. Faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah perilaku kekerasan. antara lain sebagai berikut : 1. Penyalahgunaan narkoba/alcohol II. .

2) Melatih cara spiritual untuk mencegah PK 3) Membimbing memasukkan ke jadwal kegiatan harian SP IV 1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya 2) Mendiskusikan manfaat obat 3) Menjelaskan kerugian jika tidak patuh obat 4) Menjelaskan 5 benar dalam pemberian obat 5) Membimbing memasukkan ke jadwal kegiatan harian .2) Melatih cara sosial untuk 1) Menjelaskan sumber rujukan yang mengekspresikan marah tersedia untuk mengatasi anak PK 3) Memimbing memasukkan ke jadwal 2) Mendorong untuk memanfaatkan sumber kegiatan harian rujukan yang tersedia SP III 1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.

atau mengalami kegagalan karier) 12. marah. dan mengasingkan diri) 9. Sumber-sumber sosial . Kesehatan mental ( secara klinis. cemas meningkat. percobaan atau ancaman verbal. Pengertian Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri kehidupan individu secara sadar berhasrat dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. Pekerjaan 15. penolakan. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh) 6. Impulsif 5. menanyakan tentang obat dosis mematikan) 8. Sumber-sumber personal 19. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian. LAPORAN PENDAHULUAN RESIKO TINGGI BUNUH DIRI I. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun 13. Konflik interpersonal 16. kehilangan pekerjaan. luka atau mernyakiti diri sendiri (Clinton. 1995) B. Mempunyai ide untuk bunuh diri 2. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri 7. klien terlihat sebagai orang yang depresi. Pengangguran (tidak bekerja. Perilaku bunuh diri meliputi isyarat-isyarat. Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan) 14. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan 4. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal) 11. Status emosional (harapan. yang akan mengakibatkan kematian. Latar belakang keluarga 17. Tanda dan Gejala 1. Mengungkapkan keinginan untuk mati 3. Orientasi seksual 18. psikosis dan menyalahgunakan alkohol) 10. panik. KASUS (MASALAH UTAMA) A.

Peningkatan diri : Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Suicidal threat. 20. Rentang Respon Respons Adaptif Respon Maladaptif Peningkatan diri Beresiko destruktif Destruktif diri Pencederaan diri Bunuh diri tidak langsung Keterangan : 1. Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya : 1. 2. Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yang dalam. bahkan ancaman unSP mengakhiri hidupnya 4. Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang konkrit unSP melakukan bunuh diri 3. 3. Suicidal ideation. Bunuh diri : Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang. Destruktif diri tidak langsung : Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya unSP mempertahankan diri. Beresiko destruktif : Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri. Tahap ini sering di . Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan unSP melakukan bunuh diri. atau sebuah metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/ tindakan. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil C. 2. Pencenderaan diri : Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencenderaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada. Suicidal intent. 5. Pada tahap ini merupakan proses kontemplasi dari bunuh diri. Pada umumnya tindakan bunuh diri merupakan cara ekspresi orang yang penuh stress. Suicidal gesture. 4. bahkan klien pada tahap ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan.

Teori interpersonal mengungkapkan bahwa mencederai diri sebagai kegagalan dari pertemuan dalam hidup. D. Suicidal attempt. Faktor Predisposisi 1. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media mengenai orang yang . Faktor Presipitasi Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stres berlebihan yang dialami individu. walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan kehidupannya. 4. Faktor genetik dan teori biologi Faktor genetik mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya. Merupakan jalan untuk mengakhiri keputusasaan dan ketidak-berdayaan c. 3. masa anak-anak mendapat perlakuan kasar serta tidak mendapatkan kepuasan (Stuart dan Sundeen. atruistik (Melakukan bunuh diri unSP kebaikan masyarakat) dan anomik ( Bunuh diri karena kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor). Sebuah tindakan untuk menyelesaikan masalah E. Teori sosiologi Emile Durkheim membagi bunuh diri dalam 3 kategori yaitu : Egoistik (orang yang tidak terintegrasi pada kelompok sosial) . Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko buuh diri. Penyebab lain : a. Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang memalukan. memfokuskan pada masalah tahap awal perkembangan ego. 1995) 5. Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada diri sendiri. trauma interpersonal. Cara untuk meminta bantuan d. 2. dan kecemasam berkepanjangan yang nungkin dapat memicu seseorang unSP mencederai diri. Adanya harapan yang tidak dapat di capai b. namakan “Crying for help” sebab individu ini sedang berjuang dengan stres yang tidak mampu di selesaikan 5. Teori psikologi.

Derajat yang tinggi terhadap keputusasaan. Hal – hal yang perlu diperhatikan didalam melakukan pengkajian tentang riwayat kesehatan mental klien yang mengalami resiko bunuh diri : f. Cari tahu rencana apa yang sudah di rencanakan b. e. gangguan persepsi sensori. gangguan proses pikir. Bila individu menyatakan memiliki rencana bagaimana untuk membunuh diri mereka sendiri. Masalah dan Data yang Perlu dikaji Data yang perlu dikumpulkan saat pengkajian : 1. penyalahgunaan NAPZA dan skizofrenia d. hal tersebut menjadi sangat rentan. Menentukan seberapa jauh klien sudah melakukan aksinya atau perencanaan untuk melakukan aksinya yang sesuai dengan rencananya. Riwayat penyakit fisik yang kronik. Klien yang sedang mengalami kehilangan dan proses berduka 2. Menentukan bagaiamana metoda yang mematikan itu mampu diakses oleh klien. paranoid. Riwayat masa lalu : a. melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. c. nyeri kronik. Apakah klien mengalami : a) Ide bunuh diri b) Ancaman bunuh diri c) Percobaan bunuh diri d) Sindrom mencederai diri sendiri yang disengaja b. dlsb f. e. ketidakberdayaan dan anhedonia dimana hal ini merupakan faktor krusial terkait dengan resiko bunuh diri. 3. Perlu dilakukan penkajian lebih mendalam lagi diantaranya : a. Menciptakan hubungan saling percaya yang terapeutik g. Symptom yang menyertainya a. Riwayat percobaan bunuh diri dan mutilasi diri b. Riwayat keluarga terhadap bunuh diri c. Riwayat gangguan mood. Menentukan seberapa banyak waktu yang di pakai pasien untuk merencanakan dan mengagas akan bunuh diri d. F. Bagi individu yang emosinya labil. Klien yang memiliki riwayat gangguan kepribadian boderline. antisosial. Memilih tempat yang tenang dan menjaga privasi klien .

Peroleh riwayat penyakit fisik klien Salah satu Instrumen yang dapat dipekai untuk mengukur bunuh diri : SAD PERSONS NO SAD PERSONS Keterangan 1 Sex (jenis kelamin) Laki laki lebih komit melakukan suicide 3 kali lebih tinggi dibanding wanita. Mendiskuiskan gangguan jiwa sebelumnya dan riwayat pengobatannya k. i. h. 3 Depression 35 – 79% oran yang melakukan bunuh diri mengalami sindrome depresi. pekerjaan yang social) bermakna serta dukungan spiritual keagaamaan . Mendiskusikan keyakinan budaya dan keagamaan m. meskipun wanita lebih sering 3 kali dibanding laki laki melakukan percobaan bunuh diri 2 Age ( umur) Kelompok resiko tinggi : umur 19 tahun atau lebih muda. 4 Previous attempts 65.70% orang yang melakukan bunuh diri sudah (Percobaan pernah melakukan percobaan sebelumnya sebelumnya) 5 ETOH ( alkohol) 65 % orang yang suicide adalah orang menyalahnugunakan alkohol 6 Rational thinking Loss ( Orang skizofrenia dan dementia lebih sering melakukan Kehilangan berpikir bunuh diri disbanding general populasi rasional) 7 Sosial support lacking ( Orang yang melakukan bunuh diri biasanya kurannya Kurang dukungan dukungan dari teman dan saudara. Mendaptakan data tentang demografi dan social ekonomi l. 45 tahun atau lebih tua dan khususnya umur 65 tahun lebih. Menentukan keluhan utama klien dengan menggunakan kata – kata yang dimengerti klien j. suara yang tidak mengancam dan mendorong komunikasi terbuka. Mempertahankan ketenangan.

Intervensi Pasien Keluarga SP I SP I 1) Mengidentifikasi benda-benda yang 1) Mendiskusikan masalah yang dapat membahayakan pasien dirasakan keluarga dalam merawat 2) Mengamankan benda-benda yang pasien dapat membahayakan pasien 2) Menjelaskan pengertian. Risiko bunuh diri Data Mayor :  DS : Mengatakan hidupnya tak berguna lagi. mengatakan pernah mencoba ingin bunuh diri. perubahan perangai III. dan jenis 4) Mengajarkan cara mengendalikan perilaku bunuh diri yang dialami pasien dorongan bunuh diri beserta proses terjadinya 5) Melatih cara mengendalikan dorongan 3) Menjelaskan cara-cara merawat pasien bunuh diri risiko bunuh diri SP II SP II 1) Mengidentifikasi aspek positif pasien 1) Melatih keluarga mempraktekkan cara 2) Mendorong pasien untuk berfikir merawat pasien dengan risiko bunuh positif terhadap diri diri . single adalah lebih rentang memiliki pasangan) dibanding menikah 10 Sickness Orang berpenyakit kronik dan terminal beresiko tinggi melakukan bunuh diri. mengatakan lebih baik mati saja. II. tanda dan 3) Melakukan kontrak treatment gejala risiko bunuh diri. ada bekas percobaan bunuh diri Data Minor :  DS : Mengatakan ada yang menyuruh bunuh diri. ingin mati. mengancam bunuh diri  DO : Ekspresi murung. mengatakan sudah bosan hidup  DO : Perubahan kebiasaan hidup. janda. tak bergairah. 8 Organized plan ( Adanya perencanaan yang spesifik terhadap bunuh diri perencanaan yang merupakan resiko tinggi teroranisasi) 9 No spouse ( Tidak Orang duda. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN A.

SP IV 1) Membuat rencana masa depan yang realistis bersama pasien 2) Mengidentifikasi cara mencapai rencana masa depan yang realistis 3) Memberi dorongan pasien melakukan kegiatan dalam rangka meraih masa depan yang realistis .3) Mendorong pasien untuk menghargai 2) Melatih keluarga melakukan cara diri sebagai individu yang berharga merawat langsung kepada pasien risko SP III bunuh diri 1) Mengidentifikasi pola koping yang biasa diterapkan pasien SP III 2) Menilai pola koping yang biasa 1) Membantu keluarga membuat jadual dilakukan aktivitas di rumah termasuk minum 3) Mengidentifikasi pola koping yang obat konstruktif 2) Mendiskusikan sumber rujukan yang 4) Mendorong pasien memilih pola bisa dijangkau oleh keluarga koping yang konstruktif 5) Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

Workshop Standar Proses Keperawatan Jiwa.  Stuart. Jakarta : EGC.Louis Mosby Year Book. G. 1995.). Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. 1998. Ed : 1. Keperawatan Jiwa.  Stuart GW.  Stuart & Sundeen. Surabaya : Airlangga University Press. Edisi 1. St. Jakarta : EGC  Maramis. Proses Kesehatan Jiwa. 1998. 1998. 2003. Amino Gonohutomo. 2009. Jakarta.W. Mary . dan Sundeen.A. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Terjemahan dari Pocket Guide to Psychiatric Nursing. 3rd ed. oleh Achir Yani S. 1999. Askep Pada Kliean Gangguan Orientasi Realitas. Bandung : RSJP. 2007.  Keliat. DAFTAR PUSTAKA  Aziz R. Jakarta : EGC. 1995. Bandung : Refika Aditama. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) untuk 7 Diagnosa Keperawatan Jiwa Berat bagi S-1 Keperawatan. dkk. Hamid. W.  Balitbang. 2007. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Keperawatan Jiwa.  Keliat. Gangguan Konsep Diri. Jakarta : EGC.  Keliat Budi Ana. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr.EGC. I. B. 1998. Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed. Nita. S.  Townsend C.A. B. Diagnosa Keperawatan Psikiatri. Bogor  Fitria. Sundeen.Jakarta  Yosep. 2000. Edisi I.  Tim Direktorat Keswa. Penerbit Buku Kedokteran. 1999. . Jakarta : Salemba Medika. F. Edisi 3.J.