You are on page 1of 10

LAPORAN PENDAHULUAN

MIOMA UTERI

I. KONSEP DASAR MEDIS

A. DEFENISI
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot polos dinding
uterus yang disebut juga dengan leiomyoma uteri atau uterine fibroid (Nurarif, A H
& Kusuma H, 2015).
Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus dan jaringan
ikat yang menumpangnya sehingga dapat disebut juga leiomioma, fibromioma, atau
fibroid (Padila, 2015).
Mioma uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Dikenal ada
dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2%) dan pada korpus uteri
(97%), belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche (Padila,
2015).

B. KLASIFIKASI
Menurut lokasinya mioma uteri terbagi atas tiga yaitu:
1. Mioma submukosum : dibawah endomentrium dan menunjol ke cavum uteri
2. Mioma mioma intramural : berada didinding uterus diantara serabut
miomentrium
3. Mioma subserasum : tumbuh keluar dinding uterus ehingga menonjol pada
permukaan uterus diliputi oleh serosa.

C. ETIOLOGI
Dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa mioma uteri
terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada terdapat pada “cell
nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus-menerus oleh hormon estrogen.

Perdarahan abnormal 2. besarnya. Tes kehamilan terhadap chorioetic gonadotropin 3. Histerosal pingogram . E. Pap smear serviks Selalu diindikasikan untuk menyingkap neoplasia serviks sebelumhisterektomi 6. Abortus spontan 4. Rasa nyeri 3. Pielogram intravena Dapat membantu dalam evaluasi diagnostik 5. Hormon progesteron meningkatkan aktifitas mitotik dari mioma dan memungkinkan pembesaran tumor. PATOFISIOLOGI Transformasi soneoplastik dari miomentrium menjadi mioma melibatkan mutasi somatik dari miomentrium normal dan interaksi kompleks dari hormon steroid seks dan growth faktor lokal. MANIFESTASI KLINIS Gejala yang dikeluhkan tergantung letaknya mioma. Tes laboratorium Hitung darah lengkap dan apusan darah 2. dan komplikasi. Mutasi somatik ini merupakan peristiwa awal dalam proses pertumbuhan mioma. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Tanda dan gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut : 1. pembesaran sekunder.D. Tanda dan gejala penekanan pada vesika urinaria F. Ultrasonografi (USG) Apabila keberadaan massa pelvis meragukan 4. Infertilitas 5.

tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus. Therapi pembedahan Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah : a. PENATALAKSANAAN 1. Histerektomi. Therapi medisinal (hormonal) Saat ini pemakaian agonis gonadotropin – releasing hormone ( GuRH) memberikan hasil untuk memperbaiki gejala-gejala klinis yang ditimbulkan oleh mioma uteri. Miomektomi. KOMPLIKASI 1. Pertumbuhan leimiosarkoma 2. b. Nekrosis dan infeksi . H. 2. dilakukan pada wanita yang ingin mempertahankan fungsi reproduksinya. Torsi (putaran tungkai) 3.G.

manipulasi jaringan organ. 4. b. dimana mioma uteri tumbuh cepat pada masa hamil ini dihubungkan dengan hormon estrogen. Jumlah kehamilan dan anak yang hidup mempengaruhi psikologi klien dan keluarga terhadap hilangnya organ kewanitaan. 3. wanita melihan fungsi mentruasi sebagai lambang feminitas. Rasa nyeri setelah bedah biasanya berlangsung 24-48 jam. Pengumpulan Data Mioma biasanya terjadi pada usia reproduktif. sebab mioma uteri tidak pernah ditemukan sebelum monarche dan mengalami atrofi pada masa menopause. Keluhan Utama Keluhan yang timbul pada hampir tiap jenis operasi adalah rasa nyeri karena terjadi torehant tarikan. pada masa ini dihasilkan dalam jumlah yang besar. . Suara paru yang kasar merupakan gejala terdapat sekret pada saluran nafas. paling sering ditemukan pada usia 35 tahun keatas. Bunyi pernafasan akibat lidah jatuh kebelakang atau akibat terdapat sekret. Riwayat Reproduksi a. 5. Organ reproduksi merupakan komponen kewanitaan. Haid Dikaji tentang riwayat monarche dan haid terakhir. 2. KONSEP DASAR KEPERAWATAN A. Status Respiratori Respiratori bias meningkat atau menurun. Pernafasan yang ribut dapat terdengar tanpa stetoskop. PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1.II. Hamil dan persalinan Kehamilan mempengaruhi pertumbuhan mioma. Data Psikologi Pengangkatan organ reproduksi dapat sangat mempengaruhi terhadap emosional klien dan diperlukan waktu untuk memulai perubahan yang terjadi.

b. Tingkat Kesadaran Tingkat kesadaran dibuktikan melalui pertanyaan sederhana yang harus dijawab oleh klien atau disuruh untuk melakukan perintah. 8. konsistensi dan ukuran. albumin turun. Sitologi Menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. ECG Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi. Retensi urin berhubungan dengan penekanan oleh masa jaringan neoplasma pada organ sekitarnya 4. 7. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik 2. 9. Pemeriksaan Dignostik a. Vagina toucher Didapatkan perdarahn pervaginaan. USG Terlihat massa pada daerah uterus c. yang dapat mempengruhi tindakan operasi. B. Status Urinaria Retensi urin paling sering terjadi setelah pembedahan gynekologi. 6. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanik 3. eritrosit turun. e. leukosit turun/meningkat. teraba massa. Konstipasi berhubugan dengan penekanan pada rektum . Pemeriksaan darah lengkap Hemoglobin turun. Rontgen Kelainan yng mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi f. klien yang hidrasinya baik biasanya kencing setelah 6 sampai 8 jam setelah pembedahan. d. Status Gastrointestinal Fungsi gastrointestinal biasanya pulih pada 24-74 jam setelah pembedahan tergantung pada kekuatan efek narkose pada penekanan intestinal.

INTERVENSI KEPERAWATAN 1. ancaman pada status kesehatan. Resiko perlambatan pemulihan pasca bedah 8. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status peran. Resiko syok C. 5. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik NOC  Pain Level  Pain Control  Comfort Level Kriteria Hasil:  Mampu mengontrol nyeri  Melaporkan bahwa nyeri berkurang  Mampu mengenali nyeri  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang NIC  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri  Kurangi faktor presipitasi nyeri  Ajarkan tentang tehnik non farmakologi  Tingkatkan istrahat  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau  Kolaborasi pemberian terapi analgetik . Resiko kekurangan volume cairan 9. Disfungsi seksual berhubungan dengan 6. dan konsep diri 7.

Retensi urin berhubungan dengan penekanan oleh masa jaringan neoplasma pada organ sekitarnya NOC  Urinary elimanation  Urinary continence Kriteria hasil :  Kandung kemih kosong  Tidak ada residu urine kurang dari 100 – 200 cc  Bebas dari ISK  Tidak ada spasme bladde  Balance cairan seimbang . Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanik NOC  Tissue integrity : skin and mucous  Wound healing : primery and secondary intention Kriteria hasil :  Perfusi jaringan normal  Tidak ada tanda-tanda infeksi  Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka  Ketebalan dan tekstur jaringan normal NIC  Observasi luka  Monitor kulit akan adanya kemerahan  Monitor aktifitas dan mobilisasi pasien  Monitor status nutrisi pasien  Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar  Berikan posis yang mengurangi tekanan pada luka  Hindari kerutan pada tempat tidur  Lakukan tehnik perawatan luka 3.2.

volume. NIC  Monitor intake dan output  Monitor derajat distensi bladder  Monitor tanda dan gejala ISK  Monitor penggunaan obat antikolionergik  Istrusikan pada pasien dan keluarga untuk mencatat output urine  Sediakan privasi untuk eliminasi  Stimulasi refleks bladder dengan kompres dingin pada abdomen  Kateterisasi jika perlu 4. frekuensi dan konsistensi tinja  Anjurkan pasien/keluarga pada hubungan asupan diet dan olahraga  Dukung intake cairan  Mendorong meningkatkan asupan cairan  Timbang berat badan pasien secara teratur  Kolaborasi pemberian laksatif . Konstipasi berhubugan dengan penekanan pada rektum NOC  Bowel elimination  Hydration Kriteria hasil :  Mempertahankan bentuk feses luka setiap 1 – 3 hari  Bebas dari ketidaknyaman dan konstipasi  Mengidentifikasi indikator untuk mencegah konstipasi  Feses lunak dan berbentuk NIC  Identifikasi faktor penyebab kontibusi konstipasi  Monitor tanda dan gejala konstipasi  Monitor bising usus  Monitor feses : frekuensi. konsistensi dan volume  Anjurkan pasien/keluarga untuk mencatat warna.

5. Resiko perlambatan pemulihan pasca bedah NOC  Perawatan pembedahan : penyembuhan luka Kriteria hasil :  Penyembuhan Luka Tidak terjadi demam dari kisaran normal  Integritas jaringan Tidak terjadi deviasi dari kisaran normal NIC  Observasi luka  Berikan rawatan insisi pada luka  Pertahankan tehnik balutan steril  Reposisi klien setidaknya setiap 2 jam  Jaga kain linen kasuur tetap bersih dan kering  Ajarkan latihan ditempat tidur  Kolaborasi pemberian therapy antibiotik .

pola MYOMA UTERI hidup.III. hormonal Myoma intramural Myoma submukosum Myoma subserosum Penurunan imun tubuh Resiko perlambatan pemulihan Tanda/gejala paska bedah Perdarahan pervagina Tindakan pembedahan Pembesaran uterus Hb menurun Resiko kekurangan Penekanan organ volume cairan sekitar Tidak tertangani Resiko syok Menekan Penekan dengan cepat vesika an urinaria syaraf & rektum Terputusnya Kurang informasi sekitar jaringan kulit Pola Nyeri Kerusakan integritas Ansietas eliminasi akut jaringan terganggu Hilangnya uterus ovarium Retensi Konstipasi urine Estrogen berkurang Produksi kewanitaan menurun Libido sexual menurun Disfungsi sexual . PENYIMPANGAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA Herediter.