STUDI KOMPARASI ANALISIS NORMATIF ANTARA METODE CIPW DENGAN METODE PEMROGRAMAN LINEAR (LPNORM

)

(A Comparative study of norm analyses between CIPW and Linear Programming (LPNORM) methods)
I Wayan Warmada, Agus Hendratno & Wahyu Sasongko*)

ABSTRAK
The norm analyses for igneous, sedimentary and metamorphic rocks are performed to calculate the mineral composition of mostly fine-grained rocks, such as volcanic rocks, pelitic sediment (clay, silt and shale), and metamorphic rocks (slate and phyllite). However, the course-grained rocks are also possible, especially for volume-percent calculation of mineral composition in the rocks. The comparative study between CIPW norm and LPNORM shows slightly different results. Plagioclase, pyroxene, ilmenite and apatite minerals have a consistent result in both CIPW and LPNORM. Orthoclase, olivine and magnetite minerals are rised in CIPW norm, whereas biotite can only be calculted by LPNORM. The different results of these methods are because of different basic principles of both methods. The CIPW norm can be used only for water-free standard minerals (anhydrous minerals) or assumed as anhydrous rocks, whereas LPNORM, which is based on linear optimization, can be used both hydrous and anhydrous rocks. Both methods has disadvantage to determine glass volcanic content in the volcanic rocks. Thus, a combination of CIPW, LPNORM and petrography will give mineral composition more representative.

I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Analisis normatif hingga saat ini masih merupakan metode untuk menentukan komposisi mineral yang didasarkan atas hasil analisis kimia batuan. Analisis normatif yang sangat populer di dalam petrologi batuan beku adalah CIPW. Dengan kemajuan teknologi komputasi, telah muncul beberapa metode analisis normatif yang telah dikembangkan, seperti SEDNORM (normatif untuk batuan sedimen, pelitik), MESONORM (normatif untuk batuan metamorf), dan LPNORM (normatif untuk bermacam-macam batuan). Pada tulisan ini akan dibandingkan analisis normatif dengan metode CIPW yang sudah umum digunakan dalam petrologi batuan beku dan analisis dengan metode LPNORM. Metode LPNORM (Linear Programming Normative) merupakan metode normatif yang relatif baru, dimana penggunaannya tidak hanya terbatas untuk batuan sedimen. Dengan membandingkan kedua metode tersebut, maka akan dapat diketahui kelemahan dan kelebihan masing-masing. Data yang akan digunakan diambil dari hasil analisis lava andesit daerah Grenjeng dan sekitarnya, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah.

I.2. Tinjauan pustaka
Analisis secara normatif adalah suatu metode untuk memperlihatkan atau menyajikan komposisi kimia dari suatu conto batuan. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menentukan komposisi mineralogi batuan berdasarkan komposisi kimianya. Dalam perhitungan normatif, bermacam-macam komposisi oksida batuan, baik ditentukan dengan analisis kimia konvensional maupuan AAS (Atomic Absorption Spectrometry) dikombinasikan dalam bentuk
*) Dr. Ir. I Wayan Warmada, Agus Hendratno, S.T., M.T. dan Wahyu Sasongko, S.T., M.T. adalah Staf Pengajar Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM.

–1–

Dalam batuan yang lebih asam. Hasil analisis oksida batuan dihitung dengan menerapkan metode CIPW maupun metode LPNORM dengan menggunakan perangkat komputer. Sebagai contoh mineral muskovit (KAl2Si3O8(OH)2) dalam normatif akan diperhitungkan sebagai mineral-mineral ortoklas (KAlSi3O8). Perhitungan atau estimasi komposisi mineral pada batuan dari analisis kimia sudah lama diperkenalkan dalam disiplin geokimia dan mineralogi. 1996). data hasil perhitungan ini dicek dengan hasil pengamatan petrografi. Hasil Penelitian III. 1974). Hal ini bertujuan untuk mencari hasil perhitungan dengan kesalahan rambatan sekecil-kecilnya (Le Maitre.. mengikuti suatu sekuen kristalisasi yang dihasilkan dari pengamatan petrografi dan termodinamika. Analisis petrokimia dilakukan di Laboratorium Geokimia.. SEDNORM (Cohen & Ward. 1994). muncul beberapa metode normatif lain yang menggunakan prinsip perhitungan yang berbeda dengan metode CIPW. seperti metode MESONORM (Hutchison. Kabupaten Boyolali. 1987). Mineral yang diperhitungkan dalam analisis ini adalah mineral-mineral anhydrous. yang dihitung dengan metode linear optimization / linear programming.Yogyakarta (Warmada. III. PELNORM (Merodio.1. dan dikenal sebagai pemrograman linear atau optimisasi linear (Caritat. seperti mineral-mineral mafik baik sebagai fenokris maupun masa dasar. oleh karena itu batuan yang mengandung gugus hidroksil atau hidraesensial akan memperlihatkan penyimpangan. 1902. Perbandingan kedua metode ini dilakukan dengan cara memplot hasil hitungan pada diagram bujursangkar. dkk. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN III. Metode LPNORM merupakan metode normatif yang didasarkan atas kesetimbangan kimia dalam batuan. MODUSCALC (Laube. Prosedur ini terdiri dari pendistribusian unsur-unsur ke dalam suatu seri mineral hipotetik yang tidak harus hadir pada batuan. 1970).. II. yang diselesaikan secara simultan dengan menggunakan metode matematis. korundum (Al2O3) dan H2O. PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN DATA Conto batuan yang diambil di daerah Grenjeng. baik secara petrografi maupun petrokimia. Perhitungan dengan metode CIPW dilakukan dengan perangkat lunak NewPet (Clarke. Metode normatif pertama yang digunakan untuk batuan beku dikenal dengan nama CIPW norms (Cross. dkk. 1991). dkk. Berbeda dengan metode CIPW yang mendistribusikan unsur-unsur ke dalam suatu seri mineral hipotetik serta mengikuti suatu sekuen kristalisasi. Dari pengamatan sayatan tipis. dkk. 1994).. Selanjutnya. di antaranya: amfibol atau mika dalam normatif akan diwakili oleh mineral hidrous sederhana. Kelsey. dkk. Petrografi Lava Grenjeng Lava andesit Grenjeng dijumpai dalam keadaan segar di bagian bawah dan di beberapa tempat teralterasi sebagian di bagian atas. Metode pemrograman linear seperti ini pada awalnya digunakan untuk menyelesaikan masalah tentang campuran petrologik / petrologic mixing (Wright & Doherty. Hall. Direktorat Volkanologi . leusit dan olivin akan diganti oleh ortoklas dan hipersten (Hall.1.suatu susunan dan selanjutnya membentuk suatu seri mineral-mineral normatif (Carmichael. Pada perkembangan selanjutnya. 1992).. pada bagian pinggir fenokris telah –2– . 1965). dan LPNORM (Caritat. 1987. metode LPNORM mendistribusikan oksida batuan berdasarkan kumpulan persamaan linear. Demikian juga mineral biotit dalam normatif akan diwakili oleh mineral leusit dan olivin. 1996).1.. dkk. Alterasi yang dijumpai berupa oksidasi terhadap mineral yang kaya akan unsur besi. 1974). kemudian dianalisis. 1982). sedangkan perhitungan dengan metode pemrograman linear dilakukan dengan perangkat lunak LPNORM. 1994).

26 0.1 mm .99 51. Kimia batuan dan perhitungan normatif Kimia batuan Hasil analisis kimia 10 contoh batuan yang diambil di lapangan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.82 9.5 . Gelas volkanik hanya dijumpai dalam jumlah yang kecil.03 1.33 0.38 0.39 0. Secara mikroskopis tidak dapat ditentukan jenis mineral ini.59 FeO 8.49 1.38 0.59 2.96 3.72 1.56 3. piroksen (jenis augit). Komposisi fenokris terdiri dari mineral plagioklas (jenis andesin).69 10. Fenokris terdiri dari mineral-mineral plagioklas.14 1.24 0.08 0.61 8. Piroksen terdapat dalam 2 generasi.46 1. tekstur khusus trakitik. kuarsa dan massa dasar berupa mineral plagioklas.5 mm.25 2.9 mm.4 0. Pada lava Grenjeng mineral kuarsa dijumpai sebagai massa dasar dan pengisi lubang-lubang gas pada struktur amygdaloidal.mengalami alterasi.5 mm.16 7.69 1. sebagai massa dasar. sedangkan massa dasar terdiri dari mineral-mineral mafik dan felsik.8 8.26 LOI* 1. Mineral opak.09 1. Kelimpahan kuarsa 5% .36 8.15 0. hipokristalin.64 8.83 3.04 3.49 0.15%.45 1.15 1.25 1.1.87 1. yaitu sebagai fenokris dan sebagai massa dasar. Dari perhitungan secara normatif.75 3. Sudut gelapan pada kembaran albit berkisar antara 47o sampai 48o. III. ukuran fenokris 0. TABEL 1: Hasil analisis oksida lava Grenjeng BNQ-1 BNQ-2 SiO2 50.28 3.51 7.2.06 Al2O3 17.95 2.16 0.43 BNQ-8 49.9 2.95 18.afanitik. Kuarsa.99 3.59 1.28 1.34 0.52 18. tekstur porfiritik.18 1.55 2.12 CaO 10.19 1.49 P2O5 0. Mineral plagioklas terjadi sebagai kristal subhedral sampai euhedral dalam massa dasar dan sebagai fenokris euhedral sampai subhedral.14 0.67 *LOI = loss on ignition BNQ-3 50.03 3. piroksen dan mineral opak.73 8.76 17.2 1.55 0.84 3. massa dasar < 1 mm . Pada sayatan tipis. penyebarannya ± 15 %.53 7.87 1. yaitu berkisar antara 8% sampai 15%.57 2.55 8.25 1.03 18. Secara megaskopis lava Grenjeng berwarna lapuk hitam keabu-abuan. Gelas volkanik.53 7.37 BNQ-7 49. piroksen.38 0.57 0.3 0.33 0.2 1. Kelimpahan mineral plagioklas berkisar antara 35% sampai 58%.39 18.29 9.05 BNQ-4 49.16 1.54 0.3 mm.18 10.19 0.5 H2O 0.0.44 –3– .01 Fe2 O3 1.61 17.92 10.58 3.1 18.24 MgO 3.21 0. Piroksen.3 0.14 17.95 18. bentuk kristal subhedral.57 10.9 0.05 1. yaitu klino-piroksen (jenis Augit) dan ortopiroksen.25 3.62 3.37 2. Kembaran yang dijumpai berupa kembaran karlsbad dan albit. Mineral opak cukup melimpah pada batuan ini. massa dasar 0.33 Na2O 3.92 0.38 0. Kelimpahannya berkisar antara 5% sampai 15%. dengan ukuran fenokris 1 . struktur vesikuler dan amigdaloidal.52 7.37 0.68 1.83 2. batuan berwarna abu-abu cerah kecoklatan. Kelimpahannya 13% .5 3.65 1.17 1. Lubang-lubang gas kadang terisi oleh kuarsa.07 BNQ-9 BNQ-10 48.67 2.38 0.38 0. tekstur inequigranular. Mineral plagioklas berukuran 0.6 1.1 .93 1.16 0.66 TiO2 1.17 BNQ-5 46.34%. Karakteristik mineralogi Plagioklas. dan kuarsa. warna segar abuabu gelap. maka jenis mineral ini meliputi mineral magnetit dan ilmenit. mineral-mineral mafik seperti piroksen cukup sulit diidentifikasi.03 MnO 0. porfiroafanitik. Pada lava Grenjeng hanya dijumpai 2 jenis mineral piroksen.3 50.89 BNQ-6 50.47 1.62 1.11 8. jenis andesin.07 K2 O 1.76 3.31 0.

I.32 15.** C.01 6.88 1.I.97 12.99 0.83 18.9 60. seperti mineral plagioklas (albit-anortit). Pembahasan Perhitungan normatif dengan metode pemrograman linear memiliki kemiripan hasil pada beberapa jenis mineral.19 2.52 29.72 21.12 24.5 2.08 BNQ-6 7.92 0.12 13.59 10.63 17.71 54.7 An (norm) 52.72 2.52 19.3 1.71 9.91 31. seperti ortoklas.9 63.56 11.16 24.09 25.54 13.33 33.5 25.88 56.46 2.05 53.33 2.29 26.83 1. ilmenit.9 60. yang muncul pada perhitungan CIPW.56 19.16 9.*** S.I. Hal ini disebabkan karena pada kondisi hidrous (metode LPNORM).5 2.25 2.74 13.93 22.22 6.19 1.99 12.81 2.63 15.04 BNQ-8 BNQ-9 BNQ-10 9.75 2.12 33.69 2.09 5.1 12.02 BNQ-7 0.18 13.91 31.53 24.18 53.89 17.53 0.84 BNQ-2 1.51 2.I.07 34.71 0.64 9.08 34.35 0.11 25.71 2.5 23.18 BNQ-3 2.75 9.Perhitungan normatif TABEL 2: Hasil analisis normatif lava Grenjeng Norm (dengan CIPW) Kuarsa Ortoklas Albit Anortit Diopsid Hipersten Olivin Magnetit Ilmenit Apatit An-norm D.71 0.18 0.79 25.49 8.33 2.71 BNQ-2 2.5 25.75 1.89 30.72 12.65 19.91 15.I.1 2. = color index **** S.62 2.72 5.2 2.72 14.2.94 13.97 29. Namun sebaliknya.11 7.02 26.31 2.7 35.03 7.73 36.1 9.53 0.18 0.1 4. biotit hanya dapat dimunculkan pada perhitungan dengan metode LPNORM. Ini dapat dilihat pada hampir semua conto batuan yang kaya akan mineral biotit nilai hipersten menjadi lebih kecil dibandingkan dengan nilai hipersten pada analisis CIPW (Gambar 1 dan 2).98 29.51 0. Mineral-mineral lain.9 62.28 25.71 53.3 1.62 0.92 0.27 33.65 28.95 6.51 53.14 29.3 26.07 35.83 1.23 32.6 15.3 26.38 2.31 1.16 23.28 6.9 62.7 20.64 28. tidak muncul pada perhitungan LPNORM.26 25.77 9.48 2.14 C.89 33.59 BNQ-7 8. Perhitungan normatif dengan metode Linear Programming cukup akurat digunakan untuk analisis normatif batuan beku.21 BNQ-5 8.07 D.81 20.92 30.34 3.62 25.*** 27.15 29. Penyimpangan pada beberapa mineral terjadi karena –4– .82 15.89 20.49 0.86 8.38 BNQ-5 2.64 32.96 14.14 56.74 12.45 BNQ-3 9.73 36.73 7. dan magnetit.05 0.04 13.** 25.93 15.53 35.96 56. mineral ortoklas.78 54.3 32.74 21.22 2.58 13.07 35.93 53.49 0.34 1.57 12.13 8.19 19.18 28.56 12.3 25.25 2.76 27 19.52 23.27 26.93 34.61 0.31 15. = differenciation index *** C.01 34. piroksen (diopsidhipersten).57 14.99 0.64 28.75 1.89 4.64 32.39 2.35 0.45 9. Hal ini terjadi karena komponen utama keempat mineral ini tidak dipengaruhi oleh kondisi hidrus atau anhidrus atau tidak dapat membentuk mineralmineral hidrus anggota mineral pembentuk batuan (rock forming minerals).79 25.86 22.24 8.I.83 18. dan apatit.**** BNQ-1 8.56 18.09 1.66 25.61 1.58 4.68 30.65 32.14 34.I.2 2.9 63.71 54.51 24.79 25.84 20. olivin.55 28.64 28.84 TABEL 3: Hasil analisis normatif lava Grenjeng (lanjutan) Norm (dengan LPNORM) BNQ-1 Kuarsa Ortoklas Albit Anortit Diopsid Hipersten Biotit Ilmenit Apatit 25.05 29.78 54.3 35.32 2.57 BNQ-8 BNQ-9 BNQ-10 3.83 1 1 0.25 56.24 32.8 BNQ-6 4.6 ** D.05 0. = solidification index III.83 15.02 34.54 BNQ-4 3. olivin dan sebagian hipersten akan dihitung sebagai biotit.48 28.83 15.22 2.52 26.I.53 2.54 28.91 15.9 30.79 21.87 BNQ-4 1.74 7.

Sambi. pengamatan secara petrografi dan perhitungan LPNORM akan memberikan hasil perhitungan komposisi mineral pada batuan yang lebih representatif. dapat diketahui bahwa salah satu kelemahan metode CIPW adalah perhitungannya memakai asumsi/anggapan bahwa batuan dalam kondisi anhidrus. CIPW Norm untuk contoh lava Grenjeng. Dengan demikian. Kelemahan metode LPNORM adalah perhitungan mineral tidak mempertimbangkan sekuen kristalisasi dan termodinamika mineral. –5– . kombinasi perhitungan CIPW. sedangkan pada perhitungan dengan metode LPNORM. sehingga pemilihan mineral-mineral yang akan dimasukkan ke dalam tabel mineral pada perhitungan LPNORM harus mempertimbangkan hal tersebut. Dari perbandingan kedua metode ini. kondisi hidrus/anhidrus tidak dipertimbangkan. yang hanya dapat dihitung dengan menggunakan mikroskop polarisasi. Kedua metode ini tidak dapat menghitung persentase gelas volkanik pada batuan.perubahan komposisi mineral pada prinsip perhitungan kedua metode tersebut (perbedaan hidrus/anhidrus). 40 40 BNQ-7 An BNQ-8 An LP Norm (wt%) LP Norm (wt%) Ab Ab 20 Bi Hy Di 20 Di Bi Hy 0 0 Il Ap QOl Mt Or 20 40 0 0 Il Ap Q Mt Ol Or 20 40 CIPW Norm (wt%) 40 40 CIPW Norm (wt%) BNQ-9 An BNQ-10 An LP Norm (wt%) Ab 20 LP Norm (wt%) Ab Di Mt Hy Ap Q 0 20 Hy Bi Di 0 Or Ol 20 40 0 0 Q ApIl Ol Mt Or 20 40 CIPW Norm (wt%) CIPW Norm (wt%) GAMBAR 1: LP Norm vs. Boyolali.

40 40 BNQ-1 An Ab Di Bi Hy Il Ap OlMt Or Q 0 20 40 BNQ-2 An 20 LP Norm (wt%) LP Norm (wt%) Ab 20 Hy Bi Q Il Ap MtOl 0 Di 0 0 Or 20 40 CIPW Norm (wt%) 40 40 CIPW Norm (wt%) BNQ-3 LP Norm (wt%) Ab An BNQ-4 LP Norm (wt%) An Ab 20 Bi Di Il Ap Q OlMt 0 Hy Or 20 40 20 Bi Hy Di Q Il Ap Ol Mt 0 0 Or 20 40 0 CIPW Norm (wt%) 40 40 An CIPW Norm (wt%) BNQ-5 LP Norm (wt %) BNQ-6 LP Norm (wt%) An Ab 20 Hy Bi Di Il Ap Q Mt Ol 0 Or Ab 20 Hy Bi Q 0 0 20 40 Il Ap Di OlMt Or 0 20 40 CIPW Norm (wt %) CIPW Norm (wt%) GAMBAR 2: LP Norm vs. Perhitungan normatif dengan menggunakan metode Linear Programming cukup akurat digunakan untuk batuan beku. Sambi. 2. CIPW Norm untuk contoh Lava Grenjeng. Boyolali (lanjutan). IV. KESIMPULAN Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan sebagai berikut : 1. Dari hasil pengeplotan pada diagram CIPW norm dengan LPNORM diperoleh sedikit –6– .

H. Clarke. I. S. Petrogenesis lava andesit daerah Grenjeng. L. Computer & Geosciences 17: 1235-1253... Iddings. Kecamatan Sambi. de. New York. 1965. H. Computers & Geosciences 18: 47-61. 1974. 1902. 1994.V. Hutchison. & Neugebauer.S. N. Wright. 527 h. Igneous Petrology.W.. Computers & Geosciences 22: 631-637. Cohen. & Hutcheon. Hergarten.. Bloch.. 1996. NewPet for DOS. C.S. 3. J. Spalletti. John Wiley & Sons. New York. Amsterdam.. Petrography : An Introduction to the Study of Rocks in Thin Sections. 1992. SEDNORM – A program to calculate a normative mineralogy for sedimentary rocks based on chemical analysis.. & Bertone... J.. Kabupaten Boyolali. 1994. D. Igneous Petrology. Hall. 1974. & Verhoogen. & Ward. W. Merodio. F. Turner. Elsevier Scientific Publishing Company. Le Maitre. Numerical Petrology: Statistical Interpretation of Geochemical Data. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada reviewer (mitra bestari) yang telah mengoreksi kesalahan-kesalahan pada naskah ini. England.M. 1991. 1982.M. IW.A. F. Patrice de Caritat (Geological Survey of Norway) yang telah memberikan salinan perangkat lunak LPNORM. 1996. Longman Scientific & Technical. P. H..penyimpangan yang disebabkan oleh perbedaan pendekatan pada kedua analisis tersebut (anhidrus pada CIPW dan hidrus/anhidrus pada LPNORM).S. Mineralogical Magazine 34: 276-282. Warmada. & Doherty. I. Geological Society of America Bulletin 81: 1995-2008. T. R. C. 1970. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. J... 1987.. Laporan Penelitian DPP/SPP UGM 1996. Journal Geology 10: 555-690. A FORTRAN program for the calculation of normative composition of clay minerals and pelitic rocks. L. New York.P. McGraw-Hill Book Company.J. DAFTAR PUSTAKA Caritat. Carmichael. Freeman and Company.E. MODUSCALC – A computer program to calculate a mode from a geochemical rock analysis.. A linear programming and least squares computer method for solving petrological mixing problems.. G.. L.. Computers & Geosciences 20: 313-347.J.C. Pirsson. sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam analisis normatif. P. & Gilbert. Laube.R. 1982. 2nd edition...H. D. Williams. Propinsi Jawa Tengah. Turner. & Washington. Laboratory Handbook of Petrographic Techniques. Kelsey. A. –7– .. C..C.L. A quantitative chemicomineralogical classification and nomenclature of igneous rocks. Cross. Kedua analisis ini dapat digunakan sebagai alat bantu pelengkap untuk analisis petrografi. W. 82 hal (tidak dipublikasikan). LPNORM: A linear programming normative analysis code. Centre for Earth Resources Research. Memorial University of Newfoundland. J. Calculation of the CIPW norm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful