You are on page 1of 15

kconkdhofir

 About
Just another WordPress.com site
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN APPENDICITIS
January 14, 2011
Askep Appendisitis
Pengertian
Appendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai
jari, melekat pada sekum tepat dibawah katup ileocecal (
Brunner dan Sudarth, 2002 hal 1097 ).
Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis,
dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.
(Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307 ).
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi
akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab
paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
Etiologi
Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi
bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus
terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi
pada lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini
biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras
( fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit,
benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun
yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks
adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid. (Irga, 2007)
Klasifikasi
Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni :
1. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis
atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul
striktur lokal.
Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.
1. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis
atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring,
biasanya ditemukan pada usia tua.
Manifestasi Klinik
• Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
• Mual, muntah
• Anoreksia, malaise
• Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney
• Spasme otot
• Konstipasi, diare
(Brunner & Suddart, 1997)
KOMPLIKASI
 Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat
berkembang menjadi peritonitis atau abses apendiks
 Tromboflebitis supuratif
 Abses subfrenikus
 Obstruksi intestinal
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 Sel darah putih : lekositosis diatas 12000/mm3, netrofil
meningkat sampai 75%
 Urinalisis : normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada
 Foto abdomen: Adanya pergeseran material pada
appendiks (fekalis) ileus terlokalisir
 Tanda rovsing (+) : dengan melakukan palpasi kuadran
bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri
yang terasa dikuadran kanan bawah
 Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan
dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
 Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai
respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap
mikroorganisme yang menyerang.
 Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi
lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin)
nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat
pada keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting
untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. Pemeriksaan
radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk
menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila
terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan
gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level
disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada
fecolit (sumbatan). Pada keadaan perforasi ditemukan
adanya udara bebas dalam diafragma
(Doenges, 1993; Brunner & Suddart, 1997)
PENATALAKSANAAN
 Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah
ditegakkan
 Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan
dilakukan
 Analgetik diberikan setelah diagnosa ditegakkan
 Apendektomi dilakukan sesegera mungkin untuk
menurunkan resiko perforasi.
 Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum
atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan
laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang
sangat efektif. Konsep Asuhan Keperawatan Sebelum
operasi dilakukan klien perlu dipersiapkan secara fisik
maupun psikis, disamping itu juga klien perlu diberikan
pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah
dioperasi dan diberikan latihan-latihan fisik (pernafasan
dalam, gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan dalam
periode post operatif. Hal ini penting oleh karena banyak
klien merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan
juga terhadap penerimaan anastesi.
(Brunner & Suddart, 1997)
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
A. Anamnesa
1. Data demografi.
Nama, Umur : sering terjadi pada usia tertentu dengan range
20-30 tahun, Jenis kelamin, Status perkawinan, Agama,
Suku/bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan, Alamat,
Nomor register.
1. Keluhan utama.
Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar
ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan
bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat
atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.
Nyeri dirasakan terus-menerus. Keluhan yang menyertai
antara lain rasa mual dan muntah, panas.
1. Riwayat penyakit sekarang
Keluhan yang dirasakan oleh pasien mulai pertama / saat
dirumah sampai MRS / opname.
1. Riwayat penyakit dahulu.
Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien
sekarang.
B. Pemeriksaan Fisik.
 B1 (Breathing) : Ada perubahan denyut nadi dan
pernapasan. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
 B2 (Blood) : Sirkulasi : Klien mungkin takikardia.
 B3 (Brain) : Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak
tenang. Data psikologis Klien nampak gelisah.
 B4 (Bladder) : –
 B5 (Bowel) : Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas,
kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
Nyeri/kenyamanan nyeri abdomen sekitar epigastrium
dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi
pada titik Mc. Burney. Berat badan sebagai indikator
untuk menentukan pemberian obat. Aktivitas/istirahat :
Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal dan
kadang-kadang terjadi diare
 B6 (Bone) : Nyeri pada kuadran kanan bawah karena
posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
C. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal
oleh inflamasi.
2. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak
adekuatnya pertahanan tubuh.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
intake menurun.
4. Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan keadaan nyeri
yang mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan
akibat nyeri akut.
5. Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan
dengan adanya mual dan muntah.
6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
yang dirasakan
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan
kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi.
D. Intervensi dan Rasional
1. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal
oleh inflamasi.
Tujuan: setelah dilakukan askep selama 1 x 24 jam
dirassakan pasien melaporkan rasa nyeri berkurang atau
hilang dengan Kriteria hasil : Pasien tampak rileks mampu
tidur/ istirahat dengan tepat.
Intervensi dan rasional
1. Jelaskan pada pasien tentang penyebab nyeri
Rasional : informasi yang tepat dapat menurunkan tingkat
kecemasan pasien dan menambah pengetahuan pasien tentang
nyeri.
1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri.
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan
merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan
tindakan selanjutnya.
1. Ajarkan tehnik untuk pernafasan diafragmatik lambat /
napas dalam
Rasional : napas dalam dapat menghirup O2 secara adequate
sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat
mengurangi rasa nyeri.
1. Berikan aktivitas hiburan (ngobrol dengan anggota
keluarga)
Rasional : meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan
kemampuan kooping.
1. Berikan kompres dingin pada abdomen
Rasional : Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui
penghilangan rasa ujung saraf.
1. Observasi tanda-tanda vital
Rasional : deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan
pasien.
1. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik
Rasional : sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa
nyeri.
1. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak
adekuatnya pertahanan tubuh.
Tujuan : setelah dilakukan askep selama 2 x 24 jam
diharapkan tidak terjadi infeksi dengan criteria hasil : bebas
tanda infeksi atau inflamasi, ttv dalam rentang normal
Intervensi dan Rasional
1. Jelaskan pada pasien tentang proses terjadinya infeksi
dan tanda-tanda terjadinya infeksi.
Rasional : dengan pemahaman klien, maka klien dapat bekerja
sama dalam pelaksanaan tindakan.
1. Bersihkan lapangan operasi dari beberapa organisme
yang mungkin ada melalui prinsip-prinsip pencukuran.
Rasional : Pengukuran dengan arah yang berlawanan
tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut, sehingga
benar-benar bersih dapat terhindar dari pertumbuhan mikro
organisme.
1. Beri obat pencahar sehari sebelum operasi
Rasional : Obat pencahar dapat merangsang peristaltic usus
sehingga BAB dapat lancar.
1. Observasi tanda-tanda vital terhadap peningkatan suhu
tubuh, nadi, adanya pernapasan cepat dan dangkal.
Rasional : deteksi dini terhadap perkembangan kondisi pasien
dan adanya tanda-tanda infeksi.
1. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik
Rasional : Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis, abses,
peritonitis dan Menurunkan resiko penyebaran bakteri.
1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
intake menurun, mual dan muntah.
Tujuan : setelah dilakukan askep selama 3 x 24 jam
diharapkan pasien dapat mempertahankan BB normal atau
tetap dengan kriteria hasil : nafsu makan meningkat, pasien
bisa menghabiskan diit yang diberikan, BB konstan atau
bertambah.
Intervensi dan Rasional
1. Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien
Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi.
1. Perkirakan / hitung pemasukan kalori, jaga komentar
tentang nafsu makan sampai minimal
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi
berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan
mempengaruhi masukan.
1. Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet.
1. Beri makan sedikit tapi sering
Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi
dapat ditingkatkan.
1. Anjurkan kebersihan oral sebelum makan
Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan
1. Tawarkan minum saat makan bila toleran.
Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas.
1. Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang
menyebabkan distres.
Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan,
memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan
mendorong untuk makan.
2. Kolaborasi dengan tim gizi dalam memberi makanan
yang bervariasi
Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan
nafsu makan klien.
1. Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan keadaan nyeri
yang mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan
akibat nyeri akut.
2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh b.d
muntah, inflamasi peritoneum dengan cairan asing,
muntah praoperasi, pembatasan pasca operasi
Tujuan : setelah dilakukan askep selama 2 x24 jam
diharapkan tidak terjadi kekurangan cairan dengan
Kriteria hasil;Membran mukosa lembab, Turgor kulit
baik, Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg BB/jam, Tanda vital
stabil
Intervensi:
1. Awasi tekanan darah dan tanda vial
2. Kaji turgor kulit, membran mukosa, capilary refill
3. Monitor masukan dan haluaran . Catat warna
urin/konsentrasi
4. Auskultasi bising usus. Catat kelancara flatus
5. Berikan perawatan mulut sering
6. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan
peroral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai
toleransi
7. Kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan cairan
IV dan Elektrolit.
1. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
yang dirasakan
Tujuan : setelah dilakukan askep selama 2 x 24 jam
diharapkan klien dan keluarga mampu merawat diri sendiri
Intervensi dan Rasional
1. Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu
melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku
klien.
Rasional : Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran
darah dan meningkatkan kesehatan.
1. Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih.
Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan
meningkatkan rasa nyaman
1. Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang
pentingnya kebersihan diri.
Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk
menjaga personal hygiene.
1. Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya.
Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif
dalam kebersihan
1. Bimbing keluarga klien memandikan / menyeka pasien
Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan
1. Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien.
Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih
serta mencegah terjadinya infeksi.
1. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan
kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi.
Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 1 x 24 jam
diharapkan pasien dapat mengerti tentang kondisi yang
dihadapi saat ini dengan kriteria hasil : Menyatakan
pemahamannya tentang proese penyakit, pengobatan,
Berpartisipasi dalam program pengobatan, Klien akan
memahami manfaat perawatan post operatif dan
pengobatannya.
Intervensi dan Rasional
1. Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan
digunakan setelah operasi.
Rasional : Klien dapat memahami dan dapat
merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi,
sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi optimal
alat-alat tubuh.
2. Kaji ulang pembatasan aktivitas paska operasi
3. Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat
periodik
4. Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik,
contoh peningkatan nyeri, edema/eritema luka, adanya
drainase.
5. Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar
menghadapi periode istirahat setelah operasi.
Rasional : Mencegah luka baring dan dapat mempercepat
penyembuhan.
1. Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian
verband, pembatasan mandi, dan penyembuhan latihan.
Rasional : Mengerti dan mau bekerja sama melalui
teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan.
Daftar Pustaka
Doenges, Marylinn E. (2000), Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC. Jakarta.
Henderson, M.A. (1992), Ilmu Bedah Perawat, Yayasan
Mesentha Medica, Jakarta.
Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta :
Media Aesculapius FKUI
Price, SA. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC
Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses
Penyakit, Buku Pertama. Edisi 4. Jakarta. EGC
Schwartz, Seymour, (2000), Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu
Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C, (2001), Buku Ajar Keperawatan
Medikal-Bedah, Volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta
Smeltzer, Bare (1997). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC

About these ads


Category:
Uncategorized
Leave a comment
Hello world!
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN PERITONITIS
Leave a Reply

Search
Search:
Categories
 Uncategorized
Recent Posts
 ASKEP MORBILI/CAMPAK PADA ANAK
 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN PERITONITIS
 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN APPENDICITIS
Archives
 January 2011
Blogroll
 Discuss
 Get Inspired
 Get Polling
 Get Support
 Learn WordPress.com
 WordPress Planet
 WordPress.com News
Tag Cloud
Blog at WordPress.com.