You are on page 1of 99

Dr.

James Thimoty, SpA, MKes

Divisi Neonatologi - Departemen Ilmu Kesehatan Anak


FKUNCEN – RSUD JAYAPURA
Causes of Neonatal Deaths in Indonesia

Mortality profiles. Geneva, World Health Organization,


2007
2
Setiap enam menit
dua bayi Indonesia
meninggal

Setiap hari 500 bayi


meninggal
Cerebral palsy Chronic lung disease ROP
The first golden hour
Perawatan neonatus dalam 1 jam pertama  dampak
bermakna bagi keluaran bayi terutama pada bayi
prematur

Perawatan neonatus dalam 1 jam pertama harus


memfokuskan untuk menurunkan komplikasi :
hipotermi, IVH, CLD dan ROP

Kerja tim, perawatan konsisten dan aplikasi sesuai


praktek berbasis bukti akan meningkatkan kualitas
pelayanan neonatus
Hipotermi
• Termoregulasi  hal utama pada perawatan bayi
• Berbahaya bagi bayi prematur
 Gangguan vasomotor paru  Hipoksia
 Gangguan aliran darah ke  Ketidakseimbangan
otak asam basa
 Hipoglikemi  Hipotensi
 Penumpukan asam laktat  Hipovolemi
 menyebabkan kerusakan
jaringan dan otak
permanen, bahkan
kematian
hyperthermia

Moderate hypothermia
 Metode kehilangan panas :
1. Evaporasi : Kehilangan panas ke udara di dalam
ruangan melalui kulit atau selaput mukosa (kulit
basah
karena cairan amnion)
2. Konduksi : Terjadi jika BBL diletakkan pada
permukaan
yang dingin dan padat (alas bayi)
3. Radiasi : panas berpindah dari BBL ke benda padat
lainnya tanpa melalui kontak langsung (lemari
besi)
4. Konveksi : Kehilangan panas dari kulit BBL ke
udara yang bergerak (dekat jendela,AC)
Mekanisme hilangnya panas
Intraventricular Hemorrhage (IVH)
 Insidens perdarahan matriks germinal dan IVH
meningkat dengan menurunnya usia gestasi dan
berat lahir
 Insidens tertinggi terjadi pada bayi dengan BL < 1 kg
 Waktu yang tepat terjadinya IVH tidak diketahui,
50% terjadi pada hari pertama kehidupan
 Terjadinya IVH dikaitkan dengan hipoksia, distres
napas, penggunaan ventilasi mekanik, fluktuasi
tekanan darah, pemberian surfaktan, transfusi
darah/bolus cairan, stres dingin, posisi kepala, dan
nyeri
Chronic Lung Disease (CLD)
 Napas pertama yang diberikan di kamar bersalin
mempunyai efek bermakna terhadap
berkembangnya CLD.
 Rekomendasi perawatan neonatus untuk
menurunkan CLD : permissive hypercapnia,
pemberian surfaktan dini, penggunaan T-piece
resuscitator, titrasi oksigen.
Retinopathy of Prematurity (ROP)
 Faktor risiko : prematuritas, berat lahir rendah,
hiperoksia.
 Insidens ROP menurun dengan merubah praktek
pemberian oksigen dan monitoring :
 Pulse oximetry harus tersedia di kamar bersalin
 saturasi 88-92%, FiO2 disesuaikan dengan
perubahan yang kecil.
Resusitasi Upayakan Bayi

Temperature

Airway Warm

Breathing

Sweet Pink
Circulation

Drugs
FASE TRANSISI BBL : RESPIRASI
FASE TRANSISI : RESPIRASI
Cairan di alveoli  diserap jaringan paru 
diganti udara  O2 udara berdifusi ke
pembuluh darah sekeliling alveoli.
Bagaimana bila bayi baru lahir mengalami gangguan
dalam kandungan / masa perinatal ?
 Pernapasan adalah tanda vital pertama yg berhenti bila bayi
kurang O2
 Setelah periode awal pernapasan cepat  apnu primer 
rangsangan mengeringkan / menepuk kaki  menimbulkan
pernapasan  bila kekurangan O2 terus berlangsung 
usaha napas megap-megap  apnu sekunder  stimulasi
tidak membantu  bantuan pernapasan harus diberikan.

Gambar 1. Apnu primer dan apnu sekunder


 Jika bayi tidak bernapas setelah dirangsang  kemungkinan
apnu sekunder  memerlukan ventilasi tekanan positif 
melanjutkan rangsangan tidak menolong.
 Frekuensi jantung menurun pada apnu primer, tekanan
darah tetap bertahan sampai apnu sekunder mulai.

Gambar 2. Perubahan frekuensi jantung dan tekanan


darah selama apneu
FASE TRANSISI : SIRKULASI
TARGET DAN TUJUAN RESUSITASI
 “preserve life, restore health, relieve suffering,
limit disability, and reverse clinical death”
 Menyediakan ventilasi adekuat, oksigenasi
dan cardiac output  memastikan oksigen ke
otak, jantung dan organ vital lain dalam
jumlah cukup

 Tindakan yang paling penting dan efektif


pada resusitasi neonatus adalah pemberian
ventilasi paru-paru dengan / tanpa oksigen
Diagram Prosedur Resusitasi
Selalu Menilai reaksi bayi saat lahir
diperlukan bayi
baru lahir Usahakan tetap hangat, posisi yang benar,
bersihkan jalan napas, rangsang napas
dengan mengeringkan, dan beri O2 (bila perlu)
Berikan ventilasi efektif
Diperlukan lebih jarang Balon dan sungkup
 Intubasi endotrakeal

Kadang-kadang diperlukan Lakukan kompresi dada


bayi baru lahir
Pemberian
obat-obatan
PERSIAPAN RESUSITASI
Edukasi dan Persetujuan Keluarga
Pembentukan dan Pengarahan Tim Resusitasi
Persiapan Alat Resusitasi
Tindakan pencegahan infeksi
Persiapan tranportasi dan ruang perawatan BBL

22
TIM RESUSITASI NEONATUS

PEMBAGIAN TUGAS MENGURANGI


KOMUNIKASI
YANG JELAS KESALAHAN
EFEKTIF
DALAM RESUSITASI

INFORMASI MATERNAL: INFORMASI BAYI:


• Riwayat Kehamilan • Taksiran Usia Gestasi
• Jumlah bayi (satu, kembar, triplet)
Sebelumnya • Neonatus Risiko tinggi
• USG antenatal • Ketuban Hijau Kental
• Riw Penyulit dalam antenatal • Variasi dari denyut jantung janin
• Risiko Infeksi Kehamilan • Kelainan Kongenital
• Riwayat obat yang dikonsumsi
ibu
SKOR APGAR
0 1 2

1. Detik jantung - < 100 / mnt  100/mnt

2. Usaha - tangisan lemah tangisan kuat


pernafasan tak teratur

3. Tonus otot lunglai sedang pergerakan


aktif

4. Reflex, atas - menyeringai menangis,


pembersihan batuk, bersin
jalan nafas

5. Warna kulit pucat biru tubuh merah seluruh tubuh


seluruh tubuh extrimitas biru merah
SKOR APGAR :
1. Bila AS 5 menit :
≤ 3 : Asfiksia

2. PENTING : Skor Apgar tidak untuk membuat


keputusan mengenai saat dimulainya resusitasi.
(RESUSITASI dimulai segera setelah bayi lahir, bila
bayi mengalami asfiksia  jangan hitung AS dulu)

3. KEGUNAAN Skor Apgar 1’ :


1. Menilai efektifitas tindakan resusitasi
2. Menentukan tindakan selanjutnya
Temperature

 Ruangan dan alat yang


optimal
 Suhu ruangan yang hangat : 260C.
 AC jangan di atas tempat tidur
bayi, angin tidak kencang.
 Nyalakan infant warmer sebelum
bayi lahir  hangatkan matras
bayi, bila perlu selimut/alas
penghangat
 Siapkan kain hangat dan kering
 Gunakan plastik pembungkus bayi
BB < 1500 g
 Topi bayi
 Incubator transport yang sudah
dihangatkan
 Metoda Kangguru bila tidak
tersedia inkubator
Airway

• Bulb Syringe/ penghisap balon


• Kateter pengisap, ukuran 5 (atau 6), 8, 10 Fr
• Aspirator mekonium
• Pengisapan mekanik
• Selang pemberian makan ukuran 8 Fr dan spuit 20 cc
• Kain Pengganjal Bahu
Peralatan intubasi
• Laringoskop dengan daun lurus, No. O (prematur) dan No.
1 (neonatus cukup bulan)
• Lampu dan baterai cadangan untuk laringoskop
• Pipa ET: 2, 2,5, 3, 3,5, 4,0 mm
• Gunting
• Sarung tangan
• Plester Hipafix
• Tali Benang Kasur
• OGT 5 Fr, 8 Fr
Breathing

• Oral airway, neonatus cukup bulan dan prematur


• Balon resusitasi neonatus dengan katup pelepas tekanan
• Reservoar oksigen untuk memberikan O2 90-100%
• Oksigen dengan pengukur aliran (flowmeter) dan pipa
oksigen
• Sungkup wajah dengan bantalan pinggir, ukuran untuk
neonatus cukup bulan dan prematur
• Kanul hidung atau kateter hidung
• T-Piece Resusitator
• Pulse Oxymetri
• Blender Oksigen
• Surfactan (usia < 28 minggu)
JENIS PERALATAN VTP

Balon Tidak
Mengembang Sendiri
(BTMS)

Balon Mengembang
Sendiri (BMS)
T-piece resuscitator
Circulation Drugs

Epinefrin 1:10.000
Cairan pengganti volume/plasma expander, satu atau
lebih dari bahan di bawah ini:
Salin normal
Larutan Ringer laktat
Darah utuh (whole blood) golongan darah O
positif
Natrium bikarbonat 4,2%
Dekstrosa 10%
Nalokson
Aqua steril
Jika tidak bernapas
ALGORITMA
RESUSITASI
NEONATUS IDAI
2013
PASTIKAN BAYI TETAP HANGAT
MELETAKKAN PADA POSISI YANG BENAR
 Posisikan, bersihkan jalan napas  Hanya jika
ada sumbatan jalan nafas yang nyata  Tidak
rutin

Then nose

Penghisapan mulut dan hidung: Mulut - Hidung


 Keringkan, merangsang pernapasan dan
meletakkan pada posisi yang benar
LANGKAH AWAL BAYI PREMATUR / BERAT
LAHIR < 1500 g  Dibungkus Plastik Transparan
Segera setelah lahir:
• Bayi diletakkan di bawah
radiant warmer dan Kepala
dikeringkan dengan
handuk hangat
• Kepala ditutup dengan
topi, badan langsung
dibungkus dengan plasti
Balon dan sungkup resusitasi
Sebelum melakukan resusitasi :
 Pilih sungkup dengan ukuran yang sesuai
 Pastikan jalan napas terbuka
 Posisikan kepala bayi
 Posisikan diri penolong di sisi meja
resusitasi
 Meletakkan posisi sungkup tepat pada
wajah, memantapkan lekatan antara
sungkup dan wajah
CARA MEMBERIKAN VTP
… balon dan sungkup resusitasi

Kapan memulai VTP dengan balon dan


sungkup resusitasi :
 Bila bayi tetap tidak bernapas atau napas
tidak adekuat, FJ < 100/menit
 Bila warna kulit tetap sianosis walau telah
diberi oksigen 100%
Tanpa reservoar O2
…balon resusitasi
Udara
kamar
O2 21%

O2 100%
Pengaturan
oksigen dan
tekanan dalam O2 40% ke pasien

balon Dengan reservoar O2

mengembang
O2 100%
sendiri

Reservoar O2

O2 90% - 100% ke pasien


Breathing

 Frekuensi meremas balon : 40 – 60 x/menit


Pompa … Dua ... Tiga … Pompa … Dua … Tiga (remas)
(lepas……..) (remas) (lepas)

 VTP dihentikan bila :


 Frekuensi jantung meningkat
 Perbaikan warna kulit
 Adanya napas spontan
Penggunaan Neopuff®

PIP 25 – 30 CM H2O dan PEEP 5 CM H2O


NETS Education 2007
49
… balon dan sungkup resusitasi
Bila dada tidak mengembang adekuat

Kondisi Tindakan
Lekatan tidak adekuat • Pasang kembali sungkup ke wajah
(BOCOR)
Jalan napas tersumbat • Reposisi kepala
• Periksa sekresi, hisap bila ada (lendir/darah)
• Lakukan ventilasi dengan mulut sedikit
terbuka

Tidak cukup tekanan • Naikkan tekanan sampai tampak gerakan naik


turun dada yang mudah
• Apakah udara dalam lambung mengganggu
pengembangan dada
• Pertimbangkan intubasi endotrakeal
… balon dan sungkup resusitasi
Bila bayi tidak menunjukkan perbaikan :
 Apakah oksigen 100% diberikan
• Apakah pipa oksigen tersambung pada balon dan ke
sumber oksigen ?
• Apakah gas mengalir melalui pengatur aliran ?
• Bila memakai balon mengembang sendiri, apakah
reservoar oksigen terpasang ?
• Bila menggunakan tangki oksigen, apakah tangki berisi
oksigen ?
… balon dan sungkup resusitasi
 Bila ventilasi balon dan
sungkup lebih dari
beberapa menit 
harus dipasang pipa
orogastrik
 Panjang pipa
orogastrik : jarak dari
pangkal tulang hidung
ke telinga dan dari
telinga ke prosesus
sifoid
BAYI SESAK / MERINTIH
Evaluasi distres napas
Skor Downe
0 1 2
Frekuensi < 60x/menit 60-80 x/menit >80x/menit
Napas
Retraksi Tidak ada Retraksi ringan Retraksi berat
retraksi
Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang Sianosis
dengan O2 menetap
walaupun diberi
O2
Air Entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara
udara masuk masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar
dengan stetoskop tanpa alat bantu
Evaluasi distres napas
Skor Downe

Skor < 4 Gangguan pernapasan ringan


(nasal kanul)
Skor 4 – 5 gangguan pernapasan sedang
(pakai CPAP)
Skor > 6 gangguan pernapasan berat
(pemeriksaan gas darah harus
dilakukan) pakai ventilator
PASANG CPAP DENGAN PEEP 7 CM H2O

Face mask

Single nasal prong


TAHAP PEMASANGAN NASAL PRONG UNTUK
PEMBERIAN CPAP
Tanpa PEEP

Dengan PEEP
TIMBUL KARENA SEL DARAH MERAH TIDAK TERIKAT CUKUP OKSIGEN 
SATURASI OKSIGEN DALAM DARAH KURANG
NEC RETINOPATI
BPD

TOKSISITAS OKSIGEN TERJADI BILA SATURASI OKSIGEN


DALAM DARAH 100%!!!

SELALU MULAI RESUSITASI NEONATUS DENGAN UDARA


HIRUP FIO2 21%
Free Flow Oxygen
Bayi yang dapat bernapas tetapi mengalami sianosis sentral
 free flow oxygen

Resusitasi Selang oksigen di Balon Mengembang Sendiri


mengunakan Neopuff antara telapak Laerdal (dekat, tidak rapat)
(1 cm di atas wajah) tangan seperti Tidak diremas dengan oksigen
≥ 96% (termasuk PEEP) bentuk sungkup 100% dan kecepatan aliran 5
≥ 93% (tidak termasuk (1 cm di atas wajah) L/min (1 cm di atas wajah )
PEEP) ≥ 90% 39-56% 63
ALAT YANG DIPERLUKAN UNTUK TERAPI OKSIGEN SECARA OPTIMAL

BLENDER

PENCAMPURAN OKSIGEN
CAMPURAN UDARA DAN OKSIGEN  INGAT RUMUS 8!!!
Circulation

 Bantu sirkulasi dengan memulai kompresi


dada sambil tetap melakukan ventilasi
selama 30 detik.
 Indikasi untuk memulai kompresi dada : bila
frekuensi jantung < 60/menit setelah 30 detik
dilakukan VTP yang efektif
 Lebih baik dilakukan intubasi endotrakeal
untuk menjamin ventilasi yang adekuat dan
memudahkan koordinasi VTP dan kompresi
dada
KOMPRESI DADA : DIPERLUKAN 2 ORANG
2 TEKNIK:
• Teknik ibu jari
• Teknik dua jari

Teknik dua jari Teknik ibu jari


…kompresi dada
 Posisi jari : 1/3 bawah tulang dada/sternum
 Penekanan : ± 1/3 diameter anterior-
posterior dada
 Kecepatan : satu siklus terdiri dari 3
kompresi + 1 ventilasi (waktu 2 detik)  90
kompresi & 30 ventilasi per menit
 Satu - Dua - Tiga - Pompa - Satu - Dua -Tiga
- Pompa
 Hentikan bila FJ > 60 /menit
…kompresi dada
Bagaimana bila tidak ada perbaikan klinis
bayi ?
 Apakah gerakan dada adekuat (apakah telah
dipertimbangkan intubasi endotrakeal) ?
 Apakah oksigen 100% telah diberikan ?
 Apakah kedalaman penekanan  1/3 dari
diameter dada ?
 Apakah kompresi dada dan ventilasi dilakukan
secara terkoordinasi baik ?
INTUBASI ENDOTRAKEA…
 Kenali dan tentukan lokasi glotis, letak pipa endotrakea yang benar : antara pita suara
dan karina  masukkan pipa sampai garis pedoman pita suara berada sebatas pita
suara

 Menekan krikoid ke bawah dengan jari kelingking, dapat membantu visualisasi glotis

 Setiap tindakan pemasangan ETT dibatasi hanya dalam 20 detik


Glotis
Epiglotis

Esofagus
Pita suara

Garis batas pita suara


INTUBASI ENDOTRAKEA…

Cara Pengenceran Dosis


Konsentrasi
Nama Obat Volume Konsentrasi
sediaan
Volume obat pengencer
(NaCl 0,9%)

Morfin 10 mg/mL 0,1 mL 0,9 mL 1 mg/mL 0,1-0,2 mg/kg 0,1-0,2 mL/kg

Sulfas Atropin 250 mcg/mL 0,40 mL 0,60 mL 100 mcg/mL 20 mcg/kg 0,2 mL/kg

Midazolam 1 mg/mL - - 1 mg/mL 0,15-0,3 0,15-0,3


(Dormicum) mg/kg mg/kg
Suxamethonium 50 mg/mL 0,2 mL 0,8 mL 10 mg/mL 3 mg/kg 0,3 mL/kg

Berikan morfin lebih dahulu,tunggu 3-5 menit, lalu berikan sulfas atropin.
1 menit kemudian berikan midazolam/suxamethonium.
UKURAN DAUN LARINGOSKOP
Ukuran Usia Gestasi

1 CUKUP BULAN

0 KURANG BULAN

00 BAYI BERAT LAHIR RENDAH

No. 1

No. 0

No. 00
UKURAN PIPA ENDOTRAKEA
Berat Badan (g) Usia Gestasi (mgg) Ukuran ETT (mm)

< 1000 < 28 2.5

1000 – 2000 28 - 34 3.0

2000 - 3000 34 - 38 3.5

3000 - 4000 > 38 3.5 – 4.0


INTUBASI ENDOTRAKEA…
 Kedalaman pipa endotrakea (intubasi dari mulut)

Jarak ujung bawah pipa endotrakea ke bibir = berat lahir (kg) + 6

Berat Badan (g) Kedalaman ETT (cm)

< 1000 6.5 – 7

1000 – 2000 7–8

2000 - 3000 8–9

3000 - 4000 >9


KESALAHAN SAAT INTUBASI ENDOTRAKEA
Masalah Petunjuk Tindakan koreksi

Laringoskop Lidah di sekitar Masukkan daun


kurang dalam daun laringoskop lebih
dalam
KESALAHAN SAAT INTUBASI ENDOTRAKEA…
Masalah Petunjuk Tindakan koreksi

Laringoskop terlalu Dinding esofagus di Tarik daun laringoskop


dalam sekitar daun perlahan sampai terlihat
epiglotis dan glotis
KESALAHAN SAAT INTUBASI ENDOTRAKEA…
Masalah Petunjuk Tindakan koreksi

Geser daun laringoskop ke


Laringoskop miring ke Bagian glotis terletak tengah dengan perlahan.
satu sisi miring di satu sisi Kemudian masukkan atau
daun cabut, tergantung pada
petunjuk yang terlihat
FIKSASI PIPA
ENDOTRAKEA…
Rekatkan plester dimulai
dari sudut bibir sebelah
kanan, melingkari pipa
endotrakea dengan ujung
satunya berada di sudut
bibir sebelah kiri
FIKSASI PIPA ENDOTRAKEA…

▫ Ulangi fiksasi dengan cara yang sama pada bibir bawah


.... pipa endotrakea
 Tekan pipa endotrakea ke arah langit-langit untuk mencegah
terekstubasi, cek berapa cm kedalaman pipa di bibir

 Cek suara napas di kedua lapang paru dan perhatikan


kembang dada

 Potong pipa endotrakea  4 cm di atas bibir kemudian


dihubungkan ke connector

 Pasang pipa orogastrik untuk dekompresi lambung


BILA TIDAK BISA / KOMPETEN INTUBASI  PASANG
LARYNGEAL MASK (LMA)
Drugs

Berikan epineprin sambil terus melanjutkan


kompresi dada dan ventilasi.
A. Epinefrin :
  kontraksi jantung
 Fase konstriksi perifer   aliran darah ke
arteri koronaria dan ke otak.
 Jalur : melalui endotrakeal atau IV (Vena
Umbilicalis
 Dosis : 0,1 – 0,3 mL/kg larutan 1 : 10.000

(0,01 – 0,03 mg/kg)


 Kecepatan : secepat – cepatnya
Drugs

B. NaCl 0,9%
Solusio plasenta
Plasenta previa
Kehilangan darah tali pusat

Syok hipovolemik  pucat, nadi lemah  beri


garam fisiologis 10 mL/kg IV selama 5 – 10
menit.
PEMASANGAN VENA UMBILICALIS EMERGENSI

• MASUKKAN KATETER 2-4 CM KEDALAM VENA DAN LAKUKAN PENJAHITAN


MELINGKAR DENGAN SILK 3-0
• LEPASKAN IKATAN UMBILIKAL SEGERA SETELAH PROSEDUR SELESAI 
OBSERVASI PERDARAHAN
• CATAT ALIRAN DARAH SAAT MEMBUKA STOPCOCK & SEMPRIT DIASPIRASI
• PADA PREMATUR, KEDALAMAN KATETER <<<
• BILA KATETER DIMASUKKAN TERLALU DALAM DAPAT MERUSAK HEPAR
SIRKULASI
 Pada bayi yang tidak bugar
 pikirkan pemasangan infus
 Sentral / Perifer
 Posisi kateter umbilikal “ sementara “

Kalau perlu berikan bolus Nacl 0,9% 10 cc/kg selama 30 menit 


lanjutkan dengan rumatan Dextrose 10% 60 – 80 ml/kg/hari
Resusitasi Upayakan Bayi

Temperature

Airway Warm

Breathing

Sweet Pink
Circulation

Drugs
PENANGANAN NEONATUS

ABCD STABLE

Resusitasi Stabilisasi
STABLE
 Sugar + Safe Care PERIKSA GULA DARAH, PASANG INFUS
/ UMBILIKAL
 Temperature INKUBATOR TRANSPOR / KMC (S 36,5-
37,5o C

Nasal Kanul / CPAP / Intubasi


 Airway
Pasang infus/ umbilical, Loading Nacl
 Blood Pressure 0,9% Pastikan sirkulasi baik
 Lab Work AGD, DPL, Septic Work up (sesuai
kebutuhan)
 Emotional Support
Inform Consent tentang Kondisi bayi 
Empati + Tertulis
Transportasi bayi
 Transportasi bayi yang
membutuhkan CPAP
dini di kamar bersalin
 menggunakan ETT
yang dimasukkan ke
lubang hidung sebatas
garis hitam (± 2 cm),
dipotong ± 5 cm dan
dihubungkan ke T-
piece resuscitator
CPAP dengan single nasal prong
Profilaksis Perdarahan Bayi Baru
Lahir & Pemberian Imunisasi
Hepatitis B

 Segera setelah lahir


 Vitamin K1 injeksi 1 mg IM (paha kiri)
 Vaksin Hepatitis B 0,5 ml IM (paha
kanan),
minimal 1 jam setelah lahir
Pencegahan Infeksi Pada Mata
 Menggunakan salep mata tetrasiklin 1%
 Harus diberikan dlm waktu 1 jam PP (setelah
ibu/keluarga memomong bayi & diberi ASI)
 Berikan salep mata tsb dlm satu garis lurus
mulai dari bgn mata yg paling dekat dgn
hidung bayi menuju ke bgn luar mata
 Ujung tabung salep mata tidak boleh
menyentuh mata bayi
 Jangan menghapus salep mata dari mata bayi
& anjurkan keluarga utk tdk menghapus obat
tsb
KESIMPULAN

Penanganan bayi baru lahir dengan


cepat dan benar

menurunkan angka kematian bayi


mencapai tumbuh kembang optimal