You are on page 1of 65

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular dimana

penderita memiliki tekanan darah di atas normal. Penyakit ini diperkirakan telah

menyebabkan peningkatan angka morbiditas secara global sebesar 4,5%, dan

prevalensinya hampir sama besar di negara berkembang maupun di negara maju.

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyebab gangguan jantung.

Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat juga berakibat terjadinya

gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular. Penyakit ini seringkali disebut silent

killer karena tidak adanya gejala dan tanpa disadari penderita mengalami

komplikasi pada organ-organ vital. Penyakit ini memerlukan biaya pengobatan

yang tinggi dikarenakan alasan seringnya angka kunjungan ke dokter, perawatan di

rumah sakit dan penggunaan obat jangka Panjang (Depkes, 2006).

Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk menurunkan mortalitas dan

morbiditas penyakit kardiovaskular. Penurunan tekanan sistolik harus menjadi

perhatian utama, karena umumnya tekanan diastolik akan terkontrol bersamaan

dengan terkontrolnya sistolik (Gunawan, 2008).

Ada dua terapi yang dilakukan untuk mengobati hipertensi yaitu terapi

farmakologis dan terapi non farmakologis. Terapi farmakologis yaitu dengan

menggunakan obat-obatan antihipertensi yang terbukti dapat menurunkan tekanan

darah, sedangkan terapi non farmakologis atau disebut juga dengan modifikasi gaya

1
hidup yang meliputi berhenti merokok, mengurangi kelebihan berat badan,

menghindari alkohol, modifikasi diet serta yang mencakup psikis antara lain

mengurangi stress, olah raga, dan istirahat (Kosasih dan Hassan, 2013).

Keberhasilan dalam mengendalikan tekanan darah tinggi merupakan usaha

bersama antara pasien dan dokter yang menanganinya. Kepatuhan seorang pasien

yang menderita hipertensi tidak hanya dilihat berdasarkan kepatuhan dalam

meminum obat anti hipertensi tetapi juga dituntut peran aktif dan kesediaan pasien

untuk memeriksakan kesehatannya ke dokter sesuai dengan jadwal yang ditentukan

serta perubahan gaya hidup sehat yang dianjurkan (Burnier et al,2001).

Selain dikarenakan factor genetic kurangnya Aktivitas Fisik dan mengatur

Pola Makan pada Individu merupakan faktor resiko terjadinya Hipertensi.

Kepatuhan serta pemahaman yang baik dalam menjalankan gaya hidup sehat

mempengaruhi kejadian hipertensi (Depkes RI, 2006).

Ketidak patuhan pasien menjadi masalah serius yang dihadapi para tenaga

kesehatan profesional. Hal ini disebabkan karena hipertensi merupakan penyakit

yang paling banyak dialami oleh masyarakat tanpa ada gejala yang signifikan dan

juga merupakan penyakit yang menimbulkan penyakit lain yang berbahaya bila

tidak diobati secepatnya (Niven, 2001).

Penyakit hipertensi tercatat sebagai salah satu penyakit di atara 10 penyakit

tertinggi di Puskesmas Kedundung. Kelurahan Kedundung sebagai salah satu

Kelurahan dari Kecamatan Magersari, memiliki jumlah penderita hipertensi

sebanyak 1995 jiwa, 788 jiwa diantaranya tergolong lansia (usia 60 tahun ke atas).

Kelompok lansia di desa tersebut tercatat sebanyak 1105 jiwa atau prevalensi

2
hipertensi lansia sebesar 788 jiwa, (Diolah dari data Puskesmas, 2017). Kelompok

lansia ini mendapat pelayanan kesehatan melalui 3 (tiga buah) posyandu lansia

yaitu .Posyandu Lansia dan Penyakita tidak Menular (PTM), yang masing-masing

melayani antara 700 s.d. 1000. orang setiap bulannya.

Dengan tingginya prevalensi hipertensi di desa Kedundung tersebut maka

kami, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian “Hubungan antara Aktivitas

Fisik, dan pola makan dengan hipertensi pada usia lanjut di posyandu lansia di

Kelurahan Kedundung Kota Mojokerto”.

B. Rumusan Masalah

Adakah hubungan antara kegiatan olah raga dan pola makan dengan

kejadian hipertensi pada pengunjung posyandu lansia di yang berusia lanjut

(Umur 60 tahun keatas) di posyandu Lansia di Kelurahan Kedundung Kecamatan

Magersari Kota Mojokerto?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui hubungan Aktivitas Fisik dan pola makan dengan kejadian

hipertensi pada pengunjung posyandu lansia di Kelurahan Kedundung,

Kecamatan Magersari Kota Mojokerto.

3
2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi kegiatan olah raga pengunjung posyandu lansia di

Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

b. Menidentifikasi pola makan pada pengunjung posyandu lansia di

Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

c. Mengidentifikasi tekanan darah pengunjung posyandu lansia di Kelurahan

Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

d. Mengetahui hubungan antara Aktivitas Fisik dengan kejadian hipertensi

pada pengunjung posyandu lansia Kelurahan Kedundung, Kecamatan

Magersari, Kota Mojokerto

e. Mengetahui hubungan antara pola makan dengan kejadian hipertensi pada

pengunjung posyandu lansia Kelurahan Kedundung, Kecamatan

Magersari, Kota Mojokerto

D. Manfaat Hasil Penelitian

1. Dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dalam mengatasi masalah

tingginya prevalensi hipertensi di Puskesmas Kedundung Kecamatan

Magersari Kota Mojokerto .

2. Sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut, khususnya yang berkaitan

dengan Aktivitas Fisik dan pola makan dalam menatasi hipertensi di

Posyandu Lansia Kelurahan Kedundung, Kota Mojokerto.

4
3. Bagi perkembangan ilmu pengetahuan dapat menjadi masukan untuk

dilanjutkan pada penelitian dengan desain penelitian yang lebih baik untuk

mengetahui hal-hal yang berpengaruh terhadap kejadian hipertensi.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi

1. Definisi hipertensi

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik

dengan konsisten di atas 140/90 mmHG. Diagnosis hipertensi tidak

berdasarkan pada peningkatan tekanan darah yang sekali. Tekanan darah harus

diukur dalam posisi duduk dan berbaring (baradero, 2008).

Hipertensi adalah keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih

besar dari 140 mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua

kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup

istirahat/tenang (Depkes ,2011).

Jadi, dapat disimpulakn bahwa Hipertensi adalah meningkatnya tekanan

darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan atau diastolik lebih dari 90 mmHg pada

dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit diukur dalam posisi duduk

atau berbaring dan pasien dalam keadaan tenang.

2. Klasifikasi hipertensi

Pada umumnya sekitar 90% penyebab hipertensi tidak diketahui dan

faktor turunan memegang peranan besar. Hipertensi jenis ini dikenal sebagai

hipertensi esensial atau hipertensi primer. Ada juga hipertensi yang

penyebabnya diketahui, yang disebut dengan hipertensi sekunder (Iskandar,

2010).

6
a. Hipertensi primer

Hipertensi primer adalah suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah

tinggi sebagai akibat dampak dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan.

Seseorang yang pola makanannya tidak terkontrol dan mengakibatkan kelebihan

berat badan atau bahkan obesitas, merupakan pencetus awal untuk terkena

penyakit tekanan darah tinggi. Begitu pula seseorang yang berada dalam

lingkungan atau kondisi stressor tinggi sangat mungkin terkena penyakit tekanan

darah tinggi, termasuk orang-orang yang kurang olahraga pun bisa mengalami

tekanan darah tinggi (Yofina, 2012).

b. Hipertensi sekunder

Seperti namanya, hipertensi sekunder muncul akibat kelainan fisik

lainnya, seperti penyakit ginjal dan gangguan adrenal. Hanya 5-10% dari seluruh

hipertensi disebabkan oleh penyebab lain. Antara lain renal artery stenosis

(penyempitan arteri yang menyuplai darah ke ginjal), hyperaldosteronism

(produksi berlebih aldosteron), hypertiroidism dan pheochromocytoma (tumor

langka yang mengeluarkan hormon dalam jumlah berlebih yang mengatur

aktivitas sistem saraf) (Aggie, 2006).

Klasifikasi hipertensi menurut gejala dibedakan menjadi dua yaitu hipertensi

benigna dan hipertensi maligna. Hipertensi benigna adalah keadaan hipertensi

yang tidak menimbulkan gejala-gejala, biasanya ditemukan pada saat penderita

dicek up. Hipertensi maligna adalah keadaan hipertensi yang membahayakan

7
biasanya disertai dengan keadaan kegawatan yang merupakan akibat komplikasi

organ-organ seperti otak, jantung dan ginjal (Junaedi, 2010).

Tabel II.1 Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-VII

KLASIFIKASI TEKANAN DARAH TEKANAN DARAH


TEKANAN DARAH SISTOLIK (mmHg) DIASTOLIK (mmHg)
Normal < 120 Dan< 80
Prehipertensi 120 – 139 Atau 80 – 89
Hipertensi tahap I 140 – 159 Atau 90 – 99
Hipertensi tahap II ≥ 160 ≥ 100

3. Gejala Hipertensi

Gejala hipertensi pada umumnya tidak mempunyai keluhan khusus dan

tidak mengetahui dirinya menderita hipertensi. Seorang penderita hipertensi

datang berobat ke dokter di dorong oleh keluhan-keluhan yang disebabkan

oleh kenaikan tekanan darah itu sendiri yang mengganggu (Junaedi, 2010).

Gejala-gejala yang mudah diamati antara lain yaitu (Junaedi, 2010).

a. Gejala ringan seperti pusing atau sakit kepala

b. Sering gelisah

c. Wajah merah

d. Tengkuk merasa pegal

e. Mudah marah

f. Telinga berdengung

g. Sukar tidur

h. Sesak nafas

i. Rasa berat di tengkuk

8
j. Mudah lelah

k. Mata berkunang-kunang

l. Mimisan (keluar darah dari hidung)

4. Faktor risiko hipertensi

Faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi ada dua yaitu yang dapat

dikontrol dan yang tidak dapat dikontrol:

a. Faktor risiko yang tidak dapat dikontrol

1) Jenis kelamin

Prevalensi hipertensi pada wanita (25%) lebih besar daripada pria

(24%) (Tesfaye et al,2007). Namun wanita terlindung dari penyakit

kardiovaskuler sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami

menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam

meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol

HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya

proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai

penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada

premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon

estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan

Hormon estrogen ini kadarnya akan semakin menurun setelah

menopause.(Armilawati,dkk. 2007).

9
2) Umur

Semakin meningkat umur responden semakin tinggi risiko

hipertensi. Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur,

disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga

lumen menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi kaku,

sebagai akibat adalah meningkatnya tekanan darah sistolik.. Pada wanita,

hipertensi sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Hal ini disebabkan

terjadinya perubahan hormon sesudah menopause (Rahajeng, 2009).

Kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari

keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat

dari berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya banyak arteri ini dan

menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian

diri (Rahajeng, 2009).

Pada umur 25-44 tahun prevalensi hipertensi sebesar 29%, pada umur

45-64 tahun sebesar 51% dan pada umur >65 Tahun sebesar 65%.

Penelitian Hasurungan15 pada lansia menemukan bahwa dibanding umur

55-59 tahun, pada umur 60-64 tahun terjadi peningkatan risiko hipertesi

sebesar 2,18 kali, umur 65-69 tahun 2,45 kali dan umur >70 tahun 2,97 kali

(Rahajeng, 2009).

10
3) Keturunan (genetik)

Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan

keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan

dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara

potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi

mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada

orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Selain itu

didapatkan 70-80% kasus hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi

dalam keluarga (Armilawati,dkk. 2007).

b. Faktor resiko yang dapat dikontrol:

1) Obesitas

Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau tidak, dapatdilakukan

dengan mengukur berat badan dengan tinggi badan, yang kemudian disebut dengan

Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:

Berat Badan (kg)


IMT =
Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)

Seseorang dikatakan kegemukan atau obesitas jika memiliki nilai IMT≥25.0.

Obestitas merupakan faktor risiko munculnya berbagai penyakit degeneratif, seperti

hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes mellitus. Data dari studi

Farmingham (AS) yang diacu dalam Khomsan (2004) menunjukkan bahwa

kenaikan berat badan sebesar 10% pada pria akan meningkatkan tekanan darah 6.6

11
mmHg, gula darah 2 mg/dl, dan kolesterol darah 11 mg/dl. Prevalensi hipertensi

pada seseorang yang memiliki IMT>30 pada lakilaki sebesar 38% dan wanita 32%,

dibanding dengan 18% laki-laki dan 17% perampuan yang memiliki IMT<25.

(Krummel DA,2004)

2) Kurang olahraga

Olahraga seperti bersepeda, jogging, dan aerobik yang teratur dapat

memperlancar peredaran darah sehingga menurunkan tekanan darah. Orang yang

kurang aktif berolah raga umumnya cenderung mengalami kegemukan. Olahraga

juga dapat mengurangi atau mencegah obesitas serta mengurangi asupan garam

kedalam tubuh. Garam akan keluar dari tubuh bersama keringat

(Dalimartha,Setiawan, 2008).

Melakukan aktivitas secara teratur (aktivitas fisik aerobic selama 30-45

menit/hari) diketahui sangat efektif dalam mengurangi risiko relatif hipertensi

hingga mencapai 19% hingga 30%. Begitu juga halnya dengan kebugaran

kardiorespirasi rendah pada usia paruh baya diduga meningkatkan risiko hipertensi

sebesar 50% (Rahajeng, 2009).

3) Kebiasaan merokok

Hipertensi dirangsang oleh adanya nikotin dalam batang rokok yang dihisap

seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nikotin dapat meningkatkan

penggumpalan darah dalam pembuluh darah. Selain itu, nikotin juga dapat

menyebabkan terjadinya pengapuran pada dinding pembuluh darah (Dalimartha,

2008).

12
4) Mengkonsumsi makanan asin dan berpengawet

Makanan asin dan makanan yang diawetkan adalah makanan dengan kadar

natrium tinggi. Natrium adalah mineral yang sangat berpengaruh pada mekanisme

timbulnya hipertensi. Makanan asin dan awetan biasanya memiliki rasa gurih

(umami), sehingga dapat meningkatkan nafsu makan (Krisnatuti D, 2005)

5) Minum alkohol

Minum alcohol dapat memicu terjadinya hipertensi karena adanya

peningkatan sintetis katekolamin yang dalam jumlah besar dapat memicu

kenaikan tekanan darah. (Dalimartha, 2008).

6) Minum kopi

Dari hasil penelitian di Journal of Nutrition Collage dikatakan bahwa

mengkonsumsi kopi 1-2 cangkir perhari meningkatkan risiko hipertensi 4,11 kali

lebih tinggi dibanding tidak meminum kopi (Krummel, DA 2004).

7) Stres

Pengaruh stres juga masih kontroversi, pengaruhnya diduga melalui

aktivitas saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah sebagai reaksi

fisik bila sesorang mengalami ancaman (fight or flight response) (Rahajeng

,2009).

13
Diagnosis hipertensi

Pada semua umur, diagnosis hipertensi memerlukan pengukuran berulang

dalam keadaan istirahat, tanpa ansietas, kopi, alkohol, atau merokok. Namun

demikian, salah diagnosis lebih sering terjadi pada lanjut usia, terutama

perempuan, akibat beberapa faktor seperti berikut. Panjang cuff mungkin tidak

cukup untuk orang gemuk atau berlebihan atau orang terlalu kurus. Penurunan

sensitivitas refleks baroreseptor sering menyebabkan fluktuasi tekanan darah

dan hipotensi postural. Fluktuasi akibat ketegangan (hipertensi jas putih =

white coat hypertension) & latihan fisik juga lebih sering pada lanjut usia.

(Kuswardhani, 2006).

Arteri yang kaku akibat arterosklerosis menyebabkan tekanan darah

terukur lebih tinggi. Kesulitan pengukuran tekanan darah dapat diatasi dengan

cara pengukuran ambulatory. Bulpitt et al. menganjurkan bahwa sebelum

menegakkan diagnosis hipertensi pada lanjut usia, hendaknya paling sedikit

dilakukan pemeriksaan di klinik sebanyak tiga kali dalam waktu yang berbeda

dalam beberapa minggu (Kuswardhani, 2006).

Gejala HTS yang sering ditemukan pada lanjut seperti ditemukan pada the

SYST-EUR trial adalah: 25% dari 437 perempuan dan 21% dari 204 laki-laki

menunjukkan keluhan. Gejala yang menonjol yang ditemukan pada penderita

perempuan dibandingkan penderita laki-laki adalah; nyeri sendi tangan (35%

pada perempuan vs. 22% pada laki-laki), berdebar (33% vs. 17%), mata kering

(16% vs. 6%), penglihatan kabur (35% vs. 23%), kramp pada tungkai (43% vs. 31

14
%), nyeri tenggorok (15% vs. 7%), Nokturia merupakan gejala tersering pada

kedua jenis kelamin, 68%.21. (Kuswardhani, 2006).

Penatalaksanaan hipertensi pada penderita lanjut usia

Joint National Committee VII merekomendasikan konsep terapi yang

terbaru yaitu :

a. Pasien dengan tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan tekanan darah

diastolik 80-89 mmHg hanya memerlukan penatalaksanaan

nonfarmakologis dengan cara modifikasi gaya hidup.

b. Pasien yang tidak memiliki komplikasi hipertensi, diperlukan

penatalaksanaan secara farmakologis dengan diberikan obat golongan

diuretik atau bisa juga diberikan obat dari golongan lain.

c. Lebih memperhatikan tekanan darah sistolik dan penanganannya harus

dimulai jika tekanan darah sistolik meningkat walaupun tekanan darah

diastoliknya tidak.

d. Sebagian besar pasien hipertensi memerlukan obat kombinasi

antihipertensi, salah satunya adalah obat dari golongan diuretik tiazid.

e. Kebanyakan pasien hipertensi memerlukan 2 atau lebih pengobatan untuk

mencapai tekanan darah ± 20/10 mmHg di atas tekanan darah yang

diinginkan.

f. Golongan ACE Inhibitor sendiri atau kombinasi dengan golongan diuretic

masih merupakan terapi pilihan yang terbaik untuk pasien dengan

hipertensi yang sudah mengalami komplikasi penyakit jantung.

15
Selain itu, juga diperlukan modifikasi pola hidup bisa dilakukan dengan cara

memperbaiki beberapa pola hidup, seperti menurunkan berat badan jika ada

kegemukan, mengurangi minum alkohol, meningkatkan aktivitas fisik aerobik,

mengurangi asupan garam, mempertahankan asupan kalium yang adekuat,

mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat, menghentikan

merokok, mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol. Seperti halnya pada

orang yang lebih muda, intervensi nonfarmakologis ini harus dimulai sebelum

menggunakan obat-obatan (Kuswardhani, 2006)..

B. Definisi Lansia

Menurut World Health Organisation (WHO), lansia (lanjut usia) adalah

seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan

kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase

kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses

yang disebut Aging Process atau proses penuaan.

Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan-

tahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai dengan semakin

rentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit yang dapat menyebabkan

kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler dan pembuluh darah, pernafasan,

pencernaan, endokrin dan lain sebagainya. Hal tersebut disebabkan seiring

meningkatnya usia sehingga terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel,

jaringan, serta sistem organ. Perubahan tersebut pada umumnya mengaruh pada

kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada akhirnya akan berpengaruh

pada ekonomi dan sosial lansia. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada

16
activity of daily living (WHO, 2014).

1. Batasan-batasan lanjut usia

Batasan umur pada usia lanjut dari waktu ke waktu berbeda. Menurut

World Health Organitation (WHO) lansia meliputi :

a. Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun

b. Lanjut usia (elderly) antara usia 60 sampai 74 tahun

c. Lanjut usia tua (old) antara usia 75 sampai 90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) diatas usia 90 tahun

C. Manfaat Olahraga pada Lansia

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang membutuhkan energi untuk

mengerjakannya, seperti berjalan, menari, mengasuh cucu, dan lain sebagainya.

Aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur, yang melibatkan gerakan tubuh

berulang-ulang serta ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani disebut

olahraga 6. Manfaat olahraga pada Lansia antara lain dapat memperpanjang usia,

menyehatkan jantung, otot, dan tulang, membuat Lansia lebih mandiri, mencegah

obesitas, mengurangi kecemasan dan depresi, dan memperoleh kepercayaan diri

yang lebih tinggi.

Olahraga dikatakan dapat memperbaiki komposisi tubuh, seperti lemak

tubuh, kesehatan tulang, massa otot, dan meningkatkan daya tahan, massa otot dan

kekuatan otot, serta fleksibilitas sehingga lansia lebih sehat dan bugar dan risiko

17
jatuh berkurang.. Olahraga dikatakan juga dapat menurunkan risiko penyakit

diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung. Secara umum dikatakan bahwa

olahraga pada lansia dapat menunjang kesehatan, yaitu dengan meningkatkan

nafsu makan, membuat kualitas tidur lebih baik, dan mengurangi kebutuhan

terhadap obat-obatan. Selain itu, olahraga atau aktivitas fisik bermanfaat secara

fisiologis, psikologis maupun sosial7.secara fisiologis, olahraga dapat

meningkatkan kapasitas aerobik, kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan.

Secara psikologis, olahraga dapat meningkatkan mood, mengurangi risiko pikun,

dan mencegah depresi. Secara sosial, olahraga dapat mengurangi ketergantungan

pada orang lain, mendapat banyak teman, dan meningkatkan produktivitas.

1. Jenis aktivitas fisik pada lansia

Aktivitas fisik yang bermanfaat untuk kesehatan Lansia sebaiknya

memenuhi kriteria FITT (frequency, intensity, time, type). Frekuensi adalah

seberapa sering aktivitas dilakukan, berapa hari dalam satu minggu. Intensitas

adalah seberapa keras suatu aktivitas dilakukan. Biasanya diklasifikasikan

menjadi intensitas rendah, sedang, dan tinggi. Waktu mengacu pada durasi,

seberapa lama suatu aktivitas dilakukan dalam satu pertemuan, sedangkan jenis

aktivitas adalah jenis-jenis aktivitas fisik yang dilakukan.

Jenis-jenis aktivitas fisik pada Lansia meliputi latihan aerobik, penguatan

otot (muscle strengthening)), fleksibilitas, dan latihan keseimbangan. Seberapa

banyak suatu latihan dilakukan tergantung dari tujuan setiap individu, apakah untuk

kemandirian, kesehatan, kebugaran, atau untuk perbaikan kinerja (performance)

(Kathy G, 2002).

18
a. Latihan aerobik

Lansia direkomendasikan melakukan aktivitas fisik setidaknya selama 30

menit pada intensitas sedang hampir setiap hari dalam seminggu. Berpartisipasi

dalam aktivitas seperti berjalan, berkebun, melakukan pekerjaan rumah, dan naik

turun tangga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. (Kathy G, 2002).

Lansia dengan usia lebih dari 65 tahun disarankan melakukan olahraga yang

tidak terlalu membebani tulang, seperti berjalan, latihan dalam air, bersepeda

statis, dan dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Bagi Lansia yang tidak

terlatih harus mulai dengan intensitas rendah dan peningkatan dilakukan secara

individual berdasarkan toleransi terhadap latihan fisik. (Kathy G, 2002).

Olahraga yang bersifat aerobik adalah olahraga yang membuat jantung dan

paru bekerja lebih keras untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan oksigen,

misalnya berjalan, berenang, bersepeda, dan lain-lain. Latihan fisik dilakukan

sekurangnya 30 menit dengan intensitas sedang, 5 hari dalam seminggu atau 20

menit dengan intensitas tinggi, 3 hari dalam seminggu, atau kombinasi 20 menit

intensitas tinggi 2 hari dalam seminggu dan 30 menit dengan intensitas sedang 2

hari dalam seminggu.

Gambar II. 1. Berbagai Aktivitas Aerobik

19
b. Latihan penguatan otot

Bagi Lansia disarankan untuk menambah latihan penguatan otot disamping

latihan aerobik. Kebugaran otot memungkinkan melakukan kegiatan sehari-hari

secara mandiri. (Kathy G, 2002).

Latihan fisik untuk penguatan otot adalah aktivitas yang memperkuat dan

menyokong otot dan jaringan ikat. Latihan dirancang supaya otot mampu

membentuk kekuatan untuk mengerakkan atau menahan beban, misalnya aktivitas

yang melawan(Kathy G, 2002).

gravitasi seperti gerakan berdiri dari kursi, ditahan beberapa detik, berulang-

ulang atau aktivitas dengan tahanan tertentu misalnya latihan dengan tali elastik.

Latihan penguatan otot dilakukan setidaknya 2 hari dalam seminggu dengan

istirahat diantara sesi untuk masing-masing kelompok otot. Intensitas untuk

membentuk kekuatan otot menggunakan tahanan atau beban dengan 10-12 repetisi

untuk masing-masing latihan. Intensitas latihan meningkat seiring dengan

meningkatnya kemampuan individu. Jumlah repetisi harus ditingkatkan sebelum

beban ditambah. Waktu yang dibutuhkan adalah satu set latihan dengan 10-15

repetisi.

20
Gambar II. 2: Contoh Latihan Kekuatan Otot

c. Latihan fleksibilitas dan keseimbangan

Kisaran sendi (ROM) yang memadai pada semua bagian tubuh sangat

penting untuk mempertahankan fungsi muskuloskeletal, keseimbangan dan

kelincahan pada Lansia. Latihan fleksibilitas dirancang dengan melbatkan setiap

sendi-sendi utama (panggul, punggung, bahu, lutut, dan leher). (Kathy G, 2002).

Latihan fleksibilitas adalah aktivitas untuk membantu mempertahankan

kisaran gerak sendi (ROM), yang diperlukan untuk melakukan aktivitas fisik dan

tugas sehari-hari secara teratur. Latihan fleksibilitas disarankan dilakukan pada

hari- hari dilakukannya latihan aerobik dan penguatan otot atau 2-3 hari per

minggu. Latihan dengan melibatkan peregangan otot dan sendi. Intensitas latihan

dilakukan dengan memperhatikan rasa tidak nyaman atau nyeri. Peregangan

dilakukan 3-4 kali, untuk masing-masing tarikan dipertahankan 10-30 detik.

Peregangan dilakukan terutama pada kelompok otot-otot besar, dimulai dari otot-

otot kecil. Contoh: latihan Yoga. (Kathy G, 2002).

Latihan keseimbangan dilakukan untuk membantu mencegah Lansia jatuh.

Latihan keseimbangan dilkakukan setidaknya 3 hari dalam seminggu. Sebagian

21
besar aktivitas dilakukan pada intensitas rendah. Kegiatan berjalan, Tai Chi, dan

latihan penguatan otot memperlihatkan perbaikan keseimbangan pada Lansia.

(Kathy G, 2002).

Gambar III. 3: contoh latihan fleksibilitas

Program latihan untuk Lansia meliputi latihan daya tahan jantung paru

(aerobik), kekuatan (strenght), fleksibilitas, dan keseimbangan dengan cara

progresif dan menyenangkan. Latihan melibatkan kelompok otot utama dengan

gerakan seoptimal mungkin pada ROM yang bebas dari nyeri. Pembebanan pada

tulang, perbaikan postur, melatih gerakan-gerakan fungsional akan meningkatkan

kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan. (Kathy G, 2002).

Olahraga dilakukan dengan cara menyenangkan disertai berbagai

modifikasi, termasuk mengkombinasikan beberapa aktivitas sekaligus. Kombinasi

berjalan yang bersifat rekreasi dan senam di air dengan intensitas yang menantang

namun tetap nyaman dilakukan, kombinasi latihan spesifik untuk memperbaiki

kekuatan dan fleksibilitas (latihan beban, circuit training, latihan dengan musik,

menari) bisa dilakukan. Kombinasi latihan kekuatan, keseimbangan dan

fleksibilitas bisa dilakukan dengan menggunakan alat bola. Latihan difokuskan

pada teknik yang menstabilkan dan meningkatkan kekuatan, keseimbangan dan

22
fleksibilitas, selain itu juga mengintegrasikan tubuh dan pikiran serta melibatkan

teknik pernafasan, konsentrasi dan kontrol gerakan.

Bagi Lansia yang lemah secara fisik, aktivitas yang dilakukan dikaitkan

dengan kegiatan sehari-hari dan mempertahankan kemandirian, misalnya teknik

mengangkat beban yang benar, berjalan, cara menjaga postur yang benar, dan

sebagainya (Erin, Hanssen, 2000).

2. Olahraga lansia

Olahraga pada Lansia dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan,

masalah kesehatan, perlunya modifikasi latihan, dan mempertimbangkan

kelemahan yang mungkin ada. Screening diperlukan sebelum program latihan

dimulai. Sangat penting untuk menanyakan apakah pasien aman untuk berlatih,

dipikirkan pula apakah pasien lebih baik apabila tidak aktif berlatih (sedentary).

Screening meliputi semua sistem utama tubuh, termasuk status kognitif, auskultasi

arteri karotis, inspeksi hernia, penilaian keseimbangan dan kemampuan mobilitas.

(Erin, Hanssen, 2000).

Program latihan fisik bagi Lansia disusun dengan berbagai pertimbangan

terkait dengan kondisi fisik Lansia. Sebelum olahraga dianjurkan berkonsultasi

dengan dokter. Olahraga dilaksanakan secara bertahap, misalnya dimulai dengan

intensitas rendah (40-50% denyut nadi istirahat) selama 10-20 menit, kemudian

ditingkatkan sesuai dengan kemampuan adaptasi latihan tiap individu. Durasi

latihan ditingkatkan secara bertahap. Lebih diajurkan untuk menambah durasi

daripada meningkatkan intensitas. Lingkungan dan fasilitas olahraga harus

diperhatikan terkait dengan faktor keamanan. Modifikasi olahraga kadang

23
diperlukan, misalnya Lansia dengan penglihatan berkurang dianjurkan bersepeda

statis daripada bersepeda di jalan. Program yang disusun juga harus

memperhatikan masalah ortopedik yang mungkin ada, dianjurkan untuk

menambah waktu pemanasan dan pendinginan, serta dipilih aktivitas yang tidak

membutuhkan koordinasi tingkat tinggi. (Erin, Hanssen, 2000).

Selama latihan tidak boleh dilupakan minum untuk mengganti cairan yang

hilang selama olahraga. Jenis olahraga disarankan mempunyai aspek sosial

sehingga sekaligus bisa berdampak pada emosi Lansia (Erin, Hanssen, 2000).

3. Hubungan Olahraga dengan Hipertensi

Latihan fisik atau olahraga yang teratur dapat meningkatkan kesehatan

jasmani dan rohani secara menyeluruh. Metabolisme tubuh akan membaik dari segi

fisik, dan mental. Peningkatan pada sistem tubuh selama tingginya berolahraga,

tekanan darah pasti naik selama olahraga. Pada umumnya, tekanan darah sistolik

naik 8-12 mmHg untuk setiap ekuvalen metabolik (MET lebih tinggi) diatas saat

istirahat. Satu MET adalah jumlah oksigen yang dipergunakan atau dikonsumsi saat

beristirahat. Suatu aktivitas yang setara dengan 2 MET membutuhkan dua kali

jumlah oksigen, 3 MET membutuhkan tiga kali jumlah oksigen, dan seterusnya.

Karena aliran darah lebih banyak dibutuhkan selama berolahraga, tubuh akan secara

otomatis menurunkan tingkat ketahanan terhadap aliran darah didalam pembuluh

darah selama melakukan olahraga untuk memenuhi kebutuhan ini. demikian

tekanan diastolik akan turun dengan melakukan olahraga (Divine, 2009)

Agar darah secara efisien terkirim ke otot-otot pada saat melakukan olahraga,

ketahanan dalam pembuluh harus diturunkan. Ketika intensitas olahraga

24
meningkat, pembuluh nadi tubuh melebar memungkinkan lebih banyak aliran yang

tidak terhalang ke otot-otot aktif. Selain pelebaran pembuluh nadi ke otot-otot yang

berkerja, aliran pembuluh nadi kejaringan tidak aktif lainnya dalam tubuh juga

diturunkan atau dijauhkan dari aliran darah ekstra yang tidak dilakukan pada saat

itu. Proses ini dicapai dengan kontraksi tak sadar otot polos dalam pembuluh darah.

Peningkatan kontraksi otot polos mengakibatkan penurunan aliran darah melalui

kontraksi. Jumlah total ketahanan atau resistensi perifer total (total peripheral

resistence/ TPR) kealiran darah biasanya turun selama melakukan olahraga (Divine,

2009).

D. Pola Makan / Diet

Pola makan adalah perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan

makanan yang meliputi sikap, kepercayaan, jenis makanan, frekuensi, cara

pengolahan, dan pemilihan makanan. (Surya darma, 2013).

Pada penderita hipertensi, selain pemberian obat-obatan anti hipertensi juga

sebaiknya melakukan terapi diet. Tujuan dari terapi diet adalah membantu

menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah tetap normal. Di

samping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat

badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol, dan asam urat dalam darah.

Diperhatikan pula penyakit lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal

dan diabetes mellitus. Prinsip Pola Makan / diet pada penderita hipertensi menurut(

Surya darma, 2013), adalah sebagai berikut :

25
1. Mengontrol pola makan

Jauhi makan makanan yang berlemak, mengandung banyak garam dan

makanan siap saji. American Heart Association menyarankan untuk konsumsi

garam sebanyak satu sendok teh per hari, Sementara untuk kebutuhan lemak yang

dianjurkan sangat kecil, di sarankan kurang dari 30% dari konsumsi kalori setiap

hari. Lemak tersebut dibutuhkan untuk menjaga organ tubuh tetap bekerja dan

befungsi dengan baik.

2. Tingkatkan konsumsi potasium dan magnesium

Pola makan yang rendah potasium dan magnesium menjadi salah satu faktor

pemicu hipertensi. Buah-buahan dan sayur segar merupakan sumber terbaik bagi

kedua nutrisi tersebut.

3. Makan-makanan jenis padi- padian

Dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam American Journal of Clinical

Nutrition ditemukan bahwa satu langkah penting menurunkan hipertensi dan

menghindari komplikasi akibat hipertensi adalah mengkonsumsi roti gandum dan

makan beras tumbuh atau beras merah.

Faktor yang mempengaruhi pemilihan pola makan, yaitu :

1. Jenis makanan

Adalah variasi bahan makanan yang jika dimakan, dicerna dan diserap akan

menghasilkan paling sedikit satu macam nutrien. Dalam susunan menu sehat dan

seimbang menyediakan variasi makanan merupakan salah satu cara untuk

menghilangkan rasa bosan, sehingga mengurangi selera makan. Menyusun

26
hidangan sehat baik seara kualitatif maupun kuantitatif. Teknik penglolahan

makanan adalah guna memproeh intake yang baik dan bervariasi

2. Frekuensi makan

Adalah jumlah berapa kali makn dalam sehari baik secara kualitatif

maupun kuatitatif.

3. Jumlah makanan

Adalah banyaknya asupan makanan yang dimakan dalam sehari.

4. Kesukaan terhadap jenis makana tertentu.

Dalam pemenuhan makanan apabila berdasarkan pada makanan kesukaan

saja maka akan berakibat pemenuhan gizi akan menurun / kurang optimal.

5. Pantangan pada makanan tertentu

Pantangan pada makanan tertentu juga harus diperhatikan karena untuk

mengatisipasi bila terjadi alergi pada suatu jesnis makanan.

6. Selera makan

Selera makan akan mempengaruhi dalam pemenuhan kebutuhan gizi untuk

energi, pertumbuhan, dan perkembangan. Hal ini disebabkan karena selera makan

dipacu oleh sistem tubuh dan pengolahan pangan serta penyajian makanan.

Menurut WHO, kadar natrium yang sebaiknya dikonsumsi perharinya adalah 2400

mg yang setara dengan 6 gr garam dapur. Dianjurkan untuk selalu menggunakan

garam beryodium dan penggunaan garam tidak lebih dari 1 sendok teh per hari.

Meningkatkan pemasukan kalium (4,5 gram atau 120 - 175 mEq/hari) dapat

memberikan efek penurunan tekanan darah yang ringan. Selain itu, pemberian

kalium juga membantu untuk mengganti kehilangan kalium akibat dan rendah

27
natrium.

Pada umumnya dapat dipakai ukuran sedang (50 gram) dari apel (159 mg

kalium), jeruk (250 mg kalium), tomat (366 mg kalium), pisang (451 mg kalium)

kentang panggang (503 mg kalium) dan susu skim 1 gelas (406 mg kalium).

Kecukupan kalsium penting untuk mencegah dan mengobati hipertensi: 2-3 gelas

susu skim atau 40 mg/hari, 115 gram keju rendah natrium dapat memenuhi

kebutuhan kalsium 250 mg/hari. Sedangkan kebutuhan kalsium perhari rata-rata

808 mg (Setiawan, 2008).

Makanan yang harus dihindari atau dibatasi penderita hipertensi adalah ( Surya

darma, 2013):

(1) Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak

kelapa, gajih).

(2) Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit,

craker, keripik dan makanan kering yang asin).

(3) Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran

serta buah-buahan dalam kaleng, soft drink).

(4) Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin,

pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).

(5) Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber

protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah

(sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).

28
(6) Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal,

tauco serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung

garam natrium.

(7) Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

Makanan yang boleh dikonsumsi penderita hipertensi ( Surya D, 2013):

(1) Serelia, dan umbi-umbian serta hasil olahannya: beras, jagung, sorgum,

cantle, jail, sagu, ubi, singkong, kentang, talas, mie, roti, bihun, oat.

(2) Sayuran: Sayur daun: kangkung, bayam, pucuk labu, sawi, katuk, daun

singkong, daun pepaya, daun kacang, daun mengkudu, dan sebagainya.

Sayur buah: kacang panjang, labu, mentimun, kecipir, tomat, nangka

muda, dan sebagainya. Sayur akar: wortel, lobak, bit, dan sebagainya.

(3) Buah: jambu biji, pepaya, jeruk, nanas, alpukat, belimbing, salak,

mengkudu, semangka, melon, sawo, mangga.

(4) Kacang-kacangan dan hasil olahnya (tempe, tahu) serta polong-

polongan.

(5) Unggas, ikan, putih telur.

(6) Daging merah, kuning telur.

(7) Minyak, santan, lemak (gajih), jeroan, margarine, susu dan produknya.

29
BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Dalam pelaksanaan kegiatan penelitian berdasarkan kerangka teori yang

ada, peneliti memilih beberapa faktor risiko yang fisibel (dapat diukur) untuk

diteliti sebagai variabel penelitian. Variabel yang terpilih selanjutnya disusun

dalam satu kerangka konsep sebagai berikut.

LINGKUNGAN:

1. Sosial/ekonomi
2. Budaya
3. pekerjaan GENETIK

UMUR

GENDER

PERILAKU/GAYA HIDUP:

1. Pola makan HIPERTENSI


2. Aktivitas fisik/Olah raga
Obesitas

3. Merokok
4. Minum kopi
5. Minum alkohol PELAYANAN
6. stress KESEHATAN
MASYARAKAT:
Keterangan:
1. Keteraturan
minum obat
DITELITI TIDAK DITELITI
2. Penyuluhan
3. Prolanis

Gambar III.1: Kerangka Konsep Hubungan Aktivitas Fisik dan Pola Makan
dengan Kejadian Hipertensi di Posyandu lansia Kelurahan Kedundung Kota
Mojokerto.

30
H.L. Blum (1974) berpendapat bahwa derajat kesehatan dipengaruhi oleh

empat faktor yaitu faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik.

Dalam kasus ini prevalensi hipertensi para lansia di Posyandu Kelurahan

Kedundung cukup tinggi, sebesar 1050 Jiwa pada Lansia dari 1995 Total

kejadian. Tingginya prevalensi ini peneliti duga dipengaruhi oleh faktor risiko

lingkungan sosial budaya setempat yang kemudian berpotensi berpengaruh kuat

terhadap perilaku atau gaya hidup masyarakat setempat. Dari observasi

pendahuluan faktor pola makan dan kegiatan olah raga kami duga kuat menjadi

faktor risiko tingginya kejadian hipertensi tersebut (Gambar III.1).

Kegiatan olahraga dapat menyebabkan metabolisme tubuh mmbaik dari

segi fisik dan mental. Ketika intensitas olah raga meningkat akan menyebab

pembuluh nadi ikut melebar yang memungkinkan lebih banyak aliran darah yang

tidak tertahan oleh otot-otot menjadi aktif, selain pelebaran pembuluh nadi ke

otot-otot yang bekerja,,aliran pembuluh nadi di jarigan yang tidak aktif lainya

dalam tubuh juga ikut diturunkan. Proses ini dicapai dengan kontraksi secara

tidak sadar oleh otot polos dalam pembuluh darah, peningkatan kontraksi otot

polos mengakibatkan penurunan aliran darah melalui kontraksi. Jumlah Total

ketahanan atau resistensi perifer total kealiran darah biasanya turun saat

berolahraga (Divine 2009).

Sedangkan pada pola makan yang dapat menyebabkan hipertensi adalah

pola konsumsi makanan siap saji dan pola makan berlebih, makanan yang

dimaksud adalah makanan yan kadungan garam, gula ,lemak dan kalori tinggi

tetapi kandungan gizi nya rendah, dimana menurut Sukmono tubuh

31
membutuhkan natrium untuk menjaga keseimbangan cairan dan mengatur

tekanan darah. Tetapi bila asupanya berlebih tekanan darah akan meningkat

akibat meningkanya retensi cairan dan bertambahnya volume darah. Konsumsi

garam tidak lebih dari 1,7 gram perhari akan menguntungkan dalam menurunkan

tekanan darah (Sukmono 2009).

B. Hipotesis Penelitian

Dari uraian di atas maka dapat disusun hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan antara kegiatan olah raga dengan kejadian hipertensi pada

pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari,

Kota Mojokerto

2. Terdapat hubungan antara pola makan dengan kejadian hipertensi pada

pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari,

Kota Mojokerto

32
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik,

dengan rancangan cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan dengan sekali

pengamatan pada suatu saat tertentu terhadap objek penelitian.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Posyandu lansia di Kelurahan Kedundung

Keamatan Magerari Kota Mojokerto Pada bulan Desember 2017 - Januari 2018.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2008), populasi adalah wilayah generalisir yang

terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Populasi dari penelitian ini adalah semua penduduk yang

berumur 60 tahun keatas yang menjadi anggota/ peserta posyandu lansia di

Kelurahan Kedundung Kota Mojokerto yang tercatat sejumlah 1105 orang,

yang terdiri atas:

Posyandu Randegan sebanyak 300 orang

Posyandu KDI Muria sebanyak 438 orang

Posyandu Malabar sebanyak 369 orang

(a + b + c = 1105 orang)

33
2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi dan merupakan kelompok kecil yang

secara nyata diteliti dan ditarik kesimpulan (Sukmadinata, 2009).

a. Besar sampel

Besar sampel ditentukan dengan formula sebagai berikut:

Z21-α/2 x p x q
n= -------------------
d2
n : besar sampel
Z1-α/2 : Nilai Z pada derajat kepercayaan (1-α)/2 sebesar 1,96.
p ; proporsi kejadian hipertensi lansia sebesar 0,....
q : 1 – p.
D : presisi (0,1)
(1,96)2 x 0,4 x 0,6
n = ---------------------------
(0,1)2

Besar sampel adalah 93 (n)

b. Teknik pengambilan sampel

Besar/proporsi sampel masing-masing Posyandu:

Sampel dari Posyandu A = 300/1105 x 93 = 26

Sampel dari Posyandu B = 438/1105 x 93 = 37

Sampel dari Posyandu C = 369/1105 x 93 = 32

(26+37+32 = 95)

34
Teknik pengambilan sampel dari masing-masing Posyandu dilakukan

secara consecutive sampai diperoleh sejumlah sub-sampel yang diperlukan

dan menurut kriteria sebagai berikut:

a. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu

populasi target yang terjangkau yang akan diteliti. Adapun kriteria

inklusi sampel yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

1) Lansia dari desa Kedundung berusia 60 tahun ke atas yang hadir

pada waktu pengumpulan data;

2) Bersedia menjadi subyek penelitian;

3) Bisa baca tulis;

b. Kriteria eksklusi

Kriteria ekslusi adalah keadaan yang menyebabkan subyek memenuhi

kriteria inklusi namun tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian.

Adapun kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu :

1) Yang mengalami penyakit yang berhubungan tekanan darah seperti

stroke, CKD, dsb.

2) Yang tidak hadir di Posyandu lansia pada saat pengumpulan data.

D. Variabel Penelitian

Variabel-variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel terikat dan variabel

bebas

1. Variabel terikat : Hipertensi

2. Variabel bebas :

35
a. Aktivitas fisik

b. pola makan.

E. Definisi Operasional

Tabel IV.1 Definisi Operasional, Cara Ukur, Kategori dan Skala Data.

Variabel Definisi Cara Ukur Kategori Skala

AKTIVITAS KEGIATAN responden Kuisioner 1. baik: bila Ordinal


FISIK dalam melakukan aktivitas skor 25-
fisik/ olahraga ringan dalam 20.
kehidupan sehari hari, yang 2. kurang
dinyatakan pada 10 baik: bila
pertanyaan dalam kusioner, skor 16-
dengan nilai kegiatan yang
24
bukan faktor risiko thd
3. tidak baik:
hipertensi diberi nilai 3,
bila skor
yang kurang berisiko nilai 2
<16.
dan yang berisiko nilai 1.
Jumlah skor 30 dgn.
Kategori:

1.baik;

2.kurang baik;

3.Tidak baik

POLA KEGIATAN responden Kuisioner baik: bila Ordinal


MAKAN untuk konsumsi makanan skor 25-
dalam kehidupan sehari 20.
hari, yang dinyatakan pada 2. kurang
10 pertanyaan dalam baik: bila
kusioner, dengan nilai skor 16-
kegiatan yang bukan faktor
24
risiko thd hipertensi diberi
3. tidak baik:
nilai 3, yang kurang berisiko
bila skor
nilai 2 dan yang berisiko
nilai 1. Jumlah skor 30 dgn. <16.
Kategori:

36
1.baik;

2.kurang baik;

3.Tidak baik

Variabel Definisi Cara Ukur Kategori Skala

HIPERTENSI Kondisi seseorang yang Memeriksa tekanan1. Tidak Nominal


memiliki tekanan darah darah dengan hipertensi,
sistolik ≥ 140 mmHg dan/ Sphigmomanometer jika TDS <
atau diastolik ≥ 90 mmHg, digital 140mmHg
dengan kategori; dan/atau
Oleh tenaga medis TDD <
1. .hipertensi yang kompeten. 90mmHg.
2. .normal
2. Hipertensi,
jika TDS ≥
140mmHg
dan/atau
TDD ≥ 90
mmHg.

37
F. Prosedur Penelitian/Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Langkah - langkah

Gambar IV.1 Alur Penelitian tentang Hubungan antara Aktivitas Fisikdan Pola Makan
dengan Kejadian Hipertensi Lansia di Posyandu Lansia Desa Kedundung, Kecamatan
Magersari, Kota Mojokerto.

Alur penelitian melibatkan langkah-langkah sebagai berikut (Lihat Gambar IV.1):

a. Menyiapkan subyek penelitian yaitu sejumlah penduduk lansia dari

Posyandu A, B dan C .

b. Mengidentifikasi lansia Posyandu A, B dan C yang memenuhi kriteria

inklusi.

c. Memberi penjelasan untuk mendapatkan informed consent.

d. Menentukan kriteria inklusi dan eksklusi pada calon subyek;

38
e. Menentukan subyek sejumlah individu yang pasti menjadi subyek

penelitian;

f. Memberikan kondisi tertentu pada masing-masing kelompok studi dan

pengukuran variable dengan kuesioner yang telah disiapkan.

g. Pengolahan dan analisis data hasil penelitian

2. Kualifikasi dan jumlah tenaga yang terlibat dalam pengumpulan data

a. Seorang tenaga pengukur tekanan darah yang kompeten.

b. Empat orang tenaga kesehatan/dokter muda yang membantu

menjelaskan/melakukan pengisian kuesioner atau wawancara dengan

subyek penelitian.

3. Pengumpulan data

a. Prosedur pengumpulan data

Data sekunder dikumpulkan dari beberapa instansi diantaranya Puskesmas, Kantor

Kelurahan dan sumber-sumber lain yang terkait. Sedangkan data primer

dikumpulkan melalui wawancara dengan subyek penelitian serta pengukuran

tekanan darah subyek penelitian.

b. Jadwal waktu pengumpulan data

Tabel IV.2 Jadwal Waktu Pengumpulan Data dan Penyusunan


Laporan

No. Waktu Kegiatan Keterangan


1 – Januari 2018 Persiapan peralatan, tenaga, tempat
penelitan.
2 Januari 2018 Pengukuran dan wawancara

39
3 -Januari 2018 Pengolahan data dan analisis data.
4 -Januari 2018 Penyusunan laporan penelitian
5 Januari 2018 Presentasi
6 Januari 2018 Revisi/perbaikan Tugas Akhir

4. Alat, bahan, instrumen pengumpulan data

a. Kuesioner;

b. Tabel dummy;

c. Alat tulis.

5. Teknik pengolahan data

Data yang telah dikumpulkan diolah dengan menggunakan program SPSS

(Statistic Product Service Solution) melalui beberapa tahap, yaitu :

a. Editing

Editing adalah pengecekan kembali apakah isian pada lembar kuesioner

sudah sesuai dan lengkap dengan absen jawaban yang telah disediakan.

b. Coding

Setiap lembar kuesioner yang telah diisi oleh responden diberi kode

yang dilakukan oleh peneliti agar lebih mudah dan sederhana.

c. Processing

Processing adalah memproses data dengan menggunakan menggunakan

perhitungan manual odds ratio.

d. Cleaning

40
Mengecek kembali data yang sudah diproses apakah ada kesalahan atau

tidak ada masing-masing variabel yang sudah di proses sehingga dapat di

perbaiki dan di nilai.

G. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan uji

Spearman untuk menguji hipotesis statistik sebagai berikut:

a. H0 : tidak ada hubungan antara kegiatan olah raga dengan kejadian

hipertensi pada pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung,

Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto

H1 : Terdapat hubungan antara kegiatan olah raga dengan kejadian

hipertensi pada pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung,

Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto

b. H0: tidak ada hubungan antara pola makan dengan kejadian hipertensi

pada pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung,

Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

H1: Ada hubungan antara pola makan dengan kejadian hipertensi pada

pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung, Kecamatan

Magersari, Kota Mojokerto

41
BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kelurahan kedundung, Kecamatan Megersari

pada bulan Desember 2017.Kelurahan Kedundung adalah salah satu kelurahan

yang terletak di Kecamatan megersari Kota Mojokerto. Luas wilayah yaitu 2,29

Km2 dengan jumlah penduduk terdiri dari 1287 KK. Penduduk dalam Kelurahan

kedundung mempunyai pekerjaan sebagai petani dan Ibu Rumah Tangga.

Sedangkan tingkat pendidikan penduduk sebagian besar masih rendah.

Batas wilayah Kelurahan Kedundung sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Wates

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Gunung Gedangan

3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Bolongsari

4. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kepuhanyar

B. Karateristik Responden

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner di Kelurahan Kedundung,

diperoleh data yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

42
1. Umur responden

Tabel V.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Kelurahan


KedundungKecamatan Megersari, Kota Mojokerto

Umur Frekuensi Persentase %


60-74 tahun 63 66.3 %
75-90 tahun 32 33.6 %
>90 Tahun 0 0%
Total 95 100%
Sumber: Hasil Survei, 2017

Umur
Responden
60-74
tahun
75-90
tahun

Gambar V.1 Proporsi Responden Berdasarkan Umur di kelurahan


kedundung, Kecamatan Megersari kota Mojokerto

Tabel V.1 dan Gambar V.1 menunjukkan bahwa dari 95 responden

yang diteliti, sebagian besar responden di Kelurahan Kedundung (66.3%)

berusia 60-74 tahun. dan sebanyak 33.6% berusia75-90 tahun.

2. Jenis Kelamin Responden

Tabel V.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di


Kelurahan KedundungKecamatan Megersari, Kota
Mojokerto

Jenis Kelamin Persentase %


Laki Laki 21%
Perempuan 79 %

95 100%
Sumber: Hasil Survei, 2017

43
Jenis Kelamin
Perempu
an
Laki Laki

Tabel V.2 dan Gambar V.2 menunjukkan Jenis Kelamin Responden

79% adalah perempuan, dan 21% adalah laki laki.

3. Pola Makan

Tabel V.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pola Makan di


Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto

Pola Makan Frekuensi Persentase %


Baik 62 65.2
Cukup 31 32.6
Kurang 2 2.1
Total 95 100.0
Sumber: Hasil Survei, 2017

Pola Makan
Baik
Cukup
Kurang

Gambar V.3 Proporsi Responden Berdasarkan Pola Makan di


Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota
Mojokerto

Tabel V.3 dan Gambar V.3 menunjukkan bahwa Pola Makan Lansia di

Kelurahan Kedundung umumnya sudah Baik yaitu sebanyak 65,2%, pola

makan yang cukup sebanyak 32,6 % dan Pola Makan yang kurang sebanyak

2,1%

44
4. Aktivitas Fisik

Tabel V.4. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Aktivitas fisik di


Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto

Aktivitas Fisik Frekuensi Presentase


Baik 42 44,2%
Cukup 51 64,2%
Kurang 2 2,1%
Total 95 100%
Sumber: Hasil Survei, 2017

Aktifitas Fisik
Baik
Cukup
Kurang

Gambar V.4. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Aktivitas


fisik di Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto

Tabel V.4 dan Gambar V.4 menunjukkan bahwa sebagian besar

responden (64,2%) di kelurahan kedundung beraktivitas cukup, (44,2%)

berAktivitas Baik dan (2,1%) berAktivitas Kurang.

C. Analisis

Setelah diketahui karakteristik masing-masing variabel (univariat) dapat

diteruskan dengan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel.

Berikut ini akan disajikan hasil pengujian menggunakan uji Spearman

Correlation.

45
Tabel V.5 Hubungan Aktivitas Fisik terhadap kejadian Hipertensi di
Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto

Kejadian Hipertensi
Aktivitas Fisik Total p value
Tidak Hipertensi
Hipertensi
Baik 25 (59,5%) 17 (40,5%) 42 (100%)
Cukup 10(19,6%) 41 (80,4%) 51 (100%)

Kurang 1 (50,0%) 1 (50,0%) 2 (100%) 0,002

Total 36 (37,9%) 59 (62,1%) 95 (100%)


Sumber : Hasil Survei, 2017

Berdasarkan hasil tabulasi silang tabel V.5 dapat diketahui bahwa

responden dengan Aktivitas fisik baik (40,5%) mengalami hipertensi. Sedangkan

responden dengan Aktivitas Fisik Cukup (80,4%) mengalami Hipertensi. Dan

responden dengan Pola Makan yang Kurang (50%) mengalami Hipertensi

Dan berdasarkan hasil uji statistik Tabel V.5 dengan Spearman correlation

test diperoleh nilai Sig. (P) = 0,036 (P < 0,05) sehingga Ho ditolak atau H1 diterima

artinya Terdapat hubungan antara kegiatan olah raga dengan kejadian hipertensi

pada pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari,

Kota Mojokerto. Dapat di simpulkan semakin kurang Aktivitas Fisik responden

semakin meningkat kejadian hipertensi responden.

46
Tabel V.6 Pola Makan terhadap kejadian Hipertensi di Kelurahan
Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto

Kejadian Hipertensi
Pola Makan Total p value
Tidak Hipertensi
Hipertensi
Baik 34 (54,8%) 28 (45,2%) 62 (100%)
Cukup 2(6,5%) 29 (93,5%) 31 (100%)

Kurang 0 (0,0%) 2 (100%) 2 (100%) 0,002

Total 36 (37,9%) 59 (62,1%) 95 (100%)


Sumber : Hasil Survei, 2017

Berdasarkan hasil tabulasi silang tabel V.6 dapat diketahui bahwa

responden dengan Pola makan baik (45,2%) mengalami hipertensi. Sedangkan

responden dengan Pola Makan Cukup (93,5%) mengalami Hipertensi. Dan

responden dengan Pola Makan yang Kurang Hipertensi Seluruhnya (100%)

Dan berdasarkan hasil uji statistik Tabel V.6 dengan Spearman

correlation test diperoleh nilai Sig. (P) = 0,036 (P < 0,05) sehingga Ho ditolak

atau H1 diterima artinya Terdapat hubungan antara pola makan dengan

kejadian hipertensi pada pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung,

Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Dapat di simpulkan semakin kurang

pola makan responden semakin meningkat kejadian hipertensi responden.

47
BAB VI
PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa ada

hubungan antara Aktivitas Fisik dan Pola Makan dengan tingkat kejadian

Hipertensi pada usia lanjut.

Jenis Kelamin Persentase %


Laki Laki 79 %
Perempuan 21 %

95 100%
Berdasarkan Tabel V.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden

dalam penelitian ini adalah perempuan yaitu 79% dan responden laki-laki sebanyak

21%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Perry & Potter (2005) yang

mengatakan bahwa wanita cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi

daripada pria. Menurut MN. Bustan (1997) bahwa wanita lebih banyak yang

menderita hipertensi dibanding pria, hal ini disebabkan karena terdapatnya hormon

estrogen pada wanita. Hormon estrogen ini kadarnya akan semakin menurun setelah

menopause (Armilawati, 2007). Prevalensi hipertensi pada wanita (25%) lebih

besar pria (24%) (Tesfaye et al, 2007).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan menggunakan data Riskesdas tahun

2007, prevalensi hipertensi pada perempuan lebih besar dibandingkan dengan laki-

laki yaitu 50,3% dan 49,7% (Rahajeng, dkk, 2009). Hasil analisis peneliti

menunjukkan jumlah penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kedundung

terbanyak jenis kelamin perempuan dibanding laki-laki, yang sebagian besar sudah

menikah dan menjadi ibu rumah tangga (FAO, 2001).

48
Kejadian Hipertensi
Aktivitas Fisik Total p value
Tidak Hipertensi
Hipertensi
Baik 25 (59,5%) 17 (40,5%) 42 (100%)
Cukup 10(19,6%) 41 (80,4%) 51 (100%)

Kurang 1 (50,0%) 1 (50,0%) 2 (100%) 0,036

Total 36 (37,9%) 59 (62,1%) 95 (100%)

Berdasarkan Tabel V.5 diketahui bahwa responden yang Cukup

aktif menjalani aktivitas fisik, di dapatkan menderita Hipertensi sebanyak

80,4%, sedangkan pada kelompok yang terbilang aktif tekanan darah

cenderung dalam batas normal 59,5%.

Kejadian Hipertensi
Pola Makan Total p value
Tidak Hipertensi
Hipertensi
Baik 34 (54,8%) 28 (45,2%) 62 (100%)
Cukup 2(6,5%) 29 (93,5%) 31 (100%)

Kurang 0 (0,0%) 2 (100%) 2 (100%) 0,036

Total 36 (37,9%) 59 (62,1%) 95 (100%)

Berdasarkan Tabel V.6 diketahui bahwa responden yang kurang menjaga

pola makan, di dapatkan menderita Hipertensi sebanyak 100%, sedangkan pada

kelompok yang terbilang mejaga pola makan tekanan darah cenderung dalam batas

normal 54,8%.

Mennurut Rurmi et al( 2005), Motivasi yang ada di dalam diri individu

yang mendorong untuk bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan fisik seperti

kebutuhan jasmani, raga, materi benda atau berkaitan dengan alam. Faktor fisik

merupakan yang berhubungan dengan kondisi seseorang meliputi kondisi panca

indra, stamina yang baik dan mampu berAktivitasvdan keseimbngan porsi tidur.

49
Dimana lansia yang memiliki kondisi fisik yang kuat atau sehat akan termotivasi

melakukan olaharaga senam lansia.

Sedangkan pada pola makan pada individu dipengaruhi oleh faktor-faktor

antara lain budaya, agama/kepercayaan, psikososial, status ekonomi, kesukaan

terhadap makanan, rasa lapar/nafsu makan dan rasa kenyang serta kesehatan

individu. Yang paling sering ditemui adalah segi dari sosial, pada lansia mengalami

penurunan interaksi antara diri lansia dengan lingkungan. Hal tersebut bisa terjadi

karena lansia mulai menarik diri dari kehidupan sosial, status kesehatannya

menurun, penghasilan berkurang, dan terbatasnya program untuk memberi

kesempatan lansia untuk tetap berinteraksi dan berAktivitas Menurunnya keinginan

berAktivitas dengan lingkungan berpengaruh terhadap keinginan mengkonsumsi

makanan/pola makan, karena kebutuhan kalori yang terbatas. Apabila dibiarkan

berlanjut tentunya akan mempengaruhi keadaan status gizi lansia (Maryam, 2008)

Hasil uji statistik penelitian ini menunjukkan bahwa H1 diterima dan H0

ditolak, hal ini berarti bahwa ada Terdapat hubungan antara kegiatan olah raga

dengan kejadian hipertensi pada pengunjung Posyandu lansia Kelurahan

Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto oleh karena itu perlu dicari

terobosan cara agar penderita hipertensi khususnya di Kelurahan Kedundung,

Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto agar lebih aktif mengikuti kegiatan

aktivitas fisik rutin yang sesuai dengan kedaan kemampuan fisik individu seperti

mengikuti kegiatan senam lansia atau Aktivitas fisik ringan seperti mengerjakan

kegiatan rumah (ex: bersih bersih rumah, memasak atau mencuci) dan juga agar

tetap dihimbau untuk selalu menjaga Pola makan yang sehat rendah, garam dan

lemak namun tetap sederhana. Namun tingkat kejadian hipertensi pada usia lanjut

50
ini bukan hanya dipengaruhi oleh aktivisik dan pola makan saja tetapi, ada hal lain

yang mempengaruhi peningkatan tekanan darah seseorang misalnya faktor

psikis,pikiran, genetik dan obesitas.

51
BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut :

1. Sebagian besar responden kelompok Usia lanjut yang datang ke

Posyandu Lansia Wilayah kelurahan Kedundung ,Kecamatan

Magersari, Kota Mojokerto. Yang Aktif dalam melakukan kegiatan fisik

dengan nilai Baik sebanyak (59,5%) Cukup (80,4%) Kurang (50 %) dan

yang menjaga Pola makan dengan nilai Baik sebanyak (54,8%), Cukup

(93,5%), Kurang (100%)

2. adanya hubungan antara kegiatan Aktivitas fisik dengan kejadian

hipertensi pada pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung,

Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Dapat di simpulkan semakin

kurang Aktivitas Fisik responden semakin meningkat kejadian

hipertensi responden.

3. adanya hubungan antara Pola makan dengan kejadian hipertensi pada

pengunjung Posyandu lansia Kelurahan Kedundung, Kecamatan

Magersari, Kota Mojokerto. Dapat di simpulkan semakin kurang pola

makan responden semakin meningkat kejadian hipertensi responden.

52
B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat

disampaikan adalah sebagai berikut:

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran subjek

penelitian akan risiko kejadian hipertensi di lingkungannya dan faktor risiko

yang berhubungan dengan kejadian hipertensi.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi pusat

pelayanan kesehatan di sekitar subjek penelitian untuk menyusun program

promosi kesehatan untuk mengendalikan faktor risiko hipertensi dalam

rangka menurunkan angka kejadian hipertensi.

3. Hasil penelitain ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi

institusi pendidikan, khususnya bagian Ilmu Kedokteran Masyarakat yang

dapat bekerjasama dengan mahasiswa untuk meningkatkan strategi

intervensi untuk mengendalikan faktor risiko hipertensi.

4. Melakukan Upaya promotif dan preventif dengan penyediaan leaflet dan

poster mengenai faktor risiko hipertensi dan mempromosikan gaya hidup

sehat untuk mencegah hipertensi dan membudayakan BerAktivitas fisik

Secara ideal dengan tetap memperhatikan pola makan dan istirahat teratur.

5. Melakukan Upaya promotif dan preventif dengan penyuluhan kesehatan

secara berkala tentang faktor-faktor risiko hipertensi.

53
DAFTAR PUSTAKA
Aggie C & Herbert B. (2006). Menurunkan Tekanan Darah. (Nirmala
Devi,Penerjemah.).Jakarta: Bhuana Ilmu Populer

Armilawati,dkk. (2007). Hipertensi dan faktor risikonya dalam kajian


epidemiologi. Makassar: Bagian Epidemiologi FKM UNHAS.

Baradero, Mary. Dayrit, Mary Wilfrid. & Siswadi, Yakobus. 2008. Klin Gangguan
Kardiovaskular: Seri Asuhan Keperawatan. Jakrta : Egc.

Burnier M, Schneider MP, Chiolero A, Stubi CL, Brunner HR. (2001), Electronic
Compliance Monitoring in Resistant Hypertension: the Basis for
Rationaltherapeutic Decisions. Journal of Hypertension.

Dalimartha,Setiawan,dkk. (2008). Care Your Self Hipertensi. Jakarta: Penebar Plus.

Departemen Kesehatan R.I., (2006), Pharmaceutical Care Untuk Penyakit


Hipertensi, Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Divine, J.G. 2009. Program Olahrag: Tekanan Darah Tinggi. PT Citra Parama:
Yogyakarta.
Erin, Hanssen. 2000. Exercise and the Eldery: An Important Prescription. TOH,
Civic Campus.

Farizati Karim. 2002. Panduan Kesehatan Olahraga Bagi Petugas Kesehatan.


Depkes RI.

Fatimah. (2010). Gizi Usia Lanjut. Jakarta : Erlangga.

Gunawan., (2008), Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Departemen Farmakologi dan


Terapeutik Fakutas Kedokteran UI, Jakarta

Junaidi, & Iskandar (2010).Hipertensi ( Pengenalan, pencegahan, dan pengobatan).


Jakarta : PT ;huana &lmu Populer

Kathy Gunter. 2002. Healthy, Active Aging: Physical Activity Guidelines for
Older Adults. Oregon State University.

Kemenkes Kesehatan RI, 2011. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun


2011-2014.Jakarta

Kosasih dan Hassan, I., (2013), Patofisiologi Klinik, Jakarta: Binarupa Aksara
Publisher.

54
Krisnatuti D, Yenrina R. (2005). Perencanaan Menu Bagi Penderita Jantung
Koroner. Jakarta: Trubus Agriwidya

Krummel DA. (2004).Food, Nutrition and Diet Therapy. USA: Saunders


Corporation.

Kuswardhani RA Tuty, (2006). Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lanjut Usia.


(Online), Jurnal Penyakit Dalam Vol.7 No.2 mei 2006. Denpasar: Divisi
Geriatri. Bagian Penyakit Dalam FK Unud, RSUP Sanglah.
(http://ojs.unud.ac.id/index.php/jim/article/download/3757/2755, diakses 15

Khomsan, A. 2004.Pangan dan gizi untuk kesehatan. Jakarta. PT Raja Grafindo


PersadaNovember 2013)

Martiani ayu, Lelyana Rosa. (2012). Faktor Risiko Hipertensi Ditinjau Dari
Kebiasaan Minum Kopi (Studi Kasus Di Wilayah Kerja Puskesmas Ungaran
Pada Bulan Januari-Februari 2012). Journal of Nutrition Collage vol.1 no. 1
Hal. 78-85 2012. (http://lib.umpo.ac.id/gdl/files/disk1/5/jkptumpo-gdl-
vendyikfha-233-1 abstrak-i.pdf

Nina Waaler. 2007. It’s Never Too Late: Physical Activity and Elderly People.
Norwegian Knowledge Centre for the Health Services.

Niven, N., (2002), Psikologi Kesehatan, Edisi 2, EGC, Jakarta.

Rahajeng Ekowati, Sulistyowati Tuminah. (2009). Prevalensi Hipertensi dan


Determinannya di Indonesia. Majalah kedokteran Indonesia, Vol. 59 No. 12
Ed. Desember 2009. Jakarta: Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi Badan
Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Rurmi. dkk. Dasar-dasar Kebutuhan Manusia. Jakarta: EGC. 2005.

Setiawan (2008). Care Your Self Hipertensi. Jakarta, Penebar Plus.

Slamet, Suprapti dan Sumarmo Markam. 2007. Pengantar Psikologi


Klinis.Jakarta : UI Press
Sukmono. 2009. Mengatasi Aneka Penyakit Dengan Terapi Herbal.
Jakarta:Agromedia Pustaka.

Surya darma A 2013. Terapi diet pada penderita hipertensi, Rumah Sakit
Universitas Surabaya.
Tesfaye F et al. 2007. Association between body mass index and blood pressure
across

55
www.depkes.go.id. . Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Diakses tanggal
10 Nopember 2013, Jam 16.07 WIB.
Maryam, R. Siti, dkk. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:
Salemba Medika.
WHO.(2014). Adolescents friendly health servicesin the South-East Asia Region.
Report of a Regional Consultation, Bali, Indonesia. NewDelhi: WHO
Regional Offi ce for SouthEastAsia.

Yofina,Angraini.(2012).Superkomplet Pengobatan Dara Tinggi.Jogjakarta:Araska

56
Lampiran 1: Pengantar Kuisioner

PENGANTAR KUISIONER
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DAN POLA MAKAN,
DENGAN TINGKAT KEJADIAN HIPERTENSI PADA USIA LANJUT DI
POSYANDU LANSIA PADA WILAYAH KELURAHAN KEDUNDUNG
KOTA MOJOKERTO

KUESIONER PENELITIAN

I. Pengantar

Assalamualaikum Wr.Wb, Salam Sejahtera

Dengan hormat,

Kami dokter muda dari Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma


Surabaya akan meneliti di Posyandu Landis di wilayah Kelurahan Kedundung,
tentang “Hubungan antara Aktivitas Fisik, Dan Pola Makan Dengan Tingkat
Kejadian Hipertensi pada Usia lanjut di Posyandu Lansia di wilayah
Kelurahan Kedundung Kota Mojokerto”. Besar harapan kami bapak/ibu
bersedia menjadi responden penelitian ini.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Aktivitas fisik dan Pola
makan, dengan tingkat kejadian hipertensi pada usia lanjut. Sebelumnya kami
ucapkan terima kasih kami atas partisipasi bapak/ibu. Semoga penelitian ini
bermanfaat untuk kita semua

Januari 2018,

Peneliti

57
Lampiran 2: Inform Concent

II. INFORMED CONSENT (LEMBAR PERSETUJUAN)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama :

Alamat :

Bersedia mengisi kuesioner untuk menunjang penelitian yang berjudul


“Hubungan antara Aktivitas Fisik, Dan Pola Makan Dengan Tingkat
Kejadian Hipertensi pada Usia lanjut di Posyandu Lansia di wilayah
Kelurahan Kedundung Kota Mojokerto.” yang diadakan dokter muda fakultas
kedokteran universitas wijaya kusuma Surabaya pada Januari 2018 dengan
sukarela, tanpa paksaan apapun.

Januari 2018

( )

58
Lampiran 3: Kuisioner

III. PETUNJUK PENGISIAN

1. Berilah tanda silang untuk jawaban yang benar atau sesuai dengan pendapat
Bapak/Ibu.
2. Perhatikan pertanyaan dengan seksama

IV. KUESIONER
A. Karakteristik Umum Responden
1. Jenis kelamin :
a. Laki-laki;
b. Perempuan;
2. Umur:
a. 60 -64 tahun
b. 65 – 69 tahun;
c. 70 – 74 tahun
d. ≥ 75 tahun.
3. Pendidikan terakhir
a. SD;
b. SMP;
c. SMA;
d. Perguruan Tinggi/Akademi;
4. Apakah Bp/Ibu masih produktif/aktif secara ekonomi (bekerja)?
a. Ya (prodotif);
b. Tidak;
5. Bila masih produktif/aktif secara ekonomi (bekerja) apa alasan utamanya?
a. Menghidupi keluarga;
b. Mengisi waktu luang;
6. Status menurut riwayat pekerjaan Bp/Ibu?
a. Pensiunan;
b. Bukan pensiunan;

59
7. Apabila Bp/Ib tidak bekerja (aktif secara ekonomi) bagaimana cara
mengisi waktu?
a. Membantu merawat anak/cucu/keluarga.
b. Mengikuti kegiatan sosial di kampung;
c. Kegiatan tidak menentu;

B. Aktivitas Fisik

Baik Bapak/Ibu memiliki pekerjaan maupun tidak pasti melakukan


kegiatan fisik. Mohon dijawab sesuai kondisi sebenarnya.

1. Apakah dalam melkukan kegiatan setiap harinya Bp/Ibu mengangkat


beban?
a. Lebih banyak mengangkat beban;
b. Kadang-kadang;
c. Tidak pernah;
2. Apakah dalam melakukan kegiatan dilakukan dengan berdiri?
a. Lebih banyak berdiri;
b. Kadang-kadang;
c. Duduk;
3. Apakah dalam melakukan kegiatan Bapak/Ibu melakukannya dengan
berjalan?
a. Lebih banyak dilakukan dengan berjalan;
b. Kadang-kadang;
c. Tidak;
4. Apakah kegiatan fisik Bapak/Ibu menyebabkan rasa lelah;
a. Ya;
b. Kadang-kadang;
c. Tidak;
5. Apakah dalam melakukan pekerjaan Bp/Ibu sampai mengucurkan
keringat?
a. Ya;
b. Kadang-kadang;

60
c. Tidak pernah;
6. Berapa lama Bp/Ibu melakukan kegiatan fisik dalam seharinya?
a. 6 – 8 jam;
b. 3 – 5 jam;
c. Kurang dari 3 jam;
7. Dalam melakukan kegiatan Bp/Ibu sehari-hari apakah waktu istirahat
cukup?
a. Kurang;
b. Cukup;
c. Lebih dari cukup;
8. Dalam melakkan kegiatan sehari-hari apakah Bp/Ibu menggunakan sspeda
atau jalan kaki?
a. Ya;
b. Kadang-kadang;
c. Tidak pernah;
9. Apakah dalam mengisi waktu Bapak/Ibu melakukan olah raga?
a. Selalu;
b. Kadang-kadang;
c. Tidak pernah;
10. Dalam seminggu seberapa sering Bapak/Ibu berolah raga/senam?
a. 3 x atau lebih;
b. 1 – 2 kali;
c. Tidak pernah;

Aktifitas Fisik:

Jawaban: a diberi skor 3;


b diberi skor 2;
c diberi skor 1;
Jumlah skor terbanyak 30;
Skor 25 – 30 dinilai BAIK
Skor 16 – 24 dinilai CUKUP
Skor < 16 dinilai KURANG

C. Pola Makan

1. Berapa kali Bp/Ibu makan dalam sehari?

61
a. 3 kali sehar
b. 1 – 2 kali sehari
c. Lebih dari 3 kali sehari

2. Apakah makanan yang Bp/Ibu konsumsi, di masak sendiri?


a. Ya (Selalu dimasak sendiri)
b. Kadang-kadang;
c. Umumnya membeli;

3. Umumnya Bk/Ibu menyukai masakan yang asin?


a. Tidak;
b. Kadang-kadang;
c. Sangat menyukai;

4. Bagaimana sajian sayur-sayuran dalam menu yang dihidangkan untuk


Bp/Ibu?
a. Harus selalu ada;
b. Kadang-kadang saja;
c. Sayur tidak menjadi keharusan;
5. Menu makanan yang Bp/Ibu sukai jenis kelompok makanan yang mana?
a. Lebih menyukai yang direbus tetapi sesekali suka yang digoreng;
b. Menyukai baik yang direbus maupun yang digoreng;
c. Selalu tersedia yang digoreng atau dimasak santan;

6. Apakah keluarga Bp/Ibu sering konsumsi makanan yang diawetkan seperti


ikan asin, telor asin, dendeng?
a. Saya menghindarinya;
b. Kadang-kadang saya mengonsumsi;
c. Menu tersebut selalu tersedia di persediaan bahan makanan saya;

7. Apakah Bp/Ibu sering mengkonsumsi makanan ringan yang mengandung


garam natrium seperti Kripik, Biskuit dan makanan kering lainya?
a. Sangat jarang;
b. Kadang-kadang;
c. Sering/hampir setiap hari;

8. Apakah Bp/Ibu menyulkai/meminum minuman bersoda?


a. Tidak suka;
b. Kadang-kadang/ hanya kalau kepingin;
c. Sangat suka/hampir setiap mingu atau kurang;

62
9. Apakah Bp/Ibu pernah mengkonsumsi minuman beralkohol
a. Tidak sama sekali
b. Kadang-kadang/ belum tentu dua mingg sekali;
c. Sering/hamper setiap minggu atau kurang;

10. Apakah anda sering mengkonsumsi jamu jamuan?


a. Sering (setiap hari)
b. Jarang (kurang 3 kali seminggu)
c. Tidak sama sekali

Pola Makan:

Jawaban: a diberi skor 3;


b diberi skor 2;
c diberi skor 1;
Jumlah skor terbanyak 30;
Skor 25 – 30 dinilai BAIK
Skor 16 – 24 dinilai CUKUP
Skor < 16 dinilai KURANG

63
Lampiran 4: Tabulasi SPSS
Data Crosstab dan Chi-square Hubungan antara Aktivitas Fisik dan Pola
makan dengan tingkat kejadian Hipertensi di Posyandu Lansia di Wilayah
Kelurahan Kedundung Kota Mojokerto.

Aktifitas Fisik

64
Pola Makan:

65