Prosiding PPI Standardisasi 2009 - Jakarta, 19 November 2009

STANDARDISASI PENGAWETAN KAYU DAN BAMBU SERTA PRODUKNYA
Barly1
Abstrak Kayu, bambu dan produknya lama-kelamaan akan rusak, terutama disebabkan oleh organisme perusak kayu (OPK), seperti: bakteri, jamur, dan serangga. Pencegahan OPK dapat dilakukan dengan proses pengawetan, yaitu memasukkan bahan kimia beracun ke dalam kayu. Keberhasilan pengawetan selain ditentukan oleh sifat efikasi bahan pengawet juga bergantung pada sifat keterawetan kayu yang dicirikan oleh jenis kayu itu sendiri, keadaan kayu pada saat diawetkan, teknik dan bahan pengawet yang digunakan. Untuk dapat menjamin mutu hasil pengawetan yang baik diperlukan sistem pengawasan yang ketat. Guna keperluan pengawasan diperlukan ada spesifikasi atau standar yang memuat syarat dan proses pengawetan untuk berbagai jenis komoditas sebagai pedoman. Kata kunci: standardisasi, pengawetan, kayu, bambu
Oleh

1

Peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor

1

) dan keruing (Dipterocarpus sp. konsumen pemakai kayu akan memperoleh 2 . pertama dilakukan pada dolok segar yang baru dipotong dan kayu gergajian basah terhadap serangan jamur biru dan kumbang ambrosia atau disebut pengawetan sementara (prophylactyc treatment). karena berasal dari pohon yang muda. Selain kayu. Beberapa jenis kayu yang sudah lama dikenal baik seperti jati (Tectona grandis L. 154 jenis terdapat di Indonesia. yaitu kelas awet I dan II (14. Industri pengolahan tersebut mempunyai peran strategis bagi perekonomian daerah dan negara karena mampu menyediakan lapangan pekerjaan. bambu termasuk bahan berlignoselulosa yang banyak digunakan masyarakat sebagai bahan konstruksi dan barang kerajinan. Selain itu.000 jenis tumbuhan yang berkembang biak dengan biji (Spermatophyta). hanya sebagian kecil saja yang memiliki keawetan tinggi. baik dalam jumlah (volume) maupun mutu yang sesuai dengan kebutuhan. Tindakan pencegahan.233 jenis kayu yang sudah dikumpulkan. kayu rakyat.). bertujuan untuk meningkatkan keawetan atau daya tahan kayu terhadap OPK.3%) dan sisanya merupakan bagian terbesar yaitu 85. mudah diserang jamur dan serangga. Pengawetan kayu pada dasarnya merupakan tindakan pencegahan terhadap serangan organisme perusak kayu (OPK). meningkatkan pendapatan masyarakat dan devisa bagi negara. Bambu memiliki keawetan yang rendah. 131 jenis di antaranya merupakan tumbuhan asli (Wijaya et al. kayu perkebunan dan kayu kurang dikenal yang umumnya memiliki sifat inferior.Jakarta. di Indonesia terdapat lebih dari 25.f) dan mahoni (Swietenia sp. antara lain keawetannya rendah. Sifat tidak awet tersebut di atas tetap tidak berubah bila kayu dan bambu itu diolah menjadi suatu produk. pencegahan yang bersifat jangka panjang atau permanen. kurang atau tidak awet (Martawijaya.. 19 November 2009 I PENDAHULUAN Menurut Tantra (2002).) mulai langka dan mahal harganya. Bahkan.2007). Kayu dan bambu merupakan bagian dari unsur komunitas hutan. seperti jamur.f. kamper (Dryobalanops sp. melalui pengawetan mutu dan volume kayu dapat ditingkatkan.7% mempunyai keawetan rendah.). 2004).Prosiding PPI Standardisasi 2009 . 2000). menambah ketersediaan kayu dan membuka peluang pasar. Salah satu masalah yang dihadapi industri pengolahan kayu saat ini adalah berkenaan dengan ketersediaan bahan baku. kayu jati (Tectona grandis L. Kedua. Dari 3.1974). Tindakan tersebut lebih dikenal dengan istilah pengawetan. Dari sekitar 1500 jenis bambu di dunia. Komoditas ini kemudian dipungut dan diangkut ke luar dari lingkungan hutan dan masuk ke dalam lingkungan pemukiman manusia untuk diolah melalui proses industri menjadi barang yang sesuai dengan keperluan manusia (Tarumingkeng. kebutuhan dipenuhi oleh jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman. merbau (Intsia spp. Jenis kayu kurang awet dan belum digunakan dapat dimanfaatkan dengan baik menjadi berbagai macam produk yang berarti dapat mencegah pemborosan. serangga dan binatang laut penggerek kayu. Sebagai alternatif. Dengan demikian.) yang sudah lazim digunakan untuk barang kerajinan dan mebel. sekarang banyak diserang bubuk (Hartono.

sebagai sarana produksi. Bahan pengawet pelarut organik dipakai pada pengawetan kayu kering. II DASAR TEORI Pengawetan kayu. 2007). Bahan Pengawet Bahan pengawet kayu yang dapat digunakan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar. Penerapannya dapat dilakukan dengan berbagai macam cara mulai dari cara sederhana. api (fire). Pengawetan dapat dilakukan dengan dua cara.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . pencelupan. seperti pelaburan. bambu dan produknya. yaitu masuk ke dalam jaringan kayu kemudian bersentuhan atau dimakan oleh hama (sistemik) atau sebagai racun kontak. penyerapan air dan reaksi kimia (Anonim. Martawijaya. 19 November 2009 kepuasan dan jaminan berupa kayu awet. 1988). Kedua. binatang laut penggerek kayu (marine borer). memiliki sifat menolak air. III METODE PENGAWETAN Bahan pengawet kayu adalah pestisida yang bersifat racun sistemik. cara pemakaian dan tujuan akhir penggunaan kayu. yaitu bahan kimia tunggal atau campuran yang dapat mencegah kerusakan kayu terhadap salah satu atau kombinasi antara pelapukan (decay). 1976). cuaca (weathering). Makalah ini menguraikan berbagai macam metode pengawetan sebagai bahan pertimbangan dalam standardisasi pengawetan kayu. Keberhasilan dalam mencegah OPK selain ditentukan oleh sifat efikasi bahan yang digunakan juga ada hubungannya dengan retensi. 1986). Bahan pengawet kayu. serangga (termite). Perbedaan bahan pengawet berupa senyawa organik dan anorganik dicirikan oleh bahan aktif. penetrasi dan distribusi bahan pengawet tersebut di dalam kayu (Arsenault dalam Nicholas. daya tahan terhadap pencucian. TT. perendaman. larut dalam pelarut organik dan pelarut air (Hunt dan Garrat. pengawetan harus dilakukan secara efisien dan tepat. 1964 dan Hunt dan Garrat. yaitu bahan pengawet: berupa minyak. terhadap kayu siap pakai dalam arti meningkatkan keawetan atau daya tahan kayu terhadap OPK.. 1999). baik dari jenis. Findlay. dan atau diikuti proses difusi sampai dengan cara vakum-tekan (Anonim. formulasi maupun prosesnya. 1986). tidak mudah luntur. suatu proses memasukkan bahan pengawet ke dalam kayu dengan tujuan meningkatkan daya tahan kayu terhadap organisme perusak kayu sehingga dapat memperpanjang masa pakai kayu (Anonim. Sedang bahan pengawet pelarut air dapat dipakai pada mengawetkan kayu kering dan kayu basah. 1962. Namun demikian.Jakarta. yaitu langsung dapat menyerap melalui kulit pada saat pemberian sehingga beracun bagi hama (Tarumingkeng. beracun 3 . pertama terhadap dolok segar yang baru ditebang dan papan basah yang baru digergaji untuk mencegah jamur biru dan kumbang ambrosia. Bahan pengawet berupa minyak bentuk cairan. penyemprotan.

tidak mempengaruhi cat. (2) mahluk perusak kayu apa yang terdapat di tempat tersebut. hal sebagai berikut perlu diperhatikan: (1) di mana kayu itu akan dipakai setelah diawetkan. Pengawetan dilakukan dalam tabung tertutup yang dibuat dari baja yang tahan terhadap tekanan tinggi sampai di atas 23. mampu menembus ke dalam kayu dengan baik. berbau tidak enak. perlu digunakan bahan pengawet yang tidak mudah luntur dan cukup beracun terhadap jamur. dan (3) syarat kesehatan. Proses tekanan relatif lebih sulit karena memerlukan peralatan yang mahal dan keahlian khusus dalam mengoperasikannya. Berdasarkan perkembangan untuk produk yang dibuat menggunakan perekat seperti kayu lapis.5 kg/cm2 atau 250 psi. Kedua proses itu prinsip kerjanya sama yang berbeda pada pelaksanaan awal. penyemprotan. Proses tanpa tekanan atau disebut proses sederhana. 1994). politur dan lain-lain.Jakarta. Sebagai contoh. Tentu tidak semua sifat di atas dimiliki oleh suatu jenis bahan pengawet. pada waktu memilih bahan pengawet kayu. Untuk kayu yang dipakai di 4 . sifat kimianya stabil.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Contoh pada proses sel penuh dilakukan vakum awal. IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan Pengawet Kayu Pemilihan bahan pengawet yang digunakan bergantung pada sifat kayu. berwarna gelap dan meleleh kembali (bleeding) apabila kayu yang telah diawetkan kena panas matahari sehingga kayu tidak bisa dicat atau diplitur (Anonim. Metode Pengawetan Secara singkat metode pengawetan dibagi ke dalam dua golongan. pada kayu yang akan digunakan di tempat yang lembab dengan resiko serangan perusak kayu yang hebat. perendaman panas. umur layanan yang dibutuhkan dan daya cegah atau efikasinya. seperti: pelaburan. dingin dan proses difusi mudah dalam penerapannya sehingga bisa dilakukan oleh semua orang. papan partikel dan papan serat bahan pengawet dicampur dengan bahan perekat sebelum produk itu dibuat. Bagi kayu untuk bangunan di bawah atap. mudah. serta tidak mengurangi kekuatan dan stabilitas dimensi kayu (Anonim. Proses tekanan memiliki banyak variasi. murah dan aman digunakan. Masing-masing proses memiliki tujuan tertentu dan berhubungan dengan banyaknya bahan pengawet yang diserap (diabsorpsi) dan kedalaman penembusannya (Hunt dan Garrat. 1986. perlu digunakan bahan pengawet yang tidak menggangu kesehatan manusia. tetapi secara teknis dapat dibagi atas dua golongan besar yaitu proses sel penuh (full cell process) seperti proses Bethel dan proses sel kosong (empty cell process) seperti proses Rueping. 1994). 19 November 2009 terhadap semua OPK. pencelupan. Formulasi bahan pengawet yang baik harus memiliki daya cegah yang memadai terhadap OPK. yaitu cara tanpa tekanan (non pressure process) dan cara tekanan (pressure process). merangsang kulit bagi orang yang peka. Anonim 1994). pada proses sel kosong tanpa vakum tetapi langsung pemberian tekanan udara. Namun demikian.

Contoh. Dari 49 jenis formulasi yang diizinkan. perlu juga dipertimbangkan faktor jenis dan keadaan kayu. Nilai retensi tersebut selanjutnya dicantumkan dalam standar pengawetan kayu. nilai penembusan untuk kayu perumahan dan gedung minimum10 mm (Anonim. 1999) dan dalam standar pengawetan tiang kayu hanya mencantumkan proses sel penuh (Anonim. digunakan tipe bahan pengawet yang tidak mudah luntur dan memiliki daya racun tinggi. Berdasarkan hasil pengujian efikasi terhadap organisme sasaran diperoleh nilai retensi yang menyatakan banyaknya bahan pengawet yang terdapat di dalam kayu. Pemilihan cara pengawetan selain tergantung kepada tempat di mana akan digunakan. 2009). Nilai penembusan juga merupakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam standar pengawetan kayu yang besarnya bergantung kepada komoditas yang diawetkan. lima dan tiga formulasi. Masing-masing formulasi biasanya mempunyai nilai retensi sendiri yang besarnya bergantung kepada kondisi di mana kayu digunakan. Sedangkan kayu untuk perabot dapat diawetkan dengan bahan pengawet larut air tetapi tidak mengubah warna kayu. yang dinyatakan dalam mm. Oleh karena itu dalam standar pengawetan kayu biasanya hanya mencantumkan teknik tertentu. tetapi dua dari enam formulasi untuk mencegah kumbang ambrosia dapat digunakan unuk peracunan tanah dan satu formulasi untuk mencegah jamur biru dapat digunakan untuk mencegah ayap kayu kering. masing-masing satu jenis di antaranya dapat digunakan sebagai pasak dan dengan proses pelaburan serta sebanyak 18 formulasi belum jelas penggunannya (Abdurrochim. 19 November 2009 luar ruang. Untuk pencegahan sementara pada kayu basah terhadap serangan jamur biru dan kumbang ambrosia masing-masing 10 dan enam formulasi. juga terhadap penembusan atau penetrasi bahan pengawet ke dalam kayu. Sebagai contoh. serta mebel masing-masing dapat mengunakan sembilan. 2003). bahan pengawet kayu termasuk pestisida yang peredaran dan penggunaannya harus mendapat izin Menteri Pertanian (Anonim. rendaman panas.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Metode Pengawetan Teknik pengawetan yang dipilih berpengaruh kepada hasil pengawetan. 1992). formlasi yang sudah diizinkan berjumlah 49 jenis yang semuanya masih diimpor. Teknik pengawetan selain berpengaruh terhadap retensi. 1992). Karena tidak semua teknik pengawetan dapat mencapai nilai retensi yang ditentukan. Sampai saat ini. bahan pengawet yang digunakan serta faktor ekonomisnya.Jakarta. dinyatakan dalam satuan kg/m3. 1999) dan untuk tiang kayu minimum 25 mm (Anonim. yaitu vakumtekan. pengawetan kayu untuk perumahan dan gedung. Peracunan tanah. 5 . dalam standar pengawetan kayu perumahan dan gedung disebutkan empat metode. rendaman dingin dan difusi (Anonim. Di Indonesia.

ke dalam ruang tersebut segera dimasukkan larutan bahan pengawet encer (2% . panas pada suhu 82°C selama beberapa jam bergantung ukuran tebal 6 .25 cm. 1962).) dan jelutung (Dyera spp. Untuk mencegah serangan jamur biru dan kumbang ambrosia pada dolok dan pada kayu gergajian basah dapat dipergunakan pestida yang sesuai dengan cara penyemprotan.). 19 November 2009 Pengawetan kayu basah A.3%). Kayu yang akan diawetkan ditumpuk secara teratur di dalam ruang atau tangki pengawetan. Selesai pemberian uap. Arg. kayu yang akan diawetkan ditumpuk secara teratur di dalam ruang atau tangki pengawetan. Difusi Ada tiga metode pengawetan secara difusi yang lazim dipraktekkan secara komersial menggunakan senyawa boron (Boric Acid Equivalent =BAE) yaitu pemanasan dan rendaman dingin (steaming and cold quench). B. maksimum 14 hari setelah proses penggergajian. Lama waktu pengaliran uap panas bergantung ukuran tebal kayu.6%).5 cm pemberian uap panas minimum 3 jam. Ke dalam ruang tersebut dialirkan uap panas. suhu 82°C selama beberapa jam. mudah sekali diserang jamur biru dan kumbang amborosia (Martawijaya.meranti (Shorea spp. rendaman panas (hot immersion) dan pencelupan (momentary immersion) (Anonim. kayu dilewatkan pada bak yang berisi larutan pengawet sampai seluruh permuakan kayu basah. Kayu yang telah diawetkan disimpan dalam ruang tertutup sedemikian rupa sehingga proses difusi berlangsung dengan baik. pelaburan dan pencelupan (Abdurrochim dan Martono. Untuk papan tebal 2. Antara tumpukan dipasang kayu pengganjal (sticker) berukuran tebal 1. karet (Hevea brasiliensis Muell. Lama penyimpanan (diffusion storage) beberapa minggu bergantung kepada jenis dan ukuran tebal kayu yang diawetkan. yaitu pertama tahap pemasukan bahan pengawet pada permukaan atau di bagian luar kayu. Banyaknya larutan yang diserap kira-kira 150-200 ml/m2 permukaan kayu dan untuk memperoleh hasil baik.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vr.) baik dalam bentuk dolok segar yang baru ditebang dan papan basah yang baru digergaji. 1988). Pelaburan dan penyemprotan Beberapa jenis kayu seperti ramin (Gonystylus bancanus Kurz). 1999) atau dengan bantuan konveyor. Ke dalam ruang tersebut dimasukkan larutan bahan pengawet encer (3% . Pemanasan dan rendaman dingin Cara ini digunakan apabila kayu yang akan diawetkan masih basah bercampur dengan kayu yang sudah kering. Proses difusi terdiri dari dua tahap. pelaburan diulangi 2-3 kali setelah laburan pertama dan kedua kering. Proses pemasukan bahan pengawet dapat dilakukan dengan cara: 1.Jakarta. kayu dibiarkan terendam selama 15 jam. kemudian larutan dikeluarkan kembali ke dalam bak persediaan. Seperti cara pertama. Rendaman panas Cara ini lazim digunakan pada pengawetan kayu gergajian yang masih basah atau lembab. 2. kedua tahap penyimpanan (diffusion storage) agar proses difusi berlangsung dengan baik.).

40%. a. kayu direndam dalam larutan tembaga sulfat (terusi) selama waktu yang cukup untuk terjadinya proses difusi. b. Pelaburan dilakukan bagi kayu yang ukuran besar tetapi jumlahnya sedikit. 7 . dilakukan pada pengawetan kayu tiang yang masih basah dan atau yang sudah terpasang dalam rangka pemeliharaan. 19 November 2009 kayu. c. yaitu dilakukan dengan dua tahap. Lama penyimpanan (diffusion storage) beberapa minggu bergantung kepada jenis dan ukuran tebal kayu yang diawetkan. Bedanya.5 cm lama waktu perendaman panas berkisar antara 2 .Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Perlakuan tersebut diharapkan terbentuk endapan tembaga-khromat di dalam kayu yang beracun terhadap jamur dan tahan terhadap pelunturan. Pencelupan Proses difusi dengan cara pencelupan. Lama penyimpanan (diffusion storage) beberapa minggu bergantung kepada jenis dan ukuran tebal kayu yang diawetkan. tahap kedua kayu yang sudah dilaburi dengan cepat ditumpuk (tanpa pengganjal) dan ditutup rapat dengan bahan kedap air untuk mencegah penguapan. penggunaan balutan bahan pengawet dan difusi berganda (double diffusion) (Hunt dan Garrat.Jakarta. Lama penyimpanan (diffusion storage) beberapa minggu bergantung kepada jenis dan ukuran tebal kayu yang diawetkan. Untuk papan yang berukuran tebal 2. Kayu yang telah diawetkan disimpan dalam ruang tertutup sedemikian rupa sehingga proses difusi berlangsung dengan baik. pada cara ini digunakan larutan bahan pengawet dengan konsentrasi tinggi berkisar antara 20% . Kayu yang telah diawetkan disimpan dalam ruang tertutup sedemikian rupa sehingga proses difusi berlangsung dengan baik. kemudian diangkat dan direndam kembali dalam larutan yang mengandung sodium dikhromat. Apabila kayu yang akan diawetkan jumlahnya banyak. Proses balutan (bundage) Proses tersebut dikembangkan di Jerman dan dikenal dengan nama proses AHIG. Bagian pangkal tiang yang memungkin terjadinya serangan OPK dilaburi cream bahan pengawet kemudian dibungkus atau dililiti dengan pembalut yang berisi bahan pengawet berupa pasta (band aid). Proses difusi lain Sebelum senyawa boron diperkenalkan sebagai bahan pengawet kayu cara difusi yang lazim dilakukan adalah proses osmose. pelaburan dan penyemprotan prinsip kerjanya sama dengan cara pertama dan kedua. Tahap pertama bahan pengawet berupa cream atau pasta dilaburkan pada permukaan kayu yang masih basah. 3. 4. 1986). Selesai perendaman kemudian larutan dikeluarkan kembali ke dalam bak persediaan.4 jam. kemudian dicelupkan ke dalam larutan yang sudah disiapkan. Difusi berganda Dilakukan dengan cara: pertama. kayu tersebut diikat dalam ikatan besar (bundel). Proses osmose Proses osmose prinsipnya sama.

1991). Kayu harus sudah siap pakai. Dalam cara ini kayu direndam dalam bak pengawetan yang terbuat dari logam. Apabila terpaksa. Permukaan kayu harus bersih. (2) kering udara sampai maksimal 45% untuk proses rendaman dingin dan rendaman panas dingin.3 tahun. Pada kayu yang sudah terpasang pelaburan dapat diulangi secara periodik setiap 2 . Biasanya waktu pencelupan dalam larutan pengawet pelarut organik atau minyak lebih singkat. bebas dari segala macam kotoran dan tidak berkulit. IV dan V ( Oey Djoen Seng. kemudian larutan bersama isinya 8 . tidak berbeda dengan cara penyemprotan dan pelaburan. Cairan bahan pengawet larut organik atau berupa minyak dengan kekentalan rendah lazim digunakan dalam pengawetan kayu kering yang sudah siap pakai atau sudah terpasang.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Karena hanya melapisi permukaan kayu sangat tipis. sementara apabila digunakan bahan pengawet pelarut air lebih lama. yaitu: (1) kering udara sampai maksimal 35% untuk proses vakum-tekan. Pelaburan. Rendaman panas-dingin Metode rendaman panas-dingin merupakan salah satu proses sederhana untuk mengawetkan kayu kering dan setengah kering yang umum digunakan sebagai bahan konstruksi rumah dan gedung (Anonim. hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan cara pelaburan atau penyemprotan karena bahan pengawet akan mengenai seluruh permukaan. Untuk memperoleh hasil pengawetan yang baik perlu diperhatikan hal berikut : Kayu yang akan diawekan harus memiliki kadar air yang sesuai dengan metode pengawetan yang akan dipakai. Selain pada kayu. Bahan pengawet yang masuk ke dalam kayu sangat tipis. sehingga tidak diperlukan lagi pemotongan. Kelemahan cara tersebut adalah penembusan dan retensi yang diharapkan tidak memuaskan. Cara tersebut dipraktekkan pada pengawetan bambu dan industri kayu lapis dalam mengawetkan venir serta di industri penggergajian untuk mencegah jamur biru. B. 1964) serta kayu gubal dari kelas awet I dan kelas awet II. Penembusan akan lebih dalam apabila terdapat retak. C. penyerutan atau jenis pengerjaan lain. maka bagian yang terbuka harus dilabur dengan bahan pengawet yang pekat secara merata (Martawijaya dan Barly. A. yaitu membunuh serangga atau perusak yang belum banyak pada kayu yang sudah terpasang (represif). juga dapat dilakukan pada kayu lapis.Jakarta. Lama waktu pencelupan dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau standar. 1999). 19 November 2009 Pengawetan kayu kering Kayu yang harus diawetkan adalah jenis kayu yang memiliki keawetan alami rendah. Cara tersebut hanya dipakai untuk maksud terbatas. yaitu kurang dari satu jam. pemulasan dan penyemprotan Pengawetan dengan cara tersebut dapat dilakukan dengan alat sederhana. yaitu kelas awet III. Pencelupan Pengawetan kayu dengan cara pencelupan. bambu dan produknya.

Prosiding PPI Standardisasi 2009 . menggunakan bahan pengawet creosote dan pelarut minyak. 1969). Cara lain dilakukan. Dalam proses tekanan. E. Vakum . Lama waktu perendaman bergantung kepada jenis kayu dan ukuran tebal sortimen atau perendaman dihentikan apabila berat contoh uji sebelum dan semudah diawetkan menunjukkan nilai retensi yang dikehendaki.tekan Salah satu keistimewaan dari proses ini adalah waktu pengawetan relatif cepat dan jalannya dapat dikendalikan sehingga retensi dan penembusan bahan pengawet dapat disesuaikan dengan komoditas dan tujuan akhir penggunaan kayu. kayu berserta larutan dipanaskan beberapa jam.1400 kPa. Suhu pemanasan berkisar 70°C atau 80 – 95°C apabila kreosot yang digunakan (Anonim.Jakarta. Dalam cara ini kayu direndam dalam bak pengawetan dan dibiarkan tetap terendam. Lama waktu perendaman bergantung kepada jenis kayu dan ukuran tebal sortimen atau perendaman dihentikan apabila berat contoh uji sebelum dan semudah diawetkan menunjukkan nilai retensi yang dikehendaki. kayu yang akan diawetkan disyaratkan harus dalam keadaan kering atau kadar air maksimum 30%. kayu atau beton bergantung kepada keperluan. tetapi prinsip kerjanya sama dan secara garis besar dibagi atas dua golongan yaitu proses sel penuh (full cell process) dan sel kosong (empty cell process) Proses sel penuh digunakan apabila menginginkan absorbsi larutan dalam kayu maksimum. D. Perendaman dingin Metode rendaman dingin merupakan salah satu proses sederhana untuk mengawetkan kayu kering dan setengah kering yang umum digunakan sebagai bahan konstruksi rumah dan gedung (Anonim. 1999). kemudian kayu diangkat dan dimasukkan ke dalam bak lain yang bersi larutan dingin. Sedangkan proses sel kosong diperlukan apabila apabila tujuannya untuk memperoleh penembusan sedalam-dalamnya dengan retensi yang minimum. Cara tersebut sangat cocok untuk mengawetkan kayu yang memiliki kelas keterawetan mudah dan sedikit sukar diawetkan dengan cara tekanan. Banyak variasi dalam proses tekanan. udara yang ada di dalam kayu mengembang dan pemanasan dihentikan jika tidak ada lagi gelembung udara ke luar. Karena pemanasan. Akan tetapi bagi kayu yang rentan terhadap jamur biru dan kumbang ambrosia dapat dilakukan dalam keadaan segar atau basah dengan proses tekanan berganti (Alternating Pressure Method) atau vakum-tekan berganti (Oscillating Pressure Method). Bak pengawetannya dapat dibuat dari besi. 19 November 2009 dipanaskan selama beberapa jam dan dibiarkan tetap terendam sampai larutan dingin. Pengawetan dilakukan dalam tabung tertutup dengan tekanan tinggi yaitu yaitu antara 800 kPa. Cara tersebut sangat cocok untuk mengawetkan kayu yang memiliki kelas keterawetan mudah dan sedikit sukar diawetkan dengan cara tekanan. 9 .

melekat kuat dan sukar ditembus oleh cairan. berbuku dan beruas. Pada bambu ater (Gigantochloa atter Kurz. Pengawetan bambu kering Pengawetan bambu dalam keadaan utuh dengan cara vakum-tekan jarang dilakukan karena mudah pecah. pencelupan dan pelaburan dapat dilakukan terhadap bambu kering berupa bilah dan sayatan. Cara rendaman. iklim serta bahan pengawet yang digunakan. Kulit batang tidak mengelupas.1% menggunakan 10% ZnCl2 diperoleh retensi 12. asam borat dan polybor dalam waktu 1 hari 75% dari panjang batang sudah ditembus bahan pengawet dengan retensi 7. 2..) menggunakan campuran boraks. Modifikasi proses boucherie Dilakukan dengan cara ujung ranting dan pohon dipangkas. secara hidrostatis larutan bahan pengawet dimasukkan dan mendorong cairan yang terdapat di dalam batang bambu ke luar (Kumar et al.Jakarta. Batang bambu dalam keadaan utuh relatif lambat kering dan pengeringan yang terlalu cepat menyebabkan pecah atau retak. A. 19 November 2009 Pengawetan bambu Secara anatomis bambu berbeda dengan kayu. Proses boucherie Proses ini dilakukan pada bambu yang baru ditebang. Pada bagian pangkal batang dihubungkan dengan bak yang berisi larutan pengawet.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .1994). 1985). 1997). waktu pengawetan dipengaruhi oleh antara lain: jenis dan kadar air bambu. Suardika (1994) menggunakan pompa listrik dengan tekanan 2 kg/m2 untuk menggantikan pompa air sederhana dan Morisco (1999) menggantinya dengan tabung udara yang dapat dipompa secara manual bertekanan 3 kg/m2 – 5 kg/m2.4 kg/m3 pada panjang yang sama. Pembuatan lubang di ruas juga berlaku pada pengawetan dengan cara rendaman dingin. Batang bambu berlubang. 1985). rendaman panas-dingin atau pencelupan agar penembusan bahan pengawet merata. yaitu batang belum dibersihkan.24 kg/m3 (Barly dan Sumarni. Dalam proses itu. B.6 kg/m3 dan pada Bambusa polymorpha pada kadar air 110% diperoleh retensi 28. Pengawetan bambu basah 1. Bidang penyerapan larutan dapat diperluas dengan cara menguliti bagian pangkal batang agar waktu pengawetan lebih pendek. cabang dan daun masih lengkap. Sebagai contoh pengawetan bambu Dendrocalamus strichus pada kadar air 72. Kemudian pada bagian pangkal batang yang baru ditebang dipasang selubung kedap air dan dengan bantuan pompa tekan. yaitu 7. tetapi jika diperlukan ruas antar buku harus dilubangi. Bahan pengawet masuk melalui bidang potong dan dari bagian dalam menembus sampai ke ujung batang dengan bantuan proses penguapan (George dalam Findlay.2 m (George dalam Findlay. 10 .

Cara pertama lebih baik daripada cara kedua karena bahan pengawet masuk ke dalam venir yang setelah menjadi kayu lapis berarti masuk ke dalam semua bagian kayu lapis.2002). 2000) dapat memenuhi persyaratan keteguhan rekat menurut standar Indonesia dan standar Jepang. sejalan dengan program pengelolaan sumberdaya hutan secara berkelanjutan. 1997. pencampuran bahan pengawet ke dalam perekat dapat dilakukan sepanjang produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan standar. melalui standardisasi pengawetan kayu dan bambu diharapkan dapat menciptakan industri kayu dan bambu yang tangguh dan mampu bersaing di pasar global. Contoh.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . sebab akan berpengaruh terhadap keteguhan rekat. Dengan demikian. Pengawetan kayu dan bambu sebagai upaya mencegah OPK mempunyai manfaat besar dalam mengatasi pemborosan penggunaan kayu serta bambu dan perluasan lapangan kerja. seperti penggunaan permetrin pada perekat fenol formaldehida dalam pembuatan kayu lapis (Sulastiningsih et al. 1992. seperti dalam SNI Venir lamina (Anonim. 2000). Kegiatan itu. pelaburan dan tekanan dapat dipakai pada venir yang selanjutnya dibuat kayu lapis (Anonim. Cara tersebut dapat dilakukan pada balok dan papan yang selanjutnya dibuat kayu lamina atau terhadap balok dan kayu lamina yang sudah jadi. Proses vakum-tekan juga dapat dipakai pada kayu lapis yang sudah jadi (Abdurrochim dan Barly. 1993) dapat memenuhi standar FAO bagi medium density dan standar Jepang tipe 150. antara lain keawetannya rendah. Jenis kayu bediameter kecil dan jenis kayu yang belum digunakan dapat dimanfaatkan dengan baik. Sejalan dengan perkembangan.1959). Penerapan pengawetan dapat dilakukan dengan proses sederhana atau vakumtekan. proses pencelupan.Jakarta. Hasil tersebut mungkin akan berbeda jika dipakai bahan pengawet anorganik karena akan meningkatkan kekentalan perekat. Persyaratan retensi bahan pengawet disebutkan dalam standar produk yang bersangkutan. et al. 11 . pemakaian bahan pengawet organik pelarut air (emulsi atau dispersi) dalam jumlah yang minimal. Industri pengolahan kayu dan bambu telah berkembang dengan baik dan produknya beraneka ragam sehingga memperbesar peluang pasar. V PENUTUP Kayu dan bambu merupakan salah satu sumber daya alam yang penting di Indonesia dan sebagian besar dimanfaatkan antara lain untuk konstruksi atau pertukangan. Sejalan dengan jenis kayu yang sudah dikenal baik mulai langka dan kebutuhan dipenuhi oleh jenis kayu cepat tumbuh yang umumnya memiliki sifat inferior. 19 November 2009 Pengawetan produk kayu berperekat Bahan pengawet dan perekat yang digunakan harus memiliki sifat yang sesuai satu sama lain (compatible). Penggunaan alfametrin dan foksim masing-masing ke dalam perekat urea formaldehida dalam pembuatan papan partikel (Memed. Contoh. Usaha pengolahan untuk peningkatan mutu baik yang menyangkut bahan baku maupun produk masih perlu ditingkatkan..

2. Petunjuk Teknis. 1997. TT. 2009. 11.1999. Technical Note No. SNI 01-6240-2000. Environmental aspects of industrial wood preservation. Jakarta Abdurrochim. Borax House. DAFTAR PUSTAKA Anonim. London. Venir lamina. VI 1. Borax House.Prosiding PPI Standardisasi 2009 .2000. Direktorat Pupuk dan Pestisida. Pengawetan tiang kayu dengan proses sel penuh. Junk Publishers. ------------------. Keterlibatan semua pihak yang berkepentingan sangat diperlukan.1985. 9. Martono. Adam & Charles Black. 8. Cara sederhana pengawetan bambu segar.1969. Jakarta ---------. The hot and cold open tank process of impregnating timber.S. 2002. dan D. 6.1994. Jakarta ---------. Pencegahan serangan jamr biru pada dolok dan papan gergajian. Aleysbury ----------. Jakarta ----------. 7. Info Hasil Hutan 9(1):18-22 ------------------. W. 12 .42. Preservation of Timber in the Tropics. Direktorat Jendral Bina Sarana Pertania. Martinus Nijhoff/Dr. 3. Minstry of Technology Forest Products Research Laboratory. 19 November 2009 Keberhasilannya tentu sangat bergantung pada bagaimana cara mengelola dan memanfaatkannya. Technical Report Series No.Jakarta.P. 1962. Sumarni. The preservation of plywood veneers with boron. UNEP IE/PAC FAO. 10. ------------------. The Preservation of Timber. 13. American Wood Preserver’s Association Standard. 5. London. Borax Consolidated Limited. Buletin Hasil Hutan 14(2): 107-115 Barly dan G.1992.W. Dpartemen Pertanian. Badan Standardisasi Nasional. Pengawetan kayu kamper dan kayu lapis untuk menara pendingin PT Pupuk Kujang Cikampek. Carlisle Place.1999.1959. 14. Bogor. Dondrecht 4. 12.K. Pengawetan kayu untuk perumahan dan gedung.2003. London ---------. Badan Standardisasi Nasional. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Glossary of Terms in Wood Preservation. SNI 043232-1992. Princes Risborough. New York-Washington ----------. SNI 035010.dan Barly. 1976. S.1-1999.1 ---------. Buletin Penelitian Hasil Hutan 15(2):77-86 Findlay. 15. Penggunaan bahan pengawet kayu di Indonesia.20.Badan Standardisasi Nasional. Paris ---------. Boron in timber preservation. Borax Consolidated Limited. W. Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan.

Dev. Dobriyal.1.M. Kumar.Shula.S. 19 November 2009 16.1988. D.Buletin Penelitian Hasil Hutan 18(2): 55-67 Tantra. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.. 27. 1974. 17. Pengawetan bambu dengan metode Bucherie yang dimodifikasi. Penterjemah: Mohamad Jusup. 2000.D. Bogor Martawijaya.1992. 1987. 1964. 1994. dan P. 21. R. Bogor -----------------.M. 23.Jakarta. No. New Delhi Oey Djoen Seng. Bogor Tarumingkeng. Ukrida Press. Ubud Sulastiningsih. Yogyakarta Suardika. Bogor. G. Sutigno. Jasni dan P.K. 30. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Hasil Hutan. 26. Deteriorasi Kayu dan Pencegahannya dengan Perlakuan-perlakuan Pengawetan.C. Pengumuman No. Program Pascasarjana Universitas Pakuan.M.dan Barly. 29. Pengawetan Kayu.1999. Jakarta 13 . R. Bulelin Penelitian Hasil Hutan 15(4): 235-246 -----------------------. 22.Hotel Orchid. 1986. 18. 24. Pengaruh senyawa boron terhadap sifat papan partikel kayu karet (Hevea brasiliensis) Jurnal Penelitian Hasil Hutan 10(5): 160-166 Nicholas. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. 20. Pengaruh bahan pengawet terhadap keteguhan rekat dan keawetan kayu lapis tusam (Pinus merkusii). I. 19. Akademika Pressindo. Bamboo Preservation Techniques. Rekayasa Bambu. 25 Oktober . ed. Kehutanan Indonesia 1: 460-469 -------------------. Berat jenis dari jenis-jenis kayu Indonesia dan pengertian berat kayu unuk keperluan praktek. Penerjemah Haryanto Yoedibroto. I.01/Th. Airlangga University Press.A. Soenardi Prawirohatmodjo. Pengaruh bahan pengawet Phoxim terhadap sifat papan partikel kayu karet (Hevea brasilinsis). 1993. I. Flora Indonesia: keragaman dan berbagai aspeknya. Sutigno. K. Makalah disajikan pada Musyawarah Anggota Assosiasi Pengawetan Kayu. 2001. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. 31. Pengaruh jenis kayu dan permetrin terhadap keteguhan rekat dan keawetan kayu lapis. Nafiri Offset.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan.G. I. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 11(8): 329-332 ---------------------------------------------------------. 2007.Garrat.1994. Manajemen Deteriorasi Hasil Hutan. INBAR and ICFRE. 2000.B. Estimasi kebutuhan kayu dan teknologi untuk barang kerajinan dan mebel. 25. Bogor Hunt. Materi kuliah Ilmu Lingkungan II.I/91.M. Yayasan Bambu Lestari. P. Jakarta 21-22 Januari. Yogyakarta Memed. Proteksi kayu terhadap kumbang ambrosia dan blue stain. 1997. Jakarta. 1991. dan Jasni. Petunjuk teknis pengawetan kayu bangunan dan gedung. A. S.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . dan G. Problems of wood preservation in Indonesia. Jakarta Morisco. 28. Sulastingsih. Hartono.

Pengetahuan Indonesia. 33.htm. E.Prosiding PPI Standardisasi 2009 . Utami dan Saefudin.W. Pusat Penelitian Biologi.A. --------------------2007.net/TOX/PESTISIDA. Pestida dan http:tumouteo. p:1-13 Wijaya..Jakarta. membudidayakan bambu. Bogor penggunaannya Buku panduan Lembaga Ilmu 14 . 19 November 2009 32. 2004. N.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful