You are on page 1of 2

DULU VS SEKARANG

Ini adalah sebuah cerita lama yang menyedihkan. Cerita yang menguras
memoriku. Cerita yang justru ada pada masa remajaku.
Untukmu yang terlupakan karena hal yang sepele, bebaskan omongan mereka
melayang di atas langit. Biarkan omongan itu dimakan oleh ego mereka sendiri.
Tidak penting bagaimana penampilanmu, bagaimana bentuk tubuhmu.
Remaja ku dan remajamu, remaja kita memang berbeda-beda cerita. Dulu
aku tak suka masa remaja, aku ingin cepat melaluinya. Pandanganku, menjadi
dewasa itu akan lebih mudah melaluinya. Namun, toh sama saja. Hanya alurnya
yang berbeda.
“ Hey kau yang didepan, kurang kekanan. Aku tidak kelihatan.”
“ Tidak...tidak bisa. Tetaplah pada posisimu yang tadi. Badanmu sungguh
menghalangi pandanganku.”
“ Begini saja, seharusnya yang berbadan gendut itu ditaruh dibelakang. Biar tidak
mengganggu yang belajar.”
Setengah cerita dari masa remajaku di sekolahan. Itu sangat sulit untukku.
Apalagi pribadiku yang introvet. Semua kata-kata itu selalu menjadi bayangan
hitamku dimana-mana. Hanya karena sebuah penampilan, mereka bebas
melayangkan penilaian yang menyedihkan. Tubuh ini memang hasil dari usahaku
yang sangat suka makan. Namun, juga bukan kemauanku. Jika mereka hanya bisa
bersuara tanpa memberi bantuan, maaf aku tidak mampu mendengar satu per satu
omongan itu. Tubuh → Penampilan → Penilaian → Perhatian dan Cinta. Itulah
sedikit gambaran mengenai penampilan di masa remaja ku dahulu.
Seorang teman dekat pernah berkata ketika hati ini tersangkut oleh pesona
pria. “ kau terlalu mempunyai percaya diri tinggi, ya walaupun kau introvet. Laki-
laki tidak menyukai wanita yang gendut. Juga jelek. Juga berkulit hitam. Mereka
pintar sekali dalam menentukan kriteria.” Jadi intinya, wanita gendut, berkulit
hitam, alias jelek tidak pantas untuk jatuh cinta. Itu adalah fakta nomor dua
setelah teman. Jadi teman dekatku menasihatiku untuk tidak tertarik dengal hal
semacam cinta. Namun, apa boleh buat. Tuhan menciptakan hati untuk saling
menyayangi.
Sekarang, masa remaja itu sudah tenggelam kelam. Seperti kapal titanic.
Tragis, namun selalu terkenang. Ya, sekarang sudah berbeda. Ketika remaja jadi
bahan yang tidak disenangi, sehingga membuat diriku tidak percaya diri. Sekarang
memasuki remaja akhir, semua penilaian itu berubah meskipun tetap sama.
Seorang teman baru masuk dalam kehidupan mas remaja akhirku. Mereka tetap
menilai penampilanku yang “gak banget” untuk seorang cewek. Namun, mereka
dapat membuatku percaya diri, bahwa aku tidak seburuk masa laluku. Teman,
kawan dimanapun tempatnya akan berbeda. Disini di bangku kuliah, mereka
membangun kepercayaanku dengan tubuhku yang tidak estetik. Aku yang dulu
pemalu, aku yang dulu lebih memilih bersembunyi, kini menjadi aku yang lebih
percaya pada diri sendiri. Ocehan mereka masih tetap berkumandang. Namun
senyuman dan rangkulan tangan mereka tidak pernah putus. Membuatku semakin
kuat dengan kelemahan yang aku miliki. Tubuhku, kata mereka kamu jelek.
Tubuhku, kata mereka kamu tidak berguna. Tidak pantas untuk berdampingan
bersama yang lainnya. Tubuhku, itu adalah bagi mereka. Bagiku, kamu segalanya.
Meskipun karena kebodohanku kamu menjadi gembul. Tetap saja, Tuhan telah
melimahkan sejuta nikmat sehat dan sahabat yang membuatku kuat untuk
bertahan. Kuat untuk mengangkat mata dan kepala ke depan bukan ke bawah.