You are on page 1of 22

BUKU DIGITAL KEPERAWATAN

KUMPULAN ASUHAN
KEPERAWATAN
(Askep Atelektasis)

2014

WWW.ISTANAKEPERAWATAN.BLOGSPOT.COM
KUTIPAN PASAL 72 :
Sanksi Pelanggaran Undang-Undang Hak Cipta
(Undang-Undang No. 19 Tahun 2002)

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara masing-
masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.
1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta
atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 2


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkah dan rahmatNYA penulis
telah berhasil menyusun revisi kedua ebook Ratusan Askep untuk mahasiswa keperawatan.
Buku berbasis digital ini atau yang biasa disebut dengan ebook, merupakan inovasi terbaru
untuk para mahasiswa keperawatan dalam menghadapi era teknologi dan informasi yang
semakin berkembang. Dengan adanya buku berbasis digital, mahasiswa bisa membawa
ataupun menyimpan ebook ini dengan fleksibel dan praktis. Pada penulisan ebook ini, penulis
berusaha menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti sehingga dapat dengan
mudah dicerna dan diambil intisari dari materi pelajaran sesuai dengan kebutuhan mahasiswa
dan dosen pengajar. Ebook ini juga diharapkan dapat digunakan oleh mahasiswa kesehatan
lainnya karena penulis berusaha melengkapi materi sesuai dengan kebutuhan materi
pembelajaran yang disempurnakan.

Penulis menyadari walaupun sudah berusaha sekuat kemampuan yang maksimal,


mencurahkan segala pikiran dan kemampuan yang maksimal, mencurahkan segala pikiran dan
kemampuan yang dimiliki, ebook ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya baik dari
segi bahasa, pengolahan maupun dalam penyusunan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan
kritik yang sifatnya membangun demi tercapai suatu kesempurnaan dalam memenuhi
kebutuhan dalam bidang keperawatan.

Surabaya, Agustus 2014

Penulis

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 3


DEFINISI

Atelektasis adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat


penyumbatan saluran udara (bronkus ataupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang
sangat dangkal. Atelektasis berkenaan dengan kolaps dari bagian paru, kolap ini dapat
meliputi subsegmen paru atau keseluruhan paru. (jiib.wordpress.com).
Atelektasis dapat terjadi pada semua usia, baik wanita maupun pria.Namun pasien
yang lebih muda yaitu bayi lebih beresiko terkena atelaktasis dibandingkan dengan
dewasa ataupun orang tua.Atekektasis yang terjadi pada dewasa bisa diakibatkan oleh
obstruksi jalan nafas (bronkus), jika terjadi penyumbatan dalam saluran nafas maka udara
di dalam alveoli akan terserap ke dalam aliran darah sehingga alveoli menciut dan
memadat.

ETIOLOGI

Penyebab dari atelektasis adalah :


1. Obstruktif
Sebab utama dari atelektasis adalah penyumbatan sebuah bronkus. Penyumbatan juga
bisa terjadi pada saluran pernafasan yang lebih kecil. Penyumbatan bisa disebabkan
oleh adanya gumpalan lendir, tumor atau benda asing yang terhisap ke dalam
bronkus. Atau bronkus bisa tersumbat oleh sesuatu yang menekan dari luar, seperti
tumor atau pembesaran kelenjar getah bening. Jika saluran pernafasan tersumbat,
udara di dalam alveoli akan terserap ke dalam aliran darah sehingga alveoli akan
menciut dan memadat. Jaringan paru-paru yang mengkerut biasanya terisi dengan sel
darah, serum, lendir, dan kemudian akan mengalami infeksi.

2. Non-obstruktif :
- Pasif → pneumothorax, operasi
- Cicatrix → perlekatan-perlekatan
- Adhesive → RDS (Respiratory Distress Syndrome)
Pneumonitis radiasi, pneumonia, uremia
- Kompresi → Pneumothorax, pleural effusion, tumor.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 4


PATOFISIOLOGI

Obstruksi bronkhial karena adanya benda asing atau sumbatan eksudat kental
yang mengganggu saluran pernapasan dan menghambat udara masuk ke zona
alveolus dapat menyebabkan atelektasis. Udara yang berada dalam alveolus menjadi
sulit untuk keluar dari alveolus dan akan terabsorpsi sedikit demi sedikit ke aliran
darah yang menyebabkan alveolus kolaps (untuk mengembangkan alveolus yang
kolaps total diperlukan tekanan udara yang lebih besar seperti halnya seseorang harus
meniup balon lebih keras pada waktu mulai mengembangkan balon). Mekanisme ini
dikenal dengan atelektasis absorpsi dan dapat disebabkan oleh obstruksi bronkhus
intrinsik atau ekstrinsik.
Obstruksi bronkhus intrinsik paling sering disebabkan oleh sekret atau eksudat
yang tertahan, sedangkan obstruksi ekstrinsik pada bronkhus biasanya disebabkan
oleh neoplasma, pembesaran kelenjar getah bening, aneurisma, atau jaringan parut
paru akibat dari hiperakvitas dari proses tuberkulosis paru.
Risiko atelektasis meningkat pada klien dengan penurunan mekanis ketika
melakukan ventilasi seperti saat klien yang harus melakukan posisi supinasi,
membebat dada karena nyeri, depresi pernapasan akibat opioid, sedatif, retakan otot,
dan distensi abdomen. Penderita atelektasis biasanya banyak dijumpai pada balita
yang lahir prematur dimana paru tidak dapat mengembang dengan sempurna
sehingga paru tampak padat dan kempis. Namun atelektasis juga bisa terjadi pada
dewasa yang mengalami obstruksi jalan nafas (bronkus) jika terjadi penyumbatan
dalam saluran nafas maka udara di dalam alveoli akan terserap ke dalam aliran dalah
sehingga alveoli akan terserap ke dalam aliran darah sehingga alveoli akan menciut
dan memadat.
Atelektasis juga dapat terjadi akibat tekanan pada jaringan paru yang
menghambat ekspansi normal paru pada saat inspirasi. Mekanisme ini disebut dengan
atelektasis tekanan. Proses tekanan tersebut dapat diakibatkan oleh adanya

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 5


penumpukan cairan di dalam thoraks (efusi pleura), udara di dalam rongga pleura
(pneumothoraks), pembesaran jantung, distensi perikardium oleh cairan (efttsi
perikardial), pertumbuhan tumor di dalam thoraks, atau kenaikan diafragma ke arah
atas akibat adanya tekanan abdominal yang dialami klien. Penderita dengan
atelektasis jika tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan kematian.

KLASIFIKASI ATELEKTASIS

Berdasarkan factor yang menimbulkan atelektasis dibagi menjadi dua jenis yaitu:
1. Atelektasis Bawaan (Neonatorum)
Atelektasis bawaanadalah atelektasis yang terjadi sejak lahir, dimana paru-paru
tidak mengembang sempurna. Terjadi pada bayi(aterm?prematur) yang dilahirkan
dalam kondisi telah meninggal (still born) atau lahir dalam keadaan hidup lalu
bertahan hanya beberapa hari dengan pernafadan buruk.
Atelektasis resorbsi yaitu kondisi bayi yang mampu bernafas dengan baik,
tetapi terjadi hambatan pada jalan nafas yang mengakibatkan udara dalam
alveolus diserap sehinggga alveolus mengempis kembali.
2. Atelektasis didapat
Atelektasis didapat dibagi menjadi:
a) Atelektasis Obstruksi
Terjadi akibat adanya obstruksi total pada jalan nafas, mulai darri laring
sampai dengan bronkiolus. Udara dalam alveolus diserap sampai rongga
alveolikolaps. Actor lain penyebab atelektasis adalah melemahnya gerakan
nafas (otot parasternal/diafragma).
Atelektasis obstruksi dapat terjadi pada pasien dengan:
1) Asma Bronkial
2) Bronchitis kronis
3) Bronkhiektasis
4) Aspirasi benda asing
5) Pasca bedah
6) Aspirasi drah beku
7) Neoplasma bronkus
Kondisi lain yang dapat menyebabkan atelektasis obstruksi antara lain usia dan
kondisi tubuh dengan kesadaran menurun yang mengakibatkan kelemahan
otot-otot napas sehingga tidak dapat mengeluarkan sumbatan pada jalan nafas.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 6


Gejala klinis: dispnea, sianosis dan kolaps, bagian dada yang atelektasis
tidakbergerak, dan pernapasan terdorong kearah yang sakit. Padapemeriksaan
foto toraks didapatkan bayangan padat serta diagfragma menonjol ke atas.
b) Atelektasis Kompresi
Tejadi akibat tekanan dari luar. Tekanan dapat bersifat:
1) Menyeluruh (complete)
a. Terjadi bila tekanan besar dan merata.
b. Terjadi pada: hidrotoraks, hemotoraks, empiema, dan
pneumotoaks.
2) Sebagian (partial)
a. Terjadi bila tekanan hanya terlokalisasi 9setempat).
b. Terjadi misalnya pada: tumor dan kardiomegali.

Menurut luasnya atelektasis dibagi :


1. Massive atelectase, mengenai satu paru
2. Satu lobus, percabangan main bronchus
3. Satu segmen → segmental atelectase
4. Platelike atelectase,berbentuk garis. Misal:Fleischner line→oleh tumor paru

MANIFESTASI KLINIS
Atelektasis dapat terjadi secara perlahan dan hanya menyebabkan sesak napas
yang ringan. Penderita sindroma lobus medialis mungkin tidak mengalami gejala
sama sekali, walaupun banyak yang menderita batuk-batuk pendek. Gejalanya bisa
berupa gangguan pernafasan, nyeri dada dan batuk. Jika disertai infeksi bias terjadi
demam dan peningkatan denyut jantung, kadang bias terjadi syok (tekanan darah
sangat rendah).
Gejala tergantung pada berapa banyak dari paru-paru yang terlibat. Seseorang
mungkin tidak menyadari atelektasis jika hanya sebagian kecil dari paru-paru yang
terlibat. Tetapi jika sebagian besar paru-paru yang terlibat, seseorang mungkin
memiliki gejala-gejala berikut :
- Sesak nafas
- Kelelahan
- Demam
- Nyeri dada pada sisi yang terkena
- Sianosis, warna biru di kulit menunjukan bahwa jaringan kekurangan oksigen.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 7


a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan thoraks yang cermat, yang mencakup inspeksi, palpasi, perkusi
dan auskultasi, seringkali menunjukkan diagnosis kelainan paru yang terjadi. Hasil
pemeriksaan fisik pada atelektasis (obstruksi lobaris) yang sering ditemukan adalah :
1. Inspeksi → berkurangnya gerakan pada sisi yang sakit
2. Palpasi → fremitus berkurang, trakea dan jantung bergeser ke arah sisi yang
sakit
3. Perkusi → pekak atau datar
4. Auskustasi → suara pernapasan tidak terdengar
b. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis pada atelektasis dengan penyebab TB paru sering
ditemukan adanya infiltrat khas TB paru dan gambaran adanya atelektasis paru.

GAMBAR-GAMBAR ATELETAKSIS

Kolaps Lobus Atas Kanan

Foto PA

Densitas uniform akibat


lobus kanan yang kolaps
dan mengkerut (panah).

Fisura interlobaris kanan


bergeser ke atas ke arah
mediastinum (panah lebar)

Hilus kanan terletak sama


Fotodengan
tinggi Lateralhilus kiri, berarti
letaknya meninggi.
Lobus yang kolaps tidak
terlihat. Ini akan
membedakannya dengan
pneumonia. Konsolidasi
akan bisa dilihat dari kedua
proyeksi tetapi kolaps
mungkin hanya bisa dilihat
dari satu proyeksi saja.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 8


Kolaps Lobus Medius Kanan

Foto PA

Terlihat densitas didekat


jantung pada lapangan
tengah dekat hilus.
Bentuknya mirip segitiga.
Bagian paru yang lain
nampak bersih.

Foto Lateral

Kolaps lobus medius


selalu lebih jelas terlihat
pada proyeksi lateral,
terutama pada anak-anak.

Terlihat densitas
berbentuk segitiga
dibagian depan,
menunjukkan kolaps lobus
medius (panah).

Kolaps Lobus Bawah Kanan

Foto PA

Hipertranslusen pada lobus kanan


atas, terjadi karena adanya
peningkatan volume sebagai
kompensasi.

Lobus bawah kanan kolaps ke arah


jantung dan mediastinum (panah)
dan menghilangkan sinus
cardiophrenicus. Batas lateralnya
tegas. Hilus kanan “menghilang”
karena pembuluh darah paru pindah
ke arah jantung sebagai akibat
kolaps paru.
Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 9
Kolaps Lobus Medius dan Lobus Bawah Kanan

Foto PA

Hipertranslusen lobus atas


kanan (panah lebar).

Bila dibandingkan dengan


kolaps lobus bawah kanan
saja, densitas pada foto ini
lebih luas dan batasnya
kurang tegas.

Kolaps Lobus Bawah Kiri


Foto PA

Terlihat pergeseran ringan jantung dan


mediastinum ke kiri.

Hilus kiri turun dibawah hilus kanan


(panah).

Terlihat penurunan corakan vaskular


pada bagian paru kiri yang over-
expanded (panah lebar). Lobus bawah
yang kolaps tidak terlihat pada foto
yang kurang keras ini (bandingkan
dengan foto “keras” dibawah ini).

Foto “keras” PA (Penderita yang


sama)

Untuk mendapatkan hasil seperti


ini, dipakai teknik dasar foto thorax
PA tetapi mAs ditingkatkan 2 kali
lipat.

Densitas berbentuk segitiga di


belakang jantung adalah lobus
bawah kiri yang kolaps (panah).
Biasanya sulit untuk melihat lobus
bawah yang kolaps pada foto
lateral.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 10


Kolaps Lobus Atas Kiri

Foto PA

Lobus atas kiri kolaps ke


arah mediastinum (panah
lebar).Mediastinum sedikit
bergeser kekiri : pada kiri
pembuluh darah paru lebih
tersebar dibandingkan pada
sisi kanan, akibat adanya
overinflasi pada sisa paru
kiri sebagai kompensasi.

Foto lateral

Lobus atas kiri yang kolaps


sulit untuk diidentifikasikan
karena kolapsnya ke arah
mediastinum. Hanya terlihat
tepi belakangnya saja
(panah).

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Bronkoskopi
2. Dapat ditemukan obstruksi
3. Masa
4. Corpus alienum

PENATALAKSANAAN

Tujuan dari penatalaksanaan yaitu untuk mengeluarkan dahak atau benda asing
dan kembali mengembangkan jaringan paru yang terkena.

1. Berbaring pada sisi paru-paru yang sehat sehingga paru-paru yang terkena kembali
bisa mengembang

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 11


2. Menghilangkan penyumbatan, baik melalui bronkoskopi maupun prosedur lainnya
3. Latihan menarik nafas dalam (spirometri insentif)
4. Perkusi (menepuk-nepuk) dada untuk mengencerkan dahak
5. Postural drainase
6. Antibiotik diberikan untuk semua infeksi
7. Pengobatan tumor atau keadaan lainnya.
8. Pada kasus tertentu, jika infeksinya bersifat menetap atau berulang, menyulitkan
atau menyebabkan perdarahan, maka biasanya bagian paru-paru yang terkena
mungkin perlu diangkat.

Setelah penyumbatan dihilangkan, secara bertahap biasanya paru-paru yang


mengempis akan kembali mengembang, dengan atau tanpa pembentukan jaringan
parut ataupun kerusakan lainnya.

PENCEGAHAN

Pengobatan atelektasis didasarkan pada etiologi penyakit. Namun demikian


pencegahan adalah faktor terpenting. Kerangka kerja terapi yang mendasar adalah
mobilisasi dini dan perubahan posisi sering pada klien tirah baring atau klien
pascaoprasi. Napas dalam dengan teratur penting karena pada klien ini umunya terjadi
penurunan kesadaran akibat pengaruh anestesi, penurunan mobilitas, dan nyeri
(Hanneman, 1995). Bronchodilator dan mukolitik, jika diindikasikan, dan fisioterapi
dada akan sangat membantu, ventilasi yang adekuat dapat ditingkatkan denan
perubahan posisi, batuk efektif, napas dalam, atau spirometri insentif.

Tanggung jawab keperawatan dalam hal ini adalah memberikan penyuluhan


kesehatan tentang pentingnya teknik pernapasan termasuk latihan napas dalam dan
teknik batuk efektif, dan aktifitas fisik lainnya sesuai dengan toleransi klien. Tindakan
ini terutama penting untuk klien pascaoperatif dan tirah baring.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya atelektasis:

1. Setelah menjalani pembedahan, penderita harus didorong untuk bernafas dalam,


batuk teratur dan kembali melakukan aktivitas secepat mungkin.
Meskipun perokok memiliki resiko lebih besar, tetapi resiko ini bisa diturunkan
dengan berhenti merokok dalam 6-8 minggu sebelum pembedahan.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 12


2. Seseorang dengan kelainan dada atau keadaan neurologis yang menyebabkan
pernafasan dangkal dalam jangka lama, mungkin akan lebih baik bila menggunakan
alat bantu mekanis untuk membantu pernafasannya. Mesin ini akan menghasilkan
tekanan terus menerus ke paru-paru sehingga meskipun pada akhir dari suatu
pernafasan, saluran pernafasan tidak dapat menciut.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 13


ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Identitas : -

1. Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa.


2. Tempat tinggal : Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar
3. Keluhan utama : Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, Sakit kepala daerah
frontal ( influenza ), Nyeri dada ( pleuritik ), meningkat oleh batuk, pernafasan
dangkal.
4. Riwayat Penyakit Sekarang: Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah
sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi.
Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai demam
(seizure).
5. Pemeriksaan fisik :
Pemeriksaan thoraks yang cermat, yang mencakup inspeksi, palpasi,
perkusi dan auskultasi, seringkali menunjukkan diagnosis kelainan paru yang
terjadi. Hasil pemeriksaan fisik pada atelektasis (obstruksi lobaris) yang sering
ditemukan adalah :
1. Inspeksi → berkurangnya gerakan pada sisi yang sakit
2. Palpasi → fremitus berkurang, trakea dan jantung bergeser ke arah
sisi yang sakit
3. Perkusi → pekak atau datar
4. Auskustasi → suara pernapasan tidak terdengar
Subyektif : -
Obyektif : Kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder),
banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 14


WOC ATELEKTASIS

Obstruktif : Non Obstruktif :

- Gumpalan lendir - Pneumothorax, Operasi


- Tumor - Perlekatan
- Benda asing - RDS (Respiratory Distress
- Pembesaran Syndrome) Pneumonitis radiasi,
kelenjar getah Pneumonia, Uremia.
bening - Pneumothorax, Pleural efusion
-

Bayi Prematur Penyumbatan Reaksi tubuh


bronkus berusaha
Jaringan paru-
mengeluarkan
paru mengkerut
Gerak pernafasan obstruksi dengan
terhambat cara batuk
Terisi dengan:
Udara di dalam Produksi sekret
1. Sel darah
alveoli terserap ke
2. Serum
dalam aliran darah
3. Lendir

Alveoli menciut
dan memadat
Infeksi

ATELEKTASIS

B1 (Breathing) B2 (Blood) B5 (Bowel) B6 (Bone)

Inflamasi pada Takikardi


Anorexia Kelemahan
bronkus

MK :
Nafsu makan MK :
Produksi Penyempit
Pola nafas
sekret an bronkus Intoleransi
tidak efektif
aktivitas
MK :
MK : Dypsnea
Suplay O2 Nutrisi <
Bersihan kebutuhan tubuh
dalam
jalan tidak Ekspansi paru
tubuh
efektif

Alveoli MK :
memadat
Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com
Gangguan pertukaran gas Page 15
PENEGAAN DIAGNOSTIK

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisik. Rontgen
dada akan menunjukkan adanya daerah bebas udara di paru-paru. Untuk menentukan
penyebab terjadinya penyumbatan mungkin perlu dilakukan pemeriksaan CT - scan atau
bronkoskopi serat optik.
Kolaps dapat didiagnosa dengan adanya :

a. Peningkatan densitas dan menggerombolnya pembuluh darah paru


b. Perubahan letak hilus atau fisura (keatas atau ke bawah). Pada keadaan normal letak
hilus kanan lebih rendah dari hilus kiri
c. Pergeseran trakea, mediastinum atau fisura interlobaris ke arah bagian paru yang
kolaps
d. Sisa paru bisa amat berkembang (over-expanded) dan demikian menjadi
hipertransluse.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan produk mucus berlebihan dan kental,
batuk tidak efektif.
2. Gangguan pertukaran gas b/d penurunan volume paru
3. Intolernsi aktifitas berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah (kelelahan)
sekunder terhadap peningkatan upaya pernapasan
4. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi paru
5. Cemas / takut berhubungan dengan hospitalisasi (ICU)

6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses


penyakit, prosedur perawatan di rumah sakit.

Intervensi

Diagnosa Intervensi
No Hasil yang diharapkan
Keperawatan

1 Bersihan jalan Bersihan jalan nafas 1. Lakukan pengkajian tiap


nafas tidak efektif kembali efektif ditandai 4 jam terhadap RR, S,
berhubungan dengan : dan tanda-tanda

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 16


dengan produk  Suara nafas paru bersih keefektifan jalan napas
mucus berlebihan dan sama pada kedua 2. Lakukan Phisioterapi
dan kental, batuk sisi dada secara terjadwal
tidak efektif.  Laju nafas dalam 3. Berikan Oksigen
rentang normal lembab, kaji keefektifan
 Tidak terdapat batuk, terapi
cyanosisi, haluaran 4. Berikan antibiotik dan
hidung, retraksi dan antipiretik sesuai order,
diaphoresis kaji keefektifan dan efek
samping (ruam, diare)
5. Lakukan pengecekan
hitung SDM dan photo
thoraks
6. Lakukan suction secara
bertahap
7. Catat hasil pulse
oximeter bila terpasang,
tiap 2 – 4 jam

2 Pola nafas tidak  RR 16-20x/menit 1. Lakukan pengkajian tiap


efektif berhubungan  Pengembangan dada 4 jam terhadap RR, S,
dengan penyakit simetris dan tanda-tanda
ekspansi paru  Perkusi sonor keefektifan jalan napas

 Auskultasi normal 2. Lakukan pemeriksaan

vesikuler fisik seperti palpasi

 Sesak berkurang untuk pengetahui


kesimetrisan dada
3. Lakukan pemeriksaan
fisik seperti perkusi
untuk mengetahui bunyi
pada lapang paru
4. Lakukan pemeriksaan
fisik seperti auskultasi
untuk mendengarkan
suara yang normal

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 17


(vesikuler)
5. Berikan alat bantu
pernafasan seperti
ventilator untuk
meringakan sesak pada
pasien

3. Gangguan - Menunjukkan perbaikan 1. Kaji frekuensi,


pertukaran Gas ventilasi dan oksigenasi kedalaman, dan
berhubungan jaringan dengan BGA kemudahan bernafas.
dengan penurunan dalam rentang normal dan 2. Observasi warna kulit,
volume paru tak ada gejala distres membrane mukosa, dan
pernafasan. kuku, catat adanya
PO2 95-100 mmHg sianosis perifer (kuku)
CO2 35-45 mmHg atau sianosis sentral
FiO2 > 95% (sirkumolar)
 Mampu berpartisipasi 3. Awasi frekuensi
dalam tindakan untuk jantung/irama
memaksimalkan oksigen 4. Pertahankan istirahat
tidur. Dorong
menggunakan teknik
relaksasi dan aktivitas
senggang.
5. Tinggikan kepala dan
dorong sering mengubah
posisi, nafas dalam, dan
batuk efektif.
6. Kolaborasi :
 Berikan terapi
oksigen dengan benar,
missal : Dengan nasal
prong, masker,
masker venture.
 Awasi BGA dan nadi
oksimetri

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 18


4.. Intolernsi - Terpenuhinya aktivitas 1. Evaluasi respon pasien
aktifitas secara optimal, pasien saat beraktivitas, catat
berhubungan kelihatan segar dan pasien keluhan dan tingkat
dengan keadaan mampu melakukan aktivitas serta adanya
tubuh yang aktivitas personal hygiene perubahan tanda-tanda
lemah yang baik vital.
(kelelahan) 2. Bantu Px memenuhi
sekunder kebutuhannya.
terhadap 3. Awasi Px saat
peningkatan melakukan aktivitas
upaya 4. Libatkan keluarga dalam
pernapasan perawatan pasien.
5. Jelaskan pada pasien
tentang perlunya
keseimbangan antara
aktivitas dan istirahat.
6. Motivasi dan awasi
pasien untuk melakukan
aktivitas secara bertahap.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 19


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad A.K. 1995. Kamus Lengkap Kedokteran. Surabaya : Citas Media Pers

Almatsier, Sunita. 2006. Penuntun Diet . Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Anderson, Silvia. 1996. Patofisiologi : Konsep Klinik Proses Penyakit. Jakarta : EGC

Anna Pujiadi. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia

Baradero, Mary. 2009. Klien Gangguan Endokrin: Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

Behrman, Kliegman & Arvin. 2001. Ilmu Penyakit Anak. Jakarta : EGC

Benson & Martin, L. 2000. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC

Betz, C.L. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC

Brashers, Valentina L. 2008. Aplikasi Klinis Patofisiologi: Pemeriksaan & Manajemen ed.2.
Jakarta: EGC

Brenda, Brace, dkk. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Bruce, Wingerd. 1994. The Human Body Concept of Anatomy and Physiology. Orlando
Florida : Harcourt Bruce College Publisher

Caplan, L.R. 2000. Neurovascular Disorders : Text Book of Clinical Neurology. Chicago :
Saudes

Charles, Noback. 1996. The Human Nervous System : Structure and Function. Ed. Ke 5.
Philadelphia : Lippincott William-Wilkins

Churry, Edward. 1995. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler. Jakarta : EGC

Djuanda, dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : EGC

Dona, Whalley & Wong. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC

Dorland. 1994. Kamus Kedokteran. Jakarta : EGC

Elaine, Marieb. 2001. Human Anatomy and Physiology. San Fransisco: Wesley Longman

Evelen, C. 1994. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia

Gibson, John. 2003. Fisiologi & Anatomi Modern untuk Perawat. Jakarta: EGC

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 20


Guyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC

Hedman, T.H. 2012. NANDA 2012-2014. Oxford : Willey Blackwell

Henderson & Jones. 2006. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC

Hudak & Gallo. 1996. Keperawatan Kritis Pendidikan Holistik. Jakarta : EGC

John, Gibson. 1995. Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat. Jakarta : EGC

Kazier, B. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis. Jakarta : EGC

Listiono, Djoko. 1998. Stroke Hemoragik Ilmu Bedah Saraf. Jakarta : Gramedia

Lynda juall, 2007. Diagnosis keperawatan ed.10. Jakarta : EGC

Mardjono. 2008. Neurologis Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat

Maryunani, Anik. 2008. Buku Saku Diabetes Pada Kehamilan. Jakarta: Trans Info Media.

Misnadiarly. 2006. Diabetes Mellitus: Gangren, Ulcer, Infeksi. Mengenal Gejala,


Menanggulangi dan Mencegah Komplikasi. Jakarta: Pustaka Populer Obor

Neal, Michael J. 2006. Farmakoligi Medis. Jakarta: Erlangga

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

Nurachmah, Elly. 2001. Nutrisi Dalam Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.

Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Gramedia

Ratna, Mardiati. 1997. Buku Kuliah Susunan Saraf Otak. Jakarta : Sagung Seto

RA, Nabyl. 2009. Cara Mudah Mencegah dan Mengobati Diabetes Melitus. Yogyakarta:
Aulia Publishing.

Rasjidi, Imam. 2007. Panduan Penatalaksaan Kanker Ginekologi. Jakarta : EGC

Samantri, Imam. 2007. Panduan Penatalaksanaan Obstetri. Jakarta : EGC

Saraswati, Sylvia. 2009. Diet Sehat. Jogjakarta: A+Plus Books.

Soegondo,dkk. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia.

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 21


Suyono, Slamet. 2002. Pedoman Diet Diabetes Melitus. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

Syaifuddin. 2002. Struktur dan Komponen Tubuh Manusia. Jakarta : EGC

Wilson, M.N. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta : EGC

Utama Corporation www.istanakeperawatan.blogspot.com Page 22