You are on page 1of 17

KEKAMBUHAN KELAINAN SERVIKS DERAJAT TINGGI SETELAH

TATALAKSANA KONSERVATIF NEOPLASIA INTRAEPITEL SERVIKS

DERAJAT 2

TUJUAN: Tatalaksana konservatif neoplasia intraepitel serviks atau cervical

intraepitelial neoplasia (CIN) derajat 2 pada wanita berusia di bawah 25 tahun

dapat mengurangi penguobatan yang berlebih. Namun, efekftifitas jangka panjang

masih belom pasti. Studi kohort retrospektif ini bertujuan untuk mengetahui

tingkat kekambuhan kelainan derajat tinggi di kalangan wanita muda dengan

riwayat CIN 2 yang secara spontan mengalami regresi dalam waktu 2 tahun dan

membandingkannya dengan tingkat kelainan derajat tinggi pada wanita serupa

dengan diagnosis awal CIN 1.

DESAIN PENELITIAN: Kami mengidentifikasi semua wanita berusia di bawah

25 tahun yang didiagnosis dengan CIN 1 atau CIN 2 antara Januari 2005 dan

Agustus 2009 dalam 2 unit kolposkopi. Data follow up dari Program Skrining

Serviks Nasional diperoleh untuk mengidentifikasi wanita-wanita yang

mengalami lesi derajat tinggi berulang sebelum Oktober 2012. Perbandingan

dilakukan dengan menggunakan regresi bahaya proporsional Cox.

HASIL: Sebanyak 683 wanita diinklusi: 106 dengan CIN 2 yang mengalami

regresi spontan, 299 dengan CIN 2 yang diobati, dan 278 dengan CIN1 yang

ditangani secara konservatif. Median follow-up adalah 4 tahun. Tidak ada

perbedaan yang signifikan dalam risiko pengembangan kelainan derajat tinggi

setelah 2 tahun antara kelompok CIN 2 dan CIN 1 yang mengalami regresi
spontan (P = 0,83). Wanita dengan CIN 2 yang diobati memiliki risiko kambuhan

yang jauh lebih rendah daripada wanita dengan CIN 2 yang tidak diobati (P =,

01).

KESIMPULAN: CIN 2 yang mengalami regresi spontan tampaknya berperilaku

sebagai lesi derajat rendah. Penelitian ini memberikan kontribusi pada

peningkatan bukti bahwa pengamatan CIN 2 secara cermat adalah pilihan

tatalaksana awal yang efektifitas dan tepat untuk wanita berusia di bawah 25

tahun saat diagnosis.

Kata kunci: neoplasia intraepitel serviks, manajemen konservatif, derajat 2,

wanita muda

Skrining serviks rutin wanita di bawah usia 25 tahun ini kontroversial dan

bervariasi secara internasional. Di Selandia Baru, semua wanita ditawari skrining

dari usia 20 tahun ke atas,1 sedangkan skrining dimulai pada usia 18 tahun di

Australia2 dan 25 tahun di Britania Raya.3 Keputusan di Inggris untuk mulai

melakukan skrining pada usia 25 tahun dibuat berdasarkan analisis yang

menunjukkan tidak ada pengurangan kejadian kanker serviks di kalangan wanita

yang diskrining di bawah usia 25 tahun.4 Satuan Tugas Pelayanan Pencegahan AS

merekomendasikan untuk mulai melakukan skrining pada usia 21 tahun.5

Mengingat bahwa manfaat skrining dalam kelompok usia ini mungkin

terbatas, jika skrining dilakukan, ada kewajiban kuat untuk meminimalkan bahaya

perlakuan yang tidak perlu. Cervical intraepithelial neoplasia (CIN) grade 2 dan

3 secara kolektif diklasifikasikan sebagai high-grade squamous intraepithelial


lesions (HSIL). Memang, menurut Lower Anogenital Squamous Terminology,

mereka tidak dibedakan. Lesi ini umumnya dikelola dengan cara yang sama,

dengan menggunakan pengobatan kuratif. Pendekatan umum ini telah diikuti

secara historis untuk memastikan keamanan perempuan; namun, dalam kasus CIN

2, sebagian besar tidak didukung oleh bukti yang kuat. 7 Meskipun CIN 3 telah

terbukti secara meyakinkan membawa risiko tinggi terkena kanker,8 CIN 2 tidak

begitu jelas prekanker.

Risiko pengobatan berlebihan tertinggi pada wanita di bawah usia 25

tahun karena kejadian puncak CIN 2 pada kelompok ini, namun ada insiden

kanker serviks yang rendah.7,10,11 Sasieni dkk12 pada tahun 2009 memperkirakan

kurang dari 1,5% risiko pengembangan kanker serviks pada usia 25 tahun pada

wanita dengan CIN 2 atau 3 yang tidak diobati pada usia di bawah 25 tahun.

Mengingat bahwa CIN 3 telah terbukti membawa risiko kanker yang lebih tinggi

daripada CIN 2,9, risiko ini kemungkinan overestimasi bila mempertimbangkan

CIN 2 saja. Selanjutnya, telah ditunjukkan bahwa 40-74% CIN 2 pada wanita

berusia di bawah 25 tahun secara spontan mengalami regresi dalam waktu 24

bulan.13-18

Mengingat fakta ini dan bahaya intervensi (yang mungkin mencakup

komplikasi obstetrik19-22), pedoman internasional telah bergeser untuk

merekomendasikan mempertimbangkan manajemen konservatif pada wanita

muda dengan CIN 2.1,23,24 Pedoman konsensus American Society of Colposcopy

and Cervical Pahtology 2006 yang menunjukkan pengamatan 6 bulan dengan

kolposkopi dan sitologi selama 24 bulan untuk HSIL, diikuti oleh eksisi jika lesi
masih ada.24 Perkins dkk25 pada tahun 2012 menemukan bahwa pengenalan

pedoman ini mengurangi penggunaan prosedur eksisi electrosurgical loop untuk

mengobati displasia sedang pada wanita berusia 18-23 tahun dari 55% menjadi

18%. Pedoman American Society of Colposcopy dan Cervical Pathology 2012

juga setuju dengan 24 bulan masa follow up.26

Penelitian sebelumnya tidak menunjukkan perkembangan kanker pada

wanita yang ditangani secara konservatif dengan CIN 2 dan tingkat regresi yang

tinggi pada remaja dan kelompok usia 20-25 tahun tua. 14-17 Namun, penelitian ini

hanya merangkum hasil jangka pendek (sampai 24 bulan masa follow up). Oleh

karena itu, ada kemungkinan yang belum dijelajahi, yang mengikuti regresi

spontan yang nyata, wanita dengan CIN2 yang dikelola secara konservatif

mungkin berisiko tinggi mengalami kelainan derajat tinggi rekuren. Ini akan

menunjukkan efektifitas manajemen konservatif (dengan perawatan yang tertunda

dan bukannya dicegah), menciptakan kebutuhan untuk observasi ketat dalam 2

tahun, dan menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan. Oleh karena itu

penyelidikan harus dilakukan.

CIN 1 secara umum diterima sebagai manifestasi infeksi human

papillomavirus (HPV) saja, membawa risiko yang sangat rendah untuk keganasan

berikutnya.9,27,28 Kelompok ini memberikan ukuran yang baik tentang tingkat

kekambuhan yang dapat diterima.

Studi kohort retrospektif ini bertujuan untuk mengetahui tingkat

kekambuhan kelainan serviks derajat tinggi dikalangan wanita dengan riwayat


CIN 2 yang secara spontan mengalami regresi secara spontan dan

membandingkannya dengan tingkat kelainan derajat tinggi pada wanita yang sama

dengan diagnosis awal CIN. 1.

Sebagai tujuan sekunder, kami juga bermaksud membandingkan dengan

kekambuhan pada wanita yang telah menerima pengobatan untuk CIN 2.

BAHAN DAN METODE

Kohort studi kami berasal dari 2 unit kolposkopi di Selandia Baru (Christchurch

dan Dunedin).

Data diambil secara retrospektif; Oleh karena itu, peneliti studi tidak

memiliki pengaruh terhadap keputusan manajemen yang dibuat mengenai anggota

kohort. Semua anggota kohort menerima diagnosis histologis baru CIN 1 atau

CIN 2 antara Januari 2005 dan Agustus 2009. Pada saat ini, pedoman tatalaksana

lokal mendukung pendekatan konservatif untuk menangani CIN 1, yang terdiri

dari 12 sitologi selama 24 bulan dan yang mendukung pengobatan segera untuk

CIN 2.1

Pemilihan anggota kelompok dengan diagnosis CIN 2 dikelola secara

konservatif dengan surveilans sitologi dan kolposkopi 6 bulan selama 24 bulan;

namun, keputusan ini bergantung pada preferensi pasien dan klinisi individual.

Catatan kolposkopi lokal pada masing-masing unit dicari untuk

mengidentifikasi semua wanita yang menerima diagnosis histologis baru dari CIN

1 atau CIN 2 antara Januari 2005 dan Agustus 2009 dan yang berusia lebih muda
dari 25 tahun pada saat diagnosis. Catatan ini juga digunakan untuk menentukan

usia saat diagnosis, etnisitas, status merokok saat diagnosis, paritas saat diagnosis,

dan untuk mengetahui apakah ada wanita yang pernah menjalani histerektomi.

Catatan skrining serviks lengkap untuk wanita ini diperoleh dari daftar

Program Skrining Serviks Nasional. Ini memberikan catatan tentang semua

pemeriksaan pap smear dan kolposkopi yang diterima oleh wanita, di semua pusat

di Selandia Baru, baik di sektor kesehatan publik maupun swasta, bersamaan

dengan hasil sitologis dan histologis, dan catatan perawatan apa pun yang

diterima, sebelum Oktober 2012.

Semua catatan skrining dibandingkan dengan kriteria inklusi dan eksklusi

untuk kohort. Wanita disingkirkan jika mereka memiliki data follow up kurang

dari 2 tahun, jika mereka memilih keluar dari daftar skrining, atau jika mereka

menerima pengobatan untuk diagnosis awal CIN 1. Wanita juga dieksklusi jika

kedua hasil terakhir mereka sebelum 24 bulan dan hasil pertama mereka setelah

24 bulan menunjukkan kelainan derajat tinggi, tanpa perawatan terdokumentasi di

antara 2 hasil ini (yaitu, jika tidak ada perawatan atau regresi terdokumentasi)

karena ini akan melanggar protokol manajemen konvensional dan protokol

konservatif. Dalam prakteknya, ini berarti bahwa semua wanita dalam studi

kohort bebas dari penyakit derajat tinggi yang diketahui pada follow up 2 tahun.

Wanita dengan diagnosis awal CIN 2 dibagi menjadi 2 kelompok: regresi

spontan dan pengobatan.


Kelompok regresi spontan mencakup semua wanita yang memiliki bukti

regresi dalam 2 tahun diagnosis awal dan tidak ada bukti pengobatan. Kelompok

pengobatan mencakup semua wanita yang menerima beberapa bentuk pengobatan

untuk displasia serviks dalam 2 tahun.

Bukti regresi didefinisikan sebagai setidaknya 1 hasil histologi atau

sitologi yang menunjukkan serviks normal atau perubahan derajat rendah saja

(CIN 1, infeksi HPV saja, lesi intraepitel skuamosa derajat rendah, sel skuamosa

atipikal yang tidak diketahui secara pasti), dengan tidak adanya sampel kedua

yang diambil bersamaan menunjukkan perubahan derajat tinggi (CIN2, CIN3,

HSIL, sel skuamosa atipikal: lesi intraepitel skuamosa derajat tinggi tidak dapat

dikesampingkan [ASC-H], adenokarsinoma in situ, dan sel kelenjar atipikal).

Perawatan meliputi eksisi loop lokal zona transisi, cold knife cone biopsy,

dan ablasi laser.

Sesuai dengan kriteria seleksi kohort kami, semua wanita yang diinklusi

dengan CIN 1 tidak menerima pengobatan apapun dalam 2 tahun diagnosis awal

sehingga dapat dibandingkan dalam tatalaksana dengan kelompok regresi spontan

CIN 2.

Kami mengantisipasi jumlah total wanita dengan CIN 1 terlalu besar untuk

dikelola secara logistik. Oleh karena itu, kami memperoleh rekaman skrining

lengkap hanya untuk proporsi wanita dengan CIN 1.


Pemilihan perempuan dengan CIN 1 untuk dieksklusikan bersifat acak

namun dengan modifikasi untuk mengkreasikan modifikasi antara regresi spontan

CIN 2 dan CIN 1 dalam durasi follow up.

Semua wanita dikelompokkan berdasarkan diagnosis awal tahun. Untuk

tahun tertentu, jika jumlah wanita di kelompok CIN 1 kurang dari 3 kali jumlah

wanita di kelompok regresi spontan CIN 2, semua wanita dengan diagnosis awal

CIN 1 disertakan. Jika tidak, maka wanita dengan diagnosis awal CIN 1 secara

acak dieksklusikan oleh seorang peneliti yang tidak mengetahui hasil jangka

panjangnya, sehingga jumlah total wanita di kelompok CIN 1 adalah 3 kali jumlah

pada kelompok regresi spontan CIN 2. Proses ini dilakukan setelah konsultasi

biostatistik.

Karakteristik awal kohort pada 3 kelompok dibandingkan dengan uji X2

untuk variabel kategori, dan 1-way analysis of variance untuk variabel kontinu.

Independent-sample Student t test digunakan saat membandingkan 2 kelompok

saja. Bila lebih dari 1 kegiatan follow-up (didefinisikan sebagai uji kolposkopi

atau pemeriksaan pap smear masyarakat) telah terjadi lebih 2 tahun, waktu rata-

rata antara setiap kejadian dihitung dan dibandingkan antar kelompok.

Hasil ditentukan dari hasil sitologi dan histologis. Dimana sitologi dan

histologi tersedia dari 1 kunjungan kolposkopi, hasil histologi digunakan kecuali

hasil histologi normal dan hasil sitologi abnormal.

Hasil utamanya adalah pengembangan perubahan derajat tinggi

(didefinisikan sebagai bukti sitologis atau histologis CIN2/3, HSIL, ASC-H,


adenokarsinoma in situ, sel glandular atipikal, atau yang lebih buruk) paling

sedikit 2 tahun setelah diagnosis awal. Dengan demikian, kurva Kaplan-Meier

dibangun mulai 2 tahun. Model Cox proportional hazards digunakan untuk

menghitung hazard ratio dan confidence interval dan menyesuaikan potensi

perancu.

Persetujuan etika diperoleh dari Komite Etik Universitas Otago dan

otorisasi regional untuk menggunakan data klinis yang diperoleh di Christchurch

dan Dunedin.

Analisis dilakukan dengan menggunakan SPSS 19.0 for windows (SPSS

Inc, Chicago, IL).

HASIL

Kohort penelitian akhir mencakup 683 wanita: 106 (16%) dengan CIN 2 yang

mengalami regresi secara spontan, 299 (44%) dengan CIN2 yang diobati, dan 278

(41%) dengan CIN1 yang ditatalaksana secara konservatif. Eksklusi diuraikan

pada Gambar 1.

Data baseline kohort disajikan pada Tabel 1. Beberapa data ini hilang

karena masing-masing klinisi tidak mencatat gambaran klinis demografi atau latar

belakang lengkap dalam database kolposkopi. Penyebut untuk persentase yang

disajikan adalah wanita dengan data yang tersedia.

Wanita dalam kelompok CIN 2 regresi spontan secara bermakna lebih

mungkin dibandingkan wanita di 2 kelompok lainnya yang berusia di bawah 20


tahun pada saat diagnosis, namun tidak ada perbedaan yang signifikan antara

kelompok etnis atau tingkat merokok dan nuliparitas. Tidak ada wanita yang

didokumentasikan mengalami histerektomi.

Median durasi follow up untuk kohort keseluruhan adalah 4,1 tahun dari

waktu diagnosis awal, dengan 26% wanita memiliki setidaknya 5 tahun data

follow up.

Perbedaan yang signifikan dalam follow up ditemukan di antara 3

kelompok penelitian. Namun, seperti yang diharapkan dalam rancangan

penelitian, tidak ada perbedaan antara kelompok CIN 1 dan CIN 2 regresi spontan

berkenaan dengan persentase wanita dengan data follow-up 5 tahun (P = ,76),

dalam rata-rata lama follow up (P =, 43), atau tahun diagnosis awal (P =, 25). Juga

tidak ada perbedaan antara 2 kelompok ini dalam frekuensi follow up (P =, 54).

Kurva Kaplan-Meier untuk 3 kelompok disajikan pada Gambar 2. Hazard

ratios untuk pengembangan kelainan derajat tinggi (dihitung dari regresi Cox

proportional hazards) disajikan pada Tabel 2. Penyesuaian dilakukan untuk usia

saat diagnosis, status merokok saat diagnosis, etnisitas, dan pusat pengobatan

awal. Setelah penyesuaian, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara CIN

2 dan CIN 1 regresi spontan (P =, 0,83). Namun, kelompok CIN 2 perlakuan

ternyata memiliki risiko kelainan derajat tinggi yang jauh lebih rendah daripada

CIN 2 dan CIN 1 regresi spontan (P =, 01 dan P =, 001). Pusat pengobatan

ternyata memiliki pengaruh yang signifikan terhadap risiko kelainan derajat tinggi
(P =, 007); tidak ada kovariat lain dalam model yang terkait secara signifikan

dengan hasil ini.

Risiko pengembangan kelainan derajat tinggi selama masa follow up

untuk masing-masing kelompok studi adalah 17% untuk CIN 2 regresi spontan

(18 dari 106), 12% untuk CIN 1 (32 of 278), dan 4% untuk CIN 2 pengobatan (13

of 299). Kelainan derajat inggi yang terdeteksi meliputi CIN 2, CIN 3, HSIL, dan

ASC-H. Jumlah anggota kohort yang rendah yang mengalami kelainan tersebut

menghalangi analisis lebih lanjut mengenai risiko pengembangan kelainan

spesifik.

Mengingat temuan hasil yang berbeda secara signifikan antara pusat

pengobatan (dengan tingkat kekambuhan yang lebih tinggi di Christchurch

daripada di Dunedin), dilakukan 2 post-hoc analyses.

Pertama, lama rata-rata dan frekuensi follow up dibandingkan antara 2

pusat. Tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan, dengan rata-rata masa

follow up dari diagnosis awal 4,26 tahun di Christchurch dan 4,31 tahun di

Dunedin (P =, 64), dan frekuensi follow up rata-rata 1,10 tahun di Christchurch

dan 1,17 tahun di Dunedin (P = .19). (Frekuensi follow up mengacu pada waktu

rata-rata antara 2 kejadian follow up berturut-turut, dari 2 tahun setelah diagnosis

dan seterusnya).

Kedua, analisis regresi Cox proportional hazards dilakukan dengan metode

diagnosis (sitologi atau histologi). Perbedaan baku yang signifikan ditemukan di

antara 2 pusat ketika kelainan yang terdeteksi secara histologis digunakan sebagai
hasil (hazard ratio, 3,19; 95% confidence interval [CI], 1,24-8.22; P = .02);

namun, tidak ada perbedaan yang ditemukan pada risiko kelainan yang terdeteksi

secara sitologis (hazard ratio, 1,00; 95% CI, 0,40-2.47; P =, 99).

Akhirnya, jumlah rata-rata histologi yang tersedia dihasilkan dari 2 tahun

setelah diagnosis awal dan seterusnya untuk wanita dari masing-masing pusat

dihitung. Ini lebih tinggi untuk Christchurch (0,41) daripada Dunedin (0,33),

meskipun perbedaannya tidak signifikan (P =, 14).

KOMENTAR

Sejauh pengetahuan kami, ini adalah pertama kalinya hasil jangka panjang (lebih

2 tahun) manajemen konservatif CIN 2 telah dilaporkan dalam literatur. Temuan

utama dari penelitian ini adalah bahwa, di mana CIN 2 hadir pada wanita muda

(berusia di bawah 25 tahun) dan mengalami regresi secara spontan dalam waktu 2

tahun, risiko rekurensi kelainan derajat tinggi tidak signifikan lebih tinggi

daripada risiko di kalangan wanita yang awalnya didiagnosis dengan CIN 1. Ini

menegaskan nilai tatalaksana konservatif CIN 2 pada kelompok ini dengan

menunjukkan bahwa sebagian besar CIN 2 berperilaku sebagai lesi derajat rendah.

Kriteria inklusi dan eksklusi spesifik berarti bahwa 2 kelompok ini

(konservatif CIN 1 dan CIN 2) dapat dibandingkan di dalam kohort studi. Tidak

ada perbedaan yang ditemukan dalam distribusi tahun diagnosis awal, frekuensi

follow up, atau masa follow up, sehingga hasilnya tidak mungkin bias oleh

perubahan protokol manajemen atau follow up diferensial.


Meskipun 2 kelompok secara signifikan berbeda dalam usia saat diagnosis

(dengan wanita CIN 2 lebih mungkin berusia di bawah 20 tahun),

menyesuaikannya dengan analisis ini tidak mengubah hasilnya. Selanjutnya,

semua wanita di kedua kelompok menjalani biopsi untuk tujuan memberikan

diagnosis histologis. Kemungkinan biopsi semacam itu yang berdampak pada

riwayat alami CIN 1 atau 2 telah ditolak untuk tujuan perbandingan.

Dibandingkan dengan wanita yang telah menjalani pengobatan, wanita

yang ditatalaksana secara konservatif tampaknya masih dalam peningkatan risiko

kelainan derajat tinggi paling sedikit 5 tahun. Temuan ini berimplikasi pada

protokol manajemen konservatif, dan eksplorasi penuh dari efek ini memerlukan

follow up dalam skala waktu yang lebih lama daripada yang ada di sini.

Persentase perempuan di setiap kelompok yang mengalami kelainan

derajat tinggi tampaknya tinggi: 17% untuk kelompok CIN 2 regresi spontan, 12%

untuk kelompok CIN 1, dan 4% untuk kelompok perlakuan CIN 2. Namun, ini

tidak mengherankan, mengingat rancangan studi, yang dengan sengaja mengambil

pendekatan yang sangat general, hanya memerlukan 1 hasil (sitologi atau

histologi), menunjukkan adanya perubahan derajat tinggi untuk menyatakan

bahwa ada abnormalitas semacam itu. Ini memastikan kekuatan yang cukup dan

diterapkan secara konsisten antar kelompok. Namun, ini berarti bahwa tingkat

abnormalitas yang dilaporkan tersebut tampaknya terlalu tinggi.

Efek dari pendekatan ini paling baik dilihat pada perbedaan yang dicatat di

antara 2 pusat penelitian, dengan wanita di Christchurch memiliki risiko kelainan


derajat tinggi yang lebih tinggi daripada wanita di Dunedin. Analisis post-hoc

menunjukkan bahwa jika hanya hasil sitologi yang dipertimbangkan, tidak akan

ada perbedaan tingkat kelainan derajat tinggi yang teramati di antara 2 pusat.

Hal ini mungkin terjadi karena lebih banyak biopsi yang dilakukan per

wanita di Christchurch (tercermin pada sejumlah besar hasil histologis per wanita

dan dalam rata-rata follow up sedikit lebih sering), bukan tingkat kelainan

sitologis yang lebih tinggi. Jelas, perbedaan pendekatan klinis terhadap

kolposkopi dapat mempengaruhi tingkat displasia serviks yang diamati. Dengan

meyakinkan, mengendalikan perbedaan antara 2 pusat studi tidak mengubah

temuan penelitian secara substansial (hazard ratio yang baku dan disesuaikan

serupa).

Ini menggambarkan kelemahan penting dalam desain penelitian: sifat

retrospektifnya berarti bahwa manajemen dan follow up pasien tidak

distandarisasi. Definisi regresi CIN 2 yang liberal diterapkan, termasuk semua

wanita dengan sekurangnya 1 spesimen sitologi atau histologi yang

mengkonfirmasi CIN 1 atau kurang dan tidak ada bukti perubahan derajat tinggi

berikutnya dalam waktu 24 bulan. Meski begitu kami dapat mengharapkan 2

spesimen semacam itu karena sifat heterogen dari kelompok ini dan

memungkinkan penundaan dalam follow up, definisi yang lebih ketat tidak dapat

diterapkan. Jika ini akan memperkenalkan bias, orang akan berharap bahwa hal itu

dapat menghasilkan tingkat derajat tinggi yang lebih tinggi dalam kelompok ini,

jadi eksklusi subkelompok tidak mungkin mengubah kesimpulan penelitian.


Setiap bias yang diperkenalkan oleh rejimen follow up yang beragam

diminimalkan dengan penggunaan data dari program skrining nasional

(memungkinkan identifikasi pasien secara sistematis dan memastikan tingkat

follow up yang teratur), dan dampak dari filosofi manajemen yang berbeda di

berbagai pusat. Bagaimanapun, inti utama dari penelitian ini tetap sama setelah

disesuaikan dengan pusat perawatan, yang menunjukkan tingkat generalisasi yang

baik. Selanjutnya, perbedaan yang dapat diamati antar pusat – pusat penelitian,

memberikan informasi mengenai sulitnya menginterpretasikan penelitian dan

manajemen protokol, dimana hal ini bergantung pada diagnosis histologi dan

sitologi dari kelas CIN. Juga harus diakui bahwa terdapat bukti yang jelas

mengenai adanya variasi diantara dan intraobserver dalam menegakkan diagnosis

histologi dan sitologi penyakit pada serviks.29-31 Dalam penelitian ini, hasil belum

dapat diambil kesimpulannya, dan oleh karena itu, mungkin terdapat

ketidakakuratan. Khususnya, hasil yang pada awalnya dianggap CIN 2 sebenarnya

juga mewakili CIN 1. Meskipun hal ini adalah suatu peringatan penting, namun

bukanlah suatu batasan yang signifikan, mengingat konteks klinis dari pertanyaan

yang ada. Ketika akan menentukan rencana pengelolaan yang tepat, klinisi harus

bertindak berdasarkan data yang ada, dan karena itu, kelompok studi kami juga

diklasifikasikan berdasarkan dasar yang sama dengan ini. Implikasi lebih lanjut

dari variabilitas pengujian adalah bahwa CIN 2 sebenarnya bisa mencakup

berbagai entitas biologis. Kelompok utama peminatan kami adalah wanita yang

yang menderita CIN 2 dan mengalami kemunduran secara spontan dalam waktu 2

tahun, hal ini dapat mewakili subset khusus dari semua CIN 2. Secara khusus, ini
mungkin merupakan dasar subset biologi yang serupa dengan CIN 1. Penelitian

lebih lanjut diperlukan untuk stratifikasi CIN 2, khususnya mencari prediktor

regresi. Karena ukuran dan sifat retrospektif kecil dari penelitian ini, penelitian

prospektif yang lebih besar perlu dilakukan sebelum kesimpulan definitif dapat

dilakukan. Ukuran kohort ditentukan oleh jumlah wanita yang kebetulan

didiagnosis dengan CIN 2 dalam jangka waktu tertentu. Perhitungan tenaga

formal tidak dilakukan. Dalam hal hasil utama (rasio bahaya pengembangan

kelainan kadar yang tinggi, dengan membandingkan regresi spontan CIN 2 dan

CIN 1), CI 95% tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar pengambilan

keputusan klinis (0.44e1. 94). Hasil yang lebih tepat diharapkan dengan kohort

yang lebih besar. Selain itu, risiko kanker yang sangat rendah pada kelompok usia

ini berarti bahwa penelitian tersebut tidak didukung secara efektif untuk

menyelidiki keamanan manajemen konservatif. Akhirnya, sifat ad hoc dari divisi

kohort membuat hasil tersebut rentan terhadap bias seleksi yang tidak pasti.

Dalam keterbatasan ini, kami menyimpulkan bahwa kemungkinan pada wanita

dipilih menjadi responden dengan CIN 2, jika terjadi regresi spontan, dapat

menyebabkan berulangnya kelainan tingkat tinggi, dimana frekuensinya sama

dengan wanita yang memiliki CIN 1 namun dikelola secara konservatif. Penelitian

ini berkontribusi pada semakin banyaknya bukti bahwa observasi CIN 2 dengan

hati – hati merupakan pilihan manajemen awal yang tepat dan sesuai untuk wanita

di bawah usia 25 tahun.


Journal Reading

Disusun oleh :

Topan Muhamad Nur

2013730184

Pembimbing :

dr. H. Hermawan, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIANJUR
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2018