You are on page 1of 30

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

ASPEK LEGAL KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH


SAKIT DALAM HAL PENGELOLAHAN LIMBAH

Diajukan guna melengkapi tugas kepaniteraan Ilmu Kedokteran Forensik

Disusun oleh:
Adinda Hana Satrio 1610221112
Devanti Eka Utami Putri 1610221120
Eka Sulistyowati 1610221143
Muliany Pratiwi 1610221095

Dosen penguji:
dr. Santosa, Sp.F, MH(Kes)
Residen Pembimbing:
dr. Yudhitya Meglan Haryanto

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
RSUP DR. KARIADI SEMARANG
PERIODE 02 JANUARI – 27 JANUARI 2018
HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing referat dari:


Nama : Adinda Hana Satrio 1610221112
Devanti Eka Utami Putri 1610221120
Eka Sulistyowati 1610221143
Muliany Pratiwi 1610221095

Fakultas : Kedokteran Umum


Bagian : Ilmu Kedokteran Forensik FK UNDIP
Judul : Aspek Legal Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit dalam
Hal Pengelolaan Limbah

Ditujukan untuk memenuhi syarat menempuh ujian Kepaniteraan Klinik Ilmu


Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro.

Semarang, 15 Januari 2018


Mengetahui,

Dosen Penguji Residen Pembimbing

dr. Santosa, Sp.F, MH(Kes) dr. Yudhitya Meglan Haryanto

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan kasih karuania-Nya, penulisan referat “Aspek Legal Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit dalam Hal Pengelolaan Limbah” dapat
diselesaikan dengan baik. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr.
Santosa, Sp.F, MH(Kes) dan dr.Yudhitya Meglan Haryanto atas bimbingan
dan saran beliau selama penulisan referat ini. Penulis juga berterima kasih
kepada semua pihak yang membantu, baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam penulisan referat ini.
Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan
permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan baik yang
disengaja maupun tidak. Penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam referat ini. Oleh karena itu, segala saran atau kritik yang
membangun akan dijadikan sebagai pemacu untuk membuat karya yang
lebih baik lagi. Akhir kata, penulis berharap semoga referat ini bermanfaat
bagi kita semua.

Semarang, Januari 2018

Penulis

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………….…………………. 3
DAFTAR ISI…………………………………………………………. 4
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………. 5
1.1. Latar Belakang…………………………………………….. 5
1.2. Rumusan Masalah…………………………………………. 6
1.3. Tujuan Penulisan………………………………………….. 6
1.4. Manfaat Penulisan…………………………………………. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………………………………. 8
2.1. Pengertian Rumah Sakit…………………………………… 8
2.2. Pengertian Kesehatan lingkungan Rumah Sakit…………... 8
2.3. Ruang Lingkup Kesehatan Rumah Sakit………………….. 8
2.4. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit………………………… 9
2.5. Dampak Limbah Rumah Sakit…………………………….. 18
2.6. UU dan Peraturan Pengelolaan Limbah RS di Indonesia…. 19
2.7. Penerapan Peraturan dan UU Kasus Pelanggaran………… 21
BAB III PENUTUP…………………………………………………. 27
3.1. Kesimpulan……………………………………………….. 27
3.2. Saran……………………………………………………… 28
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………. 29

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Rumah sakit adalah tempat kerja yang memiliki bahaya-bahaya
potensial yang dapat membahayakan kesehatan dan dapat menyebabkan
kecelakaan pada pekerja, pasien, atau pengunjung. Untuk
mengendalikan bahaya-bahaya tersebut, perlu dilakukan upaya
penyehatan lingkungan rumah sakit.1 Rumah sakit sebagai tempat atau
sarana pelayanan umum juga menghasilkan sampah atau limbah yang
dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan
lingkungan hidup. Untuk kegiatan pengelolaan rumah sakit terkait
berbagai dampak ini di tetapkan Peraturan Menteri Kesehatan No.
1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit. Terdapat beberapa poin penting terkait persyaratan
kesehatan lingkungan rumah sakit dalam permenkes tersebut salah
satunya mengenai pengelolaan limbah rumah sakit.2, 3
Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh
kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Saat ini Limbah
rumah sakit, khususnya limbah medis yang infeksius belum di kelola
dengan baik. Sebagian besar pengelolaan limbah infeksius disamakan
dengan limbah medis noninfeksius, selain itu kerap bercampur limbah
medis dan non medis yang justru memperbesar permasalahan limbah
medis. Belakangan ini muncul berbagai masalah limbah medis dalam
lingkungan masyarakat. Salah satunya adalah tindakan pengelolaan
limba medis tanpa izin yang ditemukan di kota surabaya pada akhir bulan
oktober tahun 2017, Limbah medis tersebut di angkut oleh dua truk yang
ditemukan di pemukiman warga, limbah yang dikategorikan sebagai
bahan berbahaya dan beracun (B3) tersebut tidak langsung dikelola
ditempat khusus setelah diangkut dari beberapa rumah sakit. Hal ini
berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan penyebaran
berbagai virus penyakit yang dapat membahayakan kesehatan

5
masyarakat. Perusahan pengangkut limbah medis tersebut di duga telah
melanggar beberapa peraturan tentang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup. Menurut aturan 2 hari setelah limbah medis di angkut
harus segera simpan dan diproses ditempat penyimpanan khusus dengan
suhu 0 selsius. Namun pada kasus ini, limbah tersebut telah di diamkan
selama lebih dari tiga hari di pemukiman warga dan dikhawatirkan dapat
membahayakan lingkungan sekitar. 4
Contoh kasus ini menunjukan perlu adanya kesadaran dari berbagai
pihak yang terkait dengan pengelolaan limbah medis lebih khusus bagi
petugas kesehatan dalam menjaga lingkungan rumah sakit yang sehat
dan bersih agar tidak membahayakan lingkungan sekitar. Untuk
menjalankan hal tersebut cukup sulit dan kompleks berhubungan dengan
berbagai aspek diantaranya budaya kebiasaan, lingkungan sosial dan
teknologi. Sehingga diperlukan adanya aturan - aturan khusus dalam
menjalanan pengelolaan limbah medis yang baik dan benar. Pada referat
ini akan membahas mengenai bagaimana pengolahan limbah rumah
sakit , dampak pengelolaan limbah menis yang tidak benar sserta
berbagai hukum atau undang -undang yang mengatur mengenai tata cara
pengelolaan limbah tersebut.4
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian kesehatan lingkungan Rumah Sakit secara
umum?
2. Apa saja yang termasuk dalam aspek kesehatan lingkungan Rumah
Sakit?
3. Apa saja jenis limbah Rumah Sakit dan bagaimana cara
pengelolaannya?
4. Aspek hukum mengenai kesehatan lingkungan Rumah Sakit
5. Bagaimana konsekuensi dan sebab akibat apabila melanggar
ketentuan dalam menjalankan kesehatan lingkungan Rumah Sakit?
1.3. Tujuan Referat
1.3.1. Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui pengertian kesehatan lingkungan Rumah Sakit

6
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui aspek-aspek yang termasuk dalam kesehatan
lingkungan Rumah Sakit
2. Untuk mengetahui jenis limbah Rumah Sakit dan cara
pengelolaannya
3. Untuk mengetahui aspek hukum mengenai kesehatan lingkungan
Rumah Sakit
4. Untuk mengetahui konsekuensi dan sebab akibat apabila
melanggar ketentuan dalam menjalankan kesehatan lingkungan
Rumah Sakit
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bidang Akademik
 Menambah pengetahun tentang aspek legal kesehatan lingkungan
rumah sakit dalam hal pengelolaan limbah
1.4.2. Masyarakat
 Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pengelolaan
limbah rumah sakit

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Rumah Sakit


Rumah Sakit (RS) adalah sebagai sarana pelayanan kesehatan, tempat
berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi
tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjaidnya pencemaran
lingkungan dan gangguan kesehatan. (Depkes RI, 2004).3
2.2. Pengertian Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit
a. Kesehatan Lingkungan
Kesehatan Lingkungan adalah upaya perlindungan, pengelolaan dan
modifikasi lingkungan yang diarahkan menuju keseimbangan ekologi
pada tingkat kesejahteraan manusia yang semakin meningkat.2, 3
b. Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit
Kesehatan lingkungan rumah sakit diartikan sebagai upaya penyehatan
dan pengawasan lingkungan rumah sakit yang mungkin berisiko
menimbulkan penyakit dan atau gangguan kesehatan bagi masyarakat
sehingga terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya (Depkes RI, 2009)3,5
Upaya kesehatan lingkungan rumah sakit meliputi kegiatan-kegiatan
yang kompleks sehingga memerlukan penanganan secara lintas program
dan lintas sektor serta berdimensi multi disiplin, untuk itu diperlukan
tenaga dan prasarana yang memadai dalam pengawasan kesehatan
lingkungan rumah sakit (Depkes RI, 2009).3
2.3. Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit
Kesehatan lingkungan rumah sakit meliputi beberapa aspek yang
diwujudkan dalam upaya-upaya Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit
sebagaimana persyaratan yang telah ditetapkan oleh Kepmenkes No.
1204/MENKES/SK/X/2004, Salah satu aspek utama yang dicantumkan
dalam persyaratan tersebut adalah pengelolaan limbah medis dimana
telah ditentukan bahwa saluran air limbah domestik dan limbah medis
harus tertutup dan terpisah, dan masing-masing dihubungkan langsung

8
dengan instalasi pengelolaan limbah. Beberapa aspek lain yang ikut serta
diatur dalam Kepmenkes tersebut antara lain: Penyehatan ruang
bangunan dan halam rumah sakit, hygiene sanitasi makanan dan
minuman, penyehatan air, penyehatan tempat pencucian linen (laundry),
pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu, dekontaminasi
melalui sterilisasi dan desinfeksi, pengamanan dampak radiasi serta
upaya promosi kesehatan dari aspek kesehatan lingkungan.2
2.4. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit
2.4.1. Pengertian
Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan
rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas. Limbah padat rumah sakit
adalah semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat
kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non-
medis.6,7
a) Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah
infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi,
sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah container
bertekanan dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi
b) Limbah padat non-medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari
kegiatan rumah sakit di luar medis yang yang berasal dari dapur,
perkantoran, taman, dan halama yang dapat dimanfaatkan kembali
apabila ada teknologinya.
c) Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berbentuk gas
yang berasal dari kegiatan pembakaran di rumah sakit seperti incinerator
dapur, perlengkapan generator, ansestesi, dan pembuatan obat sitotoksik.
Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persayaratan
Lingkungan Rumah Sakit.
d) Limbah infeksius adalah limbah berasal dari pembiakan dan stok bahan
sangat infeksius, otopsi, organ binatang percobaan dan bahan lain yang
telah diinokulasi, terinfeksi atau kontak dengan bahan yang sangat
infeksius.

9
e) Limbah sitotoksik adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari
persiapan dan pemberian obat sitotoksik untuk kemoterapi kanker yang
mempunyai kemampuan untuk membunuh atau menghambat
pertumbuhan sel hidup.
f) Minimasi limbah adalah upaya yang dilakukan rumah sakit untuk
mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dengan cara mengurangi
beban (reduce), menggunakan kembali limbah (reuse), dan daur ulang
(recycle).
2.4.2. Tujuan Pengelolaan Limbah
1. Melindungi petugas pembuangan limbah dari perlukaan
2. Melindungi penyebaran infeksi terhadap para petugas kesehatan
3. Mencegah penularan infeksi pada masyarakat sekitarnya
4. Membuang bahan-bahan berbahaya (bahan toksik dan radioaktif) dengan
aman.
2.4.3. Pengelolaan Limbah
Pengelolaan limbah dapat dilakukan mulai dari sebagai berikut:
1) Identifikasi limbah (padat, cair, tajam, infeksius, atau non infeksius)
2) Pemisahan: dimulai dari awal peghasil limbah, pisahkan limbah sesuai
dengan jenis limbah, tempatkan limbah sesuai dengan jenisnya, limbah
cair segera dibuang ke westafel di spoelhoek.
3) Labeling
a. Limbah padat infeksius: plastik kantong warna kuning – jika
kantong warna lain harus diikat tali warna kuning
b. Limbah padat non-infeksius: plastic kantong warna hitam
c. Limbah benda tajam : wadah tahan tusuk dan tahan air
4) Kantong pembuangan diberi label biohazard atau sesuai jenis limbah
5) Packing: tempatkan dlama wadah limbah tertutup, tutup mudah dibuka,
sebaiknya bisa dengan menggunakan kaki. Container dalam keadaan
bersih, container terbuat dari bahan yang kuat, ringan dan tidak berkarat.
Tempatkan setiap container limbah pada jarak 10-20 meter. Ikat limbah
jika sudah terisi ¾ penuh. Kontainer limbah harus dicuci setiap hari.

10
2.4.4. Persyaratan Pengelolaan Limbah Rumah Sakit
A. Limbah Medis Padat
Limbah medis padat teridiri dari limbah infeksius, limbah benda tajam,
limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif,
limbah container bertekanan dan limbah dengan kandungan logam berat
yang tinggi.
Persyaratan pengelolaan limbah rumah sakit pada limbah medis padat,
yaitu:
 Setiap rumah sakit harus melakukan reduksi dimulai dari sumber
 Setiap rumah sakit harus mengelola dan mengawasi penggunaan
bahan kimia yang berbahay dan beracun
 Setiap rumah sakit harus melakukan pengelolaan stok bahan kimia
dan farmasi
 Setiap peralatan yang digunakan dalam pengelolaan limbah medis
mulai dari pengumpulan, pengankutan dan pemusnahanharus
melalui sertifikasi dari pihak yang berwenang.
a. Pemilahan, pewadahan, pemanfaatan kembali daur ulang
i. Pemilahan limbah harus dilakukan mulai dari sumber yang
menghasilkan limbah
ii. Limbah yang akan dimanfaatkan kembali harus dipisahkan
dari limbah yang tidak dimanfaatkan kembali.
iii. Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah
tanpa memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya. Wadah
tersebut harus anti bocor, anti tusuk dan tidak mudah untuk
dibuka, sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat
membukanya
iv. Jarum dan syringes harus dipisahkan sehingga tidak dapat
digunakan kembali
v. Limbah medis padat yang akan dimanfaatkan kembali harus
melalui proses steriliasai sesuai Tabel 1. Untuk menguji
efektifitas sterilisasi panas harus dilakukan tes Bacillus

11
stearothermophillis dan untuk sterilisasi kimia dilakukan tes
Bacillus subtilis.
vi. Limbah jarum hipodermik tidak dianjurkan untuk
dimanfaatkan kembali. Apabila rumah sakit tidak mempunyai
jarum yang sekali pakai (disposable), limbah jarum
hipodermik dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui
proses salah satu metode sterilisasi
vii. Pewadahan limbah medis padat harus memenuhi persyaratan
dengan penggunaan wadah dan seperti pada Tabel 1.
viii. Daur ulang tidak bisa dilakukan oleh rumah sakit kecuali
pemulihan perak yang dihasilkan dari proses film sinar X.
ix. Limbah sitotoksis dikumpulkan dalam wadah yang kuat, anti
bocor dan diberi label bertuliskan “limbah sitotoksis”
Tabel 1. Metode sterilisasi untuk limbah yang dimanfaatkan kembali
Metode sterilisasi kontak Suhu Waktu
Sterilisasi kering dalam oven 160° 120 menit
Poupinel 170° 60 menit
Sterilisasi basah dalam autoclave 121° 30 menit

Sterilisasi dengan bahan kimia


ethylene oxide (gas) 50° 3-8 jam
glutaraldehyde (cair) 60° 30 menit

b. Pengumpulan, pengangkutan dan penyimpanan limbah medis


padat di lingkungan rumah sakit
i. Pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan
penghasil limbah menggunakan troli khusus yang tertutup
ii. Penyimpanan limbah medis padat harus sesuai iklim tropis,
yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim
kemarau paling lama 24 jam

12
c. Pengumpulan, pengemasan dan pengangkutan ke luar rumah
sakit
i. Pengelola harus mengumpulkan dan mengemas pada tempat
yang kuat.
ii. Pengangkutan ke luar rumah sakit menggunakan kendaraan
khusus.
d. Pengolahan dan pemusnahan
i. Limbah medis padat tidak diperbolehkan dibuang langsung ke
tempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman
bagi kesehatan
ii. Cara dan teknologi pengolahan atau pemusnahan limbah
medis padat disesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dan
jenis limbah medis padat yang ada, dengan pemanasan
menggunakan autoclave atau dengan pembakaran incinerator.
e. Tatalaksana pengelolaan limbah rumah sakit
i. Minimasi limbah
1. Menyeleksi bahan-bahan yang kurang menghasilkan
limbah sebelum membelinya
2. Menggunakan sedikit mungkin bahan-bahan kimia
3. Mengutamakan metode pembersihan secara fisik daripada
secara kimia.
4. Mencegah bahan-bahan yang dapat menjadi limbah seperti
dalam kegiatan perawatan dan kebersihan
5. Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku
sampai menjadi limbah bahan berbahaya dan beracun
6. Memesan bahan-bahan sesuai kebutuhan
7. Menggunakan bahan-bahan yang sdiproduksi lebih awal
menghindari kadaluarsa
8. Menghabiskan bahan dari setiap kemasan.
9. Mengecek tanggal kadaluarsa bahan-bahan pada saat
diantar oleh distributor
ii. Pemilahan, pewadahan, pemanfaatan kembali dan daur ulang

13
1. Dilakukan pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari
sumber yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi,
limbah banda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksik,
limbah kimia,limbah radioaktif, limbah container
bertekanan dan limbah dengan kandungan logam berat
yang tinggi
2. Tempat pewadahan limbah medis padat: terbuat dari bahan
yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air dan
mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya,
misalnya fiberglass. Disetiap sumber penghasil limbah
medis harus tersedia tempat pewadahan yang terpisah
dengan limbah padat non medis.
3. Kantong plastic diangkat setiap hari atau kurang sehari
apabila 2/3 bagian telah terisi limbah.
4. Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada
tempat khusus, seperti botol atau karton yang aman.
5. Tempat limbah pewadahan limbah medis padat infeksi dan
sitotoksik yang tidak langsung kontak dengan limbah harus
segera dibersihkan dengan larutan desinfektan apabila akan
dipergunakan kembali, sedangkan untuk kantong plastic
yang telah dipakai dan kontak langsung dengan limbah
tersebut tidak boleh digunakan lagi.
6. Bahan atau alat yang dimanfaatkan kembali setelah melalui
sterilisasi misalnya pisau bedah
7. Alat-alat lain yang dapat dimanfaatkan kembali setelah
melalui sterilisasi adalah radionukleida yang telah diatur
tahan lama untuk radioterapi seperti needle.
8. Apabila sterilisasi yang dilakukan adalah sterilisasi dengan
ethylene oxide, maka tanki reactor harus dikeringkan
sebelum dilakukan injeksi ethylene oxide. Oleh karena gas
tersebut sangat berbahaya maka sterilisasi harus dilakukan
oleh petugas yang terlatih.

14
iii. Tempat penampungan sementara
1. Bagi rumah sakit yang mempunyai incinerator di
lingkungannya harus membakar limbahnya selambat-
lambatnya 24 jam.
2. Bagi rumah sakit yang tidak memiliki incinerator, maka
limbah medis padatnya harus dimusnahkan melalui
kerjasama dengan rumah sakit lain atau pihak lain yang
mempunyai incinerator untuk dilakukan pemusnahan
selambat-lambatnya 24 jam apabila disimpan pada suhu
ruang.
iv. Transportasi
1. Kantong limbah medis padat sebelum dimasukkan ke
kendaraan pengangkut harus diletakkan dalam container
yang kuat dan tertutup
2. Kantong limbah medis padat harus aman dari jangkauan
manusia atau binatang
v. Petugas yang menangani limbah harus menggunakan alat
pelindung diri yang terdiri dari:
1. Topi/helm
2. Masker
3. Pelindung mata
4. Pakaian panjang (covralne) apron industry
5. Pelindung kaki atau sepatu boot
6. Sarung tangan khsusus (disposable gloves atau heavy duty
gloves)
f. Pengelolaan, pemusnahan dan pembuangan akhir limbah padat
i. Limbah infeksius dan benda tajam
1. Limbah yang sangat infeksius seperti biakan dan persediaan
agen infeksius dari laboratorium harus disterilisasi dengan
pengolahan panas dan basah seperti dalam autoclave sedini
mungkin. Untuk limbah infeksius yang lain cukup dengan
cara desinfeksi

15
2. Benda tajam harus diolah dengan insenerator bila
memungkinkan dan dapat diolah bersama dengan limbah
infeksius lainnya. Kapsulisasi juga dapat digunakan untuk
benda tajam. Setelah insinerasi atau desinfeksi, residunya
dapat dibuang ke tempat pembuangan B3
ii. Limbah farmasi
1. Limbah farmasi dalam jumlah kecil dapat diolah dengan
incinerator pirolitik (pyrolitic incinerator, rotary kiln,
dikubur secara aman, sanitary lardrill, dibuang ke sarana air
limbah atau inersisasi. Tetapi dalam jumlah besar harus
menggunakan fasilitas pengolahan yang khusus seperti
rotary kiln, kapsulisasi dalam drum logam dan inersisasi.
2. Limbah padat farmasi dalam jumlah besar harus
dikembalikan kepada distributor, sedangkan bila dalam
jumlah sedikit dan tidak memungkinkan dikembalikan agar
dimusnahkan melalui incinerator suhu diatas 1.000
iii. Limbah sitotoksik
1. Limbah sitotoksik sangat berbahaya dan tidak boleh
dibuang dengan penimbunan atau ke saluran umum
2. Pembuangan yang dianjurkan adalah dikembalikan ke
perusahaan penghasil atau distributornya, insinerasi pada
suhu tinggi dan degradasi kimia. Bahan yang belum dipakai
dan kemasannya masih utuh karena kadaluarsa harus
dikembalikan ke distributor apabila tidak incinerator dan
diberi keterangan bahwa obat tersebut sudah kadaluarsa
atau tidak lagi digunakan.
3. Insinerasi pada suhu tinggi dibutuhkan untuk
menghancurkan semua bahan sitotoksik. Insinerasi pada
suhu rendah dapat menghasilkan uap sitotoksik yang
berbahaya ke udara.
B. Limbah padat non medis
a. Pemilahan limbah padat non medis

16
i. Dilakukam pemilahan limbah padat non medis antara limbah
yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat
dimanfaatkan kembali.
ii. Dilakukan pemilahan limbah padat non medis antara limbah
basah dan kering
b. Tempat pewadahan limbah padat non medis
i. Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap
air dan mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan pada
bagian dalamnya, misalnya fiberglass.
ii. Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa
mengotori tangan
iii. Terdapat minimal satu buah untuk setiap kamar atau sesuai
dengan kebutuhan.
iv. Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 3x24
jam atau apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah.
c. Pengangkutan: pengangkutan limbah padat domestik dari setiap
ruangan ke tempat penampungan sementara menggunakan troli
tertutup.
d. Tempat penampungan limbah padat non medis sementara
i. Tesedia tempat penampungan limbah padat non medis
sementara dipisahkan antara limbah yang dapat dimanfaatkan
dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali.
ii. Tempat penampungan sementara limbah padat harus kedap air,
bertutup dan selalu dalam keadaan tertutup bila sedang tidak
diisi serta mudah dibersihkan
iii. Terletak pada lokasi yang mudah dijangkau kendaraan
pengangkut limbah padat
iv. Dikosongkan dan dibeesihkan sekurang-kurang-kurangnya
1x24 jam
e. Pengolahan limbah padat: upaya untuk mengurangi volume,
merubah bentuk atau memusnahkan limbah padat dilakukan pada
sumbernya. Limbah yang masih dapat dimanfaatkan hendaknya

17
dimanfaatkan kembali untuk limbah padat organic dapat diolah
menjadi pupuk.
f. Lokasi pembuangan limbah padat akhir: limbah padat umum
(domestik) dibuang ke lokasi pembuangan akhir yang dikelola oleh
pemerintah daerah (pemda) atau badan lain sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku.
2.5. Dampak Limbah Rumah Sakit
Limbah rumah sakit terdiri dari limbah yang berbahaya. Pajanan dari
limbah yang berbahaya dapat mengakibatkan penyakit atau cidera.
Semua orang yang terpajan atau terpapar limbah berbahay dari fasilitas
penghasil limbah berbahaya dan mereka yang berada di luar fasilitas
serta memiliki pekerjaan yang mengelola limbah tersebut atau yang
berisiko akibat kecerobohan dalam sistem manajemen limbahnya.9
Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas lingkungan kesehatan
dapat menimbulkan berbagai masalah seperti:10
1. Gangguan kenyamanan dan estetika, berupa warna yang berasal dari
sedimen, larutan, bau phenol, eutrofikasi dan rasa dari bahan kimia
organic
2. Menyebabkan kerusakan harta benda, dapat disebabkan oleh garam-
garam yang terlarut (korosif, karat) air yang berlumpur dan
sebagiannya yang dapat menurunkan kualitas bangunan disekitar
rumah sakit
3. Gangguan atau kerusakan tanaman dan binatang dapat disebabkan
oleh virus, senyawa nitrat, bahan kimia, pestisida, logam nutrient
tertentu dan fosfor
4. Gangguan terhadap kesehatan manusia dapat disebabkan oleh
berbagai jenis bakteri, virus, senyawa kimia, pestisida, serta logam
seperti Hg, Pb, dan Cd yang berasal dari bagian kedokteran gigi
5. Gangguan genetic dan reproduksi, meskipun mekanisme gangguan
belum sepenuhnya diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa
dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan genetic dan sistem
reproduksi manusia misalnya pestisida dan bahan radioaktif

18
2.6. Undang-undang dan Peraturan Terkait Pengelolaan Limbah
Rumah Sakit di Indonesia
1) Undang-Undang Republik Indonesia No.32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkugan Hidup
1. Pasal 28
1) Penyusunan amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
ayat 1 dan Pasal 27 wajib memiliki sertifikat kompetensi
penyusun amdal
2) Kriteria untuk memperoleh sertifikat kompetensi penyusun
amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
1. Penguasaan metodologi penyusunan amdal;
2. Kemampuan melakukan perlingkupan, prakiraan dan
evaluasi dampak serta pengambilan keputusan; dan
3. Kemampuan menyusun rencana pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup.
3) Sertifikat kompetensi penyusun amdal sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diterbitkan oleh lembaga sertifikasi kompetensi
penyusun amdal yang ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi dan kriteria
kompetensi penyusun amdal diatur dengan peraturan Menteri
2. Pasal 60
“Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan
ke media lingkungan hidup tanpa izin”
3. Pasal 104
“Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke
media lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam
pasal 60, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar
rupiah).
2) Undang-Undang Republik Indonesia No.44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit

19
Pasal 11
(1) Prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal
7 ayat (1) dapat meliputi:
a. instalasi air;
b. instalasi mekanikal dan elektrikal;
c. instalasi gas medik;
d. instalasi uap;
e. instalasi pengelolaan limbah;
f. pencegahan dan penanggulangan kebakaran;
g. petunjuk, standar dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan
darurat;
h. instalasi tata udara;
i. sistem informasi dan komunikasi; dan
j. ambulan.
(2) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memenuhi standar pelayanan, keamanan, serta keselamatan dan
kesehatan kerja penyelenggaraan Rumah Sakit
(3) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dalam
keadaan terpelihara dan berfungsi dengan baik.
(4) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan oleh
petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya.
(5) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didokumentasi dan
dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai prasarana Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5)
diatur dengan Peraturan Menteri.

20
2.7. Penerapan Peraturan dan Perundang-Undangan dalam Kasus
Pelanggaran dalam Pengelolaan Limbah Medis
2.7.1. Putusan
Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia,
Nomor putusan 163/Pid-B/2013/PN-Lgs. Pengadilan Negeri
Langsa yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara pidana
telah menjatuhkan putusan bahwa Dr. ZAHARI BIN
MUHAMMAD yang merupakan PNS/Mantan Direktur RSUD
Kota Langsa:11
1. Secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan
tindak pidana dumping limbah dan/atau bahan dan/atau
bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 60 sebagaimana diatur dan diancam
pidana dalam Dakwaan Ketiga Penuntut Umum melanggar
Pasal 104 Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2. Menjatuhkan pidana terhadap penjara selama 8 (delapan)
bulan dengan masa percobaan selama 2 (dua) tahun dan
membayar denda sebesar Rp 1.000.000 (satu juta rupiah)
subsidair 1(satu) bulan kurungan.
2.7.2. Bunyi Dakwaan
Bahwa terdakwa Dr. Zahari Bin Muhammad dalam kapasitasnya
selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa tahun
2010 berdasarkan surat Keputusan Walikota Langsa nomor:
821.2/99/2010 tanggal 8 Maret 2010 dan selaku Plt. Direktur
Rumah Sakit Umum Kota Langsa tahun 2011 berdasarkan surat
Tugas Walikota Langsa nomor 875.1/1336/2011 tanggal 2 Mei
2011, mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap segala
kegiatan yang dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Langsa, yaitu antara lain meliputi seluruh kegiatan dalam ruangan
maupun instalasi yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Langsa serta limbah yang dihasilkan dari ruangan maupun instalasi

21
tersebut, berupa limbah medis dan non medis limbah padat medis
dan limbah cair serta limbah kimia.
 Bahwa dalam hal penanganan limbah medis dan non medis
berupa jarum suntik, saluran kencing, selang Infus, botol
obat, cateter, perban pasien yang terdapat darah, sarung
tangan dan lain-lain, Pihak RSUD Kota Langsa tidak
melakukan pengelolaan limbah tersebut dengan baik.
Pengelolaan limbah B-3 baik limbah medis dan non medis
tersebut dilakukan pihak RSUD Kota Langsa dengan cara
menumpukkannya di tempat pembuangan sampah (TPS)
yang terdapat di samping RSUD Kota Langsa tanpa
memisahkannya terlebih dahulu dan membiarkannya
berhari-hari di tempat tersebut sampai petugas Dinas
Kebersihan Kota Langsa datang
 Bahwa pihak RSUD Kota Langsa juga tidak memiliki
Instalasi Pengelohan Air.
 Bahwa pengolahan limbah medis cair RSUD Kota Langsa
dilakukan dengan cara menggunakan system Lagoon yaitu
limbah cair dari ruangan maupun Instalasi yang ada di
RSUD dialirkan melalui parit maupun selokan ke bak
penampungan yang mana bak penampungan berfungsi
untuk mengendapkan kotoran pada air selain itu juga
dilakukan kaporisasi pada bak penampungan setelah itu air
dialirkan ke kolam yang mana proses terakhir di dumping
terlalu tinggi maka dampak yang ditimbulkan akan sangat
berbahaya sungai tanpa dilakukan pengukuran baku mutu
air terlebih dahulu, dengan alasan bahwa pihak RSUD Kota
Langsa tidak tahu kemana melakukan tes Laboratorium
terhadap sampel limbah cair tersebut. Pendumpingan
limbah ke sungai tanpa melakukan pengukuran baku mutu
air terlebih dahulu dilakukan oleh RSUD Kota Langsa tanpa
izin dari pihak yang berwenang dan dapat mengakibatkan

22
terjadinya penyakit Infeksi kulit dan bila nilai baku mutu
air.
 Bahwa terhadap limbah kimia yang berasal dari Instalasi
laboratorium dan Instalasi Bedah yang dihasilkan oleh
RSUD Kota Langsa dibiarkan mengalir melalui pipa yang
terdapat di selokan umum menuju sungai tanpa dilakukan
baku mutu air terlebih dahulu.
 Bahwa Dr. ZAHARI BIN MUHAMMAD selaku Direktur
Rumah Sakit Umum Daerah kota langsa Bahwa tidak
menggunakan pengelolaan limbah-limbah tersebut dengan
benar adalah bertentangan dengan beberapa aturan
diantaranya:
1 Keputusan Menteri Kesehatan nomor :
1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit
Dijelaskan bahwa terhadap limbah padat medis dan
non medis harus dipisahkan dan setelah dipisahkan
diangkut ke tempat penampungan sementara (TPS)
dan khusus untuk limbah padat medis dan B-3
lamanya penyimpanan tidak lebih dari 90 (sembilan
puluh) hari, dan kemudian limbah medis dan non
medis dimusnahkan, khusus untuk limbah medis
dan B-3 pemusnahannya dapat dilakukan dengan
cara atau metode Insenerator atau cara lain yang
harus mendapat izin dari Instansi yang berwenang
dalam pengelolaan lingkungan hidup, sementara
limbah non medis dapat langsung diangkut ke TPA.
2 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor : 111
tahun 2003, bahwa badan usaha yang menghasilkan
limbah merencanakan dan membangun Instalasi
Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang selanjutnya

23
mengusulkan izin untuk penbuangan air limbah ke
air atau sumber air.
3 Pasal 6 ayat (1) Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup nomor 11 tahun 2006 disebutkan bahwa
badan usaha harus merencanakan Rencana Kelola
Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL) yang dituangkan dalam
Dokumen Lingkungan Hidup berupa Amdal
maupun UKL UPL.
4 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor : 14
tahun 2010 disebutkan bahwa apabila kegiatan
yang sudah berjalan belum memiliki dokumen
lingkungan maka pemilik/ pemrakarsa kegiatan
wajib membuat dokumen pengelolaan lingkungan
hidup (DPLH) atau dokumen evaluasi lingkungan
hidup (DELH).
2.7.3. Keputusan Pengadilan Terhadap Terdakwa
Ada 3 (tiga) kali teguran tertulis sebelum terdakwa dijatuhkan ke
tindak pidana. Namun dari pihak terdakwa yang telah mendapat
teguran terhadap pengelolaan limbahnya,tidak juga melakukan
pengelolaan limbah sebagaimana yang diwajibkan oleh Undang-
Undang, Maka ditetapkan Keputusan Pengadilan terhadap
Terdakwa:
1. Terdakwa Dr. ZAHRI BIN MUHAMMAD, telah terbukti
secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak
pidana pidana, Melakukan Dumping Limbah dan/atau
Bahan ke Media Lingkungan Hidup tanpa izin
2. Menghukum Terdakwa Dr.ZAHRI BIN MUHAMMAD
tersebut diatas oleh karena itu dengan pidana penjara
selama 6 (enam) bulan
3. Memerintahkan agar pidana penjara tersebut tidak usah
dijalani, kecuali jika dikemudian hari ada putusan hakim

24
yang menentukan lain, disebabkan karena terpidana
melakukan suatu perbuatan pidana sebelum berakhirnya
masa percobaan selama 1 (satu) tahun
4. Menghukum pula Pidana Denda kepada Terdakwa Dr.
ZAHRI BIN MUHAMMAD tersebut sebesar
Rp.1.000.000 ,- ( satu juta Rupiah ) Menyatakan apabila
terdakwa tidak membayar pidana denda tersebut RSUD
Kota Langsa Nomor: 534/660/LH/2011 tanggal 02 agustus
2011 Menyatakan apabila terdakwa tidak membayar pidana
denda tersebut maka harus diganti dengan pidana penjara
selama 1 (satu) bulan
2.7.4. Analisis Kasus Menurut Undang-Undang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup11
 Mengingat, pasal 104 Undang – Undang Nomor 32
tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup hukum lain yang bersangkutan.
 Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam
pidana dalam pasal 103 Undang Undang No. 32 Tahun
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
 Bahwa yang dimaksud dengan pasal 100 UU No. 32 Tahun
2009 adalah harus dikenakan sanksi administrasi dulu.
Pada butir ke 6 penjelasan UU ini menyatakan bahwa
pemidanaan merupakan upaya terakhir, kemudian menurut
pasal 76 ayat (1) harus diberikan sanksi administratif
kepada penanggung jawab usaha/kegiatan, dan pada ayat
(2) ada 4 sanksi administratif, yaitu :
1. Teguran tertulis;
2. Paksaan pemerintah;
3. Pembekuan izin lingkungan; atau
4. Pencabutan izin lingkungan;

25
5. Baru dikenakan pidana setelah ada ijin lingkungan,
kalau belum ada ijin lingkungan tidak boleh
dikenakan pasal ini;
 Bahwa yang dimaksud dengan pasal 103 UU No. 32 Tahun
2009 adalah Itu bentuk perbuatan dan harus dilihat pasal
116 UU No. 32 Tahun 2009, yaitu apabila tindak pidana
lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk, atau atas nama
badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi pidana dijatuhkan
kepada : a. Badan Usaha, atau b. Orang yang memberi
perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang
bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana
tersebut. Kalau direktur sudah melaksanakan dengan baik
dan penuh hati-hati, tidak memberi perintah untuk
melakukan tindak pidana pidana maka tidak bisa dikenakan
pasal ini.11

26
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Rumah sakit adalah tempat kerja yang memiliki bahaya-bahaya potensial
yang dapat menyebabkan kecelakaan pada pekerja, pasien atau
pengunjung. Untuk mengendalikan bahaya-bahaya tersebut, perlu
dilakukan upaya penyehatan lingkungan rumah sakit. Kesehatan
lingkungan rumah sakit meliputi beberapa aspek yang diwujudkan dalam
upaya-upaya Penyehatan lingkungan rumah sakit, sebagaiman
persyaratan yang telah ditetapkan oleh Kepmenkes No.
1204/MENKES/SK/X/2004, Salah satu aspek utama yang dicantumkan
dalam persyarartan tesebut adalah pengelolaan limbah medis dimana
telah ditentukan bahwa saluran air limbah domestik dan limbah medis
harus tertutup dan terpisah, dan masong-masing dihubungkan langsung
dengan instalasi pengelolaan limbah. Beberapa aspek lain yang ikut
sertadiatur dalam Kepmenkes tersebut antara lain: Penyehatan ruang
bangunan dan halaman rumah sakit, hygiene sanitasi makanan dan
minuman, penyehatan air, penyehatan tempat pencucian linen (laundry),
pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu, dekontaminasi
melalui sterilisasi dan desinfeksi, pengamanan dampak radiasi serta
upaya promosi kesehatan dari aspek kesehatan lingkungan. Tujuan
pengelolaan limbah adalah melindungi petugas pembuangan limbah dari
perlukaan, melindungi penyebaran infeksi terhadap para petugas
kesehatan, mencegah penularan infeksi pada masyarakat sekitarnya,
membuang bahan-bahan berbahaya (bahan toksik dan radioaktif) dengan
aman. Pengelolaan limbah dapat dilakukan mulai dari identifikasi
limbah pemisahan, pemilahan, pewadahan, pemanfaatna kembali dan
daur ulang.

27
3.2. Saran
1. Masyarakat
Agar lebih memperhatikan dan turut bekerja sama meningkatkan
rasa tanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan
Rumah Sakit
2. Rumah Sakit
Agar lebih memperhatikan dan mengontrol pihak ketiga atau
perusahaan yang bekerja sama dalam pengelolaan limbah dan
memastikan pengelolaan limbah sudah dilakukan dengan benar
3. Pemerintah dan Pihak Kepolisian
Agar lebih mempertegas peraturan yang berlaku dalam
perlindungan dan pengelolaan lingkungan dan mensosialiasikan
Untuk pihak kepolisian agar lebih sigap dalam mengontrol dan
mengawal truk-truk pegelolaan limabh medis

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI. Pengelolaan Limbah Rumah


Sakit. Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional. Sumatera. 2008.
Hal: 1, 240-58
2. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan
3. Karimah V. N. Inspeksi Sanitasi Rumah Sakit Berdasarkan Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 1204 Tahun 2004 Tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit di Rumah Sakit Budi Kemuliaan
Batam. Surakarta, 2015.
4. Faisal A. Truk Pengangkut Limbah Medis Diamankan Polisi. Surabaya :
November, 2017. Diunduh dari :
http://regional.kompas.com/read/2017/10/25/08103981/parkir-
sembarangan-2-truk-pengangkut-limbah-medis-diamankan-polisi
5. Hanafiah M. J, Amir A. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Edisi ke
3. Jakarta : EGC 2009. Hal 127 - 31.
6. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI. 2008
7. Pusat pengelolaan lingkungan hidup regional Sumatera Kementerian
Negara Lingkungan Hidup-RI. Pengelolaan limbah rumah sakit. Pekanbaru,
juli 2008.
8. Departemen kesehatan RI. Pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi
di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Jakarta:
Departemen kesehatan RI. 2008.

9. A. Pruss dkk. Pengelolaan Aman Limbah Layanan Kesehatan, Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005
10. Satmoko W. Karakteristik Limbah Rumah Sakit dan Pengaruhnya terhadap
Kesehatan dan Lingkungan, Cermin Dunia Kedokteran, 2001 : No 130.

29
11. Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia. [internet] 2013.
[cited 2017 Nov 20] Available from:
https://putusan.mahkamahagung.go.id/putusan/6333ba5cbfe845cce7087bc
76a1a79c7

30