You are on page 1of 6

Waktu Tenaga Kerja Pasca Menurunnya Produktivitas Kelapa Sawit Petani

Plasma di Kabupaten OKI

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian


(2005) mengemukakan bahwa dalam perekonomian Indonesia sektor pertanian
secara tradisional dikenal sebagai sektor penting karena berperan antara lain
sebagai sumber utama pangan dan pertumbuhan ekonomi. Peranan sektor pertanian
di Indonesia masih dapat ditingkatkan lagi apabila dikelola dengan baik mengingat
semakin langka atau menurunnya mutu sumberdaya alam seperti minyak bumi dan
air serta lingkungan secara global, sementara di Indonesia sumber-sumber ini belum
tergarap secara optimal. Sektor ini kedepannya akan terus menjadi sektor penting
dalam upaya pengentasan kemiskinan, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan
pendapatan nasional, dan penerimaan ekspor.
Perkebunan merupakan salah satu subsektor dari sektor pertanian yang
mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan nasional.
Peranannya terlihat nyata dalam penerimaan devisa negara melalui ekspor,
penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan
baku berbagai industri dalam negeri, perolehan nilai tambah, dan daya saing serta
optimalisasi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit
merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan di Indonesia. pengembangan
kelapa sawit di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat sejak tahun
1970 terutama periode 1980-an. Semula pelaku perkebunan kelapa sawit hanya
terdiri atas Perkebunan Besar Negara (PBN), namun pada tahun yang sama dibuka
pula Perkebunan Besar Swasta (PBS) dan Perkebunan Rakyat (PR) melalui pola
Perusahaan Inti Rakyat (PIR) dan selanjutnya berkembang pola swadaya.
Perusahaan Inti Rakyat (PIR) adalah suatu pola pelaksanaan pengembangan
perkebunan dengan mempergunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu
dan membimbing perkebunan rakyat di sekitarnya sebagai plasma dalam suatu
sistem kerjasama yang saling menguntungkan dan berkesinambungan. Pola ini
berkaitan dengan program dari pemerintah sebagai upaya untuk meningkatkan
kesejahteraan dan sebagai upaya pemerataan pembangunan khususnya untuk
masyarakat pedesaan di luar Jawa yang hidup dari sektor pertanian (Badrun, 2010).
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas andalan subsektor perkebunan
yang menarik perhatian serius pemerintah, pihak investor serta petani terutama
sejak dekade 1990-an. Perkembangan kelapa sawit di Indonesia mengalami
pertumbuhan yang cukup pesat sejak tahun 1970 terutama periode 1980-an hingga
pada saat ini. Semula pelaku perkebunan kelapa sawit terdiri dari Perkebunan Besar
Negara (PBN) namun pada tahun yang sama pula dibuka Perkebunan Besar Swasta
(PBS) dan Perkebunan Rakyat (PR) melalui pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat) dan
selanjutnya berkembang pola swadaya. Pada tahun 1980 luas areal kelapa sawit
adalah 294.000 ha dan pada tahun 2014 perkebunan kelapa sawit yang diusahakan
oleh perkebunan besar swasta diperkirakan sebesar 51,62 % atau sekitar 5,66 juta
hektar, sementara perkebunan rakyat mengusahakan 41,55% atau 4,55 juta hektar
dan hanya 6,83% atau 0,75 juta hektar yang diusahakan oleh perkebunan besar
negara. Bahkan, perkembangan perkebunan kelapa sawit pada saat ini telah meluas
hampir ke semua kepulauan besar di Indonesia, hingga tahun 2009 perkebunan
kelapa sawit mencapai ratarata pertumbuhan 578.000 Ha/tahun atau sekitar 13,96
% per tahun. Sampai saat ini Indonesia memiliki kurang lebih 10 juta hektar lahan
yang telah ditanami kelapa sawit. Diluar itu, sekitar 18 juta hektar hutan telah
dibuka atas nama ekspansi perkebunan kelapa sawit (Badan Pusat Statistik, 2014).
Luas areal perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan selama lima tahun
terakhir cenderung menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2011 lahan perkebunan
kelapa sawit di Sumatera Selatan tercatat seluas 866.763 hektar, meningkat menjadi
1.111.050 juta hektar pada tahun 2014. Pada tahun 2015 diperkirakan luas areal
perkebunan kelapa sawit masih meningkat. Luas lahan perkebunan kelapa sawit di
Sumatera Selatan dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan seperti yang
terlihat pada Tabel 1.1 di bawah ini

Tabel 1.1. Luas areal dan Produksi Kelapa Sawit di Sumatera Selatan Tahun 2011-
2015.

Tahun Luas areal (Ha) Produksi (ton) Produktivitas


2011 866.763 2417,70 2,789
2012 898.160 2492,90 2,77
2013 1.060.570 2690,62 2,5
2014 1.111.050 2852,99 2,56
2015* 1.161.043 3015,37 2,59
Sumber : Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, 2015
* : Angka Estimasi

Seiring dengan peningkatan luas lahan terjadi juga peningkatan produksi. Hal
menarik tentang komoditas kelapa sawit yaitu Indonesia bersama dengan Malaysia
merupakan produsen dan eksportir terbesar minyak kelapa sawit dunia.
Memperhatikan potensi ekonomi yang besar dari komoditas kelapa sawit, maka
dalam pengembangannya pemerintah harus memperhatikan azas manfaat bagi
kemakmuran rakyat. Sekarang ini, komoditi kelapa sawit bukan saja berperan besar
dalam mendorong berkembangnya sektor ekonomi, tetapi juga sangat strategis
untuk pengentasan kemiskinan, menciptakan kesempatan kerja, dan pembangunan
daerah (Pahan, 2006).
Pada tahun 2010 luas areal perkebunan besar milik negara seluas 637 ribu
hektar, jadi merupakan bagian yang paling kecil dibandingkan dengan perusahaan
perkebunan swasta dan perkebunan rakyat. Perkebunan besar milik negara
memang berkembang tetapi tidak sebesar perkembangan perkebunan milik swasta
dan milik rakyat. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa peran dari perkebunan besar
milik negara sangat besar dalam memuai dan memacu perkembangan perkebunan
milik swasta dan perkebunan rakyat. Pada tahun 1957 terjadi nasionalisasi
perkebunan milik Belanda dan orang-orangnya di Indonesia, lalu ada pembenahan
dan perubahan pengelolaan, kemudia ditugaskan sebagai perusahaan inti. Setelah
dianggap mampu, tugas sebagai perusahaan inti kemudian lebih banyak diserahkan
kepada perusahaan perkebunan milik swasta (Zahri, 2012).
Potensi perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan memang mempunyai
prospek yang sangat cerah, usaha pengembangan perkebunan kelapa sawit juga
akan membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat daerah Sumatera
Selatan. Oleh karena itu tingkat pengangguran di daerah Sumatera Selatan
diharapkan dapat berkurang. Dalam hal ini pasrtisipasi pihak swasta melalui
perusahaan besar swasta sangat penting dalam upaya perluasan areal dan sekaligus
peningkatan produksi (TBS) Tandan Buah Segar (Widagdo, 2007).
Pola yang banyak berkembang di Provinsi Sumatera Selatan dalam
pengembangan kelapa sawit adalah pola kemitraan antara perkebunan/perusahaan
besar dengan petani melalui pola kerja sama Perusahaan Inti Rakyat (PIR). Pola ini
bersama pola swadaya merupakan sumber mata pencaharian utama sekitar 200.000
kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.000.000 jiwa. Jika diasumsikan setiap 1 KK
menghidupi 5 jiwa, maka sektor perkebunan kelapa sawit merupakan sumber
pendapatan dan penghidupan sekitar 13,88 persen dari total penduduk Sumatera
Selatan yaitu 7,2 juta jiwa (Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, 2012).
Petani yang memiliki usahatani pokok kelapa sawit mengalokasikan tenaga
kerja untuk mengelola kebun kelapa sawit sangat sedikit dan dapat dikatagorikan
sebagai terjadinya tingkat under employment dari pekerja di bidang perkebunan ini
yaitu penggunaan tenaga kerja untuk kegiatan panen, penjualan hasil dan
pemeliharaan kebun kelapa sawit sehingga keluarga petani mempunyai banyak
waktu luang sehingga perlu adanya upaya meningkatkan penggunaan tenaga kerja
keluarga untuk kegiatan yang produktif, misalnya memanfaatkan waktu luang
dengan bekerja pada berbagai kegiatan di luar usaha pokoknya sehingga petani
dapat meningkatkan pendapatan rumah tangganya (Zahri, 2005).
Alokasi waktu tenaga kerja yang dipergunakan oleh keluarga per tahun
untuk kegiatan di luar usaha tani ternyata memberikan peranan yang cukup besar.
Dari total tenaga kerja yang tersedia dialokasikan dalam satu tahun untuk kegiatan
mencari nafkah di luar usahatani adalah 34,36%. Untuk kegiatan usahatani rata-rata
alokasi yang dicurahkan adalah 38,91%. Tenaga kerja yang belum dimanfaatkan
yang tersisa dalam satu tahun adalah 26,73%. Adapun pendapatan yang diperoleh
dari kegiatan luar usahatani tersebut ternyata memberikan kotribusi yang cukup
besar terhadap pendapatan keluarga yaitu 50,63% (Ariyani, 2002).
Tanaman kelapa sawit yang berumur 4 tahun dapat menghasilkan sekitar 7
ton TBS per hektar per tahun. Produktivitas terus meningkat dan mencapai
puncaknya ketika tanaman berumur 9-14 tahun yang dapat mencapai 24 ton per
hektar per tahun. Produktivitas tanaman kelapa sawit menjadi kurang ekonomis lagi
ketika tanaman telah berumur 25-30 tahun, dan pada waktu ini tanaman sudah harus
diremajakan. Satu siklus tanaman kelapa sawit sekitar 25-30 tahun (Zahri, 2012).
Menurut Zahri (2012), produksi tanaman kelapa sawit masih sangat rendah.
Saat ini rata-rata produksi minyak sawit di Indonesia hanya sebesar 3,7 ton per
hektar atau setara dengan kira-kira 17,5 ton TBS per hektar per tahun. Produktivitas
dapat ditingkatkan jika menggunakan bibit unggul, teknik budidaya serta
pengolahan hasil yang baik. Pada umur 20-an produktivitas kelapa sawit turun
sehingga penghasilan kebun kelapa sawit menurun dan tidak dapat memenuhi
kebutuhan keluarga. Keadaan ini diperparah dengan harga kelapa sawit yang juga
menurun. Hasil penelitian Manurung (1997) menunjukkan produksi TBS yang
tidak merata sepanjang tahun, yaitu produksi periode semester I (Januari-Juni) lebih
rendah dibandingkan dengan periode semester II (Juli-Desember). Sebaran
produksi bulanan kelapa sawit di Indonesia untuk semester I adalah 35-50% dan
semester II sebesar 50-65%. Di bawah ini terdapat tabel produksi tandan buah segar
kelapa sawit:

Tabel 1.2. Produksi Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Per- Hektar Per Tahun Kelas
II
No Umur Produksi (tahun) Produksi TBS (ton/ha)
1. 4 7
2. 5 15
3. 6 19
4. 7 22
5. 8 25
6. 9-14 27
7. 15-16 25
8. 17-18 24
9. 19-20 22
10. 21-22 21
11. 23-24 19
12. 25-26 18
13. 27-28 17
14. >29 16
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2000

Kecamatan Mesuji merupakan salah satu wilayah Kabupaten Ogan Komering


Ilir tepatnya di Desa Surya Adi terdapat areal perkebunan kelapa sawit PT.
Sampoerna Agro TBK yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan
perkebunan kelapa sawit di desa ini telah membuka peluang bagi masyarakat
disekitarnya untuk bekerja sebagai petani plasma. Tanaman kelapa sawit di Desa
Surya Adi ini sendiri sudah memasuki usia tanaman yang sudah menua yaitu
berumur 20-21 tahun dengan tahun tanam 1995-1996. Banyaknya masyarakat
sekitar yang bekerja tersebut tentu saja memberikan kontribusi terhadap pendapatan
keluarga maupun bagi perkebunan kelapa sawit PT. Sampoerna Agro. Oleh karena
itu penulis tertarik meneliti yang mengenai produktivitas dan pendapatan kelapa
sawit.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Bagaimana produktivitas tenaga kerja dan produktivitas usahatani petani plasma
pasca menurunnya produktivitas tanaman kelapa sawit?
2. Bagaimana alokasi tenaga kerja keluarga petani yang tersedia untuk kegiatan
usaha perkebunan kelapa sawit dan non usaha kelapa sawit?
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi alokasi tenaga kerja petani plasma
kelapa sawit?

1.3 Tujuan
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka tujuan dari penelitian yang akan
dilakukan adalah :
1. Menganalisis produktivitas tenaga kerja dan produktivitas usahaatani petani
plasma pasca menurunnya produktivitas tanaman kelapa sawit
2. Menganalisis alokasi tenaga kerja keluarga dan waktu luang yang tersedia untuk
kegiatan usaha perkebunan kelapa sawit dan non usahatani kelapa sawit.
3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi alokasi tenaga kerja petani
plasma kelapa sawit.