You are on page 1of 7

4.

Gejala Stres

Stres bisa muncul dalam berbagai gejala. Sebagai contoh seseorang yang
mengalami stres yang tinggi dapat menderita tekanan darah tinggi, lambung, cepat
marah, sulit membuat keputusan, dan hilang selera makan. Gejala ini dapat
digolongkan menjadi 3 kategori (Stepehen P. Robbin, 1996).: Gejala Fisiologis,
psikologis dan perilaku.

1. Gejala fisik: orang yang terkena stres cenderung mengalami


perubahan-perubahan yang terjadi pada metabolisme organ tubuh seperti denyut
jantung yang meningkat, tekanan darah yang meningkat, pernafasan, sakit kepala,
dan sakit perut yang dapat kita alami dan harus diwaspadai serta serangan
jantung.

2. Gejala psikologis, yaitu perubahan-perubahan sikap yang terjadi seperti


ketegangan, kegelisahan, ketidak tenangan, ketidakpuasan, kebosanan, cepat
marah, dan suka menunda-nunda pekerjaan.

3. Gejala keperilakuan, yaitu perubahan-perubahan atau situasi ketika produktivitas


seseorang menurun, absensi meningkat, kebiasaan makan berubah, merokok
bertambah, banyak minuman keras, berbicara tidak tenang dan gangguan tidur.

Hubungan Stres dan Prestasi Kerja

Stres, sebagai sebuah keadaan yang dapat dialami setiap orang, dalam
hubungannya dengan pekerjaan dapat dalam keadaan tinggi atau rendah serta dapat
berpengaruh pada berbagai macam faktor. Salah satunya adalah dapat berpengaruh
terhadap prestasi kerja.

Stres dapat menurunkan prestasi maupun meningkatkan prestasi kerja. Hal sangat
tergantung seberapa tingkat stress yang dimiliki. Ketika tidak ada stres, tantangan
berkinerja tidak ada, kinerja (prestasi kerja) cenderung menurun. Ketika stress
bertambah, kineria (Prestasi keria) cenderung meningkat, karena stres membantu
seseorang mengerahkan sumberdaya energi untuk memenuhi tuntutan yang
diharapkan. Ini merupakan stimulus yang sehat yang meningkatkan semangat
karyawan merespon semua tantangan. Akhirnya karyawan mampu berprestasi atau
mengaktualisasikan potensinya sampai titik maksimal.

Jika stres terlalu tinggi kinerja mulai menurun, karena stres mengintervensi
kinerja. Seorang karyawan kehilangan daya/kemampuan untuk mengatasi , menjadi
tidak mampu membuat berbagai keputusan, dan ini berpengaruh pada perilaku. Jika
stres meningkat sampai titik tertinggi, kinerja menjadi titik nol, karyawan mengalami
kehancuran, terlalu sulit untuk bekerja, mogok dan menolak untuk berangkat bekerja
untuk menghadapi stres saat bekerja.

Ketika tingkat stres kerja sangat rendah prestasi kerja juga rendah, ini
dikarenakan seseorang tidak menghadapi banyak tekanan atau tantangan sehingga
orang tersebut kemungkinan tidak melakukan usaha yang tinggi untuk mengerjakan
sesuatu. Sedangkan, ketika tingkat stres meningkat, yang berarti bhawa seseorang
mengalami banyak tuntutan dalam pekerjaannya, tingkat usaha akan ditingkatkan
supaya prestasi kerja meningkat sehingga seseorang masih mampu mengatasi. Namun,
ketika tingkat stres meningkat melebihi tingkat yang dapat dikendalikan, prestasi
kerja akan menurun.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa hubungan stres kerja


dengan prestasi kerja bukan merupakan hubungan searah yang bersifat linier,
melainkan hubungan non-linier yang pengaruhnya terhadap prestasi kerja bergantung
pada tingkat stres yang dirasakan seseorang. Dan, disebabkan berbagai tekanan,
sumber stres bersifat relatif bagi seseorang sehingga hubungan stres dengan prestasi
kerja dapat bergantung pada kemampuan seseorang untuk menghadapi stres.

5. Mengelola Stres

Karena stres menjadi sesuatu yang melekat (inheren) dalam kehidupan manusia
di dalam organisasi dan karena stres dapat memengaruhi prestasi kerja, masalah stres
perlu mendapat perhatian dan pengelolaan dalam usaha mencapai sasaran-sasaran
organisasi. Penanganan stres dapat meningkatkan kepuasan kerja pegawai. Dengan
penanganan stres, kerja setiap pegawai akan mendapatkan kondisi kesehatan mental
dan fisik yang baik yang dapat memengaruhi pegawai tersebut melakukan berbagai
peran sosial, misalnya di rumah sebagai ayah/ibu dan sebagai anggota masyarakat
dengan lebih baik. Penanganan stres akan meningkatkan produktivitas organisasi.
Karena itu, beberapa pedoman untuk menanggulangi stres secara individual (Rita L.
Akitson, Richard C. Akitson, dan Ernest R. Higrad, 1991) adalah:

Mengelola Waktu

Manajemen mungkin tidak peduli terhadap karyawan yang mengalami stres tingkat
rendah sampai sedang. Dasar pemikirannya adalah bahwa stres pada tingkat tersebut
justru bersifat fungsional dan mendorong karyawan berkinerja lebih tinggi. Namun
apabila karyawan mengalami stres tingkat tinggi, atau pada tingkat rendah namun
berkepanjangan dapat mendorong kinerja karyawan menjadi lebih menurun. Oleh
karena itu kondisi karyawan yang demikian menuntut adanya tindakan manajemen.
Pelaksanaan tindakan manajemen dapat dilakukan dengan pendekatan individual dan
dapat dilakukan dengan pendekatan organisasional.

1. Pendekatan Individual

Banyak orang tidak mengelola penggunaan waktunya dengan baik sehingga


pekerjaan yang seharusnya mampu diselesaikan dengan baik tidak dapat terselesaikan.
Karyawan yang terkelola dengan baik, sering dapat mencapai kinerja dua kali lipat
dari karyawan yang tidak terkelola dengan baik. Pemahaman dan pemanfaatan
prinsip-prinsip dasar pengelolaan waktu dapat membantu individu mengatasi
ketegangan yang diciptakan oleh tuntutan pekerjaan secara lebih baik. Beberapa
prinsip pengelolaan waktu tersebut adalah sebagai berikut: (a) Membuat daftar harian
kegiatan yang mau diselesaikan; (b) Menentukan prioritas aktivitas berdasarkan
kepentingan dan urgensinya; (c) Menjadwalkan kegiatan menurut peringkat prioritas.;
(4) Menge-tahui siklus harian kita mana waktu padat tuntutan pekerjaan yang harus
diselesaikan dan mana yang agak kurang tuntunan pekerjaan (M.E. Haynes, 1985).
Selain penerapan prinsip manajemen waktu, pengelolaan stres juga dapat
dilakukan (a) latihan fisik; dan (b) relaksasi, dan terbuka pada orang lain. Kegiatan
latihan fisik dapat dilakukan dengan melakukan berbagai kegiatan fisik yang
menyenangkan, seperti jogging, jalan kaki, naik sepeda, bermain tenis, dan bermain
golf dapat meningkatkan kesehatan dan melancarkan peredaran darah atau dapat
meningkatkan kesehatan fisik secara umum yang tentu saja meningkatkan
kemampuan menghadapi berbagai tantangan. Kemampuan menghadapi tantangan
merupakan pertanda bahwa ketegangan yang dirasakan berkurang/menurun.
Penurunan ketegangan akan menyebabkan stres menurun. Relaksasi dapat dilakukan
dengan sebuah kegiatan menenangkan pikiran untuk mencapai suatu situasi bahwa
semua komponen tubuh istirahat dan relaks. Relaksasi dapat di gunakan dalam
beberapa menit, kurang lebih 20 menit, setiap hari yang dilakukan dengan cara: (a)
duduk secara santai dengan mata tertutup dalam sebuah tempat yang sepi; (b) secara
perlahan-lahan dan berulang-ulang, sebutkan kata-kata atau kalimat yang
mendamaikan pikiran dan perasaan Anda; (c) menarik napas secara santai melalui
hidung dan mengeluarkan melalui mulut; dan (d) menghindari pikiran-pikiran yang
mengganggu dengan sikap mental menerima. Terbuka pada orang lain: yakni,
mendiskusikan secara terbuka kepada orang lain yang dekat dengan Anda
masalah-masalah, ketakutan yang dihadapi, dan lain-lain.

2. Pendekatan organisasional

Secara organisasional, tindakan manajemen dalam menurun stres karyawan


dapat melakukan (a) perbaikan seleksi personel dan penempatan kerja; b) penggunaan
penetapan tujuan yang realistis; (c) perancangan ulang pekerjaan; (d) peningkatan
keterlibatan karyawan; (e) perbaikan komunikasi organisasi; (f) penegakan
prograanmi kesejahteraan korporasi.

Pendekatan stres yang telah kita bicarakan di atas adalah pendekatan yang
menekankan pendekatan individual. Pendekatan ini nampaknya belum memadai
untuk mengurangi stres karyawan. Di samping pendekatan individual,
penanggulangan stres perlu dilakukan melalui pendekatan organisasi, di mana
organisasi harus terlibat pula dalam pengelolaan stres. Hal ini disebabkan anggota
organisasi sebagai individu kemungkinan besar tidak dapat mengendalikan semua
aspek yang berada di sekitar pekerjaan dan lingkungan kerjanya, terutama
aspek-aspek yang bersumber dari kelompok dan organisasi yang dapat menjadi
sumber stres. Dalam hal ini, usaha yang dapat dilakukan manajemen dalam
menurunkan stres karyawan adalah: seleksi dan penempatan, penentuan tujuan,
rancangan ulang pekerjaan, komunikasi, dan program pengembangan (Stephen P.
Robin, 1996).

Seleksi dan Penempatan

Sebagaimana kita bahas di atas, setiap individu berbeda-beda dalam hal


pengalaman, kemampuan, kepribadian, dan lain-lain yang dapat memengaruhi
kemampuan untuk mengatasi stres. Sehubungan dengan ini, dalam menyeleksi calon
anggota, organisasi harus memilih orang yang kira-kira memiliki kemampuan untuk
menanggulangi stres. Selanjutnya, dalam menempatkan suatu tugas, organisasi harus
memperhatikan pengalaman, dan kemampuan. Bagi mereka yang belum
berpengalaman, beban kerja janganlah terlalu berat. Bila ini terjadi justru akan
menambah stres karyawan dan berkinerja tidak efektif sehingga mempengaruhi
perusahaan.

Penentuan Tujuan

Sebagaimana telah kita ketahui, hubungan antara stres dengan tingkat


produktivitas adalah sampai pada taraf tertentu, stres dapat meningkatkan
produktivitas kerja, sedangkan individu yang mengalami stres yang terlalu tinggi akan
mengakibatkan produktivitas yang menurun Sehubungan dengan ini, penentuan
tujuan yang jelas dan tepat dapat merupakan hal penting dalam mengelola stres.
Individu-individu berkinerja lebih baik bila mereka memiliki tujuan yang spesifik dan
menantang, menerima feedback mengenai kemajuan mereka dalam mencapai tujuan
tersebut. Tujuan yang spesifik akan memperjelas harapan kinerja. Feedback ke arah
tujuan akan mengurangi ketidakpastian mengenai kinerja yang sebenarnya.
Berkurangnya ketidakpastian akan mengakibatkan berkurangnya frustasi, ambiguitas
peran, dan stres.

Rancangan Ulang Pekerjaan

Pekerjaan dapat menjadi sumber stres jika terlalu berat, tidak sesuai dengan
tingkat kemampuan dan minat. Bila ini terjadi maka pekerjaan akan menjadi
membosankan, elemen-elemen pekerjaan seperti otonomi, variasi, dan arti pentingnya
tugas bagi orang lain tidak bermakna, dan feedback tidak sesuai. Perancangan ulang
pekerjaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan, minat dan spesialisasi serta
keinginan individu pelaksana merupakan salah satu usaha yang mungkin bisa
dilakukan oleh manajemen untuk mengurangi frustasi dan stres karyawan,
meningkatkan tanggung jawab, pekerjaan lebih bermakna, lebih otonomi. Selain itu
kegiatan tersebut juga bisa meningkatkan umpan balik diri dan mengurangi stresnya
karena ini akan meningkatkan kontrol diri karyawan atas aktivitas pekerjaan yang
menjadi tanggung jawabnya.

Keterlibatan Karyawan

Pada taraf tertentu,. stres peran bersifat menggang karena karyawan merasa tidak
pasti mengenai tujuan, harapan, bagaimana akan dinilai dan semacamnya dengan
melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang secara langsung
memengaruhi kinerja mereka, manajemen dapat meningkatkan kendali karyawan dan
mengurangi stres peran ini. Oleh karena itu, demi pengurangan stres, sebaiknya para
manajer melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang
langsung terkait dengan kenerjanya.

Komunikasi dalam Organisasi

Peningkatan komunikasi organisasional formal dengan karyawan mengurangi


ketidakpastian karena mengurangi ambiguitas peran dan konflik peran. Oleh karena
itu pentingnya peran persepsi dalam memperlunak hubungan stres-respons,
manajemen dapat juga menggunakan komunikasi yang efektif sebagai cara untuk
membentuk persepsi karyawan. Suatu hal yang perlu diingat bahwa apa yang
dipersepsikan oleh karyawan sebagai tuntutan, ancaman, atau kesempatan hanyalah
suatu penafsiran, dan bahwa penafsiran dapat dipengaruhi oleh lambang-lambang dan
tindakan yang dikomunikasikan oleh manaijemen.

Program Pengembangan
Program pengembangan adalah usaha terencana yang dilakukan organisasi dalam
rangka memotivasi dan membantu peningkatan kesehatan fisik dan mental pegawai
melalui kegiatan-kegiatan tertentu, misalnya kegiatan olah raga bersama, lokakarya
tentang usaha untuk menurunkan berat badan, menghindari rokok, dan lain-lain.
Usaha ini, meskipun merupakan tanggung jawab pribadi anggota organisasi,
organisasi pun harus memfasilitasi sebagai upaya mempercepat pencapaian hasil. Hal
ini disebabkan pegawai merupakan aset penting organisasi dengan pertimbangan
bahwa bila mereka dalam kondisi baik akhirnya akan menguntungkan organisasi.