You are on page 1of 33

LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN GELOMBANG PERTAMA

KEGIATAN PELEDAKAN DI PT. SEMEN BOSOWA MAROS


KABUPATEN MAROS PROVINSI SULAWESI SELATAN

ABDULLAH KILIAN
093 2014 0213
C1

LABORATORIUM PENGEBORAN DAN PELEDAKAN


JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR
2018
HALAMAN PENGESAHAN

ABDULLAH KILIAN
093 2014 0213

LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk lulus Praktikum Peledakan pada
Laboratorium Pengeboran dan Peledakan Teknik Pertambangan Fakultas
Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia

Disetujui oleh,

Asisten Paraf

1. Ahamd Jeli Rinaldi., A.Md (...................................)

2. Nurul Amalia Syafitri (...................................)

3. Giswa Ade Nugraha (...................................)

4. Muhammad Nur Alim (...................................)

ii
Koordinator Praktikum
Peledakan

Ahmad Jeli Rinaldi., A.Md


Nim. 09320130079

Mengetahui,
Kepala Laboratorium Pengeboran dan Peledakan Jurusan Teknik Pertambangan
Universitas Muslim Indonesia

Ir. Alam Budiman Thams., S.T., M.T., IPP


Nips. 109100892

iii
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT, yang dengan izin-nya semua laporan ini
dapat disusun sebagai mana mestinya.
Dan tak lupa pula saya ucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Ir. Hasbi Bakri, S.T., M.T., IPM, selaku Ketua Jurusan Teknik
Pertambangan Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia.
2. Bapak Ir. Alam Budiman, S.T., M.T., IPP, selaku Kepala Laboratorium
Pengeboran dan Peledakan
3. Bapak Ir. Arif Nurwaskito, S.T., M.Si., IPP, selaku Dosen Pengampuh Mata
Kuliah Peledakan
4. Bapak Ir. Abdul Salam Munir, S.T., M.T dan Ir. Bapak Muhammad Hardin
Wakila, S.T., M.T selaku dosen pembimbing dilapangan
5. Kakak Ahmad Jeli Rinaldi., A.Md selaku Koordinator Praktikum Peledakan
6. Para Asisten Praktikum Peledakan yang telah mendampingi, membimbing
dan membantu dalam Praktikum Peledakan
7. Orangtua dan keluarga yang membantu secara moril maupun materil.
8. Teman-teman angkatan 2014 Teknik Pertambangan Universitas Muslim
Indonesia yang selalu setia dalam suka maupun duka.
Sebagai manusia biasa, tentunya dalam laporan ini masih banyak
kekurangan dan saya harap dari kekurangan tersebut dapat dimaklumi serta
mendapatkan kritikan serta saran yang bersifat membangun.
Semoga Allah SWT memberikan berkah pada setiap umatnya yang
senantiasa berbagi ilmu.
Billahi Taufik Walhidayah, Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu.

Makassar, 30 Desember 2017

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................. iv
DAFTAR ISI ................................................................................................ v
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 1
1.3 Batasan Masalah.................................................................................... 1
1.4 Maksud Dan Tujuan .............................................................................. 1
1.5 Ruang Lingkup Kunjungan Lapangan .................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 5
2.1. Sistem Pemboran................................................................................... 5
2.2. Geometri Pemboran .............................................................................. 5
2.3. Pola Pemboran ...................................................................................... 7
2.4. Geometri Peledakan .............................................................................. 8
2.5. Pola Peledakan ...................................................................................... 10
BAB III PEMBAHASAN ............................................................................ 12
3.1 Kegiatan Pemboran ................................................................................ 12
3.2 Kegiatan Peledakan ................................................................................ 14
BAB IV PENUTUP ...................................................................................... 24
4.1 Kesimpulan ........................................................................................... 24
4.2 Saran...................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 25
LAMPIRAN .................................................................................................. 26

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1.1 Peta Kesampaian Daerah 3
2.1 Arah Lubang Tembak 7
2.2 Pola Pemboran Segiempat (Square Pattern) 8
2.3 Geometri Peledakan 10
2.4 Pola Peledakan 10
2.5 Arah Peledakan Menuju Sudut Tumpul 11
3.1 Alat Bor Furukawa 12
3.2 Pola Pemboran sejajar 12
3.3 Pola Pemboran Selang Seling 13
3.4 Alat Pemboran Tegak 13
3.5 Pola Peledakan 15
3.6 AN (Ammonium Nitrat) 16
3.7 Oli Bekas 16
3.8 Dynamite Dayegel Magnum 17
3.9 Detonator Listrik 17
3.10 Kabel Utama PVC 18
3.11 Memasukkan Fuel Oil Kedalam Moleng 20
3.12 Perangkaian Primer 21
3.13 Memasukan ANFO Kedalam Ludang Ledak 22
3.14 Rangkaian Seri Paralel 22

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


PT. Semen Bosowa Maros merupakan salah satu perusahaan industri cement
yang berada di Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi-Selatan yang menambang
Batugamping sebagai bahan utama pembuatan cement. Pembongkaran (loesening)
batugamping dilakukan dengan kegiatan pemboran dan dilanjutkan dengan
kegiatan peledakan
Pemboran merupakan pekerjaan yang pertama kali dilakukan denga tujuan
untuk membuat sejumlah lubang ledak, sedangkan peledakan yaitu kegiatan
lanjutan dari pemboran yang bertujuan untuk memisahkan batuan dari batuan
induknya (Koesnaryo 2010), tata cara pemboran dan peledakan telah banyak
diulas atau dibahas di dalam buku maupun referensi lain dari para peneliti
terdahulu dan telah dipelajarai di bangku perkuliahan, sebagai akademisi tentu
teori teori mengenai pemboran dan peledakan sudah tidak lazim lagi khususunya
bagi mahasiswa Teknik Pertambangan.
Kendala yang dihadapi seorang mahasiswa sebagai calon sarjana Teknik
Pertambangan adalah kurangnya pemahaman mengenai kondisi lapangan
pekerjaan yang sebenarnya khususnya untuk kegiatan pemboran dan peledakan,
salah satu solusi untuk mengatasi kendala ini yaitu dengan melakukan Kunjungan
Lapangan di perusahaan yang terkait dengan kegiatan pemboran dan peledakan.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam Kunjungan Lapangan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaiman kegiatan pemboran di PT. Semen Bosowa Maros
2. Bagaimana kegiatan peledakan di PT. Semen Bosowa Maros

1.3. Batasan Masalah


Batasan masalah dalam Kunjungan Lapangan ini adalah sebagai berikut:
1. Membahas tentang teknis pemboran pada PT. Semen Bosowa Maros
2. Membahas tentang teknis peledakan pada PT. Semen Bosowa Maros

1
1.4. Maksud Dan Tujuan
Maksud dari Kunjungan Lapangan untuk menambah pengalaman dan
pemahaman mengenai kegiatan pemboran dan peledakan pada PT.Semen Bosowa
Maros
Tujuan dari Kunjungan Lapangan adalah:
1. Untuk mengetahui proses kegiatan pemboran pada PT. Semen Bosowa Maros
2. Untuk mengatuhui proses kegiatan peledakan pada PT. Semen Bosowa Maros

1.5. Ruang lingkup Kunjungan Lapangan


1.5.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah.
Lokasi penelitian teletak di Desa Baruga Kecamatan Bantimurung
Kabupaen Maros Provensi Sulawesi Selatan. Letak geografis lokasi penelitian
berada pada kordinat 119°,37’,26” BT sampai 119°,37’,45” BT dan 4°,56’3.5” LS
sampai 4°,56’,34” LS. Lokasi PT. Semen Bosowa Maros dapat ditempuh dengan
transportasi darat, kurang lebih 3.5 jam dari Manokwari Provinsi Papua Barat,
Dari Universitas Muslim Indonesia Makassar ke Lokasi PT Semen Bosowa Maros
berjarak kurang lebih 45 Km dapat ditempuh dengan waktu sekitar kurang lebih
dua jam dengan menggunakan transportasi darat, dengan akses jalan berupa beton
dan sebagian aspal dengan kondisi jalan yang baik.

2
Gambar 1.1 Peta Kesampaian Daerah PT semen Bosowa Maro

3
1.5.2 Waktu Dan Tempat Kunjungan Lapangan
Waktu Kunjungan Lapangan yang diberikan oleh PT Semen Bosowa Maros
tanggal 21 Desember 2017, Kunjungan Lapangan dilaksanakan dari hari kamis
sampai hari kamis dimulai dari jam 07.00 WITA- 14.00 WITA.
Tempat Kunjungan Lapangan terletak pada daerah Quarry PT Semen
Bosowa Maros Desa Baruga, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros,
Provinsi Sulawesi Selatan.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistem Pemboran


Sistem pemboran untuk penyediaan lubang ledak pada saat ini umumnya
dilakukan dengan mesin bor sistem mekanik (perkusif, rotari, rotari-perkusif)
dengan berbagai ukuran dan kemampuan tergantung pada kapasitas produksi yang
diinginkan. (Jimeno et Al., 1995 dalam Koesnaryo 2001).
Sisitem pemboran secara mekanik berdasarkan sumber energi mekaniknya,
sistem pemboran mekanik terbagi menjadi tiga yaitu perkusif, rotari-perkusif, dan
rotari.
1. Metode pemboran perkusif
Pada pemboran perkusif, energi dari mesin bor diteruskan oleh batang bor dan
mata bor untuk meremukan batuan, komponen utama dari mesin bor ini ialah
piston yang mendorong dan mekanik tangkai batang bor.
2. Metode rotari-perkusif
Pada pemboran rotari-perkusif, aksi penumbukan oleh mata bor
dikombinasikan dengan aksi putaran, sehingga terjadi proses premukan
(crushing) dan Penggerusan (cutting) permukaan batuan. Metode ini terbagi
menjadi dua yaitu : top hammer, dan Down the hole Hammer (DTH Hammer)
3. Metode rotari
Berdasarkan sistem penetrasinya, metode rotari terbagi menjadi dua sistem
yaitu tricone dan drag bit, disebut tricone jika hasil penetrasinya berupa
gerusan (crushing) dan drag bit jika hasil penetrasinya berupa potongan.

2.2. Geometri Pemboran


Geometri pemboran meliputi diameter lubang tembak, kedalaman lubang
bor, kemiringan lubang tembak, tinggi jenjang. (Koesnaryo 2001)
1. Diameter lubang bor.
Di dalam menentukan diameter lubang tembak tergantung dari volume
massa batuan yang akan dibongkar, tinggi jenjang, tingkat fragmentasi yang

5
diinginkan, mesin bor yang dipergunakan, dan kapasitas alat muat yang akan
dipergunakan untuk kegiatan pemuatan material hasil pembongkaran.
Diameter lubang tembak yang kecil juga memberikan patahan atau hancuran
yang lebih baik pada bagian atap jenjang. Hal ini berhubungan dengan stemming,
di mana lubang tembak yang besar maka panjang stemming juga akan semakin
besar dikarenakan untuk menghindari getaran dan batuan terbang, sedangkan jika
menggunakan lubang tembak yang kecil maka panjang stemming dapat dikurangi.
2. Kedalaman lubang bor
Kedalaman lubang bor biasanya disesuaikan dengan tinggi jenjang yang
diterapkan. Dan untuk mendapatkan lantai jenjang yang rata maka hendaknya
kedalaman lubang bor harus lebih besar dari tinggi jenjang yang mana kelebihan
daripada kedalaman ini disebut dengan sub drilling.
3. Kemiringan lubang bor (Arah pemboran)
Arah pemboran yang kita pelajari ada dua, yaitu arah pemboran tegak dan
arah pemboran miring. Arah penjajaran lubang bor pada jenjang harus sejajar
untuk menjamin keseragaman burden yang ingin didapatkan dan spasi dalam
geometri peledakan. Lubang bor yang dibuat tegak, maka pada bagian lantai
jenjang akan menerima gelombang tekan yang besar, sehingga menimbulkan
tonjolan pada lantai jenjang, hal ini dikarenakan gelombang tekan sebagian akan
dipantulkan pada bidang bebas dan sebagian lagi akan diteruskan pada bagian
bawah lantai jenjang.
Sedangkan dalam pemakaian lubang bor miring akan membentuk bidang
bebas yang lebih luas, sehingga akan mempermudah proses pecahnya batuan
karena gelombang tekan yang dipantulkan lebih besar dan gelombang tekan yang
diteruskan pada lantai jenjang lebih kecil (Gambar 2.1)

6
Gambar 2.1 Arah Lubang Tembak

2.3. Pola pemboran


Pola pemboran yang biasa diterapkan pada tambang terbuka biasanya
menggunakan dua macam pola pemboran yaitu :
1. Pola pemboran segi empat (square pattern)
2. Pola pemboran selang-seling (staggered)
Pola pemboran segi empat adalah pola pemboran dengan penempatan
lubang-lubang tembak antara baris satu dengan baris berikutnya sejajar dan
membentuk segi empat. Pola pemboran segi empat yang mana panjang burden
dengan panjang spasi tidak sama besar disebut square rectangular pattern.
Sedangkan pola pemboran selang-seling adalah pola pemboran yang penempatan
lubang ledak pada baris yang berurutan tidak saling sejajar, dan untuk pola
pemboran selang-seling yang mana panjang burden tidak sama dengan panjang
spasi disebut staggered rectangular pattern.
Dalam penerapannya, pola pemboran sejajar adalah pola yang umum,
karena lebih mudah dalam pengerjaannya tetapi kurang bagus untuk
meningkatkan mutu fragmentasi yang diinginkan, maka penggunaan pola
pemboran selang-seling lebih efektif.

7
Bidang Bebas

● S ● ● ● ● ● ● ● ● Baris 1

● ● ● ● ● ● ● ● ● Baris 2

● ● ● ● ● ● ● ● ● Baris 3

● ● ● ● ● ● ● ● ● Baris 4

S=B

Gambar 2.2 Pola Pemboran Segiempat (Square Pattern)


2.4. Geometri Peledakan
Untuk memperoleh hasil pembongkaran batuan sesuai dengan yang
diinginkan, maka perlu suatu perencanaan peledakan dengan memperhatikan
besaran-besaran geometri peledakan. Dan salah satunya dengan menggunakan
teori coba-coba atau yang sering disebut dengan Geometri Peledakan “Rules of
Thumb” (Dyno Nobel). Dasar dari penggunaan Teori “Rules of Thumb” adalah
dari percobaan para praktisi di lapangan maupun dari produsen bahan peledak
yang tujuannya ingin mempermudah dalam menentukan geometri peledakan
karena geometri yang selama ini digunakan seperti R.L. Ash (1963) dan C.J.
Konya (1972).
Untuk menghancurkan batuan maka bahan peledak harus ditempatkan
dalam batuan itu sendiri dengan jarak tertentu dibelakang bidang bebas atau
disebut free face. Masa batuan tersebut harus memiliki satu atau lebih free face.
Geometri peledakan terdiri dari burden, spacing, sub-drilling, stemming, dan
kedalaman lubang bor, geometri peledakan menurut teory R. L. Ash
1. Burden (B)
Burden dapat didefinisikan sebagai jarak dari lubang bor terhadap bidang
bebas (free face) yang terdekat pada saat terjadi peledakan. Peledakan dengan
jumlah baris (row) yang banyak, true burden tergantung penggunaan bentuk pola

8
peledakan yang digunakan delay detonator dari tiap-tiap baris delay yang
berdekatan akan menghasilkan free face yang baru.
2. Spacing (S)
Spacing adalah jarak antara lubang tembak dalam satu baris (row) dan
diukur sejajar terhadap pit wall. Biasanya spacing tergantung pada burden,
kedalaman lubang bor, letak primer, waktu tunda, dan arah struktur bidang batuan.
Yang perlu diperhatikan dalam memperkirakan spacing adalah apakah ada
interaksi antar charges yang berdekatan.
3. Diameter Lubang Ledak / Blast Hole Diameter
Ukuran diameter lubang tembak merupakan faktor yang penting dalam
merancang suatu peledakan, karena akan mempengaruhi dalam penentuan jarak
burden dan jumlah bahan peledak yang digunakan pada setiap lubangnya. Untuk
diameter lubang tembak yang kecil, maka energi yang dihasilkan akan kecil.
Sehingga jarak antar lubang bor dan jarak ke bidang bebas haruslah kecil juga,
dengan maksud agar energi ledakan cukup kuat untuk menghancurkan batuan.
4. Sub-drilling
Subdrilling adalah tambahan kedalaman daripada lubang bor dibawah
rencana lantai jenjang. Subdrilling perlu untuk menghindari problem tonjolan
pada lantai (toe), karena dibagian ini adalah tempat yang paling sukar diledakkan.
Dengan demikian, gelombang ledak yang ditimbulkan pada lantai dasar jenjang
yang akan bekerja secara maksimum.
5. Stemming
Stemming adalah panjang isian lubang ledak yang tidak diisi dengan bahan
peledak tapi diisi dengan material seperti tanah liat atau material hasil pemboran
(cutting), dimana stemming berfungsi untuk mengurung gas yang timbul sehingga
air blast dan flyrock dapat terkontrol. Untuk bahan stemming batuan hasil dari
crushing jauh lebih baik daripada cutting rock (material bekas pemboran). Namun
dalam hal ini panjang stemming juga dapat mempengaruhi fragmentasi batuan
hasil peledakan.
6. Kedalaman Lubang Tembak/Blast Hole Depth
Kedalaman lubang ledak tergantung pada ketinggian bench, burden, dan
arah pemboran. Kedalaman lubang tembak merupakan penjumlahan dari besarnya

9
stemming dan panjang kolom isian bahan peledak. Kedalaman lubang ledak
biasanya disesuaikan dengan tingkat produksi.
7. (Bench Height)/Tinggi Jenjang
Tinggi jenjang berhubungan erat dengan parameter geometri peledakan
tinggi jenjang ditentukan terlebih dahulu atau terkadang ditentukan kemudian
setelah parameter atau aspek-aspek lainnya diketahui. Tinggi jenjang maksimum
biasanya dipengaruhi oleh kemampuan alat bor dan jangkauan alat muat.
8. Panjang Kolom Isian Bahan Peladak
Bagian dari lubang tembak yang berisikan bahan peledak dan juga primer.
Panjang kolom isian tergantung dari kedalaman lubang bor dan stemming.

Gambar 2.3 Geometri Peledakan Menurut R.L.Ash


2.5. Pola Peledakan
Pola peledakan merupakan urut-urutan waktu peledakan antara lubang
tembak dalam satu baris dan antara satu dengan yang lainnya. Pola peledakan
ditentukan tergantung arah mana pergerakan material yang diharapkan. (Gambar
2.4).
Bidang bebas

1 1 1 1 1 1
2 2 2 2 2
3 3 3 3
Pola peledakan tunda antar baris dan serentak dalam satu baris
Gambar 2.4 Pola Peledakan

10
Menurut R.L. Ash dengan adanya tiga bidang bebas, kuat tarik batuan dapat
dikurangi sehingga akan dapat meningkatkan jumlah retakan dengan syarat lokasi
dua bidang bebasnya mempunyai jarak yang sama terhadap lubang tembak.
1. Waktu Tunda
Pemakaian delay detonator sebagai waktu tunda untuk peledakan secara
beruntun. Keuntungan dari peledakan dengan memakai delay detonator adalah :
a. Dapat menghasilkan fragmentasi yang lebih baik
b. Dapat mengurangi timbulnya getaran tanah
c. Dapat menyediakan bidang bebas untuk baris berikutnya.
2. Arah Peledakan
Dalam suatu operasi peledakan, maka fragmentasi batuan yang dihasilkan
akan dipengaruhi oleh arah peledakannya. Sedangkan arah peledakan dipengaruhi
oleh struktur batuan yang ada. Struktur batuan yang banyak dijumpai di lapangan
biasanya adalah kekar.
Menurut R.L. Ash arah peledakan yang baik untuk menghasilkan
fragmentasi yang seragam yaitu arah peledakan menuju sudut tumpul yang
merupakan perpotongan antara arah umum, demikian penggunaan energi bahan
peledak akan lebih baik karena tidak terjadi penerobosan energi. (Gambar 2.6).

Arah Peledakan

Free face

• • • •

• • • • •

• • • •

• • • • •

= Arah peledakan menuju sudut tumpul

Gambarar 2.5 Arah Peledakan Menuju Sudut Tumpul

11
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Kegiatan Pemboran


Kegiatan Pemboran merupakan kegiatan yang pertama dilakukakan pada
PT.Semen Bosowa Maros dengan tujuan membuat lubang ledak dengan geometi
yang sudah ditentukan sebelum melaksanakan kegiatan peledakan.

3.1.1. Alat Bor


Alat bor yang digunakan pada PT. Semen Bosowa Maros yaitu alat Bor
buatan jepan dengan merk Furukawa, alat bor yang digunakan masih baru dengan
umur alat satu tahun. Jumlah alat bor yang beroperasi saat ini adalah sebanyak
dua unit. Sistem pemboran Furukawa yaitu system pemboran secara mekanik
dengan metode Rotari- Perkusif,

Gambar 3.1 Alat Bor Furukawa

3.1.2. Pola Pemboran


Pola pemboran yang diterapakan pada PT.Semen Bosowa Maros ada dua
yaitu pola pemboran sejar dan selang-seling, pola pemboran sejajar diterapkan
dalam kondisi lantai jenjang yang memiliki topografi yang relatif datar dan lantai
jenjang yang simetris dalam hal ini berbentuk persegi maupun persegi panjang,

12
namun pada kondisi topografi yang tidak merata dan lantai jenjang yang tidak
simetris akan diterapkan pola pemboran selang-seling. Pola pemboran selang
seling diterapkan pada saat perintisan misalnya pada pembukan jalan maupun
pelebaran jalan.

Gambar 3.2 Pola Pemboran Sejajar

Gambar 3.3 Pola Pemboran Selang Seling

13
3.1.3. Arah pemboran
Arah pemboran yang diterapkan pada PT. Semen Bosowa yaitu arah
pemboran tegak, adapun pertimbangan peursahaan menerapkan arah pemboran
vertikal karena dianggap lebih mudah dan lebih akurat dan biaya pemboran tegak
lebih murah dibandingkan dengan biaya pemboran arah pemboran miring.

Gambar 3.4 Arah Pemboran Tegak

3.2. Kegiatan Peledakan


Kegiatan peledakan pada PT. Semen Bosowa Maros dilaksanakan secara
rutin yaitu hari senin sampai dengan hari sabtu, kegiatan peledakan PT. Semen
Bosowa Maros meliputi penentuan geometri peledakan, penentuan pola
peledakan, pengeluaran bahan peledak dari gudang bahan peledak, pencampuran
bahan peledak, pengangkutan bahan peledak, pengisian bahan peledak kedalam
lubang ledak, rangkaian peledakan, peringatan untuk peledakan, pengecekan hasil
peledakan.

3.2.1. Geometri Peledakan


Geometri peledakan merupakan salah bagian dari kegiatan peledakan,
geometri peledakan pada PT Semen Bosowa Maros meliputi burden, spasi,
kedalaman lubang bor, steaming, kolom isian dan tinggi jenjang, jarak spasi yang
direncanakan yaitu burden 3 meter, spasi 3 meter, kedalaman lubang tembak 6
meter. namun ukuran geometri yang di peroleh dilapangan tidak sesuai dengan

14
rencana geometri yang telah dirancang oleh mine plan PT. Semen Bosowa Maros
ini dikarenakan pada saat pemboran lubang ledak operator kadang tidak membor
sesuai dengan titik yang telah ditentukan, kemungkinan hal seperti ini dapat
mempengaruhi fragmentasi batuan dari hasil peledakan. Untuk ukuran geometri
aktual dilapangan dapat dilihat pada tabel berikut:

3.2.2. Pola Peledakan


Pola peledakan yang di terapkan pada PT.Semen Bosowa Maros yaitu pola
peledakan tunda antar baris dan serentak dalam satu baris. ini diterapkan pada
kondisi lapangan yang relatif datar dan lantai jenjang simetris. Namun pada
kondisi lapangan yang kurang simetris maka pola peledakannya diatur hanya
berdasarkan pengalam juru ledak.

Gambar 3.5 Pola Peledakan

3.2.3. Bahan Peledak Dan Alat Yang Berkaitan Dengan Peledakan


Bahan peledak yang digunakan pada PT Semen Bosowa Maros yaitu AN
(Ammonium Nitrat) sebagai bahan peledak sekunder, dan dynamit sebagai bahan
peledak primer, perlengkapan peledakan yang digunakan yaitu detonator listrik

15
dengan system delay, plastic, kabel pvc, blasterohmeter, dan blasting machine,
alat yang berkaitan langsung dengan peledakan yaitu : kabel, BOM (Blaster
Ohmmeter), BM (Balsting Machine), dan alat pencampur.
a. ANFO (Ammonium Nitrat Fuel Oil)
Ammonium Nitrat Fuel Oil merupakan bahan peledak utama yang
digunakan pada PT. Semen Bosowa Maros, bahan peledak ini merupakan
campuran dari Ammonium Nitrat Dengan Fuel Oil. PT. Semen Bosowa Maros
menggunakan oli bekas dan solar sebagai fuel oil karena lebih ekonomis jika
dibandingkan dengan menggunakan solar sepenuhnya. Oli bekas dicampur dengan
solar dengan perbandingan 90% : 10%. Untuk pencampuran solar dengan oli
sebelumnya telah dicampur di workshop kemudian dibawah ke lokasi
pencampuran ANFO.
Amonium Nitrat yang digunakan oleh PT.Semen Bosowa Maros merupakan
produk dari PT.DAHANA yang telah dikemas dengan berat setiap kemasannya
yaitu 25 Kg.

Gambar 3.6 AN (Ammonium Nitrat)

16
Gambar 3.7 Oli Bekas
b. Dynamite Dayagel Magnum
PT. Semen Bosowa Maros menggunakan Dynamite Dayagel Magnum
sebagai bahan peledak primer yang. Bahan peledak ini merupakan bahan peledak
yang tahan terhadap air, dynamit memiliki berat 0.2 kg/pcs. Dengan ukuran
diameter 32 mm dengan panjang 20 cm.

Gambar3.8 Dynamite Dayegel Magnum


c. Detonator listrik
Detonator listrik yang digunakan pada PT Semen Bosowa Maros yaitu
detonator listrik dengan elemen tunda. Detonator yang digunakan yaitu detonator
nomor delay 1 sampai delay 10. Detonator ini dilengkapi dengan 2 kabel yang

17
memiliki warna yang berbeda yaitu warna merah dan warna putih dengan panjang
6 meter dan terdapat waktu tunda yang di tempel pada ujung kabel dengan
penomoran dari 1,2,3..dst.

Gambar 3.9 Detonator Listrik


d. Kabel Utama
Kabel utama merupakan peralatan yang berhubungan langsung dengan
peledakan , Kabel utama yang digunakan oleh PT Semen Bosowa Maros yaitu
kabel PVC merk Yunitomo dengan panjang kabel 100 m/rol, ukuran 0.6 cm,
dengan kawat tembaga tunggal diisolasi dengan menggunakan plastic PVC
dengan tahanan 4.6 ohm/100 meter.

Gambar 3.10 Kabel Utama PVC

18
e. Blaster ohmmeter (BOM)
BOM merupkan perlengkapan peledakan yang alat ini berfungsi sebagai
alat pengukur tahanan, jenis blaster ohmmeter yang digunakan PT. Semen
Bosowa Maros yaitu BOM digital dengan kemampuan mengukur tahanan hingga
1000 ohm.

f. BM (Blasting Machine)
BM merupakan perlengkapan peledakan, berfungsi sebagai pemicu ledak,
alat ini mempunyai dua slot kutub listrik, BM yang digunakan PT.Semen Bosowa
Maros yaitu BM dengan tipe Baterai, model CD 1000-9J, alat ini memiliki 2
tombol dan 1 lampu indicator.

3.2.4. Gudang bahan peledak


Gudang bahan peledak berfungsi untuk menyimpan bahan peledak, PT
Semen Bosowa Maros memiliki 3 gudang terdiri dari gudang detonator, gudang
dynamite dan gudang ammonium nitrat. Gudang bahan peledak ini terletak sekitar
kurang lebih 750 meter dari lokasi penambangan.

3.2.5. Pencampuran Bahan Peledak


Bahan peledak yang telah dikeluarkan dari gudang bahan peledak
khususnya ammonium nitrat di bawa ke lokasi pencampuran. Di tempat ini akan
dilakukan pencampuran ammonium nitrat dengan fuel oil. Alat yang digunakan
oleh PT.Semen Bosowa Maros untuk pencampuran bahan peledak yaitu moleng
dengan kapasitas 350 kg, tempat pencampuran ini terbagi atas dua lantai, lantai
atas khusus untuk pencampuran dan lantai bawah khusus untuk tempat
memasukan kembali ANFO yang telah dicampur kedalam karung.

19
Gambar 3.11 Memasukkan Fuel Oil Kedalam Moleng

3.2.6. Pengisian Bahan Peledak


Pengisian bahan peledak kedalam lubang ledak yang telah tersedia
dilaksanakan pada waktu menjelang istirahat siang ini dikarenakan jadwal
peledakan dilaksanakan pada waktu jam istirahat. Pengisian bahan peledak
dilakukan secara manual dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pengisian bahan peledak primer
Tahapan sebelum memasukan primer pada lubang ledak terlebih dahulu
dilakukan perangkain dengan cara memasukan detonator pada bahan peledak
primer dengan cara menusuk kemasan dengan kayu penusuk kemudian
memasukan detonator sejajar dengan bahan peledak primer (ditengah-
tengah),kemudian mengatur posisi ikatan kabel pada bahan peledak primer,
setelah itu dilanjutkan dengan memasukan bahan peledak primer kedalam lubang
ledak, jumlah primer yang digunakan sebanyak 2 pcs/ lubang, untuk lubang
ledak yang berair atau berongga terlebih dahulu melapisi lubang dengan plastik.

20
Gambar 3.12 Perangkaian Primer

2. Pengisian bahan peledak sekunder (ANFO)


Pengisian ANFO kedalam lubang ledak dilakukan secara manual, yaitu
menggunakan tenaga karyawan. Untuk pengisian bahan peledak sekunder
biasanya dialakukan oleh dua orang apabila menggunakan plastik, satu orang
memegang plastik dan kabel detonator agar tidak jatuh kedalam lubang ledak
kemudian orang kedua memasukan bahan peledak secara perlahan agar bahan
peledak dipastikan masuk kedalam pelastik, sedangkan dalm kondisi lubang yang
normal tanpa menggunakan plastik maka dapat dikerjakan sendiri dengan hanya
menahan kabel detonator lubang tersebut agar tidak jatuh kedalam lubang,
biasanya kabel detonator ditahan menggunakan kaki setelah bahan peledak
dimasukan kemudian langsung ditutup dengan menggunakan cutting dari hasil
pemboran. Jumlah pengisian untuk satu lubangnya kurang lebih 25 Kg.

21
Gambar 3.13 Memasukan ANFO Kedalam Ludang Ledak

3.2.7. Rangkaian peledakan


Rangkain peledakan dilakukan setelah semua lubang ledak diisi dengan
bahn peledak, rangkaian yang di terapkan pada PT.Semen Bosowa Maros yaitu
rangkaian seri dan rangkaian seri parallel.

Bidang Bebas

DELAY2

DELAY2

DELAY3

DELAY4

KABEL UTAMA

MACHINE BLASTING

Gambar 3.14 Rangkaian Seri Paralel

22
3.2.8. Peringatan peledakan
Setelah rangkaian selesai dilaksanaka dan kabel utama telah ditarik
kedaerah titik aman dari lokasi peledakan dan juru ledak sudah siap untuk
melaksanakan peledakan maka tanda yang digunakan pada PT Semen Bosowa
Maros yaitu dengan adanya bunyi sirene. Sirene pertama menandakan bahwa 10
menit kemudian akan dilaksanakan peledakan. Bunyi sirene ke dua menandakan
bahwa peledakan akan segera dilaksanakan. Biasanya 1-60 detik setelah sirene ke
dua berbunyi.

3.2.9. Peledakan
Peledakan dilaksanakan oleh juru ledak yang telah berpengalaman dengan
menggunakan machine blasting (MB), jarak aman dari lokasi yang akan diledakan
dengan tempat juru ledak akan menekan tombol pemicu yaitu sekitar 300 meter,
prosedur peledakan yaitu kedua ujung kabel utama dihubungkan pada masing-
masingh kutub yang ada pada MB.

23
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan dan di teliti secara umum
maka dapat di simpulkan bahwa:
1. Kegiatan pemboran pada PT Semen Bosowa Maros dengan tujuan membuat
kedalaman lubang ledak 6 meter dan diameter lubang ledak 4.5 inch,
menggunakan alat bor dengan merk FURUKAWA dengan metode pemboran
rotary perkusif. Pola pemboran yang diterapkan yaitu pola pemboran sejajar
dan selang seling, dengan arah pemboran vertical.
2. Kegiatan peledakan Pada PT Semen Bosowa Maros dimulai dari pengeluaran
bahan peledak dari gudang bahan peledak, pencampuran AN dengan FO
dengan perbandingan 94.2% : 5.8 %, pengangkutan bahan peledak ke lokasi
penambangan, perangkaian primer, pengisian bahan peledak secara manual,
kemudian perangkaian dengan menggunakan rangkaian seri dan seri parallel,
peringatan peledakan yang ditandai dengan bunyi sirene, pelaksanaan
peledakan oleh juru ledak dan pengecekan hasil ledakan dan memastikan tidak
terjadi gagal ledak.

4.2. Saran
Operator pemboran disarankan untuk melakukan pemboran pada titik yang
telah direncanakan agar ukuran geometri peledakan sesuai dengan yang
direncankan, karena apabila ukuran geometri peledakan tidak seragam maka
kemungkinan hal ini dapat mempengaruhi fragmentasi dari hasil peledakan.

24
DAFTAR PUSTAKA

Ash, R.L 1990,“Design of Blasting Round, Surface Mining”, B.A. Kennedy


Editor, Society for Mining,Metallurgy, and Explotion, Inc. Page. 565-
584.

Konya,C.J dan Walter, E.J,”Rock Blasting And Overbreak control”.National


Highway Institute, pracision blasting services, Montville, U.S.A, page.
89-100.

Koesnaryo. S.2001 “Pemboran Untuk Penyediaan Lubang ledak” Univesitas


Pembangunan nasional, Yogyakarta

Doni Rei Luden.2009. Kajian Geometri Peledakan Batu Gamping Dalam


Penentuan Fragmentasi Pada Pt. Semen Bosowa Provinsi Sulawesi
Selatan. Skripsi Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas
Veteran Republik Indonesia Makassar

25
26
27