You are on page 1of 3

RUGI HISTERISIS PADA TRANSFORMATOR

Posted on June 10, 2014by mohanshori
Pada transformator ideal, tidak ada energi yang diubah menjadi bentuk energi lain di
dalam transformator sehingga daya listrik pada kumparan skunder sama dengan
daya listrik pada kumparan primer. Pada transformator Ideal perbandingan antara
tegangan sebanding dengan perbandingan jumlah lilitannya.
Namun, pada kenyataannya tidak ada transformator yang ideal. Hal ini karena pada
transformator selalu ada rugi-rugi yang antara lain sebagai berikut :

1. Rugi-rugi tembaga; rugi-rugi yang disebabkan oleh pemanasan yang timbul
akibat arus mengalir pada hambatan kawat penghantar yang terdapat pada
kumparan primer dan sekunder dari transformator. Rugi-rugi tembaga
sebanding dengan kuadrat arus yang mengalir pada kumparan.
2. Rugi-rugi arus eddy; rugi-rugi yang disebabkan oleh pemanasan akibat timbulnya
arus eddy (pusar) yang terdapat pada inti besi transformator. Rugi-rugi ini terjadi
karena inti besi terlalu tebal sehingga terjadi perbedaan tegangan antara sisinya
maka mengalir arus yang berputar-putar di sisi tersebut. Rugi-rugi arus eddy
sebanding dengan kuadrat tegangan yang disuplai ke transformator.
3. Rugi-rugi hysteresis; rugi-rugi yang berkaitan dengan penyusunan kembali
medan magnetik di dalam inti besi pada setiap setengah siklus, sehingga timbul
fluks bolak-balik pada inti besi.

Fluks Bocor; kebocoran fluks terjadi karena ada beberapa fluks yang tidak
menembus inti besi dan hanya melewati salah satu kumparan transformator saja.
Fluks yang bocor ini akan menghasilkan induktansi diri pada lilitan primer dan
sekunder sehingga akan berpengaruh terhadap nilai daya yang disuplai dari sisi
primer ke sisi sekunder transformator.

Operasi paralel transformator pada sistem fase-tiga
Operasi paralel berarti hubungan langsung terminal ke terminal antar transformator
pada instalasi yang sama. Hanya dua belitan transformator yang dipertimbangkan..
Logikanya juga dapat diterapkan pada gugus tiga buah transformator fase-tunggal.

Untuk berhasilnya operasi paralel, transformator mensyaratkan:

 hubungan sudut-fase sama – angka jarum jam sama (kemungkinan
kombinasi tambahan disebutkan di bawah);
 rasio sama dengan toleransi dan julat sadapan yang sama;
 impedans hubung-pendek relative sama persentase impedans dengan toleransi.
Ini juga berarti bahwa variasi impedans relatif lintas jumlah sadapan sebaiknya
serupa untuk kedua transformator.
Penting bahwa spesifikasi tender untuk transformator yang dimaksudkan untuk
operasi paralel dengan transformator tertentu yang sudah ada berisi informasi
transformator tersebut..Beberapa peringatan penting pada hubungan paralel ini
adalah:

Perbedaan tegangan ini mengalirkan arus sirkulasi melewati jumlah impedans dua transformator paralel. Impedans relatif asli untuk desain optimal bervariasi dengan ukuran transformator. misalnya untuk memberikan tegangan sadapan yang sama secara tepat pada dua transformator yang diparalel. Perkiraan besarnya arus ini diases dengan cara berikut : Dua transformator a dan b dengan daya pengenal Sa dan Sb serta impedans hubung-pendek relative Za dan Zb dienerjais dalam keadaan paralel dan tanpa beban dari salah satu sisi. impedans dinyatakan dalam bentuk relatif sebagai hasil bagi dari impedans acuan Zref transformator dan dinyatakan dalam persen. Tidak perlu. Jatuh tegangan tidak tergantung pada tegangan aktual karena arus magnetisasi yang tergantung diabaikan dalam perhitungan jatuh tegangan. suatu jaringan impedans) yang pada lintas terminalnya menimbulkan jatuh tegangan. Pengujian membolehkan pemisahan impedans seri kedalam suatu resistans. menyatakan rugi beban dan reaktans: Z = R + jX Secara konvensional. Impedans relatif ditulis: .  Konsekuensi dari ketidaksepadanan data yang kecil sebaiknya tidak diperkirakan lebih. disarankan untuk tidak mengkombinasikan transformator dengan transformator nilai pengenalnya jauh berbeda (lebih dari 1:2). Karena tegangan ini utamanya induktif . arus sirkulasinya juga induktif. Impedans seri diidentifikasikan dengan impedans hubung-pendek diukur pada uji rutin transformator. Perbedaan rasio dan arus sirkulasi Jika dua transformator yang rasionya berbeda sedikit dienerjais dalam keadaan paralel.  Transformator yang dibuat sesuai dengan konsep desain yang berbeda mungkin menimbulkan tingkat impedans yang berbeda dan kecenderungan variasi yang berbeda lintas julat sadapan. Sirkit ekivalen konvensional dari transformator terdiri dari impedans seri linier (untuk transformator multi-belitan. enerjais ini akan menaikkan arus sirkulasi antar transformator.

Z dan Zref. tanpa memperhatikan belitan yang mana dari dua belitan yang terlibat dienerjais dan yang dihubung-pendek dalam pengujian. Uraian beban Beban pada transformator dinyatakan sebagai nilai S yang berubah-ubah dari daya nyata (tidak diidentifikasi dengan daya pengenal).Z = r + jx Uref adalah tegangan belitan. Sref adalah nilai acuan daya untuk sepasang belitan yang terkait. Uref. Nilai acuan ini biasanya daya pengenal dari salah satu belitan dari pasangannya tetapi nilai acuan sebaiknya selalu dijelaskan untuk menghindari salah pengertian. dan sudut fase φ. tegangan acuan malahan mungkin tegangan sadapan). U2 yang pada tegangan itu beban dipasang pada sisi sekunder transformator .Untuk transformator fase-tiga. (jika tidak ada ketentuan lain. adalah tegangan pengenal belitan tetapi jika sadapan khusus selain sadapan utama yang diacunya. P dan Q. Bersama-sama dengan ini diberikan tegangan terminal. atau nilai terpisah dari beban aktif dan reaktif. yang menjadi acuan Z dan Zref. adalah impedans perfase (ekuivalen hubungan bintang). nilai relatif atau persentase impedans yang disarankan sebelumnya menjadi satu dan sama.