You are on page 1of 8

Jurnal

Manajemen Kesehatan Indonesia

Volume 03 No. 01 April 2015

Pelaksanaan Sistem Rujukan Kasus Ibu Hamil Risiko Tinggi oleh Bidan Desa
ke Puskesmas Poned Kabupaten Banjar - Kalimantan Selatan (Studi Kasus di
Puskesmas Sungkai)

Implementation on the Referral System of High Risk Pregnant Women from


Villages Midwives to Primary Healthcare Center with Basic Obstetric and
Neonatal Emergency Care in Banjar District, South Kalimantan (a Case Study
in Sungkai Primary Healthcare Center)
Adriana Palimbo*, Ayun Sriatmi**, Tjahjono Kuntjoro**
*Alumni Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, ** Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Diponegoro, Semarang

ABSTRAK
Kualitas pelayanan rujukan kebidanan tidak bisa terlepas dari system rujukan yang dilaksanakan
oleh bidan desa sebagai pos pelayanan terdepan di masyarakat. Selain karena faktor sistem
penanganan kasusnya yang kurang sesuai dengan prinsip dasar merujuk, diduga juga karena
keterlambatan menganal tanda bahaya dan mengambil keputusan dan terlambat mendapat
pelayanan di fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian adalah menjelaskan pelaksanaan sistem
rujukan ibu hamil risiko tinggi oleh bidan desa ke Puskesmas PONED Kabupaten Banjar tahun
2011. Penelitian ini adalah penelitian observasional menggunakan rancangan deskriptif
kualitatif, dalam bentuk studi kasus untuk menggambarkan dan memahami fenomena yang
berkaitan dengan pendekatan crossectional. Instrumen penelitian adalah bidan desa Puskesmas
Sungkai yang melakukan rujukan kasus ibu hamil risiko tinggi ke Puskesmas PONED. Data
dikumpulkan dengan wawancara mendalam dan dianalisis dengan teknik kualitatif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa masih ada bidan desa yang melakukan stabilisasi diluar
kewenangan. Sebagian besar masyarakat menggunakan pembiayaan Jamkesmas, tetapi dari
biaya dan ketersediaan transportasi/ambulan desa dan keperluan lain masih masih kurang
memadai bagi pasien Jamkesmas. Selama proses pendampingan bidan sebagian besar hanya
mendampingi jika pasien dirujuk ke RS swasta, tetapi hal sama tidak dilakukan pada pasein
Jamkesmas. Dalam merujuk ibu hamil ke puskesmas PONED bidan desa tidak membawa surat
pengantar rujukan, tetapi hal sama juga tidak dilakukan saat merujuk ke RS swasta. Bidan
menyertakan surat dan lampiran buku KIA jika ke RS umum untuk tujuan klem Jamkesmas.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada Dinas Kesehatan untuk melengkapi
jumlah tenaga bidan desa dan kualifikasinya, serta kecukupan alat/obat/bahan di
Polindes/Poskesdes. Bagi Puskesmas untuk melakukan pembinaan dan supervisi bidan di desa
dan ada pembagian tugas yang jelas untuk bidan desa di wilayah kerjanya.
Kata Kunci : Rujukan Risiko Tinggi Kehamilan, Bidan Desa

ABSTRACT
Quality of obstetrical referral service could not be separated from referral system done by
village midwives as a front health service post in the community. Obstetric case management
that was not fully follow a basic principle of referral, delays to identify signs of dangerous
pregnancy condition, delay to make decision, and delay to obtain services in the health facility
were factors related to the quality of obstetrical referral service. The objective of this study was
to explain the implementation of high risk pregnancy referral system by village midwives to
44
PONED primary healthcare center Banjar district, 2011. This was an observational study using
descriptive qualitative design. This study was in the form of a case study to describe and to
comprehend related phenomena using cross sectional approach. Study instrument was village
midwives from Sungkai primary healthcare center who referred high risk pregnant women to
PONED primary healthcare center. Data were collected by conducting in-depth interview.
Qualitative technique was applied to analyze the data. Results of the study showed that village
midwives still performed stabilization beyond their authority. Majority of people in the
community used Jamkesmas (community health insurance) funding; however, funding and
transportation or village ambulance availability and other needs were insufficient for
Jamkesmas patients. During midwives accompaniment, most of them only accompanied when the
patient was referred to the private hospital, and they did not do that for Jamkesmas patients.
Midwives did not bring reference letter to PONED primary healthcare centers when they were
referring pregnant women; it was also done when they were referring pregnant women to
private hospitals. Midwives included a letter and KIA book as an enclosure when they referred
the patient to the general hospital for Jamkesmas claim purpose. Based on the study results,
suggestions given to the head of district health office were to provide additional number of
village midwives with its qualification; to assure the availability and sufficiency of instrument,
medicine and materials in Polindes or Poskesdes; Suggestions for primary healthcare office
were to conduct guidance and supervision for village midwives, to distribute clearly the job
assignments to village midwives in their work areas.
Key words : high risk pregnancy referral, village midwives

PENDAHULUAN tahun 2009 ke tahun 2010 mengalami


Sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh peningkatan dan sudah mencapai target diatas
penyebab langsung yaitu perdarahan, infeksi, 20%. Sedangkan untuk penanganan kasus
eklamsia, persalinan lama dan komplikasi risiko tinggi dan komplikasi serta rujukan
abortus. Kematian ibu juga dilatarbelakangi kasus pada ibu hamil tahun 2009 – 2010 di
oleh rendahnya tingkat sosial ekonomi, tingkat lima Puskesmas PONED menunjukkan bahwa
pendidikan, kedudukan dan peran perempuan, tahun 2009 persentase mengalami komplikasi
faktor sosial budaya serta faktor transportasi. dan dirujuk masih sangat rendah pada kelima
Hal ini disebut “Tiga Terlambat” (terlambat puskesmas tidak mencapai 75%. Jumlah desa
mengenal tanda bahaya dan mengambil yang melaksanakan P4K dengan stiker sudah
keputusan, terlambat mencapai fasilitas diatas 90%. Persentase ibu hamil mendapat
kesehatan dan terlambat mendapatkan stiker paling rendah pada Puskesmas Sungkai
pelayanan di fasilitas kesehatan). 62,3% dan Puskesmas Pengaron 61,7%.
Kematian yang terjadi di Kalimantan Demikian juga yang terdapat pada tahun 2010
Selatan tahun 2007 masih cukup tinggi yaitu rata – rata cakupan kegiatan masih rendah.
307/100.000 kelahiran hidup. Dimana dari (Dinas Kesehatan Kab. Banjar, 2010).
tahun ke tahun mengalami peningkatan, begitu Pelayanan rujukan kasus pada ibu
juga kematian yang terjadi di Kabupaten hamil risiko tinggi di Puskesmas PONED
Banjar, kasus kematian terbanyak pada tahuh belum berjalan sesuai harapan yang
2010 terjadi di rumah pasien yaitu 73,6% ditargetkan. Beberapa indikator menunjukkan
sedangkan di perjalanan 26,3%. Hal ini tidak semua risiko tinggi dan komplikasi ibu
menunjukkan lemahnya peran dan partisipasi hamil ditangani sesuai sistem rujukan dan
keluarga dalam mengambil keputusan dengan standar merujuk seperti BAKSOKUDO.
tepat. Salah satu upaya pemerintah dengan Masih banyak bidan yang belum memahami
mendekatkan akses pelayanan kesehatan pada dan menerapkan sistem rujukan kasus dan
masyarakat dengan sistem rujukan. (Dinas risiko tinggi kehamilan serta masih banyak
Kesehatan Prov. Kalsel,2010). bidan yang belum melakukan sistem rujukan
Kinerja cakupan deteksi dini ibu hamil secara tepat sehingga perlu dilihat proses
risiko tinggi kelima puskesmas PONED dari

45
pelaksanaan rujukan yang dilakukan bidan Kalo kompetensi..ulun merasa masih
desa ke Puskesmas PONED. kurang..pang..tapi sudah merasa
mengerjakan ja.. sesuai ketrampilan..”
METODE PENELITIAN Yah..gimana ya..ulun kompeten atau
Jenis penelitian adalah studi kasus untuk kada kah..kada bisa menilai
sendiri..sudah merasa sesuai ja..bila
mengidentifikasi pelaksanaan sistem rujukan
ada kasus ibu hamil tidak normal..lain
kasus ibu hamil risiko tingggi oleh bidan desa jua tindakannya..dengan normal
ke puskesmas PONED. Penelitian ini Pernah ikut pelatihan APN dan
dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan LSS..tapi APN nya dah lawas
bulan September 2011 yang berlokasi di (lama)…biasanya juga tidak seberapa
Puskesmas Sungkai Kabupaten Banjar. ingat lagi..mau dipraktikkan bujur-
Subyek penelitian adalah bidan desa sebagai bujur (benar-benar)…mengingatnya
informan utama sedangkan informan pengalaman dari waktu
triangulasi provider adalah Bidan Koordinator, kuliah..skarang kan jarang lagi ada
Kepala Puskesmas dan Kepala Seksi KIA, pelatihan-pelatihan.“...Pelatihan APN
informan triangulasi pasien adalah ibu hamil nya..udah lawas (lama).. asal pertama
APN dulu 2003..kah..LSS dan
risiko tinggi. Teknik pengambilan sampel
asfiksia…dah lawas jua (juga)..waktu
dengan total populasi sampling untuk bidan di banjar..
desa. Pengumpulan data dengan cara
wawancara mendalam (indept interview) dan b. Sarana Prasarana
observasi dengan mengggunakan daftar Sarana dan prasarana yang
checklist. Selanjutnya data yang diolah, berkaitan dengan ketersediaan gedung,
kemudian dianalisa menggunakan analisa alat-alat, obat-obatan, bahan-bahan,
kualitatif yaitu menggunakan content analisis kendaraan, form-form, kecukupan
yaitu menyusun dan menggolongkannya dalam jumlah gedung, alat-alat, obat-obatan,
bentuk pola, kategori atau klasifikasi reduksi bahan-bahan, kendaraan, form-form dan
data agar dapat diinterpretasikan dan kelayakan gedung, alat-alat, obat-
penarikan kesimpulan yang dipadukan dengan obatan, bahan-bahan, kendaraan, form-
kepustakaan atau teori yang ada. Data form dan fasilitas lainnya yang dimiliki
disajikan dalam bentuk naratif sesuai dengan oleh bidan desa dalam pelayanan
variabel penelitian. rujukan masih kurang, sehingga apabila
ada pasien kasus risiko tinggi yang akan
HASIL PENELITIAN dirujuk tidak dapat terlayani.
1. Ketersediaan Aspek Input
a. Sumber Daya Manusia/Tenaga tuk alat dan obat...yah sama
Kesehatan jua..masih kada tapi sesuai..rancak
Sumber daya manusia yaitu (sering) habis itu ya..oksi, amox, PCT,
bidan desa yang ada di wilayah kerja dan vitamin…gasan bumil..mun ruang
Puskesmas Sungkai masih kurang, dari segi periksa..hanya ada 1 kamar..sempit
jumlah tenaga (kuantitas) maupun dari segi pulang..maka tergabung ANC..ada jua
pelayanan lain..orang
keterampilan yang dimiliki oleh bidan
berobatkah..mana bila ada bumil risti..
(kualitas). Dari aspek kompetensi sebagian Atapnya bocor.. pustu...jadi perbaiki
kecil saja yang mengatakan masih kurang sorang (sendiri) ja..tensi..sudah pada
kompeten karena kualifikasi pendidikan dan rusak..ya..beli sendiri aja..sama jua
pelatihannya yang belum standar. dengan bak partus kan..punya
disini bidan semua ada 8 sendiri…ada ee juga pernah
orang..2 di puskes..bikornya dan bantuankah..timbangan dewasa dan
PKPR. ..yang tugas di desa ada 6 tensi.. Ada satu pustu...memang
..satu bidan pegang 1 desa. memang kondisinya atapnya rusak dan
jumlah desa kami…termasuk desa bocor…sana-sini..ruang periksa ada
sungkai ada 14 desa..masih 7 desa 1…eee iya..dirasa sempit…karna
tidak ada bidannya. gabung,, untuk obat-obatan sudah
46
cukup karena bidan mengampra ke penggantian ongkos dari sana.. Udah
puskesmas… siap jua kalo..dananya..biasa pasien
Tahun 2009..dari Mother Care…ada dan keluarganya handak (ingin)
bantuan alat…prioritas untuk desa sorang (sendiri)..diserahkan wadah
yang ada PONED..termasuk Sungkai ulun ja..baiknya kayapa.
ini..iya..di 2011 ada dana paket dari
APBD kabupaten, untuk pengadaan 2. Pelaksanaan Aspek Proses Rujukan
obat-obatan essensial bidan a. Stabilisasi Ibu Hamil Risiko Tinggi
desa...nah..untuk alat..emang ada Stabilisasi ibu hamil risiko tinggi,
diskusi waktu pertemuan rutin IBI..dan
persiapan rujukan dan tindakan
rata-rata bidan dengan keluhan
merebus alat..untuk itu..sudah
penanganan rujukan bidan desa ke
direncanakan..yah namanya rencana puskesmas sebagian besar sudah
usulan...kita belum..pastikan dilaksanakan sekalipun masih ada 2
realisasi..tapi..jika melihat standar bidan yan tidak memahami sepenuhnya
kelayakan dan pelayanan cukup langkah-langkah BAKSOKUDO dan
pemrosesan alat dengan rebus menangani rujukan diluar kewenangan.
alat..dan sesuai jua..ada di APN
Saat kunjungan awal periksa kan kita
c. Pendanaan anamnesa dulu,datanya keina dipakai
Semua informan mengatakan bulang berikutnya asalnya kan
sumber dana yang digunakan oleh riwayatnya dulu..jelekkah baikkah…bila
masyarakat adalah dari Jamkesmas, dari riwayatnya tidak normal..dirujuk
Jamkesprov, Jampersal dan ada mun kayak itu..kada wani..bidan kan
swadana masyarakat. Karena selama pelayanan dan wewenang yang normal
ini yang sudah dilaksanakan adalah ja..
pembagian jasa pelayanan rujukan itu Paling sering kasusnya hipertensi,
jadi satu paket dengan kegiatan KIA, anemia dan letak sungsang,sakit kepala
Jamkesmas dan BOK. Ketersediaan dan keluar air ketuban sebelum waktunya
dan kecukupan dana masih belum partus..ada preklamsi, gemelli dan
mencukupi. Untuk pasien jamkesmas, serotinus.
dana diklaim setelah pasien selesai
masa nifasnya. Dana yang ada Setahu saya istilahnya
dianggap masih kurang untuk baksokudo..waktu kuliah juga
pembiayaan rujukan, apalagi pencairan didapatkan materinya..tahu baksoku
dana nanti akhir tahun. Dana yang ada misalnya siap alat,siap bidan dan siap
tempat rujuk harus memadai.
tidak cukup untuk membeli obat dan
Tergantung jua..bilanya kada
bahan habis pakai. terlalugawat..seadanya ja tensi, lenek
Mun (bila) dana itu kan...dari dan kasa gasan nyuntik..bilanya
jamkesmas..kadada dana khusus diperlukan..selain tuh bawa jua partus
setahu saya..untuk rujukan…kalo set..kalo pina partus dijalan.
pasien lain peserta...diuruskan
jamkesprov..dana lain..dari tabulin
kadada..lagi..mun pasiennya punya b. Pengelolaan Calon Donor
duit..membayari sorang..sampai Darah, Tabulin/Dasolin dan
tuntung perawatannya...Kalo yang Ambulan Desa/ Transportasi
jamkesprov...kan kebijakan Rujukan.
pemkab,..ya sudah berjalan.. pemkab Bidan dalam mengelola
dan pemprov masing- ketersediaan dan kecukupan calon donor
masing..50%..dana ditanggung. darah, tabulin/dasolin dan ambulan
Iya terserah pasiennya desa/transportasi rujukan ibu hamil
saja..cuma kan kita liat kondisinya risiko tinggi mengatakan tidak tersedia
jua..mana yang lebih dekat..biasanya cek golongan darah, tabulin/dasolin dan
kalo dirujuk ke RS swasta..ada
ambulan desa atau transportasi khusus
47
merujuk. Untuk tabulin dan dasolin dan dilaporkan ke dinas atau kepala
pernah ada tapi sekarang tidak berjalan. puskesmas.
Satu informan bidan menambahkan
untuk dana yang ada di desa bukan atas Habis gimana ..mau mendampingi bujur-
nama dasolin tetapi istilahnya dana ini bujur kadang koler jua urusannya di
berupa iuran warga desa setiap bulannya puskes kada maksimal jua
di koordinir oleh masing – masing RT. pemeriksaan..kada disuru pasiennya ke
Biaya untuk transportasi dan dan puskes…salah pulang..duduknya didekat
sopir. ..Pasien yang gawat aja yang ..lun
keperluan lain disiapkan sendiri oleh
dampingi..tapi jarang pang..bu aee, kalo
keluarga ibu hamil yang dirujuk. nya ini tidak gawat ke puskes dulu..pang.
.. Yang jamkesmas nya aja bu saya rujuk
Nama calon donor darahnya...ini ke puskesmas sekalian mengurus
ngambilnya nama saudara dan jamkesmasnya..
orangtuanya saja…golongan darah ibu Ini lun suruh langsung ke puskes ja atau
hamil tidak dicek..golongan darah kawa ke ratu jaleha..parak (dekat) aja
aja..keina (nanti) di rumah sakit di kalo’?...kadada pang..koler (malas)
periksa… mun golongan darah ibu ulun..keina (nanti) lun pulang mengurusi
hamil..melihati KTPnya saat di puskes… Lun ke RS sorang ja bu ae
periksa…mun siapa calon donor darah diantari suami sama mama ulun.. jar
ibunya…diperkirakan saja ngarannya bidan tensi pian naik bu ae, ada pula
ditulisi di stiker…yah orang tua dan bangkak batis pian, kada kawa (tidak
saudara bisa) ditolong di desa alat dan obat
kurang.
Tidak ada kesiapan P4K…mun biaya Kalo kasus udah risiko tinggi sampai
dan dananya..disiapkan sorang..gasan gadar harus didampingi, aturannya kayak
kendaraan.. gitu.., kalo masih riwayat faktor
tabulinnya kada berjalan..adanya risiko..yah ndak, paling konsultasi aja.
semacam dasolin..semua warga ka
nada kumpulannya tiap bulan lima d. Surat Pengantar dan
ribu..bisa dipakai untuk keperluan apa Pencatatan Rujukan
aja..bila ada yang membutuhkan..kalo Lima informan utama bidan
untuk ibu hamil yang mau mengatakan bahwa tidak membuat dan
dirujuk..dikeluarkan ongkos membawa surat pengantar rujukan dan
bensin..selebihnya dibiayai pasien
kelengkapan lampiran / catatan saat ke
sorang.
puskesmas dan rumah sakit swasta.
Untuk transport biasanya pakai Bidan melampirkan lengkap saat ke
kendaraan bidan..yang membonceng RSUD, alasannya bila pasien Jamkesmas
suami pasien ke puskesmas..karna bidan melengkapi laporannya karena
kasusnya mau cek golongan merupakan salah satu syarat untuk klaim
darah…munnya gawat darurat..hanyar dana dari Jamkesmas. Sebagian besar
mencari angkutan umum..ambulan di informan juga mengatakan ke puskesmas
puskesmas ada tapi jauh dan sopirnya tidak pakai surat dan dari puskesmas
rancak kadada baru surat dibuatkan untuk merujuk ke
rumah sakit. Pernyataan untuk rumah
c. Tenaga Kesehatan Pendamping sakit swasta, tidak penting adanya surat
Rujukan observasi, pasien datang langsung
Tenaga kesehatan pendamping ditangani dan yang terpenting ada
rujukan tidak pernah mendampingi jika lembar persetujuan tentang biaya.
hanya dirujuk ke puskesmas atau kondisi
umumnya masih baik dan belum gawat, Yah kalo di swasta kan..kada pang
serta pasien jamkesmas. Sebagian besar ditakuni..yang penting tindakannya ja
informan mengatakan alasan dulu..lawan biayanya..jar pasien
mendampingi pun karena dapat teguran ulun..kada ee tapi juga mahal
48
banar…Ke puskesmas serah terima ketersediaan fasilitas, biaya
ja..dengan petugas..perawat..keina di transportasi, konsultasi dan asuransi
rumah sakit ntar..suratnya digawi..kawa medis atau jaminan kesehatan, kualitas
(bisa) aja to’ nyusul dan keterlibatan masyarakat.
(Zubaidah,2009)
PEMBAHASAN b. Pengelolaan Calon Donor
1. Pelaksanaan Aspek Proses Rujukan Darah, Tabulin/Dasolin dan
a. Stabilisasi Ibu Hamil Risiko Tinggi Ambulan Desa/ Transportasi
Kemampuan mengenal tanda Rujukan.
bahaya dan mempersiapkan langkah Pengelolaan donor darah,
BAKSOKUDO dapat dikaitkan dengan tabulin/dasolin dan
pengetahuan bidan yang sudah lulus ambulan/transportasi merupakan urutan
pendidikan DIII Kebidanan mampu ketiga dari faktor – faktor yang
dalam melakukan anamnesa dan mempengaruhi terlaksananya proses
pengkajian sampai menetapkan rujukan dengan baik. Transportasi
diagnosa nomenklatur dalam asuhan yang menjadi kendala ini sejalan
kebidanan seperti tercantum juga dalam dengan “3 terlambat” yang melatar
Permenkes Nomor belakangi penelitian ini, juga berkaitan
572/Menkes/Per/VI/1996 tentang langsung dengan kendala dana dan
Standar Pelayanan Kebidanan. biaya yang menjadi penghambat pada
Pengetahuan seseorang aspek input sistem rujukan.
memegang peranan penting dalam (Andriani,1998)
bentuk aplikasi dan tindakan nyata Konsep pengelolaan tersebut juga
pada pelayanan. Kemampuan diperkuat oleh kebijakan pemerintah
seseorang dalam pengetahuan belum dalam rangka mempercepat penurunan
tentu bisa menjawab keseluruhan AKI, dimana semakin awal dilakukan
kompetensi yang diharapkan. perencanaan dan persiapan kehamilan
Kompetensi diartikan sebagai maka akan semakin memperkecil risiko
kemampuan individual yang yang muncul sampai ibu hamil
dibutuhkan untuk mengerjakan suatu melewati masa persalinan sampai nifas
tugas/pekerjaan yang dilandasi oleh 3 bahkan perencanaan KB. (Departemen
ranah kompetensi yaitu pengetahuan, Kesehatan,2009)
ketrampilan dan sikap kerja sesuai c. Tenaga Kesehatan Pendamping
unjuk kerja yang dipersyaratkan. Rujukan
(Koesno, 2010),
Pendamping adalah hadirnya orang
Pendapat Koesno, sejalan dengan
konsep Hadijono, dimana stabilisasi pasien yang dianggap penting oleh ibu hamil
yang dilakukan harus tetap didampingi oleh yang dapat memberikan dukungan dan
tenaga medis yang memiliki ketrampilan klinik rasa aman nyaman. Pendamping yaitu
untuk melakukan tindakan dukungan bidan dan suami ibu hamil atau keluarga
kehidupan (life saving skill).
dekat. Pendampingan yang dilakukan
Hal tersebut juga didukung dan bidan juga akan membina keeratan
diperkuat oleh hasil penelitian komunikasi dengan keluarga, sehingga
Zubaidah yang menyatakan bahwa bidan dalam menjelaskan kondisi ibu
keterlibatan masyarakat dalam dan tindakan apa yang akan dilakukan
mengambil keputusan dan terlibat dapat dipahami dan dimengerti oleh
langsung dalam persiapan rujukan akan keluarga. Keluarga sangat diperlukan
mempengaruhi proses rujukan, faktor peran aktifnya dalam pelaksanaan
lain yang dapat mempengaruhi rujukan rujukan. (Departemen Kesehatan, 2009).
meliputi faktor masyarakat yang
Hal ini terkait langsung dengan
berkaitan dengan sistem kesehatan aspek stabilisasi ibu hamil risiko tinggi,
(community factors health system) seperti tercantum dalam Buku Acuan
adalah meliputi jarak ke fasilitas,
49
Asuhan Persalinan Normal (2008) dan b. Sarana Prasarana
Buku Acuan Nasional : Pelayanan Pekerjaan seseorang dalam
Kesehatan Maternal Dan Neonatal menjalankan tugasnya, tingkat kualitas
(2008), dimana dari informasi yang hasilnya sangat ditentukan fasilitas
dapat ditunjukkan bahwa sebelum /sarana dan prasarana. Alat kerja yang
merujuk atau selama dalam perjalanan canggih disertai pedoman dan pelatihan
bidan melakukan pengawasan keadaan penggunaannya secara lengkap dan
umum pasien, pemberian obat – obatan sempurna akan banyak berpengaruh
esensial sesuai kewenangan dan terhadap produktivitas dan kualitas kerja
observasi kontraksi dan DJJ. (JNPKR, yang optimal (Robbin, 2001).
2008). c. Pendanaan
d. Surat Pengantar dan Menurut penelitian direktorat
Pencatatan Rujukan kesehatan dan gizi masyarakat
Surat rujukan adalah dokumentasi (perencanaan dan pembiayaan pelayanan
penting yang harus disertakan karena kesehatan bagi penduduk miskin) bahwa
mencakup riwayat penyakit, penilaian pemberian pelayanan gratis dipuskesmas
kondisi pasien yang dibuat pada saat ada bagi penduduk miskin belum
kasus diterima. Tindakan atau menghilangkan seluruh hambatan
pengobatan telah diberikan, keterangan finansial.
lain yang perlu dan yang ditemukan Dari segi provider banyak bidan
berkaitan dengan kondisi pasien pada mengeluh kekurangan biaya transportasi
saat masih dalam penanganan tenaga untuk melakukan kegiatan pelayanan
kesehatan pengirim rujukan. Buku KIA rujukan karena harus mengujungi rumah
sangat penting untuk mengetahui riwayat pasien yang jaraknya cukup jauh.
dan perkembangan selama masa Anggaran yang dibuat tanpa mengacu
kehamilan. (Saifudin, 2008). pada analisis biaya akan mengalami bias,
dengan akibat ada kemungkinan biaya
2. Ketersediaan Aspek Input yang dianggarkan berbeda dengan
a. Sumber Daya Manusia/Tenaga realisasinya dan hasil yang diharapkan
Kesehatan tidak terwujud seperti direncanakan.
Pencapaian tujuan organisasi Dana sangat penting diperlukan sebagai
diperoleh hasil pelayanan yang efektif syarat kelancaran sebuah program yang
dan efisien yaitu perhitungan jumlah harus dialokasikan secara tepat.
staf, jenis staf yang dibutuhkan, kualitas Demikian juga kelancaran dalam proses
staf yang sesuai. Dan penempatan / penyediaan dan penggunaannya.
distribusi yang merata sesuai kebutuhan
dan beban pekerjaan (the right man in KESIMPULAN
the right place). Dalam arti bahwa 1. Ketersediaan Aspek Input
wadah tempat kerja staf dan beban kerja a. Sumber Daya Manusia/Tenaga
yang lebih akan membutuhkan tenaga Kesehatan
kesehatan yang lebih besar pula. Sumber daya manusia yang ada
(Wijono,2008). di wilayah Puskesmas Sungkai masih
Konsep ini pula didukung oleh terbatas dari segi jumlah tenaga/bidan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik (kuantitas) maupun dari segi
Indonesia Nomor 1464/MENKES keterampilan yang dimiliki oleh
/PER/X/2010 tentang Izin dan petugas kesehatan/bidan (kualitas).
Penyelenggaraan Praktik Bidan pasal 6, b. Sarana Prasarana
bahwa Bidan hanya dapat menjalankan Sarana dan prasarana
praktik dan/atau kerja paling banyak di 1 pelaksanaan rujukan yang berkaitan
(satu) tempat kerja dan 1 (satu) tempat dengan alat – alat dan obat-obatan
praktik. esensial maupun pertolongan pertama

50
pada gawat darurat belum semua 5. Bungin, B., Metode Penelitian Kualitatif
terpenuhi sesuai standar pelayanan (Aktualisasi Metodologis ke arah Ragam
minimal. Varian Kontemporer), PT Raja Grafindo
c. Pendanaan Persada. Jakarta. 2001
Sebagian besar masyarakat 6. Sugiono, Memahami Penelitian
yang dirujuk bergantung pada Kualitatif. Penerbit Alfabeta. Bandung.
pembiayaan pelayanan Jamkesmas, 2009
Jampersal dan pada Jamkesprov bagi 7. Hadijono S. Manajemen dan Rujukan
yang tidak punya kartu peserta Perdarahan Postpartum Dalam Upaya
Jamkesmas. Penggunaan Jamkesmas Penurunan Morbiditas dan Mortalitas
belum merata kesemua penduduk Maternal; Bag.Obsginsos/SMF-Obsgin
miskin. Dari segi provider yaitu bidan RSUP Dr. Kariadi-FK Undip, Semarang.
yang mendapatkan dana operasional 8. JNPKR, Buku Acuan : Asuhan
untuk transport dan dan jasa dari Persalinan Normal : Jakarta, 2008.
pelayanan rujukan masih belum 9. Saifuddin A.B., Buku Acuan Nasional :
mencukupi untuk transportasi dan Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
kebutuhan membeli obat. Sedangkan Neonatal : Penerbit YBP-SP, Jakarta,
dari kecukupan dari pasien yang harus 2008.
disiapkan sendiri dan dipakai saat 10. Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan
rujukan masih dianggap kurang. Selatan. Profil Kesehatan Propinsi
Kalimantan Selatan, Tahun 2009 :
DAFTAR PUSTAKA Banjarmasin, 2010.
1. Andriani N., Evaluasi Pelaksanaan 11. Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar,
Rujukan Ibu Bersalin Di Kabupaten Dati Profil Kesehatan Kabupaten Banjar,
II Purbalingga Tahun 1998, Tesis, Tahun 2009 : Martapura, 2010.
Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, 12. Departemen Kesehatan Republik
UGM, 2009. Indonesia, Pedoman Program
2. Robbin, P., Perilaku Organisasi Jilid 1. Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Penerbit PT Prenhalindo. Jakarta. 2001 Komplikasi dengan Stiker: Jakarta, 2009.
3. Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia, 13. Zubaidah, Evaluasi Rujukan Ibu Bersalin
Bunga Rampai, Editor : PP-IBI, Jakarta, di Rumah Sakit Kabupaten Banjar
2010. Kalimantan Selatan; Tesis Magister
4. Wijono, D., Manajemen Mutu Pelayanan Manajemen Pelayanan Kesehatan
Kesehatan (Teori, Strategi dan Aplikasi), Universitas Gadjah Mada, 2008
Volume 1. Airlangga University Press.
Surabaya. 1991

51