You are on page 1of 30

MENTAWAI MEMBANGUN

MENTAWAI MEMBANGUN

Mentawai belakangan ini cukup menarik bagi
orang-orang dalam dan luar negeri. Lebih setelah Mentawai
menjadi Kabupaten terbungsu di Propinsi Sumbar. Banyak
pelancong ke pulau-pulau tepi barat Sumatra tersebut.
Secara alami, Kepulauan Mentawai seakan-akan
ditempatkan sebagai gugusan pulau penyangga dari
hempasan gelombang laut Samudera Hindia (Samudera
Indonesia) terhadap pantai barat pulau Sumatera. Secara
geografis letaknya menguntungkan sekali. Hempasan ombak
deras tidak langsung menerjang ke pantai pulau Perca
(Sumatera). Dengan demikian pantai barat Sumatera Barat
sedikitnya terselamatkan dari kikisan gelombang Samudera
Indonesia yang ganas. Dengan kata lain, Kepulauan Mentawai
menjadi pagar laut di sebelah barat pantai Sumatera Barat.
Mulai dari Pasaman hingga ke ujung selatan Pesisir Selatan,
mendekati propinsi Bengkulu. Kepulauan ini juga diakui
sangat strategis karena langsung berhadapan dengan kawasan
Afrika Timur, Madagaskar, dan negara-negara Asia Selatan,
seperti Yaman, Srilangka, India dan Myanmar. Begitu pula
dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar.
Mentawai adalah satu gugusan kepulauan yang
membujur dari utara ke selatan, sepanjang pantai barat
Sumatera Barat, -- dari Air Bangis hingga mendekati Bengkulu
-- Suatu gugusan pulau terpanjang di dalam wilayah
Kabupaten Pariaman. Terdiri dari empat pulau besar, Siberut,
Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan, dan di dampingi oleh
hampir 72 pulau-pulau kecil lainnya.
Mentawai yang terbagi kepada empat kecamatan ini
(Siberut Utara, Siberut Selatan, Sipora dan Pagai Utara

H. Mas’oed Abidin 1
MENTAWAI MEMBANGUN
Selatan), mempunyai luas wilayah ± 6.549 km² dengan jumlah
penduduk 63.732 jiwa (1994)1)
Bupati Kabupaten Mentawai hari ini, berkedudukan di
Tupejat (pulau Sipora). Kecamatan-kecamatan tersebut
tersebar dan dipisah oleh selat-selat, dan terletak di gugusan
pulau-pulau Siberut terdapat dua kecamatan, yaitu kecamatan
Siberut Selatan dengan pusatnya di Muara Siberut dan
Kecamatan Siberut Utara berpusat di Muara Sikabaluan.
Pulau Sipora, selain tempat kedudukan kantor Bupati
berada di dalam wilayah Kecamatan Sipora dengan ibu
kecamatannya Sioban. Dan Kepulauan Sikakap menjadi
wilayah kecamatan Pagai Utara – Selatan dengan ibu
kecamatannya Sikakap. Secara topografis dan geografis alam
Mentawai sangat berbeda dengan daerah lainnya, khususnya
di daratan Sumatra.
Daerah seluas lk.6.000 km2 ini, baru terolah sekitar
845,45 km² (1993)2) atau berarti 12,91 %. Daerah yang telah
tersisi diantaranya menjadi program Taman Nasional Siberut
dan proyek-proyek transmigrasi Sipora, dan juga rencana-
rencana perkebunan masa datang.
Satu kenyataan, digugusan ini telah ada gerakan
dakwah yang telah berjalan lebih dari 32 tahun, berkonsentrasi
pada pengembangan dakwah Islam di sana. Sungguhpun
masyarakat sebagian masih menganut paham Arat
Sabulungan yaitu adat istiadat daerah Mentawai. Itu bukan
agama. Sebenarnya masyarakat di sana sudah mengenal
Kekuatan Tunggal yang menciptakan langit dan bumi.
Kepercayaan mereka lebih dekat dengan Islam. Di dalam doa
mereka yang dipimpin oleh sikere (dukun) juga ada di sebut
1 )
Padang Pariaman Dalam Angka, berbagai edisi.
2 )
Sumatera Barat dan Padang Pariaman Dalam Angka, 1994
2 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
namaTuhan (Allah) yang mereka kenal dengan Teika Manua
(Tuhan Yang Tunggal)
Masyarakat Mentawai sudah melakukan hubungan
dengan luar pulau (Sumatra Barat) sejak ratusan tahun lalu
(1621) dengan Tiku di bawah kerajaan Aceh yang telah
memeluk agama Islam. Orang Mentawai bukanlah orang yang
benci terhadap pendatang atau penyebar agama, walaupun
mereka sudah menganut sebuah kebiasaan nenek moyang
yang dikenal dengan arat sabulungan (belum berupa agama,
karena tidak ada aturan-aturan peribadatan).

POTENSI BESAR
Mentawai memiliki sumber daya potensial (nabati dan
botani) dan dapat dijadikan salah satu modal dasar untuk
pembangunan daerah dan masyarakat secara keseluruhan.
Menjadi pertanyaan, adakah segenap potensi
Mentawai selama ini telah digarap secara maksimal, baik
terhadap peningkatan kualitas maupun kesejahteraan
masyarakat di sektor pendidikan, ekonomi maupun
kebudayaan? Apalagi kondisi geografis yang berbentuk
kepulauan, menjadi halangan untuk menjalin komunikasi dan
transportasi bagi pelaksanaan pembangunan, maupun bagi
upaya pengembangan dan peningakatan kesejahteraan
masyarakat Mentawai.
Sangat perlu diamati adalah bagaimana alam dan
manusia di Mentawai saling mempengaruhi satu sama lain,
yang terimplementasi dalam pola kehidupan sehari-hari
mereka, misalnya terlihat, dari pola mata pencaharian utama
penduduk setempat, yang mayoritas nelayan atau petani.
Sulit dijumpai penduduk asli yang mencari nafkah melalui
dagang atau wiraswasta.

H. Mas’oed Abidin 3
MENTAWAI MEMBANGUN
Mentawai sesungguhnya amatlah potensial.
Alam dan hutannya kaya, jumlah penduduknya cukup
banyak terutama pemuda yang berada di usia produktif. Akan
tetapi tingkat pendidikan masyarakat setempat masih rendah.
Maka, tanpa disadari, banyak masyarakat di luar cenderung
menganggap rendah atau melecehkan Mentawai.
Arah terpenting pengembangan sumber daya
Mentawai saat ini adalah, kemampuan mengelola sumber
daya alam, serta kemampuan mengembangkan lokomotif
ekonomi Mentawai.

SDM LOKOMOTIF MEMBANGUN MENTAWAI
Sumber Daya Manusia yang ada di daerah Mentawai
dirasakan masih terbelakang. Masih belum menunjang
aktivitas ekonomi dan pembangunan --- baik jumlah maupun
kemampuan -- kuantitas maupun kualitas.
Masalah pokok pembangunan Mentawai adalah
membangun masyarakat Mentawai, melalui pencerdasan dan
peningkatan kehidupan (ekonomi). Untuk mencerdaskan
penduduk Mentawai melalui pendidikan, dan keterampilan
diminati dalam bentuk belajar dari perbuatan (learning by
doing).
Sumber daya manusia (SDM) Mentawai mesti
dikembangkan menjadi SDM yang mampu mengembangkan
peluang ekonomi di Mentawai.
Peluang-peluang ini sebenarnya sangat banyak. Potensi
laut juga merupakan peluang ekonomi yang belum tergarap
secara sungguh-sungguh. Sejak beberapa dasawarsa belakang
ini masyarakat pedalaman sudah mulai akrab dengan laut.

4 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
Tetapi belum mengarah kepada penggalian potensi ekonomi
secara intensif. Sebenarnya potensi Mentawai Resourses dapat
digunakan menjadi tulang punggung perekonomian rakyat.
Keadaan kehidupan masyarakat Mentawai masih
tradisional. Tingkat pendidikan masih rendah. Kemampuan
ekonomi yang kurang mendukung, sangat memberati
kesanggupan penduduk menyekolahkan anak-anaknya keluar
daerah sangat terbatas.
Permasalahan sekitar sumber daya manusia, adalah
pada rancangan sistem pendidikan yang kurang memberi
peluang terhadap pengembangan kemampuan serta
intelektualitas murid dididik semenjak di Sekolah Dasar.
Pendidikan dilaksanakan hanya sebagai pemenuhan
program kurikulum pusat. Bukan pada pemenuhan
kebutuhan anak- anak di Mentawai. Secara psikologis, sosial
dan budaya, mereka berbeda dengan anak-anak di tempat lain
di luar Mentawai. Tanpa disadari, secara mental keadaan ini
memberi dampak yang kurang menguntungkan bagi
anak-anak.
Secara kuantitas, jumlah pemuda berusia produktif di
kepulauan Mentawai merupakan potensi tersendiri bagi
pemberdayaan masyarakat Mentawai secara umum.
Namun karena pola pendidikan dasar yang diberikan
belum sesuai dengan kondisi sosial budaya anak-anak
Mentawai, potensi itu akhirnya belum termanfaatkan secara
maksimal, terkecuali anak-anak yang lahir dari orang tua
campuran (sasareu), lebih berkesempatan untuk dapat
melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih baik kualitas
maupun fasilitasnya, seperti yang ada di Padang.
Maka untuk meningkatkan mutu Sumber Daya
Manusia di Mentawai amat diperlukan latihan menambah

H. Mas’oed Abidin 5
MENTAWAI MEMBANGUN
wawasan dan intelektualitas, karena generasi muda Mentawai
mesti dilatih memimpin diri dan masyarakatnya disetiap
sektor. Beranjak dari kenyataan tersebut, terlalu dangkal
kiranya jika Mentawai masih dipandang sebagai kawasan
terisolir yang tertinggal dan penuh kekurangan. Terbatasnya
informasi tentang Mentawai, tidak jarang telah menimbulkan
kesalahpahaman memandang wilayah kepulauan di kawasan
pantai barat Sumatra ini. Perhatian terhadap Mentawai tidak
boleh menjadi pekerjaan sepihak melibatkan bagian kecil
masyarakat dan dilaksanakan tidak terus menerus, sebagai
terjadi selama ini, apabila muncul berita sensasional, barulah
ramai-ramai berpaling ke daerah kepulauan yang spesifik ini.
Salah satu upaya mendesak dalam memajukan
Mentawai adalah melalui peningkatan pengetahuan,
keterampilan penduduk secara merata, dan meningkatkan
taraf perekonomian mereka.
Penduduk yang hidup secara tradisional alami masih
tergantung kepada pemanfaatan hasil alam yang tersedia
tanpa ada upaya pengolahannya --sagu, keladi, rotan untuk di
jual, buah-buahan, maupun hasil ikan, sebatas konsumtif
belaka --. Kehidupan penduduk masih di sebut pasif-kurang
memandang kedepan. Perkembangan atau pertumbuhan
penduduk pada satu daerah sangat di pengaruhi oleh aktivitas
ekonomi mereka, dan oleh hasil yang ada di sekeliling mereka.
Sumber Daya Manusia Mentawai perlu digerakkan
menjadi lokomotif perekonomian Mentawai. Dimulai dari
penggarapan usaha-usaha yang akrab dengan kehidupan
masyarakat Mentawai sendiri. Masyarakat Mentawai
memerlukan pemimpin-pemimpin teladan untuk diikuti oleh
mereka. Diperlukan pelopor-pelopor pembangunan
Mentawai, yakni orang-orang yang teruji tekad dan keinginan

6 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
luhurnya dalam membangun Mentawai. Orang-orang
Mentawai sangat perlu dibawa serta dalam setiap proses
pembangunan daerahnya, sebagai mitra usaha.
Harus dikembangkan "membangun orang Mentawai
yang akan membangun diri dan daerahnya". Untuk itu mitra
yang akan membimbing sangat diutamakan.

SUMBER DAYA ALAM MENTAWAI ANUGERAH ALLAH
Sebenarnya potensi alam Mentawai sangat tersedia
untuk di kembangkan dalam arti luas. Apalagi bila dapat
dikaitkan dengan program transmigrasi dan Perkebunan
Rakyat. Transmigrasi akan menyediakan sumber daya
manusia yang trampil, sejalan dengan itu juga merupakan
pendorong kepada kemajuan daerah/wilayah. Masyarakat
Mentawai bisa meniru kemajuan yang dibawa para
transmigran.
Keindahan alam Mentawai dengan -- pantai berpasir
putih, taman laut, karang terumbu, gelombang laut yang
tinggi, musim laut yang menantang -- semuanya bisa jadi daya
pemikat untuk dikembangkan memacu pertumbuhan
pariwisata.
Beberapa produk unggulan di daerah-daerah
kepulauan Mentawai dapat diklasifikasi secara rinci dan
terprogram. Umpamanya Siberut dengan komoditi
perkebunan serta objek-objek wisata. Sipora sebagai daerah
transmigrasi dan peternakan. Pagai Utara Selatan sebagai budi
daya ikan laut, serta potensi kehutanan (hasil-hasil kayu).
Seluruh kecamatan di Mentawai berpotensi sebagai
penghasil ikan laut yang punya harapan besar untuk
pengembangan ekonomi rakyat. Industri kecil sebagai hasil
hutan -- rotan, manau, kayu dan hasil kelapa -- minyak,
H. Mas’oed Abidin 7
MENTAWAI MEMBANGUN
bungkil -- atau hasil laut -- karang, kerajinan lokan --,
semuanya berpotensi untuk di tingkatkan sebagai sumber
penghasilan yang bisa memacu peningkatan ekonomi rakyat
di Mentawai.
Pemanfaatan sumber daya alam Mentawai semestinya
berorientasi kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat
setempat. Seperti budi daya tanaman obat, dengan meneliti
bahan obat-obatan tradisionil yang dikandung oleh hutan dan
alam Mentawai, setidak-tidaknya memiliki sekitar 40 macam
tanaman obat-obatan yang bermanfaat. Upaya peningkatan
ekonomi rakyat melalui usaha industri rumah tangga, dengan
pemanfaatan teknologi tepatguna melalui pengolahan pisang
dari kebun masyarakat, diolah menjadi makanan ringan yang
dapat dipasarkan ke luar kepuluan Mentawai.
Upaya yang mendesak adalah satu gerak yang
berencana dan berkesinambungan (sustainable) dengan tujuan
pasti meningkatkan kesejahteraan hidup penduduk.
Upaya ini tidak hanya terbatas kepada pemenuhan
kebutuhan materi belaka -- mutu maupun jumlah -- tetapi juga
kepada peningkatan kemampuan pemenuhan kebutuhan
aspirasi penduduk untuk siap menghadapi tantangan-
tantangan hidup yang semakin berat dan bermacam ragam.
Pembangunan yang bertitik tolak kepada manusia
sebagai individu secara bersamaan juga kepada wawasan
budaya. Maknanya adalah bahwa manusia tidak hanya dilihat
dari kemampuan jasmaninya -- naluri dan ilmu/keterampilan
-- tetapi juga kepada kebudayaan yang mendukung -- sebagai
pedoman dalam menyesuaikan diri secara aktif dan arif
dengan lingkungan --.
Disini peran krusial dari pembangunan sumber daya
manusia di Kepulauan Mentawai menjadi sesuatu yang
8 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
utama. Melalui pendidikan formal dan non formal. Usaha
intensif kearah peningkatan derajat kesehatan, gizi
masyarakat, penyuluhan, bimbingan keterampilan yang
langsung menyentuh perilaku ekonomi masyarakat kexulauan
ini menjadi inti program.
Keterisolasian masyarakat Mentawai selama ini telah
membuat sebahagian besar masyarakat asli merasa asing
bahkan curiga terhadap program-program pembangunan
yang berlangsung. Hal itu banyak disebabkan oleh kurang
adanya rasa kemitraan.
Membangun tidak berarti hanya memanfaatkan peran
masyarakat dengan pengerahan massa dalam
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang tidak mereka
pahami maksud dan sasarannya. Tetapi adalah menumbuhkan
kesadaran bahwa yang mereka lakukan itu benar-benar sesuai
dengan yang mereka hajatkan.

MEMBANGUN MENTAWAI ADALAH MEMBANGUN SUMBAR
Mentawai adalah bagian dari propinsi Sumatera Barat,
ternyata tidak banyak dipengaruhi oleh alam budaya
Minangkabau. Namun asimilasi kebudayaan tetap
berlangsung secara lamban. Hukum adat yang berlaku di
Mentawai banyak seiring dengan norma dan etika yang ada
dalam ajaran Islam. Dalam beberapa hal Mentawai memang
sangat tradisional, sehingga kenyataan yang terlihat
"Mentawai identik dengan upacara-upacara adat yang kuno
itu" seperti cawat atau kabit sebagai pakaian penduduknya,
serta keunikan yang terlihat dalam masyarakatnya.
Satu hal yang mesti diwaspadai adalah Mentawai
bukannya suku bangsa yang tidak punya adat dan norma

H. Mas’oed Abidin 9
MENTAWAI MEMBANGUN
yang berlaku di masyarakat. Lebih dari itu Mentawai
menganut etika yang sangat fanatik.
Bila kita simak, Mentawai benar-benar diatur oleh nilai
dan etika yang secara langsung, dijunjung tinggi dalam ajaran
Islam. Hal ini terbukti dengan pengakuan Pak Hamzah (50)
Kepala Suku Taileleu yang bernaung dibawah desa Pasakiat
(lk, 75 kilometer dari Muara Siberut) bahwa Islam sudah
dikenal penduduk sejak awal kemerdekaan, tapi karena
pembinaan dan pendidikan Islam rendah, maka kami dibina
oleh orang yang non Muslim. Dengan demikian "Adat basandi
syara', Syara' Basandi Kitabullah yang berlaku umum di seluruh
Minangkabau, telah terasa ada pengaruhnya didalam tata laku
kehidupan masyarakat Mentawai.
Meskipun banyak penulis yang mengemukakan
kekunoan Mentawai, namun perlu untuk diungkapkan sisi
positif yang ditonjolkan oleh suku Mentawai yang meliputi
sikap masyarakatnya, nilai dan etika. Keunikan serta
komunikasi Mentawai telah memperlihatkan betapa dalam
keterasingan dan keterpencilan suku Mentawai tetap
mempunyai aturan dalam kehidupan bermasyarakat, yang
sampai saat ini tetap berlaku. Antara lain adalah sebagai
berikut:
• Sikap suka gotong royong, mengenal adanya muhrim, dan
terdapatnya hukuman berat terhadap pezina.
Masyarakat Mentawai memang tidak mengenal apa yang
disebut zina, karena hukuman yang berlaku keras terhadap
pezina. Mentawai berprinsip orang yang melakukan
perzinaan hukumanyang pantas adalah bunuh sampai mati
atau diusir dari kampung halaman 3)

3 )
Karena pengaruh zaman dan juga ajaran penghapusan dosa dalam
gerakan misionaris pandangan terhadap perzinaan di Mentawai sekarang
10 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
• Sikap harga menghargai dan berkeadilan sangat menonjol.
Orang yang tidak tahu menghargai orang lain, tidak
mustahil menjadi mangsa hukum. Penduduk tidak boleh
berbuat seenak perut. Semua urusan mesti diselesaikan
menurut jalur dan norma yang berlaku. Keadilan
masyarakat Mentawai berlaku dengan ketat. "Ada sama di
makan, tidak ada sama ditahan, demikian konsekuensi
hidup bermasyarakat di Mentawai.
Seorang yang mendapat rusa buruan di hutan, akan
memukul pentungan sebagai pemberitahuan kepada
seluruh masyarakat sesuku dengannya untuk dibagi dan
dinikmati bersama. Kehidupan keluarga juga tidak luput
menegakkan aturan ini.
• Masyarakat Mentawai jujur dan pantang didustai.
Hal lain yang mesti dijaga dengan Mentawai supaya
mereka jangan didustai. Sekali mereka “kena” mereka tidak
akan percaya seumur hidup.
• Orang Mentawaipun mengenal aurat dan berbudaya malu.
Banyak orang mengenal Mentawai menurut cara
berpakaiannya kabit, yakni menutup tubuh sekedarnya
dengan kulit kayu. Bagi wanita memakai jenis rok yang
terbuat dari kulit kayu dan pelepah pisang kering, (ini
cerita masa dahulu). Tetapi mesti disadari bahwa memakai
pakaian seperti ini bukanlah menjadi adat di Mentawai.
Keadaan alam yang memaksa serta keterbelakangan
menyebabkan mereka hanya memakai pakaian seperlunya

mulai melemah. Hukuman yang banyak diterapkan adalah denda ( =
tullo, bahasa Mentawai berarti denda yang dibayar dengan harta seperti
Parang, Peralatan-peralatan Adat, babi, bahkan Peralatan Rumah
Tangga). Pengambilan denda ini bisa sampai harta kekayaan habis,
akhirnya pelaku zina terpaksa juga meninggalkan kampung halaman
karena sudah melarat ditambah malu
H. Mas’oed Abidin 11
MENTAWAI MEMBANGUN
saja. Masyarakat pulau ini tidak ada yang tidak mengerti
mana auratnya.
Wanita memakai rok sepuluh centimeter dibawah lutut,
menutup dada dengan menyilangkan pelepah dari tengkuk
diikatkan ke perut. Tradisi berpakaian seperti ini jarang
ditemui di seluruh suku primitif manapun di dunia.
Denda dan hukuman akan siap mendera bagi laki-laki yang
menyia-nyiakan auratnya terlihat oleh orang lain. Seperti
yang diceritakan tokoh masyarakat Mentawai menyatakan
bahwa dari cawat itu tidak boleh terlihat keluar sehelai
bulupun.
Bila ini terjadi hukumannya pastilah berat 4)
• Komunikasi di Mentawai seakan seiring dengan teknologi
maju.
Bahasa yang berlaku di Mentawai dipergunakan
masyarakat secara universal. Tatto selain berperan sebagai
aktualisasi karya seni asli Mentawai, juga berperan sebagai
komunikasi langsung.
Dari tatto dapat diketahui tentang perihal diri
pemakaiannya. Bangsawan atau rakyat biasa, suku si
pemakainya, usia serta jumlah anik dan keluarga. Bahkan
dari tatto dapat diketahui prestasi seseorang, misalnya
berapa ekor binatang buruannya yang berhasil
dibunuhnya.

4 )
Pada masa sekarang para Pelancong berkulit putih yang datang ke
Mentawai tidak jarang juga memakai tato sangat sering melakukan
mandi telanjang tanpa menutupi aurat sama sekali seperti yang lazim
berlaku di daerah asal mereka yang sudah maju. Kejadian seperti ini
sangat kontras dengan kehidupan masyarakat Mentawai.
12 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
Komunikasi berbentuk isyarat telah diterima secara turun
temurun mendahului kemajuan teknologi komunikasi
modern.
Bahkan setiap anak kecil di Mentawai mengerti isyarat
berita yang di sampaikan melalui pukulan kentongan ini.5)
Suku Mentawai tidak mengenal siapa yang kuat, ia yang
berkuasa. Tidak dikenal adanya dispensasi hukuman
kepada penguasa dan orang berpengaruh bila ia terbukti
bersalah. Hukum tetap berlaku bagi semua anggota suku.
Seorang kerei (= dukun) misalnya, yang terbukti melakukan
penganiayaan dengan kekuatan batin akan segera diusir
dari negeri itu dan tidak boleh kembali lagi. Sebelum
berangkat, terdakwa dibekali sampan dan bekal makanan
untuk beberapa hari.
• Masyarakat Mentawai masih hidup dalam kesatuan-
kesatuan sosial yang terasing dari sistem budaya yang
lebih luas.
Mereka harus diperkenalkan bagaimana besarnya arti satu
pengorbanan dalam pembangunan yang punya kaitan luas
dalam satu kesatuan nasional. Karenanya mereka harus
diikut sertakan secara aktif dalam setiap proses
pembangunan.

5 )
Kentongan yang dipukul ini biasanya bernama TUDUK-KAT suatu
bentuk teknologi sederhana dalam berkomunikasi semacam isyarat
morse yang diketuk melalui ketontong yang terbuat dari kayu dan
tersedia di setiap rumah. Apapun peristiwa yang terjadi seperti kematian,
kelahiran, bahaya, dapat buruan diinformasikan melalui ketukan
ketontong tersebut. Apa pun yang terjadi di tengah suku akan di ketahui
oleh suku yang lain. Menurut cerita perantau Padang (Sasareu menurut
istilah Mentawai) isyarat morse Mentawai ini sangat efektif untuk
menyebarkan informasi di seluruh pedalam kepulauan Mentawai. Jarang
penduduk yang tidak mengerti akan tetapi susah dipelajari oleh orang
lain (Pendatang)
H. Mas’oed Abidin 13
MENTAWAI MEMBANGUN
Pendekatan kebudayaan seharusnya lebih diutamakan
dari pada pendekatan kehendak. Penduduk Mentawai
bukanlah orang yang terbelakang, melainkan masyarakat yang
beradab. Sejak 1621 mereka telah berhubungan dengan orang
tanah tepi (pantai barat Sumatra), khususnya orang Tiku.
Penduduk pulau Mentawai ketika itu belum paham dengan
bahasa orang Tiku, begitu juga sebaliknya.6
Selintas, hubungan ini adalah hubungan kekerabatan
dan saling memenuhi kebutuhan, seperti hubungan ekonomi
atau transaksi di pasar. Bila dilihat daerah-daerah pantai
Mentawai sebelah timur, yang berhadapan langsung dengan
tanah tepi, banyak ditemui desa atau dusun dengan nama
Pasa atau Pasar. Diantaranya ada yang bernama Pasakiat atau
Pasar, juga Pasapuat atau Pasar Besar. Di tempat ini
dilakukan jual beli dengan bahasa isyarat.
Secara teoritis dapat dipahami bahwa hubungan
kekerabatan atau persaudaraan antara orang Mentawai dan
penduduk pulau Sumatra terjalin sangat akrab.
Di kampung-kampung pedalaman sekalipun, di depan
rumah (Uma) selalu tergantung kuali besar. Dari penelitian,
tidak ditemukan satu kebudayaan yang menghasilkan
kerajinan logam. Tidak ada pandai besi. Padahal tidak seor-
angpun orang Mentawai yang tidak memiliki parang panjang.
Darimana mereka peroleh kalau bukan melalui hubungan jual
beli?
Catatan sejarah tidak pernah membuktikan terjadinya
perang atau perkelahian besar antara penduduk Mentawai
dengan pendatang dari tanah tepi. Ini membuktikan bahwa
hubungan Mentawai dengan pantai barat Sumatra adalah

6
Coronese, Stefano ; 'Kebudayaan Mentawai', (1988:31)
14 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
hubungan kekerabatan, bukan hubungan penguasaan..7
Mentawai dan tanah tepi bukan sesuatu yang baru.
Hanya sebagian besar 'orang tanah tepi' baru terbuka matanya.
Mentawai sebenarnya tidak 'tertinggal', kita yang tertinggal
memahaminya.
Sudah selayaknya membangun jiwa Masyarakat
Mentawai lebih didahulukan.
Pembangunan Kabupaten Mentawai ini jangan hanya
bertumpu kepada membangun raga-fisik semata. Bahaya besar
akan muncul. Dikala pembangunan fisik selesai, dan
masyarakat Mentawai belum disiapkan, maka akan ditemui
sedikit sekali kepedulian masyarakat Mentawai untuk
menjaga dan memelihara bangunan yang telah menghabiskan
dana daerah (yang bersumber dari dana perimbangan dan
pajak masyarakat) yang jumlahnya tidak kecil.

MEMBANGUN DI DAERAH KEPULAUAN
Pada dasarnya percepatan pembangunan pulau-pulau
kecil tidak dapat dipisahkan dari potensi kekayaan baharinya.
Mengangkat potensi sumber daya kelautan, bidang perikanan,
wisata bahari, transportasi laut, bidang lingkungan hidup dan
wilayah pesisir. Terutama di Kepulauan Mentawai.
Daerah kepulauan ini sudah dikenal masyarakat dunia
karena kekayaan sosial budaya serta lingkungan hidupnya.

7
Misionaris pertama masuk ke Mentawai tahun 1901. Dipimpin August
Lett, seorang pendeta dari Jerman (Zending Protestan). Akan tetapi nasib
jualah yang menyebabkan August Lett, harus mati dibunuh penduduk
Mentawai, setelah delapan tahun ia di sana (1908). Kematian August Lett
bukan karena mengembangkan agama Protestan, tetapi karena menjadi
penghubung tentara kompeni Hindia Belanda (lihat juga tulisan Stefano
Coronese).
H. Mas’oed Abidin 15
MENTAWAI MEMBANGUN
Konsekwensi dari membangun kepulauan yang terpencil
namun terkenal di dunia ini, pembangunannya harus
dilaksanakan dengan hati-hati.
Dalam membangun kepulauan Mentawai yang
terpisah sangat jauh dari induk daratan Sumbar (tanah tepi),
apalagi setelah menjadi satu Kabupaten baru yang notabene
ketiadaan sarana di semua sektor. Selain mesti dilaksanakan
dengan hati-hati juga mesti bertahap dalam batas kondisi dan
kemampuan yang ada. Tidak perlu disamaratakan dengan
pembangunan yang dilaksanakan di wilayah lain.
Kondisi geografisnya memiliki karakteristik tersendiri.
Gugusan Kepulauan Mentawai mewakili gugusan puluhan
pulau kecil dan strategis. Pembangunan dan pengembangan
wilayah bahari menjadi titik tumpu pembangunannya.
Pembangunan Pulau-pulau kecil, terpencil dan
strategis di Indonesia perlu memperhatikan aneka ragam
Sumber Daya Hayatinya. Hal tersebut dimaksudkan adalah
demi terpeliharanya lingkungan hidup dan sosial budaya.
Sangat mesti dijaga agar tidak terjadi tumpang tindih
alokasi dana pembangunan. Pengelolaan tanah dan tata
ruang/wilayah yang serasi termasuk adanya hak ulayat
sebagai kepemilikan kepala suku atau sibakat laggai.
Pembangunan pulau-pulau di Mentawai mesti
diarahkan untuk meningkatkan potensi kelautan dan wilayah
yang dikenal dengan "Agromarine" dan "Aquamarine".
Yaitu memanfaatkan pulau-pulau kecil dengan usaha
yang berkaitan dengan laut dan wilayah pulaunya dikelola
melalui instensifikasi lahan pertanian dan perkebunan.
Sementara itu dilain pihak, perlu diusahakan pember-
dayaan masyarakat setempat yang umumnya nelayan
16 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
tradisional di tepi pantai untuk mampu mengenali teknologi
laut yang lebih maju (canggih) dan berusaha belajar dari
pendatang mengenai berbagai aspek kehidupan seperti
menjadi nelayan lepas pantai. Hal ini mengingat Kepulauan
Mentawai adalah bibir dari ZEE yang terbentang luas
mengarah kebarat di Lautan Indonesia.
Kepulauan Mentawai merupakan gugusan
pulau-pulau yang khas baik ekosistem maupun kependudu-
kannya. Terkenal memiliki sosial budaya dan lingkungan
hidup berupa biosfir dunia. Maka Pulau Siberut menyimpan
pula sumber potensi pariwisata yang kaya untuk
dikembangkan.
Karena itu, pembangunan pulau-pulau Mentawai yang
amat strategis adalah pembangunan kepulauan ini menjadi
kawasan pulau terpadu dan saling menunjang. Bukan dalam
bentuk pembangunan persaingan. Pada dasarnya
pembangunan pulau Mentawai mesti menempati agenda
utama pembangunan daerah.
Tak dipungkiri, bahwa keberhasilan pembangunan di
kepulauan Mentawai ini (yang notabene menjadi perhatian
masyarakat di dalam dan di luar negeri), semestinya
menempatkan kepentingan masyarakat Mentawai pada tempat
teratas. Terutama hak untuk mendapatkan kehidupan yang
lebih baik. Satu masyarakat yang lama terasing akan menjadi
semakin terasing kalau semakin dijauhkan dari sentuhan
pembangunan.
Amat tidak bijaksana, jika tetap membiarkan kelompok
masyarakat tertentu di Mentawai ini, kalau mau makan harus
berburu terlebih dahulu dan mengambil ubi di hutan, padahal
kebiasaan seperti itu di manapun sudah lama tidak ada. Peran
pemerintah daerah di Mentawai mesti berupaya membuat
masyarakat Mentawai lebih maju dan sejahtera melalui sistem

H. Mas’oed Abidin 17
MENTAWAI MEMBANGUN
pertanian modern yang berorientasi agrobisnis dan
agroindustri.
Menyukseskan pembangunan di kepulauan Mentawai
sangat memerlukan perhatian semua pihak. Baik itu dari
kalangan perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga
dakwah agama, dan Pemda Provinsi Sumbar.

KEKURANGAN TRANSPORTASI JADI MASALAH UTAMA
Permasalahan mendasar yang perlu menjadi perhatian
utama dan berdampak kepada gerak laju dan lambannya
langkah pembangunan (fisik dan non fisik) di kepulauan ini,
dan masih ada hambatan hingga sekarang, antara lain ;
(1) Jauhnya jarak antara tanah tepi dengan kepulauan ini, dan
belum memadainya alat transportasi -- tidak akan ada setiap
waktu di kehendaki
(2) Lingkungan alam dengan flora dan fauna yang berbeda,
menjadikan wilayah ini dan menarik minat semua pihak
eksklusif.
(3) Adaptasi terhadap lingkungan sangat berpengaruh terhadap
mental basic sebagai masyarakat yang berpindah-pindah.
(4) Barang-barang keperluan sehari-hari memang tidak
semuanya bisa dihasilkan sendiri, karenanya perlu ada
pasar-pasar penukaran kebutuhan, yang sering didominasi
oleh para pendatang.
(5) Penduduknya masih hidup dalam kelompok kecil yang
terisolir dalam keterbatasan komunikasi.

18 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
Dalam hal pemukiman dan kiat pemenuhan kebutuhan
sangat tergantung kepada kemurahan alam yang telah
menyediakan kebutuhan sehari-hari. Hal ini berdampak jauh
kepada kesehatan masyarakat secara umum. Setiap musim
buah-buahan sering ditemui masyarakat dijangkiti penyakit
kolera/disentri, juga karena keterbatasan sarana dan petugas
kesehatan serta kebiasaan penduduk kepada pedukunan
sikerei, sebagai aspek sosial budaya.
Kondisi ini membawa kesulitan bagi program
pemindahan penduduk kelokasi pemukiman yang telah
disediakan (PKMT) 8) oleh pemerintah. Kalaupun ada hasil
yang diperdapat oleh pertanian sederhana, maka hasil tersebut
umumnya dinikmati oleh keluarga, sanak sekampung bahkan
hasil tersebut terikat kepada produksi sosial.
Tidaklah mengherankan, bila wilayah pemukiman
turun temurun masih, tetap akan dipertahankan, karena
padanya melekat tradisi pengolahan lahan, pengambilan hasil,
dan pengamanan sumber-sumber daya alam sebagai satu
wilayah kesukuan maupun wilayah Sibakatlaggai yang telah
diikuti sejak lama.
Memindahkan masyarakat Mentawai ke daerah yang
lebih baik menurut tatanan modern, menjadi lebih sulit.
Setidak-tidaknya membawa masalah. Kesadaran wilayah pada
masyarakat Mentawai sangat tinggi, dan mempengaruhi
mekanisme gerak mereka.
Penerapan teknologi modern tanpa kesiapan mental
dan pranata sosial yang mendukung akan dapat

8 )
PKMT = Pemukiman Kembali Masyarakat suku Terasing yang
dilaksanakan oleh Depsos, Banyak ditinggalkan oleh penduduk. Contoh
Puro I, II di Siberut. Beda halnya di Sipora perkampungan dibuat sendiri
oleh masyarakat
H. Mas’oed Abidin 19
MENTAWAI MEMBANGUN
memperlemah kesetiaan penduduk terhadap tradisi
pengolahan sumber daya.
Sebagaimana lazimnya juga pada daerah lain di
Indonesia, maka pengenalan batas-batas lingkungan kerabat,
wilayah, dan tatanan sosial, akan berdampak luas bagi
mekanisme pengembangan diri, dan generasi berikutnya.
Disini mereka mengembangkan aturan-aturan yang telah
disepakati tentang yang boleh dan yang tidak, sebagai suatu
kesepakatan sosial.
Karena itu, pengembangan pemukiman wilayah
penduduk Mentawai seyogyanya di lakukan dengan
memperhatikan pola - pola adaptasi sosial penduduk
setempat.
Program transmigrasi merupakan langkah yang logis
dalam memberdayakan potensi Kepulauan Mentawai. Pro-
gram ini selain mendongkrak jumlah penduduk yang
berhubungan dengan produktifitas, juga menjembatani
penularan peradaban yang lebih moderen.
Penduduk Mentawai -- teristimewa di Sipora -- telah
menyediakan dan menyerahkan lahan ulayat mereka untuk
mensukseskan program transmigrasi. Akan tetapi dalam
pelaksanaannya banyak yang tidak dimanfaatkan secara
sungguh-sungguh. Umpamanya Tuapejat, banyak para
transmigrasi yang kemudian meninggalkan daerah
transmigrasi setelah habisnya masa pengawasan UPT-UPT.
Tidak ada lagi bantuan untuk para transmigran berupa biaya
hidup dari pemerintah.
Diantara kendala adalah tidak memadainya
sarana/prasarana transportasi. Jalan raya sebagai urat nadi
perkembangan ekonomi belum ada. Barulah pada tahun 1994,

20 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
dimulai perencanaan pembuatan jalan raya dari Sioban ke
Rokot, dan akan dilanjutkan ke Tuapejat.
Permasalah utama di bidang transportasi dalam
menghubungkan kepulauan ini antar pulau dikawasannya
dan dengan pulau-pulau besar lain di sekitarnya (daratan
Sumbar, Nias, Enggano dan Bengkulu di belahan timur
kepulauan dan bahkan dengan Thailand, India dan Timur
Tengah di belahan baratnya ).
Kurangnya sosialisasi dalam penyiapan lahan lokasi
tidak seiring dengan kesiapan watak masyarakat pendatang
dan penerima, tidak dapat tidak, program baik ini menyajikan
kendala besar dalam pelaksanaan.
Tidak jarang terjadi, berpotensi ibarat duri dalam daging
bagi pendatang dan penduduk asli. Pembangunan pada
dasarnya juga membangun peradaban. Demikian pula untuk
membangun pulau-pulau di Mentawai. Masyarakat Mentawai
mesti disiapkan untuk tidak perlu khawatir dengan
perubahan. Peradaban itu besifat dinamis dan berubah. Dan,
yang merubah itu adalah manusia Mentawai itu sendiri,
dengan fasilitasi dari daerah kelilingnya, terutama daerah
tanah tepi, daratan Sumatra Barat. Apabila pembangunan
kepulauan ini berjalan sendiri-sendiri, seperti juga di dalam
pelaksanaan program transmigrasi di wilayah Kepulauan
Mentawai, niscaya sajiannya tergolong rumit.

JANGAN DILUPAKAN KEKUATAN BUDAYA MENTAWAI.
Orang Mentawai bangun pukul 03.00 dini hari,
melaksanakan rencana kerja untuk hari itu.
Meski mereka pergi ke hutan dan ladang hanya untuk
mengembala babi atau ayam.

H. Mas’oed Abidin 21
MENTAWAI MEMBANGUN
Orang Mentawai mempunyai puncak kebudayaan,
berisi sepuluh ajaran, yang kalau diteliti sangat dekat dengan
Islam.
Pertama adalah orang Mentawai percaya kepada
Kekuasaan Tunggal yang menciptakan langit dan bumi. Ini
dikenal dengan Teikamanua. Mereka telah mengenal Maha Esa.
Kedua, Adil. Orang Mentawai kalau membagi sesuatu
harus sama banyak. Tidak berat sebelah.
Ketiga, Kebersamaan dan tidak bertemu satu kegiatan
yang tidak dipikul bersama, seperti membuat uma, mencari
kayu kehutan untuk perahu dan berburu kehutan.
Keempat, Tidak boleh berzina. Perkawinan bagi mereka
merupakan hal yang sakral. Kalau ada yang melanggar
dihukum oleh adat. Dahulu hukumannya ada yang dibunuh.
Kelima, tidak boleh masuk rumah kalau di dalamnya
hanya ada perempuan saja.
Keenam, Kalau berjalan bersama-sama maka laki-laki
harus di depan.
Ketujuh, orang Mentawai jujur dan lugu. Kalau kita
menjanjikan sesuatu kepada penduduk, ternyata tidak
diberikan kepada mereka sesuai dengan yang dijanjikan maka
mereka tetap terima pemberian dimaksud untuk sementara
waktu. Namun yang dijanjikan akan selalu ditagih sepanjang
waktu dan tetap mereka tanyakan dan minta.
Kedelapan, berat sepikul ringan sejinjing. Semua
pekerjaan mereka lakukan bergotong royong.
Kesembilan, tidak mau mengambil hak orang lain dan
menghormati tamu.

22 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
Kesepuluh, Orang Mentawai lebih mengutamakan
persatuan dan persaudaraan. Terbukti apabila seorang
mendapatkan hewan buruan umumnya diberirtahu kesegenap
penjuru dengan menggunakan tudukkat (bhs.Mentawai artinya
alat kentongan yang terbuat dari kayu dan diletakkan dipintu
rumah penduduk).
Tahun 1954, terjadi perubahan besar di Mentawai,
dengan adanya musyawarah tiga agama, Islam, Kristen
Protestan dan Arat Sabulungan. Salah satu keputusan
musyawarah adalah bahwa Arat Sabulungan harus
ditinggalkan oleh masyarakat Mentawai dan mereka
dipersilahkan memilih agama resmi di dalam Negara RI. 9
Di tahun 1955, seluruh masyarakat Mentawai sudah
menjadi masyarakat beragama. Arat Sabulungan ditinggalkan.
Hal ini membuktikan bahwa musyawarah bukan hanya
sebuah produk pemaksaan. Kalau ada yang lari ke hutan,
jumlahnya tidak banyak, sekitar satu keluarga saja. Mereka
dikenal dengan suku Sekudai yang hidup di hutan sampai hari
ini. Minggatnya suku Sekudai ke pedalaman Sagalubek bukan
hanya disebabkan rapat tiga agama, tetapi lebih banyak karena
pergeseran paham antar suku di Rokdok.
Seperti telah dimaklumi bahwa penduduk di
Kepulauan Mentawai masih sangat tradisional. Bahkan masih
ada yang berpindah-pindah dan menggantungkan hidupnya
dari hasil berburu dan meramu hasil hutan. Melihat kondisi
ini, maka pemerintah semestinya mengajak mereka
(masyarakat Mentawai) itu untuk masuk kedalam dunia yang
lebih maju. Tujuannya tidak meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di daerah yang masih terisolir itu. Pembangunan
transmigrasi dan pemukiman di wilayah Mentawai harus
dipahami sebagai proses belajar yang efektif bagi penduduk

9
Katholik masuk 1954 dipandu oleh Pastor Aurelius Cannizaro dari Italia.
H. Mas’oed Abidin 23
MENTAWAI MEMBANGUN
setempat. Mentawai dapat dipacu dengan sedia meniru
kemajuan daerah lain dan penyesuaian arif kondisi daerah
(budaya, geografis, sosio-ekonomis) di Kepuluan ini.
Kurangnya penghargaan terhadap pemuka adat setempat bisa
mengundang perlawanan, setidak-tidaknya antipati dari
kelompok masyarakat luas. Akibatnya gerak pembangunan
yang dilakukan menjadi terhambat.
Analisa Mentawai mempunyai potensi besar untuk
pembangunan. Tergantung bagaimana petugas membangun
Mentawai dapat mengerti puncak kebudayaan Mentawai ini.
Diharapkan dengan memahami budaya dan dinamika
masyarakat Mentawai dapat dipacu lebih cepat maju
dibandingkan melalui proses pendidikan yang menuntut
menghabiskan waktu bertahun-tahun.
Kesempatan Mentawai berkembang melalui otonomi
daerah hanya mimpi belaka, bila kepulauan Mentawai di
pimpin orang-orang yang kurang cermat membaca keperluan
masyarakatnya.
Lebih parah lagi, kalau tidak pula paham dengan
kemampuan riil yang tersedia di daerahnya.

GERAK DAKWAH DI MENTAWAI
Program Dakwah di Mentawai merupakan salah satu
program yang dicanangkan Mohammad Natsir ketika pulang
ke Sumatra Barat 1968, atas undangan gubernur untuk
menghimbau orang Sumatra Barat membangun kampung
halaman. Tahun 1970, DDII mulai mengirimkan para da'i ke
Mentawai. Mereka yang telah lama mengabdi di sana seperti
Abdul Hadi A. Roni, Usmar Marlen, dan Najib Adnan.
Termasuk pula dengan mendirikan rumah ibadah. Masjid Al
24 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
Wahidin di Muara Siberut mempunyai Madrasah Ibtidaiyah
(1973), dengan dua tenaga guru (M. Idris Batubara dan Elma ).
Mempunyai 4 ruang belajar dengan murid yang banyak. Dalam
pembinaannya kesulitan dana sangat terasa, terutama untuk
perbaikan gedung dan gaji guru. Sekolah ini terletak sekitar 200
m dari gereja Katolik.
Gerak Dakwah di Mentawai bertujuan menyiapkan
SDM dari kalangan masyarakat Mentawai sendiri. Mengajak
orang Mentawai yang tak beragama menjadi beragama Islam.
Di samping itu membuat paket-paket program peningkatan
sumber daya manusia. Seperti pembangunan lembaga
pendidikan, mengadakan penyuluhan keagamaan, masalah
kehidupan masyarakat Mentawai di dusun dan laggai, dengan
mengajarkan peternakan dan pertanian.
Semua program itu digerakkan atas swadana
masyarakat Sumbar dan masyarakat setempat, tanpa mesti
tergantung dari dana bantuan luarnegeri.
Dengan upaya terus menerus (kontinuitas program
diiringkan evaluasi terus menerus), Alhamdulillah orang
Mentawai banyak memeluk agama Islam dengan kesadaran
sendiri. Beberapa program dakwah mesti dilaksanakan terus
menerus.
1. Program Khitanan
Setiap tahun di Mentawai wajib dilaksanakan program
khusus khitanan massal.10

10
Setiap tahun dilaksanakan, sejak 1976. Pada tanggal 23 - 25 Pebruari
1990, di desa Saliguma dilakukan khitanan massal oleh tenaga dokter
muda dari Unand bekerja sama dengan rumah sakit Islam Ibnu Sina
Padang. Khitanan yang tadinya akan diikuti oleh 50 orang, ternyata
hanya diikuti oleh 24 orang saja
H. Mas’oed Abidin 25
MENTAWAI MEMBANGUN
Dalam melaksanakan program ini sering terjadi hal-hal
yang aneh, seperti adanya peserta yang lari, bukan karena
takut.
Hubungan sosial kekeluargaan (semenda-menyemenda),
rasa malu dan hasutan pihak luar (sejak 1954), melemahkan
dakwah Islam pada penduduk asli Mentawai.11
Yang diharapkan adalah bantuan langsung kain sarung,
peci, sandal jepit, penyediaan obat- obatan dan pengiriman tenaga
medis. Masyarakat Islam di Mentawai berpartisipasi
memberi makan selama perawatan menjemput/mengantar
kembali saudara sesama Muslim dari padalaman, dan
menyediakan tempat bermalam, melakukan piket merawat
saudara-saudara sesama Muslim.
2. Penyediaan peralatan ibadah
Beberapa masjid dan mushalla yang ada di pedalaman,
perlu perhatian utama menyiapkan peralatan ibadah
mereka. Ada delapan masjid/mushalla di pedalaman yang
perlu prioritas di desa-desa: Saibi, Saliguma, Sallappa,
Matotonan, Sarausau, Puro, Munthei, Mailepet dan Sagalubbek
di Monga Barat, melengkapi mushalla dengan tikar shalat,
lampu strongking, amplifier, kain kafan persiapan untuk para
muallaf di 8 desa binaan. Secara rutin perlu diupayakan
11
Hasutan kalau seseorang masuk Islam, zakar dan kemaluannya
dipotong, tidak bisa melakukan hubungan suami istri secara wajar.
Hasutan seperti ini sering tidak berhasil karena setiap tahun selalu
dilaksanakan “Sunnatul Khitaan”. Tahun ini ada yang menggembirakan
dari peristiwa ini. Di antara yang melakukan khitanan massal di Saliguma
terdapat 6 orang muallaf lanjut usia berumur 30 - 40 tahun, di antaranya
adalah Saudara Yohanes Mahmud (40 th) Kepala Desa Saliguma.
Program khitanan perlu didukung pelaksanaannya setiap tahun, karena
pelaksanaannya adalah salah satu cabang dari Sunnah Rasul.

26 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
bantuan untuk pengajian anak-anak muallaf, seperti minyak
tanah, kapur tulis, buku tulis dan lain-lain.
3. Bantuan jangka panjang
Penyiapan asrama khusus anak-anak yang beragama
Islam di Mentawai sangat penting. Yang beragama Katolik
sudah ada asrama besar disiapkan oleh pihak gereja Katolik
Muara Siberut, besar, megah dan bertingkat. Untuk pelajar
Protestan, rumah-rumah di seputar gereja yang dulu
dibangun oleh Pendeta Imanuel Sikarebau, ketua zending
Protestan Mentawai, masih siap menampung anak-anak
mereka terutama dari Saibi Samokop atau Pasakiat Taileleu.
Umat Islam dalam hal ini masih tercecer di belakang, karena
belum ada asrama pelajar menampung anak-anak muallaf
dari pedalaman.
Dakwah di Mentawai, seperti juga berlaku di daerah
terpencil lainya, adalah untuk memanusiawikan manusia
menuju manusia berkualitas sebagai warga bangsa.
Umat Islam di Kepulauan Mentawai yang baru
menjadi Kabupaten, selalu dihadapkan pada berbagai kendala
seperti keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Da'i para
pendakwah Islamiyah yang terjun di lapangan berhadapan
dengan kekurangan peralatan transportasi air (boat) maupun
darat. Bahkan kekurangan biaya untuk menjangkau daerah
binaan.
Problematika dakwah yang dihadapi sama dengan
problema pembinaan umat di Mentawai oleh para pejabat
yang menjangkau desa-desa dan laggai. Sangat kompleks dan
beragam. Sementara itu lembaga-lembaga lainnya kurang
memperhatikan pentingnya program dakwah terpadu ke

H. Mas’oed Abidin 27
MENTAWAI MEMBANGUN
kepulauan ini.12 Kalaupun ada sifatnya hanya sementara
belaka. Panggilan suci dakwah itu adalah mengetuk hati para
mujahidin di bidang dakwah dan para muhsinin dimana saja
berada.
Akhirnya, dalam setiap masa dan kurun waktu,
dakwah Islamiyah di Kepulauan Mentawai selalu menunggu
uluran tangan. Tidak ada istilah berhenti dalam pelayaran
karena kaki telah tercecah ke pantai.

KENYATAAN DI LAPANGAN
Sosial budaya Mentawai akhir-akhir ini sudah banyak
berubah sejak masuknya pendatang dari dalam dan luar
negeri.
Maka sangat penting adanya usaha terus menerus
menghidupkan nilai-nilai budaya positif dalam membentuk
creative minority yang akan memacu gerak pembangunan di
Mentawai.
Perubahan kearah pembangunan (development) tidak
akan pernah berhasil baik apabila tidak didukung oleh
pemantapan nilai-nilai luhur budaya yang berisi motivasi
kearah menghidupkan kreativitas penduduk dari dalam diri
mereka.
Problema utama adalah mencerdaskan orang
Mentawai, dan mendidik orang Mentawai yang akan
membangun negeri mereka. Kemudian bagaimana membuka
kesempatan untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka
sendiri dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
Yang ditunggu hanyalah pergantian generasi.
12
Tahun 1997 Pembantu Gubernur Wilayah II yang membawahi
Mentawai, menyumbang 10 buah sepeda untuk da’i Mentawai (Sipora)
28 H.
Mas’oed Abidin
MENTAWAI MEMBANGUN
Melalui pendidikan dan pengalaman hidup di daerah
yang lebih maju. Proses kearah ini sedang berjalan.
Selain mengandalkan pendidikan, pendatang
perlu mawas diri supaya jangan menjadi anasir
penghasut di Mentawai. Kadang kala menyedihkan juga
bahwa banyak yang berbicara tentang Mentawai, tapi
sangat sedikit yang berusaha memahaminya. Banyak
yang berusaha mengetahui Mentawai hanya dari cerita
orang tanpa pernah melihat seperti apa adanya. Tidak
terkecuali mereka di dunia akademis yang menghabiskan
berlembar-lembar makalah. Konsekwensinya, setiap
pendatang memiliki tugas rangkap sebagai transformator
kemajuan dan alih ilmu pengetahuan.

Padang, Januari 2002.

H. MAS’OED ABIDIN
Bin H.Zainal Abidin Abdul Jabbar Imam Moedo

Lahir tanggal : 11 Agustus 1935 di Kotogadang, Bukittinggi,

H. Mas’oed Abidin 29
MENTAWAI MEMBANGUN
Jabatan sekarang : Ketua Umum BAZ (Badan Amil Zakat)
Sumbar (2001-2005), Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia Perwakilan Sumbar di Padang (2000-2005), Ketua MUI
Sumbar Membidangi Dakwah (2001-2005), Sekretaris Dewan
Pembinan ICMI Orwil Sumbar.

Alamat sekarang : Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang
(KP - 25146), Fax/Telepon 52898, Tel: 58401.
Buku yang sudah diterbitkan ;
1. Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat,
Percetakan ABADI, Jakarta - 1997.
2. Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang -
2000.
3. Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar
Minang, Padang – 2001.

Dalam proses Pencetakan ;
1. Taushiyah DR. Mohammad Natsir, Mimbar Minang,
Padang –2002.
2. Pernik Pernik Ramadhan, Mimbar Minang, Padang – 2002.
3. Dakwah Komprehensif, DDII, Media Dakwah, Jakarta –
2002.
4. Suluah Bendang, Berdakwah di tengah tatanan Adat Basandi
Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah di Minangkabau, Mimbar
Minang, Padang - 2002.

Web-site : http://www.masoedabidin.web.id
e-mail : masoedabidin@yahoo.com

30 H.
Mas’oed Abidin