You are on page 1of 12

SAP 13

A. PENGERTIAN MANAJEMEN LABA

Manajemen laba sebagai bentuk dari manipulasi laporan keuangan,


hingga saat ini belum mempunyai batasan mengenai definisi dari manajemen
laba. Berikut pendapat beberapa ahli mengenai definisi manajemen laba.
Menurut Davidson, Stickney dan Weil dalam Sulistyanto (2008), manajemen
laba merupakan proses untuk mengambil langkah tertentu yang disengaja
dalam batas-batas prinsip akuntansi yang diterima umum untuk menghasilkan
tingkat yang diinginkan dari laba yang dilaporkan.
Schipper dalam Widodo Lo (2005) mendefinisikan manajemen laba
sebagai intervensi atau campur tangan dengan maksud tertentu terhadap proses
penyusunan pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk
memaksimalkan keuntungan pribadi. Definisi tersebut mengartikan bahwa
manajemen laba merupakan perilaku oportunistik manajer untuk
memaksimumkan utilitas mereka. Manajer melakukan manajemen laba
dengan memilih metode atau kebijakan akuntansi tertentu untuk menaikkan
laba atau menurunkan laba. Manajer dapat menaikkan laba dengan menggeser
laba periode-periode yang akan datang ke periode kini dan manajer dapat
menurunkan laba dengan menggeser laba periode kini ke periode-
periodeberikutnya.

National Association of Certified Fraud Examimers dalam Sulistyanto


(2008), mendefinisikan manajemen laba sebagai kesalahan atau kelalaian yang
disengaja dalam membuat laporan mengenai fakta material atau data akuntansi
sehingga menyesatkan ketika semua informasi itu dipakai untuk membuat
pertimbangan yang akhirnya akan menyebabkan orang yang membacanya
akan mengganti atau mengubah pendapat atau keputusannya.

1
Fisher dan Rosenzweig dalam Sulistyant (2008), menyebutkan bahwa
manajemen laba adalah tindakan-tindakan manajer untuk menaikkan
(menurunkan) laba periode berjalan dari sebuah perusahaan yang dikelolanya
tanpa menyebabkan kenaikan (penurunan) keuntungan ekonomi perusahaan
jangka panjang.
Lewitt dalam Sulistyanto (2008), menyatakan bahwa manajemen laba
adalah fleksibilitas akuntansi untuk menyetarafkan diri dengan inovasi bisnis.
Penyalahgunaan laba ketika publik memanfaatkan hasilnya. Penipuan
mengaburkan volatilitas keuangan sesungguhnya. Itu semua dilakukan untuk
menutupi konsekuensi dari keputusan- keputusan manajer.
Sementara itu Healy dan Wahlen dalam Sulistyanto (2008), mengatakan
bahwa manajemen laba muncul ketika manajer menggunakan keputusan
tertentu dalam pelaporan keuangan dan mengubah transaksi untuk mengubah
laporan keuangan untuk menyesatkan stakeholder yang ingin mengetahui
kinerja ekonomi yang diperoleh perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil
kotrak yang menggunakan angka-angka akuntansi yang dilaporkan itu.
Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen
laba merupakan permainan manajerial untuk memanipulasi laporan keuangan
dengan mengatur besar kecilnya laba perusahaan demi kepentingan pribadi.
Sementara itu Davin (2005) menyebutkan bahwa terdapat tujuh permainan
manajerial untuk memanipulasi laporan keuangan yaitu dengan jalan mencatat
pendapatan terlalu cepat, mencatat pendapatan palsu, mengakui pendapatan
lebih cepat satu periode, mengakui biaya periode berjalan menjadi biaya
periode sebelum atau sesudahnya, tidak mengungkapkan semua kewajibannya,
mengakui pendapatan periode berjalan menjadi pendapatan periode
sebelumnya dan mengakui pendapatan masa depan menjadi pendapatan
periode berjalan

2
B. FAKTOR-FAKTOR PENDORONG MANAJEMEN LABA

Dalam Positif Accounting Theory terdapat tiga hipotesis yang


melatarbelakangi terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986),
yaitu:
a. Bonus Plan Hypothesis
Yang didasarkan adanya dorongan manajer perusahaan untuk
mendapatkan bonus berdasarkan laba yang dilaporkan oleh manajer.
Motivasi bonus tersebut mendorong manajer untuk memilih prosedur
akuntansi yang dapat menggeser laba dari periode yang akan datang ke
periode saat ini (Scott, 2000). Penelitian terkait dengan motivasi bonus
menyatakan bahwa manajer berusaha memanipulasi laba untuk
memaksimalkan nilai sekarang dari pembayaran bonus (Holthausen,
1995).
b. Debt Covenant Hypothesis
Motivasi debt covenant disebabkan oleh munculnya perjanjian
kontrak antara manajer dan perusahaan yang berbasis kompensasi
manajerial. Penelitian terkait dengan hipotesis perjanjian utang dilakukan
oleh Defond dan Jiambalvo (1994).
c. Political Cost Hypothesis
Motivasi politik timbul karena manajemen memanfaatkan
kelemahan akuntansi yang menggunakan estimasi akrual serta pemilihan
metode akuntansi dalam rangka menghadapi berbagai regulasi yang
dikeluarkan pemerintah. Penelitian terkait dengan hipotesis biaya politik
dilakukan Cahan (1992) dan Saputro (2004).

C. MOTIVASI MANAJEMEN LABA

Scott (2000: 302) dalam Rahmawati dkk. (2006) mengemukakan


beberapa motivasi terjadinya manajemen laba, yaitu:
a. Bonus Purposes

3
Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan
bertindak secara oportunistik untuk melakukan manajemen laba dengan
memaksimalkan laba saat ini (Healy, 1985 dalam Rahmawati dkk, (2006).
b. Political Motivation
Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan
pada perusahaan publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang
dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah
menetapkan peraturan yang lebih ketat.
c. Taxation Motivation
Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang
paling nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan untuk
penghematan pajak pendapatan.
d. Pergantian CEO
CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan
pendapatan untuk meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja
perusahaan buruk, mereka akan memaksimalkan pendapatan agar tidak
diberhentikan.
e. Initial Public Offering (IPO)
Perusahaan yang baru pertama kali menawarkan sahamnya dipasar
modal belum memiliki harga pasar, sehingga terdapat masalah bagaimana
menetapkan nilai saham yang ditawarkan. Oleh karena itu, informasi
seperti laba bersih dapat digunakan sebagai sinyal kepada calon investor
tentang nilai perusahaan, sehingga manajemen perusahaan yang akan go
public cenderung melakukan manajemen laba untuk memperoleh harga
lebih tinggi atas sahamnya.
f. Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor

Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada


investor sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap
menilai bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.

Menurut Ayres (1994) dalam Firdaus (2007), ada tiga faktor yang bisa
dikaitkan dengan munculnya praktik-praktik manajemen laba yaitu :
a. Manajemen Akrual
Faktor ini biasanya berkaitan dengan segala aktivitas yang dapat
mempengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi
merupakan wewenang dari para manajer (managers discretion).

4
b. Penerapan suatu kebijakan akuntansi yang wajib (adoption of management
accounting changes)
Faktor ini berkaitan dengan keputusan manajer untuk menerapkan
suatu kebijaksanaan akuntansi yang wajib diterapkan oleh perusahaan
yaitu antara menerapkannya lebih awal dari waktu yang ditetapkan atau
menundanya sampai saat berlakunya kebijaksanaan tersebut.
c. Perubahan akuntansi secara sukarela (voluntary accounting changes)
Faktor ini biasanya berkaitan dengan upaya manajer untuk mengganti
atau merubah suatu metode akuntansi tertentu diantara sekian banyak
metode yang dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh badan akuntansi
yang ada

D. TEKNIK MANAJEMEN LABA

Teknik dan pola manajemen laba menurut Setiawati dan Na’im (2000)
dalam Rahmawati dkk. (2006) dapat dilakukan dengan tiga teknik, yaitu :
a. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi
Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgement (perkiraan)
terhadap estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak
tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi
aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi, dan lain-lain.
b. Mengubah metode akuntansi
Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu
transaksi, Contoh: merubah metode depresiasi aktiva tetap, dari metode
depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus.
c. Menggeser periode biaya atau pendapatan

Contohnya yaitu rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain:


mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan
pengembangan sampai pada periode akuntansi berikutnya, mempercepat
atau menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya,
mempercepat atau menunda pengiriman produk ke pelanggan, mengatur
saat penjualan aktiva tetap yang sudah tak dipakai.

E. KONDISI UNTUK PRAKTIK MANAJEMEN LABA

5
Trueman dan Titman (1988) dalam Rahmawati dkk. (2006)
berpendapat bahwa hanya manajer yang dapat mengobservasi laba ekonomi
perusahaan untuk setiap periode. Sebaliknya, pihak lain mungkin dapat
menarik kesimpulan sesuatu mengenai laba ekonomi dari laba yang dilaporkan
oleh perusahaan, sebagaimana yang diungkapkan oleh manajer. Dalam
menyiapkan laporan mungkin manajer dapat memindah, antarperiode, pada
saat sebagian laba ekonomi diketahui sebagai laba akuntansi dalam laporan
keuangan.

Perpindahan tersebut dapat dicapai, sebagai contoh, melalui pengakuan


biaya pensiun, penyesuaian penaksiran umur ekonomis, dan penyesuaian
penghapusan piutang. Jika manajer tidak dapat memindah laba antarperioda
maka laba yang dilaporkan oleh perusahaan akan sama dengan laba ekonomi
perusahaan pada setiap perioda. Fleksibilitas untuk menunda laba antarperioda
hanya tersedia bagi beberapa perusahaan, dan hanya manajer yang mengetahui
apakah mereka mempunyai fleksibilitas tersebut atau tidak.

F. POLA MANAJEMEN LABA

Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dalam Rahmawati dkk,


(2006) dapat dilakukan dengan cara:
a. Taking a Bath
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru
dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Teknik ini mengakui
adanya biaya-biaya pada periode yang akan datang dan kerugian periode
berjalan ketika keadaan buruk yang tidak menguntungkan tidak bisa
dihindari pada periode berjalan. Konsekuensinya manajemen
“menghapus” beberapa aktiva, membebankan perkiraan-perkiraan

6
mendatang. Akibatnya laba pada periode berikutnya akan lebih tinggi dari
seharusnya.
b. Income Minimization
Dilakukan pada saat perusahaan memperoleh profitabilitas yang tinggi
dengan tujuan agar tidak mendapat perhatian secara politis. Kebijakan
yang diambil dapat berupa penghapusan atas barang modal dan aktiva
berwujud, pembebanan pengeluaran iklan, riset dan pengembangan yang
cepat, memilih metode succesfull-effort untuk biaya eksplorasi gas dan
minyak bumi dan sebagainya.
c. Income Maximization
Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization ini
bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus
yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan
pelanggaran perjanjian hutang.
d. Income Smoothing

Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan


sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada
umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil

Foster (1986) dalam Firdaus (2007) mengklasifikasikan unsur-unsur


laporan keuangan yang sering dijadikan sasaran perekayasaan atau manipulasi
oleh manajemen yaitu:
a. Unsur Penjualan
1. Saat penjualan faktur. Misalnya, penjualan yang sebenarnya untuk
periode yang akan datang, fakturnya dibuat pada periode ini akan
dilaporkan sebagai penjualan periode ini.
2. Pembuatan pesanan atau penjualan fiktif
3. Penurunan produk, misalnya dengan cara mengklasifikasikan produk
yang belum rusak ke dalam kelompok produk rusak dan selanjutnya
dilaporkan telah terjual dengan harga yang lebih rendah
b. Unsur Biaya
1. Memecah-mecah faktur, misalnya faktur untuk suatu pembelian atau
pesanan dipecah menjadi beberapa pembelian atau pesanan dan
selanjutnya dibuatkan beberapa faktur dan tanggal yang berbeda dan

7
kemudian melaporkannya ke dalam beberapa periode akuntansi yang
berbeda

2. Mencatat prepayment (biaya dibayar di muka) sebagai biaya. Misalnya


melaporkan biaya iklan dibayar di muka untuk tahun depan sebagai
biaya iklan tahun ini.

Moses (1987) dalam Firdaus (2007) dalam penelitiannya


mengklasifikasikan berbagai perubahan kebijakan akuntansi yang sering
dijadikan alat perekayasaan laba antara lain:

a. Perubahan metode pencatatan persediaan ke metode LIFO


b. Perubahan metode pencatatan biaya jaminan hari tua
c. Perubahan metode depresiasi aktiva tetap, amortisasi aktiva tidak
berwujud dan konsolidasi
d. Perubahan dalam penaksiran atau estimasi masa manfaat aktiva tetap
maupun aktiva tidak berwujud
e. Perubahan kebijakan terhadap pembebanan atau pengkapitalisasian.

G. MODEL EMPIRIS MANAJEMEN LABA


Sulistyanto (2008) menyebutkan secara umum terdapat tiga kelompok
model empiris manajemen laba yang diklasifikasikan atas dasar basis
pengukuran yang digunakan yaitu model yang berbasis akrual agregat
(aggregate accruals), akrual khusus (specific accruals) dan distribusi laba
(distribution of earnings).
1. Model berbasis akrual agregat (aggregate accruals) merupakan model yang
digunakan untuk mendeteksi aktivitas rekayasa dengan menggunakan
discretionary accruals sebagai proksi manajemen laba. Model ini pertama
kali dikembangkan oleh Healy, DeAngelo dan Jones. Selanjutnya Dechow,
Sloan dan Sweeney mengembangkan model Jones menjadi model yang
dimodifikasi (modified Jones Model). Model ini menggunakan total akrual
dan model regresi untuk menghitung akrual yang diharapkan (expected
accruals) dan akrual yang tidak diharapkan (unexpected accruals).
Model Jones menggunakan sisa regresi total akrual dari perubahan
penjualan dan property, plant and equipment sebagai proksi manajemen
laba.. Model Healy merupakan model yang relatif sederhana karena
menggunakan total akrual (total accruals) sebagai proksi manajemen laba.

8
Total akrual disini merupakan penjumlahan discretionary accruals dan
nondiscretionary accruals. Discretionary accruals merupakan komponen
akrual yang dapat diatur dan direkayasa sesuai dengan kebijakan
(discretion) manajerial, sementara undiscretionary accruals merupakan
komponen akrual yang tidak dapat diatur dan direkayasa sesuai dengan
kebijakan manajer perusahaan.
Model Angelo dikembangkan dengan menggunakan perubahan dalam
total akrual (change in total accruals) sebagai proksi manajemen laba.
Model Jones dimodifikasi (Modified Jones Model) menggunakan sisa
regresi total akrual dari perubahan penjualan dan property, plant and
equipment, dimana pendapatan disesuaikan dengan perubahan piutang yang
terjadi pada periode bersangkutan.

2. Model akrual khusus (specific accruals), yaitu pendekatan yang


menghitung akrual sebagai proksi manajemen laba dengan menggunakan
item atau komponen laporan keuangan tertentu dari industri tertentu.
Misalnya piutang tak tertagih dari sektor industri tertentu atau cadangan
kerugian piutang dari industri asuransi.

Model ini dikembangkan oleh McNichols dan Wilson, Petroni, Beaver


dan Engel, Beaver dan McNichols. McNichols dan Wilson mengembangka
model yang menggunakan sisa provisi untuk piutang tak tertagih, yang
diestimasi sebagai sisa regresi provisi untuk piutang tak tertagih pada saldo
awal, serta penghapusan piutang periode berjalan dan periode yang akan
datang sebagai proksi manajemen laba. Petroni menggunakan klaim
terhadap estimasi cadanga kesalahan yang diukur selama lima tahun
perkembangan cadangan kerugian penjaminan kerusakan property sebagai
proksi manajemen laba.

Model Beaver dan Engel menggunakan biaya yang tersisa dari


kerugian pinjaman, yang diestimasi sebagai sisa regresi biaya dari kerugian
pinjaman pada charge-of bersih, pinjaman yang beredar, aktiva yang tidak
bermanfaat dan melebihi satu tahun perubahan aktiva tidak bermanfaat
sebagai proksi manajemen laba.

Sementara Beneish mengembangkan model yang menggunakan hari-


hari dalam indeks piutang, indeks laba kotor (gross margin), indeks kualitas
9
aktiva, indeks depresiasi, indeks biaya administrasi umum dan penjualan,
indeks total akrual terhadap total aktiva sebagai proksi manajemen laba.
Model Beaver dan McNichols menggunakan korelasi serial dari satu tahun
perkembangan cadangan kerugian penjaminan kerusakan property sebagai
proksi manajemen laba.

3. Model distribusi laba (distribution of earnings). Pendekatan ini


dikembangkan dengan melakukan pengujian secara statistik terhadap
komponen-komponen laba untuk mendeteksi faktor-faktor yang
mempengaruhi pergerakan laba. Model ini terfokus pada pergerakan laba
disekitar benchmack yang dipakai, misalkan laba kuartal sebelumnya.
Untuk menguji apakah incidence jumlah yang berada di atas maupun di
bawah bencmark telah didistribusikan secara merata atau merefleksikan
ketidak berlanjutan kewajiban untuk menjalankan kebijakan yang telah
dibuat.
Model ini dikembangkan oleh Burgtahler dan Dichev, Degeorge, Patel
dan Zeckhauser serta Myers dan Skinners. Model Burgtahler dan Dichev
merupakan model yang menguji apakah frekuensi realisasi laba tahunan
yang merupakan bagian atas (bawah) laba yang besarnya nol dan laba akhir
tahun adalah lebih besar (kecil) daripada yang diharapkan untuk
mendeteksi manajemen laba.
Degeorge, Patel dan Zeckhauser mengembangkan model yang menguji
apakah frekuensi realisasi laba kuartalan yang merupakan bagian atas
(bawah) laba yang besarnya nol, laba akhir kuartal dan forecast investor
adalah lebih besar (kecil) daripada yang diharapkan untuk mendeteksi
manajeman laba.Model Myers dan Skinners merupakan model yang menguji
apakah angka-angka laba meningkat yang berurutan adalah lebih besar
dibandingkan angka-angka jika tanpa manajemen laba untuk mendeteksi
manajemen laba.

10
11
DAFTAR PUSTAKA

Assih, Prihat. 2004. "Pengaruh Set Kesempatan Investasi terhadap Hubungan


Antara Faktor-faktor Motivasional dan Tingkat Manajemen Laba". Disertasi.
Gadjah Mada University, Yogyakarta. Indonesia

Firdaus, M. 2007. Manajemen Agribisnis. Edisi Pertama. Jakarta: Penerbit


Bumi Aksara

Rahmawati, dkk. 2006. Pengaruh Asimetri Informasi terhadap Praktik


Manajemen Laba pada Perusahaan Perbankan Publik yang terdaftar di
Bursa Efek Jakarta, Simposium Nasional Akuntansi IX

Watts, R, L., and Zimmerman, J, L. 1990, “Positive Accounting Theory: A Ten


Year Perspective”. The Accounting Review, 60 (1): 131-156.

Wiwik Utami, 2005, “Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Biaya Modal


Ekuitas (Studi Pada Perusahaan Publik Sektor Manufaktur)”, Simposium
Nasional Akuntansi VIII

Sulistyanto, Sri. 2008. Manajemen Laba, Teori dan Model Empiris. PT.
Grasindo. Jakarta.

http://ilmuakuntansi.web.id/motivasi-manajemen-laba/
(Diakses pada tanggal 27 November 2017)

http://ilmuakuntansi.web.id/pengertian-manajemen-laba/
(Diakses pada tanggal 27 November 2017)

http://rahman-ug.blogspot.co.id/2014/12/manajemen-laba.html
(Diakses pada tanggal 27 November 2017)

12