You are on page 1of 4

Asuhan keperawatan pada anak dengan hiv&aids • Herpes zoster

• Infeksi saluran napas atas kronik atau berulang (otitis media,


 2.1 juta anak terinfeksi hiv otorrhoea, sinusitis, tonsillitis )
 Case finding : TB, Mal.Nutrisi berat dsb • Infeksi kuku oleh fungus
Dx.Infeksi :
 Uji virologis : rekom. Umur <18 bulan Stadium Klinis 3
menggunakan plasma EDTA/Dried Blood Spot.
Bayi uji viro (+) >>>ARV >uji viro.2 • Periodontitis/ginggivitis ulseratif nekrotikans akut
 Uji Sero. : >18 Bulan (sbg uji diagnostic) • TB kelenjar
 Umur < 18 digunakan sebagai uji untuk menentukan ada tidaknya • TB Paru
pajanan HIV • Pneumonia bakterial yang berat dan berulang
 Anak umur < 18 bulan terpajan HIV yang tampak sehat dan belum • Pneumonistis interstitial limfoid simtomatik
dilakukan uji virologis, dianjurkan untuk dilakukan uji serologis pada umur • Penyakit paru-berhubungan dengan HIV yang kronik termasuk
9 bulan, Bila hasil uji tersebut positif harus segera diikuti dengan bronkiektasis
pemeriksaan uji virologis untuk mengidentifikasi kasus yang memerlukan • Anemia yang tidak dapat dijelaskan (<8g/dl ), neutropenia
terapi ARV. (<500/mm3) atau trombositopenia (<50 000/ mm3)
 Mulai kehamilan trimester ketiga, antibodi maternal ditransfer secara • Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan, tidak berespons
pasif kepada janin, termasuk antibodi terhadap HIV secara adekuat terhadap terapi standar(a)
 Anak dengan hasil uji virologi HIV positif pada usia berapapun, artinya • Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (14 hari atau lebih )(a)
terkena infeksi HIV • Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (lebih dari 37.5o C
intermiten atau konstan, > 1 bulan)(a)
Diagnosis presumptif <18 bulan • Kandidosis oral persisten (di luar saat 6- 8 minggu pertama
kehidupan)
 Bila ada 1 kriteria berikut: • Oral hairy leukoplakia
 PCP, meningitis kriptokokus, kandidiasis esophagus
 Toksoplasmosis Stadium Klinis 4b
 Malnutrisi berat yang tidak membaik dengan pengobatan standar
 Minimal ada 2 gejala berikut: • Malnutrisi, wasting dan stunting berat yang tidak dapat dijelaskan
 Oral thrush dan tidak berespons terhadap terapi standara
 Pneumonia berat • Pneumonia pneumosistis
 Sepsis berat • Infeksi bakterial berat yang berulang (misalnya empiema, piomiositis,
 Kematian ibu yang berkaitan dengan HIV atau penyakit HIV yang infeksi tulang dan sendi, meningitis, kecuali pneumonia)
lanjut pada ibu • Infeksi herpes simplex kronik (orolabial atau kutaneus > 1 bulan atau
 CD4+ <20% viseralis di lokasi manapun)
• TB ekstrapulmonar
Diagnosis HIV pada anak > 18 bulan • Sarkoma Kaposi
• Kandidiasis esofagus (atau trakea, bronkus, atau paru)
 Sama dengan uji HIV pada orang dewasa • Toksoplasmosis susunan saraf pusat (di luar masa neonatus)
• Ensefalopati HIV
• Infeksi sitomegalovirus (CMV), retinitis atau infeksi CMV pada organ
lain, dengan onset umur > 1bulan
• Kriptokokosis ekstrapulmonar termasuk meningitis
Peran Perawat
• Mikosis endemik diseminata (histoplasmosis, coccidiomycosis)
• Kriptosporidiosis kronik (dengan diarea)
• Isosporiasis kronik
• Infeksi mikobakteria non-tuberkulosis diseminata
• Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan dengan HIV yang
simtomatik
• Limfoma sel B non-Hodgkin atau limfoma serebral
• Progressive multifocal leukoencephalopathy.

Indikasi terapi ARV menggunakan kombinasi kriteria klinis dan imunologis

Umur Kriteria Kriteria Terapi


klinis imunologis
 kotrimoksazol tidak mengobati HIV <5 Terapi ARV tanpa terkecuali
 Kotrimoksazol tidak menggantikan kebutuhan terapi antiretroviral tahun
>5 Stadium 3 Terapi ARVb
Stadium klinis WHO tahun dan 4a
Stadium 2 < 25% pada Jangan obati
Stadium klinis 1 anak 24-59 bila tidak ada
• Asimtomatik bulan pemeriksaan
• Limfadenopati generalisata persisten <350 pada CD4
Stadium klinis 2 anak < 5 Obati bila CD4 <
tahun nilai menurut
• Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskana
umur
• Erupsi pruritik papular
Stadium 1
• Infeksi virus wart luas
• Angular cheilitis
• Moluskum kontagiosum luas
• Ulserasi oral berulang
• Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan
• Eritema ginggival lineal
Persiapan ARV • Referrals
• Skills Building
PERISAPAN PENGASUH : • Support
1. Mengetahui perjalanan penyakit, efek samping, kepatuhan ARV
2. Pengamatan langsung anak minum ARV Manifestasi Infeksi HIV pada Sistem Saraf
3. Penyimpanan ARV secara benar  ± 64 juta orang terinfeksi HIV
4. Menunjukkan cara mencampur atau mengukur ART
5. Menyediakan ARV, pemeriksaan lab dan rujukan ke pelayanan Manifestasi neurologis ? perlu evaluasi:
kesehatan - Topis kelainan (neuraxis)
- Tipe komplikasi dan derajat imunosupresi( saat awal infeksi atau stadium
Rekomendasi ARV lanjut)
Komplikasi neurologis penggunaan ARV

 HAART >>>menurunkan viral load > 95%/


beberapa minggu
 HAART >>> meningkatkan kadar CD4
Langkah:
 Pada penderita HIV dengan infeksi CNS >>>
Langkah 1: Gunakan 3TC sebagai NRTI pertama
ARV yang dapat menembus BBB
Langkah 2: Pilih 1 NRTI untuk dikombinasi dengan 3TCa
 Hati2 >> IRIS >> memberatnya infeksi
Langkah 3: Pilih 1 NNRTI
oportunistik setelah pemberian ARV
 Bila terjadi IRIS dapat diberikan
Masalah Keperawatan
kortikosteroid parentera
1. Domain 11 safety and protection
Class 1 Risk for infection (00004) Manifestasi Neurologis infeksi HIV
2. Domain 2 : nutrition
Class 1 : Ingestion : Early (>500cd4/mm3) : sero conversion illness, asymtomatik
Imbalanced nutrition : less than body requirements (00002) Midstage (200-500cd4..) : tinea, oral, candidia, sinusitis
3. Domain 11 : safety and protection Advanced(<200cd4..): sarcoma Kaposi, NHL, neoplasma
Class 2 : physical injury
Ineffective airway clearance (00031) HIV-ASCOCIATED NEUROCOGNITIVE DISORDER (HAND)
4. Domain 5 : perception/cognition
Class 4 : cognition HAND juga dikenal sebagai ADC (AIDS Dementia Complex), gejala gangguan
Deficient knowledge (00126) kognitif, perilaku dan gangguan motorik yang timbul pada infeksi HIV fase lanjut.

ASPEK PSIKOSOSIAL –SPIRITUAL PADA ODHA Pembagian :


1.HIV-associated minor cognitive/motor disorder
(+) Aspek • Penderita HIV demensia ringan : gejala depresi dan cemas.
 More services and support available • Perubahan perilaku apatis, lethargi, hilangnya pemampuan seksual dan
 Renewed spirituality menurunnya respon emosi.
 New, healthier relationships 2. HIV-associated dementia complex / HIV- associated Encephalopathy
 Priorities clarified • Ditandai dengan kelainan yang lebih berat, didapatkan adanya gangguan
 Conflicts resolved motorik dan kognitif.
(-) Aspek
 Feeling like a burden Gambaran Klinis
 Loss of dignity + Guilt • Demensia sub cortikal > global > akinetic mute
 Grief over multiple losses • Tes neuropsycologis awalnya nomal > gangguan
 Stigma/Discrimination mengingat, pengetahuan, psikomotor dan proses
 Estrangement from family/community berfikir yang menurun
 Fear of contagion+Fear of death • Jarang disertai gejala kortikal
Cultural Issues • Gx tambahan > tanda2 UMN
 Meaning of illness and death
Diagnosis
 Family or community role in illness
• HAND >komplikasi lambat yang dapat terjadi pasien dengan limfosit T CD4
 Value of autonomy >350 sel/µL
 Communication patterns • mengenai ~3% penderita
 Mistrust of authority/medical systems • Kriteria > penurunan kognitif berdasarkan MMSE
Ethics issues related to HIV & AIDS • Harus disingkirkan demensia sebab lain
• Disclosure • CT > hipodens pada substansia alba dan atrophy
• Disability rights • MR > hiperintens daerah sub kortikal dan atrophy
• Economical resources
• Employment rights CEREBRAL TOXOPLASMOSIS
• Medication & Treatments
• Suicide  sering terjadi pada penderita HIV dengan CD4 < 100 mm3
• Duty to warn
Intervention Diagnosis
• Accompaniment  diagnosis pasti adalah PA atau adanya DNA T. Gondii pada cairan tubuh
• Advocacy  adanya IgG anti toxo + pada penderita HIV adalah marker
• Assessment potensi Toxoplasma
• Care Coordination  Ig M + menunjukkan ada infeksi baru
• Crisis Intervention  Ig A dan Ig E anti bodi jarang meningkat pada penderita TE
• Engagement
• Listening Pem.Radiologi :CT Scan+MRI
• Motivational Interviewing
• Patient/Family Education
• Problem Solving
CMV ENCEPHALITIS EPIDEMIOLOGI HIV DAN AIDS DI INDONESIA (Pur)
 CMV adalah kelompok herpesvirus 5 yang terbeesar dan paling kompleks 55% heteroseks ( kemenkes,2010)
Infeksi
 Encephalitis manifestasi neurologis pada 2% penderita HIV Program HIV/AIDS/IMS
 pada penderita dengan CD4 <50/ml  Advokasi Sosialisasi dan KIE
Gejala  Pengembangan SDM
 Gejala ventrikuloencephalitis adalah gangguan kognitif dan perilaku subakut  Jejaring Kerja dan Pertisipasi Masyarakat
 Analisa CSS > Netrophilic, pleocytosis, peningkatan kadar, protein dan  Logistik
penurunan kadar glukosa  Pengamanan Darah Donor dan Produk Darah
 Pengendalian IMS
 Pengurangan Dampak Buruk
Konsep dasar infeksi HIV-AIDS ( Tri Pudi)
 Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak
 AIDS/HIV singkatan paham!  Kewaspadaan Standar
How?  Konseling dan Tes HIV
 Sel target utama yang dirusak virus : sel yang mengkespresikan reseptor CD4.  Perawatan, Dukungan dan Pengobatan
 Kolaborasi TB-HIV
Transmisi HIV  Surveilans Epidemiologi & Sisitem Informasi
 Hubungan seksual dengan partner yang terinfeksi  Monitoring dan Evaluasi
 Terpaparnya kulit yang terluka dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi  Sistem Pembiayaan
 Transfusi darah yang terinfeksi
 Penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi Penguatan Sist,Komunitas
 Dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan dan menyusui  Meningkatkan kualitas hidup
 Pengharagaan kepada hak kesehatan dan hak-hak lainnya
Perjalanan?  Perlindungan sosial dan kesehatan
 Transmisi (2-3 mg)  Meningkatkan responsif dan keefektifan intervensi yang dilakukan oleh
 Sindroma retroviral akut(2-3 mg) komunitas
 Serokonversi(2-4mg)
 Meningkatkan responsif dan keefektifan intervensi yang dilakukan oleh
 Infeksi asymto(rata2 8 tahun)
layanan kesehatan, pendidikan, dukungan sosial dan layanan lainnya
Gejala Klinis
Std 1 : Asimtomatik, Limfadenopati general menetap Hambatan
Std 2 :  Stigma dan diskriminasi
• Penurunan BB (<10%)  Rendahnya pengetahuan tentang HIV-AIDS dan IMS
• ISPA berulang, herpes zoster, ulserasi oral, infeksi jamur pada kuku, PPE  Tingginya praktek berisiko tertular HIV
Std 3:  Akses terhadap layanan
• Penurunan BB >10%  Rendahnya utilisasi layanan yang ada
• Diare >1 bulan, demam >1 bulan, kandidiasis oris, TB Paru, anemia, infeksi  Logistik dan SDM yang memadai
bakteri berat  Peraturan perundang-undangan tentang pengendalian HIV-AIDS
Std 4 (AIDS)
• Wasting syndrome
TATA LAKSANA INFEKSI HIV (tri pudi)
• Infeksi oportunistik
Umum:
• Sarkoma kaposi, kardiomiopati, nefropati terkait HIV
• Dukungan nutrisi : untuk memenuhi keb. hidup dan memulihkan status imun
Diagnosis • Dukungan psikologis
Berdasarkan klasifikasi klinis & utk surveilans >> bila didapatkan tes HIV • Pola hidup sehat
(+) disertai 2 gejala mayor dan 1 gejala minor Khusus:
Gejala mayor: • Pemberian antiretroviral (ARV) kombinasi
1. BB turun >10% dalam 1 bulan • Terapi infeksi sekunder
2. Diare kronis >1 bulan • Terapi keganasan
3. Demam >1 bulan • Terapi sindroma wasting
4. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis Prinsip:
5. Demensia/HIV ensefalopat • Tepat indikasi
Gejala minor: • Kombinasi (paling tidak 3 jenis obat)
1. Batuk menetap >1 bulan
• Pilihan obat : prioritas lini pertama
2. Dermatitis generalisata
• Penentuan saat mulai pemberian: berdasar stadium klinis, CD4
3. Herpes zooster multisegmental &/ berulang
4. Kandidiasis orofaringeal • Kompleksitas : polifarmakologis dan potensi interaksi obat
5. Herpes simpleks kronis progresif • Resistensi
6. Limfadenopati generalisata • Informasi : sebelum memulai terapi, px harus mendptkan konseling yg jelas
7. Infeksi jamur berulang pada kelamin wanita • Motivasi
8. Retinitis CMV • Monitoring : pemeriksaan CD4 periodik, evaluasi klinis, efek samping, dan
resistensi obat
Lab.Diag • Target terapi
Tes Skrining : tes antibodi • Pilihan rejimen
 Rapid test PENGOBATAN PENCEGAHAN KOTRIMOKSAZOL (PPK):
 ELISA KOTRIMOKSAZOL>>efektif untuk mencegah infeksi pneumocystic carinii
Tes konfirmasi: pneumonia (PCP) dan toxoplasmosis
 Tes ELISA ke-2 dan ke-3 untuk konfirmasi hasil tes ke-1
Indikasi PPK:
 Western Blot
• ODHA yang bergejala (stadium klinis 2, 3, atau 4) termasuk perempuan hamil
Deteksi adanya virus: PCR
 Apabila hasil tes sebelumnya tidak konklusif dan menyusui.
 Untuk mendeteksi virus saat window period • ODHA dengan jumlah CD4 di bawah 200 sel/mm3 (apabila tersedia
 Untuk penelitian pemeriksaan dan hasil CD4).
Penekanan pada Penekanan pada diagnosis HIV
pencegahan penularan untuk penatalaksanaan yang
Panduan ARV HIV melalui tepat bagi TB-HIV nya dan
Dewasa n Anak : AZT/TDF+3TC/FTC+EFV/NVP Tujuan
pengkajian faktor rujukan ke PDP
Perem.hamil : AZT+3TC EFV/NVP (trisemester 1 =/ EFV >>>TDF) utama
risiko, pengurangan
Ko-Infeksi HIV/TB : AZT/TDF+3TC(FTC)+EFV ( Konseling
risiko, perubahan
Ko-Infeksi HIV/Hepatitis B : TDF+3TC(FTC)+EFV/NVP dan tes HIV
perilaku dan tes HIV
serta peningkatan
Ket : kualitas hidup
AZT : zidovudine
TC: Lamivudine o Konseling o Petugas kesehatan
NVP: Nevirapine berfokus klien memprakarsai tes HIV
TDF: Tenofovir o Secara individual kepada pasien yang
o Kedua hasil baik terindikasi
FTC: Emtricitabine
positif maupun o Diskusi dibatasi tentang
EFV: Evafirens
negative sama- perlunya menjalani tes HIV
Pertemuan
sama pentingnya o Perhatian khusus untuk yang
Pemantauan: Pra tes
untuk diketahui hasilnya HIV positif dengan
Minimal dilakukan pada minggu 2, 4, 8, 12 dan 24 minggu sejak memulai pasien karena fokus pada perawatan medis
terapi ARV dan kemudian setiap 6 bulan bila pasien telah mencapai pentingnya upaya dan upaya pencegahan
keadaan stabil pencegahan dan
peningkatan
Lab. kualitas hidup
 pemantauan CD4 secara rutin setiap 6 bulan, atau lebih sering bila ada
indikasi klinis. o Klien dengan hasil o Perawatan pasien HIV
 terapi dengan zidovudine : pengukuran kadar Hemoglobin (Hb) sebelum HIV positif dirujuk positif berkoordinasi dengan
terapi dan pada ke layanan PDP petugas TB dan rujukan ke
Tindak lanjut
 minggu ke 4, 8 dan 12 sejak mulai terapi atau ada indikasi tanda dan gejala dan dukungan lain layanan dukungan lain yang
anemia yang ada di ada di masyarakat
masyarakat
 Pengukuran ALT (SGPT) dan kimia darah lainnya perlu dilakukan bila ada
indikasi (tidak rutin).
 Penggunaan NVP untuk perempuan dengan CD4 antara 250 – 350 sel/mm3 Pengaruh Support Group pada ODHA
perlu dilakuan
 pemantauan SGPT pada minggu 2, 4, 8 dan 12 sejak memulai terapi ARV Aktivitas :
 Pengunaan Tenofovir Evaluasi fungsi ginjal 1. Konseling terhadap keluhan klien
 Penggunaan Protease Inhibitor (PI) dapat mempengaruhi metabolisme 2. Memberikan pengetahuan tentang HIV/AIDS
glukosa dan lipid 3. Mempermudah akses pelayanan kesehatan
 pemeriksaan GD dan profil lipid sesuai tanda dan gejala 4. Memberikan motivasi ODHA untuk patuh terhadap terapi
 Pengukuran Viral Load (VL) digunakan untuk membantu diagnosis gagal
terapi, dapat Manfaat:
 memprediksi gagal terapi lebih awal 1. Perasaan bangga dan puas karena berarti dan bermanfaat bagi sesama ODHA
2. Merasa masih bisa berkarya meskipun seorang ODHA (menumbuhkan
kebanggan tersendiri)
Provider Initiated HIV Testing and Counceling / PITC (Pur) 3. Dapat memberikan dukungan, motivasi, semangat kepada sesama ODHA
sehingga ODHA lainnyamampu bangkit dari keterpurukan
VCT Voluntary Counselling and Testing 4. Penilaian diri yang positif
5. Konsep diri positif, dll
PITC:
o tes HIV dan konseling yang diprakarsai oleh petugas kesehatan
o pengunjung UPK Bismillah…
o bagian dari standar pelayanan medis. Allahumma Shalli Ala Muhammad 3x
o Bertujuan membuat keputusan klinis dan/atau menentukan pelayanan medis
secara khusus yang tidak mungkin dilaksanakan tanpa mengetahui status HIV
seseorang

PITC tidak menggantikan fungsi VCT


Tolok
VCT - KTS PITC – KTP2
Perbandingan

o Datang ke klinik o Datang ke klinik karena


khusus untuk penyakit terkait HIV misalnya
konseling dan testing pasien TB/suspek TB
HIV o Tidak bertujuan tes HIV
Pasien/Klien
o Berharap dapat o Tes HIV diprakarsai oleh
pemeriksaan petugas kesehatan berdasarkan
o Pada umumnya indikasi
asimtomatis

o Konselor terlatih o Petugas kesehatan yang


baik petugas dilatih untuk memberikan
kesehatan maupun konseling dan edukasi
Petugas bukan petugas
kesehatan/ kesehatan
Konselor