You are on page 1of 6

Penatalaksanaan Medis dan Herbal

1. Medis
a) Obat Anti Inflamasi Nonsteroid (OAINs)
OAINS dapat mengontrol inflamasi dan rasa sakit pada penderita gout
secara efektif. Efek samping yang sering terjadi karena OAINS adalah
iritasi pada sistem gastroinstestinal, ulserasi pada perut dan usus, dan
bahkan pendarahan pada usus. Penderita yang memiliki riwayat menderita
alergi terhadap aspirin atau polip tidak dianjurkan menggunakan obat ini.
Contoh dari OAINS adalah indometasin. Dosis obat ini adalah 150- 200
mg/hari selama 2-3 hari dan dilanjutkan 75-100 mg/hari sampai minggu
berikutnya (Sholihah, 2014).
b) Kolkisin
Kolkisin efektif digunakan pada gout akut, menghilangkan nyeri dalam
waktu 48 jam pada sebagian besar pasien. Kolkisin mengontrol gout
secara efektif dan mencegah fagositosis kristal urat oleh neutrofil, tetapi
seringkali membawa efek samping, seperti nausea dan diare. Dosis efektif
kolkisin pada pasien dengan gout akut berhubungan dengan penyebab
keluhan gastrointestinal. Obat ini biasanya diberikan secara oral pada awal
dengan dosis 1 mg, diikuti dengan 0,5 mg setiap dua jam atau dosis total
6,0 mg atau 8,0 mg telah diberikan. Kebanyakan pasien, rasa sakit hilang
18 jam dan diare 24 jam; peradangan sendi reda secara bertahap pada 75-
80% pasien dalam waktu 48 jam. Pemberian kolkisin dosis rendah dapat
menurunkan efek samping gastro-intestinal ataupun efek toksisitas dari
kolkisin itu sendiri (Sholihah, 2014).
c) Kortikosteroid
Kortikosteroid biasanya berbentuk pil atau dapat pula berupa suntikan
yang lansung disuntikkan ke sendi penderita. Efek samping dari steroid
antara lain penipisan tulang, susah menyembuhkan luka dan juga
penurunan pertahanan tubuh terhadap infeksi (Dianati, 2015). Steroids
digunakan pada penderita gout yang tidak bisa menggunakan OAINS
maupun kolkisin. Prednison 20-40 mg per hari diberikan selama tiga
sampai empat hari. Dosis kemudian diturunkan secara bertahap selama 1-2
minggu. ACTH diberikan sebagai injeksi intramuskular 40-80 IU, dan
beberapa dokter merekomendasikan dosis awal dengan 40 IU setiap 6
sampai 12 jam untuk beberapa hari, jika diperlukan. Seseorang dengan
gout di satu atau dua sendi besar dapat mengambil manfaat dari drainase
sendi diikuti dengan injeksi intraartikular dengan 10-40 mg triamsinolon
atau 2-10 mg deksametason, kombinasi dengan lidokain (Sholihah, 2014)
d) Urikosurik
meningkatkan ekskresi asam urat, sehingga menurunkan konsentrasi asam
urat serum. Risiko utama yang terkait dengan obat ini melibatkan
peningkatan ekskresi asam urat kemih yang terjadi segera setelah terapi
inisiasi (Dianati, 2015).
e) inhibitor xantin oksidase
Memblokir langkah terakhir dalam sintesis asam urat, mengurangi
produksi asam urat sekaligus meningkatkan prekursornya, xanthine dan
hipoksantin (oksipurin). Secara umum, inhibitor xantin oksidase
diindikasikan pada pasien dengan peningkatan produksi asam urat
(overproducers), dan obat urikosurik pada mereka dengan ekskresi urat
yang rendah (underexcretors). Beberapa pasien, memiliki kedua faktor-
misalnya, pasien dengan clearance asam urat rendah dan asupan makanan
tinggi purin dan alkohol. Allopurinol lebih sering direkomendasikan
karena menawarkan kenyamanan dengan dosis tunggal harian dan efektif
dalam overproducers atau underexcretors atau keduanya. Allopurinol,
pirazolopirimidin dan analog dari hipoksantin, adalah satu-satunya
inhibitor xanthine oxidase dalam penggunaan klinis. Inhibitor xanthine
oxidase bekerja dengan menghambat pusat molybdenum pterin yang
merupakan tempat aktif xanthine oksidase. Xanthine oksidase dibutuhkan
untuk mengoksidasi hipoxanthine dan xanthine menjadi asam urat dalam
tubuh.4 Allopurinol adalah obat pilihan untuk orang dengan kelebihan
asam urat, pembentukan tophus, nefrolitiasis, atau kontraindikasi untuk
terapi urikosurik lain (Sholihah, 2014).
2. Herbal
a) Jus Sirsak/ Rebusan Daun Sirsak
Bagian tanaman sirsak yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan adalah
daun dan buahnya. Buah sirsak mengandung serat dan anti-oksidan, sirsak
juga memiliki senyawa aktif alkoid isquinolin yang berfungsi sebagai
analgetik kuat. Sifat anti-oksidan dapat mengurangi terbentuknya asam urat
melalui penghambatan produksi enzim xantin oksidase. Sedangkan
kombinasi sifat analgetik (mengurangi rasa sakit) dan anti inflamasi (anti-
radang) mampu mengobati asam urat. Adapun cara memanfaatkan daun/
buah sirsak dapat dibentuk seperti jus ataupun hanya dengan rebusan daun
sirsak.
Jus Sirsak
Jus sirsak di minum 1 gelas sehari (500 ml) selama 2 minggu secara rutin
untuk mengobati asam urat dengan rasa yang manis, asam dan segar. Rasa
asam pada sirsak berasal dari asam malat, asam sitrat, dan asam isositrat.
Kandungan asam malat tersebut dapat melarutkan kristal asam urat
sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh melalui feces, keringat, urine atau air
seni. Efektifitas terapi jus sirsak terhadap penurunan kadar asam urat lansia
wanita sebagai pengganti hormon estrogen yang membantu ekskresi asam
urat lewat urin yang mengalami penurunan saat menopause, di karenakan
sirsak memiliki efek diuretik (peluruh kencing), sehingga sekresi asam urat
melalui urine dapat berjalan lancar untuk mengurangi kadar asam urat
darah (Wardani, 2015).
Rebusan Daun Sirsak
Selain jus sirsak, air rebusan daun sirsak juga bermanfaat. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Wirahmadi (2013) air rebusan daun sirsak
terbukti dapat menurunkan skala nyeri pada penderita asam urat (Gout).
Ekstrak α- mangostin, β-mangostin dan lainnya yang terkandung dalam
daun sirsak terbukti mampu menghambat perombakan matrik ekstaseluler
serta menstimulasi ekspresi beberapa asosiasi gen penyusun kartilago
seperti kolagen yang terdiri atas kolagen I dan kolagen II serta agrecan
sehingga membantu meregenerasi jaringan tulang rawan. Akibatnya nyeri
yang dirasakan pada penderita Gout dapat berkurang (Shabella, 2011 dalam
Wirahmadi, 2013).
Cara membuat:
1) Rebus 10 lembar daun sirsak dengan 2 gelas air
2) Setelah mendidih, kecilkan api dan biarkan air menguap hingga tersissa
1 gelas
3) Setelah dingin, minum air rebusan 2 kali sehari sampai gejala asam urat
mereda
(Suranto, 2012 dalam Priatna, 2014)
b) Temulawak, Mahkota Dewa dan Sambiloto
Mahkota dewa, bagian tumbuhan yang bisa di digunakan yaitu bagian
buahnya yang berkhasiat mengobati rematik yang bersifat analgesik,
antipiretik, antiradang dan anti asam urat. mahkota dewa mengandung
alkaloid, flavonoid, politenol dan tanin. Tanaman sambiloto, tanaman ini
sering direkomendasikan oleh para herbalis terkemuka karena memiliki
khasiat sebagai antiracun, antiradang, dan antibengkak. Dari penelitian
yang telah dilakukan sambiloto mengandung andrographolid, minyak atsiri
dan flavonoid. Yang ketiga ternulawak, tanaman ini berkhasiat
menghilangkan nyeri, sebagai antiradang, peluruh air seni, antibakteri dan
rematik arthritis. cara membuat ramuan dari tanaman-tanaman diatas yaitu
pertama ditimbang temulawak sebanyak 100 gr, mahkota dewa 20 gr dan
sarnbiloto 15 gr serta air 4 gelas , setelah bahan -bahan ditimbang lalu
bahan dicuci bersih dan temulawak di iris tipis-tipis lalu semua bahan
direbus hingga air rebusan tersisa setengahnya ( 2 gelas ). Ramuan tersebut
baiknya dirninum setiap pagi dan sore 1 gelas (Volland, 2012).
c) Kompres air hangat dan jahe
Kompres hangat jahe dapat menurunkan nyeri pada penderita asam urat.
Kompres hangat jahe memiliki kandungan enzim siklo oksigenasi yang
dapat mengurangi peradangan pada penderita asam urat selain itu jahe
juga memiliki efek farmakologis yaitu rasa panas dan pedas, dimana
rasa panas ini dapat meredakan rasa nyeri, kaku, dan spasme otot atau
terjadinya vasodilatasi pembuluh darah, manfaat yang maksimal akan
dicapai dalam waktu 20 menit sesudah aflikasi panas. Efek panas dan
pedas pada jahe inilah yang dapat meredakan nyeri, kaku dan spasme otot
pada artritis rhematoid. Sehingga jahe juga dapat digunakan untuk
mengobati penyakit, jahe juga banyak mempunyai kandungan sehingga
dapat untuk menyembuhkan tubuh selain itu jahe juga banyak mempunyai
khasiat seperti antihelmintik, antirematik, dan peluruh masuk angin. Jahe
mempunyai efek untuk menurunkan sensasi nyeri juga meningkatkan
proses penyebuhan jaringan yang mengalami kerusakan, penggunaan
panas pada jahe selain memberikan reaksi fisiologis, antara lain :
meningkat respon inflamasi (Samsudin, 2016).
Bahan:
1. Siapkan 5- 10 jahe merah
2. Air hangat dengan suhu 38 0C
3. Kain tipis
4. Tempat kecil/ mangkok
Cara membuat:
1. 5-10 jahe merah ditumbuk sampai halus
2. Kemudian siapkan kain tipis
3. Masukan tumbukan jahe kedalam kain tipis
4. Lipat kain yang sudah berisi jahe
5. Lakukan pencelupan kain yang berisi jahe kedalam air hangat
6. Diamkan selama 5 menit
7. Kemudian angkat kain yang sudah berisi jahe
8. Tempelkan pada nyeri sendi yang dirasakan oleh klien selama 5-10
menit
9. Lakukan berulang hingga klien merasakan nyaman
(Samsudin, 2016)
Daftar Pustaka.

Sholihah, Fatwa Maratus. 2014. Diagnosis And Treatment Gout Arthritis. J


Majority. Vol. 3 (7): 39-45. Diakses melalui:
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/download/475/4
76. [25 September 2016]

Dianati, Nur Amalina. 2015.Gout and Hyperuricemia. J Majority. Vol 4 (3): 82-
89. Diakses melalui:
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/viewFile/555/5
56. [25 September 2016]

Volland, Dover. 2012. “Mengatasi Rematik dan Asam Urat secara Medis dan
Tanaman Obat”. Jawa Pos. 25 Juni 2012. Diakses melalui:
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/06/radarsumedang-
20120625-mengatasirematikdanasamuratsecaramedisdantanamanobat.pdf [
25 Sptember 2016]

Wardani, Raysa Eka. 2015. Pengaruh Terapi Jus Sirsak terhadap Penurunan
Kadar Asam Urat Lansia Wanita di Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar
Kabupaten Mojokerto. [skripsi]. Mojokerto: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Majapahit.

Samsudin, Kundre, dan Unibala. 2016. Pengaruh Pemberian Kompres Hangat


Memakai Parutan Jahe Merah (Zingiber Officinale Roscoe Var Rubrum)
Terhadap Penurunan Skala Nyeri Pada PenderitaGout Artritis Di Desa
Tateli Dua Kecamatan Mandolang Kabupeten Minahasa. E-Jurnal. Vol 4
(1): 1-7. Diakses melalui:
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/download/12128/11709 [25
September 2016]

Priatna, N.H. 2014. Pemberian Pendidikan Kesehatan Rebusan Daun Sirsak pada
Asuhan Keperawatan Keluarga Tn. S dengan Gout di Desa Tuban Lor
Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. KArya Tulis Ilmiah.
[Serial online]. Diakses melalui
http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/18/01-gdl-noviantyhe-
865-1-kti_novi-9.pdf [25 September 2016].

Wirahmadi, I. K. 2013. Pengaruh PEmberian Rebusan Daun Sirsak Terhadap


Nyeri Pada Penderita Gout di Kelurahan Genuk Barat Kecamatan Ungaran
Barat Kabupaten Semarang. Karya Ilmiah. [Serial online]. Diakses melalui
http://perpusnwu.web.id/karyailmiah/documents/3433.pdf [25 September
2016].