You are on page 1of 7

MODUL KE-5

PERTEMUAN KETUJUH DAN KEDELAPAN

Universitas : Universitas Wiraraja Sumenep


Fakultas : Pertanian
Program Studi : Agribisnis
Angkatan : 20141 A
Semester : Gasal 2014/2015

MINERAL TANAH
PETUNJUK UMUM

I. Kompetensi Dasar:
1. Mahasiswa dapat memahami dan mampu menjelaskan macam mineral tanah dan
klasifikasinya,
2. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam mineral sekunder, mineral-mineral liat
dan sifat-sifatnya,
3. Mahasiswa mampu menjelaskan sumber muatan mineral liat

II. Ruang Lingkup/Pokok Bahasan:

Materi modul mineral tanah meliputi:


1) Klasifikasi mineral.
2) Mineral Sekunder.
3) Tipe-tipe Mineral Liat.
4) Muatan Mineral Liat.

III. Referensi:
1. Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul, M.A. Diha. G.H. Hong,
H.H. Bailey.1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung.
2. Hanafiah, K.A. 2010. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta
3. Foth, H.D. 1991. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Jakarta

IV. Strategi pembelajaran:


Model Pembelajaran : Student CenteredLearning
Metode Pembelajaran : Penugasan, tanya jawab, diskusi
V. Lembar kegiatan pembelajaran:
1) Setelah membaca dengan cermat materi modul V dan membaca referensi yang dianjurkan,
kerjakan tugas-tugas yang ada pada bagian akhir modul ini.
2) Tugas-tugas yang saudara kerjakan dikumpulkan paling lambat pada pertemuan ke 9.
3) Saudara diperbolehkan mempelajari modul ke-VI apabila nilai tugas saudara > 70, bila masih
kurang dari 70 saudara harus mengerjakan ulang tugas tersebut dan berkonsultasi dengan
dosen.

MATERI:
Mineral tanah adalah mineral yang terdapat dalam tanah dan merupakan salah satu bahan
pembentuk tanah . Mineral tanah berasal dari pelapukan fisik maupun kimiawi bahan induk tanah, atau
hasil rekristalisasi senyawa senyawa hasil pelapukan lainnya. Mineral tanah mempunyai peran penting
sebagai cadangan unsur hara dan indikator muatan tanah. Berdasarkan proses terjadinya, mineral
tanah digolongkan menjadi mineral primer dan mineral sekunder. Mineral primer adalah mineral yang
terjadi langsung dari magma dan membentuk batuan tertentu. Sedangkan mineral sekunder adalah
mineral yang terjadi dari hasil pelapukan atau pelarutan mineral primer yang mengkristal kembali.
Contoh mineral primer yang banyak ditemui di Indonesia di antaranya: Olivin, Biotit, Amfibol, Plagioklas,
Orthoklas, Muskovit, kuarsa, sedangkan contoh mineral sekunder disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa Jenis Mineral Sekunder

Mineral Keterangan
Kaolinit Mineral utama pada tanah Oxisol dan Ultisol
Haloisit Mineral utama pada tanah vulkan Inceptisol dan
Entisol
Vermikulit Mineral utama pada tanah yang berkembang dari
bahan kaya mika
Alofan Mineral utama pada tanah Andisol
Hematit Mineral oksida besi pada tanah merah Oxisol dan
Ultisol
Smektit Mineral utama pada tanah Vertisol
Montmorillonit Mineral yang menyebabkan tanah mempunyai sifat
mengembang dan mengkerut

Mineral sekunder digolongkan menjadi dua, yaitu mineral liat silikat dan mineral non silikat.
Contoh mineral liat silikat yang umum dijumpai dalam tanah adalah kaolinit, monmorillonit, illit,
vermikulit, khlorit. Mineral sekunder non silikat di antaranya adalah gibsit, dolomite, hematite,
kalsit, apatit.
Kadar mineral sekunder dalam tanah menunjukkan intensitas pelapukan mineral primer,
makin besar kadarnya maka tanah tersebut telah mengalami pelapukan yang intensif.
Pembentukan mineral sekunder

Proses pembentukan mineral liat yang umum dijumpai disajikan pada Gambar 7. Pada
gamber tersebut terlihat bahwa pembentukan mineral liat melibatkan proses:
1.Leaching/pencucian unsure atau senyawa pada mineral asal,
2. penambahan unsure atau senyawa pada mineral penerima,
3. reduksi dan
4. oksidasi unsur atau senyawa kimiawi.

Bahan Induk
Alumnium Silikat Primer

Reduksi/oksidasi dan leaching

Oksidasi/leaching oksidasi/leaching

Leaching reduksi/leaching

K Mg -K

+K
Gambar 7. Proses Pembentukan Mineral Liat

Tipe-tipe mineral liat


Mineral liat merupakan mineral sekunder yang sangat berperan dalam membentuk
kesuburan tanah. Mineral liat Al-silikat dapat dibedakan menjadi :
a. Mineral liat Al-silikat yang mempunyai bentuk kristal yang baik (kristalin) misalnya
kaolinit, haloisit, montmorilonit dan Illit,
b. Mineral liat Al-silikat amorf. misalnya alofon, yang banyak ditemukan pada tanah yang
berasal dari abu vulkan seperti tanah Andisols.
Mineral liat Al-silikat mempunyai struktur berlapis-lapis, setiap unit terdiri atas lapisan Si-
tetrahedron dan Al-oktahedron. Berdasarkan atas banyaknya lapisan Si-tetrahedron dan Al-
oktahedron dalam setiap unit mineral, maka mineral liat silikat dibedakan menjadi :
a. mineral liat tipe 1 : 1, yaitu mineral liat dimana setiap unitnya terdiri atas satu lapis Si-
tetrahedron dan satu lapis Al-oktahedron
b. Mineral liat tipe 2 : 1, yaitu mineral liat dimana setiap unitnya terdiri atas dua lapis Si-
tetrahedron yang mengapit satu lapis Al-oktahedron
c. Mineral liat tipe 2 : 2, yaitu mineral liat dimana setiap unitnya terdiri atas dua lapis Si-
tetrahedron dan dua lapis Al-oktahedron yang letaknya berselang-seling.

Gambar 8. Bagan silikat tetrahedral (kiri) dan aluminium oktahedral (kanan)

Gambar 9. Lempeng liat tipe 1:1 kaolinit


Gambar 10. Lempeng liat tipe 2:1 Muskovit

Pada mineral liat tipe 1:1 kaolinit masing masing unit lempeng melekat dengan unit lainnya
oleh ikatan H sehingga mineral ini tidak mudah mengembang dan mengkerut bila basah dan
kering secara bergantian. Lain halnya dengan mineral liat tipe 2:1 montmorilonit, yang mana
masing masing unit lempeng dihubungkan dengan unit lain oleh ikatan oksigen ke oksigen yang
lemah. Hal ini mengakibatkan mineral ini mudah mengembang bila basah dan mengkerut bila
kering. Kejadian ini akibat air maupun kation-kation masuk pada ruang-ruang antar unit
tersebut.

Muatan mineral liat

Mineral liat dapat bermuatan negative ataupun positif. Muatan negative mineral liat
bersumber dari:
a. Kelebihan muatan negatif pada ujung-ujung patahan kristal baik pada Si-tetrahedron
maupun Al-oktahedron
b. Disosiasi H+ dari gugus OH yang terdapat pada tepi atau ujung Kristal
Pada pH rendah (masam) ion H+ terikat erat dan bila pH naik, ion H menjadi mudah
lepas sehingga muatan negatif mineral liat meningkat (muatan tergantung pH).
c. Subtitusi Isomorfik, yaitu penggantian kation dalam struktur kristal oleh kation lain yang
mempunyai ukuran yang sama tetapi muatan (valensi) berbeda. Pada umumnya kation
yang menggantikan mempunyai valensi lebih rendah daripada yang digantikan,
misalnya Mg 2+ menggantikan Al 3+ dalam Al-oktahedron atau Al 3+ menggantikan Si 4+
dalam Si-tetrahedron, sehingga terjadi kelebihan muatan negatif pada liat.

Tanpa subsitusi terjadi subsitusi Si +4 oleh Al+3 sehingga


Dan tanpa muatan timbul satu muatan negative

Pada kondisi ketiga mekanisme yang dijelaskan di atas dapat juga menimbulkan muatan positif,
yaitu pada kondisi:
a. Apabila kadar kation bervalensi tinggi jauh lebih besar ketimbang kadar kation
bervalensi rendah yang menduduki situs subsitusi pada struktur liat,
b. Patahan terjadi bukan pada pinggiran Kristal, tetapi relative di tengah, sehingga muatan
positif di satu sisi dan muatan negative di sisi yang lain bersifat permanen.
Namun sumber muatan positif pada liat timbul dari dua mekanisme, yaitu:
a. Protonisasi
b. Pertukaran gugus hidroksil pada struktur liat dengan anion-anion lainnya.
Adanya muatan positif pada tanah menyebabkan mineral liat mampu menjerat dan
mempertukarkan anion-anion dalam larutan tanah, seperti H2PO4-, SO4-2, NO3-, dan Cl-.

EVALUASI
1. Buatlah sketsa pembentukan mineral liat dan jelaskan 4 proses yang menjadi
mediasinya?
2. Apakah mineral sekunder selalu terbentuk dari pelapukan mineral primer? Jelaskan
alasan saudara dan berikan satu contohnya !
3. Mengapa tanah sawah bila musim kemarau terjadi rekahan-rekahan? Jelaskan!
4. Jelaskan dua mekanisme timbulnya muatan negative pada permukaan liat!
5. Jelaskan makna muatan negative dan muatan positif apabila dikaitan dengan
ketersediaan unsure hara!