You are on page 1of 5

NAMA : MUHAMMAD SHABIR

NIM : 10100108031
JURUSAN : PERADILAN AGAMA
JUDUL : ANALISIS TENTANG PERNIKAHAN BEDA AGAMA
MENURUT FIQIH KLASIK DAN FIQIH KONTEMPORER

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw.

Tugas Nabi adalah menyampaikan dan menjelaskan kepada ummatnya. Karena itu,

agama yang benar adalah agama yang berasal dari Allah, tidak dari yang lain-Nya.

Hal ini tampak jelas dalam Q.S. Ali Imran, 3:19

    


    
    
  
    
    


Terjemahnya :
“Sesungguhnya agama Islam berasal dari Allah SWT. Hanyalah orang-orang
keturunan kitab yang berselisih paham sesudah pengetahuan datang kepada
mereka, karena kedengkian antara sesamanya. Dan barang siapa yang
mengingkari ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah itu cepat membuat
perhitungan.”

Karena agama adalah hak di tangan Allah semata, maka dalam penentuan

hukum halal dan haram tentang sesuatu adalah hak Allah. Untuk mengkaji hukum

haramnya sesuatu harus berdasarkan kepada Kalam Ilahi yang diwahyukan, yaitu al-

1
2

Qur’an al Karim atau pada hadis Rasul-Nya yang dinyatakan shahih (benar) yang

menjelaskan makna al-Qur’an.

Akan tetapi akidah (teologi) dalam tradisi pemikiran Islam tidak lebih dari

sebuah rumusan konsepsional mengenai pandangan ketuhanan dan berbagai

persoalan yang berkaitan dengan hal tersebut dengan menjadikan Alquran dan sunah

sebagai pijakan. Dalam sejarah Islam klasik terdapat beberapa aliran pemikiran

akidah (teologi) seperti Asy'ariyah, Mu'tazilah, Syi'ah dan lain-lain. Status kebenaran

dari masing-masing aliran akidah (teologi) ini pun bersifat ijtihad. Artinya tidak dapat

diposisikan sebagai kebenaran mutlak.

Pada perkembangan selanjutnya, aliran-aliran formal tersebut pun mencair.

Saat ini, para pemikir keagamaan lebih memfokuskan pada persoalan-persoalan

kontemporer, seperti isu pluralisme. Persoalan krusial berkaitan dengan pluralisme

adalah, apakah Islam sebagai satu-satunya agama yang benar? Atau agama selain

Islam juga membawa kebenaran dan keselamatan? Dari sinilah dimulai perdebatan

kelompok eksklusif dengan kelompok inklusif-pluralis.1

Pemikir eksklusif berkeyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang

benar dan diterima di sisi Allah. Jalan keselamatan untuk mencapai kebahagian hidup

di dunia dan akhirat hanya melalui keimanan yang diformalkan melalui syahadat lalu

diikuti dengan menjalankan aturan-aturan keagamaan (syariat).

1
Ahmad Shalaby, Kehidupan Sosial Dalam Pemikiran Islam,( Jakarta: Amzah,2001), h. 65.
3

Adapun kelompok inklusif-pluralis berpandangan bahwa setiap agama

mempunyai jalan keselamatan sendiri-sendiri. Setiap agama selama memiliki konsep

ketuhanan (monoteisme), mengajarkan kebaikan dan mengimani kehidupan akhirat

tidak dapat dikatakan agama yang salah dan sesat.

Walaupun memiliki pandangan yang berbeda, kedua kelompok ini acapkali

merujuk pada sumber yang sama, Alquran surat Ali Imran/3:19, 64, 85, Al-

Baqarah/2:62, Al-Maidah/5:48 dan An-Nahl/16:36. Kondisi ini menjadi sangat

menarik di mana kita dapat melihat bahwa Islam begitu luas membuka ruang ijtihad

bagi para penganutnya untuk mengoptimalkan potensi kemanusiaannya dengan tetap

berpegang pada sumber autentik ajaran Islam dalam menghadapi berbagai persoalan

kehidupan.

. Dalam tradisi Islam, sekumpulan formulasi pemahaman Islam yang digali

dari Alquran dan sunah melalu proses ijtihad untuk mengatur prilaku manusia

termasuk persoalan perkawinan disebut fikih. Sebagai hasil rekayasa cerdas

pemikiran manusia, tidak ada jaminan bahwa di dalamnya tidak mengandung

kesalahan dan kekeliruan.2

Dengan demikian fikih pun bersifat ijtihad. Artinya dapat disimpulkan bahwa

semua pendapat yang berkaitan dengan hukum perkawinan beda agama pun bersifat

relatif. Mungkin benar dan mungkin juga salah. Seorang eksklusif cenderung akan

menjadikan fikih eksklusif sebagai acuan dalam menjalankan kehidupan. Begitupun

2
Yusuf al Qardawi, Madkhal li Dirasah Al Syari’ah Al Islamiyah (Beirut: Muassah Al
Risalah,1993), h. 9.
4

sebaliknya dengan seorang yang inklusif-pluralis. Di sinilah kita dapat menemukan

benang merah mengapa kelompok eksklusif melarang perkawinan beda agama

sementara kelompok inklusif-pluralis membolehkannya.

Umumnya, dalam persoalan halal dan haramnya kawin antar umat beragama,

para ulama selalu berpegang pada ayat-ayat Al-Qur’an seperti yang di firmankan oleh

Allah SWT dalam Q.S Al-Baqarah, 2:221

   


     
    
  
    
    
    
   
  
  
  
terjemahnya:

“Janganlah kamu menikah dengan perempuan-perempuan musyrik sebelum


mereka beriman. Perempuan budak yang beriman lebih baik daripada
perempuan musyrik sekalipun ia menarik hatimu. Juga janganlah menikahkan
(perempuanmu) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Seorang
laki-laki budak beriman lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik sekalipun
ia menarik hatimu. Mereka (kaum musyrik) akan membawa ke dalam api
(neraka) tetapi Allah memanggilmu ke surga kepada ampunan- Nya. Dan Allah
menjelaskan keterangan-keterangan-Nya kepada manusia supaya mereka
mengambil pengajaran.”

Dalam wacana fiqih Islam, pembahasan mengenai menikahi dan dinikahi atau

memilih pasangan yang tidak seagama masih menjadi polemik. 3 Perdebatan

mengenai halal haramnya hukum pernikahan beda agama telah terjadi pada zaman
3
Muammar Bakry, Fiqih Prioritas (Jakarta: Pustaka Mapan, 2009), h. 194.
5

dulu hingga sekarang, Dan melahirkan hukum yang berbeda pula. Walaupun terjadi

perbedaan yang tajam, kedua belah pihak tidak berhak untuk mengklaim bahwa

pendapat kelompoknya lebih benar dan pendapat kelompok lain keliru. Sebab dalam

tradisi hukum Islam dibenarkan terjadinya perbedaan ketetapan hukum atau ketetapan

hukum yang beragam dalam satu kasus hukum. Atau yang dikenal dengan istilah

ikhtilaf.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang dikaji secara konfrehensif dalam latar belakang ini dirumuskan

dalam sebuah masalah pokok yakni, analisis tentang perbedaan pernikahan beda

agama menurut fiqih klasik ddan fiqih kontemporer?

Dari masalah pokok tersebut penulis jabarkan kembali dalam beberapa sub

masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pandangan ulama mengenai pernikahan beda Agama?

2. Jika dikaitkan dengan keadaan sekarang, dan bagaimana solusi bagi pernikahan

tersebut?